Anda di halaman 1dari 10

Usulan Penelitian Tugas Riset

Pengujian Daya Tahan dan Karakteristik Dye-Sensitized Solar Cell Padat Menggunakan Elektrolit Gel Polimer Berbasis Poly(ethylene glycol)

Usulan Penelitian Tugas Riset Pengujian Daya Tahan dan Karakteristik Dye-Sensitized Solar Cell Padat Menggunakan Elektrolit Gel

Diajukan oleh:

Mustaqim J2C 006 037

JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

2010

USULAN PENELITIAN TUGAS AKHIR

USULAN PENELITIAN TUGAS AKHIR
  • 1. a. Judul Penelitian

:

Pengujian Daya Tahan dan Karakteristik Dye- Sensitized Solar Cell Menggunakan Elektrolit Gel Polimer Berbasis Polyethylene glycol

  • b. :

Bidang Ilmu

Kimia Analitik

  • 2. Pelaksanaan Penelitian

  • a. : Mustaqim

Nama

  • b. : J2C006037

NIM

  • c. : Laki-laki

Jenis Kelamin

  • d. Fakultas / Jurusan

:

MIPA/KIMIA

  • 3. Lokasi Penelitian

:

Laboratorium Kimia Analitik FMIPA UNDIP

  • 4. Lama Penelitian

:

7 (tujuh) bulan

Semarang, Oktobe 2009
Semarang,
Oktobe 2009

Mengetahui

Koordinator TR,

Pelaksana Penelitian

Drs. Gunawan, M.Si NIP. 191 962 228

Menyetujui,

Pembimbing I

Drs. Abdul Haris , M.Si NIP. 131 962 224

Mustaqim NIM. J2C 006 037

Pembimbing II

Drs. Gunawan, M.Si NIP. 131 962 228

Pengujian Daya Tahan dan Karakteristik Dye-Sensitized Solar Cell Padat

Menggunakan Elektrolit Gel Polimer Berbasis Polyethylene glycol.

2.

PENDAHULUAN

Dye Sensitized Solar Cell (DSSC) merupakan salah satu piranti

photovoltase yang telah menarik perhatian para peneliti beberapa tahun belakangan

ini. Hal ini disebabkan piranti ini tersusun oleh komponen-komponen yang tidak

memerlukan biaya mahal. Komponen tersebut antara lain logam oksida nanokristal,

molekul dye, dan elektrolit yang mengandung pasangan redoks I - /I 3 - . Ketiga

komponen ini memiliki peranan penting dalam menghasilkan efisiensi konversi

energi, stabilitas, dan daya tahan sistem DSSC.

Oksida logam nanokristal yang banyak digunakan sebagai semikonduktor

pada pembuatan elektrode kerja DSSC yaitu TiO 2 . Oksida logam ini selain harganya

relatif murah, juga lebih stabil (tahan terhadap korosi) dibandingkan oksida logam

lain yang juga bisa digunakan seperti ZnO dan WO 3 (Jarnuzi, 2001). Struktur dan

ketebalan lapisan TiO 2 dalam pembuatan electrode kerja juga memberikan pengaruh

pada efisiensi konversi energi. Hal ini berkaitan dengan jumlah molekul dye yang

teradsorpsi ke dalam lapisan TiO 2 .

Pada awalnya, molekul dye yang digunakan sebagai sensitiser dalam sistem

DSSC adalah zat warna sintetik seperti kompleks Ruthenium. Penelitian yang

menggunakan turunan dari kompleks Ruthenium diantaranya cis-bis-(isothiocyanato)-

bis-(2,2’-bipyridyl-4,4’-dicarboxylato)-rutehnium(II)-bis-tetrabutylammonium

(Kashiwa et al, 2008), cis-di(thiocyanato)-N,N-bis(2,2’-bypyridil-4,4’dicarboxylic

acid) ruthenium (II) (Park et al, 2006). Penggunaan kompleks Ruthenium

menghasilkan efisiensi yang besar, tetapi selain harganya mahal juga dapat

mencemari lingkungan. Oleh karena itu, penelitian dialihkan dengan menggunakan

zat warna alami yang diekstrak dari tanaman.

Molekul dye alami yang pernah digunakan dalam sistem DSSC yaitu senyawa

cyanin yang diekstrak dari buah berry (Smestad dan Gratzel, 1998), senyawa

antosianin dari kol merah (Maddu dkk, 2007), buah delima (Sirimanne, 2006), dan

bunga rosela (Wongcharee et al, 2007). Penggunaan dye alami tersebut menghasilkan

efisiensi yang cukup bagus, meskipun lebih kecil dibandingkan dye sintetik.

Penelitian yang dilakukan Chavadej (2006) mengenai dye sensitized (pewarna peka

terhadap cahaya) menggunakan ekstrak bunga rosela dan bunga ercis biru dalam

pembuatan sel surya menghasillkan efisisensi sebesar 0,52 %.

Nilai efisiensi yang besar dari sistem DSSC umumnya dihasilkan dengan

menggunakan elektrolit cair. Dalam hal ini, digunakan larutan organik seperti

acetonitrile sebagai pelarut pasangan redoks I - /I 3 - . Namun demikian, penggunaan

elektrolit cair mempunyai kelemahan yaitu kebocoran serta penguapan pelarut

sehingga stabilitas dan daya tahan DSSC menjadi rendah. Oleh karena itu, perlu

dilakukan penelitian untuk memperbaiki fungsi elektrolit serta daya tahan sistem

DSSC. Beberapa tahun belakangan ini telah banyak dikembangkan DSSC yang

menggunakan elektrolit padat atau gel berbasis matriks polimer untuk menggantikan

elektrolit cair. Misalnya, Akhiruddin Maddu, dkk. (2007) yang menggabungkan

penggunaan elektrolit padat berbasis gel polimer polyethylene glycol (PEG) dengan

dye alami dari ekstrak kol merah menghasilkan efisiensi 0,023 % dan 0,055 %

masing-masing untuk waktu perendaman 1 jam dan 24 jam. Selain itu juga, efisiensi

konversi energi yang besar dari DSSC padat telah dicapai melalui kontak antarmuka

yang efektif antara polimer padat (PEG) dengan molekul dye serta konduktivitas ionik

yang tinggi dari elektrolit polimer karena naiknya jarak antar rantai sehingga terjadi

peningkatan mobilitas rantai PEG. Penggunaan PEG dengan bobot molar (BM)

rendah (1000 g/mol) menghasilkan penetrasi elektrolit yang lebih efektif ke lapisan

nanopori TiO 2 sehingga kontak antarmuka yang dihasilkan lebih optimal dalam

menunjang efisiensi yang dihasilkan sebesar 2,3 % (Kang et al, 2006).

Dalam penelitian ini akan digunakan elektrolit padat berbasis gel polimer PEG

dengan dye alami dari ekstrak bunga rosela. Kemudian dikaji karkateristik sistem

DSSC yang dihasilkan terutama efisiensi serta daya tahan sistem tersebut. Penelitian

sebelumnya oleh Marwati (2009) menggunakan elektrolit cair dengan dye alami

ekstrak bunga rosela menghasilkan efisiensi 0,000027 % dan 0,00063 % masing-

masing untuk waktu perendaman 1 jam dan 24 jam. Melalui penelitian ini dapat

dibandingkan penggunaan elektrolit cair dan padat dalam sistem DSSC.

  • 3. TUJUAN PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji daya tahan dari sistem DSSC dalam

skala laboratorium yang menggunakan elektrolit padat atau gel berbasis matriks

polimer dan zat warna alami dari ekstrak bunga rosela (Hibiscus sabdariffa) sebagai

fotosensitiser.

  • 4. METODE PENELITIAN 4.1 Alat

    • 1. Furnace

    • 2. Tungku listrik

    • 3. Pengaduk magnetik

    • 4. Potensiometer (Alpha B10K)

    • 5. Multimeter digital (Heles UX-838TR)

6.

Kaca Transparent Conductive Oxide (TCO)

  • 7. Peralatan gelas

  • 8. Cawan petri

  • 9. Mortar Porselin

    • 10. Scotch tape

    • 11. Penjepit buaya dan Kabel

  • 4.2 Bahan

    • 1. Serbuk TiO 2 dari Merck

    • 2. Metanol (pa)

    • 3. Asam asetat (pa)

    • 4. Polyvinyl Alcohol (PVA)

    • 5. Akuades

    • 6. Potassium iodida dari Merck

    • 7. Iod ( I 2 ) dari merck

    • 8. Asetonitril (pa)

    • 9. Khloroform (pa)

      • 10. Polyethylene Glycol (PEG) BM 4000

      • 11. Bunga Rosela

      • 12. Grafit

      • 13. Aluminium foil

      • 14. Kertas saring

  • 4.3 Metode Kerja

  • Pertama, pembuatan elektrode TiO 2 dilakukan dengan membuat pasta TiO 2

    terlebih dahulu. Polivinil alkohol (PVA) ditambahkan sebanyak 10% berat ke dalam

    air, kemudian diaduk pada temperatur 80 o C. Suspensi ini akan berfungsi sebagai

    binder dalam pembuatan pasta. Suspensi tersebut ditambahkan pada bubuk TiO 2

    sebanyak kurang lebih 10% volume. Kemudian digerus dengan mortar sampai

    terbentuk pasta yang baik untuk dilapiskan. Selanjutnya dilakukan deposisi pasta TiO 2

    pada substrat kaca TCO. Kaca TCO yang telah dipotong menjadi ukuran 3 cm x 3 cm

    dibentuk area kosong seluas 2,5 x 2,5 cm pada sisi konduktif dengan bantuan Scotch

    tape yang juga berfungsi sebagai pengatur ketebalan pasta TiO 2 . Pasta TiO 2

    dideposisikan di atas area yang telah dibuat pada sisi konduktif dengan metode slip

    casting yaitu dengan bantuan batang pengaduk untuk meratakan permukaan lapisan.

    Kemudian lapisan dikeringkan selama kurang lebih 15 menit dan dibakar / sintering

    dalam tungku listrik pada suhu 450 o C selama 30 menit, lalu didinginkan secara

    bertahap agar permukaan lapisan yang dihasilkan tidak retak atau pecah.

    Kedua, pembuatan ekstrak zat warna alami dari bunga rosela dan zat warna

    sintetik Remazol black B. Sebanyak 1,5 gram bunga rosela direndam ke dalam

    metanol:asam asetat:air (25:4:21 perbandingan volume) sebanyak 10 mL. Kemudian

    dimaserasi selama 1 serta 24 jam dan wadahnya ditutup dengan alumunium foil untuk

    meminimalkan kontak dengan cahaya (Septina, 2008). Sebanyak 1 gram serbuk

    remazol black B dimasukkan dalam labu ukur, kemudian ditambah aquades hingga

    volume menjadi 1 L. Kemudian tuangkana dalam wadah yang ditutup dengan

    alumunium foil untuk meminimalkan kontak dengan cahaya.

    Ketiga, pembuatan elektrolit gel polimer. Sebanyak 7 gram PEG dilarutkan

    dengan 25 mL kloroform hingga membentuk gel, kemudian dimasukkan beberapa

    tetes larutan Iodolyte yang mengandung pasangan redoks I - /I 3 - . Campuran tersebut

    diaduk dengan pengaduk magnetik selama satu jam pada suhu 30 o C hingga homogen

    dan membentuk gel.

    Keempat, pembuatan elektrode lawan. Polyvinyl alkohol (PVA) sebanyak 10

    % berat ditambahkan kedalam akuades, kemudian diaduk pada temperatur 80 o C.

    Suspensi ini akan berfungsi sebagai binder dalam pembuatan pasta. Tambahkan

    suspensi tersebut ke dalam serbuk grafit sebagai katalis karbon. Pasta grafit dilapiskan

    ke kaca TCO pada sisi konduktifnya kemudian dipanaskan pada temperatur 450 o C

    selama 10 menit agar grafit membentuk kontak yang baik sesama partikel grafit dan

    dengan kaca TCO.

    Tahap terakhir adalah perakitan DSSC. Terlebih dahulu dilakukan pewarnaan

    elektrode TiO 2 dengan zat warna ekstrak bunga rosela. Beberapa tetes larutan ekstrak

    dituangkan ke dalam petri dish, lalu elektrode TiO 2 diletakkan dengan sisi yang

    terlapisi TiO 2 terendam larutan tersebut dan dibiarkan selama 30 menit sampai seluruh

    lapisan TiO 2 tidak berwarna putih. Setelah itu, elektrode TiO 2 dibilas lebih dulu

    dengan aquades kemudian etanol dan dikeringkan dengan tisu. Selanjutnya, elektrode

    TiO 2 yang tersensitisasi ditetesi dengan elektrolit gel polimer kemudian elektrode

    lawan diletakkan di atasnya dengan struktur sandwich dimana terdapat area offset

    sekitar 0,2 cm untuk kontak elektrik. Agar struktur selnya mantap dijepit dengan klip

    pada kedua sisinya. Sel surya yang telah dirangkai diuji melalui pengujian langsung

    tegangan dan arus yang terukur dari sel surya dengan menggunakan multimeter Heles

    pada penyinaran cahaya matahari langsung.

    Karakterisasi komponen-komponen sistem DSSC juga harus dilakukan antara

    lain seperti karakterisaasi morfologi lapis tipis TiO 2 yang dilapisi elektrolit polimer

    menggunakan SEM dan karakterisasi ukuran pori TiO 2 menggunakan BET.

    4.4 Variabel Penelitian

    Variabel konstan dalam penelitian ini yaitu kaca substrat TCO, semikonduktor

    TiO 2 , elektrolit I - /I 3 - (larutan Iodolyte), dan katalis karbon. Sedangkan, variabel

    berubah untuk pengujian sistem DSSC yaitu pengukuran arus dan tegangan dengan

    variasi zat warna antosianin dari bunga rosela (Hibiscus sabdariffa) dan Remazol

    black B, serta waktu pengukuran.

    4.5 Analisis Hasil

    Nilai arus dan tegangan yang diperoleh dari hasil pengukuran dibuat kurva

    arus-tegangan (I-V) sehingga diperoleh parameter-parameter keluaran sistem DSSC

    seperti tegangan rangkaian buka (V OC ), arus rangkaian pendek (I SC ), tegangan

    maksimum, daya maksimum, fill factor (FF), dan efisiensi (η). Kemudian untuk

    mengetahui daya tahan dari sistem DSSC, nilai I SC yang diukur diplotkan ke dalam

    kurva arus-tegangan.

    DAFTAR PUSTAKA

    Kang, M.S., Kim, J.H., Won, J., Kang, Y.S., 2006, Dye-sensitized solar cells based on poly(ethylene glycol) electrolytes, J.Photochem.Photobiol., Chemistry 183,

    p.15-21.

    Maddu, A, Zuhri, M., Irmansyah, 2007, Penggunaan ekstrak antosianin kol merah sebagai fotosensitiser pada sel surya nanokristal tersensitisasi dye, Makara, Teknologi, Vol.11, hal.74-84. Park, S.H., Lee, H.J., Kang, E.H., Lee, J.K., 2006, Photovoltaic properties and preparations of dye-sensitized solar cell using solid state polymers electrolyte, Department of Polymer Science and Engineering, Pusan National University, Busan, Korea, Vol.444, pp. 233-239. Sirimanne, P.M., Senevirathna, M.K.I., Premalal, E.V.A., Pitigala, P.K.D.D.P., Sivakumar, V., Tennakone, K., 2006, Utilization of natural pigment extracted from pomegranate fruits as sensitizer in solid-state solar cells, J. Photochem. Photobiol. 177, 324-327. Smestad, G.P., Gratzel, M., 1998, Demonstrating electron Transfer and Nanotechnology: A natural Dye-Sensitized Nanocrystalline Energy Converter, J. Chem. Ed., (75), 6, 752-756. Tjahjanto, R.T., Gunlazuardi, J., 2001, Preparasi lapis tipis TiO 2 sebagai fotokatalis:

    keterkaitan antara ketebalan dan aktivitas fotokatalis, Makara, Jurnal Penelitian UI, Vol.5, hal.81-91. Wongcharee, K, Meeyoo, V., Chavadej, S., 2007, Dye-sensitized solar cell using natural dyes extracted from rosella and blue pea flowers, J.Photochem. photobiol.