Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

“ TATA NAMA TUMBUHAN ”

Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Botani Tumbuhan


Tinggi

Kelompok 2 :

ALFHIAH M.Q KHOTIMAH ( 17 507 017 )


DESTI FEBRIANI ( 17 507 043 )
SRIPUTRI L. SOLANG ( 17 507 042 )

Dosen Pengampuh : Prof. Dr. Arijani, M.Si

Dr. Z. Warouw, M.Pd

UNIVERSITAS NEGERI MANADO

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

BIOLOGI

2019
Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan
karunia-Nya, sehingga makalah yang berjudul tentang “Tata Nama Tumbuhan”
ini dapat terselesaikan dengan baik. Makalah ini membahas tentang nama biasa
dan nama ilmiah, sejarah kode internasional tatanama tumbuhan (KITT), Isi,
tujuan kegunaan, asas-asas peraturan-syarat tatanama tumbuhan, dan sitasi nama
pencipta dan pustaka.

Semoga dengan adanya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Kami
menyadari dalam penulisan makalah ini ada banyak kesalahan, untuk itu kami
sangat mengharapkan kritik dan saran untuk memperbaiki kesalahan yang ada.
Sekian dan terima kasih.

Tondano, 26 Oktober 2019

Kelompok 2

I
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................................... i

Daftar Isi .............................................................................................................. ii

Bab I. Pendahuluan............................................................................................. 1

A. Latar Belakang .............................................................................. 1


B. Rumusan Masalah ......................................................................... 1
C. Tujuan ........................................................................................... 1

Bab II. Pembahasan ............................................................................................ 2

A. Nama Biasa dan Nama Ilmiah............................................................. 2


B. Sejarah Kode Internasional Tatanama Tumbuhan (KITT) ................. 3
C. Isi, Tujuan, Kegunaan, Asas-asas peraturan-syarat tatanama tumbuhan
............................................................................................................. 4

Bab III. Penutup .................................................................................................. 20

A. Kesimpulan ................................................................................... 20
B. Saran .............................................................................................. 20

Daftar Pustaka ..................................................................................................... 21

II
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tatanama tubmbuhan merupakan bagian dari kegiatan taksonomi yang
bertujuan untuk mendeterminasi nama yang benar dari suatu takson atau kesatuan
taksonomi. Menurut Kode Internasional Tatanama Tumbuhan (KITT), pemberian
nama ilmiah tumbuh didasarkan pada bahasa Latin atau yang diperlakukan
sebagai bahasa Latin, sehingga diharapkan dapat dipergunakan secara universal
oleh para ahli botani.

Dalam kehidupan sehari-hari kita jumpai begitu banyak nama tumbuhan


yang diberikan dalam bahasa yang sesuai dengan bahasa induk yang digunakan
oleh daerah masing-masing, yang sering disebut nama biasa. Oleh karena nama
biasa itu terbatas pengertiannya pada orang-orang sebahasa saja, maka pemakaian
nama ilmiah sekarang sudah menjadi kebiasaan umum yang diterapkan di seluruh
dunia.

B. Rumusan Masalah
Adapun batasan masalah dalam makalah ini adalah:
1. Apa yang dimaksud dengan nama biasa dan nama ilmiah?
2. Bagaimana sejarah kode internasional tatanama tumbuhan (KITT)?
3. Bagaimana isi, tujuan, kegunaan, asas-asas peraturan-syarat tatanama
tumbuhan?
C. Tujuan
Adapun tujuan penulis dalam penulisan makalah ini adalah:
1. Mendefinisikan pengertian dari nama biasa dan nama ilmiah.
2. Mengetahui sejarah kode internasional tatanama tumbuhan (KITT).
3. Mengetahui isi, tujuan, kegunaan, asas-asas peraturan-syarat tatanama
tumbuhan.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Nama Biasa dan Nama Ilmiah


1. Nama Biasa
Dalam botani, pemberian nama yang dimaksud bukanlah nama daerah atau
nama umum yang biasa sehari-hari diberikan orang yang hidup di sekitar tempat
tumbuhan itu tumbuh. Hal ini disebabkan karena untuk keperluan komunikasi
ilmiah nama-nama daerah tersebut sama sekali tidak memenuhi syarat. Nama
daerah atau nama umum memiliki beberapa kelemahan yaitu:
 Tidak bersifat menyeluruh atau hanya terbatas pengertiannya pada orang-
orang sebahasa saja. Misalnya “gedang” dalam bahasa Madura berarti
pisang, sedangkan dalam bahasa Sunda pepayalah yang dimaksud.
 Nama-nama umum biasanya tidak memberikan informasi yang
menunjukkan hubungan kekerabatan, tidak bisa digunakan untuk
membedakan bangsa, suku, atau taksa lainnya.
 Jika suatu tanaman terkenal, kemungkinan mempunyai banyak nama
umum.
 Kadang-kadang dua atau lebih tanaman yang berbeda mempunyai nama
umum yang sama atau sebaliknya.
 Banyak jenis khususnya yang langka tidak mempunyai nama umum
Pemakaian nama umum ini akan menimbulkan kericuhan yang tiada henti-
hentinya. Jika dalam satu negara saja sudah tidak ada keseragaman dan dapat
terjadi salah pengertian, apalagi dalam taraf internasional kesimpang-siuran yang
sudah pasti timbul akan lebih hebat lagi. Karena itu dalam dua abad terakhir ini
pemakaian nama ilmiah dalam botani sudah menjadi kebiasaan yang umum di
seluruh dunia.

2. Nama Ilmiah
Nama ilmiah adalah ”nama-nama dalam bahasa yang diperlakukan sebagai
bahasa Latin, tanpa memperhatikan dari bahasa mana asalnya kata yang
digunakan untuk nama tadi”. Salah satu keuntungan nama ilmiah ialah bahwa
penentuan, pemberian atau cara pemakaiannya untuk setiap golongan tumbuhan
dapat dilakukan berdasarkan suatu aturan atau sistim tatanama (Rifai, 1973).
Nama ilmiah juga merupakan suatu kunci pembuka khazanah ilmu pengetahuan
tentang suatu jenis, karena dengan menggunakan nama ilmiah maka segala
perbendaharaan pengetahuan manusia yang terkumpul dalam pustaka-pustaka
akan terbuka bagi kita untuk ditelusuri, dipelajari, ditelaah, diolah dan
dimanfaatkan.

2
B. Sejarah Kode Internasional Tatanama Tumbuhan (KITT)
Sampai abad ke 16 belum terdapat peraturan dalam memberikan nama
kepada tumbuhan. Karena tidak ada peraturan yang mengikat, masing-masing ahli
bebas dalam memberikan nama. Beberapa abad sebelum tahun 1753, nama
tumbuhan biasanya disusun atas tiga atau lebih kata yang disebut dengan
polinomial. Namun, sistem pemberian nama polinomial tidak bekerja dengan baik
sebab disamping susah dalam pelaksanaan, juga sulit untuk dikembangkan.
Nama-nama tersebut tidak jelas apakah mengacu pada takson tingkat jenis atau
marga, atau pada takson yang lebih tinggi.
Pada tahun 1753, Linnaeus dalam bukunya Species Plantarum
mengenalkan sistem binomial dalam pemberian nama tumbuhan.
Kode Paris,1867
Kongres Botani Internasional yang pertama diadakan di Paris oleh Alphonse de
candolle. Ahli tumbuhan dari banyak negara berkumpul kemudian mengesahkan
seperangkat peraturan tentang tata nama tumbuhan dan disebut buku peraturan
internasional tata nama tumbuhan atau Laus of Botanical nomenclature.
Kode Rochester,1892
Kongres ini dilaksanakan karena kode Paris banyak mengandung kelemahan.
Kode Rochester dipimpin oleh N. L. Briton dari New York Botanical garden. Dari
kongres ini peroleh peraturan-peraturan kode tata nama tumbuhan yang menurut
mereka mempunyai dasar dasar yang lebih objektif dibandingkan
dengan kode Paris.
Kode Wina, 1905
Kongres botani Internasional yang ketiga diadakan di Wina merupakan kongres
Botani yang betul betul bersifat internasional dan memberikan perhatian yang
besar kepada persoalan tata nama tumbuhan. Kongres ini didahului oleh konvensi
Paris tahun 1900. dalam konvensi ini,telah diputuskan untuk menggunakan waktu
lima tahun sebelum diadakan kongres di Wina guna menangani semua persoalan
yang muncul dalam kode tata nama tumbuhan.
Kode Amerika, 1907
Kode ini lahir berdasarkan atas kode Rochester yang telah diperbaiki. Kongres
Botani Internasional ke 4 di Brussel tahun 1910 tidak membawa perubahan yang
berarti dalam kode tata nama tumbuhan. Keadaan ini berlangsung sampai tahun
1930 sebab selama berkecamuknya perang dunia 1 sampai sekitar 10 tahun
kemudian tidak ada kegiatan yang bersifat internasional dalam bidang ilmu
tumbuhan.

3
C. Isi, Tujuan, Kegunaan, Asas-asas peraturan-syarat Tatanama
Tumbuhan
Dalam bentuknya sebagai hasil Muktamar Sydney tahun 1981, Kode
Internasianal Tatanama Tumbuhan yang diterbitkan dalm tiga bahasa: Inggris,
Perancis, dan Jerman pada tahun 1983, memuat bagian-bagian penting berikut:
1. Mukadimah
2. Bagian I Asas-asas
3. Bagian II Peraturan dan Saran-saran yang terdiri atas 75 pasal,
terbagi dalam 6 bab, dengan masing-masing bab terbagi lagi dalam
beberapa seksi
4. Bagian III Ketentuan-ketentuan untuk mengubah kode
5. Lampiran I Nama-nama hibrida
6. Lampiran II Nama-nama suku yang dilestarikan
7. Lampiran III Nama-nama marga yang dilestarikan dan ditolak
8. Lampiran IV Nama-nama yang bagaimaapun ditolak
 Mukadimah
Mukadimah KITT memuat sepuluh butir yang penting , yaitu:

 Pembenaran, bahwa ilmu tumbuhan memerlukan system tatanama yang


sederhana namun tepat, yang digunakan oleh semua ahli ilmu tumbuhan di
seluruh dunia.
 Asas-asas yang seluruhnya hanya berjumlah enam merupakan dasar atau
pangkal tolak system tatanam tumbuhan, yang selanjutnya dijabarkan
kedalam peraturan-peraturan dan saran-saran atau rekomedasi yang lebih
terinci,
 Ketentuan-ketentuan yang terinci dibagi dalam peraturan-peraturan yang
harus ditaati, dan saran-saran yang seyogyanya diikiuti demi keseragaman
yang lebih luas, da tidak menjadi contoh yang tidak selayaknya untuk di
tiru.
 Sasaran yang ingin dicapai dengan penyusunan peraturan-peraturan
tatanama tumbuhan adalah untuk penertiban tatanama di masa lampau dan
penyediaan system tatanama untuk masa mendatang.
 Sasaran yang ingin dicapai dengan pemberian saran- saran atau
rekomendasi adalah keseragaman yang lebih luas serta kejelasan yang
lebih terang, terutama untuk masa mendatang.
 Ketentuan untuk mengubah kode tatanama tumbuhan merupakan bagian
terakhir kode ini.
 Peraturan –peraturan dan saran-saran berlaku untuk semua makhluk yang
diperlakukan sebagai tumbuhan ( termasuk jamur, tetapi bakteri tidak),
baik yang telah bersifat fosil maupun yang sekarang masih hidup.
 Dalam butir ini dinyatakan, bahwa satu-satunya alasan yang tepat untuk
mengubah suatu nama adalah atau adanya studi yang lebih mendalam yang
menghasilkan data yang membenarkan pengubahan suatu nama, karena
identifikasi sebelumnya dipandang tidak tepat lagi, atau karena nama yang
bersangkutan ternyata bertentangan dengan ketentuan yang berlaku.
4
 Butir ini menyatakan bahwa dalam hal tidak adanya peraturan yang
relevan, atau dalam hal yang hasilnya akan meragukan bila suatu peraturan
diterapkan, maka kelaziman lah yang harus diikuti .
 Butir terakhir mukadimah KITT menyatakan, bahwa dengan
diterbitkannya edisi terbaru, otomatis semua edisi sebelumnya tidak
berlaku lagi.

 Bagian I Asas-asas Tatanama Tumbuhan


Asas I
Tatanama tumbuhan dan tatanama hewan berdiri sendiri-sendiri. Kode
Internasional Tatanama Tumbuhan berlaku sama bagi nama-nama takson yang
sejak semua diperlakukan sebagai tumbuhan atau tidak.
Kalimat pertama menunjukkan bahwa peraturan nama ilmiah hewan dan
tumbuhan itu berbeda. Misalnya istilah “phylum” untuk suatu kategori dalam
klasifikasi hewan yang dalam klasifikasi tumbuhan disebut “division”. Kalimat
kedua menunjukkan bahwa bila organism itu dianggap hewan, maka nama
organism itu harus mengikuti ketentuan-ketentuan yang ada dalam Kode
Internasional Tatanama Hewan, sebaliknya, bila organism diperlakukan sebagai
tumbuhan, maka namanya harus tunduk pada KITT.
Asas II
Penerapan nama-nama takson ditentukan dengan perantaraan tipe
tatanamanya.
Yang dimaksud dengan tipe tatanama adalah unsure suatu takson yang
dikaitkan secara permanen dengan nama yang diberikan kepada takson itu.
Asas III
Tatanama takson didasarkan atas perioritas publikasinya.
Bila suatu takson mempunyai lebih dari satu nama, maka nama yang
dipublikasikan lebih dululah yang berlaku. Tentu saja dalam hal ini pemberian
nama telah dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Asas IV
Setiap takson dengan sirkum skripsi, dan tingkat tertentu hanya dapat
mempunyai satu nama yang benar, yaitu nama tertua yang sesuai dengan
peraturan, kecuali dalam hal-hal yang dinyatakan secara khusus.
Bila ditekankan pada hanya dapat mempunyai satu nama yang benar,
maka adanya sinonima merupakan suatu hal yang tidak dimungkinkan, namun
dinyatakan pula bahwa hal itu ada pengecualiannya. Seperti beberapa nama suku
yang secara eksplisit dinyatakan, bahwa suku-suku tadi mempunyai nama
alternative. Nama-nama suku Gramineae, Palmae, Umbelliferae, Compositae
5
misalnya, berturut-turut boleh diganti dengan Poaceae, Arecaceae, Apiaceae, dan
Asteraceae.

Asas V
Nama-nama ilmiah diperlakukan sebagai bahasa latin tanpa
memperhatikan asalnya.
Nama ilmiah adalah nama yang terdiri atas kata-kata yang diperlakukan
sebagai bahasa Latin, dan tidak tepat bila nama ilmiah disamakan dengan nama
latin.
Asas VI
Peraturan tatanama berlaku surut kecuali bila dibatasi dengan sengaja.
Peraturan tatanama tumbuhan lahir pada tahun 1867 yang diawali oleh
Muktamar Botani Internasional I di Paris. Namun demikian ketentuan-ketentuan
yang termuat di dalamnya dinyatakan berlaku sejak lebih seabad sebelumnya,
yaitu dinyatakan berlaku per 1 Mei 1753, jadi peraturan tatanama tumbuhan itu
berlaku surut.

 Bagian II Peraturan-peraturan dan Saran-saran (rekomendasi)


Bab I . Tingkat-tingkat takson dan istilah-istilah untuk menyebutnya
Bab ini terdiri atas lima pasal. Pasal satu sampai lima yang memuat butir-
butir utama sebagai berikut.
Bahwa dalam taksonomi tumbuhan, setiap kelompok taksonomi dari
kategori yang manapun disebut suatu takson.
Bahwa dari sederetan takson yang bertingkat-tingkat itu yang dijadikan
unit dasar adalah kategori jenis.
Bahwa tingkat-tingkat takson (kategori) yang pokok berturut-turut dari
bawah ke atas disebut dengan istilah jenis (spesies), marga (genus), suku
(familia), bangsa (ordo), kelas (classis), dan divisi (division).
Bahwa bila dikehendaki jumlah tingkat takson yang lebih banyak dapat
ditambahkan atau diantara takson-takson lama disisipkan takson-takson
baru, asal hal itu tidak akan berakibat terjadinya kekeliruan atau
kekacauan. Untuk sederetan tingkat takson yang telah mendapat
kesepakatan internasional dari yang besar ke yang kecil disebut dengan
istilah-istilah dunia (regnum), anak dunia (sub regnum), divisi (division),
kelas (classis), anak kelas (sub classis), bangsa (ordo), anak bangsa (sub
ordo), suku (familia), anak suku (sub familia), rumpun (tribus), anak
rumpun (sub tribus), marga (genus), anak marga (sub genus), seksi
(sectio), anak seksi (sub section), seri (series), anak seri (sub series), jenis

6
(spesies), anak jenis (sub spesies), varitas (varietas), anak varitas (sub
varietas), forma (forma), anak forma (sub forma).
Bahwa urutan-urutan tingkat-tingkat takson (kategori) itu tidak boleh di
ubah.
Bab II Ketentuan umum untuk nama-nama takson
Bab ini terbagi dalam empat seksi yang seluruhnya memuat 10 pasal
(pasal 6 sampai dengan 15).
Seksi pertama yang berjudul “definisi-definisi” hanya terdiri atas satu
pasal, yaitu pasal 6 dan isi yang penting pasal ini antara lain adalah definisi-
definisi untuk:

 Publikasi yang mangkus (efektif), yaitu publikasi yang sesuai dengan


persyaratan seperti tersebut dalam Pasal 29-31.
 Publikasi yang sahih (berlaku), bila memenuhi persyaratan seperti tersebut
dalam Pasal-pasal 32-45.
Dalam seksi ini selanjutnya juga diberikan definisi-definisi untuk berbagai
nama dengan sebutan tertentu, antar lain:

 Nama sah (legitimate), bila sesuai dengan bunyinya peraturan dan tidak
sah (illegitimate) bila bertentangan dengan bunyinya peraturan.
 Nama yang benar (correct), merupakan nama sah yang tertera publikasi,
kecuali untuk nama-nama tertentu yang dinyatakan sebagai perkecualian
terhadap ketentuan itu.
 Nama kombinasi, adalah nama-nama takson di bawah tingkat marga
(jenis, anak jenis, varietas, dst) yang terdiri atas nama marga digabung
dengan nama sebutan (epitheton) yang berjumlah satu sehingga
membentuk kombinasi ganda. Seperti pada nama jenis Hibiscus sabdariffa,
yang terdiri atas nama marga Hibiscus digabung dengan sebutan jenis
sabdariffa.
 Autonima atau nama automatis, yaitu nama yang harus berbentuk tertentu,
sesuai dengan bunyinya ketentuan.
 Sinonima, dua nama atau lebih untuk suatu takson, misalnya
Gramineae=Poaceae, Compositae=Asteraceae untuk nama-nama suku.
 Basionima, yaitu nama dasr yang dijadikan pangkal tolak dalam
pemberian nama kepada suatu takson tertentu, misalnya pemberian nama
suatu jenis yang mengalami perubahan status, yaitu dipindah ke lain
marga, sehingga namanya harus berubah. Sebagai contoh adalah
Pseudodatura arborea yang dipindahkan ke marga Brugmansia yang
namanya berubah menjadi Brugmansia arborea. Dalam contoh ini
Pseudodatura arborea merupakan basionimanya Brugmansia arborea.
 Homonima, yaitu suatu nama yang digunakan untuk dua takson yang
berbeda. Nama Setaria misalnya oleh Acharius digunakan untuk nama
marga lumut kerak, tetapi Palisot de Beauvais menggunakan nama Setaria
untuk marga rumput. Ini merupakan contoh homonima, yang sesuai
7
dengan asas prioritas nama Setaria untuk marga rumput itu harus diganti
karena Setaria sudah lebih digunakan untuk nama lumut kerak.
 Tautonima, yaitu nama jenis yang nama marga dan sebutan jenisnya terdiri
atas kata-kata yang persis sama atau hampir sama, misalnya Linaria
linaria, Boldu boldus. Berbeda dalam taksonomi hewan, dalam taksonomi
tumbuhan tautonima merupakan nama yang tidak sah, jadi tidak boleh
digunakan.
 Nama telanjang (nomen nudum), nama yang diberikan tanpa disertai
candra atau diagnosis dalam bahasa Latin yag sesuai dengan ketentuan.
Seperti tautonima, nomen nudum juga merupakan nama yang tidak sah.
 Nama yang meragukan (nomen ambiguum), adalah nama yang oleh
penciptanya tidak secara eksplisit dinyatakan sebagai nama suatu takson
tertentu, sehingga meragukan, apakah kata-kata yang dipakai itu benar-
benar dimaksud sebagai nama takson atau bukan.
 Nama-nama yang dilestarikan (nomen conservandum), nama yang
dipertahankan untuk terus dipakai, walaupun nama itu tidak sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
Nama-nama marga yag dilestarikan (nomina generic conservanda)
Nama-nama suku yang dilestarikan (nomina familiarum conservanda)
Nama-nama yang ditolak (nomen rejiciendum), nama-nam yang secara
luas dan terus dipakai untuk takson yang tidak mencakup tipe-tipe
tatanamanya.
Seksi II memuat masalah “tipifikasi”, terdiri atas 4 pasal (pasal 7-10),
memuat antara lain:

 Penerapan nama-nama takson tingkat suku ke bawah harus didasarkan atas


tipe tatanamanya.
 Tipe tatanama adalah unsure suatu takson yang padanya melekat secara
permanen nama dan candra takson yang bersangkutan, dan bahwa tiep
tatanama tidak harus merupakan wakil takson tadi yang dianggap paling
tipikal.
 Specimen atau unsure lain yang dipilih sebagai tipe tatanama disebut
holotipe.
 Bila seorang ahli member nama dan mencandra suatu takson tidak
menentukan holotipenya, atau karena sesuatu sebab holotipe itu hilang
atau binasa, dapat ditentukan penggantinya yang disebut lektotipe atau
neotipe.
Seksi III dalam bab ini yang terdiri atas 1 pasal, yaitu pasal 11 memuat
masalah “prioritas” dan “nama yang benar” yang pada dasrnya tidak berbeda
dengan bunyi Asas IV, dengan ditambah bahwa: nama yang benar untuk marga
atau genus adalah nama tertua yang sah yang diberikan untuk tingkat takson itu
kecuali bila ada pembatasan prioritas karena adanya nama-nama yang
dilestarikan.
Nama yang benar untuk setiap jenis atau takson di bawahnya adalah
kombinasi sebutan (epitheton) dalam nama sah yang tertua yang diberikan kepada
8
takson tadi, dengan nama marga atau nama jenis yang membawahinya, kecuali
bila kombinasi itu menjadi tidak berlaku karena adanya pembatasan asas prioritas,
atau sebab lain yang menyebabkan harus digunakannya kombinasi yang berbeda.
Seksi IV yang terdiri atas 3 pasal (pasal 13-15) berjudul “pembatasan asas
prioritas” berisi antara lain ketentuan-ketentuan, bahwa:
Nama-nama tumbuhan dari berbagai kategori diperlakukan seakan-akan
dipublikasikan mulai dari tanggal-tanggal seperti di bawah ini.
Bagi tumbuhan yang sekarang masih hidup:
1 Mei 1753 untuk Spermatophyta dan Pteridophyta
1 Januari 1801 untuk Musci dan Sphagnaceae
1 Mei 1753 untuk Sphagnaceae dan Hepaticae
1 Mei 1753 untuk Fungi dan Fungi pembentuk Lichenes
31 Desember 1801 untuk jamur bangsa Uredinales, Ustilaginales dan
Gasteromycetes yang dipakai oleh Persoon
1 Januari 1821 untuk Fungi Caeteri, selain Myxomycetes dan jamur
pembentuk Lichenes
1 Mei 1753 untuk Algae
1 Januari 1892 untuk Nostocaceae Homocysteae
1 Januari 1886 untuk Nostocaceae Heterocysteae
1 Januari 1848 untuk Desmidiaceae
1 Januari 1900 untuk Oedogoniaceae
Bagi tumbuhan yang telah bersifat fosil, 31 Desember 1820 untuk semua
golongan.
Bab III Tatanama takson sesuai dengan tingkatnya
Nama-nama ilmiah untuk takson tingkat mana pun lazin ditulis dengan
menggunakan huruf besar (capital) untuk huruf pertama setiap nama. Bab III ini
terdiri atas 13 pasal yang dikelompokkan ke dalam 6 seksi.
Seksi I dalam bab ini terdiri atas Pasal 16 dan 17 diberi judul “nama-nama
takson di atas tingkat suku” dan di dalamnya terdapat butir-butir penting sebagai
berikut:

 Bahwa untuk takson di atas tingkat suku tidak diterapkan metode tipe, dan
bahwa asas prioritas tidak berlaku baginya.
 Bahwa nama-nama takson di atas tingkat suku automatis dapat disebut
mempunyai tipe tatanama bila nama-namanya didasarkan atas nama suatu
marga yang tergolong di dalamnya, ditambah dengan akhiran yang sesuai
untuk takson itu.
Namun demikian, bagi kelompok ini ada beberapa saran yang menyangkut
pemberian namanya yang pantas untuk mendapatkan perhatian, adalah:

9
 Untuk nama-nama divisi seyogyanya digunakan satu kata majemuk
berbentuk jamak yang diambilkan dari cirri khas yang berlaku untuk
semua warga divisi dengan ditambah akhiran –phyta, kecuali untuk jamur
yang disarankan untuk diberi akhiran –mycota.
 Untuk nama anak divisi melalui cara yang sama dengan diberi akhiran –
phytina dan untuk golongan jamur dengan akhiran –mycotina.
 Untuk nama-nama kelas juga dengan cara yang sama, namun disarankan
untuk menggunakan akhiran –phyceae bagi Algae, -mycetes bagi Fungi,
dan –opsida bagi Cormophyta.
 Untuk anak kelas pun demikian, akhirannya saja yang berbeda-beda, yaitu
–phycidae untuk Algae, -mycetidae untuk Fungi, dan –idae untuk
Cormophyta.
Seksi kedua Bab III yang memuat dua pasal (pasal 18 dan 19) membahas
masalah “nama-nama suku, anak suku, rumpun, dan anak rumpun”. Nama-nama
suku merupakan satu kata sifat yang diperlakukan sebagai kata benda yang
berbentuk jamak, biasanya diambil dari nama marga yang dipilih sebagai tipe
tatanamanya ditambah dengan akhiran –aceae, seperti misalnya: Malvaceae (dari
Malva+aceae).
Seksi III yang terdiri atas Pasal-pasal 20-22 membahas “nama-nama
marga dan takson-takson di bawahnya.” Terdiri atas 3 pasal dengan butir-butir
yang penting sebagai berikut:

 Nama marga merupakan kata benda berbentuk mufrad, atau kata lain yang
diperlakukan sebagai kata yang bersifat demikian, bahkan dapat dibentuk
dengan cara mana suka.
 Nama marga tidak dibenarkan berupa istilah yang lazim digunakan dalam
morfologi tumbuha, misalnya Radicula atau Tuber (yang masing-masing
berarti akar lembaga dan umbi), kecuali bila pemberian nama itu telah
terjadi sebelum 1 Januari 1912, dan pada waktu nama itu dipublikasikan
dilengkapi pula dengan nama jenis yang disusun sesuai dengan system
biner menurut Linnaeus.
 Nama marga tidak boleh terdiri atas dua kata, atau kedua kata itu harus
disatukan dengan tanda penghubung, misalnya Uva-ursi.
 Kata-kata yang tidak dimaksud sebagai nama marga tidak dapat dianggap
sebagai nama marga, seperti kata Anonymos.
Dalam pembentukan nama-nama marga ada sejumlah saran yang
dimohonkan perhatian, dan sedapat mungkin tidak dilanggar, antara lain:

 Agar sedapat mungkin menggunakan bentuk Latin


 Menghindarkan penggunaan kata-kata yang tidak mudah disesuaikan
dengan bahasa Latin
 Tidak menggunakan kata yang panjang dan sukar dilafalkan dalam bahasa
Latin
 Tidak menggunakan kata-kata yang merupakan gabungan kata dari bahasa
yang berlainan
10
 Bila mungkin, dengan pemberian akhiran tertentu menunjukkan
kekerabatan atau anlogi suatu marga dengan marga lain
 Menghindarkan penggunaan kata sifat sebagai kata benda
 Tidak menggunakan kata yang dijabarkan dari sebutan jenis yang
tergolong dalam marga itu
 Tidak menggunakan nama orang yang tidak ada kaitannya dengan dunia
ilmu tumbuhan
 Menggunakan sebagai nama marga potongan-potongan dari dua nama
marga lain.
Seksi IV Bab III “nama-nama jenis” hanya terdiri atas satu pasal, yaitu
Pasal 23, yang berisi ketentuan-ketentuan dan saran-saran tentang nama jenis,
memuat butir-butir penting berikut:

 Nama jenis adalah suatu kombinasi biner atau binomial yang terdiri atas
nama marga disusul dengan sebutan jenis, yang dalam penulisannya hanya
huruf pertamanya saja yang ditulis dengan huruf besar, bagian lainnya
termasuk sebutan jenisnya, semua ditulis dengan huruf kecil.
 Sebutan jenis dapat diambil dari sumber yang mana pun, bahkan dapat
dibentuk secara arbitrar.
 Lambang yang merupakan bagian sebutan jenis harus ditranskripsikan,
jadi nama Scandix pecten o L. harus ditulis Scandix pecten-veneris L.,
Veronica anagallis L. harus ditulis Veronica anagallis aquatica L.
 Sebutan jenis tidak boleh terdiri atas kata yang merupakan ulangan yang
sama atau hampir sama nama marga, dengan atau tanpa ditambah lambing
yang telah ditranskripsikan.
 Sebutan jenis yang merupakan kata sifat, harus diberi bentuk yang
menurut tata bahasa sesuai dengan jenis kelamin nama marganya,
misalnya: Aspergilllus niger, Sambucus nigra, Piper nigrum, Crocus
sativus, Oryza sativa, Triticum sativum. Aspergillus dan Crocus berjenis
kelamin jantan, Sambucus dan Oryza betina, sedangkan Piper dan
Triticum banci.
 Ada beberapa kata yang ditempatkan di belakang nama marga namun kata
itu tidak dianggap sebagai sebutan jenis, karena kata-kata itu memang
tidak dimaksud sebagai sebutan jenis, melainkan untuk menunjukkan
sesuatu hal/sifat mengenai tumbuhan yang dimaksud. Atriplex “nova”,
yang di sini kata “nova” hanya untuk menunjukkan bahwa tumbuhan yang
dimaksud adalah suatu jenis baru (nova) dalam marga Atriplex, yang
belum ada namanya.
 Angka: dalam huruf yang menyatakan nomor urut, misalnya Boletus
vicessimus sextus, Agaricus octogesimus nonus. Kata sextus (=keenam)
dan nonus (kesembilan) di sini dimaksud untuk menunjukkan jenis yang
ke-6 dan ke-9 dalam urutan dalam marga masing-masing, jadi tidak
merupakan bagian sebutan jenis.
 Kata-kata yang biasanya menunjukkan suatu sifat, yang termuat sebagai
sebutan jenis, namun belum secara konsisten digunakan sesuai dengan
system ganda menurut Linnaeus. Dalam nama Abutilon flore flvo, kata
11
“flore flavo” bukan suatu sebutan jenis, melainkan suatu deskripsi yang
menunjukkan salah satu ciri tumbuhan yang bersangkutan, ialah bahwa
tumbuhan iitu mempunyai bunga yang berwarna kuning (flore flavo=
berbunga kuning).
 Formula yang menunjukkan nama hibrida. Nama-nama hibrida yang juga
tampak bersifat ganda, bagian belakang kombinasi nama hibrida itu tidak
dapat dikatakan sebagai sebutan jenis, namun merupakan sebagian
formula yang merupakan nama hibrida, yang biasanya dicirikan dengan
adanya suatu tanda x (tanda perkalian=multiplication sign)
Seksi V Bab III yang terdiri atas pasal 24, 25, dan 26 memuat ketentuan-
ketentuan untuk “nama-nama takson di bawah tingkat jenis” (takson
infraspesifik). Ketentuan-ketentuan yang penting yang berkaitan dengan
pemberian nama-nama takson di bawah tingkat jenis (anak jenis, varitas, anak
varitas, forma dan anak forma), antara lain ialah:

 Nama takson di bawah tingkat jenis terdiri atas nama jenis dan suatu
sebutan yang dihubungkan dengan istilah untuk takson di bawah tingkat
jenis yang dimaksud, sehingga dengan demikian nama itu sekurang-
kurangnya terdiri atas empat kata, yaitu dua kata untuk nama jenis, satu
kata untuk sebutan takson di bawah tingkat jenis, dan satu kata yang
merupakan istilah untuk takson di bawah tingkat jenis (biasanya dalam
bentuk singkatan) yang dimaksud. Contoh: Pedilanthus tithymaloides
subspecies retusus; Hibiscus sabdariffa varietas alba; Trifolium stellatum
forma nanum.
 Sebutan untuk takson di bawah tingkat jenis, seperti halnya dengan
sebutan jenis, harus mempunyai bentuk yang dari segi tata bahasa
disesuaikan dengan jenis kelamin nama marganya.
 Kata-kata typcus, originalis, orginarius, genuinus, verus, dst, yang berarti
tipikal, asli, atau sungguh, dan dimaksud untuk menunjukkan bahwa
takson di bawah tingkat jenis itu memuat tipe tatanama takson yang berada
setingkat di atasnya, justru sebutan-sebutan itu tidak dibenarkan untuk
dipakai dan juga tidak dapat dipublikasikan.
 Penggunaan kombinasi ganda sebagai sebutan takson di bawah tingkat
jenis tidak dibenarkan, dan bila hal itu terjadi penulisannya harus
dibetulkan
 Takson-takson di bawah tingkat jenis yang tergolong dalam jenis yang
berbeda, dapat mempunyai sebutan yang sama dan takson di bawah
tingkat jenis dapat mempunyai sebutan yang sama dengan sebutan yang
digunakan untuk jenis lain di luar jenis yang membawahi takson tadi.
Seksi VI yang merupakan seksi terakhir dalam Bab III ini, berjudul “nama
tumbuhan budidaya”, yang hanya memuat satu pasal (Pasal 28) dan berisi
ketentuan-ketentuann berikut:

 Tumbuhan dari keadaan liar yang kemungkinan dibudidayakan ,


mempertahankan nama seperti yang diberikan kepada takson itu ketika

12
masih tumbuh di alam, misalnya untuk tebu namanya tetap Saccharum
officinarum.
 Hibrida atau bastar, baik yang putative maupun yamg merupakan hasil
pembastaran dengan sengaja, diberi nama sesuai dengan ketentuan-
ketentuan yang termuat dalam lampiran KITT tentang nama hibrida, yang
seluruhnya terdiri atas 12 pasal, yang dicirikan dengan tanda perkalian (x)
atau dengan penggunaan awalan “Noto-“, misalnya: x Agropogon (bastar
antar marga Agrostis x Polypogon).
 Unit-unit hasil kegiatan dalam pertanian yang tercakup dalam istilah
pemuliaan, lazimnya disebut sebagai kultivar, mempunyai tatanama yang
diatur dalam Kode Internasional Tatanama Tumbuhan Budidaya.
Bab IV Publikasi mangkus (efektif) dan publikasi sahih (berlaku)
Bab ini dibagi dalam 4 seksi yang seluruhnya mencakup 22 pasal (Pasal 29
sampai dengan 50). Adapun ketentuan-ketentuan yang perlu mendapat perhatian
kita antara lain:
Seksi I tentang “kondisi dan tanggal publikasi yang mangkus”, yang terdiri
atas tiga pasal (Pasal 29 sampai dengan 31):

 Di bawah KITT, publikasi hanya dianggap mangkus apabila merupakan


distribusi barang cetakan (melalui penjualan, tukar menukar, atau
pemberian) kepada khalayak umum atau sekurang-kurangnya kepada
lembaga-lembaga ilmu tumbuhan dengan perpustakaan yang terbuka bagi
ilmuwan tumbuhan pada umumya.
 Pemasaran barang cetakan yang tidak ada untuk dijual tidak merupakan
publikasi yang mangkus.
 Publikasi tulisan tangan yang tidak dapat dihapus merupakan publikasi
yang mangkus, bila hal itu terjadi sebelum 1 Januari 1953.
 Publikasi nama-nama dalam catalog dagang pada 1 Januari 1953 dan
setelah itu, demikian pula publikasi nama-nama dalam daftar tukar
menukar biji pada tanggal 1 Januari 1973 dan sesudahnya, merupakan
publikasi yang tidak dianggap mangkus.
 Tanggal publikasi yang mangkus adalah tanggal mulainya barang cetakan
itu tersedia bagi masyarakat. Bila tidak ada bukti lain, tanggal yang
disebut pada barang cetakan itu harus diterima sebagai tanggal
publikasinya yang benar.
 Bila makalah-makalah lepas dari suatu berkala atau karya lain yang
ditawarkan untuk dijual terbit lebih dulu, tanggal pada separat itu dianggap
sebagai tanggal publikasinya yang mangkus, kecuali bila kemudian
terbukti, bahwa tanggal tadi keliru.
 Mulai tanggal 1 Januari 1953 dan setelah itu distribusi barang cetakan
yang menyertai bahan kering tidak dapat dianggap sebagai publikasi yang
mangkus.
Seksi II, “kondisi dan tanggal publikasi nama yang sahih”

13
Seksi II Bab IV ini meliputi sampai 15 pasal (Pasal 32-46) yang berisi
ketentuan-ketentuan mengenai persyaratan dan aspek publikasi yang dapat
dinyatakan sebagai publikasi yang sahih (valid). Di antara butir-butir yang penting
yang mempunyai kaitan erat dengan masalh publikasi yang sahih itu adalah:

 Agar dapat terpublikasikan dengan sahih, nama suatu takson (kecuali bila
berupa autonima) harus memenuhi ketentuan-ketentuan berikut:
Telah dipublikasikan dengan cara yang mangkus pada tanggal mulai
berlakunya tatanama yang diakui bagi kelompok yag bersangkutan, atau
dipublikasikan setelah tanggal tersebut.
Mempunyai bentuk yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk
tingkat takson masing-masing.
Disertai candra atau diagnosis yang pernah dipublikasikan secara mangkus
sebelumnya.
Sesuai dengan ketentuan-ketentuan khusus seperti termuat dalam Pasal-
pasal 33-45.
 Nama yang dipublikasikan dengan sahih melalui rujukan dengan deskripsi
atau diagnosis yang dipublikasikan sebelumnya, mempunyai sebagai tipe
tatanamanya suatu unsure yang dipilih sesuai dengan bunyi candra atau
diagnosis, yang menyebabkan nama tadi dapat dipublikasikan dengan
sahih.
 Diagnosis suatu takson merupakan suatu candra yang pendek yang
menurut penulisnya dapat digunakan untuk membedakan takson itu dari
takson yang lain, yang berarti dapat digunakan untuk mengidentifikasikan
takson tadi tanpa kemungkinan kekeliruan dengan takson lain.
 Rujukan tidak langsung merupakan petunjuk yang jelas, melalui sitasi
penulisnya atau dengan cara lain, bahwa untuk kesahihan publikasi suatu
nama, dapat digunakan candra atau diagnosis yang pernah diterbitkan
sebelumnya.
 Nama yang dipublikasikan dengan bentuk bahasa Latin yang salah, tetapi
selain itu telah sesuai dengan KITT, dianggap telah dipublikasikan dengan
sahih, namun kesalahnnya harus diperbaiki tanpa mengubah nama
pencipta dan tanggal publikasinya.
 Autonima dianggap sebagai nama yang dipublikasikan dengan sahih, sejak
diterbitkannya karya yang memuat nama itu untuk pertama kali.
Seksi III Sitasi nama pencipta (author’s name) dan pustaka demi
ketepatan.
Dalam karya-karya ilmiah, nama-nama takson tingkat suku ke bawah
seringkali diikuti dengan satu nama atau lebih yang lazimnya ditulis dalam bentuk
singkatan. Pemberi nama atau pencipta nama itu dalam pustaka berbahasa asing
disebut “author” (Inggris), “auteur” (Belanda), “autor” (Jerman), yang kata-kata
itu sebenarnya berarti penulis. Contoh nama takson dengan penciptanya adalh
seperti di bawah ini:
1. Rosaceae Juss.
2. Rosa L.
14
3. Rosa gallica L.
4. Adiantum lunulatum Burm. F.
Pada contoh-contoh di atas Rosaceae merupakan nama suku yang
diciptakan oleh de Jussieu (seorang ahli taksonomi Prancis), yang di situ nama de
Jussieu disingkat Juss.
Pasal 46 KITT menyatakan bahwa pencantuman nama pencipta bertujuan agar:
 Nama ilmiah disebut dengan lebih akurat dan lebih lengkap.
 Tersedia suatu sarana untuk melakukan verivikasi mengenai tanggal
publikasi nama dan memungkinkan seseorang yang berminat terhadap
takson itu membaca candra atau diagnosis orisinal yang dibuat oleh
pencipta nama tadi.
Seksi IV Bab IV Saran-saran umum mengenai sitasi
Dalam hubungannya dengan masalah sitasi nama-nama dalam seksi ini
terdapat beberapa saran atau anjuran, antara lain:

 Sitasi nama yang dipublikasikan sebagai sinonima, kata “sebagai


sinonima” atau “pro syn.” harus ditambahkan, dan bila seorang penulis
mempublikasikan sebagai sinonima nama dari suatu naskah tulisan lain
orang, dalam sitasi itu harus digunakan kata “ex” untuk menghubungkan
nama orang yang dikutip dan nama pengutipnya.
 Dalam mengutip suatu “nama telanjang”, agar ditambahkan kata-kata
“nomen nodum” atau disingkat “nom. nud”.
 Sitasi homonima yang lebih muda harus diikuti dengan nama pencipta
homonima yang lebih tua yang didahului dengan kata “non”.
 Nama yang merupakan hasil identifikasi yang keliru, seyogyanya tidak
dimasukkan sebagai sinonima tetapi ditambahkan di belakangnya.
Penggunaannya harus ditunjukkan dengan kata-kata “auct. non” diikuti
oleh nama penciptanya yang asli dan rujukan pustaka yang memuat
identifikasi yang salah tadi.
 Bila nama marga atau nama jenis diterima sebagai nama yang dilestarikan
di belakang nama-nama itu harus ditambahkan kata-kata “nomen
conservandum” yang biasnya disingkat dengan “nom. cons.”
Bab V Retensi (pelestarian), pemilihan, dan penolakan nama serta sebutan
Seksi I. pelestarian nama atau sebutan pada takson yang diubah atau
dipecah.
Dalam KITT ada tiga pasal (51-53) yang memuat ketentuan-ketentuan
yang bertalian dengan masalah-masalah seperti tercermin dari judul Bab IV dan
Seksi I ini, yang berbunyi:

15
 Perubahan cirri-ciri diagnostic atau sirkumskripsi suatu takson tidak
menjamin terjadinya perubahan namanya, kecuali bila hal itu dituntut
sebagai akibat adanya:
Pemindahan ke takson lain
Penggabungan dengan takson lain yang setinkat
Perubahan tingkt takson itu
 Bila suatu marga dibagi menjadi dua marga atau lebih, nama marga yang
lama (bila nama marga itu merupakan nama yang benar harus
dipertahankan untuk salah satu marga baru yang merupakan pecahannya),
yaitu untuk tetap mencakup tipe tatanama marga yang asli, sedang untuk
pecahan yang lain harus ditemukan tipe tatanama baru yang lain bagi
masing-masing.
 Bila suatu jenis dipecah menjadi dua jenis atau lebih, sebutan jenisnya
harus dipertahankan bagi pecahan yang sebagai tipe tatanamnya tetap
mempertahankan tipe tatanama seberlumnya.
Seksi II Retensi sebutan jenis atau takson lain di bawah tingkat marga
pada pemindahan ke marga lain (pasal-pasal 54-56)
Bila bagian suatu marga dipindahkan ke marga lain atau ditempatkan di
bawah nama lain untuk marga yang sama tanpa perubahan tingkat, sebutan untuk
nama yang benar sebelumnya harus dipertahankan, kecuali bila terdapat
perintang-perintang sebagai berikut:

 Kombinasi nama yang terjadi merupakan suatu nama yang sebelumnya


telah dipublikasikan dengan sahih untuk suatu bagian marga yang
didasrkan pada tipe tatanama yang lain.
 Terdapat sebutan untuk nama sah yang lebih tua
 Sesuai dengan ketentuan dalam pasal 21 dan 22 harus digunakan sebutan
yang lain.
Seksi III bab IV “pemilihan nama pada penggabungan takson yang
setingkat”
Seksi yang hanya memuat atas dua pasal ini (Pasal 57 dan 58), memuat
ketentuan-ketentuan yang menyatakan bahwa:

 Bila dua takson atau lebih yang setingkat digabungkan, nama yang harus
dipakai untuk takson hasil penggabungan itu adalah nama tertua yang sah
dari nama-nama takson yang digabungkan itu.
 Untuk hasil penggabungan dua takson atau lebih (yang merupakn takson
di bawah tingkat marga) nama yang harus digunakan adalah nama dengan
sebutan yang tertua dan sah.
Seksi V Pemilihan nama pada perubahan tingkat takson
Seksi ini terdiri atas dua pasal (60-61), dan antara lain memuat butir-butir
berikut:

16
 Dalam keadaan yang bagaimanapun prioritas suatu nama tidak dapat
dipersoalkan di luar tingkatnya.
 Bila suatu takson tingkat suku atau di bawahnya diubah ke tingkat pada
tingkat yang baru itu, dan bila hal itu tidak ada, nama sebelumnya dapat
dipertahankan dengan mengganti akhirannya agar sesuai dengan ketentuan
yang berlaku untuk nama takson di tingkatnya yang baru itu.
Seksi VI Penolakan nama dan sebutan
Seksi ini terdiri atas sejumlah pasal (Pasal 62-72), dan di antara butir-butir
yang penting adalah:

 Sebutan atau nama yang sah tidak dapat ditolak hanya karena nama atau
sebutan itu dianggap tidak tepat atau tidak dapat diterima, atau karena ada
nama atau sebutan lain yang lebih disukai atau lebih dikenal.
 Nama-nama jenis atau suatu bagian di bawah marga yang ditempatkan di
bawah suatu marga, yang namnya merupakan homonima lebih muda yang
dilestarikan, dan yang sebelumnya ditempatkan pada marga dengan nama
yang merupakn homonima yang ditolak, nama marga yang merupakan
homonima yang dilestarikan adalah nama yang sah tanpa perubahan nama
penciptanya, selama di bawah ketentuan itu tidak ada lain penghalang.
 Suatu nama merupakan nama yang tidak sah dan oleh karena iru harus
ditolak, bila nama itu pada waktu dipublikasikan merupakan nama yang
berlebihan.
 Suatu homonima, yaitu nama dengan ejaan yang persis sama dengan nama
yang telah digunakan untuk takson lain dengan tipe ttanama yang berbeda,
merupakan nama yang tidak sah dan harus ditolak, kecuali bila homonima
yang lebih muda itu merupakan nama yang dilestarikan atau diakui karena
misalnya telah lama biasa dipakai atau dikenal.
 Dua nama marga atau lebih, demikian pula nama jenis atau takson di
bawah tingkat jenis, dengan tipe tatanama yang berbeda, tetapi memiliki
nama yang sangat mirip sehingga besar kemungkinannya untuk terjadinya
kekeliruan.
 Nama-nama bagian suatu marga yang sama atau dua takson di bawah satu
jenis yang tergolong dalam jenis yang sama, meskipun bagian-bagian itu
terholong dalam takson yang berbeda tingkatnya, diperlakukan sebagai
homonima bila nama-nama tadi mempunyai sebutan yang sama dan tidak
didasrkan pada tipe tatanama yang sama.
 Bila dua homonima atau lebih mempunyai prioritas yang sama, homonima
pertama yang diterima oleh seorang penulis dan sekaligus menolak
homonima yang lain, diperlakukan sebagai homonima dengan prioritas
paling tinggi dan harus dipertahankan.
 Pertimbangan mengenai homonima tidak berlaku untuk nama takson yang
tidak diperlakuakn sebagai tumbuhan.
 Nama suatu bagian marga merupakan nama yang tidak sah dan harus
ditolak bila nama itu dipublikasikan bertentangan dengan pasapl-pasal

17
yang menyatakan bahwa pwnulis tidak menggunakan sebutan yang
tersedia pada nama yang sah yang tertua untuk takson yang bersangkutan.
 Nama suatu jenis tidak dapat dinyatakan tidak sah hanya karena
sebutannya pernah digunakan dalam kombinasi nama yang tidak sah.
 Suatu nama dapat dianggap sebagai nama yang ditolak, bila nama itu
secara luas dan terus-menerus digunakan untuk takson yang tidak
mencakup tipe tatanamanya.
 Nama-nama yang ditolak harus diganti dengan nama yang dalam tingkat
takson yang bersangkutan mempunyai prioritas.
Bab VI Penulisan (ejaan) nama-nama dan sebutan yang benar dan kelamin
(gender) nama-nama marga
Seksi I Penulisan (ejaan) nama dan sebutan yang benar
Seksi I bab VI terdiri atas tiga pasal (73-75) memuat hal yang sesuai
dengan judulnya menyangkut penulisan nama-nama serta sebutan-sebutan dengan
cara yang tepat.

 Ejaan asli suatu nama atau sebutan harus dipertahankan, kecuali bila
terdapat salah ketik/cetak atau salah eja.
 Kebebasan untuk membetulkan penulisan nama yang salah harus
dilakukan dengan hati-hati, lebih-lebih bila perbaikan itu akan
berpengaruh terhadap suku kata pertama, dan lebih dari itu mempengaruhi
huruf pertama suatu nama.
 Bila suatu nama atau sebutan dipublikasikan dalam suatu karya yang huruf
u dengan v, i dengan j, digunakan secara bergantian, seyogyanya dipilih
yang menurut kelaziman dalam praktek lebih banyak digunakan.
 Dalam penulisan nama-nama ilmiah tidak digunakan tanda-tanda diakritik.
 Penggunaan bentuk kata majemuk yang salah dalam suatu sebutan
diperlakukan sebagai salah ejaan yang harus dibetulkan.
 Penggunaan tanda hubung dalam suatu sebutan yang merupakan kata
majemuk dengan awalan yang tidak dapat berdiri sendiri diperlakukan
sebagai kesalahan ejaan yang harus dibetulkan.
 Sebutan jenis dan takson di bawah tingkat jenis yang terdiri atas dua kata
yang dapat berdiri sendiri harus ditulis dengan tanda penghubung atau
digabung menjadi satu kata.
Seksi II Bab VI Jenis kelamin (gender) nama-nama marga
Kata-kata benda menurut tata bahasa Latin mempunyai satu di antara tiga
kemungkinan jenis kelamin, yaitu: jantan (masculinum), betina (feminum), banci
(neutrum). Karena nama marga merupakan kata benda, maka nama-nama marga
pun mempunyai jenis kelamin, yang sesuai dengan kaidah tata bahasa Latin.
Nama-nama Hibrida
Khusus untuk tumbuhan yang merupakan hibrida ketentuan-ketentuan
yang mengatur tatanamanya terdapat sebagai salah satu Lampiran KITT yang
18
dalam KITT hasil Muktamar Internasional ke-XIII di Sidney memuat 12 pasal
dengan kode H.

 Pada nama hibrida, sifat hibrida dicirikan dengan tanda perkalian (x) atau
dengan penggunaan awalan “notho”, yang berasal dari bahasa Yunani
“nothos”=hibrida atau bastar.
 Hibrida antara dua takson yang diketahui namanya dapat ditunjukkan
dengan menempatkan tanda perkaian di antara kedua nama takson yang
menghasilkan hibrida itu.
 Hibrida yang berasal dari dua takson atau lebih dapat diberi nama
tersendiri (bukan formula). Sifatnya sebagai hibrida juga dicirikan dengan
penempatan tanda perkalian (x).

19
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kode Internasional Tatanama Tumbuhan merupakan peraturan


internasional yang mengatur tatanama ilmiah tumbuhan. Tujuan diciptakannya
KITT adalah untuk menyediakan metode yang mantap dalam pemberian nama
takson-takson tumbuhan dengan menghindarkan dan menolak penggunaan nama-
nama yang dapat menimbulkan kekeliruan atau keraguan atau mengacaukan ilmu
pengetahuan. Pada bagian Mukadimah KITT memuat 10 butir yang penting. Kode
internasional Tatanama Tumbuhan mempunyai 6 asas. Pada bagian peraturan-
peraturan dan saran-saran KITT, bagian ini terdiri atas 75 pasal yang
dikelompokkan dalam sejumlah bab dan setiap bab selanjutnya dapat dibagi lagi
dalam seksi.

B. Saran

Kepada para pembaca kalau ingin lebih mengetahui tentang bahasan ini
bisa membaca buku atau majalah-majalah serta di situs-situs internet yang
memuat pembahasan tentang botani tumbuhan tinggi.

20
Daftar Pustaka

- Achmad, Arwin dan Tri Jalmo. 2002. Biologi Umum. Lampung :


Universitas Lampung

- Hasnunidah, Neni. 2007. Buku Ajar Botani Tumbuhan Rendah. Lampung


: Universitas Lampung

- Tjitrosoepeomo, G. 1991. Taksonomi Umum.Yogyakarta : Gadjah Mada


University Press

- Anonimous.2011. Kode Internasional Tatanama


Tumbuhan.https://swelf3424.wordpress.com/2011/10/25/kode-
internasional-tatanama-tumbuhan/ diakses pada 26 Oktober 2019

21