Anda di halaman 1dari 10

TUGAS 3

ARYENTI WULANDARI 030870944

1. Jelaskan apa yang anda ketahui mengenai Garis Keutamaan, dan sebutkan 4
golongan Ahli Waris menurut Undang-undang serta jelaskan pengaturan mengenai
penggantian Ahli Waris dalam garis lurus ke bawah disertai dasar hukumnya ? (skor
: 30)
JAWABAN :
Yang dimaksud garis pokok keutamaan ialah suatu garis hukum yang menentukan perikutan keutamaan
antara golongan-golongan dalam keluarga si pewaris, dalam arti golongan yang satu diutamakan dari
yang lain dengan akibat bahwa sesuatu golongan belum boleh dimasukkan dalam perhitungan jika ada
golongan yang lebih utama.
1. Golongan I: suami/isteri yang hidup terlama dan anak/keturunannya (Pasal 852
KUHPerdata).
2. Golongan II: orang tua dan saudara kandung Pewaris
3. Golongan III: Keluarga dalam garis lurus ke atas sesudah bapak dan ibu pewaris
4. Golongan IV: Paman dan bibi pewaris baik dari pihak bapak maupun dari pihak ibu, keturunan
paman dan bibi sampai derajat keenam dihitung dari pewaris, saudara dari kakek dan nenek
beserta keturunannya, sampai derajat keenam dihitung dari pewaris.

Penggantian Dalam Garis Lurus ke Bawah.

Setiap anak yang meninggal dunia lebih dahulu digantikan oleh anak-anaknya, demikian pula

jika di antara pengganti-penggantinya itu ada yang meninggal lebih dahulu lagi, maka ia digantikan

oleh anak-anaknya, begitu seterusnya, dengan ketentuan bahwa semua keturunan dari satu orang

yang meninggal lebih dahulu tersebut harus dipandang sebagai suatu cabang ( staak) dan bersama-

sama memperoleh bagiannya orang yang mereka gantikan.

Seseorang yang karena suatu sebab telah dinyatakan tidak patut menjadi ahli

waris (onwaardig), atau orang yang menolak warisan (onterfd), maka anak-anaknya tidak dapat

menggantikan kedudukannya karena ia sendiri masih hidup.

Apabila tidak ada anak selain dari yang dinyatakan tidak patut menerima warisan, atau menolak

warisan, maka anak-anaknya dapat tampil sebagai ahli waris, tetapi bukan karena menggantikan

kedudukan orang tuanya (plaatsvervulling) melainkan karena kedudukannya sendiri (uit eigen hoofde).

2. Suatu perjanjian untuk berlaku sah dibutuhkan syarat, sebutkan bunyi Pasal yang
mengaturnya disertai dengan penjelasan yang berkaitan dengan Syarat Objektif
dan Syarat Subjektif ? (skor : 50)
Syarat sah perjanjian ada 4 (empat) terdiri dari syarat subyektif dan syarat objektif, diatur dalam Pasal
1320 KUHPerdata, yaitu :

Syarat Subyektif (menyangkut para pembuatnya). Tidak dipenuhinya syarat dibawah ini,
mengakibatkan perjanjian dapat dibatalkan (voidable).

1. Sepakat (Pasal 1321 - 1328 KUHPerdata)


Supaya perjanjian menjadi sah maka para pihak harus sepakat terhadap segala hal yang terdapat di
dalam perjanjian dan memberikan persetujuannya atau kesepakatannya jika ia memang menghendaki
apa yang disepakati. Dalam preambule perjanjian (sebelum masuk ke pasal-pasal), biasa tuliskan
sebagai berikut "Atas apa yang disebutkan diatas, Para Pihak setuju dan sepakat hal-hal sebagai
berikut:"

Pencantuman kata-kata setuju dan sepakat sangat penting dalam suatu perjanjian. Tanpa ada kata-
kata ini (atau kata-kata lain yang bermaksud memberikan ikatan atau setuju saja atau sepakat saja),
maka perjanjian tidak memiliki ikatan bagi para pembuatanya. Setuju dan sepakat dilakukan dengan
penuh kesadaran di antara para pembuatnya, yang bisa diberikan secara lisan dan tertulis.

Suatu perjanjian dianggap cacat atau dianggap tidak ada apabila:

 mengandung paksaan (dwang), termasuk tindakan atau ancaman atau intimidasi


mental.
 mengandung penipuan (bedrog), adalah tindakan jahat yang dilakukan salah satu
pihak, misal tidak menginformasikan adanya cacat tersembunyi.
 mengandung kekhilafan/kesesatan/kekeliruan(dwaling), bahwa salah satu pihak
memiliki persepsi yang salah terhadap subyek dan obyek perjanjian. Terhadap subyek
disebut error in persona atau kekeliruan pada orang, misal melakukan perjanjian
dengan seorang artis, tetapi ternyata perjanjian dibuat bukan dengan artis, tetapi
hanya memiliki nama dengan artis. Terhadap obyek disebut error in substantia atau
kekeliruan pada benda, misal membeli batu akik, ketika sudah dibeli, ternyata batu
akik tersebut palsu

2. Cakap (Pasal 1329 - 1331 KUHPerdata)

Pasal 1329 KUHPerdata menyatakan bahwa setiap orang adalah cakap untuk membuat perjanjian,
kecuali apabila menurut undang-undang dinyatakan tidak cakap. Kemudian Pasal 1330 menyatakan
bahwa ada beberapa orang yang tidak cakap untuk membuat perjanjian, yakni

 Orang yang belum dewasa (dibawah 21 tahun, kecuali yang ditentukan lain)
 Mereka yang ditaruh di bawah pengampuan (curatele or conservatorship); dan
 Perempuan yang sudah menikah

Berdasarkan pasal 330 KUHPerdata, seseorang dianggap dewasa jika dia telah berusia 21 tahun atau
kurang dari 21 tahun tetapi telah menikah. Kemudian berdasarkan pasal 47 dan Pasal 50 Undang-
Undang No 1/1974 menyatakan bahwa kedewasaan seseorang ditentukan bahwa anak berada di
bawah kekuasaan orang tua atau wali sampai dia berusia 18 tahun.

Berkaitan dengan perempuan yang telah menikah, pasal 31 ayat (2) UU No. 1 Tahun 1974 menentukan
bahwa masing-masing pihak (suami atau isteri) berhak melakukan perbuatan hukum.

Selain itu khusus suami istri, mohon diperhatikan juga apakah dalam perkawinan terdapat perjanjian
pisah harta.

Syarat Obyektif (menyangkut para pembuatnya). Tidak dipenuhinya syarat dibawah ini, mengakibatkan
perjanjian batal demi hukum (null and void).

3. Hal tertentu (Pasal 1332 - 1334 KUHPerdata)

Pasal 1333 KUHPerdata menentukan bahwa suatu perjanjian harus mempunyai pokok suatu benda
(zaak)yang paling sedikit dapat ditentukan jenisnya. Suatu perjanjian harus memiliki objek tertentu dan
suatu perjanjian haruslah mengenai suatu hal tertentu ( certainty of terms), berarti bahwa apa yang
diperjanjikan, yakni hak dan kewajiban kedua belah pihak. Barang yang dimaksudkan dalam perjanjian
paling sedikit dapat ditentukan jenisnya (determinable).

4. Sebab yang halal (Pasal 1335 - 1337 KUHPerdata)

Syarat sahnya perjanjian yang keempat adalah adanya kausa hukum yang halal. Jika objek dalam
perjanjian itu illegal, atau bertentangan dengan kesusilaan atau ketertiban umum, maka perjanjian
tersebut menjadi batal. Sebagai contohnya, perjanjian untuk membunuh seseorang mempunyai objek
tujuan yang illegal, maka kontrak ini tidak sah.

Menurut Pasal 1335 jo 1337 KUHPerdata menyatakan bahwa suatu kausa dinyatakan terlarang jika
bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan, dan ketertiban umum.

Suatu kausa dinyatakan bertentangan dengan undang-undang, jika kausa di dalam perjanjian yang
bersangkutan isinya bertentangan dengan undang-undang yang berlaku. Untuk menentukan apakah
suatu kausa perjanjian bertentangan dengan kesusilaan ( geode zeden) bukanlah hal yang mudah,
karena istilah kesusilaan tersebut sangat abstrak, yang isinya bisa berbeda-beda antara daerah yang
satu dan daerah yang lainnya atau antara kelompok masyarakat yang satu dan lainnya. Selain itu
penilaian orang terhadap kesusilaan dapat pula berubah-ubah sesuai dengan perkembangan jaman.

3. Jelaskan menurut pendapat Anda tentang pengertian perjanjian Perjanjian jual


beli, Perjanjian tukar menukar, Perjanjian sewa menyewa, Perjanjian melakukan
pekerjaan, Perjanjian persekutuan, dan Perjanjian hibah beserta dasar hukumnya
? (skor : 20)
JAWABAN :

JUAL BELI
Definisi
Jual beli adalah suatu perjanjian bertimbal balik dalam mana ,pihak yang satu (si penjual) berjanji
untuk menyerahkan hak milik atas suatu barang, sedangkan pihak yang lainnya (si pembeli) berjanji
untuk membayar harga yang terdiri atas sejumlah uang sebagai imbalan dari perolehan hak milik
tersebut.
Saat terjadinya perjanjian jual beli

Unsur-unsur pokok dalam perjanian jual beli adalah barang dan harga, sesuai asas konsesualisme
(kesepakatan) yang menjiwai hukum perjanjian maka perjanjian jual beli akan ada saat terjadinya atau
tercapainya “sepakat” mengenai barang dan harga. Sifat konsesual dari jual beli tersebut ditegaskan
dalam pasal 1458 BW yang berbunyi “jual beli sianggap sudah terjadi antara kedua belah pihak seketika
setelah mereka mencapai sepakat tentang barang dan harga, meskipun barang itu belum diserahkan
maupun harganya belum dibayar”.Sebagaimana diketahui hukum perjanjian dari BW menganut asas
konsesualisme, artinya ialah bahwa untuk melahirkan perjanjian cukup dengan sepakat saja dan bahwa
perjanjian itu sudah dilahirkan pada saat atau detik tercapainya konsesus sebagaimana dimaksud
diatas.

Kewajiban Penjual
Bagi pihak penjual terdapat dua kewajiban utama dalam perjanjian jual beli, diantaranya yaitu :

 Menyerahkan hak milik atas barang yang diperjual belikan. Kewajiban menyerahkan hak milik
meliputi segala perbuatan yang menurut hukum diperlukan untuk mengalihkan hak milik atas
barang (barang bergerak, barang tetap maupun barang tak bertubuh atau piutang atau penagihan
atau claim) yang diperjual belikan itu dari si penjual kepada pembeli
 Menanggung tenteram atas barang tersebut. Kewajiban untuk menanggung kenikmatan tenteram
merupakan konsekuwensi dari pada jaminan yang oleh penjual diberikan kepada pembeli bahwa
barang yang dijual dan dilever itu adalah sungguh-sungguh miliknya sendiri yang bebas dari
sesuatu beban atau tuntutan dari sesuatu pihak. Kewajiban tersebut menemukan realisasinya
dalam kewajiban untuk memberikan penggantian kerugian jika sampai terjadi si pembeli karena
suatu gugatan pihak ke tiga.
Kewajiban Pembeli

Kewajiban pembeli adalah membayar harga pembelian pada waktu dan ditempat sebagaimana
dietapkan menurut perjanjian. Jika pada waktu membuat perjanjian tidak ditetapkan tetang tempat
dan waktu pembayaran maka si pembeli harus memmbayar ditempat dan pada waktu dimana
penyerahan barangnya harus dilakukan (pasal 1514)

Resiko dalam perjanjian jual beli

Risiko adalah kewajiban memikul kerugian yang disebabkan oleh suatu kejadian (peristiwa) diluar
kesalahan salah satu pihak. Dengan demikian maka persoalan tentang risiko itu merupakan buntut dari
persoalan tentang keadan memaksa, suatu kejadian yang tak disengaja dan tak dapat diduga.
Mengenai resiko dalam jual beli dalam BW disebutkan ada tiga peraturan yang terkait akan hal itu,
yaitu :

 Mengenai barang tertentu (pasal 1460)


 Mengenai barang yang dijual menurut berat, jumlah atau ukuran (pasal 1461)
 Mengenai barang-barang yang dijual menurut tumpukan (pasal 1462)

Namun perlu diingat bahwa selama belum dilever mengenai barang dari macam apa saja, resikonya
masih harus dipikul oleh penjual, yang masih merupakan pemilik sampai pada saat barang itu secara
yuridis diserahkan kepada pembeli.

Jual beli dengan hak membeli kembali

Kekuasaan untuk membeli kembali barang yang telah dijual (recht van wederinkoop, right to
repurchase) diterbitkan dari suatu perjanjian dimana si penjual diberikan hak untuk mengambil kembali
barangnya yang telah dijual, dengan mengembalikan harga pembelian yang telah diterimanya disertai
semua biaya yang telah dikeluarkan (oleh si pembeli) untuk menyelenggarakan pembelian serta
penyerahannya, begitu pula biaya-biaya yang perlu untuk pembetulan-pembetulan dan pengeluaran-
pengeluaran yang menyebabkan barang yang dijual bertambah harganya. (pasal 1519 dan 1532)

Jual beli piutang dan lain-lain hak takbertubuh


Dalam pasal 1533 disebutkan bahwa penjualan suatu piutang meliputi segala sesuatu yang melekat
padanya, seperti penangungan-penanggungan, hak-hak istimewa dan hipotik-hipotik. Kemudian dalam
pasal 1534 disebutkan “barangsiapa yang menjual suatu piutang atau suatu hak takbertubuh lainnya,
harus menanggung bahwa hak itu benar ada pada waktu diserahkannya, biarpun penjualan dilakukan
tanpa janji penanggungan.
Hak reklame (menuntut kembali)

Dalam hal jual beli diadakan tanpa suatu janji bahwa harga barang boleh diangsur atau dicicil dan
pembeli tidak membayar harga itu, maka selama barangnya masih berada ditangannya si pembeli,
penjual dapat menuntut kembali barangnya asal penuntutan kembali itu dalam jangka waktu 30 hari.
Dasar hukum pengaturan menganai hak reklame adalah terdapat dalam pasal 1145 BW. Selain itu juga
dapat dijumpai dalam pasal 230 KUHD, akan tetapi dalam KUHD tersebut hanya berlaku dalam halnya
si pembeli telah dinyatakan pailit. Syarat-syarat untuk melancarkan reklame dalam KUHD adalah lebih
longgar dibandingkan dengan syarat-syarat yang ditetapkan dalam pasal 1145 BW, yaitu :

 Jual beli tidak usah jual beli tunai (kontan), jadi jual beli kreditpun boleh.
 Penuntutan kembali dapat dilakukan dalam jangka waktu 60 hari, jadi lebih lama dari jangka
waktu yang diperkenankan oleh pasal 1145 BW
 Tuntutan reklame masih boleh dilancarkan meskipun barangnya sudah berada ditangan orang
lain.
Jual beli “barang orang lain”
Pasal 1471 BW menggariskan “jual beli barang orang lain adalah batal dan dapat memberikan dasar
untuk penggantian biaya, kerugian dan bunga, jika si pembeli tidak telah mengetahui bahwa barang
itu kepunyaan orang lain”

TUKAR MENUKAR

Tukar-menukar adalah suatu perjanjian dengan mana kedua belah pihak mengikatkan dirinya untuk
saling memberikan suatu barang secara bertimbal-balik sebagai gantinya suatu barang lain. Perjanjian
ini juga dikenal dengan nama “barter”. Segala apa yang dapat dijual, dapat juga menjadi objek
perjanjian tukar-menukar. Segala peraturan-peraturan tentang perjanjian jual-beli juga berlaku
terhadap perjanjian tukar-menukar (pasal 1546)

Resiko dalam perjanjian tukar-menukar diatur dalam pasal 1545 yang berbunyi : “jika suatu
barangtertentu yang telah dijanjikan untuk ditukar, musnah diluar kesalahan pemiliknya, maka
persetujuan dianggap sebagai gugur dan siapa yang dari pihaknya telah memenuhi persetujuan, dapat
menuntut kembali barang yang ia telah berikan dalam tukar menukar”.

SEWA MENYEWA

Devinisi
Sewa-menyewa adalah suatu perjanjian dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk
memberikan kepada pihak yang lainnya kenikmatan dari suatu barang, selama suatu waktu tertentu
dan dengan pembayaran suatu hargayangoleh pihak yang tersebut terakhir itu disanggupi
pembayarannya (pasal 1548 B.W) Sewa menyewa adalah suatu perjanjian konsensual.artinya ia sudah
sah dan mengikat pada detik tercapainya sepakat mengenai unsure-unsur pokoknya, yaitu barang dan
harga. Kewajiban pihak yang satu adalah menyerahkan barangnya untuk dinikmati oleh pihak yang
lain, sedangkan kewajiban pihak yang terakhir ini adalah membayar “harga sewa”. Pasal 1579 berbunyi:
“pihak yang menyewakan tidak dapat menghentikan sewanya dngan menyatakan hendak memaai
sendiri barangnya yang disewakan, kecuali jika telah diperjanjikan sebelumnya”. Tentang harga sewa:
kalau dalam jual beli harga harus berupa uang, karena kalau berupa barang perjanjianyabukan jual-
beli lagi tetapi menjadi tukar-menukar, tetapi dalam sewa-menyewa tiadaklah menjadi keberatan
bahwa harga sewa itu berupa barang atau jasa.

Kewajiban-kewajiban pihak yang menyewakan

Pihak yang menyewakan mempunyai kewajiban:

 Menyerahkan barang yangdisewakan kepada si penyewa


 Memelihara barang yangdisewakan sedemikian hingga itu dapat dipakai untuk keperluan yang
dimaksudkan.
 Memberikan keapada si penyewa kenkmatan tenteram dari barang yang diseakan selama
berlangsungnya persewaan.

Kewajiban-kewajiban penyewa

Bagi si penyewa ada dua kewajiban utama yaitu:

 Memakai barang yang disewa sebagai seorang “bapk rumah yang baik”, sesuai dengan tujuan
yang diberikan kepada barang itu menurut perjanjian sewanya.
 Membayar harga sewa pada waktu-waktu yang telah ditentukan menurut pejanjian.

Resiko dalam sewa pemnyewa

Menurut pasal 1553, dalam sea-menyewa itu mengenai barang yangdipersewakan dipikul oleh si
pemilik barang, yaitu pihak yang menyewakan.

Gangguan dari piphak ketiga

Apabila selama wakttu sewa, si penyewa dalam pemakaian barang yang disewakan diganggu oleh
seorang pihak ketiga berdasar atas suatu hak yang dikemukakan oleh orang pihak ketiga aka dapatlah
si penyewa menuntut dari pihak yang menyewakan supaya uang sewa dikurangi secara sepadan
dengan sifat gangguan itu.

Mengulang sewakan
Si penyewa jika kapadanya tidak telah diperijinkan oleh pemilik barang, tidak diperbolehkan mengulang
sewakan barang yang disewanya maupun melepas sewanya kepada orang lain. Kecuali kalau hal-hal
itu diperjanjikan tetapi kalau menyewakan sebagian dari sebuah rumah tempat tinggal yang disewa
adalah diperbolehkan kecuali kalau hal itu telah dilarang dalam perjanjian sewanya.

Sewa tertulis dan sewa lisan

Meskipun sewa menyewa adalah suatu perjanjian konsensual, namun oleh undang-undang diadakan
perbedaan dalam akibat-akibatnya antara sewa tertulis dan sewa lisan.

Jika sewa menyewa itu diadakan secara tertulis maka sewa menyewa berakhir demi hukum (otomatis)
apabila waktu yang ditentukan sudah habis tanpa diperlukannya sesatu pemberitahuan pemberhantian
untuk itu.

Senaliknya jika sewa menyewa tidak dibuat dengan tertulis maka sewa itu tidak berahir pada waktu
yang ditentukan.

Perihal sewa menyewa secara tertulis diatur dalam pasal 1570 sedangkan perihal sewa menyewa yang
tidak tertulis (lisan) diatur dalam pasal 1571.

Jual beli tidak memutuskan sewa menyewa

Dengan dijualnya barang yang disewa, suatu persewaan yang dibuat sebelumnya tidaklah diputuskan,
kecuali apabila ia telah diperjanjikan pada waktu menyewakan barangnya (pasal 1576)

Pandbeslag

Merupakan hak utama yang diberikan oleh undang-undang atas barang-barang perabot rumah yang
diakai untuk menghiasi rumah tersebut guna menjamin pembayaran tunggakkan uang sewa. Artinya
dalam suatu eksekusi (lelang sita) atas barang-barang perabot rumah yang dipakai untuk menghiasi
rumah tersebut, sipemilik rumah harus paling dahulu diberikan sejumlah yang cukup dari pendapatan
lelangan untuk melunasi tunggakan uang sewa yang menjadi haknya, sebelum kreditu-kreditur lainnya
menerima bagian mereka.

Sewa menyewa perumahan

Masalaha perumahan merupakan suatu masalah social yang sangat penting. Pasca Perang Dunia II
banyak rumah-rumah gedung yang dikuasai oleh pemerintah untuk diatur penggunaan atau
penghuninya. Pada masa sekarang pengaturan mengenai hal itu oleh pemerintah digariskan dalam
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1958 tentang urusan perumahan. Pelaksanaan mengenai urusan
perumahan diserahkan kepada Kantor Urusan Perumahan, oleh karenanya untuk menmpati rumah
tersebut harus ad surat iji penghuni (SIP) yang diberikan oleh Kantor Urusan Perumahan.
SEWA BELI

Sewa beli sebenarnya adalah suat macam jual beli, setidak-tidaknya ia lebih mendekati jual beli
daripada sewa menyewa, meskipun ia merupakan suatu campuran dari keduanya dan diberikan judul
“sewa menyewa”. Hakekat dari sewa beli adalah suatu macam perjanjian jual beli dimana selama harga
belum dibayar lunas maka si pembeli menjadi penyewa dahulu dari barang yang ingin dibelinya.

PERJANJIAN UNTUK MELAKUKAN PEKERJAAN

Undang-undnag membagi perjanjianuntuk melakukan pekerjaan dalam tiga macam, yaitu :

Perjanjian untuk melakukan jasa-jasa tertentu

Maksud dalam perjanjian ini yaitu suatu pihak menghendaki dari pihak lawannya dilakukannya
pekerjaan untuk mencapai suatu tujuan, untuk mana ia bersedia membayar upah, sedangkan apa yang
akan dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut sama sekali terserah kepada pihak lawannya itu.
Termasuk dalam golongan ini lajimnya yaitu hubungan antara seorang pasien dengan dokter, hubungan
antara seorang pengacara dengan kliennya yang minta diurusinya suatu perkra, hubungan antara
seorang notaries dengan seorang yang dating kepadanya untuk dibuatkan suatu akte dan lain
sebagainya.

Perjanjian kerja atau perburuhan

yaitu perjanjian antara seorang buruh dengan seorang majikan, perjanjian mana ditandai oleh ciri-ciri
:

– Adanya suatu uah atau gaji tertentu yang diperjanjikan

– Adanya suatu “hubungan diperatas” atau “dienstverhouding” yaitu suatu hubungan berdasarkan
mana pihak yang satu (majikan) berhak memberikan perintah-perintah yang harus ditaati oleh yang
lain.

Mengenai hal ini iatur dalam pasal 1601 – 1603 BW. Sedangkan untuk perjanjian kerja laut diatur dalam
Bab IV dari Buku II KUHD.

Perjanjian pemborongan kerja

Yaitu suatu perjanjian antara seorang (pihak yang memborongkan pekerjaan) dengan seorang lain
(pihak yang memborong pekerjaan) dimana pihak pertama menghendaki sesuatu hasil pekerjaan yang
disanggupi oleh pihak lawan, atas pembayaran suatu jumlah uang sebagai harga pemborongan .
PERSEKUTUAN

Definisi

Yang dimaksud dengan persekutuan adalah suatu perjanjian antara dua orang atau lebih untuk
berusaha bersama-sama mencari keuntungan yang akan dicapai dengan jalan masing-masing
memmasukkan sesuatu dalam suatu kekayaan bersama (Pasal 1618 BW).

Hubungan antara para sekutu

Undang-undang menetapkan bahwa sekutu yang hanya memasukkan tenaganya saja, mendapat
bagian yang sama dari keutungan bersama seperti sekutu yang memasukkan “modal yang paling sedikit
(pasal 1633 ayat 2). Hubungan antar para sekutu, dalam hal adanya pertetangan antara kepentingan
sekutu dan kepentingan persekutuan, selalu memberikan prioritas kepada kepentingan persekutuan.
Apabila persekutuan, sebagai akibat kesalahan seorang sekutu didalam mengerjakan sesuatu urusan,
menderita kerugian maka sekutu tersebut harus mengganti kerugian itu tanpa dibolehkan
mengkonpensasikan keuntungan-keuntungan yang diperolehnya bagi persekutuan dalam lain urusan
(pasal 1630)

Hubungan para sekutu dengan pihak ketiga

Tanggung jawab para sekutu terhadap pihak keiga ditegaskandalam pasal 1643 dimana para sekutu
dapat dituntut oleh siberpiutang dengan siapa mereka telah bertindak, masing-masing untuk suatu
jumlah dan bagian yang sama, meskipun bagian sekutu yang satu dalam persekutuan adalah kuarang
daripada bagiansekutu yang lainya kecuali apabila sewaktu hutang tersebut dibuatnya dengan tegas
ditetapkan kewajiban para sekutu itu untuk membayar hutang tersebut menurut imbangan besarnya
bagian masing-masing dalam persekutuan.

Macam-macam cara berakhirnya persekutuan

Menurut pasal 1646 B.W persekutuan berakhir

– Dengan lewatnya waktu untuk mana persekutuan telah diadakan

– Dengan musnahnya barang atau diselesaikannya perbuatan yang menjadi pokok persekutuan

– Atas kehendak semata-mata dari beberapa atau seorang sekutu

– Jika salah seorang sekutu meninggal atau ditaruh dibawah pengampunan atau dinyatakan pailit.
PENGHIBAHAN

Devinisi dan Ketentuan-ketentuan umum

Menurut pasal 1666 B.W penghibahan adalah suatu perjanjian dengan mana si penghibah, di waktu
hidupnya, dengan Cuma-Cuma dan dengan tridak dapat di tarik kembali, menyerahkan sesuatu barang
guna keperluan si penerima hibah yang menerima penyerahan itu. Penghibahan hanyalah dapat
mengenai barang –barang yang sudah ada, jiak ia meliputi barang –barang yang baru akan ada di
kemudian hari maka sekadar mengenai itu hibahnya adalah batal (pasal 1667)

Kecakapan untuk member dan menerima hibah

Untuk menghibahkan, seorang, selainnya bahwa ia harus sehat pikirannya, harus sudah dewasa. Untuk
menerima suatu hibah, dibolehkan orang itu belum dewasa tetapi ia harus diwakili oleh orang tua atau
wali.

Cara menghibahkan sesuatu

Pasal 1682 menetapkan tiada suatu hibah kecuali yang disebutkan dalam pasal 1687, dapat, atas
ancaman batal, dilakukan selainnya dengan suatu akta notaries, yang aslinya disimpan oleh notaries
itu. Dari pasal 1682 dan 1687 tersebut dapat kita lihat bahwa untuk penghibahan benda tak bergerak
ditetapkan suatu formalitas dalam bentuk akte notaries tetapi untuk penghibahan barang bergerak
yang bertuguh atau surat penagihan hutang atas tunjuk tidak diperlukan sesuatu formalitas dan dapat
dilakukan secara sah dengan penyerahan barangnya begitu saja kepada sipenerima hibah atau kepada
seoarang pihak ketiga yang menerima pemberian hibah atas namanya.

Penarikan kembali dan penghapusan hibah

Meskipun suatu penghibahan tidak dapat ditarik kembali secara sepihak tanpa persetujuan pihak lawan
namun ditentukan oleh pasal 1688 bagi si penghibah untuk dalam hal-hal tertentu menarik kembali
atau menghapuskan hibah yang elah diberikan pada seseoarang. Penarikan kembali atau penghapusan
penghibahan dialkukan dengan menyatakan kehendaknya kepada si penerima hibah disetai penuntutan
kembali barang-barang yang telah di hibahkan dan apabila itu tidak dipenuhi sefcara sukarela maka
penuntutan kembali barang-barang itu di ajukan kepada pengadilan.