Anda di halaman 1dari 13

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

CHOLELITHIASIS
DIRUANG 28 RSUD DR. SAIFUL ANWAR
MALANG

Disusun Oleh :
Kelompok 7
1. Mutmin Ansari
2. Bella Chintia
3. Thalia Hana Septiara Mulyana

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2019
SAP DAMPAK KEMOTERAPI

Pokok pembahasan : Cholelithiasis

Sasaran : Pasien, keluarga pasien, dan pengunjung (minimal 10 orang)

Tempat : Ruang 28 RSSA Malang

Hari / tanggal : Kamis, 20 Juni 2019

Waktu : 10.00 WIB s.d selesai

Penyuluh : Mahasiswa Profesi Ners FIKES UMM

Latar Belakang

Penyakit batu empedu (cholelithiasis) sudah merupakan masalah kesehatan yang penting di
negara barat sedangkan di Indonesia baru mendapatkan perhatian di klinis, sementara publikasi penelitian
batu empedu masih terbatas (Sudoyo, 2007). Dalam “Third National Health and Nutrition Examination
Survey” (NHANES III), prevalensi cholelithiasis di Amerika Serikat pada usia pasien 30-69 tahun adalah
7,9% pria dan 16,6% wanita, dengan peningkatan yang progresif setelah 20 tahun. Sedangkan Asia
merupakan benua dengan angka kejadian cholelithiasis rendah, yaitu antara 3% hingga 15% , dan sangat
rendah pada benua Afrika, yaitu kurang dari 5% (Greenberger, 2009).

Insidensi cholelithiasis di negara barat adalah 20% dan banyak menyerang dewasa dan usia
lanjut. Sebagian besar cholelithiasis tidak bertanda dan bergejala. Sedangkan di Indonesia angka kejadian
cholelithiasis tidak jauh berbeda dengan angka kejadian di negara lain di Asia Tenggara, dan sejak tahun
1980 cholelithiasis identik dengan pemeriksaan ultrasonografi (De Jong, Syamsuhidajat, 2005). Di negara
barat 10-15% pasien dengan batu vesica fellea juga disertai batu saluran empedu. Pada beberapa keadaan,
batu saluran empedu dapat terbentuk primer di dalam saluran empedu intra atau ekstra hepatik tanpa
melibatkan vesica fellea. Batu saluran empedu primer banyak ditemukan pada pasien di wilayah Asia
dibandingkan dengan pasien di negara barat (Sudoyo, 2007).

Tindakan kolekistektomi termasuk salah satu tindakan bedah digesti yang paling sering dilakukan
(Raymond, 2007). Sekitar 5,5 juta penderita batu empedu ada di Inggris dan 50.000 kolesistektomi
dilakukan setiap tahunnya. Kasus batu empedu sering ditemukan di Amerika, yaitu pada 10 sampai 20%
penduduk dewasa. Setiap tahun beberapa ratus ribu penderita ini menjalani pembedahan. (De Jong,
Syamsuhidajat, 2005).
Cholelithiasis banyak ditemukan pada wanita dan makin bertambah dengan meningkatnya usia.
Prevalensi cholelithiasis bervariasi secara luas di berbagai negara dan diantara kelompok-kelompok etnik
yang berbeda-beda pada satu negara. Faktor gaya hidup seperti diet, obesitas, penurunan berat badan dan
aktivitas tubuh yang rendah juga berpengaruh (Sulaiman, et al, 2007). Prevalensi cholelithiasis lebih
rendah dari kejadian sebenarnya, sebab sekitar 90% bersifat asimtomatik (Patrick, 2003). Di Indonesia
cholelithiasis banyak ditemukan mulai dari usia muda di bawah 30 tahun, meskipun ratarata tersering
ialah 40-50 tahun. Pada usia diatas 60 tahun, insidensi cholelithiasis meningkat (De Jong, Syamsuhidajat,
2005).

Ultrasonografi (USG) merupakan modalitas penunjang yang murah, tidak invasif, aman dan
tersedia dengan potensi sangat akurat untuk pencitraan pada pasien suspect cholelithiasis (Raymond,
2007). Pemeriksaan ultrasonografi pada perut kanan atas merupakan suatu metode pilihan untuk
mendiagnosis cholelithiasis. Tingkat sensitivitasnya lebih dari 95% untuk mendeteksi cholelithiasis
dengan diameter 1,5 mm atau lebih. (Greenberger, 2009).

Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penyuluhan mengenai “Penyakit
Cholelithiasis”

A. Tujuan Instruksional
1.1 Tujuan Instruksional Umum
Setelah dilakukan penyuluhan diharapkan keluarga pasien mampu memahami dan
mengerti tentang penyakit Cholelithiasis.
1.2 Tujuan Instruksional Khusus
Setelah dilakukan penyuluhan, keluarga pasien mampu :

1. Mengetahui pengertian Cholelithiasis


2. Mengetahui penyebab Cholelithiasis
3. Mengetahui tanda gejala Cholelithiasis
4. Mengetahui pemeriksaan Cholelithiasis
5. Mengetahui penanganan atau perawatan dari Cholelithiasis
B. Sasaran
Sasaran penyuluhan adalah pasien, keluarga pasien, dan pengunjung di Ruang 28 RSSA
Malang (minimal 10 orang)
C. Metode
Metode penyuluhan yang digunakan adalah ceramah dan tanya jawab
D. Media
Media yang digunakan saat penyuluhan adalah presentasi PPT dan leaflet
E. Kegiatan Penyuluhan
Kegiatan
Waktu Tahap Kegiatan Penyuluh Sasaran
1. Membuka acara dan 1. Membalas salam
mengucapkan salam.
3 menit Pembukaan
2. Menyampaikan tujuan 2. Memperhatikan
Penkes kepada sasaran.
3. Kontrak waktu untuk 3. Menyetujui kesepakatan
kesepakatan waktu
penyelenggaraan Penkes.
1. Menjelaskan materi 1. Mendengarkan penyuluh
tentang penyakit menyampaikan materi
10 menit Pelaksanaan
Cholelithiasis kepada
keluarga pasien dengan
menggunakan media
PPT dan leaflet.
2. Memberikan kesempatan 2. Memberikan pertanyaan
bertanya atau feedback
kepada keluarga pasien.
5 menit Evaluasi 1. Mengevaluasi keluarga 1. Menjelaskan kembali
pasien dengan meminta materi
keluarga pasien
menjelaskan kembali
materi penyuluhan.
2. Menyimpulkan materi 2. Memperhatikan
penyuluhan yang
diberikan.
3. Diharapkan keluarga 3. Memperhatikan
pasien memahami 50%
materi penyuluhan.
1. Mengucapkan 1. Memperhatikan
terimakasih atas
2 menit Penutup
partisipasi keluarga
pasien.
2. Mengucapkan salam 2. Menjawab salam
3. Membagikan leaflet. 3. Menerima leaflet
F. Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
a. Pengorganisasian dilaksanakan sebelum pelaksanaan kegiatan.
b. Kontrak dengan keluarga pasien H-1, diulangi kontrak pada hari H.
c. Keluarga pasien hadir ditempat penyuluhan sesuai kontrak yang disepakati
2. Evaluasi Proses
Peserta antusias dalam menyimak uraian materi penyuluhan dan bertanya apabila ada
yang dianggap kurang dimengerti.
3. Evaluasi Hasil
a. Seluruh peserta kooperatif selama proses diskusi ditunjukkan dengan 30% bertanya
atau mengklarifikasi.
b. 60-70% mampu menjawab pertanyaan dan memahami pengertian sampai dengan hal-
hal yang harus diperhatikan terkait dengan penyakit Cholelithiasis.
Tidak ada peserta yang meninggalkan tempat penyuluhan sebelum acara penyuluhan
berakhir kecuali ada kepentingan yang tidak bisa diwakilkan
G. Materi (lampiran 1)
H. Daftar Pustaka (lampiran 2)
Lampiran 1. Materi

A. Definisi
Kolelitiasis adalah penyakit batu empedu yang dapat ditemukan di dalam kandung
empedu atau di dalam saluran empedu, atau pada kedua-duanya. Sebagian besar batu
empedu, terutama batu kolesterol, terbentuk di dalam kandung empedu.
Kandung empedu adalah sebuah kantung terletak di bawah hati yang
mengonsentrasikan dan menyimpan empedu sampai ia dilepaskan ke dalam usus.
Kebanyakan batu duktus koledokus berasal dari batu kandung empedu, tetapi ada juga
yang terbentuk primer di dalam saluran empedu.
Batu empedu bisa terbentuk di dalam saluran empedu jika empedu mengalami aliran
balik karena adanya penyempitan saluran. Batu empedu di dalam saluran empedu bisa
mengakibatkan infeksi hebat saluran empedu (kolangitis). Jika saluran empedu tersumbat,
maka bakteri akan tumbuh dan dengan segera menimbulkan infeksi di dalam saluran.
Bakteri bisa menyebar melalui aliran darah dan menyebabkan infeksi di bagian tubuh
lainnya.
Adanya infeksi dapat menyebabkan kerusakan dinding kandung empedu, sehingga
menyebabkan terjadinya statis dan dengan demikian menaikkan batu empedu. Infeksi
dapat disebabkan kuman yang berasal dari makanan. Infeksi bisa merambat ke saluran
empedu sampai ke kantong empedu. Penyebab paling utama adalah infeksi di usus.
Infeksi ini menjalar tanpa terasa menyebabkan peradangan pada saluran dan kantong
empedu sehingga cairan yang berada di kantong empedu mengendap dan menimbulkan
batu. Infeksi tersebut misalnya tifoid atau tifus. Kuman tifus apabila bermuara di kantong
empedu dapat menyebabkan peradangan lokal yang tidak dirasakan pasien, tanpa gejala
sakit ataupun demam. Namun, infeksi lebih sering timbul akibat dari terbentuknya batu
dibanding penyebab terbentuknya batu. (Albab, 2015)
B. Etiologi
Batu Empedu hampir selalu dibentuk dalam kandung empedu dan jarang dibentuk
pada bagian saluran empedu lain. Etiologi batu empedu masih belum diketahui. Satu
teori menyatakan bahwa kolesterol dapat menyebabkan supersaturasi empedu di
kandung empedu. Setelah beberapa lama, empedu yang telah mengalami supersaturasi
menjadi mengkristal dan mulai membentuk batu. Akan tetapi, tampaknya faktor
predisposisi terpenting adalah gangguan metabolisme yang menyebabkan terjadinya
perubahan komposisi empedu, stasis empedu, dan infeksi kandung empedu. Berbagai
faktor yang mempengaruhi pembentukan batu empedu, diantaranya (Albab, 2015):
1. Eksresi garam empedu : Setiap faktor yang menurunkan konsentrasi berbagai garam
empedu atau fosfolipid dalam empedu. Asam empedu dihidroksi atau dihydroxy bile
acids adalah kurang polar dari pada asam trihidroksi. Jadi dengan bertambahnya kadar
asam empedu dihidroksi mungkin menyebabkan terbentuknya batu empedu.
2. Kolesterol empedu : Apa bila binatang percobaan di beri diet tinggi kolestrol,
sehingga kadar kolesrtol dalam vesika vellea sangat tinggi, dapatlah terjadi batu
empedu kolestrol yang ringan. Kenaikan kolestreol empedu dapat di jumpai pada
orang gemuk, dan diet kaya lemak.
3. Substansia mucus : Perubahan dalam banyaknya dan komposisi substansia mukus
dalam empedu mungkin penting dalam pembentukan batuempedu.
4. Pigmen empedu : Pada anak muda terjadinya batu empedu mungkin disebabkan
karena bertambahnya pigmen empedu. Kenaikan pigmen empedu dapat terjadi
karena hemolisis yang kronis. Eksresi bilirubin adalah berupa larutan bilirubin
glukorunid.
5. Infeksi : Adanya infeksi dapat menyebabkan krusakan dinding kandung empedu,
sehingga menyebabkan terjadinya stasis dan dengan demikian menaikan
pembentukan batu.
C. Faktor Resiko
Faktor resiko untuk kolelitiasis, yaitu (Albab, 2015):
1. Usia : Risiko untuk terkena kolelitiasis meningkat sejalan dengan bertambahnya usia.
Orang dengan usia > 40 tahun lebih cenderung untuk terkena kolelitiasis
dibandingkan dengan orang dengan usia yang lebih muda.
2. Jenis kelamin : Wanita mempunyai risiko dua kali lipat untuk terkena kolelitiasis
dibandingkan dengan pria. Ini dikarenakan oleh hormon esterogen berpengaruh
terhadap peningkatan eskresi kolesterol oleh kandung empedu..
3. Berat badan (BMI) : Orang dengan Body Mass Index (BMI) tinggi, mempunyai resiko
lebih tinggi untuk terjadi kolelitiasis. Ini dikarenakan dengan tingginya BMI maka
kadar kolesterol dalam kandung empedu pun tinggi, dan juga mengurasi garam
empedu serta mengurangi kontraksi/pengosongan kandung empedu.
4. Makanan : Konsumsi makanan yang mengandung lemak terutama lemak hewani
berisiko untuk menderita kolelitiasis. Kolesterol merupakan komponen dari lemak.
5. Aktifitas fisik : Kurangnya aktifitas fisik berhubungan dengan peningkatan resiko
terjadinya kolelitiasis. Ini mungkin disebabkan oleh kandung empedu lebih sedikit
berkontraksi.
6. Nutrisi intra-vena jangka lama : Nutrisi intra-vena jangka lama mengakibatkan
kandung empedu tidak terstimulasi untuk berkontraksi, karena tidak ada
makanan/nutrisi yang melewati intestinal. Sehingga resiko untuk terbentuknya batu
menjadi meningkat dalam kandung empedu.
D. Klasifikasi
Menurut gambaran makroskopis dan komposisi kimianya, batu empedu di
golongkankan atas 3 (tiga) golongan (Rekyan, 2015):
1. Batu kolesterol
Berbentuk oval, multifokal atau mulberry dan mengandung lebih dari 70%
kolesterol. Lebih dari 90% batu empedu adalah kolesterol (batu yang mengandung >
50% kolesterol). Untuk terbentuknya batu kolesterol diperlukan 3 faktor utama :
a. Supersaturasi kolesterol
b. Hipomotilitas kandung empedu
c. Nukleasi/ pembentukan nidus cepat.
2. Batu pigmen
Batu pigmen merupakan 10% dari total jenis baru empedu yang mengandung
<20% kolesterol. Jenisnya antara lain:
a. Batu pigmen kalsium bilirubinan (pigmen coklat)
Berwarna coklat atau coklat tua, lunak, mudah dihancurkan dan mengandung
kalsium-bilirubinat sebagai komponen utama. Batu pigmen cokelat terbentuk
akibat adanya faktor stasis dan infeksi saluran empedu. Stasis dapat disebabkan
oleh adanya disfungsi sfingter Oddi, striktur, operasi bilier, dan infeksi parasit.
Bila terjadi infeksi saluran empedu, khususnya E. Coli, kadar enzim
Bglukoronidase yang berasal dari bakteri akan dihidrolisasi menjadi bilirubin
bebas dan asam glukoronat. Kalsium mengikat bilirubin menjadi kalsium
bilirubinat yang tidak larut
b. Batu pigmen hitam.
Berwarna hitam atau hitam kecoklatan, tidak berbentuk, seperti bubuk dan
kaya akan sisa zat hitam yang tak terekstraksi. Batu pigmen hitam adalah tipe batu
yang banyak ditemukan pada pasien dengan hemolisis kronik atau sirosis hati.
Batu pigmen hitam initerutama terdiri dari derivat polymerized bilirubin.
Potogenesis terbentuknya batu ini belum jelas. Umumnya batu pigmen hitam
terbentuk dalam kandung empedu dengan empedu yang steril.
3. Batu campuran
Batu campuran antara kolesterol dan pigmen dimana mengandung 20-50%
kolesterol.
E. Manifestasi Klinik
Penderita batu empedu sering mempunyai gejala-gejala kolestitis akut atau kronik.
Bentuk akut ditandai dengan nyeri hebat mendadak pada abdomen bagian atas, terutama
ditengah epigastrium. Lalu nyeri menjalar ke punggung dan bahu kanan (Murphy sign).
Pasien dapat berkeringat banyak dan berguling ke kanan-kiri saat tidur. Nausea dan
muntah sering terjadi. Nyeri dapat berlangsung selama berjam-jam atau dapat kembali
terulang.
Gejala-gejala kolesistitis kronik mirip dengan fase akut, tetapi beratnya nyeri dan
tanda-tanda fisik kurang nyata. Seringkali terdapat riwayat dispepsia, intoleransi lemak,
nyeri ulu hati atau flatulen yang berlangsung lama. Setelah terbentuk, batu empedu dapat
berdiam dengan tenang dalam kandung empedu dan tidak menimbulkan masalah, atau
dapat menimbulkan komplikasi. Komplikasi yang paling sering adalah infeksi kandung
empedu (kolesistitis) dan obstruksi pada duktus sistikus atau duktus koledokus.
Obstruksi ini dapat bersifat sementara, intermitten dan permanent. Kadang-kadang batu
dapat menembus dinding kandung empedu dan menyebabkan peradangan hebat, sering
menimbulkan peritonitis, atau menyebakan rupture dinding kandung empedu (Rekyan,
2015).
F. Patofisiologi
Pembentukan batu empedu dibagi menjadi tiga tahap: (1) pembentukan empedu yang
supersaturasi, (2) nukleasi atau pembentukan inti batu, dan (3) berkembang karena
bertambahnya pengendapan. Kelarutan kolesterol merupakan masalah yang terpenting
dalam pembentukan semua batu, kecuali batu pigmen. Supersaturasi empedu dengan
kolesterol terjadi bila perbandingan asam empedu dan fosfolipid (terutama lesitin)
dengan kolesterol turun di bawah harga tertentu. Secara normal kolesterol tidak larut
dalam media yang mengandung air. Empedu dipertahankan dalam bentuk cair oleh
pembentukan koloid yang mempunyai inti sentral kolesterol, dikelilingi oleh mantel yang
hidrofilik dari garam empedu dan lesitin. Jadi sekresi kolesterol yang berlebihan, atau
kadar asam empedu rendah, atau terjadi sekresi lesitin, merupakan keadaan yang
litogenik.Pembentukan batu dimulai hanya bila terdapat suatu nidus atau inti
pengendapan kolesterol. Pada tingkat supersaturasi kolesterol, kristal kolesterol keluar
dari larutan membentuk suatu nidus, dan membentuk suatu pengendapan. Pada tingkat
saturasi yang lebih rendah, mungkin bakteri, fragmen parasit, epitel sel yang lepas, atau
partikel debris yang lain diperlukan untuk dipakai sebagai benih pengkristalan. (Schwartz
S, 2000 dalam Rekyan 2015).
Pigmen (bilirubin) tak terkonjugasi dalam empedu

Akibat berkurang atau tidak adanya enzim glokuronil tranferase

Presipitasi / pengendapan

Berbentuk batu empedu

Batu tersebut tidak dapat dilarutkan dan harus dikeluarkan dengan jalan operasi
G. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium : Batu kandung empedu yang asimptomatik biasanya tidak
menunjukkan kelainan pada pemeriksaan laboratorium. Apabila terjadi peradangan
akut, dapat terjadi leukositosis. Apabila terjadi sindroma mirizzi, akan ditemukan
kenaikan ringan bilirubin serum akibat penekanan duktus koledokus oleh batu. Kadar
bilirubin serum yang tinggi mungkin disebabkan oleh batu di dalam duktus
koledokus. Kadar serum alkali fosfatase dan mungkin juga amilase serum biasanya
meningkat sedang setiap kali terjadi serangan akut (Amri, 2017).
2. Foto Polos Abdomen : Foto polos abdomen biasanya tidak memberikan gambaran
yang khas karena hanya sekitar 10-15% batu kandung empedu yang bersifat radiopak.
Kadang-kadang empedu yang mengandung cairan empedu berkadar kalsium tinggi
dapat dilihat dengan foto polos. Pada peradangan akut dengan kandung empedu
yang membesar atau hidrops, kandung empedu kadang terlihat sebagai massa
jaringan lunak di kuadran kanan atas yang menekan gambaran udara dalam usus
besar, di fleksura hepatica (Amri, 2017).
3. Ultrasonografi (USG) : Ultrasonografi mempunyai kadar spesifisitas dan sensitifitas
yang tinggi untuk mendeteksi batu kandung empedu dan pelebaran saluran empedu
intra-hepatik. Dengan USG juga dapat dilihat dinding kandung empedu yang
menebal karena fibrosis atau udem yang diakibatkan oleh peradangan maupun sebab
lain. Batu yang terdapat pada duktus koledokus distal kadang sulit dideteksi karena
terhalang oleh udara di dalam usus. Dengan USG punktum maksimum rasa nyeri
pada batu kandung empedu yang ganggren lebih jelas daripada dengan palpasi biasa
(Amri, 2017).
4. Kolesistografi : Untuk penderita tertentu, kolesistografi dengan kontras cukup baik
karena relatif murah, sederhana, dan cukup akurat untuk melihat batu radiolusen
sehingga dapat dihitung jumlah dan ukuran batu. Kolesistografi oral akan gagal pada
keadaan ileus paralitik, muntah, kadar bilirubin serum di atas 2 mg/dl, obstruksi
pylorus dan hepatitis, karena pada keadaan-keadaan tersebut kontras tidak dapat
mencapai hati. Pemeriksaan kolesistografi oral lebih bermakna pada penilaian fungsi
kandung empedu (Amri, 2017).
H. Penatalaksanaan
Jika tidak ditemukan gejala, maka tidak perlu dilakukan pengobatan. Nyeri yang
hilang-timbul bisa dihindari atau dikurangi dengan menghindari atau mengurangi
makanan berlemak. Jika batu kandung empedu menyebabkan serangan nyeri berulang
meskipun telah dilakukan perubahan pola makan, maka dianjurkan untuk menjalani
pengangkatan kandung empedu (kolesistektomi). Pengangkatan kandung empedu tidak
menyebabkan kekurangan zat gizi dan setelah pembedahan tidak perlu dilakukan
pembatasan makanan. Pilihan penatalaksanaan antara lain (Amri, 2017):
1. Kolesistektomi terbuka
Operasi ini merupakan standar terbaik untuk penanganan pasien dengan
kolelitiasis simtomatik. Komplikasi yang paling bermakna yang dapat terjadi adalah
cedera duktus biliaris yang terjadi pada 0,2% pasien. Angka mortalitas yang
dilaporkan untuk prosedur ini kurang dari 0,5%. Indikasi yang paling umum untuk
kolesistektomi adalah kolik biliaris rekuren, diikuti oleh kolesistitis akut.
2. Kolesistektomi laparaskopi
Kolesistektomi laparoskopik mulai diperkenalkan pada tahun 1990 dan
sekarang ini sekitar 90% kolesistektomi dilakukan secara laparoskopi. 80-90% batu
empedu di Inggris dibuang dengan cara ini karena memperkecil resiko kematian
dibanding operasi normal (0,1-0,5% untuk operasi normal) dengan mengurangi
komplikasi pada jantung dan paru.
3. Disolusi medis
Zat disolusi hanya memperlihatkan manfaatnya untuk batu empedu jenis
kolesterol. Penelitian prospektif acak dari asam xenodeoksikolat telah
mengindikasikan bahwa disolusi dan hilangnya batu secara lengkap terjadi sekitar
15%. Jika obat ini dihentikan, kekambuhan batu tejadi pada 50% pasien. Disolusi
medis sebelumnya harus memenuhi criteria terapi non operatif diantaranya batu
kolesterol diameternya < 20 mm, batu kurang dari 4 batu, fungsi kandung empedu
baik dan duktus sistik paten. Kurang dari 10% batu empedu dilakukan cara ini an
sukses.
4. Disolusi kontak
Meskipun pengalaman masih terbatas, infus pelarut kolesterol yang poten
(Metil-Ter-Butil-Eter (MTBE)) ke dalam kandung empedu melalui kateter yang
diletakkan per kutan telah terlihat efektif dalam melarutkan batu empedu pada
pasien-pasien tertentu. Prosedur ini invasif dan kerugian utamanya adalah angka
kekambuhan yang tinggi (50% dalam 5 tahun).
5. Litotripsi Gelombang Elektrosyok (ESWL)
Sangat populer digunakan beberapa tahun yang lalu, analisis biaya-manfaat
pada saat ini memperlihatkan bahwa prosedur ini hanya terbatas pada pasien yang
telah benar-benar dipertimbangkan untuk menjalani terapi ini.
6. Kolesistotomi
Kolesistotomi yang dapat dilakukan dengan anestesia lokal bahkan di
samping tempat tidur pasien terus berlanjut sebagai prosedur yang bermanfaat,
terutama untuk pasien yang sakitnya kritis.
I. Komplikasi
Komplikasi untuk kolelitiasis, yaitu (Amri, 2017):
1. Kolesistitis
Kolesistitis adalah Peradangan kandung empedu, saluran kandung empedu
tersumbat oleh batu empedu, menyebabkan infeksi dan peradangan kandung
empedu.
2. Kolangitis
Kolangitis adalah peradangan pada saluran empedu, terjadi karena infeksi
yang menyebar melalui saluran-saluran dari usus kecil setelah saluran-saluran menjadi
terhalang oleh sebuah batu empedu.
3. Hidrops
Obstruksi kronis dari kandung empedu dapat menimbulkan hidrops
kandung empedu. Dalam keadaan ini, tidak ada peradangan akut dan sindrom yang
berkaitan dengannya. Hidrops biasanya disebabkan oleh obstruksi duktus sistikus
sehingga tidak dapat diisi
J. Pencegahan
1. Batu empedu diduga terbentuk akibat pengerasan kolesterol yang tertimbun dalam
cairan empedu. Karena itu, kita sebaiknya menerapkan pola makan yang sehat dan
seimbang serta menghindari konsumsi makanan yang mengandung lemak dan
kolestrerol tinggi. Contohnya:
 Makanan bersantan seperti rendang, kolak, serta ketupat sayur.
 Makanan berminyak seperti gorengan.
 Makanan yang terbuat dari kacang-kacangan seperti sambal kacang atau
bumbu sate.
 Kue dan camilan kripik.
2. Terlalu banyak mengonsumsi minuman keras juga dapat mempertinggi risiko.
3. Kelebihan berat badan atau obesitas merupakan salah satu faktor risiko yang dapat
menyebabkan komplikasi batu empedu. Karena itu, menjaga berat badan yang sehat
sangatlah penting.
4. Hindari diet ketat yang menuntut untuk mengonsumsi makanan rendah kalori dan
lemak saja. Penurunan berat badan secara drastis dalam waktu singkat juga dapat
mempertinggi risiko terbentuknya batu empedu.
Lampiran 2. Daftar Pustaka

DAFTAR PUSTAKA

Black, J. M & Hawks, J. H. (2005). Medical surgical nursing: clinical management for
positive outcomes. Missouri: Elsevier Saunders.

Price, S. A. (2006). Patofisiologi; konsep klinis proses-proses penyakit. Edisi 6. Jakarta:


EGC.