Anda di halaman 1dari 13

MANAJEMEN RISIKO HUKUM

Makalah
diajukan untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Manajemen Risiko Keuangan
Syari’ah
Dosen Pengampu Usep Deden Suherman, S.Pd., M.Si.

oleh:
Fahmi Abi (11730700)
Fitriyani Sudibyo (11730700)
Hasna Hasanah (1173070065)

MKS/5/B

PROGRAM STUDI MANAJEMEN KEUANGAN SYARI’AH


FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
BANDUNG
2019
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT, yang telah memberikan Rahmat serta Inayah-
Nya kepada kami, sehingga dapat menyelesaikan makalah tugas mata kuliah
Manajemen Risiko Keuangan Syari’ah yang berjudul “Manajemen Risiko
Hukum” dan mengambil materi yang bersumber dari buku dan internet. Shalawat
dan salam semoga selalu tercurahkan sepenuhnya kepada baginda Nabi
Muhammad SAW, yang telah membawa kita dari zaman Jahiliah ke zaman
islamiah yang modern seperti saat ini. Dan juga kepada keluarganya, Sahabat,
Tabi’in, Tabi’it-tabi’in serta para pengikut-pengikutnya hingga akhir kiamat nanti.
Penulis sangat berterimakasih kepada seluruh pihak yang telah membantu
dalam penyelesaian makalah ini terutama kepada dosen pembimbing kami, yaitu
Bapak Usep Deden Suherman, S.Pd., M.Si. dan teman-teman yang ikut serta
dalam mendukung terselesaikannya makalah ini.
Dalam pembuatan makalah ini, penulis menyadari bahwa masih banyak
kekurangan. Oleh karena itu, untuk kesempurnaan makalah ini, penulis
mengharapkan segala kritik dan saran pembaca. Harapan akhir yaitu makalah ini
dapat bermanfaat bagi pembaca dari semua kalangan dan digunakan sebagai
bahan untuk pembelajaran atau referensi.

Bandung, 24 Oktober 2019

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................


DAFTAR ISI ..........................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................................
B. Rumusan Masalah........................................................................................
C. Tujuan..........................................................................................................
BAB II KAJIAN TEORI
A. Pengertian Risiko Hukum............................................................................
B. Profil Risiko Hukum ...................................................................................
C. Penerapan Risiko Hukum............................................................................
BAB III STUDI KASUS
A. Studi Kasus .................................................................................................
B. Analisis ........................................................................................................
BAB IV PENUTUP
A....Kesimpulan
B....Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Manajamen Risiko Hukum


Manajemen risiko adalah suatu bidang illmu yang membahas
tentang bagaimana suatu organisasi menerapkan ukuran dalam memetakan
berbagai permasalah yang ada dengan menempatkan berbagai pendekatan
manajemen secara komprehensif dan sistematis.1
Risiko hukum adalah risiko yang timbul karena
ketidakmampuan manajemen perusahaan dalam mengelola munculnya
permasalahan hukum yang dapat menimbulkan kerugian
atau kebangkrutan bagi perusahaan. Risiko hukum antara lain dapat
bersumber daripada operasional, perjanjian dengan pihak ketiga,
ketidakpastian hukum dan kelalaian penerapan hukum, hambatan dalam
proses litigasi untuk penyelesaian klaim, serta masalah yurisdiksi antar
negara.2
Risiko hukum adalah risiko yang timbul akibat tuntutan hukum
dan/atau kelemahan aspek yuridis. Risiko ini timbul antar lain karena
ketiadaan peraturan perundang-undangan yang mendasari atau kelemahan
perikatan, seperti tidak dipenuhinya syarat sahnya perjanjian atau agunan
yang tidak memadai. Banyak pengalaman dan kasus yang terjadi di
perbankan syariah menunjukkan bahwa risiko hukum terjadi karena
lemahnya hubungan yang dilakukan oleh bank syariah, ketiadaan dan/atau
perubahan peraturan perundang-undangan yang menyebabkan suatu
transaksi telah dilakukan oleh bank syariah menjadi tidak sesuai dengan
ketentuan yang ada, dan proses litigasi baik yang timbul dari gugatan
pihak ketiga terhadap bank syariah maupun bank syariah terhadap pihak
ketiga.
Kegagalan manajemen risiko hukum dapat menimbulkan penarikan
besar-besaran dana pihak ketiga, menimbulkan masalah likuiditas,

1
Irham Fahmi, Manajemen Risiko Teori, Kasus, dan Solusi, Penerbit Alfabeta : Bandung, 2010,
hal.2
2
https://id.wikipedia.org/wiki/Risiko_hukum diakses tanggal 26 Januari 2017, pukul 09.16.
ditutupnya bank oleh otoritas, bahkan kebangkrutan. Untuk itu, tujuan
utama manajemen risiko hukum adalah memastikan bahwa proses
manajemen risiko dapat meminimalkan kemungkinan dampak negatif dari
yang kelemahan aspek yuridis, ketiadaan dan/atau perubahan peraturan
perundang-undangan, dan proses litigasi.3
B. Profil Risiko Hukum
Profil risiko adalah gambaran keseluruhan risiko yang melekat
pada operasional bank syariah baik BUS maupun UUS. Seluruh BUS dan
UUS harus menyusun laporan profil risiko untuk kepentingan pelaporan
kepada Otoritas Jasa Keuangan sekaligus menjadi bahan supervise
pengendalian risiko secara efektif. Dalam menilai risiko hukum, parameter
dan indikator yang dapat digunakan adalah (i) faktor litigasi, (ii) faktor
kelemahan perikatan, dan (iii) faktor ketiadaan/perubahan peraturan
perundang-undangan. Tabel di bawah menyajikan parameter atau indicator
penting dalam risiko hukum.4
No Risiko Parameter/Indikator Keterangan
1 Faktor a. Besarnya nominal gugatan Litigasi dapat terjadi
Litigasi yang dilaukan atau karena adanya
estimasi kerugian yang gugatan atau
mungkin dialami oleh bank tuntutan dari pihak
akibat dari gugatan ketiga kepada bank
tersebut dibandingkan maupun gugatan
dengan modal bank. atau tuntutan yang
b. Besarnya kerugian yang
diajukan kepada
dialami oleh bank karena
pihak ketiga baik
suatu putusan dari
melalui pengadilan
pengadilan yang telah
maupun diluar
memiliki kekuatan hukum
pengadilan. Gugatan
tetap dibandingkan dengan
atau tuntutan
modal bank.

3
Bambang Rianto Rustam, Manajemen Risiko Perbankan Syariah Di Era Digital, Edisi 2,Penerbit
Salemba Empat: Jakarta, 2018, hal.167
4
Ibid, hal.168
c. Dasar dari gugatan yang
terjadi dan pihak yang
tergugat atau menggugat
bank dalam suatu gugatan
yang diajukan serta
tindakan dari manajemen
atas suatu gugatan yang
diajukan.
d. Kemungkinan timbulnya tersebut pada
gugatan yang serupa dasarnya dapat
karena adanya standar menimbulkan biaya
perjanjian yang sama dan yang dapat
estimasi total kerugian merugikan kondisi
yang mungkin timbul bank.
dibandingkan dengan
modal bank.
2 Faktor a. Tidak terpenuhinya syarat Kelemahan
Kelemahan sahnya perjanjian. perikatan yang
b. Terdapat kelemahan
Perikatan dilakukan bank
klausula perjanjian dan/tau
merupakan sumber
tidak terpenuhinya
terjadinya
persyaratan yang telah
permasalahan atau
disepakati.
sengketa di
c. Pemahaman para pihak
kemudian hari yang
terkait perjanjian terutama
dapat menimbulkan
mengenai risiko-risiko
potensi risiko hukum
yang ada dalam suatu
bagi bank.
transaksi yang kompleks
dan menggunakan istilah
yang sulit dipahami bagi
masyarakat umum.
d. Ketidakcukupan dokumen
pendukung terkait
perjanjian yang dilakukan
bank dengan pihak ketiga.
e. Pembaruan dan review
dari penggunaan standar
perjanjian oleh bank
dan/atau pihak
independen.
f. Penggunaan pilihan
hukum Indonesia atas
perjanjian yang diadakan
oleh bank dan juga
penggunaan forum
penyelesaian sengketa.
3 Faktor a. Jumlah dan nilai nominal Ketiadaan atau
Ketiadaan dari total produk bank perubahan peraturan
Undangan yang belum diatur oleh perundang-undangan
peraturan perundangan- terutama atas produk
undangan secara jelas dan yang dimiliki bank
produk tersebut cenderung atau transaksi yang
memiliki kompleksitas dilakukan bank akan
yang tinggi dibanding mengakibatkan
modal yang dimiliki bank. produk tersebut
b. Bank menggunakan best
menjadi sengketa
practice atau standar
dikemudian hari
perjanjian yang belum
sehingga berpotensi
diperbarui walaupun telah
menimbulkan risiko
ada perubahan best
hukum.
practice atau peraturan
perundang-undangan.
Sumber: Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Nomor
10/SEOJK.03/2014 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum
Syariah dan Unit Usaha Syariah.
C. Penerapan Manajemen Risiko Hukum
Penerapan manajemen risiko khususnya risiko hukum bagi bank
syariah harus dilaksanakan dengan mencakup hal-hal berikut.
1. Pengawasan Aktif Direksi, Dewan Komisaris, dan DPS
Dalam melakukan penerapan manajemen risiko hukum melalui
pengawasan aktif diresksi, dewan komisaris serta DPS, maka selain
melaksanakan pengawasan aktif dewan komisaris, direksi, dan DPS
harus memahami risiko hukum yang dihadapi dan memberikan arahan
yang jelas, melakukan pengawasan dan mitigasi secara aktif serta
mengembangkan budaya manajemen risiko di bank syariah. Dewan
komisaris dan direksi harus memastikan struktur organisasi memadai,
menetapkan tugas dan tanggung jawab yang jelas pada masing-
maasing unit, serta memastikan kecukupan kuantitas dan kualitas
sumber daya insani untuk mendukung penerapan manajemen risiko
efektif.
2. Kebijakan, Prosedur, dan Penetapan Limit
Penerapan manajemen risiko yang efektif harus didukung dengan
kerangka yang mencakup kebijakan, prosedur manajemen risiko, dan
limit risiko yang ditetapkan secara jelas serta sejalan dengan visi misi,
dan strategi bisnis bank syariah. Penyusunan kebijakan dan prosedur
manajemen risiko tersebut dilakukan dengan memperhatikan jenis
kompleksitas kegiatan usaha, profil risiko, tingkat risiko yang akan
diambil, serta peraturan yang ditetapkan otoritas dan/atau praktik
perbankan yang sehat. Selain itu, penerapan kebijakan dan prosedur
manajemen risiko yang dimiliki bank harus didukung oleh kecukupan
permodalan dan kualitas SDI.5
Untuk menerapkan pengendalian risiko secara efektif, kebijakan
dan prosedur yang dimiliki bank harus didasarkan pada strategi
manajemen risiko serta dilengkapi dengan toleransi dan limit risiko.

5
Ibid, hal.170
Penetapan toleransi dan limit risiko dilakukan dengan memperhatikan
tingkat risiko yang akan diambil dan strategi bank secara keseluruhan.
Dalam melaksanakan kebijakan, prosedur, dan penetapan limit untuk
risiko hukum, secara spesifik bank syariah perlu menambahkan
penerapan beberapa hal dalam tiap aspek kebijakan, prosedur, dan
penetapan limit sebagai berikut.
a. Strategi manajemen risiko
Strategi manajemen risiko untuk risiko hukum merupakan bagian
integral yang tidak terpisahkan dari strategi manajemen risiko bank
syariah secara keseluruhan.
b. Tingkat risiko yang akan diambil dan toleransi risiko
Penetapan tingkat risiko yang akan diambil (risk appetite) dan
toleransi risiko (risk tolerance) untuk risiko hukum ditetapkan dan
dilaksanakan oleh direksi bank syariah.
c. Kebijakan, prosedur, dan penetapan limit
Bank syariah harus memiliki dan melaksanakan prosedur analisis
aspek hukum terhadap produk dan aktivitas baru. Bank syariah
harus melakukan evaluasi dan pembaruan kebijakan dan prosedur
pengendalian risiko hukum secara berkala, sesuai dengan
perkembangan eksternal dan internal bank syariah seperti
perubahan ketentuan dan perundang-undangan yang berlaku.6
3. Proses Manajemen Risiko Hukum
Dalam melakukan penerapan manajemen risiko melalui proses
identifikasi, pengukuran, pemantauan, pengendalian risiko, serta
sistem informasi manajemen risiko untuk risiko hukum, maka bank
syariah perlu menambahkan penerapan beberapa hal dalam tiap proses
sebagai berikut.
a. Identifikasi Risiko Hukum
Bank wajib melakukan identifikasi seluruh risiko hukum secara
berkala. Bank wajib memiliki metode atau sistem untuk melakukan
identifikasi risiko hukum pada seluruh produk dan aktivitas bisnis
bank. Proses identifikasi risiko hukum dilakukan dengan
menganalisis seluruh sumber risiko termasuk risiko dari produk

6
Ibid, hal.171
dan aktivitas bank serta memastikan bahwa risiko dari produk dan
aktivitas baru telah melalui proses manajemen risiko yang layak
sebelum diperkenalkan atau dijalankan.
b. Pengukuran Risiko Hukum
Bank syariah harus memiliki metode pengukuran risiko untuk
risiko hukum yang memadai dan terintegrasi dengan kerangka
manajemen risiko bank syariah, baik dengan menggunakan
pendekatan kuantitatif maupun kualitatif. Pengukuran risiko
hukum dapat dilakukan dengan menggunakan indikator/parameter
berupa potensi kerugian akibat tuntutan litigasi, pembatalan
perjanjian yang disebabkan oleh kelemahan perikatan, dan
terjadinya perubahan peraturan perundang-undangan yang
menyebabkan produk bank syariah menjadi tidak sejalan dengan
ketentuan yang ada.

c. Pemantauan Risiko Hukum


Pemantauan risiko hukum dapat dilakukan dengan melakukan
evaluasi terhadap eksposur risiko dan penyempurnaan proses
pelaporan jika terdapat perubahan dalam kegiatan usaha, produk,
transaksi, faktor risiko, teknologi informasi, dan sistem informasi
manajemen risiko bank yang bersifat material.
d. Pengendalian Risiko Hukum
Satuan kerja/fungsi yang membawahi bidang hukum harus
melakukan tinjauan (review) secara berkala terhadap kontrak dan
perjanjian antara bank syariah dengan pihak lain. Hal ini antara lain
mencakup penilaian kembali terhadap efektivitas proses
pemaksaan (enforceability) guna mengecek validitas hak dalam
kontrak dan perjanjian. Ketika bank syariah menerbitkan garansi
seperti netting agreement, collateral pledges, dan margin calls,
maka hal tersebut harus didukung dengan dokumen hukum yang
efektif dan dapat diterapkan.
e. Sistem Informasi Manajemen Risiko Hukum
Bank syariah harus mencatat dan mendokumentasikan setiap
kejadian, termasuk proses litigasi yang terkait dengan risiko hukum
beserta jumlah potensi kerugian yang disebabkan oleh kejadian
tersebut dalam suatu administrasi data. Pencatatan dan
dokumentasi data tersebut disusun dalam suatu data stastistik yang
dapat digunakan untuk memproyeksikan potensi kerugian aktivitas
bisnis bank syariah pada periode tertentu.
4. Sistem Pengendalian Intern
Penilaian proses penerapan manajemen risiko hukum yang efektif
harus dilengkapi dengan sistem pengendalian intern yang handal.
Penerapan sistem pengendalian intern secara efektif dapat membantu
pengurus bank menjaga aset bank, menjamin tersedianya pelaporan
keuangan dan manajerial yang dapat dipercaya, meningkatkan
kepatuhan bank terhadap ketentuan dan peraturan perundang-undangan
yang berlaku, serta mengurangi risiko terjadinya kerugian,
penyimpangan dan pelanggaran aspek kehati-hatian. Terselenggaranya
sistem pengendalian intern bank yang handal dan efektif menjadi
tanggung jawab dari seluruh satuan kerja operasional, satuan kerja
pendukung, serta Satuan Kerja Audit Intern.7
BAB III
STUDI KASUS

7
Ibid, hal.172
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Risiko hukum adalah risiko yang timbul akibat tuntutan hukum
dan/atau kelemahan aspek yuridis. Risiko ini timbul antar lain karena
ketiadaan peraturan perundang-undangan yang mendasari atau kelemahan
perikatan, seperti tidak dipenuhinya syarat sahnya perjanjian atau agunan
yang tidak memadai.
Profil risiko adalah gambaran keseluruhan risiko yang melekat
pada operasional bank syariah baik BUS maupun UUS. Seluruh BUS dan
UUS harus menyusun laporan profil risiko untuk kepentingan pelaporan
kepada Otoritas Jasa Keuangan sekaligus menjadi bahan supervise
pengendalian risiko secara efektif. Dalam menilai risiko hukum, parameter
dan indikator yang dapat digunakan adalah (i) faktor litigasi, (ii) faktor
kelemahan perikatan, dan (iii) faktor ketiadaan/perubahan peraturan
perundang-undangan.
Penerapan manajemen risiko khususnya risiko hukum bagi bank
syariah harus dilaksanakan dengan mencakup (i) pengawasan aktif direksi,
dewan komisaris, dan DPS, (ii) kebijakan, prosedur, dan penetapan limit,
dan (iii) proses identifikasi.

B. Saran
Demikian makalah ini disusun sebagai tugas makalah mata kuliah
Manajemen Risiko. Karya ini merupakan hasil maksimal dari kami, dan
kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari harapan dan sempurna.
Karena itu, saran dan masukan dari pembaca sangat kami harapkan dalam
penyempurnaan makalah ini.
Daftar Pustaka
Fahmi, Irham. 2010. Manajemen Risiko Teori, Kasus, dan Solusi, Bandung:
Penerbit Alfabeta.
https://id.wikipedia.org/wiki/Risiko_hukum diakses tanggal 26 Januari
2017, pukul 09.16.
Rustam, Bambang Rianto. 2018. Manajemen Risiko Perbankan Syariah Di
Era Digital Edisi 2. Jakarta: Penerbit Salemba Empat.
Otoritas Jasa Keuangan.2014. Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Nomor
10/SEOJK.03.2014 tanggal 11 Juni 2014 tentang Penilaian Tingkat
Kesehatan Umum Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah.
www.ojk.go.id diakses tanggal 221 Agustus 2017.