Anda di halaman 1dari 20

Masalah kesehatan reproduksi pada pria, wanita, dan remaja adalah hal

yang sangat penting khususnya mereka yang masih mudah. Kalau masalah
reproduksi ini tidak diperhatikan dengan baik, masalah dengan kehamilan
akan muncul saat pasangan menikah dan berusaha memiliki momongan.

Mengingat masalah reproduksi ini tidak bisa disepelekan begitu saja, Anda
harus menyimak beberapa masalah kesehatan reproduksi di bawah ini
dengan saksama.

Masalah kesehatan reproduksi pada pria

Masalah kesehatan reproduksi pada pria ada banyak dan hampir semua
memengaruhi fisik dan psikologis penderitanya. Berikut ulasan lengkap
tentang masalah kesehatan reproduksi pada pria.

Gangguan testis

Gangguan testis ini bisa berupa peradangan pada saluran testis yang
menyalurkan sperma saat ejakulasi terjadi. Selanjutnya, gangguan ini juga
bisa dalam bentuk varikokel, torsi, dan kanker.

Sperma tidak berkualitas

Sperma yang tidak berkualitas menyebabkan pembuahan tidak terjadi atau


sudah dilakukan. Kualitas dari sperma dikatakan menurun kalau jumlah
sperma per mililiter air mani di bawah 15 juta sel. Selanjutnya bentuk tidak
beraturan, pergerakan atau motilitas menurun.

Ejakulasi terbalik
Ejakulasi terbalik atau retrograde adalah ejakulasi yang terjadi ke dalam
tubuh. Air mani yang harusnya menyembur keluar justru masuk ke dalam
dan ikut tercampur dengan urine di kandung kemih.

Masalah ereksi

Gangguan ereksi juga bisa dimasukkan ke masalah kesehatan reproduksi


pada pria. Kalau pria mengalami masalah dengan ereksi, ada kemungkinan
mereka tidak bisa melakukan seks dengan baik dan kemungkinan
mengalami pembuahan akan kecil.

Penyakit kronis tertentu

Penyakit kronis tertentu seperti diabetes bisa menyebabkan gangguan


kesuburan pada pria. Gangguan ini muncul karena kadar gula darah di
dalam tubuh baik cukup signifikan. Kenaikan ini bisa memicu gangguan
pada sperma dan kerusakan pembuluh darah dan saraf yang memicu
gangguan ereksi.

Masalah kesehatan reproduksi pada


wanita

Masalah kesehatan reproduksi pada wanita agak lebih kompleks karena


memiliki banyak organ internal. Oleh karena itu wanita harus mewaspadai
beberapa masalah di bawah ini.

Masalah akibat penyakit menular seksual

Penyakit menular seks juga menyebabkan masalah pada saluran reproduksi.


Kondisi ini muncul kalau penyakit yang berbahaya ini tidak juga
disembuhkan atau telat diketahui.
Gangguan menstruasi

Gangguan menstruasi seperti sering telat, berhenti selama beberapa bulan,


hingga perdarahan yang berlebihan juga menyebabkan masalah reproduksi
pada wanita.

Gangguan pada rahim dan sekitarnya

Gangguan pada rahim bisa berupa gangguan di lapisan otot seperti


mengalami mioma dan juga endometriosis. Selanjutnya pada ovarium bisa
dalam bentuk kista ovarium.

Gangguan pada vagina luar dan rongga

Gangguan pada vagina ini bisa terjadi dalam bentuk perdarahan saat
melakukan seks padahal sedang tidak menstruasi. Selain itu, luka atau
infeksi di area vulva dan rongga juga menyebabkan gangguan reproduksi.

Masalah kesehatan reproduksi pada


remaja

Secara seksual mungkin remaja sudah bisa melakukan seks dan memiliki
keturunan. Namun, mereka belum bisa melakukannya, sehingga masalah
reproduksinya pun sedikit berbeda. Berikut beberapa masalah reproduksi
remaja yang seringkali dialami:

 Kebersihan alat kelamin khususnya pada remaja wanita yang sudah


mengalami menstruasi. Mereka harus diajari bagaimana
membersihkan vagina dengan baik.
 Masalah masturbasi dan merangsang kemaluan. Remaja harus
diberitahu efek samping dari masturbasi berlebihan dan
merangsang kemaluan dengan kasar.
 Masalah penularan penyakit menular seksual. Penyakit ini
terkadang diabaikan kalau remaja sudah mencoba melakukan
seks tanpa pengaman.
 Tidak mengecek kemaluan secara berkala dan perubahan yang
terjadi dianggap biasa padahal bisa menjadi berbahaya.

Cara menjaga kesehatan reproduksi sejak


dini

Organ reproduksi yang berada di luar tidak banyak seperti penis dan ares
vulva di vagina. Ada lebih banyak organ di dalam sehingga pengecekan
masalah agak susah dilakukan. Oleh karena itu, simak beberapa cara
menjaga kesehatan reproduksi sejak dini:

 Mengecek kemaluan secara berkala. Pengecekan ini dilakukan


dengan merasa bagian luar atau dalam pada wanita. Kalau ada
benjolan di skrotum atau ada rasa nyeri di dalam vagina, segera
lakukan pemeriksaan.
 Amati tanda-tanda perubahan pada kemaluan.
 Lakukan pengecekan rutin terkait ada atau tidaknya penyakit
menular seks.

Masalah kesehatan reproduksi dan


peluang kehamilan

Pria dan wanita menyumbang peluang kehamilan yang akan terjadi setelah
melakukan aktivitas seks. Kehamilan bisa saja mengalami kegagalan kalau
pria dan wanita mengalami infertilitas. Pada pria masalah penurunan jumlah
sperma dan motilitasnya yang menurun menyebabkan peluang kehamilan
semakin kecil.
Masalah pada wanita bisa berupa gangguan pada rahimnya dalam bentuk
mioma atau endometriosis. Kondisi ini bisa diatasi dengan operasi atau
menggunakan obat tertentu. Kalau masalah di rahim sudah parah,
kemungkinan terjadi kehamilan akan semakin kecil. Oleh karena itu,
menjaga kesehatan sejak dini harus dilakukan.

Masalah reproduksi tidak berhenti di sana saja, pada wanita ada masalah
pada sel telurnya. Kalau ovarium tidak bisa menghasilkan ovum saat masa
subur, kemungkinan terjadi gangguan kehamilan akan besar. Jadi,
pemeriksaan dengan mendetail harus dilakukan untuk memudahkan dokter
mengatasi masalah.

Umumnya kalau masalah kesehatan reproduksi yang berhubungan dengan


kehamilan berhubungan dengan sperma atau sel telur, dokter akan
berusaha memberikan obat untuk mengatasi masalah kualitas sperma dan
ovarium. Kalau masalahnya lebih kompleks, peluang kehamilan baru bisa
didapatkan dari pembedahan atau pembuahan di luar rahim.

Inilah sedikit ulasan tentang masalah kesehatan reproduksi pada pria,


wanita, dan remaja. Dari berbagai masalah reproduksi di atas, kira-kira
mana saja yang pernah Anda alami atau masih memilikinya hingga
sekarang? Semoga setelah mengetahui ulasan di atas, Anda bisa lebih
memperhatikan masalah kesehatan.
PEMBAHASAN

A. Sejarah Dan Pengertian Keluarga Berencana

1. Sejarah singkat dan pengertian KB


Pelopor gerakan Keluarga Berencana di Indonesia adalah Perkumpulan Keluarga
Berencana Indonesia atau PKBI yang didirikan di Jakarta tanggal 23 Desember 1957
dan diikuti sebagai badan hukum oleh Depkes tahun 1967 yang bergerak secara silent
operation. Dalam rangka membantu masyarakat yang memerlukan bantuan secara
sukarela, usaha Keluarga Berencana terus meningkat terutama setelah pidato pemimpin
negara pada tanggal 16 Agustus 1967 dimana gerakan Keluarga Berencana di
Indonesia memasuki era peralihan jika selama orde lama program gerakan Keluarga
Berencana dilakukan oleh sekelompok tenaga sukarela yang beroperasi secara
diam-diam karena pimpinan negara pada waktu itu anti kepada Keluarga Berencana
maka dalam masa orde baru gerakan Keluarga Berencana diakui dan dimasukkan
dalam program pemerintah. Struktur organisasi program gerakan Keluarga Berencana
juga mengalami perubahan tanggal 17 Oktober 1968 didirikanlah LKBN yaitu
Lembaga Keluarga Berencana Nasional sebagai semi Pemerintah, kemudian pada
tahun 1970 lembaga ini diganti menjadi BKKBN atau Badan Koordinasi Keluarga
Berencana Nasional yang merupakan badan resmi pemerintah dan departemen dan
bertanggung jawab penuh terhadap pelaksanaan program Keluarga Berencana di
Indonesia.
Keluarga berencana adalah suatu usaha untuk menjarangkan atau merencanakan
jumlah anak dan jarak kehamilan dengan memakai alat kontrasepsi. Keluarga
Berencana yaitu membatasi jumlah anak dimana dalam satu keluarga hanya
diperbolehkan memiliki dua atau tiga anak saja. Keluarga berencana yang
diperbolehkan adalah suatu usaha pengaturan atau penjarangan kelahiran atau usaha
pencegahan kehamilan sementara atas kesepakatan suami istri karena situasi dan
kondisi tertentu untuk kepentingan keluarga, masyarakat, maupun negara. Dengan
demikian KB disini mempunyai arti yang sama dengan pengaturan keturunan.
Penggunaan istilah keluarga berencana juga sama artinya dengan istilah yang umum
dipakai di dunia internasional yakni family planning atau planned parenthood, sepert
yang digunakan oleh International Planned Parenthood Federation (IPPF) nama sebuah
organisasi KB internasional yang berkedudukan di London. KB juga berarti suatu
tindakan perencanaan pasangan suami istri untuk mendapatkan kelahiran yang
diinginkan, mengatur interval kelahiran dan menentukan jumlah anak sesuai dengan
kemampuan serta sesuai dengan situasi masyarakat dan negara. Dengan demikian KB
berbeda dengan birth control yang artinya pembatasn atau penghapusan kelahiran.
Istilah birth control dapat berkonotasi negatif karena bisa berarti aborsi atau sterilisasi
(pemandulan).
Perencanaan keluarga merujuk kepada pengguanaan metode-metode kontrasepsi oleh
suami istri atas persetujuan bersama diantara mereka, untuk mengatur kesuburan
mereka dengan tujuan untuk menghindari kesulitan kesehatan, kemasyarakatan dan
ekonomi dan untuk memungkinkan mereka memikul tanggung jawab terhadap
anak-anaknya dan masyarakat. Ini meliputi hal-hal sebagai berikut:
a) Menjarangkan anak untuk memungkinkan penyususan daan penjagaan kesehatan ibu
dan anak
b) Pengaturan masa hamil agar terjadi pada waktu yag aman
c) Mengatur jumlah anak, bukan saja untuk keperluan keluarga malainkan juga untuk
kemampuan fisik, financial, pendidikan dan pemeliharaan anak

2. Kelebihan KB
Kelebihan dari program KB disini antara lain sebagai berikut :

 Mengatur angka kelahiran dan jumlah anak dalam keluarga serta membantu
pemerintah mengurangi resiko ledakan penduduk atau baby boomer

 Penggunaan kondom akan membantu mengurangi resiko penyebaran penyakit


menular melalui hubungan seks
 Meningkatkan tingkat kesehatan masyarakat. Sebab, anggaran keuangan
keluarga akhirnya bisa digunakan untuk membeli makanan yang lebih
berkualitas dan bergizi

 Menjaga kesehatan ibu dengan cara pengaturan waktu kelahiran dan juga
menghindarkan kehamilan dalam waktu yang singkat.

 Mengkonsumsi pil kontrasepsi dapat mencegah terjadinya kanker uterus dan


ovarium. Bahkan dengan perencanaan kehamilan yang aman, sehat dan
diinginkan merupakan salah satu faktor penting dalam upaya menurunkan
angka kematian maternal.

Ini berarti program tersebut dapat memberikan keuntungan ekonomi dan


kesehatan Keluarga Berencana memberikan keuntungan ekonomi pada
pasangan suami istri, keluarga dan masyarakat Dengan demikian, program KB
menjadi salah satu program pokok dalam meningkatkan status kesehatan dan
kelangsungan hidup ibu, bayi, dan anak. Program KB menentukan kualitas
keluarga, karena program ini dapat menyelamatkan kehidupan perempuan serta
meningkatkan status kesehatan ibu terutama dalam mencegah kehamilan tak
diinginkan, menjarangkan jarak kelahiran mengurangi risiko kematian bayi.
Selain memberi keuntungan ekonomi pada pasangan suami istri, keluarga dan
masyarakat, KB juga membantu remaja mangambil keputusan untuk memilih
kehidupan yang lebih balk dengan merencanakan proses reproduksinya.

B. Peran Pemerintah Dan Masyarakat Dalam Program KB

1. Peran Pemerintah
Usaha pemerintah dalam menghadapi kependudukan salah satunya adalah keluarga
berencana. Visi program keluarga berencana nasional telah di ubah mewujudkan
keluarga yang berkualitas tahun 2015. Keluarga yang berkualitas adalah keluarga
yang sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan
kedepan, bertanggung jawab, harmonis (Saifudin, 2003). Program Keluarga
Berencana Nasional merupakan salah satu program dalam rangka menekan laju
pertumbuhan penduduk. Salah satu pokok dalam program Keluarga Berencana
Nasional adalah menghimpun dan mengajak segenap potensi masyarakat untuk
berpartisipasi aktif dalam melembagakan dan membudayakan Norma Keluarga Kecil
Bahagia Sejahtera dalam rangka meningkatkan mutu sumber daya manusia Indonesia.
Cara yang digunakan untuk mewujudkan Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera
yaitu mengatur jarak kelahiran anak dengan menggunakan alat kontrasepi
(Wiknjosastro, 2005).
Macam-macam metode kontrasepsi adalah intra uterine devices (IUD), implant,
suntik, kondom, metode operatif untuk wanita (tubektomi), metode operatif untuk pria
(vasektomi), dan kontrasepsi pil (Saifudin, 2003).Kurangnya peran pemerintah dalam
menggalakkan program KB mengakibatkan tingginya pertambahan pendudukan yang
akan meningkatnya tingginya pertambahan penduduk yang akan menyebabkan
meningkatnya kebutuhan pelayanan kesehatan, pendidikan, lapangan pekerjaan yang
cukup, berdampak pada naiknya angka pengangguran dan kemiskinan (Herlianto,
2008). Cara yang baik dalam pemilihan alat kontrasepsi yaitu ibu mencari informasi
terlebih dahulu tentang cara-cara KB berdasarkan informasi yang lengkap, akurat dan
benar. Untuk itu dalam memutuskan suatu cara konstrasepsi sebaiknya
mempertimbangkan penggunaan kontrasepsi yang rasional, efektif dan efisien.
KB merupakan program yang berfungsi bagi pasangan untuk menunda kelahiran anak
pertama (post poning), menjarangkan anak (spacing) atau membatasi (limiting)
jumlah anak yang diinginkan sesuai dengan keamanan medis serta kemungkinan
kembalinya fase kesuburan (ferundity) ( Sheilla, 2000 ). Penyuluhan kesehatan
merupakan aspek penting dalam pelayanan keluarga berencana dan kesehatan
reproduksi karena selain membantu klien untuk memilih dan memutuskan jenis
kontrasepsi yang akan digunakan sesuai pilihannya, juga membantu klien dalam
menggunakan kontrasepsinya lebih lama sehingga klien lebih puas dan pada akhirnya
dapat meningkatkan keberhasilan program KB. Penyuluhan kesehatan tidak hanya
memberikan suatu informasi, namun juga memberikan keahlian dan kepercayaan diri
yang berguna untuk meningkatkan kesehatan (Efendy, 2003). Dengan kesadaran
karena adanya informasi tentang berbagai macam alat kontrasepsi dengan
kelebihannya masing-masing, maka ibu-ibu akan termotivasi untuk menggunakan alat
kontrasepsi. Karena Motivasi merupakan dorongan untuk melakukan suatu perbuatan
atau tingkah laku, motivasi bisa berasal dari dalam diri maupun luar (Moekijat, 2002).
Media adalah salah satu cara untuk menyampaikan informasi. Salah satu contoh
media adalah flip chart yang sering disebut sebagai bagan balik yang merupakan
kumpulan ringkasan, skema, gambar, tabel yang dibuka secara berurutan berdasarkan
topik materi pembelajaran yang cocok untuk pembelajaran kelompok kecil yaitu 30
orang (Nursalam, 2008 ). Selain itu bagan ini mampu memberikan ringkasan
butir-butir penting dari suatu presentasi untuk menyampaikan pesan atau kesan
tertentu akan tetapi mampu untuk mempengaruhi dan memotivasi tingkah laku
seseorang (Syafrudin, 2008).

Badan dari pemerintah yang mengurus program keluarga berencana adalah BKKBN
(Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. Badan ini mempunyai
tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pengendalian penduduk dan
penyelenggaraan keluarga berencana. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 43, BKKBN menyelenggarakan fungsi:

 Perumusan kebijakan nasional di bidang pengendalian penduduk dan


penyelenggaraan keluarga berencana

 Penetapan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang pengendalian


penduduk dan penyelenggaraan keluarga berencana;

 Pelaksanaan advokasi dan koordinasi di bidang pengendalian penduduk dan


penyelenggaraan keluarga berencana;

 Penyelenggaraan komunikasi, informasi, dan edukasi di bidang pengendalian


penduduk dan penyelenggaraan keluarga berencana;

 Penyelenggaraan pemantauan dan evaluasi di bidang pengendalian penduduk


dan penyelenggaraan keluarga berencana;

 Pembinaan, pembimbingan, dan fasilitasi di bidang pengendalian penduduk


dan penyelenggaraan keluarga berencana.

2. Peran masyarakat
Berbicara tentang partisipasi masyarakat Indonesia terhadap pelaksanaan KB,
pastinya terdapat kelebihan serta kekurangan dalam partisipasinya. Partisipasi
bersentuhan langsung dengan peran serta masyarakat, baik dalam mengikuti program
tersebut ataupun sebagai aktor pendukung program Keluarga Berencana. Untuk itu
kita akan berbicara mengenai kedua hal tersebut, serta bagaimana seharusnya kita
berperan dalam mendukung kesuksesan KB juga akan sedikit kita bahas. Pertama,
berbicara terkait partisipasi masyarakat terhadap pelaksanaan KB yang ternyata
kenaikannya hanya sedikit bahkan bisa juga disebut dengan stagnan.
Dalam media massa kompas.com disebutkan bahwa: Dalam lima tahun terakhir,
jumlah peserta keluarga berencana hanya bertambah 0,5 persen, dari 57,4 persen
pasangan usia subur yang ada pada 2007 menjadi 57,9 persen pada tahun 2012.
Sementara itu jumlah rata-rata anak tiap pasangan usia subur sejak 2002-2012 stagnan
di angka 2,6 per pasangan. Rendahnya jumlah peserta KB dan tingginya jumlah anak
yang dimiliki membuat jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2030 diperkirakan
mencapai 312,4 juta jiwa. Padahal jumlah penduduk saat itu sebenarnya bisa
ditekan menjadi 288,7 juta jiwa. Tingginya jumlah penduduk ini mengancam
pemanfaatan jendela peluang yang bisa dialami Indonesia pada tahun 2030. Jendela
peluang adalah kondisi negara dengan tanggungan penduduk tidak produktif, oleh
penduduk produktif paling sedikit. Kondisi ini hanya terjadi sekali dalam sejarah tiap
bangsa. Agar jendela peluang termanfaatkan, angka ketergantungan penduduk
maksimal adalah 44 persen. Artinya, ada 44 penduduk tidak produktif, baik
anak-anak maupun orangtua, yang ditanggung 100 penduduk usia produktif
berumur 15 tahun hingga 60 tahun.
Menurut Julianto, untuk mencapai angka ketergantungan 44 persen, jumlah peserta
KB minimal harus mencapai 65 persen dari pasangan usia subur yang ada pada tahun
2015. Sementara itu jumlah anak per pasangan usia subur juga harus ditekan hingga
menjadi 2,1 persen anak pada 2014. Akan tetapi, target ini masih jauh dari kondisi
yang ada. Angka ketergantungan pada 2010 masih mencapai 51,33 persen, turun 2,43
persen dibandingkan dengan tahun 2000. Provinsi yang memiliki angka
ketergantungan 44 persen pada tahun 2000 ada lima provinsi, tetapi pada 2010 hanya
tinggal satu provinsi, yaitu DKI Jakarta. Sebaliknya, laju pertumbuhan penduduk
justru naik dari 1,45 persen pada tahun 2000 menjadi 1,49 persen pada 2010.
Persentase kehamilan pada ibu berumur 15-49 tahun pun naik dari 3,9 persen pada
2007 menjadi 4,3 persen pada 2012. Jumlah pasangan usia subur yang ikut KB pada
2012 hanya 57,9 persen. Adapun masyarakat yang ingin ber-KB tetapi tidak
terjangkau layanan KB hanya turun dari 9,1 persen pada 2007 ke 8,5 persen pada
2012.
Terbatasnya dana untuk program KB dan kependudukan menjadi penyebab utamanya.
"BKKBN menargetkan angka ketergantungan 44 persen dapat dicapai pada 2020.
Dengan demikian, jika hasilnya tidak tercapai, masih ada waktu perbaikan menuju
2030," tambahnya. Ketua Umum Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia
Nurdadi Saleh mengatakan, jika jumlah penduduk tak dikendalikan, persoalan
fasilitas pendidikan dan fasilitas kesehatan yang berkualitas dan penyediaan lapangan
kerja akan terus menjadi masalah. Karena itu, semua pihak harus mendorong kembali
agar pelaksanaan KB di Indonesia bisa sukses kembali seperti pada dekade 1990-an.
Angka kenaikan yang cukup stagnan ini tentunya menjadi sebuah pertanyaan besar,
sebenarnya apa yang menjadi permasalahan sehingga partisipasi masyarakat untuk
ikut KB sangat minim. Kita sudah tahu permasalahan yang akan muncul ketika laju
pertumbuhan penduduk tidak dapat dibendung, mulai dari masalah kemiskinan, SDM
rendah dan lain sebagainya. Kalau kita lihat proses sosialisasi KB sendiri masih
menemui banyak kendala, mulai dari masyarakat yang tidak atau kurang peduli
dengan program tersebut sampai pada pelaksanaan program KB tersebut. Saat ini
peran Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) masih minim dalam
menjalankan tugasnya. Hal ini juga ada kaitannya dengan jumlah petugas yang hanya
sedikit, sampai-sampai satu orang harus menghandle 3-4 desa dengan jumlah
penduduk yang mencapai ratusan bahkan ribuan. Seharusnya ada peran dari
masyarakat, missal Ibu-ibu PKK dalam mendukung terwujudnya program ini. Ada
pula indikasi bahwa metode KB yang diterapkan saat ini kurang tepat, sehingga tidak
berjalan maksimal.
Untuk mengatasi permasalahan KB tersebut perlu peran dari semua lapisan kehidupan,
baik pemerintah (dari pusat-kota) hingga masyarakat itu sendiri. Kepedulian akan
tujuan bersama harus ditingkatkan. Perlu juga pelaksanaan KB yang aman dengan
sosialisasi yang baik dari satu keluarga ke keluarga lain. Penyediaan tempat untuk
informasi dan layanan KB yang baik. Pemberian reward and punishment juga perlu
dijalankan dengan baik, agar peraturan yang ada tidak dilanggar dengan seenaknya
saja. Akan tetapi yang paling penting adalah kesadaran masyarakat itu sendiri dalam
melaksanakan program KB bagi dirinya, keluarga, serta masyarakat. Sebenarnya ada
beberapa faktor yang dapat mendorong terlaksananya program KB dengan baik,
diantaranya : faktor ideology, penyediaan alat kontrasepsi, faktor ekonomi, faktor
lokasi sosialisasi program KB, dan faktor kebijakan negara.
Kedua, kita akan berbicara terkait partisipasi masyarakat terhadap program KB
sebagaimana mereka bertindak sebagai aktor pendukung. Aktor pendukung bisa
berasal dari kalangan mahasiswa, akademisi, medis, sampai aparat pemrintah (kota
sampai desa). Partisipasi mereka dalam meyerukan program KB demi menekan laju
pertumbuhan penduduk serta masalah lain yang mungkin timbul masih belum
maksimal. Seharusnya bekal pendidikan juga bisa dimaksimalkan untuk sosialisasi,
demi partisipasi aktif berbagai elemen dalam mendukung pelaksanaan program
Keluarga Berencana. Sedangkan peran yang perlu kita lakukan dalam mendukung
peningkatan partisipasi masyarakat dalam program KB diantaranya ; Peran kita dalam
mensosialisasikan program KB mulai dari keluarga sendiri, sampai tetangga kita.
Memaksimalkan organisasi masyarakat seperti Karang Taruna dan PKK untuk
mendukung sosialisasi KB di masyarakat dan terakhir kita perlu membangun jaringan
kuat yang mampu berinergi mendukung program KB agar terlaksana dengan efektif
dan efisien.

3. Faktor pendorong masyarakat menggunkan KB


KB merupakan salah satu sarana bagi setiap keluarga baru untuk merencanakan
pembentukan keluarga ideal, keluarga kecil bahagia dan sejahtera lahir dan bathin.
Melalui program KB diharapkan lahir manusia Indonesia yang berkualitas prima,
yaitu manusia Indonesia yang memiliki kualitas diri antara lain beriman, cerdas,
trampil, kreatif, mandiri, menguasai iptek, memiliki daya juang, bekerja keras, serta
berorientasi ke depan. Karena itu KB seharusnya bukan hanya menjadi program
pemerintah tetapi program dari setiap keluarga masyarakat Indonesia. Masyarakat
memiliki kebebasan untuk memilih metode kontrasepsi yang diinginkan. Dari hasil
wawancara terhadap 40 ibu-ibu di desa “X”, 10 orang di antara mereka memilih untuk
menggunakan metode kontrasepsi sederhana tanpa alat dan 30 orang lainnya memilih
untuk tidak menggunakan metode kontrasepsi ini. Responden memiliki alasan yang
beragam mengenai keputusan untuk menggunakan atau tidak menggunakan metode
kontrasepsi sederhana tanpa alat.

 Faktor pendorong masyarakat menggunakan metode kontrasepsi sederhana


tanpa alat.

Masyarakat pengguna metode kontrasepsi sederhana tanpa alat memiliki alasan yang
berbeda-beda mengenai hal yang mendorong mereka lebih memilih kontrasepsi
tersebut. Adapun factor pendorong masyarakat memilih metode ini dengan alasan
tidak perlu mengeluarkan biaya untuk alat kontrasepsi. Mereka bisa memanfaatkan
keuangan untuk keperluan rumah tangga yang lain sehingga dapat menghemat
pengeluaran. Serta dapat melibatkan suami dalam penggunaan kontrasepsi ini seperti
pada senggama terputus dimana suami yang memegang peranan penting, sehingga
tidak istri saja yang harus menggunakan kontrasepsi. Mereka juga beranggapan,
dengan tidak menggunakan alat dapat terhindar dari efek merugikan bahan kimia
yang terkandung di dalam alat kontrasepsi. Hal ini juga dapat menghindarkan diri dari
kemungkinan alergi yang ditimbulkan oleh karena pemakaian alat kontrasepsi. Selain
itu, alat kontrasepsi menurut mereka dapat menyebabkan sakit dalam pamakaiannya,
seperti penggunaan KB suntik 3 bulan dimana akseptor akan mengalami sakit akibat
tusukan jarum setiap 3 bulannya. Siklus menstruasi dapat menjadi tidak teratur serta
berat badan akan naik pada umumnya, sehingga akan mengurangi daya tarik bagi
suami mereka karena kenaikan berat badan yang bertahap. Oleh sebab itu, mereka
lebih memilih untuk menggunakan metode kontrasepsi sederhana tanpa alat.
Berdasarkanhal tersebut telah dijelaskan bahwa untuk menggunakan keluarga
berencana alamiah secara efektif, pasangan perlu memodifikasi prilaku seksual
mereka. Pasangan harus mengamati tanda-tanda fertilitas wanita secara harian dan
mencatatnya. Mengenal masa subur dan tidak melakukan aktifitas seksual pada masa
subur jika tidak menginginkan kehamilan metode kontrasepsi sederhana tanpa alat
tidak mempengaruhi siklus menstruasi wanita. Alasan responden yang beragam
tersebut sesuai dengan kajian teori mengenai metode kontrasepsi sederhana tanpa alat.
Dengan menggunakan metode ini, tidak menimbulkan efek samping bagi tubuh
karena tidak memasukkan benda asing maupun bahan kimia lain. Dalam
penggunaannya pun tidak tergantung dengan tenaga medis, sehingga dapat lebih
ekonomis.

 Faktor Pendorong tidak Menggunakan Metode Kontrasepsi Sederhana Tanpa


Alat.

Sebagian besar responden di desa “X” tidak menggunakan metode kontrasepsi


sederhana tanpa alat. Dari 40 responden, 30 orang memilih untuk tidak menggunakan
metode KB tanpa alat. Mereka memiliki alasan yang beragam. Pada umumnya,
mereka beralasan bahwa metode tersebut “ribet” karena perlu waktu dan latihan untuk
dapat mengetahui secara tepat masa suburnya. Selain itu, penentuan masa subur ini
tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan pengamatan 1 siklus mentruasi saja,
setidaknya perlu pengamatan selama 6 bulan untuk lebih amannya, sehingga dapat
terhindar dari kehamilan yang tidak diinginkan. Selain itu bagi mereka yang
mempunyai siklus haid yang tidak teratur akan sulit untuk menentukan sendiri kapan
atau tidak berada pada masa subur. Keefektivan tergantung dari kemauan,
pemahaman dan disiplin pasangan maupun akseptor sendiri. Oleh karena itu, mereka
lebih memilih menggunakan KB dengan alat yang lebih efektif dan efisien.
Dengan pemakaian yang berkala sehingga mereka tidak perlu ribet lagi untuk
memikirkan cara berhubungan seksual setiap harinya untuk mencegah kehamilan atau
mengatur jarak kehamilannya.Dan ada juga kerugiannya karena metode kontrasepsi
sederhana tanpa alat memerlukan waktu pantang berkala yang relative lama, sehingga
dapat mengurangi keharmonisan rumah tangga. Suami yang tidak dapat menahan
keinginannya untuk melakukan hubungan suami istri, dapat melampiaskan
keinginannya tersebut di luar rumah. Bagi pasangan yang salah satunya terinfeksi
penyakit menular seksual (PMS), metode kontrasepsi sederhana tanpa alat ini
dihindari. Pasalnya, metode ini tidak melindungi pihak yang tidak terinfeksi, seperti
pada penggunaan kondom.

C. Gambaran Program KB DI Indonesia

1. Gambaran Keberhasilan KB
Gotong royong. Itulah kunci keberhasilan pelaksanaan program keluarga berencana
(KB) di Indonesia. Demikian disampaikan oleh Menteri Koordinator Kesejahteraan
Rakyat Agung Laksono dalam sambutannya pada sesi plenary London Summit on
Family Planning, pada 11 Juli 2012. Menko Kesra memaparkan keberhasilan program
KB di Indonesia, pelajaran yang dapat dipetik oleh negara-negara lain, khususnya
sesama negara berkembang, negara anggota G20, dan kerja sama Selatan-Selatan,
serta komitmen pemerintah Indonesia terhadap pelaksanaan program KB selanjutnya.
Pendekatan gotong royong inilah yang "dijual' atau dipromosikan oleh Menko Kesra
ke berbagai negara peserta London Summit sebagai kunci sukses pelaksanaan
program KB di Indonesia. Menko Kesra menjelaskan bahwa pelaksanaan KB di
Indonesia dilaksanakan dengan dukungan dari berbagai pihak secara gotong royong.
Semua komponen, termasuk pemerintah, swasta, lembaga dan organisasi masyarakat,
tokoh agama, tokoh masyarakat, dan wartawan memberikan dukungan dalam bentuk
berbeda-beda. Wartawan mendukung program KB melalui penyebaran informasi
kepada masyarakat melalui media massa sementara tokoh agama dan adat
menyampaikan informasi program KB kepada masyarakat melalui pengajian,
pertemuan adat, dan lain-lain. Program KB telah berkontribusi terhadap penurunan
angka fertilitas di Indonesia dari 5,6 anak per wanita pada 1970-an menjadi 2,3 anak
per wanita pada 2000-an (SDKI 2002-2003, 2007). Selama 30 tahun, program KB
telah berhasil menghindari sebanyak 100 juta kelahiran.

Menko Kesra memaparkan, “Ada empat langkah kunci dalam keberhasilan penurunan
angka fertilitas tersebut, yakni partisipasi akar rumput untuk mencapai daerah
pedesaan, komunikasi inovatif untuk mewujudkan norma keluarga kecil bahagia
sejahtera (NKKBS), kemitraan pemerintah dan swasta, dan pergeseran fokus ke
pelayanan berkualitas.” Langkah kunci keberhasilan KB di Indonesia yaitu :

 Pertama, menggunakan partisipasi akar rumput untuk mencapai daerah


pedesaan pada tahun 1970. Pada tahun tersebut pemerintah merekrut pekerja
lapangan sebanyak 40.000 dan 100.000 sukarelawan untuk membawa
masyarakat ke tempat pelayanan. Mereka berada di tingkat desa serta petugas
dan kader itu datang mengunjungi rumah ke rumah untuk membahas metode
keluarga berencana, memberikan konseling, dan membuat rujukan ke
puskesmas.

 Kedua, pemerintah meluncurkan sebuah program inovatif yang


mendayagunakan dan mengoptimalkan semua jalur dan saluran komunikasi
kampanye KB yang dirancang untuk membawa perubahan norma sosial dari
norma banyak anak menjadi norma sedikit anak, yang disebut "norma keluarga
kecil, bahagia, dan sejahtera sehingga norma itu melembaga di masyarakat.

 Ketiga menyadari bahwa pemerintah, dalam hal ini tempat-tempat pelayanan


pemerintah tidak mungkin bisa memberikan pelayanan secara optimal akan
pemenuhan pelayanan KB. Di sisi lain, ada potensi lain yang perlu digali, maka
sekali lagi dilakukan gotong royong atau bermitra dengan pihak swasta.

 Keempat, sejak pertengahan 1990-an, pola penggarapan KB tidak hanya


terfokus pada kuantitas, tetapi juga sudah diarahkan ke kualitas layanan.
Selain itu terdapat juga lima faktor di balik keberhasilan KB di Indonesia, yaitu
kemauan politik (political will) termasuk dukungan anggaran, pembentukan Badan
Koordinasi dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada 1970 yang independen
dari Departemen Kesehatan, pengelolaan program yang efektif dari tingkat nasional
hingga akar rumput, data dan sistem pelaporan, dan kolaborasi berbagai pemangku
kepentingan (stakeholder). Dalam sesi paralel London Summit on Family Planning
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Sugiri Syarief
memaparkan tentang desentralisasi program KB di Indonesia, kepala BKKBN
menjelaskan berbagai tantangan yang dihadapi pemerintah Indonesia dalam
pelaksanaan program KB di era desentralisasi dan strategi yang dikembangkan untuk
menghadapi tantangan-tantangan tersebut.
London Summit on Family Planning diselenggarakan di London pada 11 Juli 2012
oleh Bill and Melinda Gates Foundation bekerja sama dengan pemerintah Inggris
melalui Department for International Development. Pertemuan ini diadakan untuk
meminta komitmen komunitas global (pemerintah, swasta, donor, dan masyarakat
madani) untuk memperluas ketersediaan informasi, pelayanan, dan pasokan alat KB
agar dapat menambah sebanyak 120 juta perempuan dan anak perempuan di
negara-negara termiskin di dunia yang memakai alat kontrasepsi tanpa paksaan atau
diskriminasi pada tahun 2020. Pertemuan ini mendukung hak dan alat bagi perempuan
dan anak perempuan untuk dapat merencanakan hidup mereka sendiri, termasuk
memutuskan, secara bebas dan untuk kepentingan mereka sendiri, apakah mereka
akan punya anak, serta kapan dan berapa anak yang akan mereka miliki. Selain itu,
pertemuan ini juga mendukung pelaksanaan dan dibangun dengan memanfaatkan
momentum yang diciptakan oleh Strategi Global untuk Kesehatan Perempuan dan
Anak (Global Strategy for Women’s and Children’s Health) – Setiap Perempuan,
Setiap Anak (Every Woman, Every Child) – Sekretaris Jenderal PBB dan kemitraan
pemerintah-swasta dan masyarakat madani yang inovatif melalui Koalisi Pasokan
Kesehatan Reproduksi (Reproductive Health Supplies Coalition) dan kampanye
Bergandeng Tangan (Hand to Hand) mereka, yang diluncurkan di Majelis Umum
PBB pada September 2010. Pertemuan ini diikuti oleh berbagai negara, negara dan
organisasi donor, LSM, dan organisasi pendukung. Ada 4 kepala negara dan 28
menteri yang hadir termasuk dari Indonesia.
Melalui London Summit on Family Planning diharapkan revitalisasi gerakan KB
global dan komitmen berbagai pihak akan dapat menyelamatkan dan mengubah hidup
jutaan perempuan dan anak perempuan di negara-negara termiskin di dunia. Kerja
sama komunitas global akan dapat menyelamatkan hidup dan meningkatkan
kesehatan, sosial, dan ekonomi keluarga, masyarakat, dan negara sekarang, juga
generasi mendatang. (AT)

2. Sasaran program KB
Sasaran program KB dibagi menjadi 2 yaitu sasaran langsung dan sasaran tidak
langsung, tergantung dari tujuan yang ingin dicapai. Sasaran langsungnya adalah
Pasangan Usia Subur (PUS) yang bertujuan untuk menurunkan tingkat kelahiran
dengan cara penggunaan kontrasepsi secara berkelanjutan. Sedangkan sasaran tidak
langsungnya adalah pelaksana dan pengelola KB, dengan tujuan menurunkan tingkat
kelahiran melalui pendekatan kebijaksanaan kependudukan terpadu dalam rangka
mencapai keluarga yang berkualitas, keluarga sejahtera. Ada beberapa sasaran
keluarga berencana. Sasaran program keluarga berencana (KB) nasional lima tahun
kedepan seperti tercantum dalam RPP JM 2004-2009 adalah sebagai berikut:

 Menurunnya rata-rata laju pertumbuhan penduduk (LPP) secara nasional


menjadi satu, 14% per-tahun.

 Menurunkan angka kelahiran total FertililtyRate (TFR) menjadi 2,2


perperempuan.

 Meningkatnya peserta KB Pria menjadi 4,5 %.

 Meningkatnya pengguna metode Kontrasepsi yang efektif dan efisisen

 Meningkatnya partisipasi keluarga dalam pembinaan tumbuh kembang anak.

 Meningkatnya jumlah keluarga prasejahtera dan keluaga sejahtera 1 yang aktif


dalam usaha ekonomi produktif.

 Meningkatnya jumlah institusi masyarakat dalam penyelenggraan pelayanan


KB dan kesehatan reproduksi

3. Pelaksanaan Program KB
Salah satu cara untuk mewujudkan keluarga yang sakinah adalah mengikuti program
Keluarga Berencana (KB). KB secara prinsipil dapat diterima oleh Islam, bahkan KB
dengan maksud menciptakan keluarga sejahtera yang berkualitas dan melahirkan
keturunan yang tangguh sangat sejalan dengan tujuan syari`at Islam yaitu
mewujudkan kemashlahatan bagi umatnya, KB merupakan salah satu upaya
pemerintah yang dikoordinir oleh Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga
Berencana (BPPKB), dengan program untuk membangun keluarga-keluarga bahagia
dan sejahtera serta menjadikan keluarga yang berkualitas. KB dapat dipahami juga
sebagai suatu program nasional yang dijalankan pemerintah untuk mengurangi
populasi penduduk, karena diasumsikan pertumbuhan populasi penduduk tidak
seimbang dengan ketersediaan barang dan jasa. Pelaksanaan program tersebut salah
satunya adalah dengan cara menganjurkan. setiap keluarga agar mengatur dan
merencanakan kelahiran anak, dengan menggunakan alat kontrasepsi modern. Sebab,
dengan mengatur kelahiran anak, keluarga biasanya akan lebih mudah
menyeimbangkan antara keadaan dan kebutuhan, pendapatan dan pengeluaran. Dan
pada akhirnya dapat lebih mudah membentuk sebuah keluarga bahagia dan sejahtera.
Bila pertumbuhan penduduk dapat ditekan, maka masalah yang dihadapi tidak
seberat menghadapi pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali.

STUDI KASUS PELAKSANAAN KB

Bengkulu Terbaik dalam Pelaksanaan KB


Selasa, 3 November 2009 | 14:56 WIB
BENGKULU, KOMPAS.com - Pelaksanaan program Keluarga Berencana (KB) di
Provinsi Bengkulu dinilai terbaik secara nasional dari segi angka kelahiran total (total
fertility rate - TFR) maupun tingkat kesertaan KB sebesar 70 persen lebih.
Pelaksanaan program KB di Provinsi Bengkulu dilihat dari hasil survei demografi
kesehatan ibu (SDKI) 2007 cukup menggembirakan dengan TFR 2,4, di bawah TFR
nasional 2,6, kata Kepala BKKBN Provinsi Bengkulu Hilaluddin Nasir di Bengkulu,
Selasa (3/11). Dengan TFR 2,6 (nasional) berarti tingkat kemampuan seorang ibu
untuk melahirkan anak mencapai lima sampai enam anak. Sedangkan dengan TFR 2,4
(Bengkulu) berarti tingkat kemampuan seorang ibu untuk melahirkan anak adalah
empat sampai lima anak. "Penilaian terbaik nasional itu dilontarkan Kapuslitbang KB
- KR, Dr Ida Bagus Permana pada Workshop Faktor-faktor Penurunan Fertilitas di
Bengkulu, 28 Oktober lalu," kata Hilaluddin didampingi Kasi AKIE, Sohibi. Tingkat
kesertaan KB di Provinsi Bengkulu juga terbaik nasional karena mencapai 73,9 persen
atau meningkat 5,7 persen bila dibandingkan dengan hasil SDKI 2002-2003.
Ternyata tingginya kesertaan ber-KB (CPR) ini memberikan kontribusi yang besar
untuk menurunkan TFR, katanya. Pencapaian angka CPR di daerah ini sebesar 70
persen lebih merupakan angka pencapaian terbaik nasional yang patut diakui. Hal itu
menunjukkan partisipasi masyarakat di daerah itu telah tumbuh dan berkembang
melalui peran pelaksana dan pengelola KB. Dia mengatakan pencapaian angka
tersebut akan diusahakan lebih meningkat pada masa mendatang, sebagai wujud
kontribusi nyata Provinsi Bengkulu dalam menunjang pelaksanaan Program KB
Nasional, hingga pertumbuhan penduduk dapat ditekan melalui pemahaman tentang
program KB di tengah masyarakat, katanya. Dikatakannya, Kapuslitbang KB-KR
berharap dengan pencapaian angka CPR 73,9 persen, angka TFR di daerah itu akan
menjadi 2,0. Angka TFR sebesar itu dapat disebabkan peserta KB aktif pada usia
paritas tua, masih tingginya usia pernikahan dini penggunaan alat kontrasepsi yang
kurang efektif berupa kondom dan pil. Untuk mengatasi hal itu, diperlukan perubahan
pola yang diperankan pengelola dan pelaku KB di lapangan untuk memberikan
pemahaman tentang KB dan kesehatan reproduksi. Diperlukan langkah nyata dengan
melakukan pendekatan sosialisasi dalam penggunaan kontrasepsi yang efektif. Juga
diperlukan peran pengambil kebijakan dalam menekan angka pernikahan pada usia 21
tahun ke atas dan perlunya peserta KB aktif pada usia muda dengan paritas rendah,
katanya.