Anda di halaman 1dari 15

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 1 Turen Kabupaten Malang dengan

Frekuensi Responden sebanyak 120 orang dari siswi kelas IIV mulai IIV A-H.

Penelitian ini dilakukan pada tanggal 25 Juni 2009.

Penelitian ini menggunakan alat ukur kuesioner dan sekaligus akan

ditampilkan data umum responden yang meliputi karakteristik responden berdasarkan

umur, sudah mendapatkan haid pertama atau belum dan jika sudah usia berapa,

pernah tidaknya menerima informasi tentang pubertas dan sumber informasi tentang

pubertas. Serta ditampilkan pula data khusus responden yang meliputi pengetahuan

remaja putri tentang pubertas disertai dengan distribusi frekuensi tiap-tiap item soal

dari kuesioner pegetahuan, sikap remaja putri dalam meghadapi masa puber disertai

dengan distribusi frekuensi tiap-tiap item check list pengukuran sikap, dan hubungan

pengetahuan remaja putri tentang pubertas dengan sikap remaja putri dalam

meghadapi masa puber, yang disajikan dalam bentuk tabel, dan narasi.

4.1.1 Data Lokasi Penelitian

SMP Negeri 1 Turen berada di Jl. Panglima Sudirman 1A Turen Kecamatan

Turen Kabupaten Malang, SMP Negeri 1 Turen berdiri tahun 1960 dan mulai

beroperasi pada tanggal 24 Agustus 1961. Pada tahun ajaran 2008-2009 ini

mempunyai siswa sebanyak 764 orang dan 49 orang guru pengajar. SMP Negeri 1

Turen merupakan SMP favorit di Kabupaten Malang, sekolah ini sering menorehkan

71
72

berbagai prestasi akademik baik di tingkat Kabupaten maupun Provinsi, saat ini SMP

Negeri 1 Turen Kabupaten Malang dipimpin oleh Drs. Fatkhul Muhaimin, M.Si.

4.2 Data Umum

4.2.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur Pada Siswi


Kelas VII di SMP Negeri 1 Turen Kabupaten Malang, tanggal 25
Juni 2009.
No. Umur Frekuensi Prosentase
1. 11 tahun 1 0,8 %
2. 12 tahun 23 19,2 %
3. 13 tahun 89 74,2 %
4. 14 tahun 7 5,8 %
Jumlah 120 100 %

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa sebagian besar responden 74,2%

(89 responden) berumur 13 tahun dan sebagian kecil sebanyak 0,8 % (1 responden)

berumur 11 tahun.

4.2.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Remaja Putri Yang Telah

Mengalami Haid Pertama

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Remaja Putri Yang


Telah Mendapat Haid Pertama Pada Siswi Kelas VII di SMP Negeri
1 Turen Kabupaten Malang, tanggal 25 Juni 2009.
No. Haid Pertama (Menarche) Frekuensi Prosentase
1. Sudah 103 85,8 %
2. Belum 17 14,2 %
Jumlah 120 100 %
Berdasarkan tabel diatas menunjukkan sebagian besar 85,8 % (103 responden)

telah mengalami haid yang pertama (menarche) dan sebagian kecil 14,2% (17

responden) belum mendapatkan haid yang pertama (menarche).

4.2.3 Karateristik Responden berdasarkan Usia Haid Pertama


73

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia Haid Pertama


Pada Siswi Kelas VII di SMP Negeri 1 Turen Kabupaten Malang,
tanggal 25 Juni 2009.
No. Usia Haid Pertama Frekuensi Prosentase
1. 10 tahun 3 2,9 %
2. 11 tahun 18 17,5 %
3. 12 tahun 60 58,3 %
4. 13 tahun 22 21,4 %
Jumlah 103 100 %

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa dari 103 responden yang telah

mendapat haid pertama lebih dari 50% yaitu 58,3 % (60 responden) mendapatkan

haid pertama pada usia 12 tahun dan sebagian kecil 2,9 % (3 responden) mendapat

haid pertama pada usia 10 tahun.

4.2.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Cara Mendapat Informasi

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pernah Tidaknya


Mendapat Informasi Mengenai Pubertas Pada Siswi Kelas VII di
SMP Negeri 1 Turen Kabupaten Malang, tanggal 25 Juni 2009.
No Informasi Frekuensi Presentase
1 Pernah 120 100 %
2 Tidak pernah 0 0%
Jumlah 120 100%
Dari tabel di atas terlihat mayoritas responden pernah mendapat informasi

tentang pubertas. Dari yang pernah mendapat informasi tersebut dibedakan menurut

sumber informasinya seperti tabel 4.5 di bawah ini :

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Sumber Informasi


Pada Siswi Kelas VII di SMP Negeri 1Turen Kabupaten Malang,
tanggal 25 Juni 2009.
No. Sumber Informasi Frekuensi Prosentase
1. Guru 45 37,5 %
2. Orang tua 44 36,7 %
3. Teman 6 5,0 %
4. Saudara 2 1,7%
5. Media Massa 23 19,2 %
Jumlah 120 100 %
74

Dari tabel diatas menunjukkan bahwa hampir setengah dari responden yaitu

37,5 % (45 responden) mendapat informasi tentang pubertas dari guru dan sebagian

kecil 1,7 % (2 responden) dari saudara.

4.3 Data Khusus

4.3.1 Pengetahuan Remaja Putri tentang Pubertas

Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Putri Tentang Pubertas


Pada Siswi Kelas VII di SMP Negeri 1 Turen Kabupaten Malang,
tanggal 25 Juni 2009.
No. Pengetahuan Remaja Frekuensi Prosentase
1. Baik 6 5,0 %
2. Cukup 58 48,3 %
3. Kurang 56 46,7 %
Jumlah 120 100 %

Dari tabel diatas didapatkan responden dengan pengetahuan yang baik

sebanyak 5,0 % (6 responden), pengetahuan cukup sebanyak 48,3 % (58 responden),

dan pengetahuan kurang sebanyak 46,7 % (56 responden).

4.3.2 Sikap Remaja Putri Dalam Menghadapi Masa Puber

Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Sikap Remaja Putri Dalam Menghadapi Masa
Puber Pada Siswi Kelas VII Di SMP Negeri 1 Turen Kabupaten
Malang, Tanggal 25 Juni 2009.
No. Sikap Remaja Frekuensi Prosentase
1. Adaptif 68 56,7 %
2. Maladaptif 52 43,3 %
Jumlah 120 100%

Dari tabel diatas diketahui dari seluruh responden 56,7 % (68 responden)

bersikap adaptif dalam menghadapi masa puber, sedangkan 43,3 % (52 responden)

bersikap maladaptif.

4.3.3 Hubungan Pengetahuan Remaja Putri Tentang Pubertas Dengan Sikap


Remaja Putri Dalam Menghadapi Masa Puber
75

Tabel 4.8 Tabulasi Silang Antara Pengetahuan Remaja Putri Tentang Pubertas
Dengan Sikap Remaja Putri Dalam Menhadapi Masa Puber Pada
Siswi Kelas VII di SMP Negeri 1 Turen Kabupaten Malang,
Tanggal 25 Juni 2009.
Pengetahuan Sikap Remaja
No. Jumlah
Remaja Adaptif Maladaptif
1. Baik 4 (3,3%) 2 (1,7 %) 6 (5,0 %)
2. Cukup 40 (33,3%) 18 (15,0 %) 58 (48,3 %)
3. Kurang 24 (20,0%) 32 (26,7) 56 (46,7 %)
Jumlah 68 (56,6 %) 52 (43,4%) 120 (100%)

Dari tabel diatas didapat 4 responden (3,3 %) berpengetahuan baik dengan

sikap adaptif, 2 responden (1,7 %) berpengetahuan baik dengan sikap maladaptif, 40

responden (33,3 %) berpengetahuan cukup dengan sikap adaptif, 18 responden (15%)

berpengetahuan cukup dengan sikap maladaptif, 24 responden (20%) berpengetahuan

kurang dengan sikap adaptif dan 32 responden (1,7 %) berpengetahuan kurang

dengan sikap maladaptif.

Untuk mengetahui apakah ada hubungan pengetahuan remaja putri tentang

pubertas dengan sikap remaja putri dalam menhadapi masa puber pada siswi kelas

VII di SMP Negeri 1 Turen Kabupaten Malang di analisa dengan Chi Square, maka

langkah- langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :

1. Menentukan Ho

Ho pada penelitian ini adalah tidak ada hubungan antara pengetahuan remaja

putri tentang pubertas dengan sikap remaja putri dalam menghadapi masa puber pada

siswi kelas VII di SMP Negeri 1 Turen Kabupaten Malang.

2. Menentukan nilai ekspektasi (E1)


76

Untuk mempermudah penghitungan nilai ekspektasi maka digunakan tabulasi

silang seperti pada tabel 4.8 kemudian menghitung dengan rumus:

N io × N ij
E1 =
n

6 × 68 6 × 52
E 11
=
120
= 3,4 E 12
=
120
= 2,6

58 × 68 58 × 52
E 21
=
120
= 32,9 E 22
=
120
= 25,1

56 × 68 56 × 52
E 21
=
120
= 31,7 E 21
=
120
= 24,3

Frekuensi observasi (fo) masing-masing sel adalah:

f 11
=4 f 12
=2

f 21
= 40 f 22
= 18

f 31
= 24 f 32
= 32

3. Menentukan nilai x2 hitung

Untuk menghitung korelasi Chi Square dengan menggunakan rumus sebagai

berikut :

( fo − fh ) 2
x 2 hitung = ∑
fh

fo fh fo- fh (fo- fh)2 (fo- fh)2/ fh


4 3,4 0,6 0,36 0.106
2 2,6 -0,6 0,36 0.138
40 32,9 7,1 50,41 1.532
18 25,1 -7,1 50,41 2.008
77

24 31,7 -7,7 59,29 1.870


32 24,3 7,7 59,29 2.440
Jumlah 8.094
2
x hitung
= 8,094

4. Menentukan x2 tabel

a. Taraf signifikansi, α=5% atau 0,05

b. Menentukan derajat kebebasan dengan rumus:

dk=(r-1)(k-1)

dk=(3-1)(2-1)

dk=2

Maka nilai x2 (0,05) (2) berdasarkan tabel Chi Square, nilainya= 5,992

5. Mengambil kesimpulan uji Chi Square

x2 hitung = 8,094

x2 tabel = 5,992

Oleh karena x2 hitung (8,094) > x2 tabel (5,992), maka Ho ditolak, artinya ada

hubungan antara pengetahuan remaja putri tentang pubertas dengan sikap remaja

dalam menghadapi masa puber pada siswi kelas VII SMP Negeri 1 Turen Malang.

4.4 Pembahasan

4.4.1 Pengetahuan Remaja Putri Tentang Pubertas

Hasil penelitian yang dilakukan pada siswi kelas VII di SMP Negeri 1 Turen

Kabupaten Malang pada tanggal 25 Juni 2009 didapatkan responden dengan


78

pengetahuan yang baik sebanyak 5,0 % (6 responden), pengetahuan cukup sebanyak

48,3 % (58 responden), dan pengetahuan kurang sebanyak 46,7 % (56 responden).

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang

melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui

panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan

raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga

(Notoadmodjo, 2003: 127).

Pengetahuan merupakan mengingat kepada bahan yang sudah dipelajari

sebelumnya, pengetahuan juga disebut recall (mengingat kembali) yang dapat

menyangkut bahan yang luas ataupun sempit, seperti fakta (sempit) dan teori (luas).

Namun apa yang diketahui hanya sekedar informasi yang di dapat dengan mendengar

saja (Notoatmodjo : 2003 : 122).

Pengetahuan remaja putri tentang pubertas pada siswi kelas VII di SMP Negeri

1 Turen Kabupatan Malang hampir setengah dari responden yaitu 48,3 % (58

responden) masih memiliki pengetahuan yang cukup meskipun hampir setengah dari

mereka telah mendapat informasi tentang pubertas dari guru dalam proses belajar

mengajar, seperti hasil penelitian pada tabel 4.5 bahwa 37,5 % (45 responden)

mendapat informasi tentang pubertas dari guru. Selain itu ada 6 item soal yang

memang hampir setengah dari responden tidak dapat menjawab dengan benar yakni

pada soal nomor 6, 7, 8 dan 12 yang menerangkan tentang perubahan tubuh pada

masa puber. Pada pertanyaan yang menanyakan tentang perubahan masa puber yakni

pada soal nomor 15 hampir setengah dari responden yaitu 25% (30 responden) yang
79

mampu menjawab soal dengan benar. Begitu juga pada soal nomor 17 didapatkan

lebih dari 50% yaitu 64,2 % (77 responden) tidak dapat menjawab dengan benar.

Asumsi peneliti hal ini disebabkan pada masa remaja banyak tugas

perkembangan yang harus dilaksanakan salah satunya adalah mampu menerima

keadaan fisiknya selain itu masa remaja juga sebagai periode peralihan. Hal ini bisa

dilihat dari hasil penelitian sebagian besar responden 74,2 % (89 responden) berumur

13 tahun. Sehingga dalam menanggapinya perlu waktu untuk menyesuaikan,

termasuk dalam hal pengetahuan mereka tentang pubertas meskipun faktor-faktor

yang mempengaruhi pengetahuan juga ikut andil dalam proses pengadopsian

pengetahuan terutama dari lingkungan yang dalam hal ini banyak di ambil alih oleh

guru karena mereka yang sering bertatap muka dalam proses belajar mengajar

disekolah. Selain itu pengetahuan yang mereka peroleh mungkin disebabkan karena

di era moderen seperti sekarang ini informasi sangat mudah didapat. Remaja putri

bisa bisa mengakses informasi khususnya tentang pubertas melalui media cetak,

media elektronika dan yang lagi menjadi trend saat ini adalah internet.

Bagi hampir setengah dari responden yaitu 46,7 % (56 responden) memiliki

pengetahuan yang kurang. Dalam Notoadjmojo (2002 :13) dijelaskan bahwa

pengalaman merupakan sumber pengetahuan atau pengalaman itu merupakan suatu

cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Oleh sebab itu pengalaman

pribadipun dapat sebagai upaya dalam memecahkan masalah yang dihadapi pada

masa lalu.

Menurut peneliti hal tersebut terjadi karena bagi responden puber merupakan

suatu perubahan drastis yang pertama kali dialami dan merupakan pengalaman baru,
80

dalam tabel 4.3 juga dijelasakan bahwa lebih dari 50% responden yaitu 58,3% (60

responden) mendapat haid yang pertama pada usia 12 tahun. Sedangkan pengalaman

sendiri merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan. Selain itu,

masih ada beberapa responden yang mendapat informasi hanya dari teman sebanyak

6 responden (5 %) dan 2 responden (1,7 %) dari saudara.

4.4.2 Sikap Remaja Putri Dalam Menghadapi Masa Puber

Hasil penelitian yang dilakukan di SMP Negeri 1 Turen Kabupaten Malang

didapatkan dari seluruh responden 56,7 % (68 responden) bersikap adaptif dalam

menghadapi masa puber, sedangkan 43,3 % (52 responden) bersikap maladaptif.

Menurut Sunaryo (2004: 195) Sikap atau “attitude” digunakan untuk

menunjukkan status mental individu. Sikap selalu diarahkan kepada suatu hal atau

objek tertentu dan sifatnya masih tertutup.

Menurut Anna Freud dalam Ghozally (2007:51) berpendapat adolesensia

merupakan suatu masa yang meliputi proses perkembangan dimana terjadi

perubahan-perubahan dalam hal motivasi seksuil, organisasi dalam ego, dalam

hubungan dengan orang tua, orang lain dan cita-cita yang dikejarnya.
81

Seperti diterangkan oleh Root dalam (Hurlock, 2003), masa puber adalah

suatu tahap dalam perkembangan dimana terjadi kematangan alat-alat seksual dan

tercapai kemampuan reproduksi. Tahap ini disertai dengan perubahan dalam

pertumbuhan somatis dan prespektif psikologis.

Dari hasil penelitian diatas yang ditampilkan pada tabel 4.27 diketahui lebih

dari 50% remaja putri bersikap adaptif dalam menghadapi masa puber. Hal ini

menurut peneliti pertumbuhan mereka yang selalu dibimbing oleh keluarga atau

orang-orang yang berada didekat mereka, yang merupakan salah satu faktor yang

mempengaruhi pembentukan sikap. Pada tabel 4.5 menunjukkan hampir dari setengah

dari responden mendapat informasi tentang pubertas dari orang tua 36,7% (44

responden) dan guru 37,5% (45 responden). Hal ini seperti yang disampaikan oleh

Sunaryo (2004: 203) sikap tidak dibawa sejak lahir, tetapi dipelajari dan dibentuk

didasari pengalaman individu sepanjang perkembangan selama hidupnya. Pada

manusia sebagai makhluk sosial, pembentukan sikap tidak lepas dari pengaruh

interaksi manusia satu dengan yang lain. Disamping itu manusia juga sebagai

makhluk individual sehingga apa yang datang dari dalam dirinya juga mempengaruhi

pembentukan sikap.

Selain itu menurut peneliti hal ini dikarenakan tugas perkembangan masa

remaja difokuskan pada upaya meninggalkan sikap dan perilaku kekanak-kanakan

serta berusaha untuk mencapai kemampuan bersikap dan berperilaku secara dewasa,

data yang diperoleh menunjukkan sebagian besar 85,8 % (103 responden) juga telah

mendapatkan haid haid yang pertama (menarche) dan lebih dari 50% responden yaitu

58,3 % (60 responden) mendapat haid pertama (menarche) pada usia 12 tahun. Hal ini
82

juga menambah keinginan mereka untuk mulai bersikap lebih dewasa seiring dengan

pertumbuhan fisiknya. Seperti yang diungkapkan Hurlock (2003: 207-209) masa

remaja mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakannya dengan periode sebelum

dan sesudahnya salah satunya adalah masa remaja sebagai periode perubahan yaitu

tingkat perubahan dalam sikap dan prilaku selama masa remaja sejajar dengan tingkat

perubahan fisik. Selama masa awal remaja, ketika perubahan fisik terjadi dengan

pesat, perubahan prilaku dan sikap juga berlangsung pesat. Apabila perubahan fisik

menurun maka perubahan sikap dan prilaku juga menurun.

Hampir setengah dari responden yaitu 43,3 % (52 responden) bersikap

maladaptif, dapat dilihat dari check list pengetahuan pada soal nomor 3 yang

merupakan pernyataan positif dengan parameter mampu menerina keadan fisiknya

hanya 1 responden (0,8 %) yang memberkan tanggapan setuju sedangkan hampir

setengahnya yaitu 48 responden (40 %) menyatakan sangat tidak setuju. Pada soal

nomor 4 yang merupakan pernyataan positif dengan parameter mampu menerima dan

memahami peran seks usia dewasa didapatkan hampir setengah dari responden yaitu

41 responden (34,2 %) ragu-ragu sedangkan yang menyatakan sangat setuju hanya 9

responden (7,5 %). Soal nomor 6 yang merupakan pernyataan positiv dengan

parameter mampu membina hubungan baik dengan anggota kelompok yang berlainan

jenis didapatkan hampir setengah dari responden yaitu 41 responden (34,2 %)

memberikan tanggapan ragu-ragu, begitu juga pada soal nomor 7 yang merupakan

pernyataan negatif 34 responden (28 %) menyatakan ragu-ragu.

Hal tersebut diatas menurut peneliti dikarenakan mereka belum mampu

menerima apa yang terjadi dalam dirinya yang merupakan sesuatu yang baru
83

sehingga untuk kearah sikap yang positif dibutuhkan waktu untuk menyesuaikannya.

Seperti yang dungkapkan oleh Walgito (2003) bahwa sikap juga mempunyai

beberapa tingkatan seperti halnya pengetahuan, tingkatan sikap yang pertama adalah

menerima (Receiving) yang diartikan diartikan bahwa orang (subjek) mau dan

memperhatikan stimulus yang diberikam ( objek). Sehingga dibutuhkan waktu untuk

melewati tingkatan-tingkatan sikap tersebut.

4.4.3 Hubungan Pengetahuan Remaja Putri tentang Pubertas dengan sikap


Remaja Putri dalam Menghadapi Masa Puber

Dari hasil perhitungan uji chi square dengan tingkat signifikansi 0,05 dan

derajat kebebasan 2 didapatkan nilai x2 hitung 8,094 > x2 tabel 5,991. Hal ini berarti

Ho ditolak dan Hi diterima yaitu ada hubungan pengetahuan remaja putri tentang

pubertas dengan sikap remaja putri dalam menghadapi masa puber.

Piaget dalam Hurlock (2003: 206) berpendapat secara psikologis, masa remaja

adalah usia di mana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia di mana

anak tidak lagi merasa di bawah tingkat-tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan

berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak. Integrasi

dalam masyarakat (dewasa) mempunyai banyak aspek efektif, kurang lebih dengan

masa puber. Termasuk juga perubahan intelektual yang mencolok. Trasformasi


84

intelektual yang khas dari cara berpikir remaja ini memungkinkannya untuk mencapai

integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa yang kenyataannya merupakan ciri

khas yang umum dari periode perkembangan ini.

Selain itu, menurut Azwar (2007) bahwa sikap memiliki tiga komponen yang

membentuk struktur sikap, yang ketiganya saling menunjang. Salah satunya

komponen kognitif yang disebut juga komponen perseptual, yang berisi kepercayaan

individu. Kepercayaan tersebut berhubungan dengan hal-hal bagaimana individu

mempersepsi terhadap objek sikap, dengan apa yang dilihat dan diketahui

(pengetahuan), pandangan, keyakinan, pikiran, pengalaman pribadi, kebutuhan

emosional dan informasi dari orang lain.

Melihat hasil penelitian didapatkan hampir dari setengah responden yaitu

33,3% (40 responden) mempunyai pengetahuan yang cukup dengan sikap yang

adaptif dalam menghadapi masa puber. Meskipun dari hasil penelitian didapatkan

bahwa mayoritas yaitu 100% (120 responden) pernah mendapatkan informasi tentang

pubertas dan hampir separuh dari mereka yaitu 37,5% (45 responden) mendapat

informasi dari guru dan 36,7% (45 responden) dari orang tua.

Remaja dapat bersikap adaptif dalam menghadapi masa puber juga

dipengaruhi oleh faktor-faktor yang mempengaruhi sikap seperti pengalaman pribadi,

pengaruh orang lain yang dianggap penting, pengaruh kebudayaan, media massa,

pengaruh faktor emosional (Azwar: 2007). Dalam hal ini menurut peneliti yang

paling berperan adalah pengaruh dari orang yang dianggap penting yakni guru dan

orang tua, selain itu media massa yang mudah diakses oleh siapapun juga mempunyai

pengaruh besar terhadap pembentukan sikap remaja dalam menghadapi masa puber.
85

Jadi dengan penetahuan yang cukup saja sudah dapat membentuk sikap yang adaptif

dalam menghadapi masa puber.