Anda di halaman 1dari 7

PERCOBAAN IV

SUBLIMASI
Oleh : Rian Ariandi/85AK18025/Rianariandi9@gmail.com
Program Studi D-III Analis Kesehatan
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Gorontalo
Alamat : Jl. Prof. Dr. Aloe saboe No. 173 Kelurahan Wongkaditi, Kota Gorontalo 96122
Gorontalo, Indonesia

A. Latar Belakang
Saat ini seringkali kita melihat di laboratorum, bahkan dalam kehidupan sehari-
hari beberapa zat yang tidak murni. cara memurnikan zat tersebut bisa digunakan
berbagai cara. Memperoleh suatu senyawa kimia dengan kemurnian yang sangat tinggi
merupakan hal yang sangat esensi bagi kepentingan kimiawi. Bila zat tersebut
merupakan zat cair maka dapat dilakukan metode destlasi untuk memurnikannya.
Sedangkan jika zat tersebut berupa padatan, maka tekhnik pemisahan dan pemurnian
yang dilakukan adalah dengan menggunakan metode kristalisasi, namun bila zat padat
tersebut bersifat volatil maka pemurniannya dilakukan dengan metode sublimasi
(Amrin, 2011).
Sublimasi adalah perubahan wujud dari padat ke gas tanpa mencair terlebih
dahulu. Pada tekanan normal, kebanyakan benda dan zat memiliki tiga bentuk yang
berbeda pada suhu yang berbeda. Pada kasus ini transisi dari wujud padat ke gas
membutuhkan wujud antara. Namun untuk beberapa antara, wujudnya bisa langsung
berubah ke gas tanpa harus mencair. Ini bisa terjadi apabila tekanan udara pada zat
tersebut terlalu rendah untuk mencegah molekul-molekul ini melepaskan diri dari
wujud padat (Ahmadun. 2013).
Pada proses sublimasi, senyawa padat bila dipanaskan akan menyublim,
langsung terjadi perubahan dari padat menjadi uap tanpa melalui fasa cair dahulu.
Kemudian uap senyawa tersebut, bila didinginkan akan langsung berubah menjadi fasa
padat kembali. Senyawa padat yang dihasilkan akan lebih murni dari pada senyawa
padat semula, karena pada waktu dipanaskan hanya senyawa tersebut yang menyublim
sedangkan pengotornya tetap tertinggal dalam cawan (Ahmadun. 2013).

1
B. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk memisahkan campuran dengan
cara sublimasi.
C. Manfaat
Adapun manfaat dari praktikum ini agar mahasiswa dapat mengatahui bagaimana
cara memisahkan campuran dengan cara sublimasi.
D. Teori
Sublimasi merupakan cara yang digunakan untuk pemurnian senyawa – senyawa
organic yang berbentuk padatan.pemanasan yang dilakukan tehadap senyawa organic
akan menyebabkan terjadinya perubahan sebagai berikut: apabila zat tersebut pada
suhu kamar berada dalam keadaan padat, pada tekanan tertentu zat tersebut akan
meleleh kemudian mendidih. Disini terjadi perubahan fase dari padat ke cair lalu
kefase gas. Apabila zat tersebut pada suhu kamar berada dalam keadaan cair. Pada
tekanan dan temperature tertentu (pada titik didihnya) akan berubah menjadi fase gas.
Apabila zat tersebut pada suhu kamar berada dalam keadaan padat, pada tekanan dan
temperature tertentu akan lansung berubah menjadi fase gas tanpa melalui fase cair
terlebih dahulu. Zat padat sebagai hasil reaksi biasanya bercampur dengan zat padat
lain. Oleh karena itu, untuk mendapatkan zat-zat padat yang kita inginkan, perlu
dimurnikan terlebih dahulu. Prinsip proses ini adalah perbedaan kelarutan zat
pengotornya (Zaini, 2010).
Sublimasi adalah perubahan wujud zat dari padat ke gas atau dari gas ke padat.
Bila partikel penyusun suatu zat padat diberikan kenaikan suhu melalui pemanasan,
maka partikel tersebut akan berubah fasa [wujud] menjadi gas. Sebaliknya, bila suhu
gas tersebut diturunkan dengan cara kondensasi,maka gas akan segera berubah menjadi
padat. Pada dasarnya sublimasi diterapkan untuk memisahkan suatu zat dari
pengotornya [impurities] sehingga diperoleh zat yang lebih murni,kotoran biasanya
akan tertinggal dalam wadah akibat ketidak mampuannya dalam menyublim.Syarat
pemisahan campuran dengan menggunkan sublimasi adalah partikel yang bercampur
harus memiliki perbedaan titik didih yang besar, sehingga dapat menghasilkan uap
dengantingkat kemurnian..yang,,tinggi. Sublimasi juga diartikan sebagai proses

2
perubahan zat dari fasa padat menjadi uap, kemudian uap tersebut dikondensasi
langsung menjadi padat tanpa melalui fasa cair. (Zaini, 2010).
Pada saat sublimasi, terjadi juga rekristalisasi. Aplikasi rekristalisasi
(pengkristalan kembali) berdasarkan perbedaan titik beku komponen. Perbedaan itu
harus cukup besar, dan sebaiknya komponen yang akan dipisahkan berwujud padat dan
yang lainnya cair pada suhu kamar. Contohnya garam dapat dipisahkan dari air karena
garam berupa padatan. Air garam bila dipanaskan perlahan dalam bejana terbuka,
maka air akan menguap sedikit demi sedikit. Pemanasan dihentikan saat larutan tepat
jenuh. Jika dibiarkan akhirnya terbentuk kristal garam secara perlahan. Setelah
pengkristalan sempurna garam dapat dipisahkan dengan penyaring (Anggitasari,
Lutfy).
Sublimasi dapat dilakukan dengan kapur barus dicampur pasir kemudian
dipanaskan, kristalisasi dapat digunakan garam dilarutkan dengan air kemudian
dipanaskan, ekstraksi dapat digunakan air dan minyak, penyulingan/destilasi dapat
digunakan air the yang dipanaskan dalam ketel, dan kromatografi dapat digunakan
kertas dan spidol dengan aneka warna (Sulistyaningsih dkk, 2011).
E. Metode Praktikum
1) Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum Sublimasi ialah Gelas kimia
100 ml, gelas kimia 500 ml, cawan penguap/cawan perselen, mortal dan pastel,
kaca arloji, kaki tiga, pembakar bunsen, kawat kasa, batang pengaduk, spidol
warna (H, M, B, HJ), mistar, pensil/ballpoint, dan kertas saring 20 cm. Bahan yang
disiapkan yaitu, Nanftalen/kamfer, serbuk pasir, dan aquadest.
2) Prosedur Kerja
1. Naftalen dan Pasir
Mencampurkan 2 gr naftalen/kamfer yang sudah dihaluskan dengan 1 gr
pasir ke dalam cawan petri. Aduklah secara merata. Panaskan campuran
naftalen dan pasir diatas hotplate diatasnya letakkan kawat kasa kemudian
penutup cawan petri. Panaskan hingga terjadi perubahan pada cawan petri.

3
Amati perubahan terjadi. Matikan hotplate, turunkan cawan petri lalu
dinginkan. Amati apa yang terjadi pada penutup cawan petri.
2. Naftalen dan Batu tela
Mencampurkan 2 gr naftalen/kamfer yang sudah dihaluskan dengan 1 gr
serbuk batu tela ke dalam cawan petri. Aduklah secara merata. Panaskan
campuran naftalen dan serbuk batu tela diatas hotplate diatasnya letakkan kawat
kasa kemudian penutup cawan petri. Panaskan hingga terjadi perubahan pada
cawan petri. Amati perubahan terjadi. Matikan hotplate, turunkan cawan petri
lalu dinginkan. Amati apa yang terjadi pada penutup cawan petri.

3. Naftalen dan Garam


Mencampurkan 2 gr naftalen/kamfer yang sudah dihaluskan dengan 1 gr
garam ke dalam cawan petri. Aduklah secara merata. Panaskan campuran
naftalen dan garam diatas hotplate diatasnya letakkan kawat kasa kemudian
penutup cawan petri. Panaskan hingga terjadi perubahan pada cawan petri.
Amati perubahan terjadi. Matikan hotplate, turunkan cawan petri lalu
dinginkan. Amati apa yang terjadi pada penutup cawan petri.
F. Hasil
Berdasarkan pengamatan terhadap proses sublimasi, hasil yang dapat diperoleh
ialah sebagai berikut:
No Sampel Pengotor Gambar Keterangan
1. Pasir Terjadi
pengkristalan
saat
didinginkan
2. Batu Tela Terjadi
Naftalen pengkristalan
saat
didinginkan

4
3. Garam Terjadi
pengkristalan
saat
didinginkan

G. Pembahasan
Pada percobaan telah dilakukan pemurnian naftalen dengan cara sublimasi.
Sublimasi adalah salah satu pemisahan zat-zat yang mudah menyublim, perubahan
wujud zat padat ke gas atau gas ke padat. Bila partikel suatu zat diberikan kenaikan
suhu maka partikel tersebut akan menyublim menjadi gas, sebaliknya jika suhu gas
tersebut diturunkan maka gas akan segera berubah wujudnya menjadi panas. Gas yang
dihasilkan ditampung kembali lalu didinginkan kembali. Syarat pemisahan campuran
pada sublimasi adalah partikel yang bercampur harus memiliki perbedaan titik didih
yang besar sehingga kita dapat menghasilkan uap dengan tingkat kemurnian yang tinggi
begitupun syarat sampel untuk sublimasi adalah dengan sifat kimia mudah menguap
agar mudah proses sublimasinya.
Pada percobaan sublimasi, pemurnian naftalen dengan menggunakan proses
sublimasi dikarenakan naftalen yang mudah menyublim dan merupakan padatan kristal
yang tidak berwarna. Neftelen yang telah dimasukan pada gelas kimia dibakar dan
dipanaskan, reaksi dari naftalen berlangsung dengan sangat cepat.
Pada prinsipnya kristalisasi terbentuk melalui dua tahap yaitu, nukleasi atau
pembentukan inti Kristal dan pertumbuhan Kristal. Faktor pendorong untuk laju
nukleasi dan laju pertumbuhan Kristal ialah supersaturasi. Baik nukleasi maupun
pertumbuhan tidak dapat berlangsung didalam larutan jenuh atau tak jenuh. Inti Kristal
dapat terbentuk dari berbagai jenis partikel, molekul, atom atau ion. Karena adanya
gerakan dari partikel-partikel tersebut, beberapa partikel mungkin membentuk suatu
gerombol atau klaster, klaster yang cukup banyak membentuk embrio pada
kondisi lewat jenuh yang tinggi embrio tersebut membentuk inti Kristal.

5
Kristal yang akan dimurnikan disimpan pada cawan petri, penggunaan cawan
petri karena cawan petri terhadap pemanasan dengan suhu tinggi sehingga dapat dipakai
pada proses sublimasi. Pada umumnya perubahan tingkat wujud berlangsung menurut
pola padat – cair – gas – atau kebalikannya. Ada beberapa zat yang dapat berubah
langsung dari keadaan uap ke keadaan padat yang disebut menyublim. Sifat demikian
dimiliki oleh unsur yodium, kamfer, naftalen, belerang. Zat padat pada umumnya
mempunyai bentuk kristal tertentu: Kubus, heksagonal, rombik, monoklin dan
sebagainya.
H. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dari percobaan diatas, maka
dapat disimpulkan sebagai berikut yakni sublimasi adalah perubahan wujud dari padat
ke gas tanpa mencair terlebih dahulu. Pada tekanan normal, kebanyakan benda dan zat
memiliki tiga bentuk yang berbeda pada suhu yang berbeda.
I. Saran
Dalam melaksanakan praktikum mengenai Sublimasi diharapkan ketika dalam
pemberian larutan dilakukan secara hati-hati dan teliti, dan harus sesuai dengan
prosedur yang telah ditentukan.
J. DAFTAR PUSTAKA
Anggitasari, Lutfy. 2015. Kristalisasi dan Sublimasi. Universitas Tanjungpura, Pontianak.
Diakses pada tanggal 7 April 2019.
Ahmadun. Maulana 2013. Laporan Praktikum Kimia Dasar Filtrasi Dan Sublimasi.
Fakultas Tarbiyah Jurusan Tadris Ipa Biologi Institut Agama Islam Negeri (Iain).
(0nline) https://www.academia.edu/5427345/filtrasi_dan_sublimasi. Di akses 07
April 2019
Amrin, Buton. 2011. Jurnal Pemisahan Dan Pemurnian Zat Padat (Rekristalisasi,
Sublimasi, Dan Titik Leleh). Universitas Sriwijaya, 15(2), 9-16. Di akses 07 April
2019
Sulistyaningsih, T., Sugiyo, W., & Sedyawati, S. M. R. (2011). Pemurnian Garam Dapur
Melalui Metode Kristalisasi Air Tua dengan Bahan Pengikat Pengotor Na2C2O4–
NaHCO3 dan Na2C2O4–Na2CO3. Sainteknol: Jurnal Sains dan Teknologi, 8(1). Di
akses 07 April 2019

6
Zaini, E., Auzal H., Sundani N. S. Dan Dwi S. 2010. Peningkatan laju pelarutan dari padat
ke gas menggunakan metode sublimasi. Jurnal Farmasi Indonesia. 5(4). Di akses 07
April 2019