Anda di halaman 1dari 5

Prosedur Analitis

Prosedur analitis adalah salah satu dari delapan jenis bukti audit. Prosedur analitis
didefinisikan oleh standar auditing sebagai evaluasi atas informasi keuangan yang dilakukan
dengan menganalisis hubungan yang masuk akal antara data keuangan dan nonkeuangan.
Prosedur analitis menggunakan perbandingan dan hubungan untuk menilai apakah saldo
akun atau data lain terlihat wajar berkaitan dengan ekspektasi auditor. Prosedur analitis
dapat dilaksanakan pada salah satu dari ketiga waktu selama penugasan:
1) Prosedur analitis diwajibkan dalam tahap perencanaan untuk membantu menentukan
sifat, luas, dan penetapan waktu prosedur audit. Ini membantu auditor mengidentifikasi
hal-hal signifikan yang nantinya memerlukan perhatian khusus dalam penugasan.
2) Prosedur analitis sering kali dilakukan selama tahap pengujian audit sebagai pengujian
substantif untuk mendukung saldo akun. Pengujian ini sering dilakukan dalam
hubungannya dengan prosedur audit lainnya.
3) Prosedur analitis juga diwajibkan selama tahap penyelesaian audit. Pengujian semacam
itu berfungsi sebagai review akhir atas salah saji yang material atau masalah keuangan,
dan membantu auditor mengambil “pandangan objektif” akhir pada laporan keuangan
yang telah diaudit.
Penetapan waktu dan tujuan prosedur analitis
Fase
Tujuan (Diwajibkan) Tahap Pengujian (Diwajibkan)
Tahap Tahap
Perencanaan Penyelesaian
Memahami Tujuan utama
industri dan
bisnis klien
Menilai going Tujuan sekunder Tujuan sekunder
concern
Menunjukkan Tujuan utama Tujuan sekunder Tujuan utama
kemungkinan
salah saji
(pengarahan
perhatian)
Mengurangi Tujuan sekunder Tujuan utama
pengujian
yang terinci

1. Jenis Prosedur Analitis


Lima jenis prosedur analitis:
 Membandingkan data klien dan industry
Data industri dapat memberikan informasi yang berguna tentang kinerja klien dan salah
saji yang material. Namun, kelemahan utama penggunaan rasio industri dalam auditing
adalah perbedaan antara sifat informasi keuangan klien dan perusahaan yang
membentuk total industri.
 Membandingkan data klien dengan data periode sebelumnya yang serupa
Auditor dapat membandingkan saldo tahun berjalan dengan tahun sebelumnya,
membandingkan rincian total saldo dengan rincian yang serupa untuk tahun
sebelumnya, dan menghitung rasio dan hubungan persentase untuk dibandingkan
dengan tahun sebelumnya.
 Membandingkan data klien dengan hasil yang diharapkan yang ditentukan klien
Apabila data klien dibandingkan dengan anggaran, ada dua kepentingan khusus.
Pertama, auditor harus mengevaluasi apakah anggaran itu merupakan rencana yang
realistis. Kedua ialah kemungkinan bahwa informasi keuangan saat ini telah diubah oleh
personil klien agar sesuai dengan anggaran.
 Membandingkan data klien dengan hasil yang diharapkan yang ditentukan auditor
Ketika auditor menghitung saldo yang diharapkan untuk dibandingkan dengan saldo
aktual.
 Membandingkan data klien dengan hasil yang diharapkan dengan menggunakan data
nonkeuangan
Kepentingan utama dalam menggunakan data nonkeuangan terletak pada keakuratan
data.

2. Rasio Keuangan yang Umum


Prosedur analitis auditor sering kali meliputi penggunaan rasio keuangan yang umum
selama tahap perencanaan dan review akhir atas laporan keuanganyang telah diaudit. Ketika
menggungkan rasio keuangan, auditor harus memastikan untuk melakukan perbandingan
yang tepat. Perbandingan yang paling penting adalah bagi perusahaan tersebut dalam tahun-
tahun terdahulu dan terhadap rata-rata industri atau perusahaan serupa untuk tahun yang
sama. Biasanya rasio dan prosedur analitis lainnya dihitung dengan menggunakan
spreadsheet dan jenis perangkat lunak audit lainnya.
 Kemampuan Membayar Utang Jangka Pendek
kas+sekuritas
Rasio kas = kewajiban lancar
kas+sekuritas+piutang usaha bersih
Rasio cepat = kewajiban lancar
aset lancar
Rasio lancar = kewajiban lancar

 Rasio Aktivitas Likuiditas


penjualan bersih
Perputaran piutang usaha = piutang kotor rata−rata
365 hari
Jumlah hari penagihan utang = perputaran piutang usaha
harga pokok penjualan
Perputaran persediaan = persediaan rata−rata
365 hari
Jumlah hari penjualan persediaan = perputaran persediaan

 Kemampuan untuk Memenuhi Kewajiban Utang Jangka Panjang


total kewajiban
Utang terhadap ekuitas = total ekuitas

laba operasi
Times interest earned = beban bunga

 Rasio Profitabilitas
laba bersih
Laba per saham = rata−rata saham biasa yang beredar
penjualan bersih−harga pokok penjualan
Persentase laba = penjualan bersih

laba operasi
Marjin laba = penjualan bersih

laba sebelum pajak


Pengembalian atas aset = aset total rata−rata

laba sebelum pajak− dividen saham preferen


Pengembalian ekuitas saham biasa = ekuitas pemegang saham rata−rata
Daftar Pustaka

Arens, Alvin A., Randal J. Elder, dan Mark S. Beasley. (2014). Auditing dan Jasa
Assurance. Jakarta: Erlangga.