Anda di halaman 1dari 18

1

I. PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Perairan merupakan sumber daya alam yang sangat

dibutuhkan bagi kehidupan manusia sehingga

kualitasnya sangat penting untuk diperhatikan. Jika

perairan mengalami kerusakan akibat pencemaran maka

tidak hanya manusia yang mengalami kerugian namun

biota perairan yang terdapat didalamnya seperti,

benthos dan nekton, ekosistemnya juga akan

terganggu.

Terganggunya suatu perairan dapat kita lihat

kelimpahan, keragaman, dan keseragaman jenis benthos

dan nekton. Ditinjau dari bagaimana persebarannya,

apakah keadaan ekosistemnya seimbang, dari sini la

kita dapat juga mengukur kualitas suatu perairan.

I.2 Tujuan Praktikum

Praktikum ini bertujuan untuk mengukur kualitas

perairan dilihat dari kelimpahan, keragaman dan

keseragaman dari benthos dan nekton.

1.3. Manfaat Praktikum


2

Manfaat dari praktikum ini adalah bertambahnya

ilmu untuk mengukur kualitas suatu perairan dilihat

dari biota perairan yang ada didalamnya seperti

benthos dan nekton.

II. TINJAUAN PUSTAKA


3

Indikator biologi ialah kelompok atau komunitas

organisme yang perilakunya di alam berkolerasi dengan

kondisi lingkunganya(Ravis, 2009). Indikator biologi

suatu perairan ialah benthos dan nekton. indikator

biologi dapat dipakai untuk pengukuran kualitas air

yang dilihat dari kelimpahan jenis benthos maupun

nekton. Kelimpahan jenis adalah banyanknya jumlah jenis

dalam suatu komunitas atau dominasi suatu jenis di

dalam suatu habitat(Marcus, 2011).

Benthos merupakan hewan yang sebagian hidupnya

berada di dasar perairan baik yang sesil, yang merayap

maupun menggali lubang yang memiliki peran penting

dalam (Ravis, 2009). Benthos merupakan semua organisme

yang hidup di lumpur, pasir, batu, dan kerikil(Fika,

2017). Benthos dibagi atas, makrobenthos, mikrobenthos

dan mesobenthos.

Benthos ada yang bersifat produsen maupun konsumen,

benthos yang bersifat produsen ialah tumbuhan yang

melekat di dasar perairan, sedangkan benthos yang

bersifat konsumen dibagi dua yaitu, epifauna dan

infauna(Norma, 2006). Yang digunakan sebagai parameter

biologi ialah marozoobenthos(Lin, 2015). Untuk

mengambil sampel benthos dapat menggunakan Eckman

grab(Ahmad, 2016).
4

Nekton adalah organisme yang dapat berenang dan

bergerak aktif dengan kemauan sendiri(Gugun, 2009) yang

tidak bergantung dengan arus air, contohnya ikan, cumi-

cumi, udang, dan kepiting. Walaupun udang umumnya hidup

di dasar perairan, tetapi karena memiliki kemampuan

melawan arus dan berenang bebas sehingga tetap masuk

dalam kategori nekton(Desrita, 2017). Nekton merupakan

komponen yang memiliki variasi organisme yang

sedukit(Umar, 2012)

Nekton terdiri dari ikan bertulang belakang, ikan

bertulang rawan, mamalia, dan reptil(Norma, 2006).

Pengambilan sampel nekton dilakukan secara sistematik

(sistemtik random sampling) dengan menggunakan alat

tangkap yangberupa, jala ataupun jaring(Marcus, 2011).

Lingkungan fisik seperti (suhu, ph dan kedalaman

lumpur) dapat mempengaruhi keragaman jenis nekton(Nike,

2018).

III. METODELOGI PRAKTIKUM


5

3.1. Waktu dan Tempat

Praktikum Benthos dan Nekton dilakukan di

Laboratorium Ekologi Perairan Fakultas Perikanan dan

Kelautan Universitas Riau, pada tanggal 2 April 2019

pukul 13.00 – 15.00 WIB.

3.2. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada saat praktikum Benthos

dan Nekton ialah jaring, pipa paralon, kantong sampel,

larutan pengawet(logol), dan saringan.

3.3. Metode Praktikum

Metode yang dilakukan dalam praktikum Benthos dan

Nekton ialah metode In-Situ yaitu metode yang dilakukan

dengan mengambil sampel dari lapangan yang kemudian

dibawa ke laboratorium untuk diamati.

3.4. Prosedur Praktikum

3.4.1 Prosedur Pengambilan Sampel Benthos

Untuk pengambilan sampel bethos digunakan pipa

paralon yang panjangnya sesuai dengan kedalaman

perairan yang ingin diambil sampel benthosnya. Pipa

ditancapkan kedalam perairan hingga menyentuh dasar

perairan, pipa ditancapkan dengan sudut 45 derajat.

Bagian atas pipa ditutup dengan menggunakan tangan atau

plastik dan bagian bawah dari pipa juga ditutup. Pipa


6

yang sudah ditutup kedua sisinya diangkat dan kemudian

disaring dengan saringan agar benthos terlihat.

Kemudian benthos dimasukan kedalam kantong plastik dan

diberikan larurtan lugol.

3.4.2 Prosedur Pengambilan Sampel Nekton

Untuk pengambilan sampel nekton digunakan jaring

yang berbentuk bulat. Jaring dimasukan kedalam perairan

kemudian digerakan satu arah melawan arus. Jaring

diangkat kemudian dilihat kedalam jaring apakah ada

nekton yang terjaring. Nekton yang terjaring dimasukan

kedalam kantong plastik dan diberikan larutan lugol.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


7

IV.1 Hasil

Adapun hasil dari praktikum yang telah dilakukan

adalah sebagai berikut :

Tabel 1. Nilai indeks C’, H’ dan E

Indeks Benthos Nekton


C’ 0,6427 0,5313
H’ 0,9461 0,9628
E 0,5969 0,0859

IV.2 Pembahasan

4.2.1.C (Indeks Dominasi)

Suatu komunitas dapat didominasi oleh satu

atau lebih jenis. Jenis dominasi ialah jenis – jenis

yang dapat menempatkan sumberdaya dan lingkungan

yang ada lebih efisien dibandingkan dengan jenis –

jenis yang lain. Indeks dominasi diukur antara 0-1,

apabila c mendekati nol maka tidak ada jenis yang

mendominasi dan apabila c mendekati 1 ada jenis yang

mendominasi(Nur El Fajri, 2019).

Dari data diatas dapat dinyatakan indeks

dominasi benthos ialah mendekati satu yang artinya

ada dominasi benthos yang mendekati di perairan

tersebut. Indeks dominasi nekton ialah mendekati nol

maka tidak ada dominasi nekton di perairan tersebut.

4.2.2. Indeks Keragaman Jenis(H)

Untuk melihat kekayaan jeis dari suatu biota

dapat melihat indeks keragaman jenis pada masing –


8

masing ekosistem yang berguna membandingakan suatu

ekosistem dengan okositem lainnya. H<1 maka sebaran

individu tidak merata, lingkungan perairan mengalami

gangguan atau tekanan besar atau struktur organisme

perairan jelek. H<3 maka sebaran individu sedang,

lingkungan perairan mengalami gangguan atau tekanan

sedang atau struktur organisme perairan sedang. H>3

maka sebaran individu tinggi, lingkungan perairan

tidakn mengalami gangguan atau tekanan atau struktur

organisme perairan baik.(Nur El Fajri, 2019)

Dapat dinyatakan H benthos ialah kecil satu

maka sebaran individu tidak merata, lingkungan

perairan mengalami gangguan atau tekanan besar atau

struktur organisme perairan jelek. H nekton ialah

kecil satu maka sebaran individu tidak merata,

lingkungan perairan mengalami gangguan atau tekanan

besar atau struktur organisme perairan jelek.

4.2.3. Indeks Keseragaman Jenis(E)

Indeks keseragaman jnis bertujuan untuk

melihat apakah spesies yang ada pada suatu ekosistem

berada dalam keadaan seimbang atau tidak serta

melihat persaingan yang terjadi. E mendekati 1

berarti keseragaman organisme dalam periran seimbang

tidak terjadi persaingan baik terhadap makanan atau

tempat. E mendekati 0 berarti keseragaman organisme


9

dalam periran tidak seimbang, terjadi persaingan

baik terhadap makanan atau tempat(Nur El Fajri,

2019).

Dari data diatas dapat dinyatakan E benthos

mendekati 1 berarti keseragaman organisme dalam

periran seimbang tidak terjadi persaingan baik

terhadap makanan atau tempat. E nekton mendekati 0

berarti keseragaman organisme dalam periran tidak

seimbang, terjadi persaingan baik terhadap makanan

atau tempat

V. KESIMPULAN DAN SARAN

V.1 Kesimpulan

Dari praktikum yang telah dilaksanakan tentang

Benthos dan Nekton dapat dilihat dari data bahwa


10

Waduk Fakultas Perikanan dan Kelautan tempat

pengambilan sampel benthos dan nekton telah

mengalami kerusakan dikarenakan keseragaman tidak

seimbang dan adanya kompetisi terhadap makanan dan

tempat, dan keragaman jenis benthos dan nekton tidak

merata dan mengalami tekanan atau gangguan.

V.2 Saran

Menajaga kebersihan Waduk Faperika dengan

melakukan pembersihan rutin disekitar waduk, dengan

mengutip sampah yang ada di pinggiran waduk dan di

waduk setiap satu kali seminggu oleh masyarakat

terkhususnya mahasiswa/wi Fakultas Perikanan dan

Kelautan Universitas Riau. Dan menciptakan peraturan

dan sanksi bagi yang membuang sampah ke waduk

Faperika.

DAFTAR PUSTAKA

M, Ahmad.2016.STATUS LIMNOLOGISDANAU SIOMBAK, MEDAN,


SUMATERA UTARA. Oseano dan Limnologi di
indonesia.
11

Desrita. 2017.KONDISI HABITATDAN KERAGAMAN NEKTON DI


HULU DAERAH SUNGAI WAMPU, SUMATERA UTARA

K, Fika.2017.KOMPOSISI BENTOS YANG TERDAPAT DI SUNGAI


PUNGGASAN KECAMATAN LINGGO SARI BAGANTI KABUPATEN
PESISIR SELATAN.

Gugun.2009.HABITAT DAN STRUKTUR KOMUNITAS NEKTON DI


SUNGAI CHIDEUNG, BOGOR, JAWA BARAT.

Ratih, Linn.2015.INVENTARIS KEANEKARAGAMAN


MAKROZOOBENTHOS DI DAERAH ALIRAN SUNGAI BRANTAS
KECAMATAN NGORO MOJEKERTO SEBAGAI SUMBER BELAJAR
BIOLOGI.

J, Marcus.2011.KEANEKARAGAMAN JENIS NEKTON DI MANGROVE


KAWASAN SEGORO ANAK TAMAN NASIONAL ALAS PURWO.

A, Nike.2018.STUDI KERAGAMAN NEKTON BERDASARKAN KONDISI


FISIK KAWASAN KONVERSI KURA – KURA DI UNIVERSITAS
BENGKULU.

A, Norma.2006.RONA AWAL PLANKTON DI PERAIRAN TAPAK


PLTNMURIA. Jurnal Pengembangan Energi Nuklir Vol
8.

Umar.2012.Pengertian dan Deskripsi Nekton.

A, Revis.2009.Makrozoobenthos sebagai Indikator


Kualitas Air di Sungai Kumpah dan Danau Arang –
Arang, JAMBI.
12

LAMPIRAN

Lampiran 1. Benthos dan Nekton yang Ditemukan


13

Benthos Nekton

Kingdom :Animalia Kingdom :Animalia

Filum :Molusca Filum :Chordata

Kelas :Gastropoda Kelas :Osteichtyes

Ordo :Pulmonata Ordo :Perciformes

Famili :Helicidae Famili :Cichlidae

Genus :Helix Genus :Oreochromis

Species :H. pomatia Species :O. niloticus

Lampiran 2. Analisis Perhitungan Benthos dan Nekton

1. Perhitungan Kelimpahan Benthos


14

Dik : K = kelimpahan Benthos(ind/m2)


P = Individu yang ditemukan
Luas penampang(r) = 3 cm
10.000
K=P x
luas penampang alat ( cm 2 )

1. Tubifex sp
Dik : p = 11
10 . 000
K=Px
πr 2
10. 000
K=11 x
3,14 x 32
K=3892 ind/cm 2
2. Helix pomatia
Dik : p = 1
10 . 000
K=Px
πr 2
10 . 000
K=1 x
3, 14 x 3 2
K=354 ind /cm2
3. Lumbricus sp
Dik : P = 2
10 . 000
K=Px
πr 2
10 . 000
K=2 x
3, 14 x 3 2
K=704 ind /cm2
2. Perhitungan Kelimpahan Nekton
Dik : K = kelimpahan Benthos(ind/m2)
P = Individu yang ditemukan
Luas penampang(r) = 0,11 cm
Y= ¿ 2
b(πr )
1. Orechromis niloticus
Dik : p = 79
NI
K=
πr 2
79
K=
3, 14 x (0, 11)2
K=0,3744 ind /cm 2
2. Cyprinus carpio
Dik : P = 132
15

NI
K=
πr 2
132
K= 2
3, 14 x (0, 11)
2
K=0,6255 ind/cm

Lampiran 3. Tabel Analisis Nilai H’,C dan E(Benthos dan

Nekton)

Tabel 2.Analisis Nilai H’,C dan E benthos

NO 1 2 3 total
Tuboifex Helix Lumbricus
Jenis
sp pomatia sp
Jumlah 11 1 2
NI 3892 354 704 4954
Pi 0,7857 0,0714 0,1428 0,9999

Log Pi -0,1047 -1,1463 -0,8452 -2,0962

Log2 Pi -0,3478 -0,3807 -2,8076 -3,5361


PiLog2PI -0,2733 -0,2719 -0,4009 -0,9461
C 0,6175 0,0051 0,0203 0,6427
H 0,9461
E 0,5969

Tabel 3.Analisis Nilai H’,C dan E Nekton

NO 1 2 total
Oreochromi
Cyprinus
Jenis s
carpio
niloticus
16

Jumlah 3 5 8
NI 79 132 141
Pi 0,3744 0,6255 0,9999

Log Pi -0,4266 -0,2037 -0,6303

Log2 Pi -1,4171 -0,6766 -2,0937


PiLog2PI -0,5303 -0,4232 -0,9628
C 0,1401 0,3912 0,5313
H 0,9628
E 0,0859

Lampiran 4.Alat dan Bahan


17

saringan Pipa paralon

Jaring Nampan

Lampiran 5. Kegiatan Praktikum


18

Pengambilan sampel Pengambilan sampel


Nekton Benthos

Penyaringan Benthos