Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

SIGNIFIKASI PEMBELAJARAN ANTIKORUPSI, TUJUAN


PEMBELAJARAN PAK, DAN DESAIN MODEL PEMBELAJARAN PAK
Memenuhi tugas dari Bapak Fitah Jamaluddin, M.Ag
Mata kuliah Pendidikan Anti Korupsi

Disusun oleh :

1. Fatnur Aini (U20184009)


2. Ira Puspita Anggraeni (U20184052)

SEJARAH PERADABAN ISLAM


FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB, DAN HUMANIORA
INSITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER
TAHUN 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, berkat rahmat dan karunia-Nya kami
dapat menyelesaikan makalah berjudul “Aliran-Aliran Akhlak Tentang Kriteria Baik dan Buruk”
ini pada waktunya. Kami sangat berharap makalah ini dapat bermanfaat dalam rangkah
menambah wawasan serta pengalaman kita.

Kami juga menyadari bahwa didalam penyelesaian makalah ini tidak terlepas dari
bantuan dari berbagai belah pihak. Beribu terima kasih kami ucapkan kepada dosen yang telah
membimbing dan memberikan arahan tentang bagaimana pengerjaan makalah dengan baik dan
benar serta kami ucapkan terima kasih kepada pihak lain yang telah membantu.

Demikianlah makalah ini kami susun, dan kami menyadari masih banyak kekurangan
dalam makalah ini. Oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak sangat kami butuhkan untuk
memperbaiki makalah kami yang selanjutnya semoga lebih baik.

Jember, 8 Oktober 2019

Penyusun

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................. 2

DAFTAR ISI ................................................................................................................. 3

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................. 4

A. Latar Belakang ..................................................................................................... 4


B. Rumusan Masalah ................................................................................................ 4
C. Tujuan .................................................................................................................. 4

BAB II PEMBAHASAN .............................................................................................. 5

A. Signifikasi Pembelajaran Antikorupsi ............................................................... 5


B. Tujuan Pembelajaran Pendidikan Antikorupsi ................................................... 6
C. Desain Model Pembelajaran Pendidikan Antikorupsi ....................................... 7

BAB III PENUTUP ...................................................................................................... 10

A. Kesimpulam ....................................................................................................... 10
B. Saran .................................................................................................................. 10

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................... 11

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kata korupsi sendiri mungkin sudah tidak asing di telinga kita, bahkan sebagian orang
mengganggap biasa ketika mendengar mengenai pejabat pemerintah yang tertangkap basah
melakukan tindak pidana korupsi. Hal ini tak dapat dipungkiri karna memang pada nyatanya
korupsi sendiri sudah meraja rela di Indonesia dan kebanyakan pelaku korupsi ini adalah pejabat
pemerintah maupun anggota DPR yang seharusnya memiliki kewajiban untuk menyampaikan
aspirasi rakyat dan mencontohkan perilaku yang baik dihadapan rakyat.

Banyaknya pelaku korupsi ini digadang-gadang karena kurangnya kesadaran diri perihal
bahaya dari korupsi dan juga lemahnya hukum yang dijatuhkan kepada para koruptor yang malah
membuat para koruptor tersebut tidak merasa jera. Oleh karena itu, hal yang paling baik untuk
mencegah tindakan korupsi adalah dengan mengajarkan sejak dini kepada generasi muda
bagaimana bahaya dari tindak pidana korupsi dengan melalui pembelajaran antikorupsi.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana signifikasi pembelajaran antikorupsi?

2. Apa tujuan pendidikan antikorupsi?

3. Bagaimana desain model pembelajaran pendidikan antikorupsi?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui signifikasi pembelajaran antikorupsi

2. Untuk mengetahui tujuan pendidikan anti korupsi

3. Untuk mengetahui desain model pembelajaran pendidikan anti korupsi

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. Signifikasi Pembelajaran Antikorupsi


Dunia pendidikan mempunyai peran yang sangat besar dalam memutus mata rantai
korupsi. Pendidikan adalah tonggak bangsa dan tumpuan terciptanya peradaban manusia yang
beradab. Dengan melalui pendidikan inilah generasi muda dapat memahami apa itu korupsi yang
ternyata tidak hanya sekedar melulu bicara tentang uang. Banyak sekali virus-virus korupsi yang
ternyata sudah mewabah di sekitar kita tanpa kita sadari.

Korupsi di negeri ini sekarang sedang merajalela bahkan telah menjadi suatu “kebiasaan”.
Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah dalam menangani korupsi dan hukum yang sangat
tegas. Namun, tetap saja korupsi masih terdapat di negeri ini. Salah satu mengapa orang berani
melakukan tindak pidana korupsi yaitu karena kurangnya kesadaran pribbadi tentang bahaya
korupsi. Tentu saja kita tidak bisa menyadarkan koruptor karena mereka sudah terlanjur terbiasa
dengan tindakannya tersebut.

Berikut signifikasi dari pembelajaran antikorupsi diantaranya adalah :

1. Rendahnya tingkat pemahaman terhadap korupsi di Indonesia

Hal ini tidak hanya dapat menyebabkan kesalahpahaman mengenai bentu-bentuk korupsi, namun
juga dapat menyeret seseorang terperangkap dalam system yang mengkomodir perilaku tersebut.
Seperti misal contoh : Sebagian masyarakat Indonesia beranggapan bahwa pembuatan dan
kepengurusan Surat Ijin Mengemudi atau yang akrab kita sebut SIM sangatlah mahal, namun
harga mahal itu sebanding karna kita tak perlu melakukan tes dan SIM bisa jadi hanya dalam
waktu sehari saja. Padahal kenyataannya menurut peraturan yang berlaku pembuatan dan
kepengurusan SIM sangatlah murah dan memerlukan tes.

2. Belum jelasnya definisi dan batasan dari korupsi

Rendahnya tingkat pemahaman terhadap korupsi di Indonesia disebabkan karena belum jelasnya
definisi dan batasan korupsi. Sebelum dibentuknya KPK dan dikeluarkannya peraturan tentang
tindak pidana korupsi, masyarakat cenderung gamang dalam memutuskan apakah hal yang
dilakukannya tersebut adalah korupsi ataukah bukan. Terutama hal-hal yang tidak secara
langsung merugikan keuangan Negara. Seperti misal contoh : Gratifikasi uang terima kasih.1

3. Prosedur dan mekanisme yang ada di pemerintahan yang bisa menjadi celah terjadinya
korupsi

1
Mistarppkn, “pendidikan anti korupsi (artikel)”, mistarppkn.wordpress.com/2013/05/15/pendidikan-anti-korupsi-
artikel/
5
Kadang kala, prosedur yang di terapkan di pemerintah bisa menjadi celah terjadinya korupsi itu
sendiri. Hal ini terutama terjadi apabila prosedur tersebut kurang diawasi oleh pihak yang
berwenang. Hal yang lain adalah apabila terjadinya penumpukan wewenang pada satu bagian
atau oramg, yaitu satu bagian atau orang yang melakukan fungsi pelaksanaan dan pengawasan
sekaligus. Seperti misal contoh : Mark up dalam SPPD yang sistemnya reimbursement,
penumpukan wewenang pada suatu kantor yang kekurangan orang, dimana satu orang pemegang
peranan sebagai Pejabat Pembuat Komitmen dan Pengguna Kuasa Anggaran.

4. Kebijakan dan peraturan yang ada di pemerintahan yang bisa menjadi celah terjadinya
korupsi

Kebijakan dan peraturan yang resmi pun kadang bisa menjadi celah terjadinya korupsi. Terutama
pembuatan kebijakan dan peraturan yang cenderung bersifat politis dan seratakan kepentingan
pihak-pihak tertentu. Hal ini disebabkan masih bobroknya mental para pembuat peraturan atau
kurang kompetennya pembuat aturan tersebut. Seperti misal contoh : RUU tentang Dana Aspirasi
DPR sebesar 15 Milyar

B. Tujuan Pembelajaran Pendidikan Anti-Korupsi


Generasi muda dapat belajar dan memahami mengenai etika politik dan pendidikan anti
korupsi sejak dini secara berbarengan dengan pembelajaran pendidikan pancasila secara
komprehensif melalui aplikasi pembelajaran problem solving secara preventif .2
Terciptanya generasi penerus yang berkarakter dan beretika dalam kehidupan sosial politik dan
mampu mengaplikasikan nilai – nilai anti korupsi dalam kehidupan sehari – hari.
Terciptanya sistem pendidikan yang lebih komprehensif dalam mengatasi berbagai masalah –
masalah sosial politik melalui pembelajaran yang inovatif dengan mengikutsertakan sekolah,
orang tua, dan lingkungan.
Kemudian juga agar generasi muda mendapatkan pengetahuan yang cukup tentang seluk-
beluk korupsi dan pemberantasannya serta menanamkan nilai-nilai antikorupsi sejak dini
sehingga berkembang integritas diri dan lembaga. Dengan begitu diharapkan akan ada budaya
anti korupsi di kalangan generasi muda dan lingkungan pembelajarannya yang mendorong
segenap unsur lingkungan pembelajaran dapat berperan serta aktif dalam gerakan anti korupsi.
Tujuan jangka panjangnya adalah bisa menghasilkan generasi penerus, sarjana lulusan perguruan
tinggi yang tidak “cacat nilai”, professional dan berintegritas serta memiliki komitmen kuat pada
upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi di Indonesia.

Tujuan mata kuliah pendidikan anti korupsi pada jenjang perguruan tinggi lebih
menekankan pada pembangunan karakter antikorupsi (anti corruption character building) pada
diri individu mahasiswa.3 Kemudian juga untuk membangun semangat dan kompetensinya
sebagai agent of change bagi kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang bersih dan bebas dari
ancaman korupsi :

2
Unknown, “tujuan pendidikan anti korupsi dan etika politik” , wongpinggiran23.blogspot/2013/05/tujuan-
pendidikan-antikorupsi-dan-etika.html
3
Salahudin, Anas. 2018. Pendidikan Anti Korupsi. Bandung: Group Penerbitan CV Pustaka Setia.
6
a. Mencegah agar tidak melakukan tindak korupsi (individual competence)
b. Mencegah orang lain agar tidak melakukan tindakan korupsi dengan cara memberikan
peringatan kepada orang tersebut
c. Mendeteksi adanya tindak korupsi (dan melaporkannya kepada penegak hokum)

C. Desain Model Pendidikan Anti Korupsi


Keberhasilan untuk menanamkan nilai-nilai anti korupsi akan dipengaruhi pula oleh cara
penyampaiannya dan pendekatan pembelajaran yang dipergunakan. Untuk tidak menambah
beban siswa yang sudah cukup berat, perlu dipikirkan secara matang bagaimana model dan
pendekatan yang akan dipilih. Ada beberapa model untuk menanamkan nilai-nilai anti korupsi
yang dapat dipilih yang memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri. Menurut Elwina
dan Riyanto (2008) model-model tersebut antara lain:

1.) Model sebagai Mata Pelajaran Tersendiri

Pendidikan anti korupsi disampaikan sebagai mata pelajaran ataupun mata kuliah tersendiri
seperti bidang studi yang lain. Dalam hal ini guru atau dosen bidang studi pembelajaran anti
korupsi harus membuat Garis Besar Pedoman Pengajaran (GBPP), Satuan pelajaran (SP),
Rencana Pengajaran (RP), metodologi pengajaran, dan evaluasi pengajaran. Selain itu,
pembelajaran anti korupsi sebagai mata pelajaran atau mata kuliah harus masuk dalam jadwal
yang terstruktur.
Keunggulan pendidikan anti korupsi sebagai mata pelajaran atau mata kuliah n adalah materi
lebih terfokus dan terencana dengan matang. Dengan demikian, pelajaran lebih terstruktur dan
terukur sebagai informasi. Ada jam yang sudah ditentukan sebagai kesempatan untuk
memberikan informasi secara pasti. Guru atau Dosen dapat membuat perencanaan dan
mempunyai banyak kesempatan untuk mengembangkan kreativitasnya.
Kelemahan dari model adalah tuntutan yang ketat sehingga pembelajaran anti korupsi lebih
banyak menyentuh aspek kognitif belaka, tidak sampai pada kesadaran dan internalisasi nilai
hidupnya. Selain proses internalisasinya kurang menonjol, aspek afektifnya pun kurang mendapat
kesempatan untuk dikembangkan. Hal yang perlu diperhatikan berkenaan dengan model ini
adalah bahwa penanaman nilai seolah-olah hanya ditumpukan pada satu orang guru atau dosen
(Zuriah, 2007: 90). Hal seperti ini dapat mengakibatkan bidang studi pembelajaran anti korupsi
hanya sebatas pengetahuan yang dangkal dan ini berarti pembelajaran anti korupsi menjadi gagal.

2.) Model Terintegrasi dalam Semua Mata Pelajaran atau Mata Kuliah

Penanaman nilai anti korupsi dalam pendidikan anti korupsi juga dapat disampaikan secara
terintegrasi dalam semua mata pelajaran atau mata kuliah. Guru atau Dosen dapat memilih nilai-
nilai yang akan ditanamkan melalui materi bahasannya. Nilai-nilai anti korupsi dapat ditanamkan
melalui beberapa pokok atau sub pokok bahasan yang berkaitan dengan nilai-nilai hidup. Dengan
model seperti ini, semua guru atau dosen adalah pengajar pembelajaran anti korupsi tanpa
kecuali.
Keunggulan model ini adalah semua guru atau dosen ikut bertanggungjawab akan penanaman
nilai-nilai anti korupsi kepada siswa atau mahasiswa. Pemahaman nilai hidup anti korupsi dalam

7
diri generasi muda tidak melulu bersifat informative-kognitif,4 melainkan bersifat terapan pada
tiap mata pelajaran (Suparno, 2002: 43).
Kelemahan dari model ini adalah pemahaman dan persepsi tentang nilai-nilai anti korupsi
yang akan ditanamkan harus jelas dan sama bagi semua guru atau dosen. Tidak boleh ada
perbedaan persepsi dan pemahaman tentang nilai karena bila hal ini terjadi maka justru akan
membingungkan generasi muda.

3.) Model di Luar Pembelajaran

Penanaman nilai anti korupsi dapat ditanamkan melalui kegiatan-kegiatan di luar


pembelajaran misalnya dalam kegiatan ekstrakurikuler atau kegiatan insidental. Penanaman nilai
dengan model ini lebih mengutamakan pengolahan dan penanaman nilai melalui suatu kegiatan
untuk dibahas dan dikupas nilai-nilai hidupnya. Model ini dapat dilaksanakan oleh guru sekolah
yang bersangkutan yang mendapat tugas tersebut atau dipercayakan pada lembaga di luar sekolah
untuk melaksanakannya, misalnya dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Keunggulan metode ini adalah anak sungguh mendapat nilai melalui pengalaman-
pengalaman konkret. Pengalaman akan lebih tertanam dalam jika dibandingkan sekadar
informasi apalagi informasi yang monolog. Anak-anak lebih terlibat dalam menggali nilai-nilai
hidup dan pembelajaran lebih menggembirakan. Kelemahan metode ini adalah tidak ada struktur
yang tetap dalam kerangkan pendidikan dan pengajaran di sekolah, membutuhkan waktu lebih
banyak.
Model ini juga menuntut kreativitas dan pemahaman akan kebutuhan anak secara mendalam,
tidak hanya sekadar acara bersama belaka, dibutuhkan pendamping yang kompak dan
mempunyai persepsi yang sama. Dan kegiatan semacam ini tidak bisa hanya diadakan setahun
sekali atau dua kali tetapi berulang kali.

4.) Model pembudayaan, pembiasaan nilai dalam seluruh aktivitas dan suasana sekolah

Penanaman nilai-nilai anti korupsi dapat juga ditanamkan melalui pembudayaan dalam
seluruh aktivitas dan suasana sekolah. Pembudayaan akan menimbulkan suatu pembiasaan.
Untuk menumbuhkan budaya anti korupsi sekolah perlu merencanakan suatu kebudayaan dan
kegiatan pembiasaan. Pembiasaan adalah alat pendidikan. Bagi anak yang masih kecil,
pembiasaan sangat penting. Karena dengan pembiasaan itulah akhirnya suatu aktivitas akan
menjadi milik anak di kemudian hari. Pembiasaan yang baik akan membentuk sosok manusia
yang berkepribadian yang baik pula. Sebaliknya, pembiasaan yang buruk akan membentuk sosok
manusia yang berkepribadian yang buruk pula (Djamarah, 2002: 72).
Berdasarkan pembiasaan itulah anak terbiasa menurut dan taat kepada peraturan-peraturan
yang beralaku di sekolah dan masyarakat, setelah mendapatkan pendidikan pembiasaan yang baik
di sekolah pengaruhnya juga terbawa dalam kehidupan sehari-hari di rumah dan sampai dewasa
nanti.
Menanamkan kebiasaan yang baik memang tidak mudah dan kadang-kadang membutuhkan
waktu yang lama untuk menanamkan nilai-nilai anti korupsi melalui pembiasaan pada anak-anak
Tetapi sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan sukar pula untuk mengubahnya. Karena itu adalah
penting, pada awal kehidupan anak, menanamkan nilai-nilai anti korupsi melalui kebiasaan-
kebiasaan yang baik dan jangan seklai-kali mendidik anak berdusta, tidak disiplin, menyontek
dalam ulangan dan sebagainya.

4
Yaramadani Febri Santi, “Pendidikan Anti Korupsi (PAK)”, febriya27.wordpress.com/pendidikan-anti-korupsi-pak/
8
5.) Model Gabungan

Model gabungan berarti menggunakan gabungan antara model terintegrasi dan di luar
pembelajaran secara bersama-sama. Penanaman nilai lewat pengakaran formal terintegrasi
bersama dengan kegiatan di luar pembelajaran. Model ini dapat dilaksanakan baik dalam kerja
sama dengan tim oleh guru maupun dalam kerja sama dengan pihak luar sekolah.
Keunggulan model ini adalah semua guru terlibat dan bahkan dapat dan harus belajar dari
pihak luar untuk mengembangkan diri dan siswa. Anak mengenal nilai-nilai hidup untuk
membentuk mereka baik secara informativ dan diperkuat dengan pengalaman melalui kegiatan-
kegiatan yang terencana dengan baik.
Kelemahan model ini adalah menuntut keterlibatan banyak pihak, banyak waktu untuk
koordinasi, banyak biaya dan kesepahaman yang mendalam, terlihat apabila melibatkan pihak
luar sekolah. Selain itu, tidak semua guru mempunyai kompetensi dan keterampilan untuk
menanamkan nilai-nilai anti korupsi.

9
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Pendidikan anti korupsi adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan prosesbelajar
mengajar yang kritis terhadap nilai-nilai anti korupsi. Dalam proses tersebut, makaPendidikan
Antikorupsi bukan sekedar media bagi transfer pengalihan pengetahuan(kognitif) namun juga
menekankan pada upaya pembentukan karakter (afektif) dankesadaran moral dalam melakukan
perlawanan (psikomotorik) terhadap penyimp[anganperilaku korupsi.

Tujuan pendidikan antikorupsi adalah agar generasi muda mendapatkan pengetahuan yang
cukup tentang seluk-beluk korupsi dan pemberantasannya serta menanamkan nilai-nilai
antikorupsi sejak dini sehingga berkembang integritas diri dan lembaga. Dengan begitu
diharapkan akan ada budaya anti korupsi di kalangan generasi muda dan lingkungan
pembelajarannya yang mendorong segenap unsur lingkungan pembelajaran dapat berperan serta
aktif dalam gerakan anti korupsi. Tujuan jangka panjangnya adalah bisa menghasilkan generasi
penerus, sarjana lulusan perguruan tinggi yang tidak “cacat nilai”, professional dan berintegritas
serta memiliki komitmen kuat pada upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi di Indonesia.

B. Saran

Korupsi di Indonesia harus segera di berantas, karena jika tidak diberantas maka budaya korupsi
akan terus berjalan dan himbasnya tidak ada kesejahteraan bagi rakyat-rakyat kecil di Indonesia.
Indonesia juga harus memiliki prinsip dan nilai-nilai keadilan, kebijaksanaan yang harus
dipegang teguh oleh para pemimpin bangsa untuk memberantas tindak pidana korupsi dan
pemimpin harus lebih mempertegas hukuman bagi pelaku korupsi agar mereka merasa jera.
Meningkatkan pendidikan moralitas bagi para pemimpin supaya memiliki kepribadian baik
dalam bertugas jadi berharap jika korupsi itu di berantas dan keadilan di tonjolkan tentu saja
Indonesia menjadi negara maju, tentram, dan sejahtera.

10
DAFTAR PUSTAKA

Salahudin Anas.2018,pendidikan antikorupsi,pustaka setia, Bandung


Chatrina darul rosikah.2016, pendidikan antikorupsi,Ar-ruzz media, Jakarta
febriya27.wordpress.com/pendidikan-anti-korupsi-pak/
wongpinggiran23.blogspot/2013/05/tujuan-pendidikan-antikorupsi-dan-etika.html
mistarppkn.wordpress.com/2013/05/15/pendidikan-anti-korupsi-artikel/

11