Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TERNAK

ACARA II
SACCUS PNEUMATICUS

Disusun oleh :
Kelompok VI

Achmad Chairul Basri PT/06987


Anugrah Rayi Nuraini PT/07588
Fabia Affani PT/07704
Fatin Fitria Ramadhani PT/07706
Raihan Dary Hasnanda PT/07754
Sadhan Andilaou PT/07855
Sangkrep Arum Binang PT/07856
Winda Retno Pratiwi PT/07864
Asisten : Verrina Annisa Dikamantari

LABORATORIUM FISIOLOGI DAN REPRODUKSI TERNAK


DEPARTEMEN PEMULIAAN DAN REPRODUKSI TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2019
ACARA SACCUS PNEUMATICUS

Tinjauan Pustaka
Respirasi adalah proses mobilisasi energi yang dilakukan jasad
hidup melalui pemecahan senyawa berenergi tinggi (SET) untuk digunakan
dalam menjalankan fungsi hidup. Dalam pengertian kegiatan kehidupan
sehari-hari, respirasi dapat disamakan dengan pernapasan. Sistem
respirasi memiliki fungsi utama untuk memasok oksigen ke dalam tubuh
serta membuang CO2 dari dalam tubuh, menjaga keseimbangan pH, dan
keseimbangan elektrik dalam darah.Pada hewan vertebrata darat,
pernafasan merupakan pertukaran O2 dengan CO2 yang dilakukan oleh
paru-paru. Pada paru-paru terdapat alveoli-alveoli halus yang dapat
menangkap O2 dan melepaskan CO2 (MacKenzie et al., 2006).
Unggas memilki paru-paru berukuran kecil dan menempel pada
rusuk sehingga tidak mengembang. Maka dari itu untuk respirasi unggas
memerlukan saccus pneumaticus. Burung domestik, umumnya terdapat
saccus pneumaticus berjumlah delapan. Tiga ganda dan dua tunggal.
Namun beberapa jenis unggas ada yang memiliki hingga 11 saccus
pneumaticus (Onuk et al., 2009). Saccus pneumaticus terletak pada rongga
tubuh unggas. Organ ini terhubung dengan tulang-tulang dalam rongga
tubuh unggas. Saccus pneumaticus berwujud seperti selaput kuat yang
elastis. (Nasution et al., 2013). Saccus pneumaticus merupakan perluasan
dari selaput mukosa bronkus. (Aspinall and Capello, 2009). Peran organ
saccus pneumaticus sangatlah vital. Organ ini berfungsi untuk membantu
pernafasan, mempertahankan suhu badan, membantu memperkeras suara
dengan memperbesar ruang siring, serta meringankan tubuh ketika terbang
(Wardhana, 2017).
Materi dan Metode

Materi
Alat. Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah spuit, selang,
dan penjepit.
Bahan. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah preparat
Columba livia.
Metode
Bagian-bagian dari saccus pneumaticus diamati secara langsung.
Sistem kerja saccus pneumaticus dipelajari. Sistem kerja saccus
pneumaticus dipahami dan dicatat.
Hasil dan Pembahasan

Sistem respirasi merupakan sistem pengikatan O2 dan pelepasan


CO2 untuk digunakan sebagai bahan metabolisme. Hasil-hasil dari
metabolisme ini nantinya akan digunakan tubuh untuk menjalankan
aktivitas-aktivitas selnya. Sistem respirasi pada vertebrata darat umumnya
terdiri atas lubang hidung, Nares posteriores, glottis, larynx, trakhea, dan
pulmo.
Praktikum yang telah dilakukan menunjukkan bahwa Saccus
pneumaticus terletak di dalam rongga badan pada burung dan berbentuk
seperti kantung elastis. Saccus pneumaticus disebut juga sebagai pundi-
pundi udara atau kantung udara merupakan organ tambahan pada burung
untuk membantu respirasi. Pribadi (2017) menyatakan bahwa saccus
pneumaticus berbentuk seperti balon yang kuat dan elastis. Organ ini ada
pada setiap unggas, namun hanya berkembang dengan sempurna pada
unggas-unggas yang bisa terbang.
Hasil dari praktikum yang telah dilakukan menunjukkan bahwa
sistem respirasi merupakan sistem yang digunakan untuk pertukaran gas.
Sistem pernapasan atau sistem respirasi adalah sistem organ yang
digunakan untuk pertukaran gas O2 dari lingkungan luar dengan CO2 dari
dalam tubuh. Hewan vertebrata darat memiliki sistem pernapasan yang
umumnya termasuk saluran yang digunakan untuk membawa udara ke
dalam paru-paru di mana terjadi pertukaran gas. Hopkins (2006)
menyatakan bahwa organ-organ yang berperan dalam sistem pernafasan
pada unggas adalah Nares anterior, Nares posterior, Glotis, Larynx,
Trakhea, Syrinx, Pulmo, dan Saccus pneumaticus.
Praktikum yang telah dilakukan menunjukkan bahwa Columba livia
memiliki saccus pneumaticus yang berkembang dengan sempurna.
Columba livia memiliki 11 buah saccus pneumaticus yaitu satu saccus
interclavicularis, sepasang saccus cervicalis, sepasang saccus axilaris,
sepasang saccus thoracalis anterior, sepasang saccus thoracalis posterior,
dan sepasang saccus abdominalis. Onuk et al. (2009) menyatakan bahwa
saccus pneumaticus pada Columba livia adalah sepasang saccus cervicalis
terletak pada pangkal leher. Satu buah saccus interclavicularis terletak
diantara clavicula dan bercabang. Sepasang saccus axillaris pada pangkal
sayap. Sepasang saccus thoracalis anterior pada rongga dada muka.
Sepasang saccus thoracalis posterior pada rongga dada belakang.
Sepasang saccus abdominalis pada rongga perut.
Hasil dari praktikum yang telah dilakukan menunjukkan bahwa
saccus pneumaticus memiliki banyak fungsi. Saccus pneumaticus
berfungsi sebagai alat untuk menjaga panas dalam tubuh agar tidak hilang
berlebihan. Columba livia mengepakkan sayap ketika terbang sehingga
mampu menghasilkan energi panas. Energi panas yang dihasilkan
kemudian disimpan di Saccus pneumaticus. Fungsi lainnya dapat
memperbesar atau memperkecil massa jenis tubuh yang menurut
Breithaupt (2001) memiliki persamaan (m/v). Columba livia mengisi Saccus
pneumaticus dengan udara sehingga volume tubuh menjadi lebih besar
saat terbang. Pertambahan volume tubuh berbanding terbalik dengan
massa tubuh Columba livia lebih ringan dan lebih leluasa saat terbang
karena massa jenisnya kecil. Fungsi terakhir adalah memperbesar syrinx
(memperkeras suara). Setiap makhluk hidup dapat mengeluarkan suara
karena adanya udara yang mengetarkan pita suara. Semakin banyak udara
yang masuk semakin kencang pita suara bergetar yang mengakibatkan
suara mejadi lebih keras.

Gambar 1.Saccus pneumaticus


(Wardhana, 2017)
Hasil praktikum menunjukkan bahwa burung mekanisme
pernapasan pada burung dibedakan atas pernafasan pada waktu istirahat
dan pernafasan pada waktu terbang. Burung yang sedang istirahat lebih
mengoptimalkan kerja paru-parunya sedangkan burung yang sedang
terbang lebih mengoptimalkan kerja kantung udaranya. Campbell et al.
(2002) menyatakan bahwa fisiologi makhluk hidup dipengaruhi oleh
lingkungan, salah satunya adalah ketinggian, burung yang terbang tinggi
akan semakin cepat kepakan sayapnya, karena kadar oksigen pada udara
di lapisan atas semakin kecil atau menipis. Pernafasan pada waktu istirahat
terdiri dari fase inspiratio dan expiratio, pada fase inspiratio, costac
bergerak ke arah carnio ventral cavum sehingga thoracalis
membesar,pulmo mengembang dan udara masuk ke dalam pulmo.
Pernafasan pada waktu terbang dipengaruhi oleh fungsi Saccus
pneumaticus yang berupa Saccus interclavicularis dan Saccus axillaris.
Inspirasi dan ekspirasi dilakukan bergantian oleh kantung udara di antara
tulang coracoid (Saccus interclavicularis) dan kantung udara di bawah
tulang ketiak (Saccus axillaris), saat mengepakan sayap (sayap diangkat
ke atas), kantong udara di antara tulang coracoid terjepit sehingga udara
kaya oksigen pada bagian itu masuk ke paru-paru (inspirasi), saat sayap
terkepak turun, kantung udara di bawah ketiak terjepit sementara kantung
udara di antara tulang coracoid mengembang, sehingga udara masuk ke
kantung udara di antara coracoid (ekspirasi).

Gambar 2. Mekanisme pernapasan pada burung


(Wardhana, 2017)
Praktikum yang telah dilakukan menunjukkan bahwa respirasi pada
burung dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti temperatur, kadar oksigen,
ketinggian terbang, umur, dan rangsangan mekanik. Temperatur
berpengaruh terhadap frekuensi pernapasan yang terjadi. Kadar oksigen
berpengaruh pada mekanisme terjadinya pernapasan. Ketinggian terbang
berpengaruh terhadap banyaknya ketersediaan oksigen untuk melakukan
respirasi. Umur berpengaruh terhadap kecepatan respirasi yang terjadi.
Onuk et al. (2009) menyatakan bahwa frekuensi respirasi akan meningkat
dari awal burung menetas hingga burung dewasa, setelah itu frekuensi
respirasi akan stagnan dan perlahan menurun hingga burung tersebut mati.
Rangsangan mekanik akan mempengaruhi jumlah kebutuhan oksigen saat
respirasi.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan ada beberapa penyakit
yang menyerang unggas. Penyakit-penyakit tersebut ada yang dapat
menyebabkan kecacatan pada unggas maupun kematian. Beberapa
penyakit yang menyerang unggas adalah sebagai berikut. Chronic
Respiration Disease (CRD), penyebab dari penyakit ini adalah bakteri
Mycoplasma gallisepticum. Pribadi (2017) menyatakan bahwa unggas
dengan penyakit CRD memiliki ciri-ciri gangguan pernafasan/ngorok, bersin
dan kepala tertunduk atau dikibas-kibaskan. Keluar cairan/getah dari
hidung dan cairan berbusa dari mata. Nafsu makan turun menyebabkan
berat badan turun/kerdil. Pada ayam layer produksi telur turun 20 – 30 %.
Penyakit ini menular ketika masih dalam keadaan telur atau anak ayam.
Pengobatan penyakit CRD adalah dengan cara memberikan antibiotik
erithromisin, tilosin pada ternak yang telah terinfeksi.
Penyakit berikutnya adalah Infectious Bronchitis (IB). Penyakit ini
disebabkan oleh Corona virus. Cara penularan penyakit IB adalah
melalui sirkulasi udara. Pengobatan penyakit IB pada unggas belum
ditemukan namun penyakit ini bisa dicegah infeksinya dengan
menggunakan antibiotik dan sebelum terjangkit bisa dicegah dengan
vaksinasi. Pribadi (2017) menyatakan bahwa gejala dari ternak yang
terserang penyakit ini adalah sesak nafas. Penyakit ini jarang menyebabkan
kematian pada ayam dewasa, namun produksi telur pada ayam layer
bisa turun hingga 0% dan jarang bisa berproduksi normal kembali.
Penyakit berikutnya adalah Infectious Laryngo Traceitis (ILT).
Penyebab dari penyakit ILT adalah virus dari grup herpes. Gejala klinis dari
unggas yang terkena penyakit ILT pertama adalah mata berair, lalu sulit
bernafas, batuk dan bersin, setelah itu malas bergerak. Penularan penyakit
IB adalah melalui udara saat pernafasan. Virus IB juga dapat ditularkan
melalui pakaian pengunjung dan peralatan terinfeksi. Pribadi (2017)
menyatakan bahwa ILT menyebabkan pembentukan eksudat pada trachea
dan larynx lalu membuat lapisan trachea mengelupas. Angka kematian dari
unggas yang tereserang penyakit ini adalah 1% per hari (dalam keadaan
parah). Penyakit ini menyebabkan produksi telur turun 10 - 50% pada layer
dan kembali normal setelah 3 – 4 mgg. Penyebaran penyakit ini lebih lambat
dari pada IB.
Kesimpulan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan


bahwa letak Saccus pneumaticus adalah pada rongga badan yang terletak
pada leher, perut, dada, dan pangkal sayap. Saccus pneumaticus
menempel pada pulmo dan berhubungan satu sama lain. Saccus
pneumaticus berbentuk seperti kantung yang kuat dan elastis. Saccus
pneumaticus terdiri dari Saccus cervicalis, Saccus interclavicularis, Saccus
axilaris, Saccus thoracalis anterior, Saccus thoracalis posterior, dan Saccus
abdominalis. Mekanisme kerja Saccus pneumaticus terdiri dari empat
tahapan, yaitu inhalasi 1, exhalasi 1, inhalasi 2, dan exhalasi 2.
Daftar Pustaka

Aspiral, Victoria and Melanie Cappello. 2009. Introduction to Veterinary


Anatomy and Physiology E-Book. China : Butterworth Heinemann
An Imprint of Elsevier Ltd. PP 147-150.
Breithaupt, Jim. 2001. Physics. United Kingdom : Nelson Thornes Ltd.
PP 487- 490.
Campbell,N.A. 2002. Biologi Edisi V jilid 2. Jakarta : Erlangga. PP 374-379.
Hopkins William G. 2006. Photosynthesis and Respiration. United States
of America : Infobase Publishing. PP 5-9.
MacKenzie, Leslie., David K. Arwine, Edward J. Shewan, Michael J.
McHugh. 2004. Biology : A Search for Order in Complexity.
Michigan : Christian Liberty Press. PP 360-365.
Nasution, Idawati. 2013. Rasio Ketebalan Dinding Terhadap Tulang
Humerus Ayam Kampung (Gallus Domesticus) dan Burung Merpati
(Columba Livia). Jurnal Medika Veterinaria 7.1 : 190-201.
Onuk, Boreu., M Haziiloglu, and Murat Kabak. 2009. Gross Anatomy of the
Respiratory System in Goose (Anser anser domesticus). Bronchi
and Sacci Pneumatici. Ankara Universiti Veteriner Fakultesi Dergisi
56 : 165-170.
Pribadi, Eko Sugeng. 2017. Seroprevalensi dan Faktor Risiko Penularan
Mycoplasma gallisepticum pada Peternak Ayam Petelur Komersial
di Kabupaten Blitar. Jurnal Veteriner Juni. 18.2 : 211-220.
Wardhana, Analis Wisnu. 2017. Anatomi Unggas. Malang : Universitas
Brawijaya Press. PP 48-61.