Anda di halaman 1dari 4

AKSES TERHADAP KEADILAN

Oleh. Paul SinlaEloE – Aktivis PIAR NTT


Tulisan ini Pernah di Publikasikan dalam: https://www.teropongntt.com/akses-terhadap-keadilan/,
pada tanggal 12 November 2019

Indonesia adalah Negara hukum. Itulah amanat


dari Pasal 1 ayat (3) UUD 1945. Sebagai sebuah
Negara hukum, maka mewujudkan keadilan,
kemanfaatan dan kepastian yang merupakan
tujuan dari hukum adalah sesuatu yang bersifat
mutlak. Karenanya, Pasal 28D ayat (1) UUD 1945
telah menegaskan bahwa: “Setiap orang berhak
atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan
kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang
sama di hadapan hukum”.

Ketiga tujuan dari hukum ini, memiliki


keterpaduan yang erat sehingga idealnya harus
diwujudkan secara serentak dan proporsional, sehingga terjaminnya setiap orang
atas hak dan kesempatan yang sama di mata hukum. Namun, jika tidak
memungkinkan, maka haruslah diprioritaskan terlebih dahulu aspek keadilan,
kemudian aspek kemanfaatan dan aspek kepastian yang menjadi prioritas terakhir.
Inilah prinsip dasar dalam mewujudkan akses terhadap keadilan dalam suatu Negara
hukum.

Prinsip yang demikian, harus juga menjadi dasar pikir dalam keterlibatan Indonesia
untuk pencapaian tujuan 16 dari Sustainable Development Goals (SDGs), yakni
mendukung masyarakat yang damai dan inklusif untuk pembangunan berkelanjutan,
menyediakan akses terhadap keadilan bagi semua dan membangun institusi-institusi
yang efektif, akuntabel dan inklusif di semua level dan khususnya target 3, yaitu
mendukung perangkat hukum di tingkat nasional dan internasional dan akses
keadilan yang sama untuk semua.

Terkait dengan akses terhadap keadilan, pengambil kebijakan di Indonesia telah


membuat pedoman untuk mengukur akses terhadap keadilan melalui Strategi
Nasional Akses pada Keadilan (SNAK) yang untuk pertama kalinya dikeluarkan pada
tahun 2009. Kemudian SNAK ini diperbaharui lagi pada tahun 2016 untuk periode
2016-2019 dan mengartikan akses terhadap keadilan sebagai keadaan dan proses di
mana Negara menjamin terpenuhinya hak-hak dasar berdasarkan UUD 1945 dan
prinsip-prinsip universal hak asasi manusia, dan menjamin akses bagi setiap warga
Negara agar dapat memiliki kemampuan untuk mengetahui, memahami, menyadari
dan menggunakan hak-hak dasar tersebut melalui lembaga-lembaga formal maupun
nonformal.

Page 1 of 4
Visi yang diangkat dalam SNAK 2016-2019 adalah “Pemenuhan dan perlindungan
hak-hak dasar pada kelompok miskin dan terpinggirkan berdasarkan UUD 1945 dan
prinsip prinsip universal hak asasi manusia, melalui akses terhadap pelayanan hak-
hak dasar, peradilan dan mekanisme penyelesaian sengketa non formal, bantuan
hukum dan penguasaan, pengelolaan dan pemanfaatan tanah dan sumber daya
alam”.

Untuk menjalankan visi, maka misi yang akan dilaksanakan pada periode 2016-2019
adalah: Pertama, Menyempurnakan kerangka perundangan dan kebijakan yang
menjamin terpenuhinya akses kepada sumber-sumber kesejahteraan bagi
masyarakat miskin dan terpinggirkan; Kedua, Menyediakan forum penyelesaian
sengketa dan konflik yang melindungi hak-hak masyarakat miskin dan terpinggirkan;
Ketiga, Meningkatkan kesadaran masyarakat miskin dan terpinggirkan terhadap hak-
haknya melalui pemberdayaan dan bantuan hukum; dan Keempat, Menyediakan
alokasi sumber daya alam yang adil bagi masyarakat miskin dan terpinggirkan.

Sasaran yang ingin dicapai oleh SNAK 2016-2019 adalah: (1). Terpenuhinya akses
masyarakat terutama yang rentan atau terpinggirkan pada pelayanan dan
pemenuhan hak-hak dasar yang tidak diskriminatif, mudah dan terjangkau; (2).
Terpenuhinya akses masyarakat terutama yang rentan atau terpinggirkan pada
forum penyelesaian sengketa dan konflik yang efektif dan memberikan perlindungan
hak asasi manusia; (3). Terpenuhi akses masyarakat terutama yang rentan atau
terpinggirkan pada sistem bantuan hukum yang mudah diakses, berkelanjutan dan
terpercaya; dan (4). Terwujudnya penguasaan, pengelolaan dan pemanfaatan tanah
dan sumber daya alam yang berkepastian hukum dan berkeadilan bagi masyarakat.

Pada tataran praktis, keempat sasaran ini juga telah diuraikan dalam bentuk strategi
untuk memberikan panduan dalam pelaksanaan SNAK 2016-2019. Strategi yang
dirumuskan untuk mencapai sasaran di atas adalah: Pertama, Strategi 1:
Memperkuat Akses Keadilan pada Pelayanan & Pemenuhan Hak-hak Dasar; Kedua,
Strategi 2: Memperkuat Akses Keadilan pada Peradilan dan Penyelesaian Sengketa;
Ketiga, Strategi 3: Memperkuat Akses Keadilan pada Bantuan Hukum; dan keempat,
Strategi 4: Memperkuat Akses Keadilan pada Penguasaan, Pengelolaan dan
Pemanfaatan Tanah dan Sumber Daya Alam.

Kalau dicermati dengan cerdas, maka konsep terkait SNAK 2016-2019 ini belum bisa
dikatakan sempurna. Karena definisi akses terhadap keadilan dalam SNAK 2016-
2019, tidak membedakan antara konsep Negara menjamin dengan konsep Negara
memenuhi, padahal dalam perspektif hak, pembedaan kedua konsep ini sangat
penting dilakukan, sebab konsep negara menjamin lebih fokus pada hak sipil dan
politik, sedangkan konsep negara memenuhi lebih mengarah pada hak ekonomi,
sosial dan budaya. Selain itu, definisi akses terhadap keadilan dalam SNAK 2016-
2019 juga terlalu abstrak untuk menangkap berbagai persoalan pada konteks lokal
kedaerahan.

Parahnya lagi, visi, misi, sasaran dan strategi yang dipergunakan dalam SNAK 2016-
2019 sangat sektoral, padahal karakter persoalan akses terhadap keadilan di lokal
kedaerahan, sangat berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.

Page 2 of 4
Dampaknya, kemungkinan besar SNAK 2016-2019 tidak akan menjawab semua
permasaalahan akses terhadap keadilan di Indonesia. Hal ini sangat bertentangan
dengan prinsip utama SDGs, yakni Leave No One Behind.

Berpijak pada realita yang demikian, maka idealnya konsep akses terhadap keadilan
yang terdapat dalam SNAK 2016-2019 tidak boleh diperbaharui lagi. Apalagi
diperbaharui dengan cara tambal sulam. SNAK 2016-2019 harus ditinjau kembali
untuk mendudukan hak atas akses terhadap keadilan secara sempurna, sehingga
memiliki indikator yang dapat mengukur 2 (dua) hal, yakni bagaimana negara
menjamin dan memenuhi hak semua orang untuk mengakses keadilan dan
sejauhmana keadilan bagi semua orang dapat terjawab.

Dalam perspektif hak, akses terhadap keadilan harus dimaknai sebagai jalan yang
disiapkan oleh Negara dalam rangka menjamin dan memenuhi hak setiap orang atas
keadilan (prosedural maupun subtansial). Dengan pengertian akses terhadap
keadilan yang demikian, maka Negara sebagai pemangku tanggung jawab (duty
bearer), yang harus menjamin dan memanuhi kewajiban-kewajibannya demi
terwujudnya akses terhadap keadilan dari baik secara nasional maupun internasional
dari pihak pemegang hak (right holder) terutama individu dan kelompok-kelompok
masyarakat.

Kewajiban Negara dalam Menjamin (ensure), artinya Negara tidak menghambat


pemenuhan dan harus bertindak aktif untuk memberikan jaminan atas akses
terhadap keadilan. Ada 2 (dua) indikator yang dapat dipergunakan untuk mengukur
keseriusan Negara dalam menjamin hak semua orang terkait dengan akses terhadap
keadilan, yakni: Pertama, Negara Menghormati (respect). Tanggungjawab Negara
dalam konteks menghormati ini, menuntut Negara untuk wajib tidak melakukan
tindakan-tindakan yang akan menghambat pemenuhan dari seluruh hak termasuk
akses terhadap keadilan.

Kedua, Negara Melindungi (protect). Konsep Negara melindungi ini menuntut


kewajiban Negara agar bertindak aktif untuk memberikan jaminan perlindungan
terhadap hak warganya atas akses terhadap keadilan. Karenanya, Negara hanya
berkewajiban mengambil tindakan-tindakan untuk mencegah pelanggaran hak oleh
pihak ketiga sehingga hak atas akses terhadap keadilan dari semua orang dapat
terwijud.

Konsep Negara Memenuhi (fullfill) ini mengharuskan Negara berkewajiban untuk


mengambil langkah-langkah legislatif, administratif, hukum, dan tindakan-tindakan
lain untuk merealisasikan hak atas akses terhadap keadilan secara penuh. Ada 4
(empat) indikator untuk mengukur keseriusan Negara dalam melakukan pemenuhan
akses terhadap keadilan, yakni: Pertama, Availability (ketersediaan). Hak
Ketersediaan lebih menekankan pada adanya sarana dan fasilitas bagi semua orang
(baik itu yang berkebutuhan khusus maupun yang tidak berkebutuhan khusus,
perempuan maupun laki-laki dan individu ataupun kelompok-kelompok masyarakat)
untuk memperoleh akses terhadap keadilan;

Page 3 of 4
Kedua, Accessibility (keterjangkauan). Hak keterjangkauan ini menuntut Negara
harus menghapuskan seluruh praktik-praktik diskriminasi (gender, rasial, dll) serta
menjamin pelaksanaan hak atas akses terhadap keadilan secara merata. Hak
keterjangkauan juga menekankan aspek finansial dan aspek jarak tidak boleh
menjadi faktor penghambat bagi semua orang (baik itu yang berkebutuhan khusus
maupun yang tidak berkebutuhan khusus, perempuan maupun laki-laki dan individu
ataupun kelompok-kelompok masyarakat) untuk memperoleh akses terhadap
keadilan. Hak keterjangkauan ini akan dapat dipenuhi, jika hak ketersediaan sudah
terpenuhi;

Ketiga, Acceptability (keberterimaan). Hak keberterimaan ini akan terwujud, jika hak
ketersediaan dan hak keterjangkauan sudah dipenuhi. Hak keberterimaan ini
mempersyaratkan kualitas atau jaminan minimal mengenai mutu pelayanan
pemenuhan akses terhadap keadilan. Kualitas atau jaminan minimal ini harus
dipastikan agar semua orang (baik itu yang berkebutuhan khusus maupun yang
tidak berkebutuhan khusus, perempuan maupun laki-laki dan individu ataupun
kelompok-kelompok masyarakat) untuk memperoleh akses terhadap keadilan;
Keempat, Adaptability (kebersesuaian). Hak kebersesuaian mempersyaratkan
Negara untuk tanggap pada semua orang (baik itu yang berkebutuhan khusus
maupun yang tidak berkebutuhan khusus, perempuan maupun laki-laki dan individu
ataupun kelompok-kelompok masyarakat) untuk memperoleh akses terhadap
keadilan. Artinya, Negara berkewajiban untuk mewujudkan akses terhadap keadilan
dengan menyesuakan pada kebutuhan akan akses terhadap keadilan dari semua
orang. Hak kebersesuaian merupakan hak lanjutan dari tiga hak pertama yang harus
dipenuhi oleh negara sehingga akses terhadap keadilan dari semua orang dapat
terwujud.

Keseluruhan indikator hak akses terhadap keadilan yang telah digambarkan diatas,
dapat juga dipergunakan sekaligus untuk menilai aspek keadilan prosedural, yaitu
sejauh mana seluruh pihak terutama yang selama ini tertinggal dapat terlibat dalam
keseluruhan proses pembangunan. Bahkan dapat juga dipakai untuk membobot
keadilan subtansial, yakni sejauh mana kebijakan dan program pembangunan dapat
atau mampu menjawab persoalan-persoalan warga terutama kelompok tertinggal.

Page 4 of 4