Anda di halaman 1dari 27

PEDOMAN PELAYANAN

TB DOTS

RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK “FATIMAH” LAMONGAN


SK. Menkes RI Nomor : HK.03.05/I/564/2012
Jl. Pahlawan Selatan No. 18 Telp. 0322-322155, Fax. 0322-318915
LAMONGAN – 62216 KODE RS : 3512035
Email : rsia_fatimahlmg@yahoo.co.id / rsiafatimah@gmail.com
Lampiran : Keputusan Direktur Rumah Sakit Ibu dan Anak “Fatimah” Lamongan
Nomor : 012.2/RSIA_FAT/G/KEP/VI/2019
Tentang : Pedoman Pelayanan TB DOTS di Rumah Sakit Ibu dan Anak “Fatimah”
lamongan
PEDOMAN PELAYANAN TB DOTS
DI RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK “FATIMAH” LAMONGAN

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Rumah sakit merupakan salah satu organisasi pemberi jasa pelayanan kesehatan
terhadap masyarakat yang semakin dituntut untuk bekerja secara profesional sesuai dengan
standar pelayanan yang telah ditentukan. Mengacu pada visi dan misi dari Millenium
Development Goal’s, maka perlu disusun suatu rencana kerja, sehingga kegiatan dari bagian
ini menjadi lebih sistematis dan terorganisir.
Pedoman kerja akan menjadi acuan dalam melaksanakan kegiatan pelayanan TB
dengan strategi DOTS yang komprehensif. Intervensi dengan strategi DOTS di institusi
rumah sakit baru dilakukan sejak tahun 2000. Hasil survey prevalensi TB tahun 2004
menunjukan pola pencarian pengobatan TB cukup tinggi yaitu sekitar 60%. Pelaksanan
DOTS di rumah sakit mempunyai daya ungkit dalam penemuan kasus (Case Detection Rate),
angka keberhasilan pengobatan (Cure Rate), dan angka keberhasilan rujukan (Success
Referral Rate).
Pasien Tuberkulosis ketika pertama kali sakit mencari pengobatan ke rumah
sakit. Melihat dari besarnya animo masyarakat mencari pengobatan tuberkulosis ke rumah
sakit, maka rumah sakit ibu dan anak “Fatimah” membuka pelayanan klinik TB DOTS yang
bekerjasama dengan pemerintah dalam hal ini adalah dinas kesehatan kota lamongan.

B. TUJUAN PEDOMAN
1. Tujuan Umum
Menurunkan angka kesakitan dan kematian melalui peningkatana mutu pelayanan TB DOTS
di RSIA “Fatimah” lamongan
2. Tujuan Khusus
a. Sebagai pedoman manajerial dan operasional dalam penanggulangan TB DOTS di
RSIA “Fatimah” Lamongan.
b. Menggerakkan segala sumber daya yang ada di rumah sakit dan fasilitas kesehatan
lain secara efektif dan efesien.
c. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan pelayanan TB DOTS di RSIA “Fatimah”
Lamongan.
d. Sebagai indikator mutu penerapan standar pelayanan rumah sakit dalam program
penanggulangan TB melalui indikator standar pelayanan minimal

C. RUANG LINGKUP PELAYANAN


1. Penjaringan pasien tuberkulosis, menegakkan diagnosa dan pengobatan.
2. Tata laksana dan pencegahan Tuberkulosis.
3. Manajemen program TB DOTS.
4. Pengendalian TB yang komprehensif.
5. Pencatatan dan pelaporan pasien Tuberkulosis.
6. Menginformasikan dan atau mengirim pasien ke unit TB DOTS puskesmas atau
rumah sakit lain.
7. Bekerjasama dengan tim PKRS untuk melaksanakan penyuluhan TB DOTS.
BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. KUALIFIKASI SUMBER DAYA MANUSIA


No Jabatan Kriteria
- Bersertifikat pelatihan TB DOTS
1. DOKTER
- Minimal dokter umum
- Bersertifikat pelatihan TB DOTS
2. PERAWAT
- Minimal berijazah D3 Keperawatan
- Bersertifikat pelatihan TB DOTS
3. FARMASI
- Minimal berijazah D3 Farmasi
- Bersertifikat pelatihan TB DOTS
4. LABORAT
- Minimal berijazah D3 Analis
-Minimal berijazah analis
B. SUSUNAN PERSONALIA TIM DOTS RSIA FATIMAH LAMONGAN
Pelindung : Direktu RSIA Fatimah Lamongan
Penanggungjawab : Wakil Direktur Pelayanan Medis dan Keperawatan
Ketua : dr. Saga Aditya Hutama
Anggota : 1. Dokter : dr. Eko Sp.PD
2. Perawat : Fitriyah N.M S.kep Ns.
3. Anggota Lain : a. Deni Reknawati, Amd.Keb
b. Ria Febriana, Amd Keb
c. Wiwik Eka Anjani, Amd.Keb
d. Tristy Digjayanti, S.Farm Apt
e. Istiqomah, AmK

C. URAIAN TUGAS TIM DOTS RSIA FATIMAH LAMONGAN


1. Pelindung
a. Membuat Kebijakan program kegiatan DOTS RSIA Fatimah Lamongan dan
melaksanakannya,
b. Mengintegrasikan, merencanakan dan mengkoordinasikan pelayanan kegiatan DOTS
RSIA Fatimah Lamongan
c. Melaksanakan pengembangan staf dan Diklat
d. Melakukan pengawasan penerapan standar pelayanan medis/kedokteran termasuk
mediko legal
e. Berkoordinasi dengan Komite Medis mengenai implementasi etika kedokteran dan
mutu profesi, penetapan Standar Pelayanan Medis dan SPO
2. Penanggung Jawab
a. Bertanggung jawab terhadap semua kegiatan DOTS yang dilaksanakan oleh Tim
DOTS RSIA Fatimah Lamongan
b. Melaksanakan pengawasan terhadap kinerja Tim DOTS

3. Ketua
a. Bertanggung jawab terhadap manajemen pelakanaan kegiatan dan strategi DOTS RSIA
Fatimah Lamongan
b. Bertanggung jawab mengatur administrasi
c. Bertanggung jawab mengatur pengembangan staf
d. Bertanggung jawab mengatasi kualitas pelayanan agar sesuai dengan kualitas
pelayanan medis
e. Bertanggung jawab atas pelaksanaan jejaring internal dan eksternal
f. Bertanggung jawab kepada Wadir Pelayanan Medis dan Keperawatan serta kepada
Direktur

4. Perawat
a. Melakukan pencatatan dan pelaporan kepada Direktur/ Dinas Kesehatan/ jajaran tepat
waktu
b. Merekap pencatatan dan pelaporan dari semua rawat inap dan rawat jalan
c. Bertanggung jawab melaksanakan jejaring internal dan eksternal dengan optimal
d. Menjaga kualitas pelayanan agar sesuai dengan Pedoman Nasional Program TB
e. Bertanggung jawab kepada Ketua Tim DOTS

5. Anggota Lain
a. Mendukung dan bergabung dalam home visit pasien TB
b. Melakukan edukasi atau penyuluhan kepada masyarakat atau pasien dan bekerjasama
dengan anggota tim yang lain
c. Menjaga kualitas pelayanan agar sesuai dengan Pedoman Nasional Program TB

D. DISTRIBUSI KETENAGAAN
Untuk distribusi ketenagaan di setiap instalasi ada satu orang koordinator dan bergabung
dalam tim TB DOTS. Untuk waktu kerja masing-masing koordinator ini disesusaikan dengan
kondisi masing-masing instalasi dimana petugas / tim TB DOTS bekerja.

E. PENGATURAN JAGA
Pengaturan jadwal jaga dilakukan berdasarkan hari kerja.
BAB III
STANDAR FASILITAS

A. DENAH RUANGAN
Terlampir

B. STANDAR FASILITAS
1. Kriteria umum ruangan
a. Struktur fisik
 Untuk ruang isolasi dan poli TB Lantai porselen dan dinding dicat terang.
b. Kebersihan
 Cat dan lantai berwarna terang sehingga kotoran terlihat dengan mudah.
 Ruangan bersih bebas dari debu dan kotoran sampah atau limbah rumah sakit. Hal
ini berlaku pula untuk mebel, perlengkapan, instrumen, pintu, jendela, steker
listrik, dan langit-langit.
c. Pencahayaan
 Pencahayaan terang dari cahaya alami atau listrik
 Pencahayaan alami dapat di peroleh dari pintu atau jendela yang menghadap ke
area terbuka sehingga cahaya matahari dapat masuk dengan baik.
 Jika pencahayaan menggunakan listrik, maka listrik harus berfungsi baik, kabel
dan steker tidak membahayakan dan semua lampu berfungsi baik dan kokoh.
d. Ventilasi
 Sistem ventilasi menggunakan sistem ventilasi campuran yaitu dengan
menggunakan peralatan mekanik Exhouser dan ventilasi alami yaitu jendela.
 Suhu ruangan dijaga 24-26 °c dan pendingin ruangan berfungsi dengan baik yaitu
dengan kipas angin yang mengarah dari petugas ke pasien.
e. Pencucian tangan
 Wastafel dilengkapi dengan dispenser sabun, serta tissu untuk mengeringkan
tangan dan tempat sampah medis maupun non medis
2. Standart Peralatan Dan Pelaporan
a. Peralatan Dan Pelaporan di Poli TB DOTS
No Nama Barang Jumlah
1. Meja 1
2. Kursi 3
3. Tempat tidur periksa pasien 1
4. Lemari arsip 1
5. Box x-ray 1
6. Stetoskop 1
7. Tensimeter 1
8. Timbangan badan 1
9. Masker bedah 1 box
10. Buku pelaporan TB 1
11. Form TB
12. Masker N95 1 box
13. Tempat sampah medis 1
14. Tempat sampah non medis 1

1. Peralatan dan Pelaporan TB di Laboratorium


No Nama Barang Jumlah
1. Ruang laborat khusus TB 1
2. Sputum boot 1
3. Mikroskop 1
4. Objek glass 1 box
5. Rak pewarna 1
6. Rak pengering 1
7. Bunsen 1
8. Ose 1
9. Pipet pewarna 1
10. Hemostat / Penjepit objek glass 1
11. Lidi 1
12. Korek 1
13. Reagen Ziehl Neelsen 1
14. Buku Pelaporan 2 ( TB 04,TB
15. Masker N95 1 box05 ????
)
16. Celemek 1
17. Face shield 2
18. Sepatu boot 1 pasang
19. Hand scone Dispossible 1 box
20. Tempat sampah medis 1
21. Tempat sampah non medis 1
2. Fasilitas Di Ruang Rawat Inap (Ruang Isolasi/airborn desease)
No Nama Barang Jumlah
1. Ruang isolasi 1
2. Tempat tidur pasien 3
3. Lemari pasien 3
4. Kursi 3
5. Oksigen 2
6. Kipas Angin 3
7. Exhautser 2
8. Hand rub 3
9. Gorden 3
10. Wastafel cuci tangan 1
11. Tempat tissue + tissue 1
12. Kamar mandi 1
BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN

A. PENEMUAN PASIEN TB
Kegiatan penemuan pasien terdiri dari penjaringan suspek, diagnosis, penentuan
klasifikasi penyakit dan tipe pasien. Penemuan pasien merupakan langkah pertama dalam
kegiatan program penanggulangan TB. Penemuan dan penyembuhan pasien TB menular,
secara bermakna akan dapat menurunkan kesakitan dan kematian akibat TB, penularan TB di
masyarakat dan sekaligus merupakan kegiatan pencegahan penularan TB yang paling efektif
di masyarakat.
1. Strategi Penemuan
a. Penemuan pasien TB dilakukan secara aktif dengan melakukan skrining TB dan
menerapkan triase batuk pada semua pasien rawat inap dan rawat jalan di RSIA
“Fatimah” lamongan, baik keluhan saat ini ataupun riwayat penyakit keluarga.
b. Penemuan pasien TB dilakukan secara pasif dengan promosi aktif. Penjaringan
suspek pasien dilakukan di unit pelayanan kesehatan; didukung dengan penyuluhan
secara aktif, baik oleh petugas kesehatan maupun masyarakat, untuk meningkatkan
cakupan penemuan tersangka pasien TB.
c. Pemeriksaan terhadap kontak pasien TB, terutama mereka yang BTA positif dan pada
keluarga anak yang menderita TB yang menunjukkan gejala sama, harus diperiksa
dahaknya.
d. Penemuan secara aktif dari rumah ke rumah, dianggap tidak cost efektif.
2. Gejala Klinis Pasien TB
a. Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih.
Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah, batuk
darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun,
malaise, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, demam meriang lebih dari satu
bulan.
b. Gejala-gejala tersebut diatas dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain TB,
seperti bronkiektasis, bronkitis kronis, asma, kanker paru, dan lain-lain. Mengingat
prevalensi TB di Indonesia saat ini masih tinggi, maka setiap orang yang datang ke
UPK dengan gejala tersebut diatas, dianggap sebagai seorang tersangka (suspek)
pasien TB, dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung.
TRIAGE BATUK

Apakah pasien mengidap Tidak Antri normal


batuk?

Ya

Batuk lebih dari 2 Berikan masker dan


Tidak pendidikan tentang etika
minggu
batuk

Ya

Antri normal
Berikan masker dan pendidikan tentang etika batuk

Jalur Cepat Atau

Pemeriksaan sputum Bila mungkin di


pisah

Gambar 4.1. Triage Batuk

3. Pemeriksaan dahak mikroskopis


Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis, menilai keberhasilan
pengobatan dan menentukan potensi penularan.
Pada pasien yang pertama kali dicurigai sakit TB, maka harus dilakukan pemeriksaan
Tes Cepat Molekuler (TCM) sehingga spesimen dahak selanjutnya di rujuk ke RSUD dr.
Soegiri untuk dilakukan pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM).
Pemeriksaan dahak untuk evaluasi selanjutnya Pemeriksaan dahak untuk penegakan
diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua
hari kunjungan yang berurutan berupa Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS) :
a. S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung pertama
kali. Pada saat pulang, suspek membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan
dahak pagi pada hari kedua.
b. P (Pagi): dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua, segera setelah bangun
tidur. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di UPK.
c. S (sewaktu): dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua, saat menyerahkan dahak
pagi.
4. Pemeriksaan Biakan
Peran biakan dan identifikasi M.tuberkulosis pada penanggulangan TB khususnya
untuk mengetahui apakah pasien yang bersangkutan masih peka terhadap OAT yang
digunakan. Selama fasilitas memungkinkan, biakan dan identifikasi kuman serta bila
dibutuhkan tes resistensi dapat dimanfaatkan dalam beberapa situasi:
a. Pasien TB yang masuk dalam tipe pasien kronis
b. Pasien TB ekstraparu dan pasien TB anak.
c. Petugas kesehatan yang menangani pasien dengan kekebalan ganda.
5. Pemeriksaan Tes Resistensi
Tes resistensi tersebut hanya bisa dilakukan di laboratorium yang mampu
melaksanakan biakan, identifikasi kuman serta tes resistensi sesuai standar internasional,
dan telah mendapatkan pemantapan mutu (Quality Assurance) oleh laboratorium
supranasional TB. Hal ini bertujuan agar hasil pemeriksaan tersebut memberikan simpulan
yang benar sehinggga kemungkinan kesalahan dalam pengobatan MDR dapat di cegah.

B. DIAGNOSIS TB
1. Diagnosis TB paru
a. Semua suspek TB diperiksa spesimen dahak dalam waktu sewaktu (S) atau pagi
sewaktu (PS).
b. Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB
(BTA +). Pada program TB nasional, penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak
mikroskopis merupakan diagnosis utama. Pemeriksaan lain seperti foto toraks, biakan
dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai
dengan indikasinya.
c. Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja.
Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB paru, sehingga
sering terjadi overdiagnosis.
d. Gambaran kelainan radiologik Paru tidak selalu menunjukkan aktifitas penyakit.
e. Untuk lebih jelasnya lihat alur prosedur diagnostik untuk suspek TB paru.
2. Diagnosis TB ekstra paru.
a. Gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena, misalnya kaku kuduk pada
Meningitis TB, nyeri dada pada TB pleura (Pleuritis), pembesaran kelenjar limfe
superfisialis pada limfadenitis TB dan deformitas tulang belakang (gibbus) pada
spondilitis TB dan lain-lainnya.
b. Diagnosis pasti sering sulit ditegakkan sedangkan diagnosis kerja dapat ditegakkan
berdasarkan gejala klinis TB yang kuat (presumtif) dengan menyingkirkan
kemungkinan penyakit lain. Ketepatan diagnosis tergantung pada metode
pengambilan bahan pemeriksaan dan ketersediaan alat-alat diagnostik, misalnya uji
mikrobiologi, patologi anatomi, serologi, foto toraks dan lain-lain.

ALUR DIAGNOSA TB PADA PASIEN BARU (SUSPEK)

PASIEN SUSPEK TB BARU


- Pasien RJ
- Pasien Rawat Inap

POLI TB
Diberikan konseling untuk
pemeriksaan TB

Pengambilan spesimen dahak


di Sputum Boot

Spesimen dirujuk ke RSUD


dr. Soegiri Lamongan untuk
TCM

Hasil

Pasien (+) TB Pasien (-) TB

Pengobatan TB Terjadwal

Evaluasi Pengobatan
- Kontrol untuk mengambil obat TB
- Kontrol untuk melakukan pemeriksaan
lanjutan (Evaluasi)

Gambar 4.1. Alur Diagnosis TB Paru Baru


ALUR PEMERIKSAAN TB LANJUTAN (EVALUASI) PADA PASIEN LAMA (+) TB

PASIEN TB LAMA
- Pasien RJ
- Pasien Rawat Inap
Yang sudah dinyatakan (+) TB paru dan sedang dalam masa pengobatan di RSIA “Fatimah”
Lamongan

POLI TB
Diberikan konseling untuk
pemeriksaan TB lanjutan

Pengambilan spesimen dahak di


Sputum Boot

Dilakukan pemeriksaan pewarnaan atau BTA


oleh petugas laboratorium di laboratorium khusus
TB

Hasil

BTA (+) BTA (-)

Lanjutkan pengobatan sesuai - Jika pemeriksaan di akhir pengobatan


alur atau jadwal pengobatan maka pasien dinyatakan sembuh
TB - Jika pemeriksaan evalusi pada akhir
tahap pertama, bln ke 3,5 maka evaluasi
kepatuhan pasien dalam minum obat atau
curiga pasien terindikasi TB RO

Gambar 4.2. Alur Diagnosis TB Paru Pasien Lama


Secara garis besar diagnosa dan penanganan TB adalah sesuai pada gambar di bawah ini

Suspek TB Paru

Pemeriksaan dahak mikroskopis Sewaktu (SS) / Sewaktu Pagi (SP)

Hasil BTA Hasil BTA Hasil BTA


(+ +) (+ -) (- -)

Antibiotik Non-OAT

Tidak Ada Ada


Perbaikan Perbaikan

Foto toraks dan


pertimbangan Dokter Pemeriksaan Dahak Mikroskopis

Hasil BTA Hasil BTA


(+ +) (+ +)

Foto toraks dan pertimbangan


Dokter

TB
BUKAN TB

Gambar 4.3. Alur Diagnosis dan Penatalaksanaan TB

Catatan : Pada keadaan-keadaan tertentu dengan pertimbangan kegawatan dan medis


spesialistik, alur tersebut dapat digunakan secara lebih fleksibel.
3. Indikasi Pemeriksaan Foto Toraks
Pada sebagian besar TB paru, diagnosis terutama ditegakkan dengan pemeriksaan
dahak secara mikroskopis dan tidak memerlukan foto toraks. Namun pada kondisi tertentu
pemeriksaan foto toraks perlu dilakukan sesuai dengan indikasi sebagai berikut:
a. Hanya 1 dari 2 spesimen dahak S/PS hasilnya BTA positif. Pada kasus ini
pemeriksaan foto toraks dada diperlukan untuk mendukung diagnosis ‘TB paru BTA
positif. (lihat bagan alur)
b. Kedua spesimen dahak hasilnya tetap negatif setelah 2 spesimen dahak S/PS pada
pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah
pemberian antibiotika non OAT. (lihat bagan alur)
c. Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak nafas berat yang memerlukan
penanganan khusus (seperti: pneumotorak, pleuritis eksudativa, efusi perikarditis atau
efusi pleural) dan pasien yang mengalami hemoptisis berat (untuk menyingkirkan
bronkiektasis atau aspergiloma).

C. KLASIFIKASI PENYAKIT
Adapun macam-macam TB adalah sebagai berikut :
1. TB paru
2. TB ekstra paru
sedangkan TB paru sendiri terdiri dari TB paru awal dan TB paru lanjutan (TB RO).

D. PENGOBATAN TB
1. Tujuan Pengobatan
Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah kematian,
mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi
kuman terhadap OAT.
Jenis, sifat dan dosis OAT

Tabel 4.1. Jenis, sifat dan dosis OAT


2. Prinsip pengobatan
Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip - prinsip sebagai berikut:
a. OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat, dalam jumlah
cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Jangan gunakan OAT
tunggal (monoterapi). Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT-KDT) lebih
menguntungkan dan sangat dianjurkan.
b. Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan pengawasan langsung
(DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO).
c. Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan.
- Tahap awal (intensif)
- Tahap Lanjutan

3. Tatalaksana TB Anak
Diagnosis TB pada anak sulit sehingga sering terjadi misdiagnosis baik
overdiagnosis maupun underdiagnosis. Pada anak-anak batuk bukan merupakan gejala
utama. Pengambilan dahak pada anak biasanya sulit, maka diagnosis TB anak perlu
kriteria lain dengan menggunakan sistem skor . Unit Kerja Koordinasi Respirologi PP
IDAI telah membuat Pedoman NasionalTuberkulosis Anak dengan menggunakan sistem
skor (scoring system), yaitu pembobotan terhadap gejala atau tanda klinis yang dijumpai.
Pedoman tersebut secara resmi digunakan oleh program nasional penanggulangan
tuberkulosis untuk diagnosis TB anak.
Lihat tabel 3.5. tentang sistem pembobotan (scoring system) gejala dan pemeriksaan
penunjang.
Setelah dokter melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang,
maka dilakukan pembobotan dengan sistem skor. Pasien dengan jumlah skor yang lebih
atau sama dengan 6 (>6), harus ditatalaksana sebagai pasien TB dan mendapat OAT (obat
anti tuberkulosis). Bila skor kurang dari 6 tetapi secara klinis kecurigaan kearah TB kuat
maka perlu dilakukan pemeriksaan diagnostik lainnya sesuai indikasi, seperti bilasan
lambung, patologi anatomi, pungsi lumbal, pungsi pleura, foto tulang dan sendi,
funduskopi, CT-Scan, dan lain lainnya.
Tabel 4.2. Sistem skoring (scoring system) gejala dan pemeriksaan
penunjang TB

Catatan :
 Diagnosis dengan sistem skoring ditegakkan oleh dokter.
 Batuk dimasukkan dalam skor setelah disingkirkan penyebab batuk kronik lainnya seperti
Asma, Sinusitis, dan lain-lain.
 Jika dijumpai skrofuloderma (TB pada kelenjar dan kulit), pasien dapat langsung didiagnosis
tuberkulosis.
 Berat badan dinilai saat pasien datang (moment opname).--> lampirkan tabel badan badan.
 Foto toraks toraks bukan alat diagnostik utama pada TB anak
 Semua anak dengan reaksi cepat BCG (reaksi lokal timbul < 7 hari setelah penyuntikan) harus
dievaluasi dengan sistem skoring TB anak.
 Anak didiagnosis TB jika jumlah skor > 6, (skor maksimal 14)
 Pasien usia balita yang mendapat skor 5, dirujuk ke RS untuk evaluasi lebih lanjut.

Perlu perhatian khusus jika ditemukan salah satu keadaan di bawah ini:
1. Tanda bahaya : Kejang, kaku kuduk, Penurunan kesadaran, Kegawatan lain, misalnya sesak
napas.
2. Foto toraks menunjukkan gambaran milier, kavitas, efusi pleura
3. Gibbus, koksitis
Gambar 4.3. Alur tatalaksana pasien TB anak pada unit pelayanan
kesehatan dasar

Pada sebagian besar kasus TB anak pengobatan selama 6 bulan cukup adekuat. Setelah
pemberian obat 6 bulan, lakukan evaluasi baik klinis maupun pemeriksaan penunjang. Evaluasi
klinis pada TB anak merupakan parameter terbaik untuk menilai keberhasilan pengobatan. Bila
dijumpai perbaikan klinis yang nyata walaupun gambaran radiologik tidak menunjukkan
perubahan yang berarti, OAT tetap dihentikan.

Kategori Anak (2RHZ/ 4RH)


Prinsip dasar pengobatan TB adalah minimal 3 macam obat dan diberikan dalam waktu 6 bulan.
OAT pada anak diberikan setiap hari, baik pada tahap intensif maupun tahap lanjutan dosis obat
harus disesuaikan dengan berat badan anak.
Tabel 4.3a. Dosis OAT Kombipak pada anak

Tabel 4.3b. Dosis OAT KDT pada anak

Keterangan:
• Bayi dengan berat badan kurang dari 5 kg dirujuk ke rumah sakit
• Anak dengan BB 15-19 kg dapat diberikan 3 tablet.
• Anak dengan BB ≥33 kg , dirujuk ke rumah sakit.
• Obat harus diberikan secara utuh, tidak boleh dibelah
• OAT KDT dapat diberikan dengan cara : ditelan secara utuh atau digerus sesaat sebelum
diminum.
Pengobatan Pencegahan (Profilaksis) untuk Anak
Pada semua anak, terutama balita yang tinggal serumah atau kontak erat dengan penderita TB
dengan BTA positif, perlu dilakukan pemeriksaan menggunakan sistem skoring. Bila hasil
evaluasi dengan skoring sistem didapat skor < 5, kepada anak tersebut diberikan Isoniazid (INH)
dengan dosis 5-10 mg/kg BB/hari selama 6 bulan. Bila anak tersebut belum pernah mendapat
imunisasi BCG, imunisasi BCG dilakukan setelah pengobatan pencegahan selesai.

E. PENGAWASAN MENELAN OBAT


Salah satu komponen DOTS adalah pengobatan paduan OAT jangka pendek dengan
pengawasan langsung. Untuk menjamin keteraturan pengobatan diperlukan seorang PMO.
1. Persyaratan PMO
a. Seseorang yang dikenal, dipercaya dan disetujui, baik oleh petugas kesehatan maupun
pasien, selain itu harus disegani dan dihormati oleh pasien.
b. Seseorang yang tinggal dekat dengan pasien.
c. Bersedia membantu pasien dengan sukarela.
d. Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan pasien
2. Siapa yang bisa jadi PMO
Sebaiknya PMO adalah petugas kesehatan, misalnya Bidan di Desa, Perawat,
Pekarya, Sanitarian, Juru Immunisasi, dan lain lain. Bila tidak ada petugas kesehatan yang
memungkinkan, PMO dapat berasal dari kader kesehatan, guru, anggota PPTI, PKK, atau
tokoh masyarakat lainnya atau anggota keluarga.
3. Tugas seorang PMO
a. Mengawasi pasien TB agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan.
b. Memberi dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur.
c. Mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah ditentukan.
d. Memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB yang mempunyai gejala-
gejala mencurigakan TB untuk segera memeriksakan diri ke Unit Pelayanan
Kesehatan. Tugas seorang PMO bukanlah untuk mengganti kewajiban pasien
mengambil obat dari unit pelayanan kesehatan.
4. Informasi penting yang perlu dipahami PMO untuk disampaikan kepada pasien dan
keluarganya:
a. TB disebabkan kuman, bukan penyakit keturunan atau kutukan
b. TB dapat disembuhkan dengan berobat teratur
c. Cara penularan TB, gejala-gejala yang mencurigakan dan cara pencegahannya
d. Cara pemberian pengobatan pasien (tahap intensif dan lanjutan)
e. Pentingnya pengawasan supaya pasien berobat secara teratur
f. Kemungkinan terjadinya efek samping obat dan perlunya segera meminta
pertolongan ke UPK.
F. PEMANTAUAN DAN HASIL PENGOBATAN TB
1. Pemantauan kemajuan pengobatan TB
Pemantauan kemajuan hasil pengobatan pada orang dewasa dilaksanakan dengan
pemeriksaan ulang dahak secara mikroskopis. Pemeriksaan dahak secara mikroskopis lebih
baik dibandingkan dengan pemeriksaan radiologis dalam memantau kemajuan pengobatan.
Laju Endap Darah (LED) tidak digunakan untuk memantau kemajuan pengobatan karena
tidak spesifik untuk TB. Untuk memantau kemajuan pengobatan dilakukan pemeriksaan
spesimen sebanyak dua kali (sewaktu dan pagi). Hasil pemeriksaan dinyatakan negatif bila ke
2 spesimen tersebut negatif. Bila salah satu spesimen positif atau keduanya positif, hasil
pemeriksaan ulang dahak tersebut dinyatakan positif. Tindak lanjut hasil pemriksaan ulang
dahak mikroskopis dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.4. Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan Ulang Dahak
Tatalaksana Pasien yang berobat tidak teratur

Tabel 4.5. Tatalaksana pasien yang berobat tidak teratur


Keterangan :
*) Tindakan pada pasien yang putus berobat antara 1-2 bulan dan lama pengobatan
sebelumnya kurang dari 5 bulan: lanjutkan pengobatan dulu sampai seluruh dosis selesai
dan 1 bulan sebelum akhir pengobatan harus diperiksa dahak.

2. Hasil Pengobatan
a. Hasil Pengobatan Pasien TB BTA positif Sembuh : Pasien telah menyelesaikan
pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya
negatif pada AP dan pada satu pemeriksaan follow-up sebelumnya
b. Pengobatan Lengkap adalah pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara
lengkap tetapi tidak memenuhi persyaratan sembuh atau gagal.
c. Meninggal adalah pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab
apapun.
d. Pindah adalah pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03 yang lain dan
hasil pengobatannya tidak diketahui.
e. Default (Putus berobat) adalah pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-turut atau
lebih sebelum masa pengobatannya selesai.
f. Gagal adalah Pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali
menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.
G. EFEK SAMPING OAT DAN PENATALAKSANAANNYA
Tabel berikut, menjelaskan efek samping ringan maupun berat dengan pendekatan gejala.
Tabel 4.6 Efek samping ringan OAT

Tabel 4.7. Efek samping berat OAT

Penatalaksanaan pasien dengan efek samping “gatal dan kemerahan kulit”:Jika seorang
pasien dalam pengobatan OAT mulai mengeluh gatal-gatal singkirkan dulu kemungkinan
penyebab lain. Berikan dulu anti-histamin, sambil meneruskan OAT dengan pengawasan ketat.
Gatal-gatal tersebut pada sebagian pasien hilang, namun pada sebagian pasien malahan terjadi
suatu kemerahan kulit. Bila keadaan seperti ini, hentikan semua OAT. Tunggu sampai
kemerahan kulit tersebut hilang. Jika gejala efek samping ini bertambah berat, pasien perlu
dirujuk
BAB V
LOGISTIK

Tata cara logistik poli TB DOTS adalah sebagai berikut :


A. PERENCANAAN BARANG
1. Barang rutin :
a. Pengajuan untuk menggandakan form-form TB.
b. Bahan habis pakai untuk keperluan laboratorium TB seperti reagen, objek glass,
masker, sabun cuci tangan, handscone dll.
2. Barang tidak rutin :
a. Proposal
b. Pengadaan leaflet dan banner tentang pelayanan TB DOTS
3. Obat dan reagen dari dinas kesehatan
Khusus untuk obat OAT dan reagen yang digunakan untuk pewarnaan pada pemeriksaan
BTA akan dijatah dari dinas kesehatan kota lamongan sesuai dengan kerjasama yang di jalin.

B. PERMINTAAN BARANG
1. Barang rutin di sampaikan pada bagian urusan rumah tangga rumah sakit dengan
menggunakan form permintaan barang.
2. Barang tidak rutin di sampaikan terlebih dahulu pada direktur untuk di mintakan
persetujuan.
3. untuk obat OAT dan reagen yang dijatah dari dinas kesehatan, maka permintaan tersebut
ditujukan pada dinas kesehatan lamongan.

C. PENDISTRIBUSIAN
Semua barang masuk akan melalui logistik, kemudian apabila poli TB membutuhkan
maka mengajukan permintaan barang dengan menggunakan form permintaan barang kepada
petugas urusan rumah tangga.

D. KERUSAKAN BARANG
Jika ada kerusakan barang atau alat di ruang Isolasi, Poli TB, atau Laboratorium TB,
maka akan di sampaikan pada petugas logistik, apabila barang masih bisa di perbaiki akan di
serahkan pada petugas IPS, tetapi bila tidak dapat di perbaiki akan di ganti dengan yang baru.
BAB VI
KESELAMATAN PASIEN

A. DEFINISI.
Keselamatan pasien (patient safety) rumah sakit adalah suatu system dimana rumah
sakit membuat asuhan pasien lebih aman.

B. TUJUAN.
1. Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit
2. Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat
3. Menurunnya kejadian tidak diharapakan (KTD) di RS
4. Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan
kejadian tidak diharapkan

C. STANDART PATIEN SAFETY.


Standar keselamatan pasien (patient safety) untuk pelayanan klinik TB DOTS adalah
mengacu pada sasaran keselamatan pasien di rumah sakit yaitu :
1. Ketepatan identifikasi pasien
2. Peningkatan komunikasi yang efektif
3. Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai
4. Kepastian tepat lokasi, tepat prosedur, tepat pasien operasi
5. Pengurangan resiko infeksi terkait pelayanan kesehatan
6. Pengurangan resiko pasien cedera jatuh
BAB VII
KESELAMATAN KERJA

A. PENGERTIAN
Keselamatan kerja merupakan suatu sistem dimana rumah sakit membuat kerja / aktifitas
karyawan lebih aman. Sistem tersebut diharapkan dapat mencegah terjadinya cedera yang
disebabkan oleh kesalahan pribadi ataupun rumah sakit.

B. TUJUAN.
1. Terciptanya budaya keselamatan kerja di RSIA “Fatimah” Lamongan.
2. Mencegah dan mengurangi kecelakaan.
3. Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan proses
kerjanya.
4. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang bahaya
kecelakaannya menjadi bertambah tinggi.
C. TATA LAKSANA KESELAMATAN KARYAWAN.
1. Setiap petugas medis maupun non medis menjalankan prinsip pencegahan
infeksi, yaitu :
a. Menganggap bahwa pasien maupun dirinya sendiri dapat menularkan infeksi.
b. Menggunakan alat pelindung (sarung tangan, kacamata, sepatu boot/alas kaki
tertutup, celemek, masker dll) terutama bila terdapat kontak dengan spesimen pasien
yaitu: urin, darah, muntah, sekret, dll.
c. Mencuci tangan dengan sabun antiseptik sebelum dan sesudah menangani pasien.
d. Terdapat tempat sampah infeksius dan non infeksius.
e. Mengelola alat dengan mengindahkan prinsip sterilitas yaitu:
- Dekontaminasi dengan larutan klorin.
- Pencucian dengan sabun.
- Pengeringan.
- Menggunakan baju kerja yang bersih
BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

Ada pertemuan khusus secara formal antara pimpinan dan staf pelaksana di
lapangan. Mengenai rencana kegiatan, dan evaluasi, yang dilakukan setiap tiga bulan.
Mutu dinilai dari penemuan kasus, angka keberhasilan pengobatan, dan angka
keberhasilan rujukan
BAB IX
PENUTUP

Sebagai penutup kiranya dapat di ingatkan kembali bahwa pelayanan penanggulangan TB


bukanlah tugas Tim TB DOTS saja, Namun juga tanggung jawab semua pihak yang berada di
RSIA “Fatimah” Lamongan.
Yang paling penting di laksanakan dalam rangka penanggulangan TB adalah upaya – upaya
edukasi tentang TB kepada staf, pasien dan pengunjung RS. Sehingga dapat merubah perilaku
yang sehat. Penyiapan sarana dan prasarana. Upaya penanggulangan TB di sadari atau tidak
memerlukan dana yang besar sehingga memerlukan dukungan penuh dari manajemen rumah
sakit.
Demikianlah pedoman pelayanan penanggulangan TB DOTS RSIA “Fatimah” Lamongan,
semoga dapat diterapkan dengan baik.

Ditetapkan di : Lamongan
Pada Tanggal : 12 Juni 2019
RSIA “FATIMAH” LAMONGAN
DIREKTUR

dr. Ririn Mardiyah Hayati, MMKes.


NIK. 18242101