Anda di halaman 1dari 36

REFERAT

HIPERLIPIDEMIA

BLOK ILMU KEDOKTERAN HERBAL DAN ELEKTIF

KELOMPOK 4

Dosen Pembimbing :

dr. M. Fadhol Romdhoni, M.Si

Disusun oleh :

Ni’matur Rabi’ul Ula (1513010018)

Prima Ufiyantama Afta Sakria (1513010034)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO

2018

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah
memberikan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan penelitian
ini tepat pada waktunya.
Adapun maksud dari penyusunan refereat ini adalah untuk memenuhi
salah satu tugas mata kuliah Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah
Purwokerto.
Penyusun menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna. Untuk
itu, penyusun sangat mengharapkan saran dan keritik yang sifatnya membangun
untuk perbaikan di masa yang akan datang. Penyusun juga menyadari bahwa
dalam menyusun laporan ini tidak terlepas dari peran serta dan bantuan dari
berbagai pihak, baik bantuan berupa moril maupun materil. Oleh karena itu,
penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang tidak bisa penulis
sebutkan satu persatu.
Semoga amal kebaikan mereka mendapat balasan dari Allah SWT. Penulis
juga berharap semoga karya tulis ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi
yang berkepentingan pada umumnya.

Purwokerto, 3 September 2018


Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................................... i


DAFTAR ISI....................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................... 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................................ 3
BAB III PENUTUP .......................................................................................................... 30
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 31

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hiperlipidemia merupakan suatu kelainan yang ditandai dengan
adanya peningkatan kadar lipid darah (lemak atau senyawa sejenis lemak),
terutama kolesterol dan trigliserida (Gitawati, Lucie dan Frans, 2015).
Hiperlipidemia masih merupakan masalah kesehatan di dunia. Perubahan
gaya hidup masyarakat berdampak pada pola makan tinggi lemak jenuh
dan gula serta rendah serat. Pola makanan modern tersebut yang banyak
mengandung kolesterol, disertai intensitas makan yang tinggi, kurang
mengkonsumsi sayur dan buah, obesitas, kurang olahraga dan merokok
membuat kadar kolesterol darah sangat sulit dikendalikan yang dapat
memunculkan kondisi hiperlipidemia (Harikumar et al., 2013).
Data di Indonesia menunjukkan kolesterol total abnormal pada
penduduk usia ≥ 15 tahun sebesar 35,9 %, trigliserida borderline tinggi
sebesar 13%, dan didapatkan sebesar 15,9% penduduk usia ≥ 15 tahun
dengan kadar LDL tinggi atau sangat tinggi (Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan, 2013).
Penatalaksanaan hiperlipidemia dilakukan terutama melalui
modifikasi perilaku/gaya hidup antara lain dengan menerapkan pola
makan (diet) rendah lemak dan melakukan aktivitas fisik (olah raga) yang
cukup. Namun apabila penanganan non-medikamentosa dianggap tidak
memadai, pada sejumlah kasus hiperlipidemia dibutuhkan pemberian obat
antidislipidemia atau antihiperlipidemia yang dapat menurunkan kadar
lipid darah menjadi normal. Selain penggunaan obat konvensional, di
dalam masyarakat juga berkembang penggunaan obat bahan alam dan obat
tradisional (jamu) untuk mengatasi hiperlipidemia seperti herba seledri,
rimpang kunyit, buah belimbing wuluh, daun dewa, temulawak dan
bawang putih (Permenkes, 2016).

1
B. Tujuan
Mahasiswa dilatih untuk mencari dan memperoleh informasi terbaru serta
dapat berlatih untuk mensintesa dan menganalisis berbagai sumber yang
dapat mendukung suatu konsep atau topik tertentu dan mempresentasikan
hasil diskusi kepada kelompok lain.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Hiperlipidemia
1. Definisi
Hiperlipidemia adalah kelainan yang ditandai dengan
adanya peningkatan kadar lipid darah (lemak atau senyawa sejenis
lemak), terutama kolesterol dan trigliserida. Hiperlipidemia
umumnya tidak menunjukkan gejala klinis yang spesifik, namun
hiperlipidemia berat dan kronis pada beberapa kasus ditandai
dengan munculnya xanthoma, yaitu deposit lemak berupa benjolan
atau nodul berwarna kekuningan pada kulit, di daerah mata, atau
daerah muskuloskeletal (misalnya di siku lengan) (Gitawati, Lucie
dan Frans, 2015).

2. Etiologi
Hiperlipidemia disebabkan adanya lemak nabati / kolesterol
yang terlalu tinggi.Jika kalori dalam makanan yang dikonsumsi
melebihi dari batas yang diperlukanoleh tubuh, kalori yang
berlebihan akan tersimpan di dalam otak dalam bentuk trigliserida
dan menjadi lemak, lalu hal tersebut menyebabkan kandungan
lemak dalam darah meningkat. Kadar lipoprotein, terutama
kolesterol LDL, meningkat sejalan dengan bertambahnya usia.
Pembuangan lemak dari darah pada setiap orang memiliki
kecepatan yang berbeda. Perbedaan ini tampaknya bersifat
genetik dan secara luas berhubungan dengan perbedaan kecepatan
masuk dan keluarnya lipoprotein dari aliran darah.
Hiperlipidemia biasanya disebabkan oleh riwayat keluarga
dengan hiperlipidemia, obesitas, diet kaya lemak, kurang olahraga,
konsumsi alkohol, kebiasaan merokok, diabetes yang tidak
terkontrol, dan fungsi kelenjar tiroid yang kurang aktif.

3
Hiperlipidemia dibedakan menjadi dua yaitu hiperlipidemia
primer dan hiperlipidemia sekunder. Hiperlipidemia primer
merupakan hiperlipidemia yang terjadi akibat predisposisi genetika
atau keturuan. Hiperlipidemia sekunder merupakan akibat penyakit
lain misalnya diabetes mellitus, hipotiroidisme (Sylvia & Wilson,
2005).

3. Patofisiologi
Kolesterol, trigliserida dan fosfolipid dibawa dalam darah
sebagai kompleks lipid dan protein, dikenal sebagai lipoprotein.
Peningkatan kolesterol total dan LDL (Low-Density-Lipoprotein)
dan penurunan kolesterol HDL (High-Density Lipoprotein)
berhubungan dengan perkembangan penyakit jantung koroner
(PJK). Hipotesis respon terhadap terhadap luka menyatakan bahwa
faktor resiko seperti LDL teroksidasi, luka mekanik terhadap
endothelium, peningkatan homosistein, serangan imunologi atau
induksi infeksi yang menginduksi perubahan dalam endotelial dan
fungsi utama membawa kepada disfungsi endothelial dan
serangkaian interaksi seluler yang lama kelamaan memuncak
menjadi aterosklerosis. Gejala klinis yang dapat muncul adalah
angina, infark miokardiak, aritmia, stroke, penyakit arteri perifer,
aneurisme pada aorta abdomen dan kematian (Sukandah et al.,
2008).
Lesi aterosklerosis diduga berkembang dari transport dan
retensi LDL, plasma melalui lapisan sel endotelial ke dalam
matriks ekstraselular daerah subendotelial. Pada dinding arteri,
LDL dimodifikasi secara kimia melalui secara kimia melalui
proses oksidasi dan glikasi nonenzimatik. Perlahan-lahan LDL
teroksidasi menarik monosit kedalam dinding arteri. Monosit-
monosit ini akan berubah menjadi makrofag yang mempercepat
oksidasi LDL. LDL teroksidasi mempengaruhi respon inflamasi

4
yang dimediasi oleh beberapa zat kimia penarik dan sitokin
(misalnya faktor stimulasi-koloni-monosit (MCSF), molekul adhesi
intraseluler, faktor pertumbuhan turunan-platelet (PDGF), faktor
pertumbuhan transformasi (TGF), interleukin-1, interleukin-6).
Luka yang berulang dan perbaikan plak aterosklerosis akhirnya
mengarah kepada perlindungan fibrous cap yang didasari oleh inti
lipid, kolagen, kalsium, dan sel inflamatori seperti limfosit T.
Pemeliharaan fibrous plak sangat penting untuk mencegah
hancurnya plak dan diikuti oleh thrombosis koronari. Terjadinya
oksidasi dan respon inflamasi dikendalikan secara genetic dan
primer atau penyakit genetic lipoprotein diklasifikasikan ke dalam
enam kategori untuk penjelasan fenotip hyperlipidemia. Tipe dan
peningkatan lipoprotein yang berhubungan adalah: I (kilomikron),
IIa (LDL), IIb (LDL +VLDL atau very low density lipoprotein), III
(IDL atau intermediate density lipoprotein), IV (VLDL), dan V
(VLDL + kilomikron) (Sukandah et al., 2008).
Bentuk hyperlipidemia sekunder juga dapat terjadi dan
beberapa obat dapat meningkatkan lipid (seperti progestin, diuretic
tiazid, glukokortikoid, β bloker, isotretionin, inhibitor
protease,siklosporin, mirtazapin, serolimus. Kerusakan primer pada
hiperkolesterol familial adalah ketidakmampuan pengikatan LDL
terhadap reseptor LDL (LDL-R) atau jarang terjadi, kerusakan
pencernaan kompleks LDR-R ke dalam sel setelah pengikatan
normal. Hal ini mengarah pada kurangnya degradasi LDL oleh sel
dan tidak teraturnya biosintesis kolesterol, dengan jumlah
kolesterol total dan LDL tidak seimbang dengan kurangnya
reseptor (Sukandah et al., 2008).
Kolesterol adalah suatu jenis lemak yang ada dalam tubuh
dan dibagi menjadi LDL, HDL, Total kolesterol dan Trigliserida
dari hati, kolesterol di angkut oleh lipoprotein yang bernama LDL(
Low Density Lipoprotein) untuk dibawa ke sel-sel tubuh yang

5
memerlukan, termasuk ke sel otot jantung, otak dan lain-lain agar
dapat berfungsi sebagaimana mestinya. HDL (High Densiy
Lippoprotein) adalah bentuk Lipoprotein yang memlliki komponen
kolesterol paling sedikit. Dibentuk di usus dan hati, HDL ini akan
menyerap kolesterol bebas dari pembuluh darah, atau bagian tubuh
lain seperti sel makrofag, kemudian membawanya ke hati. VLDL
(Very Low Density Lipoprotein) adalah Lipoprotein yang dibentuk
di hati yang kemudian akan diubah di pembuluh darah menjadi
LDL (Low Density Lipoprotein). Bentuk Lipoprotein ini memiliki
kolesterol paling banyak dan akan membawa kolesterol tersebut ke
jaringan seperti dinding pembuluh darah. Kelebihan kolesterol
akan diangkat kembali oleh lipoprotein yang disebut HDL (High
Density Lipoprotein) untuk dibawa kembali ke hati yang
selanjutnya akan diuraikan lalu dibuang ke dalam kantung empedu
sebagai asam (cairan) empedu. LDL mengandung lebih banyak
lemak dari pada HDL sehingga ia akan mengambang di dalam
darah. Protein utama yang membentuk LDL adalah Apo-B
(Apolipoprotein-B). LDL dianggap sebagai lemak yang “jahat”
karena dapat menyebabkan penempelan kolesterol di dinding
pembuluh darah. Sebaliknya, HDL disebut sebagai lemak yang
“baik” karena dalam operasinya ia membersihkan kelebihan
kolesterol dari dinding pembuluh darah dengan mengangkutnya
kembali ke hati. Protein utama yang membentuk HDL Apo-a
(Apolipoprotein-A). HDL ini mempunyai kandungan lemak lebih
sedikit dan mempunyai kepadatan tinggi sehingga lebih berat.
Konsentrasi kolesterol pada HDL dan LDL atau VLDL lipoprotein
adalah prediktor kuat untuk penyakit jantung koroner. HDL
fungsional menawarkan perlindungan dengan cara memindahkan
kolesterol dari sel dan atheroma. Konsentrasi tinggi dari LDL dan
konsentrasi rendah dari HDL fungsional sangat terkait dengan
penyakit kardiovaskuler karena beresiko tinggi terkena

6
ateroklerosis. Keseimbangan antara HDL dan LDL semata-mata
ditentukan secara genetikal, tetapi dapat diubah dengan
pengobatan, pemilihan makanan dan faktor lainnya (Corwin,
2009).

4. Tata Laksana Farmakologi


Obat-obat antihiperlipidemia dapat digolongan menjadi lima
macam yaitu obat golongan inhibitor HMG KoA reduktase (statin),
obat golongan resin pertukaran anion, asam nikotinat, fibrat, dan
inhibitor pada absorpsi kolesterol usus (Neal, 2007).
a. Inhibitor HMG KoA reduktase
Senyawa penghambat Co-enzim-A reduktase ini berkhasiat
menurunkan kolesterol dan trigliserida, sedangkan HDL
dinaikkan sedikit. Efeknya adalah peningkatan HDL (Sukandah
et al., 2008).
Contoh obat dari golongan ini adalah statin, obat penurun
lipid yang paling baru. Obat ini sangat efektif dalam menurunkan
kolesterol total dan dan LDL. Inhibitor HMG KoA reduktase
memblok sintesis kolesterol dalam hati (Neal, 2007).
b. Resin pertukaran anion
Resin menurunkan kadar kolesterol dengan cara mengikat
asam empedu dalam saluran cerna, mengganggu sirkulasi
enterohepatik sehingga ekskresi steroid yang bersifat asam dalam
tinja meningkat. Penurunan kadar asam empedu ini oleh
pemberian resin akan menyebabkan meningkatnya produksi asam
empedu yang berasal dari kolesterol. Karena sirkulasi
enterohepatik dihambat oleh resin maka kolesterol yang
diabsorpsi lewat saluran cerna akan terhambat dan keluar
bersama tinja (Suyatna, 2008).

7
c. Asam Nikotinik
Mekanisme mengurangi pelepasan VLDL dan kemudian
menurunkan trigliserida plasma (sekitar 30%-50%). Asam
nikotinat juga menurunkan kolesterol (sebanyak 10%-20%) dan
meningkatkan HDL (Neal, 2007).
d. Fibrat
Fibrat akan menyebabkan penurunan ringan pada LDL
(sekitar 10%) dan peningkatan HDL (sekitar 10%). Sebaliknya
fibrat akan menyebabkan penurunan yang bermakna pada
trigliserida plasma (sekitar 30%) (Neal, 2007).
e. Inhibitor pada absorpsi kolesterol usus
Obat golongan ini menurunkan penyerapan kolesterol dan
menurunkan kolesterol LDL. Sekitar 18% dengan sedikit
perubahan pada kolesterol HDL. Hal ini mungkin sinergis dengan
statin sehingga menjadi terapi kombinasi yang baik (Neal, 2007).

B. Herbal terkait Hiperlipidemia


1. Herba Seledri
a. Nama Daerah
Seledri, saladri.
b. Deskripsi
Seledri (Apium graveolens L.) memiliki batang yang dapat
tumbuh dengan ketinggian 1 meter, tidak berkayu, bercabang,
tegak, hijau pucat. Daunnya tipis majemuk, daun muda melebar
atau meluas dari dasar, berwarna hijau mengkilat. Daun bunga
berwarna putih kehijauan atau putih kekunigan dengan panjang
1/2 - 1/4 mm. Bunganya tunggal, dengan tangkai yang jelas, sisi
kelopak yang tersembunyi, daun bunga putih kehijauan atau merah
jambu pucat dengan ujung yang bengkok. Bunga betina majemuk,
tidak bertangkai atau bertangkai pendek, sering memiliki daun
berhadapan atau berbatas dengan tirai bunga. Tirai bunga tidak

8
bertangkai atau dengan tangkai bunga yang tidak lebih dari 2 cm
panjangnya. Buahnya memiliki panjang sekitar 3 mm, batang
angular, berlekuk, sangat aromatik dan berakar tebal (Agoes,
2010).

Gambar 2.1 Seledri


c. Kandungan Kimia
Mengandung minyak atsiri (limonen, p-cymol, oc-
terpineol, a-santalol, a-pinen, (3-caryophyllene), flavonoid (apiin,
apigenin, isokuersitrin). Kumarin (asparagin, bergapten,
isopimpinellin, apiumetin, ksantotoksin) yang ditemukan di dalam
biji, saponin, tannin 1%, sedanolida, asam sedanoat, manitol,
kalsium, fospor, besi, protein, glisidol, vitamin A, B,B2, C dan K
(Agoes, 2010).
d. Manfaat
Seledri memiliki manfaat seperti sebagai antioksidan,
antiinflamasi, antikanker, antimikroba dan antijamur,
antihipertensi, sebagai makanan yang kaya akan serat serta sebagai
antiplatelet dan antihiperlipidemik (Rusdiana, 2018).

9
Penghambatan terhadap agregrasi platelet darah oleh
seledri telah diteliti oleh Tong pada tahun 1985. Senyawa yang
bertanggung jawab terhadap efek ini adalah apigenin (bukan
ptalida). Ekstrak air dari seledri ditemukan menurunkan kolesterol
total dan LDL (lowdensity lipoprotein). Pemberian ekstrak air
seledri selama 8 minggu terhadap kelompok tikus yang diberikan
diet berprotein tinggi, terjadi pengurangan signifikan kadar
kolesterol dalam serum, LDL dan trigliserida dibandingkan
kelompok tikus kontrolnya. Dalam penelitia tersebut dilaporkan
bahwa ekstrak air seledri tidak mengandung zat ptalida, mungkin
ada zat lain yang belum terungkap yang memberikan efek
menurunkan kadar kolesterol tersebut (Sowbhagya, 2014). Ekstrak
seledri ini dapat menyebabkan penurunan yang signifikan dari
kadar-kadar kolesterol total, LDL dan TG pada tikus yang
diinduksi makanan tinggi lemak untuk terjadinya hiperlipidemia.
Hasil investigasi serupa juga disimpulkan oleh Iyer dan Patil bahwa
ekstrak seledri secara signifikan menghambat kadar kolesterol total,
LDL dan TG serta signifikan menaikkan HDL (Iyer, 2011). Ekstrak
etanol dari akar seledri dapat menurunkan kolesterol LDL,
trigliserida dan meningkatkan kolesterol HDL dan Apo-A1
(Romdhoni, 2014).
e. Toksisitas
LD50 peroral pada tikus adalah 7,55 g/kg BB. LD50
peroral pada tikus lebih besar 5000 mg/kg BB. Tidak toksik pada
pemberian subkronik dengan dosis per oral 5000 mg/kg BB pada
tikus (Permenkes, 2016).
f. Bentuk Sediaan
1) Infusa
Sebanyak 1 sendok makan serbuk daun seledri kering direbus
dengan 2 gelas air. Dinginkan, saring lalu minum sekaligus.

10
2) Jus segar
Blender 200 g daun segar, minum sekaligus.
3) Ekstrak cair
0,3-1,2 mL (1:1 dalam etanol 60%) 3x sehari (Badan POM RI,
2010).
g. Interaksi obat
Tidak ada interaksi dengan biji seledri. Meskipun biji
seledri mengandung coumarins alami, kuantitasnya tidak dapat
dipungkiri. Karena itu kecenderungan biji seledri untuk berinteraksi
dengan obat lain masih belum jelas (Juckett,2004). Biji seledri
dapat mengencerkan darah, sehingga tidak digunakan pada orang
yang menggunakan pengencer darah, termasuk aspirin dan
warfarin. Pasien yang menggunakan diuretik tidak boleh
mengkonsumsi biji seledri (Permenkes, 2016).
h. Kontraindikasi
Buah seledri mengandung fuanokumarin yang berefek
fototoksik dan dapat memicu terjadinya reaksi alergi (Permenkes,
2016).
i. Efek Samping
Penderita yang sensitif terhadap tanaman Apiaceae bisa
menyebabkan dermatitis alergika. Beberapa senyawa kumarin
kemungkinan mempunyai efek tranquilizer (Permenkes, 2016).
j. Peringatan
Herba seledri segar lebih dari 200 g sekali minum dapat
menyebabkan penurunan tekanan darah secara tajam sehingga
mengakibatkan syok. Dosis 200 g juga menyebabkan efek
diuretik. Biji seledri menimbulkan fotosensitisasi, perlu
menggunakan tabir surya bila terkena sinar matahari (Permenkes,
2016).

11
2. Buah Belimbing Wuluh
a. Nama Daerah
Caleneng, selemeng, belimbing asam, belimbing tunjuk, limbi,
bainang, calincing.
b. Deksripsi
Buah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) berbentuk
elips hingga seperti torpedo dengan panjang 4-10 cm. Warna buah
ketika muda hijau, dengan sisa kelopak bunga menempel
diujungnya. Jika masak buahnya berwarna kuning pucat. Daging
buahnya berair dan sangat asam. Kulit buah berkilap dan tipis.
Bijinya kecil (6 mm) berbentuk pipih dan berwarna coklat, serta
tertutup lendir. Pohon belimbing bisa tumbuh dengan ketinggian
mencapai 5-10 m. Batang utamanya pendek, berbenjol-benjol,
cabangnya rendah dan sedikit. Batangnya bergelombang atau tidak
rata. Bentuk daunnya majemuk menyirip ganjil dengan 21-45
pasang anak daun. Anak daun bertangkai pendek, berbentuk bulat
telur sampai jorong, ujung runcing, pangkal membulat, tepi rata,
panjang 2-10 cm, lebarnya 1-3 cm, berwarna hijau, permukaan
bawah hijau muda. Perbungaan berupa malai, bunganya kecil,
berkelompok, keluar langsung pada batang dan cabang-cabangnya
dengan tangkai bunga berambut, menggantung, panjang 5-20 cm,
mahkota bunga biasanya berjumlah 5, panjang kelopak bunga 5-7
mm; helaian mahkota bunga berbentuk elips; panjang 13-20 mm,
berwarna ungu gelap dan bagian pangkalnya ungu muda; benang
sari semuanya subur. Nama daerah untuk belimbing wuluh adalah
limeng, selimeng, thlimeng, selemeng, asom,belimbing
balimbingan, malimbi, balimbiang,blimbing asam, balimbing,
calincing, balingbing, balimbing wuluh,bhalingbhing bulu,
blingbing buloh,limbi, balimbeng,libi, belerang, belimbing tunjuk
(Mario, 2011).

12
Gambar 2.2 Belimbing Wuluh

c. Kandungan Kimia
Buah belimbing wuluh mengandung banyak vitamin C
alami, kandungan unsur kimia yang disebut asam oksalat dan
kalium, senyawa oksalat, minyak atsiri, flavonoid, saponin,
alkaloid dan tanin (Masruhen, 2010).
d. Manfaat
Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) termasuk suku
Oxalidaceae merupakan tamanan jenis buah dan juga tanaman obat
tradisional. Di masyarakat, buahnya dimanfaatkan sebagai manisan
dan sayur. Sebagai obat tradisional, buahnya dimanfaatkan antara
lain untuk batuk rejan, hipertensi, dan sariawan. Peneliti telah
membandingkan efek pencegahan dan pengobatan
hiperkolesterolemia dari jus buah belimbing wuluh dan
dibandingkan dengan jus dari buah sirsak (Annona muricata L.)
terhadap tingginya kadar kolesterol darah mencit.
hiperkolesterolemia. Hasilnya efek pencegahan jus belimbing
wuluh efektif, sedangkan jus sirsak tidak efektif. Jus belimbing
wuluh dapat mencegah peningkatan kadar kolesterol tetapi tidak
dapat mengobati (Surialaga et al., 2013).

13
e. Toksisitas
Nilai LD50 ekstrak etanol buah belimbing wuluh pada
mencit yang diberikan secara per oral, yaitu 11.72392g/kgBB. Nilai
kisaran LD50 sebesar 7.84989 sampai dengan 20.50693g/kgBB.
Ekstrak etanol buah belimbing wuluh dapat dikategorikan sebagai
toksik ringan (Manggung, 2008).
f. Bentuk Sediaan
Pemberian jus buah belimbing dengan dosis 0,12
g/20gBB/hari (p.o) dapat dimanfaatkan dalam pencegahan yaitu
untuk mencegah kenaikan kadar kolesterol darah, tetapi tidak dapat
dimanfaatkan dalam pengobatan yaitu untuk menurunkan kadar
kolesterol darah yang sudah tinggi (Surialaga et al., 2013).
g. Peringatan
Terdapat beberapa kasus pada manusia yang
mengkonsumsi 15 – 20 buah belimbing wuluh setiap harinya
diketahui dapat terjadi penumpukan kristal oksalat. Konsumsi
belimbing wuluh dalam jangka waktu yang lama dapat
mengakibatkan terjadinya kerusakan ginjal. Hal ini dikarenakan
adanya kandungan oksalat pada buah belimbing wuluh yang dapat
menyebabkan terjadinya kerusakan pada ginjal apabila
dikonsumsi secara berlebihan (Nair et al., 2014). Belimbing wuluh
sebaiknya tidak diberikan pada penderita gastritis (Permenkes,
2011).
h. Indikasi
Menurunkan kadar kolesterol total, trigliserid, kolesterol LDL
pada pasien hiperkolesteromia dan sebagai antihipertensi
(Permenkes, 2011).
i. Kontraindikasi
Kontraindikasi dari belimbing wuluh masih belum diketahui
(Permenkes, 2011).

14
j. Efek Samping
Belimbing wuluh dapat memberi efek samping berupa iritasi
lambung (Permenkes, 2011).
k. Interaksi
Masih belum diketahui (Permenkes, 2011).

3. Temulawak
a. Nama Daerah
Temulawak, koneng gede, temu labak.
b. Deskripsi
Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.)memiliki
perawakan terna berbatang semu, tinggi dapat mencapai 2 m,
berwarna hijau atau coklat gelap, rimpang berkembang sempurna,
bercabang-cabang kuat, berwarna hijau gelap, bagian dalam
berwarna jingga, rasanya agak pahit. Setiap individu tanaman
mempunyai 2-9 daun, berbentuk lonjong sampai lanset, berwarna
hijau atau coklat keunguan terang sampai gelap, panjang 31-84 cm,
lebar 10-18 cm, panjang tangkai daun (termasuk helaian) 43-80 cm.
Perbungaan berupa bunga majemuk bulir, muncul di antara 2 ruas
rimpang (lateralis), bertangkai ramping, 10-37 cm berambut, daun-
daun pelindung menyerupai sisik berbentuk garus,berambut halus,
panjang 4-12 cm, lebar 2-3 cm. Bentuk bulir lonjong, panjang 9-23
cm, lebar 4-6 cm, berdaun pelindung banyak, panjangnya melebihi
atau sebanding dengan mahkota bunga, berbentuk bulat telur
sungsang (terbalik) sampai bulat memanjang, berwarna merah,
ungu atau putih dengan sebagian dari ujungnya berwarna ungu,
bagian bawah berwarna hijau muda atau keputihan, panjang 3-8
cm,lebar 1,5-3,5 cm (Permenkes, 2016).

15
Gambar 2.3 Temulawak
c. Kandungan Kimia
Rimpang temulawak mengandung kurkuminoid (0,8-
2%)terdiri dari kurkumin dan demetoksikurkumin, minyak atsiri (3-
12%) dengan komponen α-kurkumen, xanthorizol, β-kurkumen,
germakren, furanodien, furanodienon, arturmeron,β-atlantanton, d-
kamfor. Pati (30-40 %) (periksa kandungan kimia, karena ini
mungkin tertukar dengan kunyit) (Permenkes, 2016).
d. Manfaat
Di Indonesia satu – satunya bagian yang dimanfaatkan
adalah rimpang temulawak untuk dibuat jamu godog. Rimpang ini
mengandung 48-59, 64 % zat tepung, 1,6-2,2 % kurkumin dan
1,48-1,63 % minyak asiri dan dipercaya dapat meningkatkan kerja
ginjal serta anti inflamasi. Manfaat lain dari rimpang tanaman ini
adalah sebagai obat jerawat, meningkatkan nafsu makan, anti
kolesterol, anti inflamasi, anemia, anti oksidan, pencegah kanker,
dan anti mikroba (Fauzi, 2009).
e. Toksisitas
Uji toksisitas akut ekstrak etanol dilakukan pada mencit
dengan mengamati pengaruh ekstrak terhadap perilaku hewan
(profil farmakologi) setelah pemberian dosis tunggal bahan uji,
perkembangan bobot badan hewan percobaan dan kematian setiap
hari selama 14 hari serta pengamatan bobot beberapa organ pada
hari ke-14. Hasil uji toksisitas akut setelah pemberian ekstrak pada

16
mencit jantan dan betina menunjukkan bahwa sampai dosis 7500
mg/kg bobot badan (BB) tidak ada kematian dan efek toksik yang
bermakna, maka ekstrak etanol dari rimpang temulawak yang tidak
dan yang diradiasi dengan dosis 5 dan 10 kGy dapat dinyatakan
aman. Dengan demikian DL50 dari ekstrak etanol dari rimpang
temulawak yang tidak dan yang diradiasi (5 dan 10 kGy) pada
mencit lebih besar dari 7500 mg/kg BB (Katrin, Susanto dan
Hendig, 2011).
f. Interaksi
Perlu hati - hati dalam menggunakan temulawak bersama dengan
antikoagulan (Permenkes, 2016).
g. Kontraindikasi
Obstruksi saluran empedu (Permenkes, 2016).
h. Efek Samping
Hingga saat ini belum ditemukan efek samping yang berarti. Tidak
dapat digunakan pada penderita radang saluran empedu akut
(Permenkes, 2016).
i. Data Manfaat
1) Uji praklinik
Penelitian efek C. xanthorrhiza terhadap lipid serum
dan hepar, HDL-kolesterol dan apolipoprotein (apo) A-I, dan
enzim lipogenik hati pada tikus dilakukan dengan memberikan
diet bebas kolesterol. C. xanthorrhiza menurunkan kadar
trigliserida serum, fosfolipid, kolesterol hati, dan
meningkatkan kadar HDL-kolesterol dan apo A-I serum, dan
menurunkan aktivitas fatty acid synthase hati. Pada tikus yang
diberi diet tinggi-kolesterol, C. xanthorrhiza tidak menekan
peningkatan kolesterol serum, walaupun menurunkan
kolesterol hati. Kurkuminoid dari C. xanthorrhiza tidak
mempunyai efek bermakna pada lipid serum hati. Efikasi C.
xanthorrhiza dalam menurunkan lipid darah dievaluasi pada 40

17
kelinci yang dibagi menjadi 4 kelompok dan mendapat diet
isoaterogenik tanpa curcuma, rendah curcuma (2 g/kg BB),
medium curcuma (3 g/ kg BB) dan tinggi curcuma (4 g/kg BB)
selama 120 hari. C. Xanthorrhiza tidak mempengaruhi makan,
konsumsi protein dan lemak dan ekskresi protein (P > 0,05),
tetapi secara bermakna (P<0,05) meningkatkan ekskresi lemak
(Permenkes, 2016).
j. Bentuk Sediaan
2 x 1 kapsul (500 mg ekstrak)/hari (Permenkes, 2016).

4. Rimpang Kunyit
a. Nama Daerah
Rimpang kunyit, koneng, kunir, konyet, kunir bentis, temu koneng,
temu kuning, guraci.
b. Deskripsi
Rimpang Kunyit (Curcuma domestica Val.) termasuk
tanaman semak, tinggi sekitar 70 cm. Batang semu, tegak, bulat,
membentuk rimpang, hijau kekuningan. Daun tunggal, bentuk
lanset, memanjang, berwarna hijau pucat, helai daun 3-8 lembar,
ujung dan pangkal daun runcing, tepi rata, panjang 20-40 cm dan
lebar 8-12 cm, serta pertulangan menyirip. Bunga majemuk
berambut, bersisik, tangkai 16-40 cm, panjang mahkota 3 cm, lebar
1 cm, warna kuning, kelopak silindris,tipis, warna ungu. Akar
serabut warna coklat muda (Permenkes, 2016).

18
Gambar 2.4 Rimpang Kunyit
c. Kandungan kimia
Zat warna curcuminoid suatu senyawa Diarylheptanoide
3-4% terdiri dari Curcumin, Dihydrocurcumin, Desmethoxy
curcumin dan Bisdesmethoxy-curcumin. Minyak atsiri 2-5% terdiri
dari seskuiterpen dan turunan Phenylpropane (I) yang meliputi
Turmeron, ar-Turmeron, a- dan b-Turmeron, Curlon, Curcumol,
Atlanton, Turmerol, b-Bis-abolen, b-Sesquiphellandren,
Zingiberen, ar-Curcumene, Humulen, A-rabinosa, Fruktosa,
Glukosa, Pati, Tanin dan Damar.4, 7 serta mineral yaitu Mg, Mn,
Fe, Cu, Ca, Na, K, Pb, Zn, Co, Al dan Bi (Permenkes, 2016).
Rimpang muda kulitnya kuning muda dan dan berdaging
kuning, setelah tua kulit rimpang menjadi jingga kecoklatan dan
dagingnya jingga terang agak kuning. Rimpang kunyit
mengandung bahan-bahan seperti minyak atsiri, phelkandere,
sabinene, cineol, zingeberence, turmeron, champene, camphor,
sesquiterpene, caprilic acid, methoxinnamic acid, thelomethy
carbinol, curcumene, dan zat pewarna yang mengandung alkaloid
curcumin. Curcumin adalah zat warna kuning yang dikandung oleh
kunyit, rata-rata 10,29%, memiliki aktifitas biologis berspektrum
luas antara lain antihepototoksik, antibakteri, dan antioksidan
(Permenkes, 2016).

19
d. Manfaat
Minyak atsiri mempunyai efek koleretik dan
bakteriostatika, sedangkan kurkuminoid bersifat kolekinetik.
Penelitian terhadap ekstrak kunyit dalam etanol 50% yang
diberikan pada kultur sel hepar yang telah diberi karbon
tetraklorida atau galaktosamin sebagai se-nyawa hepatotoksik
menunjukkan adanya perbaikan yang nyata. Kunyit diketahui pula
mempunyai efek sebagai anti radang, baik lokal maupun sistemik
yang ditimbulkan oleh curcuminoid Minyak atsiri kunyit
mempunyai aktivitas anti bakteri terhadap Eschericia coli dan anti
jamur terhadap Candida albicans. Rimpang kunyit mempunyai efek
anti fertilitas pada tikus karena adanya minyak atsiri dan
curcuminoid, sedangkan efek anti koagulan disebabkan oleh
curcuminoid. Disamping itu curcuminoid berefek sebagai anti
oksidan dan anti koagulan, sedangkan kandungan minyak atsiri
turmeron dan arturmeron mempunyai aktivitas anti serangga (insect
repellant). Rimpang kunyit sendiri diketahui mempunyai efek anti
botulinus. Rimpang kunyit juga dapat digunakan pada penyakit
hiperlipidemia karena berfungsi sebagai anti hiperkolesterolemia,
dan menurunkan LDL tanpa mempengaruhi HDL pada tikus yang
diberikan ekstrak kunyit 200 mg/kgBB. Penelitian lain
menunjukkan pada tikus jantan galur Wistar yang diberi kuning
telur 10 mL/kg BB menunjukkan efek penurunan kadar kolesterol
dan trigliserida darah secara bermakna dengan dosis ekstrak etanol
25 mg/200 g BB dan 50 mg/200 g BB (Permenkes, 2016).
e. Toksisitas
Penggunaan jangka panjang rimpang kunyit dapat menyebabkan
iritasi pada membran mukosa lambung (Permenkes, 2016).

20
f. Data Keamanan
LD50 ekstrak etanol pada mencit per oral: > 15 g/kg BB.
Monyet diberi 0,8 mg/kg BB kurkumin/hari dan tikus 1,8 mg/kg
BB/hari selama 90 hari tidak menunjukkan efek samping. In vitro
tidak bersifat mutagenik. Per oral pada tikus dan mencit tidak
teratogenik. FDA mengklasifikasikan sebagai GRAS (Generally
Recognized as Safe). Tidak ada efek samping pada pasien artritis
rematoid yang diberi 1200 mg/hari kurkumin selama 2 minggu.
Tidak ada efek toksik setelah pemberian oral 2,2 g kunyit (setara
180 mg kurkumin)/hari selama 4 bulan (Permenkes, 2016).
g. Data Manfaat
1) Uji praklinik:
Pemberian ekstrak Curcuma longa (kunyit) 200
mg/kg BB pada tikus menunjukkan aktivitas
antihiperkolesterolemia, menurunkan LDL tanpa
mempengaruhi HDL. Ekstrak etanol rimpang kering dosis 30
mg/kg BB diberikan intragastrik pada tikus setiap 6 jam
selama 48 jam, memperlihatkan aktivitas
antihiperkolesterolemia. Kelinci yang dibuat aterosklerosis
yang diberi diet tinggi kolesterol dan ekstrak C. longa
menunjukkan efek antioksidan yang positif dibanding
kelompok kontrol. Kurkumin memobilisasi α-tokoferol dari
jaringan lemak, sehingga melindungi dari kerusakan oksidatif
yang diproduksi selama pembentukan aterosklerosis.
Kurkumin meningkatkan transpor kolesterol LDL & VLDL
dalam plasma, sehingga meningkatkan kadar α-tokoferol
(Permenkes, 2016).

21
2) Uji klinik
Uji acak terkontrol terhadap subyek DM tipe-2
menunjukkan pemberian kapsul yang mengandung
kombinasi ekstrak C. longa (200 mg/kapsul) dan bawang
putih (200 mg/kapsul) dengan dosis 2,4 g per hari selama 12
minggu menunjukkan perbaikan profil lipid (penurunan
kolesterol total, LDL, trigliserid), penurunan glukosa darah
puasa dan penurunan kadar HbA1C. Sebanyak 10
sukarelawan sehat yang diberi 500 mg curcumin selama 7
hari menghasilkan penurunan bermakna kadar lipid peroksida
serum (33%) dan peningkatan HDL kolesterol (29%) serta
penurunan kadar serum kolesterol total (12%) (Permenkes,
2016).
h. Indikasi
Dislipidemia, hiperkolesterolemia (Grade C) (Permenkes, 2016).
i. Kontraindikasi
Obstruksi saluran empedu, kolesistitis. Hipersensitivitas terhadap
komponen kunyit, gagal ginjal akut, anak < 12 tahun (Permenkes,
2016).
j. Peringatan
Hati-hati pada pasien dengan batu empedu, sebaiknya konsul ke
dokter ahli penyakit dalam. Hati-hati penggunaan pada kehamilan
dan masa menyusui karena belum ada data keamanannya
(Permenkes, 2016).
k. Bentuk sediaan
2 x 1 tablet (200 mg ekstrak)/hari ac (Permenkes, 2016).
l. Interaksi
Dapat meningkatkan aktivitas obat antikoagulan, antiplatelet,
trombolitik, sehingga meningkatkan risiko perdarahan. Interaksi
kurkumin dengan herbal yang lain: orang sehat diberi 2 g kurkumin

22
dikombinasi dengan 20 mg piperin, bioavailabilitas kurkumin
meningkat 20 kali (Permenkes, 2016).

5. Daun Dewa
a. Nama Daerah
Beluntas cina, samsit, tigel kio.
b. Deskripsi
Tumbuhan merambat atau menjalar, tinggi sampai 2 m.
Helai daun dewa (Gynura divaricata) berbentuk oval, bulat telur
memanjang atau lanset panjang dengan pangkal menyempit
panjang dan ujung meruncing. Tepi daun berlekuk tajam atau
tumpul dan bergerigi kasar, kadang-kadang terpilin menyerupai
kail. Permukaan berambut halus dengan panjang daun bervariasi
dari 3,5-12,5 cm dan panjang tangkai daun 0,5-3,5 cm.
Bunga berbentuk bonggol, yang bergantung 2-7 bonggol
membentuk perbungaan malai rata atau malai cawan. Bunga berbau
menusuk dengan mahkota berwarna jingga muda, kuning-jingga
sering menjadi coklat kemerahan. Batang berkotak-kotak atau
beralur, lunak, berbintik-bintik ungu dan berambut halus.

Gambar 2.5 Daun Dewa

23
c. Kandungan kimia
Pada bagian daun mengandung 4 senyawa flavonoid (3’4’-
dihidroksiflavon; 4’hidroksiflavonol tersubstitusi pada posisi
4’;3’,4’-dihiroksiflavonol tersubstitusi pada posisi 3; 3,7-
dihidroksiflavon), tanin galat, saponin dan steroid/triterpenoid.
Metabolit yang terdapat dalam ekstrak yang larut dalam
etanol 95% antara lain asam klorogenat, asam kafeat, asam vanilat,
asam p-kumarat, asam p-hidroksi benzoat. Sterol (β-sitosterol dan
stigmasterol), glikosida sterol (3-O-β-D-glukopiranosil β-sitosterol,
3-O-β-D-glukopiranosil stigmasterol), nonadekana, phytyl valearat,
adenosine kaempferol-3-O-neohesperidosida, metalheksadekanoat,
metal 9-oktadekenoat, 4-hidroksi-4-metil-2-pentanon, stigmasterol
asetat, kuersetin, kaempferol-3-glukosida, kuersetin-3-Oramnosil
(1-6) galaktosida, kuersetin-3-O-ramnosil (1,6) glukosida, 3,5-di-
O-asam kafeoilkuinat, 4,5-di-O-asam kafeoilkuinat (Permenkes,
2016).
d. Data Manfaat
1) Uji praklinik
Pengujian ekstrak etanol pada tikus normal dan
tikus diabetes yang diinduksi streptozotocin, selama 7 hari
dengan kontrol metformin dan glibenklamid, selain
menurunkan kadar gula darah juga menghasilkan dosis efektif
optimum untuk menurunkan kolesterol dan trigliserida adalah
150 mg/kg BB. Fraksi butanol dosis 30, 100, dan 300 mg/kg
BB selama 21 hari pada mencit menurunkan total kolesterol
dan trigliserida serta meningkatkan HDL (Permenkes, 2016).
Penelitian ekstrak Gynura procumbens (daun dewa)
terhadap enzim lipase yang dikultur dari Bacillus subtilis
mendapatkan hasil bahwa konsentrasi ekstrak kasar daun dewa
menghambat enzim lipase secara optimum pada 60 mg/10 mL
(aq) dengan aktivitas 1.25 μmol/mL/menit (Permenkes, 2016).

24
e. Toksisitas
Nilai LD 50 ekstrak etanol daun dewa yang diberikan secara oral
pada mencit adalah 5,56 g/kg BB. Selain itu, terdapat fraksi
kloroform dari ekstrak etanol bersifat mutagenik (Permenkes,
2016).
f. Indikasi
Dislipidemia, penurun kolesterol (Permenkes, 2016).
g. Kontra indikasi
Belum diketahui (Permenkes, 2016).
h. Peringatan
Menghambat aktivitas angiotensin converting enzyme (ACE),
menimbulkan hipotensi (Permenkes, 2016).
i. Efek samping
Gangguan hati (Permenkes, 2016).
j. Interaksi
Belum diketahui (Permenkes, 2016).
k. Dosis dan sediaan
Penggunaan daun dewa yaitu dengan 5 helai daun dewa segar, di
seduh dengan 110 mL air panas. Lalu minum sekaligus satu kali
sehari. 2 x 1 kapsul (600 mg ekstrak)/hari (Permenkes, 2016).

6. Bawang Putih
a. Nama daerah
Bawang puteh, bawang basihong, lasun, lasuna, palasuna,
dasun, bawang handak, bawang pulak, ghabang pote, kesuna, lasuna
mabida, lasuna mawuru, yantuna mopusi, pia moputi.
b. Deskripsi
Bawang putih (Allium sativum) memiliki bentuk berupa umbi
lapis, warna putih atau putih keunguan, bau khas, rasa agak pahit.
Umbi berlapis majemuk berbentuk hampir bundar, garis tengah 4-6
cm, terdiri dari 8-20 siung seluruhnya diliputi 3-5 selaput tipis

25
serupa kertas berwarna putih, tiap suing diselubungi 2 selaput
serupa kertas, selaput luar warna agak putih dan agak longgar. Bau
khas aromatik tajam, rasa agak pedas lama kelamaan menimbulkan
rasa agak tebal di bibir, warna kekuningan.
Merupakan tanaman perennial tinggi 25-70 cm, memiliki
batang yang lurus kaku atau sedikit membengkok. Daun memiliki
permukaan yang datar dan lebar dari 4-25 mm (Permenkes, 2016).

Gambar 2.6 Bawang putih


c. Kandungan kimia
Alliin (alkilsistein sulfoksida), allylalliin, profenil alliin,
dan allisin (termasuk gama glutamil). Umbi yang telah kering dan
kemudian dilembabkan kembali dengan ragi akan menghasilkan
minyak yaitu oligosulfida, ajoens (dialkiltrithiaalkanamonoksida
dan vinil dithiin fruktosa, saponin allisin, dan selenium.
Alliin dan gama glutamilsistein adalah senyawa yang
paling banyak terkandung dalam bawang putih. Kandungan alliin
merupakan senyawa zat yang bertanggung jawab pada bau dan rasa
yang khas bawang putih. Sedangkan S-alilsistein (SAC), senyawa
yang memiliki aktifitas biologis, sering dijadikan standar dalam
pemeriksaan (Permenkes, 2016).

26
d. Data Keamanan
Nilai LD50 3034 mg/kg BB pada kelinci, yang diberikan
secara per oral. Allii sativi bulbus (bawang putih) tidak mutagenik
secara in vitro. Penggunaan berlebih dapat menyebabkan ulkus pada
gaster.
Pemberian oral ekstrak etanolik bawang putih pada dosis
0,1, 0,25 dan 0,5 g/kg selama 14 hari pada tikus yang diinduksi
dengan streptozotosin menurunkan secara signifikan : kadar glukosa
darah, Total kolesterol, Trigliserida, Kreatinin, asam urat, AST dan
ALT (Permenkes, 2016).
e. Data Manfaat
1) Uji praklinik
Pada cell line binatang dan manusia, terlihat penurunan lemak
jaringan vaskular, pembentukan fatty streak, dan ukuran plak
aterosklerotik.
2) Uji klinik
Sebuah meta-analisis mereview 16 uji klinik random
dengan control (14 paralel dan 2 cross-over) dari 952 subjek
tentang efek Bulbus Allii sativi terhadap lipid dan lipoprotein
serum. Dosis serbuk A. sativum (bawang putih) 600–900
mg/hari, atau umbi segar 10 g atau minyak 18 mg, atau ekstrak
(dosis tidak disebut). Median lama terapi 12 minggu.
Subjek yang mendapat A. sativum (serbuk/bukan serbuk)
menunjukkan rerata penurunan kolesterol total 12%, dan
trigliserida serum 13% (hanya serbuk). Namun kualitas uji
klinik kurang baik. Minyak bawang putih 0.25 mg/kg BB (15 g
minyak setara 30 g umbi untuk BB 61 kg) menurunkan kadar
kolesterol 18% setelah penggunaan 8 bulan (dari rerata 298 ke
244 mg/dL). Pemberian umbi 10 g setelah makan pagi selama 2
bulan menurunkan kadar kolesterol 15% (pada pasien dengan
kolesterol 160-250 mg/dL). Pada 50 pasien dengan rerata kadar

27
kolesterol 213 mg/dL penurunan kadar kolesterol total 16%.
Pada uji klinik lain, A. sativum 7.2 g setiap hari selama 6 bulan
pada 41 hiperkolesterolemia sedang (kolesterol darah 220-290
mg/dL) dibanding plasebo menunjukkan penurunan kolesterol
total 6.1%, dan kadar LDL 4%. Kajian sistematik terhadap
potensi menurunkan lipid terhadap 8 studi dari 500 subyek yang
mendapat serbuk A. sativum 600-900 mg menghasilkan
penurunan serum kolesterol dan trigliserida sebesar 5-20%, dan
disimpulkan bahwa serbuk bawang putih berpotensi
menurunkan kadar lemak darah.
Mekanisme kerja: aktivitas antikolesterolemia dan anti
hiperlipidemia diduga karena kandungan diallil disulfida dan
trisulfida yang menghambat hepatichydroxy-methylglutaryl-
CoA (HMG-CoA) reductase dan peningkatan ekskresi garam
empedu ke dalam feses dan mobilisasi lemak jaringan ke dalam
sirkulasi (Permenkes, 2016).
f. Indikasi
Hiperlipidemia (Grade B), aterosklerosis (Grade C) (Permenkes,
2016).
g. Kontraindikasi
Alergi terhadap bawang putih (Permenkes, 2016).
h. Peringatan
Mengkonsumsi dalam jumlah yang besar akan meningkatkan
resiko pendarahan pascaoperasi. Hati-hati pada kehamilan dan
laktasi (Permenkes, 2016).
i. Efek Samping
Gastritis. Makan umbi segar, ekstrak atau minyak dalam
keadaan perut kosong dapat menimbulkan heartburn, nausea,
vomitus dan diare. Nafas dan keringat bau bawang putih. Orang
yang belum pernah memakai obat ini mengalami sedikit alergi
(Permenkes, 2016).

28
j. Interaksi
Pasien dalam terapi warfarin harus diperingatkan bahwa
mengkonsumsi Allii Sativi Bulbus akan meningkatkan waktu
pendarahan. Waktu lamanya pendarahan telah dilaporkan
meningkat 2x untuk pasien. Tidak boleh diberikan bersamaan
dengan antikoagulan dan antitrombotik clopidogrel karena dapat
meningkatkan risiko perdarahan (Permenkes, 2016).
k. Posologi
1 x 1 kapsul lunak (500 mg ekstrak)/hari (Permenkes, 2016)

29
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Hiperlipidemia merupakan suatu kelainan yang ditandai dengan
adanya peningkatan kadar lipid darah (lemak atau senyawa sejenis lemak),
terutama kolesterol dan trigliserida (Gitawati, Lucie dan Frans, 2015).
Hiperlipidemia masih merupakan masalah kesehatan di dunia. Perubahan
gaya hidup masyarakat berdampak pada pola makan tinggi lemak jenuh
dan gula serta rendah serat.
Penatalaksanaan hiperlipidemia dilakukan terutama melalui
modifikasi perilaku/gaya hidup antara lain dengan menerapkan pola
makan (diet) rendah lemak dan melakukan aktivitas fisik (olah raga) yang
cukup. Namun apabila penanganan non-medikamentosa dianggap tidak
memadai, pada sejumlah kasus hiperlipidemia dibutuhkan pemberian obat
antidislipidemia atau antihiperlipidemia yang dapat menurunkan kadar
lipid darah menjadi normal. Selain penggunaan obat konvensional, di
dalam masyarakat juga berkembang penggunaan obat bahan alam dan obat
tradisional (jamu) untuk mengatasi hiperlipidemia seperti herba seledri,
rimpang kunyit, buah belimbing wuluh, bawang putih, temulawak dan
daun dewa (Permenkes, 2016).

B. Saran
Sebaiknya mahasiswa lebih banyak berlatih dalam mencari dan
memperoleh informasi terbaru, menganalisis berbagai sumber yang
diperoleh, serta mempresentasikan hasil kepada kelompok lain dengan
sebaik-baiknya. Selain itu mahasiswa juga diharapkan untuk selalu aktif
dalam diskusi kelompok.

30
DAFTAR PUSTAKA

Agoes, A. (2010) Tanaman Obat Indonesia. Jakarta : Salemba Medika.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. (2013) Pokok-pokok hasil


Riskesdas Indonesia tahun 2013. Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia.

Badan POM RI. (2010) Acuan Sediaan Herbal. Jakarta : Badan Pengawas Obat
dan Makanan Republik Indonesia.

Corwin, Elizabeth J. (2009) Buku Saku Patofisologi edisi 3. EGC : Jakarta.

Fauzi, Arif. (2009) Aneka Tanaman Obat dan Khasiatnya. Yogyakarta : Med
Press.

Gitawati, Lucie, Frans. (2015) Penggunaan Jamu pada Pasien Hiperlipidemia


Berdasarkan Data Rekam Medik, di Beberapa Fasilitas Pelayanan
Kesehatan di Indonesia. Jurnal Kefarmasian Indonesia, 5(1), 41- 48.

Harikumar K., Althaf Abdul S., Kumar Kishore B., Ramunaik M., Suvarna CH.
(2013) Review of Hyperlipidemic, Department of Pharmacology, Sri
Venkateswara College of Pharmacy, R.V.S. Nagar, Chittoor, Andhra
Pradesh, India. International Journal of Novel trends in Pharmaceutical
Sciences, 3(4), 59 – 65.

Iyer D, P. U. (2011) Effect of chloroform and aqueous basic fraction of ethanolic


extract from Apium graveolens L. in experimentally-induced hyperlipidemia
in rats. J Complement Integr Med, 8(1), 1-13.

Katrin.,Susanto.,Hendig Winarno. (2011) Toksisitas Akut Ekstrak Etanol


Temulawak Iradiasi yang Mempunyai aktivitas antikanker. Jurnal Ilmiah
Aplikasi Isotop.

31
Juckett, G. (2004). Herbal Medicine. Lippincott: Williams & Wlkins.

Permenkes. (2016) Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 6


Tahun 2016 tentang Formularium Obat Herbal Asli Indonesia. Jakarta :
Mentri Kesehatan Republik Indonesia.

Permenkes. (2011) Formularium Obat Herbal Asli Indonesia. Volume I. Jakarta:


Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Manggung, Raden Enen Rosi. (2008) Pengujian Toksisitas Akut Lethal Dose 50
Ekstrak Etanol Buah Belimbing Wuluh pada Mencit. Institut Pertanian
Bogor.

Mario, Parikesit. (2011) Khasiat dan manfaat belimbing wuluh. Surabaya:


Stomata.

Masruhen. (2010) Pengaruh pemberian infus buah belimbing wuluh (Averrhoa


bilimbi L.) terhadap kadar kolesterol darah tikus. Jurnal Farmasains
Universitas Muhamadiyah Malang.

Nair S, George J, Kumar S, Gracious N. (2014) Case Report Acute Oxalate


Nephropathy Following Ingestion of Averrhoa bilimbi Juice. Hidawi
Publishing Corporation.

Neal, M. J. (2007) Farmakologi Medis. Jakarta : Erlangga.

Romdhoni, Muhammad Fadhol. (2014) Studi Farmakodinamik Ekstrak Etanol


Akar Seledri (Apium graveolens) terhadap Profil Lipid dan Apo-A1 Serum
Tikus Putih Stain Wistar (Rattus Novergicus Strain Wistar) Dislipidemia
[Thesis]. Universitas Airlangga.

Rusdiana, Taofik. (2018) Review on Celery as A High Potential Natural Source of


Health Promotion. Indonesia Natural Research Pharmaceutical Journal,
3(1), 2502 - 8421.

32
Sowbhagya. (2014) Chemistry, technology, and nutraceutical functions of celery
(Apium graveolens L.): an overview. Crit Rev Food Sci Nutr, 54(3), 389-98.

Sukandah, Elin Yulinah, Andrajati, Retnosari, Sigit, Joseph I., Adnyana, I Ketut,Setiadi, A.
Adji Prayitno, Kusnandar. (2008) ISO Farmakoterapi. Jakarta : PT. ISFI
Penerbitan.
Surialaga, Samsudin, Diah Dhianawaty, Anna Martiana, Andreanus. (2013) Efek
Antihiperkolesterol Jus Buah Belimbing Wuluh (Averhoa bilimbi L.)
terhadap Mencit Galur Swiss Webster Hiperkolesterolemia. MKB, 45(2),
125 - 9.
Suyatna, F.D. (2008) Farmakologi dan Terapi. Jakarta : Farmakologi dan
Terapeutik Fakultas Kedokteran
Sylvia, Anderson Prince & Wilson, Lorraine McCarty. (2005) Patofisiologi
Konsep Klinik Proses-Proses Penyakit. Jakarta : EGC.

33