Anda di halaman 1dari 24

PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK PERILAKU KEKERASAN

DI RUANG ARIMBI RSJ PROVINSI BALI

OLEH :
KELOMPOK 22

Gilbert Satria Andika Suwarno 199012154


Kadek Dwi Regiana Sintha 199012190
Komang Vitasari Indriani 199012196
Nengah Dedy Erianto 199012209
Ni Kadek Putri Widiasih 199012217

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
WIRA MEDIKA BALI
2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perilaku kekerasan adalah perilaku individu yang dapat membahayakan orang,
diri sendiri baik secar fisik, emosional, dan atau sexualitas. Perilaku kekerasan atau agresif
merupakan suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik
maupun psikologis. Marah merupakan perasaan jengkel yang timbul sebagai respon terhadap
kecemasan, kebutuhan yang tidak terpenuhi yang dirasakan sebagai ancaman. Keberhasilan
individu dalam berespon terhadap kemarahan dapat menimbulkan respon asertif. Respon
menyesuaikan dan menyelesaikan merupakan respon adaptif. Kemarahan atau rasa tidak
setuju yang dinyatakan atau diungkapkan tanpa menyakiti orang lain akan memberi kelegaan
pada individu dan tidak akan menimbulkan masalah.
Kegagalan yang menimbulkan frustasi dapat menimbulkan respon pasif dan melarikan
diri atau respon melawan dan menantang. Respon melawan dan menantang merupakan
respon yang maladaptif yaitu agresif–kekerasan. Agresif adalah perilaku yang menyertai
marah dan merupakan dorongan untuk bertindak dalam bentuk destruktif dan masih
terkontrol. Amuk atau kekerasan adalah perasaan marah dan bermusuhan yang kuat disertai
kehilangan kontrol diri.
Salah satu terapi kelompok yang dapat dilakukan oleh perawat untuk meningkatkan
kemampuan komunikasi pada klien skizofrenia dengan PK/RPK adalah Terapi Aktivitas
Kelompok Stimulasi Persepsi adalah terapi yang menggunakan aktivitas sebagai stimulasi
dan terkait dengan pengalaman dan/atau kehidupan untuk didiskusikan dalam kelompok.
Hasil diskusi kelompok dapat berupa kesepakatan persepsi atau alternatif. Terapi aktivitas
kelompok ini secara signifikan memberi perubahan terhadap ekspresi kemarahan kearah yang
lebih baik pada klien dengan riwayat kekerasan. Pernyataan ini dapat dibuktikan dengan
adanya penurunan ekspresi kemarahan setelah dilakukan terapi aktivitas kelompok sebesar
60,4%.
Pada terapi aktivitas stimulasi persepsi ini klien dilatih mempersepsikan stimulus yang
disediakan atau stimulus yang pernah dialami. Kemampuan persepsi klien dievaluasi dan
ditingkatkan pada tiap sesi, dengan proses ini diharapkan respon klien terhadap berbagai
stimulus dalam kehidupan menjadi adaptif. Terapi aktivitas kelompok ini memberi hasil
kelompok menunjukkan loyalitas dan tanggung jawab bersama, menunjukkan partisipasi aktif
semua anggotanya, mencapai tujuan kelompok, menunjukkan teerjadinya komunikasi
antaranggota dan bukan hanya antara ketua dan anggota.
B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Klien dapat mengendalikan perilaku kekerasan yang biasa dilakukannya.
2. Tujuan Khusus
a. Klien dapat mengenal perilaku kekerasan yang biasa dilakukannya.
b. Klien dapat mencegah perilaku kekerasan melalui kegiatan fisik.
c. Klien dapat mencegah perilaku kekerasan melalui interaksi sosial.
d. Klien dapat mencegah perilaku kekerasan melalui kegiatan spiritual yang biasa
dilakukannya.
e. Klien dapat mencegah perilaku kekerasan dengan cara patuh minum obat
BAB II
RENCANA TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK

A. Topik
Mengurangi perilaku kekerasan yang telah dilakukan.

B. Tujuan
1. Klien dapat menyebutkan stimulasi penyebab kemarahannya
2. Klien dapat menyebutkan respon yang dirasakan saat marah (tanda dan gejala
marah).
3. Klien dapat menyebutkan reaksi yang dilakukan saat marah (prilaku kekerasan).
4. Klien dapat menyebutkan akibat perilaku kekerasan.

C. Landasan Teori
1. Pengertian
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan
tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik pada dirinya sendiri maupun
orang lain, disertai dengan amuk dan gaduh gelisah yang tidak terkontrol
(Kusumawati dan Hartono, 2010).
Jadi, perilaku kekerasan merupakan suatu keadaan individu yang melakukan
tindakan yang dapat membahayakan atau mencederai diri sendiri, orang lain bahkan
dapat merusak lingkungan.
2. Penyebab perilaku kekerasan
Perilaku kekerasan bisa disebabkan adanya gangguan harga diri : harga diri
rendah. Harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan
menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Dimana gangguan harga
diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang
kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan.
Frustasi, seseorang yang mengalami hambatan dalam mencapai tujuan atau
keinginan yang diharapkan menyebabkan ia menjadi frustasi. Ia merasa terancam dan
cemas. Jika tidak mampu menghadapi rasa frustasi itu dengan cara lain tanpa
mengendalikan orang lain dan sekitarnya misalnya dengan kekerasan.
3. Tanda dan gejala perilaku kekerasan
a. Muka merah dan tegang
b. Pandangan tajam
c. Mengatupkan rahang dengan kuat
d. Mengepalkan tangan
e. Jalan mondar-mandir
f. Bicara kasar
g. Suara tinggi, mejerit atau berteriak
h. Mengancam secara verbal atau fisik
i. Melempar atau memukul benda atau orang lain
j. Merusak barang atau benda
k. Tidak memiliki kemampuan mencegah atau mengendalikan perilaku kekerasan.

D. Klien
1. Kriteria
 Klien dengan RPK (resiko perilaku kekerasan)
 Klien yang tidak mengalami perilaku agresif atau mengamuk dan dalam
keadaan tenang
 Klien dapat diajak kerjasama (kooperatif)
2. Proses seleksi
 Membaca status klien (rekam medik)
 Wawancara untuk menentukan klien dengan RPK / PK
 Melakukan pengkajian untuk menentukan apakah klien kooperatif
 Seingga setelah dilakukan proses seleksi,terkumpulah 6 orang klien yang
memiliki respon yang belum optimal terhadap lingkungan.

E. Pengorganisasian
1. Waktu
a. TAK Stimulasi Sensori Sesi 1: Mengenal prilaku kekerasan yang biasa dilakukan
Hari/Tanggal : Kamis, 31 Oktober 2019
Jam : Pk. 11.00 – 11.30 WIB
b. TAK Stimulasi Sensori Sesi 2: Mencegah perilaku kekerasan fisik
Hari/Tanggal : Kamis, 31 Oktober 2019
Jam : Pk. 11.30 – 12.00 WITA
c. TAK Stimulasi Sensori Sesi 3: Mencegah perilaku kekerasan sosial
Hari/Tanggal : Kamis, 31 Oktober 2019
Jam : Pk. 12.00 – 12.30 WITA
d. TAK Stimulasi Sensori Sesi 4: Mencegah perilaku kekerasan spiritual
Hari/Tanggal : Jumat, 31 Oktober 2019
Jam : Pk. 12.30 13.00 WITA
e. TAK Stimulasi Sensori Sesi 5: Mencegah perilaku kekerasan dengan patuh
meminum obat
Hari/Tanggal : Kamis, 31 Oktober 2019
Jam : Pk. 13.00-13.30 WITA
2. Tempat
Ruang Arimbi Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bangli
3. Setting
Keterangan :

: Leader : Fasilitator

: Co Leader/observer : Peserta

Narasi
Peserta dan terapis duduk melingkar dimana fasilitator duduk berdampingan dengan
peserta. Co Leader/observer berada di luar lingkaran. Suasana ruangan tenang,
nyaman, dan aman.

4. Tim Terapis
a. Gilbert Satria Andika Suwarno
b. Kadek Dwi Regiana Sintha
c. Komang Vitasari Indriani
d. Nengah Dedy Erianto
e. Ni Kadek Putri Widiasih
5. Uraian Tugas Pelaksana
 Leader
a. Memimpin jalannya Terapi Aktivitas Kelompok
b. Merencanakan, mengontrol, dan mengatur jalannya terapi
c. Menyampaikan materi sesuai tujuan TAK
d. Memimpin diskusi kelompok
 Co Leader
a. Mendampingi leader
b. Mengambil alih posisi leader bila leader bloking
 Observer
a. Mencatat serta mengamati respon klien (dicatat pada format yang tersedia).
b. Mengawasi jalannya aktivitas kelompok dari mulai persiapan, proses, hingga
penutupan.
 Fasilitator
a. Ikut serta dalam kegiatan kelompok
b. Memberikan stimulus dan motivator pada anggota kelompok untuk aktif
mengikuti jalannya terapi
6. Metode
a. Dinamika kelompok
b. Diskusi dan tanya jawab
c. Permainan
7. Media
a. Buku catatan dan pulpen
b. Spidol
c. Papan tulis
d. Sound musik
e. Bola
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK

A. Topik : TAK STIMULASI PERSEPSI


SESI 1 : Mengenal prilaku kekerasan yang biasa dilakukan

B. Tujuan :
1. Klien dapat menyebutkan stimulasi penyebab kemarahannya
2. Klien dapat menyebutkan respon marah yang dirasakan (tanda dan gejala marah)
3. Klien dapat menyebutkan reaksi yang dilakukan saat marah (prilaku kekerasan)
4. Klien dapat menyebutkan akibat perilaku kekerasan

C. Pengorganisasian
1. Hari : Kamis
Tanggal : 31 Oktober 2019
Jam : Pk. 11.00 – 11.30 Wita
Waktu :
a. Orientasi : 5 menit
b. Kerja : 20 menit
c. Terminasi : 5 menit

2. Tim terapis :
a. Leader :
 Gilbert Satria Andika Suwarno
b. Co. Leader/Observer
Kadek Dwi Regiana Sintha
c. Fasilitator :
 Komang Vitasari Indriani
 Nengah Dedy Erianto
 Ni Kadek Putri Widiasih

3. Metode dan media


a. Metode
 Dinamika kelompok
 Diskusi dan tanya jawab
 Bermain peran/stimulasi
b. Media
 Kertas
 Pulpen (alat tulis)

D. Proses Pelaksanaan
1. Persiapan
a. Memilih klien PK yang sudak kooperatif
b. Membuat kontrak dengan klien
c. Mempersiapkan alat dan ruang pertemuan
2. Orientasi
a. Salam terapeutik
(1) Salam dari terapis kepada klien
(2) Perkenalkan nama dan panggilan terapis
(3) Menanyakan nama dan nama panggilan klien
b. Evaluasi/validasi
(1) Menanyakan perasaan klien saat ini
(2) Menanyakan masalah yang dirasakan saat ini
c. Kontrak
(1) Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu mengenal perilaku kekerasan yang
biasa dilakukan.
(2) Menjelaskan aturan main berikut
 Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta
ijin dengan terapis.
 Lama kegiatan 30 menit
 Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.
3. Tahap Kerja
a. Mendiskusikan penyebab marah
(1) Tanyakan pengalaman setiap klien
(2) Tulis dikertas
b. Mendiskusikan tanda dan gejala yang dirasakan klien saat terpapar oleh penyebab
marah sebelum perilaku kekerasan terjadi.
(1) Tanyakan perasaan setiap klien saat terpapar oleh penyebab (tanda dan
gejala)
(2) Tulis dikertas
c. Mendiskusikan perilaku kekerasan yang pernah dilakukan klien (verbal, merusak
lingkungan, mencederai/memukul orang lain dan memukul diri sendiri)
(1) Tanyakan perilaku yang dilakukan saat marah
(2) Tulis dikertas
d. Membantu klien memilih salah satu perilaku kekerasan yang paling sering
dilakukan untuk diperagakan.
e. Melakukan bermain peran atau simulasi untuk perilaku kekerasan yang tidak
berbahaya ( terapis sebagai sumber penyebab dan klien yang melakukan perilaku
kekerasan).
f. Menanykan perasaan klien setelah bermain peran atau simulasi.
g. Mendiskusikan dampak atau akibat dari perilaku kekerasan.
(1) Tanyakan akibat perilaku kekerasan
(2) Tuliskan dikertas
h. Memberikan reinforcement pada peran serta klien
i. Dalan menjalankan peran a sampai h, upayakan semua klien terlibat
j. Beri kesimpulan penyebab, tanda dan gejala perilaku kekerasan dan akibat
perilaku kekerasan
4. Terminasi
a. Evaluasi
(1) Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
(2) Memberi reinforcement positif terhadap perilaku klien yang positif
b. Tindak lanjut
(1) Menganjurkan klien menilai dan mengevaluasi jika terjadi penyeabab marah,
yaitu tanda dan gejala perilaku kekerasan yang terjadi serta akibat perilaku
kekerasan
(2) Menganjurkan klien mengingat penyebab, tanda dan gejala perilaku kekerasan
dan akibatnya yang belum diceritakan
c. Kontrak yang akan datang
(1) Menyepakati belajar cara baru yang sehat untuk mencegah perilaku kekerasan
(2) Menyepakati waktu dan tempat TAK berikutnya

E. FORMAT EVALUASI

Sesi 1 : TAK
Stimulasi Persepsi Perilaku Kekerasan
No Nama Klien Penyebab PK Memberi tanggapan tentang
Tanda & Perilaku Akibat PK
gejala PK kekerasan
1
2
3
4
5
6

Petunjuk :
1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.
2. Untuk tiap klien, beri penilaian tentang pengetahuan mengetahui penyebab perilaku
kekerasan, tanda dan gejala yang dirasakan, perilaku kekerasan yang dilakukan, dan
akibat perilaku kekerasan. Beri tanda (√) jika klien mampu dan tanda (x) jika klien tidak
mampu.
RENCANA TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK

A. Topik : TAK STIMULASI PERSEPSI


SESI 2 : Mencegah perilaku kekerasan fisik

B. Tujuan :
1. Klien dapat menyebutkan kegiatan fisik yang biasa dilakukan klien
2. Klien dapat menyebutkan kegiatan fisik yang dapat mencegah perilaku kekerasan
3. Klien dapat mendemonstrasikan duakegiatan fisik yang dapat mencegah perilaku
kekerasan

C. Pengorganisasian
1. Hari : Kamis
Tanggal : 31 Oktober 2019
Jam : Pk. 11.30 – 12.00 Wita
Waktu :
a. Orientasi : 5 menit
b. Kerja : 20 menit
c. Terminasi : 5 menit
2. Tim terapis :
a. Leader :
 Kadek Dwi Regiana Sintha
b. Co. Leader/Observer
Konang Vitasari Indriani
c. Fasilitator :
 Nengah Dedy Erianto
 Ni Kadek Putri Widiasih
 Gilbert Satria Andika Suwarno
3. Metode dan media
a. Setting
 Terapis dan klien duduk bersama dalam lingkaran
 Ruangan nyaman dan tenang
b. Metode
 Dinamika kelompok
 Diskusi/tanta jawab
 Bermain peran/stimulasi
c. Media
 Bantal
 Kertas
 Pulpen
D. Proses Pelaksanaan
1. Persiapan
a. Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah ikut sesi 1
b. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
2. Orientasi
a. Salam terapeutik
(1) Salam dari terapis kepada klien
(2) Klien dan terapis menyebutkan nama
b. Evaluasi/validasi
(1) Menanyakan perasaan klien saat ini
(2) Menanyakan apakah ada kejadian perilaku kekerasan penyebab, tanda dan
gejala, serta akibatnya.
c. Kontrak
(1) Menjelaskan tujuan kegiatan yaitu cara fisik untuk mencegah perilaku
kekerasan
(2) Menjelaskan aturan main berikut :
 Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta ijin
kepada terapis.
 Lama kegiatan 30 menit
 Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai

3. Kerja
a. Mendiskusikan kegiatan fisik yang biasa dilakukan oleh klien
(1) Tanyakan kegiatan : di rumah tangga, harian, dan oleh raga yang
dilakukan klien
(2) Tulis di kertas
b. Menjelaskan kegiatan fisik yang digunakan untuk menyalurkan kemarahan
secara sehat : tarik nafas dalam, menjemur atau memukul kasur atau bantal,
menyikat kamar mandi, main bola, senam, memukul bantal pasir tinju dan
memukul gendang.
c. Membantu klien memilih dua kegiatan yang dapat dilakukan.
d. Bersama klien mempraktekan dua kegiatan yang dipilih
(1) Terapis memraktekan
(2) Klien melakukan redemonstrasi
e. Menanyakan perasaan klien setelah mempraktekan cara penyaluran
kemarahan
f. Memebrikan pujian pada peran serta klien
g. Upayakan semua klien berperan aktif

4. Terminasi
a. Evaluasi
(1) Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
(2) Menanyakan ulang cara baru mencegah perilaku kekerasan
b. Tindak lanjut
(1) Menganjurkan klien menggunakan cara yang telah dipelajari jika stimulus
penyebab perilaku kekerasan
(2) Menganjurkan klien melatih secara teratur cara yang telah dipelajari
(3) Memasukan pada jadwal harian klien
c. Kontrak yang akan datang
(1) Menyepakati untuk belajar cara baru yang lain, yaitu interaksi sosial yang
aserif
(2) Menyepakati tempat dan waktu TAK berikutnya

E. FORMAT EVALUASI

Sesi 2 : TAK
Stimulasi Persepsi Perilaku Kekerasan
Kemampuan mencegah perilaku kekerasan fisik
No Nama Klien Mempraktikkan cara fisik Mempraktikkan cara fisik yang
yang pertama kedua
1
2
3
4
5
6

Petunjuk :
1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.
2. Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan klien mempraktekan dua cara fisik
untuk mencegah perilaku kekerasan. Beri tanda (√) jika klien mampu dan tanda (x) jika
klien tidak mampu.
RENCANA TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK

A. Topik : TAK STIMULASI PERSEPSI


SESI 3 : Mencegah perilaku kekerasan sosial

B. Tujuan :
1. Klien dapat mengungkapkan keinginan dan permintaan tanpa memaksa
2. Klien dapat mengungkapkan penolakan dan rasa sakit hati tanpa kemarahan

C. Pengorganisasian
1. Hari : Kamis
Tanggal : 31 Oktober 2019
Jam : Pk. 12.30 – 13.00 WITA
Waktu :
a. Orientasi : 5 menit
b. Kerja : 20 menit
c. Terminasi : 5 menit
2. Tim terapis :
a. Leader :
Komang Vitasari Indriani
b. Co. Leader/Observer
Nengah Dedy Erianto
c. Fasilitator :
 Ni Kadek Putri Widiasih
 Gilbert Satria Andika Suwarno
 Kadek Dwi Regiana Sintha
d. Metode dan media
Setting
 Terapis dan klien duduk bersama dalam lingkaran
 Ruangan nyaman dan tenang
Metode
 Dinamika kelompok
 Diskusi/tanta jawab
 Bermain peran/stimulasi
Media
 Kertas
 Pulpen
D. Proses Pelaksanaan
1. Persiapan
a. Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah ikut sesi 2
b. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
2. Orientasi
a. Salam terapeutik
1) Salam dari terapis kepada klien
2) Klien dan terapis menyebutkan nama
b. Evaluasi/validasi
1) Menanyakan perasaan klien saat ini
2) Menanyakan apakah ada penyebab marah, tanda dan gejala marah serta
perilaku kekerasan
3) Tanyakan apakah kegiatan fisik untuk mencegah perilaku kekerasan sudah
dilakukan.
c. Kontrak
1) Menjelaskan tujuan kegiatan yaitu cara sosial untuk mencegah perilaku
kekerasan
2) Menjelaskan aturan main berikut :
 Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta ijin
kepada terapis.
 Lama kegiatan 30 menit
 Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai
E. Kerja
a) Mendiskusikan dengan klien cara bicara jika ingin meminta sesuatu dari orang
lain
b) Menuliskan cara-cara yang disampaikan klien
c) Terapi mendemonstrasikan cara meminta sesuatu tanpa paksaan, yaitu “saya
perlu/ingin/minta.......,yang akan saya gunakan untuk.......”.
d) Memilih 2 orang klien secara bergilir mendemonstrasikan poin C
e) Ulangi poin D sampai smua klien mencoba
f) Memberikan pujian pada peran serta klien
g) Terapis mendemonstrasikan cara menolak dan menyampaikan rasa sakit hati pada
orang lain, yaitu “saya tidak dapat melakukan.....” atau “saya tidak menerima
dikatakan.......” atau “saya kesal dikatakan seperti.....”
h) Memilih 2 orang klien secara bergilir mendemonstrasikan poin G
i) Ulangi poin H sampai smua klien mencoba
j) Memberikan pujian pada peran serta klien
F. Terminasi
1. Evaluasi
a) Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
b) Menanyakan ulang cara baru mencegah perilaku kekerasan
c) Memberikan pujian dan penghargaan atas jawaban yang benar
2. Tindak lanjut
a) Menganjurkan klien menggunakan kegiatan fisik dan interaksi sosial yang
asertif, jika stimulus penyebab perilaku kekerasan terjadi
b) Menganjurkan klien melatih kegiatan fisik dan interaksi sosial yang asertif
secara teratur
c) Memasukan interaksi sosial yang asertif pada jadwal harian klien
3. Kontrak yang akan datang
a) Menyepakati untuk belajar cara baru yang lain, yaitu kegiatan ibadah
b) Menyepakati tempat dan waktu TAK berikutnya
G. FORMAT EVALUASI

Sesi 3 : TAK
Stimulasi Persepsi Perilaku Kekerasan
Kemampuan mencegah perilaku kekerasan sosial

Memperagakan Memperagakan Memperagakan cara


Nama
No cara meminta cara menolak mengungkapkan
Klien
tanpa paksa yang baik kekerasan yang baik
1
2
3
4
5
6
Petunjuk :
1) Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.
2) Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan klien mempraktekan dua cara fisik
untuk mencegah perilaku kekerasan. Beri tanda (√) jika klien mampu dan tanda (x) jika
klien tidak mampu.
RENCANA TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK

A. Topik : TAK STIMULASI PERSEPSI


SESI 4 : Mencegah perilaku kekerasan spirital

B. Tujuan :
1. Klien dapat melakukan kegiatan ibadah secara teratur

C. Pengorganisasian
1. Hari : Kamis
Tanggal : 31 Oktober 2019
Jam : Pk. 13.00 – 13.30 WITA
Waktu :
a. Orientasi : 5 menit
b. Kerja : 20 menit
c. Terminasi : 5 menit
2. Tim terapis :
a. Leader :
Nengah Dedy Erianto
b. Co. Leader/Observer
Ni Kadek Putri Widiasih
c. Fasilitator :
 Gilbert Satria Andika Suwarno
 Kadek Dwi Regiana Sintha
 Komang Vitasari Indriani
3. Metode dan media
a. Setting
 Terapis dan klien duduk bersama dalam lingkaran
 Ruangan nyaman dan tenang
b. Metode
 Dinamika kelompok
 Diskusi/tanta jawab
 Bermain peran/stimulasi

c. Media
 Kertas
 Pulpen

D. Proses Pelaksanaan
1. Persiapan
a. Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah ikut sesi 3
b. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
2. Orientasi
a. Salam terapeutik
(1) Salam dari terapis kepada klien
(2) Klien dan terapis menyebutkan nama
b. Evaluasi/validasi
(1) Menanyakan perasaan klien saat ini
(2) Menanyakan apakah ada penyebab marah, tanda dan gejala marah serta
perilaku kekerasan
(3) Tanyakan apakah kegiatan fisik dan interaksi sosial yang asertif untuk
mencegah perilaku kekerasan sudah dilakukan.
c. Kontrak
(1) Menjelaskan tujuan kegiatan yaitu kegiatan ibadah untuk mencegah perilaku
kekerasan
(2) Menjelaskan aturan main berikut :
 Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta ijin
kepada terapis.
 Lama kegiatan 30 menit
 Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai
3. Kerja
a. Menanyakan agama dan kepercayaan masing-masing klien
b. Mendiskusikan kegiatan ibadah yang biasa dilakukan masing-masing klien
c. Menuliskan kegiatan ibadah masing-masing klien
d. Meminta klien untuk memilih satu kegiatan ibadah
e. Meminta klien mendemonstrasikan kegiatan ibadah yang dipilih
f. Memberi pujian pada penampilan klien
4. Terminasi
a. Evaluasi
(1) Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
(2) Menanyakan jumlah cara pencegahan perilaku kekerasan yang telah
dipelajari
(3) Memberikan pujian dan penghargaan atas jawaban yang benar
b. Tindak lanjut
(1) Menganjurkan klien menggunakan kegiatan fisik, interaksi sosial yang asertif
dan kegiatan ibadah jika stimulus penyebab perilaku kekerasan terjadi
(2) Menganjurkan klien melatih kegiatan fisik, interaksi sosial yang asertif dan
kegiatan ibadah secara teratur
(3) Memasukan kegiatan ibadah pada jadwal harian klien
c. Kontrak yang akan datang
(1) Menyepakati untuk belajar cara baru yang lain, yaitu minum obat teratur
(2) Menyepakati tempat dan waktu TAK berikutnya
E. FORMAT EVALUASI

Sesi 4 : TAK
Stimulasi Persepsi Perilaku Kekerasan
Kemampuan mencegah perilaku kekerasan spiritual

No Nama Mempraktikkan kegiatan Mempraktikkan kegiatan


Klien ibadah pertama ibadah kedua
1
2
3
4
5
6
Petunjuk :
1) Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.
2) Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan klien mempraktekan dua cara fisik
untuk mencegah perilaku kekerasan. Beri tanda (√) jika klien mampu dan tanda (x) jika
klien tidak mampu.
RENCANA TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK

A. Topik : TAK STIMULASI PERSEPSI


SESI 5 : Mencegah perilaku kekerasan dengan patuh minum obat

B. Tujuan :
1. Klien dapat menyebutkan keuntungan patuh minum obat
2. Klien dapat menyebutkan akibat atau kerugian tidak patuh minum obat
3. Klien dapat menyebutkan 5 benar cara minum obat

C. Pengorganisasian
Hari : Kamis
Tanggal : 31 Oktober 2019
Jam : Pk. 13.00 – 13.30 WITA
Waktu :
a. Orientasi : 5 menit
b. Kerja : 20 menit
c. Terminasi : 5 menit
1. Tim terapis :
a. Leader :
Ni Kadek Putri Widiasih
b. Co. Leader/Observer
Gilbert Satria Andika Suwarno
c. Fasilitator :
 Kadek Dwi Regiana Sintha
 Komang Vitasari Indriani
 Nengah Dedy Erianto
2. Metode dan media
a. Setting
 Terapis dan klien duduk bersama dalam lingkaran
 Ruangan nyaman dan tenang
b. Metode
 Dinamika kelompok
 Diskusi/tanta jawab
c. Media
 Kertas
 Pulpen
 Beberapa contoh obat

D. Proses Pelaksanaan
1. Persiapan
a. Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah ikut sesi 4
b. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
2. Orientasi
a. Salam terapeutik
(1) Salam dari terapis kepada klien
(2) Klien dan terapis menyebutkan nama
b. Evaluasi/validasi
(1) Menanyakan perasaan klien saat ini
(2) Menanyakan apakah ada penyebab marah, tanda dan gejala marah serta
perilaku kekerasan
(3) Tanyakan apakah kegiatan fisik, interaksi sosial yang asertif dan kegiatan
ibadah untuk mencegah perilaku kekerasan sudah dilakukan.
c. Kontrak
(1) Menjelaskan tujuan kegiatan yaitu kegiatan minum obat untuk mencegah
perilaku kekerasan
(2) Menjelaskan aturan main berikut :
 Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta ijin
kepada terapis.
 Lama kegiatan 30 menit
 Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai
3. Kerja
a. Mendiskusikan macam obat yang dimakan klien, nama dan warna (upayakan tiap
klien menyampaikan)
b. Mendiskusikan waktu minum obat yang biasa dilakukan klien
c. Tuliskan di kertas hasil a dan b
d. Menjelaskan 5 benar minum obat yaitu benar obat, benar waktu, benar orang,
benar cara dan benar dosis.
e. Minta klien menyebutkan 5 benar, cara minum obat, cara bergiliran
f. Berikan pujian pada klien yang benar
g. Mendiskusikan perasaan klien setelah minum obat (catat di kertas)
h. Mendiskusikan peranan klien setelah minum obat (catat di kertas)
i. Menjelaskan keuntungan patuh minum obat yaitu salah satu mencegah perilaku
kekerasan atau kambuh
j. Menjelaskan akibat atau kerugian jika tidak patuh minum obat yaitu kejadian
perilaku kekerasan atau kambuh
k. Minta klien menyebutkan kembali keuntungan patuh minum obat dan kerugian
tidak patuh minum obat
l. Memberi pujian tiap kali pasien benar
4. Terminasi
a. Evaluasi
(1) Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
(2) Menanyakan jumlah cara pencegahan perilaku kekerasan yang telah
dipelajari
(3) Memberikan pujian dan penghargaan atas jawaban yang benar
b. Tindak lanjut
(1) Menganjurkan klien menggunakan kegiatan fisik, interaksi sosial yang
asertif, kegiatan ibadah dan patuh minum obat untuk mencegah perilaku
kekerasan
(2) Memasukan minum obat pada jadwal harian klien
c. Kontrak yang akan datang
Mengakhiri pertemuan TAK untuk perilaku kekerasan dan disepakati jika
klien perlu TAK yang lain.

E. FORMAT EVALUASI

Sesi 5 : TAK
Stimulasi Persepsi Perilaku Kekerasan
Kemampuan mencegah perilaku kekerasan dengan patuh minum obat
Menyebutkan Menyebutkan Menyebutkan
No Nama Klien lima benar keuntungn akibat tidak patuh
minum obat minum obat minum obat
1
2
3
4
5
6

Petunjuk :
1) Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.
2) Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan klien mempraktekan dua cara
fisik untuk mencegah perilaku kekerasan. Beri tanda (√) jika klien mampu dan tanda
(x) jika klien tidak mampu.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Perilaku kekerasan adalah perilaku individu yang dapat membahayakan orang,
diri sendiri baik secar fisik, emosional, dan atau sexualitas. Kemarahan atau rasa tidak
setuju yang dinyatakan atau diungkapkan tanpa menyakiti orang lain akan memberi
kelegaan pada individu dan tidak akan menimbulkan masalah. Respon melawan dan
menantang merupakan respon yang maladaptif yaitu agresif–kekerasan. Agresif adalah
perilaku yang menyertai marah dan merupakan dorongan untuk bertindak dalam bentuk
destruktif dan masih terkontrol. Amuk atau kekerasan adalah perasaan marah dan
bermusuhan yang kuat disertai kehilangan kontrol diri. Salah satu terapi kelompok yang
dapat dilakukan oleh perawat untuk meningkatkan kemampuan komunikasi pada klien
skizofrenia dengan PK/RPK adalah Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi.
Terapi akitivitas kelompok sering dipakai sebagai terapi tambahan. Sejalan
dengan hal tersebut, maka Lancester mengemukaka beberapa aktivitas yang digunakan
pada TAK yaitu menggambar, membaca puisi, mendengarkan musuk, mempersiapkan
meja makan, dan kegiatan sehari-hari yang lain. Terapi aktivitas kelompok dibagi empat,
yaitu terapi aktivitas kelompok stimulasi kognitif / persepsi, terapi aktivitas kelompok
stimulasi sensori, terapi aktivitas stimulasi realita, dan terapi aktivits kelompok
sosialisasi.
Terapi aktivitas kelompok (TAK) dapat membantu perawat untuk
mengoptimalkan pendekatan pada klien dengan masalah perilaku kekerasan untuk
memberikan perawatan secara optial agar klien dapat melakukan marah secara asertif
dan dapat mengontrol emosinya saat marah.
DAFTAR PUSTAKA

Direja Ade Herman Surya. 2011. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa. Nuha Medika :
Yogyakarta.

Keliat Budi Anna, Panjaitan Ria Utami, Helena Novy. 2006. Proses Keperawatan Kesehatan
Jiwa Edisi 2. EGC : Jakarta.

Kusumawati & Hartono. 2010. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : Salemba Medika