Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN DISKUSI

BLOK 14 MAKSILOFASIAL I
PEMICU 3

“Keluar air campur darah dari hidung”

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 1
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
2019
Anggota Kelompok 1

Ketua : Anisa Fitri 170600010


Sekretaris : Sekar Nirmala Dewi 170600117

 Echa Amanda Salsabilla 170600001


 Siti Chairani Adisti Harahap 170600002
 Naspati Harahap 170600003
 Tiara batari Smaradhana 170600004
 Fildza Rizki Husna 170600005
 Nidhya Ramadhani Fitri 170600006
 Nurul Ulfa Simanjuntak 170600007
 Dhea Annisa 170600008
 Dessy Ramasari 170600009
 Olivia Rizky Ramadhani 170600111
 Marshall Xaverius 170600112
 Rizki Febri Pasaribu 170600113
 Sofiul Hadi 170600114
 Arfah Azriana 170600115
 Athaya Ula Al Biaroza 170600116
 Sheila Indrisavira 170600118
 Yane Indira Pasaribu 170600119
 Rizky Adriansyah 170600120
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan
karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini
merupakan laporan hasil diskusi kelompok yang berjudul “keluar air campur darah dari hidung”.
Laporan diskusi ini membahas tentang komplikasi pencabutan gigi, komunikasi oroantral,
kompromis medis, dan informed consent. Laporan ini tidak akan selesai tanpa bimbingan dari
dosen pembimbing dan begitu pula fasilitator yang telah membantu memberikan kami masukan-
masukan yang berarti di dalam diskusi.
Harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi
para pembaca. Kami menyadari bahwa makalah ini belum sempurna, untuk itu kami mohon
maaf apabila terdapat kesalahan serta mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para
pembaca. Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih.

Medan, 18 Juni 2019

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Pencabutan gigi merupakan tindakan bedah yang lazim dilakukan dalam praktek
kedokteran gigi. Setelah tindakan tersebut selesai dilakukan maka ada kemungkinan terjadinya
komplikasi. Salah satu komplikasi dari pencabutan gigi adalah Komunikasi Oroantral (KOA).
KOA adalah adalah suatu keadaan patologis terjadinya hubungan antara rongga hidung/antrum
dengan rongga mulut. Keadaan ini merupakan komplikasi pasca pencabutan gigi posterior
rahang atas yang insidennya berkisar 0,31%-3,8% dan sering menyebabkan ketidaknyamanan
karena dapat menjadi masalah sistemik yang lebih serius. Etiologi terjadinya KOA adalah
komplikasi pasca ekstraksi gigi posterior rahang atas atau patahnya akar palatal gigi molar,
destruksi dasar sinus akibat kelainan periapikal, perforasi dasar sinus dan membran sinus
akibat pemakaian instrumen yang salah, mendorong gigi atau akar gigi ke dalam sinus saat
pencabutan gigi. Pentingnya informed consent sebelum melakukan tindakan pencabutan gigi
posterior rahang atas harus dipahami oleh dokter gigi, mengingat tingginya resiko terjadinya
KOA pasca pencabutan gigi. Kemampuan identifikasi dan pencegahan terhadap terjadinya
KOA sangat diharapkan dimiliki oleh seorang dokter gigi, sekaligus dapat melakukan tata
laksana sederhana untuk menghindari komplikasi lebih lanjut.

1.2 DESKRIPSI TOPIK


Nama pemicu; Keluar air campur darah dari hidung
Penyusun: Isnandar, drg., Sp.BM, Indra Basar, drg., M.Kes, drg. Cek Dara Manja, Sp.RKG.
Hari/ Tanggal: Selasa/ 18 Juni 2019
Waktu: 07.30-09.30

Kasus:
Seorang wanita berusia 56 tahun, datang berobat ke RSGM USU dengan keluhan gigi geraham
kanan atas berlubang. Vital sign dalam batas normal. Anamnesis gigi sudah lama berlubang
dan sering sakit hilang timbul. Pada pemeriksaan klinis ditemukan karies sudah mencapai
pulpa, tes vitalitas (-), perkusi (-). Pasien ingin giginya dicabut. Saat dilakukan pencabutan
terjadi fraktur pada akar palatal, dilakukan pengambilan akar dengan waktu yang lama dan
sulit. Ketika selesai dilakukan pencabutan banyak darah keluar dari soket, pasien juga
mengeluhkan keluar dari soket, pasien juga mengeluhkan keluar air bercampur darah dari
hidung setelah berkumur.

PERTANYAAN
1. Pemeriksaan apa yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosa kasus tersebut?
2. Jelaskan hal-hal yang harus diperhatikan dalam penanganan kasus diatas tersebut!
3. Jelaskan informed consent yang harus dilakukan pada pasien tersebut?
4. Pemeriksaan penunjang apa yang dilakukan berikut interpretasinya!
5. Jelaskan alat dan bahan yang digunakan pada pasien tersebut!
6. Jelaskan bagaimana cara penatalaksanaan kasus diatas?
7. Jelaskan instruksi dan edukasi pada kasus pasien diatas!
BAB II
PEMBAHASAN

1. Pemeriksaan apa yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosa kasus


tersebut?
Penentuan diagnosis terjadinya KOA dapat dilakukan dengan cara melakukan
probing silver secara hati-hati, nose blowing test yaitu selembar kapas didekatkan pada
soket dan pasien diinstruksikan untuk meniup dari hidung sambil menutup nostril dan
membuka mulut. Akan tampak gerakan pada selembar kapas tadi atau akan nampak
busa pada darah di soket, selama berkumur, cairan akan keluar lewat hidung. Povidone
iodine yang dicampur air dapat dipakai untuk membedakan antara sekresi nasal dengan
cairan kumur; yaitu ujung suction jika didekatkan dekat fistula akan menghasilkan
suara yang mirip dengan suara botol kosong yang ditiup.
Setelah terjadi KOA, maka pasien akan merasakan gejala-gejala subjektif seperti
regurgitasi cairan dan hilangnya udara melalui hidung dari mulut, epistaksis unilateral
sebagai akibat keluarnya darah dari sinus melalui hidung lewat ostium, perubahan pada
suara karena adanya perubahan resonansi vokal serta rasa sakit pada daerah yang
terkena.

2. Jelaskan hal-hal yang harus diperhatikan dalam penanganan kasus diatas


tersebut!
Pertama, adalah pentingnya penguasaan anatomi gigi-gigi posterior rahang atas dan
sinus maksilaris
Sinus maksilaris adalah ruang-ruang pneumatik yang terkandung secara bilateral di
dalam tulang-tulang rahang atas, ditutupi oleh epitel yang mensekresi lendir. Rongga
ini membesar seiring pertumbuhan dan pada orang dewasa (orang tua) marginalnya ke
apeks gigi. Pada daerah edentilous area sinus maksilaris dipisahkan dari rongga mulut
oleh mukosa internal, tulang yang tipis dan mukosa oral yang memfasilitasi
pembentukan (penghubung atau komunikasi) dalam menghadapi kondisi trauma atau
bedah. Akar gigi Molar satu dan dua rahang atas memiliki kemungkinan paling tinggi
terhadap hubungannya dengan sinus maksilaris. Pada pemeriksaan klinis, karies yang
mencapai pulpa bisa menyebabkan infeksi periapikal sebagai apeks gigi yang
berkontak langsung dengan tepi sinus. Saat pencabutan gigi, besar kemungkinan
terdapt sebagian dasar sinus yang terbuka sehingga terjadi oroantral communication.
Kedua, pembuatan radiografi periapikal untuk mengetahui morfologi gigi atau
radiografi bitewing untuk analisis morfometrik pra- pencabutan gigi sehingga jika
diketahui jarak sinus sangat dekat dan akar gigi divergen, maka hindarkan pencabutan
gigi secara intra alveolar namun lakukan dengan cara separasi gigi
Ketiga, penggunaan instrumen ekstraksi yang tepat dan tidak menggunakan tenaga
berlebihan, dan yang terakhir adalah pemberian instruksi pasca pencabutan gigi yang
jelas pada pasien untuk tidak berkumur-kumur secara berlebihan, merokok, maupun
menyedot-nyedot selama beberapa waktu.
Keempat, kemampuan operator untuk menangani kasus serta penggunaan
instrument yang sesuai dan steril agar terhindar dari infeksi. Anatomi gigi menentukan
jenis alat pencabutan, gerakan pencabutan, dan posisi pencabutan.

3. Jelaskan informed consent yang harus dilakukan pada pasien tersebut?


Informed consent adalah persetujuan tindakan medis yang akan dilakukan terhadap
pasien disertai informasi mengenai segala resiko yang mungkin terjadi. Informed
consent yang dapat diberikan adalah expressed consent karena tindakan yang dilakukan
bersifat invasive dan berisiko, dokter sebaiknya mendapatkan persetujuan secara
tertulis. Dokter gigi harus menginformasikan seluruhnya tentang kondisi pasien dan
tidak ada hal-hal yang dirahasiakan, kecuali dinilai akan dapat mempengaruhi kondisi
kesehatan pasien, maka informasi dapat disampaikan kepada keluarga pasien, namun
dalam kondisi darurat penyampaian informasi tidak berlaku, hal yang terpenting adalah
penyelamatan nyawa pasien, maka pada kondisi seperti ini tidak menunda tindakan
atau mempermasalahkan surat persetujuan tindakan medis (informed consent).
Dalam kasus ini, pembuatan informed consent sangat diperlukan karna prosedur
pencabutan gigi molar rahang atas memang lebih berisiko karena berkaitan dengan
anatomi normal manusia yang memiliki sinus maksilaris yang berbatasan tipis dengan
apeks akar gigi molar rahang atas sehingga memungkinkan terjadinya perforasi sinus.
Karna sudah adanya informed consent, konsekuensi tindakan dokter gigi dalam
skenario dinilai sebagai “risk of treatment” bukan malpraktik.
Kemudian menjelaskan kepada pasien, apabila setelah dicabut dan kemudian pasien
kumur-kumur keluar darah dari hidung, merupakan tanda bahwa dasar sinus dan
rongga mulut terhubung. Jika hal tersebut terjadi, dokter gigi juga memberikan
penjelasan mengenai perawatan yang akan dilakukan serta memberikan edukasi dan
instruksi kepada pasien agar tidak memperparah kondisi tersebut. Selain itu, pasien
juga harus diberitahu mengenai komplikasi dari KOA yang salah satunya dapat terjadi
sinus maksilaris.

4. Pemeriksaan penunjang apa yang dilakukan berikut interpretasinya!


A. Water’s view
Evaluasi radiografi dari sinus paling bagus diperoleh dengan proyeksi Water’s
dengan muka menghadap ke bawah dan proyeksi Water’s dengan modifikasi tegak.
Gambaran yang sering didapat pada sinusistis akut / OAC/ OAF adalah opasifikasi
sinus (berkurangnya pneumatisasi) dan batas udara atau cairan (air – fluid level) yang
khas akibat akumulasi pus. Sinusitis kronis / OAC/ OAF seringkali digambarkan
dengan adanya penebalan membran pelapis.
B. Periapikal dan panoramik
Pada pemeriksaan radiografi periapikal dan panoramik dapat terlihat dimensi
kerusakan tulang, hubungan gigi dengan sinus, lokasi benda asing dalam sinus seperti
gigi, akar gigi, atau fragmen tulang yang terdorong masuk karena trauma atau selama
pencabutan gigi.
C. Tomografi /CT
CT Scan adalah pemeriksaan yang dapat memberikan gambaran yang paling baik
akan adanya kelainan pada mukosa dan variasi antominya yang relevan untuk
mendiagnosis sinusitis kronis OAC/OAF maupun akut.
Secara radiologis, biasanya terlihat diskontinuitas dari dasar sinus, opasifikasi
sinus, atrofi fokal alveolar, dan penyakit periodontal yang terkait terlihat ketebalan
mukosa antrum dan defek pada dasar tulang. Pada pemeriksaan tomografi komputer
untuk melihat keadaan sinusitisnya / OAC/ OAF dan tampak adanya diskontinuitas dari
dasar sinus maksilaris sehingga terbentuk celah yang menghubungkan rongga sinus
dengan rongga mulut. Fraktur terlihat berupa memutusnya kontinuitas dinding sinus,
dasar orbita, atau lingkar orbita inferior. Bila gigi atau akar gigi bergeser ke arah
antrum, maka keberadaannya dapat dipastikan dan ditentukan lokasinya dengan film
atau foto periapikal, yang didukung dengan foto oklusal.

5. Jelaskan alat dan bahan yang digunakan pada pasien tersebut!


Untuk anestesi dan pencabutan:
Alat:
1. Kaca mulut
2. Pinset dental
3. Sonde
4. Cotton stick
5. Disposable injection syringe
6. Sarung tangan
7. Masker
8. Raspatorium
9. Luxator
10. Bein
11. Tang gigi dewasa rahang atas (posterior)
12. Tang gigi radiks rahang atas (posterior)
Tang yang digunakan untuk molar kanan atas yaitu tang berbentuk “S” dan
ujung paruh terdiri dari bagian runcing dan tumpul, dimana ujung yang tajam
berada pada di sebelah bukal pasien.
13. Elevator, digunakan untuk mengetest anastesi, melepaskan perlekatan gingiva,
dan mengawali pelonggaran alveolar.
Bahan:
1. Larutan anestesi lidokain (2% dengan adrenalin 1:100.000) dalam ampul 2
cc
2. Larutan antiseptik povidone iodine 10%
Untuk penanganan perforasi sinus:
1. Untuk pengirigasian sinus bisa digunakan tabung syringe tanpa jarum sebagai
tempat peletakan cairan irigasi
2. Diperlukan tampon iodoform untuk diletakkan pada soket gigi yang dicabut tadi
3. Dapat digunakan bahan graft untuk menutup oroantral fistule, bahan-bahannya
tersedia dalam bentuk lembaran,contoh: gold foil, alograft bone graft.
4. Jika akan dilakukan pembuatan flap, alatnya: handle dan scalpel, raspatorium,
pinset anatomis.
5. Alat penjahitan: needle holder, needle cutting edge, gunting, dan pinset sirurgis.

6. Jelaskan bagaimana penatalaksanaan kasus tersebut!


Setelah dilakukan pemeriksaan “blowing nose test” dan hasilnya positif
(tampak gerakan pada selembar kertas). Maka yang pertama harus dilakukan adalah
menempatkan gelatin sponge serta penjahitan soket gigi secara figure of eight untuk
menjaga agar bekuan darah tetap berada dalam soket ditambah dengan instruksi
sinus pre-caution. Setelah itu, lakukan observasi keesokan harinya. Bila setelah 3
hari masih ada keluhan dari pasien, rujuk ke spesialis THT untuk pembersihan dan
pengeluaran eksudat inflamasi dan diberikan nasal decongestan untuk menghindari
resiko terjadinya sinusitis maksilaris. Setelah eksudat bersih, maka rujuk ke
spesialis bedah mulut untuk dilakukan bedah flap. Variasi jenis flap yang sering
dilakukan untuk penutupan KOA antara lain, buccal flap, palatal flap, buccal fat
pad,dan sebagainya.

7. Jelaskan instruksi dan edukasi pada kasus pasien diatas!


Edukasi:
Menjelaskan kepada pasien bahwa perdarahan yang terjadi merupakan komplikasi
pencabutan, yaitu komunikasi oroantral. Komunikasi oroantral disebabkan
patahnya akar palatal gigi molar saat dilakukan ekstraksi, hal ini merupakan
komplikasi yang sering terjadi karena sinus maksilaris yang berbatasan tipis dengan
apeks akar gigi molar rahang atas sehingga memungkinkan terjadinya perforasi
sinus.
Instruksi:
Instruksikan pasien untuk tidak memakan makanan keras, harus makan makanan
lunak dan minum cairan dari sisi yang berlawanan untuk menghindari trauma
Hindari aktivitas berlebihan sampai penyembuhan terjadi
Jangan bersin terlalu kuat karena dapat melepaskan blood clot.
Hindari mencium bau-bauan yg tajam
Hindari menbuang cairan hidung dari satu sisi
Pasien tidak boleh menggerakkan lidah melewati garis jahitan atau flap selama 7
hari setelah luka bedah
Luka harus dijaga tetap bersih dengan menggunakan obat kumur salin hangat
Jangan merokok dan menggunakan sedotan
Menggunakan inhalasi uap seperti menthol atau benzoin untuk membasahi jalur
napas dan merangsang aktivitas sel serous.
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN