Anda di halaman 1dari 29

APAKAH PERLU MERIBUTKAN SESUATU YANG TIDAK

ADA?

Disusun untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Manajemen Keuangan

Disusun Oleh :

Kelompok 9

Sabdo Ismoyo (141170141170189)

Ayu Anisa Fitrilianti (141170201)

Ardhi Ardhan (141170202)

2019

EM – B

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”


YOGYAKARTA

Jl. SWK 104 (Lingkar Utara), Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta 55283
KATA PENGANTAR

Puji syukur selalu kami panjatkan kehadirat Allah swt atas kasih dan sayangnya
memberikan pengetahuan, kemampuan dan kesempatan kepada penyusun sehingga mampu
menyelesaikan penyusunan makalah ini ditulis sebagai tugas mata kuliah Manajemen
Keuangan.

Penyusun menyadari dalam penulisan makalah ini masih ada kemungkinan


kekurangan-kekurangan karena keterbatasan kemampuan penyusunan, untuk itu, masukkan
yang bersifat membangun akan sangat membantu penyusun untuk semakin membenahi
kekurangannya.

Ucapan terima kasih tidak lupa kami tuturkan kepada dosen pembimbing mata kuliah
Manajemen Keuangan ini, kami ucapkan terima kasih, semoga makalah ini dapat berguna,
sebagai karya dari kami dan untuk semua.

Sleman, April 2019.

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Tujuan utama dari suatu perusahaan, terutama dari segi pandang keuangan,
adalah untuk menciptakan keuntungan bagi pemiliknya. Dalam suatu perusahaan,
pemegang saham memegang peranan sebagai salah satu pemilik perusahaan.
Pemegang saham adalah orang orang yang telah membeli saham di dalam suatu
perusahaan.
Kebijakan Dividen menyangkut masalah penggunaan laba yang menjadi hak
para pemegang saham atau keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan akan
dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen atau ditahan guna pembiayaan
investasi di masa yang akan datang. Dengan demikian pertanyaannya seharusnya
adalah kapan (artinya, dalam keadaan seperti apa) laba akan dibagikan dan kapan
ditahan, dengan tetap memperhatikan tujuan perusahaan yaitu meningkatkan nilai
perusahaan.
Kebijakan dividen berpengaruh terhadap aliran dana, struktur finansial,
likuiditas perusahaan dan perilaku investor. Dengan demikian kebijakan dividen
merupakan salah satu keputusan penting dalam kaitannya dengan usaha untuk
memaksimumkan nilai perusahaan. Sebagaimana diketahui bahwa nilai perusahaan
dipengaruhi oleh keputusan investasi, keputusan pembiayaan, dan kebijakan dividen
itu sendiri. Ketiga keputusan tersebut saling berinteraksi satu sama lain, karena
keputusan investasi dipengaruhi oleh tersedianya dana dan biaya modal. Biaya modal
dan ketersediaan dana dipengaruhi oleh besar kecilnya laba yang ditahan. Kebijakan
dividen dipengaruhi oleh berbagai pertimbangan seperti likuiditas, prospek
pendapatan, pajak, kondisi lingkungan ekonomi, preferensi pemegang saham, dan
kesempatan investasi yang ada. Maka penulis akan mendalami dan membahas kasus
tentang “KEBIJAKAN DIVIDEN PADA THE NEW WAVE CORPORATION”.

1.2 Rumusan Masalah


Pada Laporan keuangan The New Wave Corporation, pendapatan perusahaan telah
melebihi pendapatan kuartal yang lalu, yaitu lebih dari 20%. Penjualan tahunan juga
kira-kira 15% lebih tinggi. Lebih penting lagi, angka laba bersih untuk tahun tersebut
meningkat lebih dari 25%. Program restrukturisasi dan pemotongan biaya tampaknya
berhasil. Hal ini membuat atmosfer di kantor pusat Dallas, Texas, sangat optimis dan
penuh keyakinan. Kinerja tahun ini mengakhiri tahun-tahun kerugian yang panjang.
Pertanyaan besar yang ada di benak setiap orang adalah “Kapan mereka akan
membayar dividen?” Hal tersebut menjadi topik utama diskusi pada rapat dewan
direksi.
1.2.1. Berikan Komentar atas saran Joe Smolinski agar perushaan tidak membayar
dividen. Apa saja keuantungan dan kerugian dari kebijakan seperti tersebut?
1.2.2. Secara kritis berikan evaluasi atas argumen Jim baker bahwa pemegang saham
sedang mengharapkan dividen dan jika tidak dibayar, maka harga saham akan
turun. Apakah argumennya mendasar? Jelaskan.
1.2.3. Apa yang Janet Long maksud ketika dia berkata, "Para pemegang
saham yang tidak menyukai kebijakan dividen kami dapat menciptakan
‘deviden buatan sendiri’(homemade dividends)?" Bagaimana bisa membuat
dividen buatan sendiri? Asumsikan Anda adalah pemegang saham yang
memiliki 1.000 saham dan mengharapkan perusahaan untuk membayar
setidaknya $ 0,25 per saham. Jika perusahaan memutuskan untuk
mempertahankan semua pendapatannya, bagaimana Anda dapat membuat
deviden buatan sendiri?
1.2.4. Apa komposisi kelompok pemegang saham dalam perusahaan yang
harus dilakukan dengan kebijakan dividen? Berdasarkan kelompok
kepemilikan saham mayoritas dan proporsi kepemilikan relatifnya dalam
perusahaan, seperti apa kebijakan dividen yang harus dipilih New Wave?
1.2.5. Bagaimana cara kerja kebijakan dividen residual(residual dividend)?
Berdasarkan kebijakan residual dividend berapa banyak dividen per lembar
saham yang dapat dibayar perusahaan? Asumsikan bahwa obligasi perusahaan
diperdagangkan dengan nilai nominalnya.
1.2.6. Apa saja kerugian dari mengikuti residual dividend yang ketat? Apa yang
biasanya dilakukan oleh perusahaan dalam praktiknya?
1.2.7. Secara kritis mengevaluasi saran Ed yaitu mengikuti kebijakan residual
dividend disertai dengan pembelian kembali saham pada $ 8 per lembar saham.
Apa saja keuntungan dan kerugian dari penggunaan opsi pembelian kembali
saham dibandingkan dengan dividen tunai untuk mendistribusikan
pengembalian kepada pemegang saham.
1.2.8. Berikan komentar terhadap perdebatan kebijakan dividen di New Wave
Corporation. Menurut pendapat Anda, apakah mereka harus membayar
dividen? Mengapa ya, atau mengapa tidak? Jika mereka memutuskan untuk
membayar dividen, kebijakan dividen macam apa yang harus mereka pilih?
Jelaskan.
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Dividen


Seorang investor yang menanamkan modalnya pada suatu perusahaan tentu
saja mengharapkan return atau keuntungan yang akan diperoleh dari investasi
yang telah dilakukannya. Keuntungan yang dapat diterima oleh investor atau
pemegang saham dari penanaman modal melalui pembelian saham suatu
perusahaan terdiri dari dua macam, yaitu: dividen dan capital gain yang merupakan
keuntungan yang diperoleh dari penjualan aktiva tetap atau selisih antara harga jual
dengan harga beli surat berharga.

2.2 Jenis Dividen


Biasanya dividen dibagikan dengan interval waktu yang tetap, tetapi
kadang-kadang diadakan pembagian dividen tambahan pada waktu yang bukan
biasanya. Dividen yang dibagikan oleh perusahaan kepada para pemegang saham
mempunyai beberapa bentuk sebagai berikut:
2.2.1. Dividen Tunai (Cash Dividend)
Dividen tunai merupakan dividen yang diberikan oleh perusahaan
kepada para pemegang saham dalam bentuk uang tunai (cash). Dividen Tunai
paling umum dibagikan oleh perusahaan kepada para pemegang saham.
2.2.2. Dividen Saham (Stock Dividend)
Dividen saham merupakan dividen yang diberikan kepada para
pemegang saham dalam bentuk saham-saham yang dikeluarkan oleh
perusahaan itu sendiri.
2.2.3. Dividen Asset Selain Kas (property dividend)
Kadang-kadang dividen dibagikan dalam bentuk asset selain kas,
dividen dalam bentuk ini disebut property dividend. Asset yang dibagikan bisa
berbentuk surat- surat berharga perusahaan lain yang dimiliki oleh perusahaan,
barang dagangan atau asset lain. Pemegang saham akan mencatat dividen yang
diterimanya ini sebesar harga pasar aset tersebut. Akan tetapi perusahaan yang
membagikan property dividend akan mencatat dividen ini sebesar nilai buku
aset yang dibagikan.
2.2.4. Dividen Utang (Scrip Dividend)
Dividen utang (Scrip Dividend) timbul apabila laba tidak dibagi itu
saldonya tidak mencukupi untuk pembagian dividen, tetapi saldo kas yang ada
tidak cukup. Oleh karena itu, pimpinan perusahaan akan mengeluarkan Scrip
Dividend yaitu janji tertulis untuk membayar jumlah tertentu diwaktu yang akan
datang.
2.2.5. Dividen Likuidasi
Dividen likuidasi adalah dividen yang sebagian merupakan
pengembalian modal. Dividen likuidasi ini dicatat dengan mendebit rekening
pengembalian modal yang dalam neraca laporkan sebagai pengurang modal
saham. Apabila perusahaan membagikan dividen likuidasi, pemegang saham
harus diberitahu mengenai berapa jumlah pembagian laba dan berapa yang
merupakan pengembalian modal.

2.3 Kebijakan Dividen


Kebijakan dividen adalah keputusan mengenai apakah laba yang diperoleh
perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen atau akan ditahan
dalam bentuk laba ditahan guna pembiayaan investasi pada masa yang akan datang
(Sartono, 2001 : 281). Dalam kebijakan dividen, terdapat pilihan yang tidak mudah
dalam membagikan laba sebagai dividen atau menahan untuk diinvestasikan kembali.
Apabila perusahaan memilih membagikan laba sebagai dividen maka tingkat
pertumbuhan akan berkurang dan akan berdampak negatif terhadap harga saham. Di
sisi lain, apabila perusahaan tidak membagikan dividen maka pasar akan melihat
sebagai sinyal negatif atas prospek perusahaan. Peningkatan dividen memberikan
sinyal perubahan yang menguntungkan pada harapan manajer dan penurunan dividen
menunjukkan pandangan pesimis prospek perusahaan di masa yang akan datang.

2.4 Teori tentang Kebijakan Dividen


2.4.1 Dividend Irrelevant Theory
Teori ini dikemukakan oleh Merton Miller dan Franco Modigliani (MM).
Menurut dividend irrelevant theory, kebijakan dividen tidak memengaruhi
harga pasar saham perusahaan atau nilai perusahaan. Modigliani dan Miller
berpendapat bahwa nilai perusahaan hanya ditentukan oleh kemampuan
perusahaan untuk menghasilkan pendapatan dan risiko bisnis, sedangkan
bagaimana cara membagi arus pendapatan menjadi dividend dan laba ditahan
tidak memengaruhi nilai perusahaan.
Dengan asumsi :
a. Pasar modal sempurna dan semua investor rasional.
b. Tidak ada pajak atas pendapatan perusahaan atau pendapatan pribadi.
c. Tidak ada biaya emisi atau biaya transaksi saham.
d. Investor dan manajer memiliki informasi yang sama tentang prospek
perusahaan.
e. Kebijakan penganggaran modal independen dengan kebijakan deviden.
f. Pendistribusian pendapatan antara deviden dan laba ditahan tidak
berpengaruh terhadap biaya modal sendiri.
g. Leverage keuangan tidak mempunyai pengaruh terhadap biaya modalb.
Teori “The Bird in the Hand”.
2.4.2 Bird In the Hand Theory
Teori ini dikemukakan oleh Myron Gordon dan John Lintner.
Berdasarkan bird in the hand theory, kebijakan dividen berpengaruh positif
terhadap harga pasar saham atau nilai perusahaan. Artinya, jika dividen yang
dibagikan perusahaan tersebut semakin besar, maka harga pasar saham
perusahaan tersebut akan semakin tinggi dan sebaliknya. Hal ini terjadi karena,
pembagian dividen dapat mengurangi ketidakpastian yang dihadapi investor.
2.4.3 Tax Preference Theory
Berdasarkan tax preference theory, kebijakan dividen mempunyai
pengaruh negatif terhadap harga pasar saham perusahaan. Artinya, semakin
besar jumlah dividen yang dibagikan perusahaan, maka semakin rendah harga
pasar saham perusahaan tersebut. Hal ini terjadi jika ada perbedaan antara tarif
pajak personal atas pendapatan dividend dan capital gain.

2.4.4 Teori Dividen Residual


Teori ini ditentukan dengan cara mempertimbangkan kesempatan
investasi perusahaan, mempertimbangkan target struktur modal perusahaan
untuk menentukan besarnya modal sendiri yang digunakan untuk membiayai
investasi perusahaan, memanfaatkan laba ditahan semaksimal mungkin untuk
membiayai investasi perusahaan, jika ada sisa laba maka dividen baru dibayar.
Dengan demikian besarnya dividen akan fluktuatif. Model ini
berkembang karena pendanaan emisi saham baru lebih mahal dari pemanfaatan
laba ditahan karena adanya biaya-biaya emisi saham dan penerbitan saham
diartikan investor bahwa perusahaan mengalami kesulitan keuangan sehingga
menyebabkan penurunan harga. Oleh karena itu perusahaan mengutamakan
pendanaan perusahaan berasal dari laba ditahan. Sehingga akibatnya
perusahaan baru akan membayar dividen setelah kebutuhan dana investasi
terpenuhi dengan kata lain jika ada pendapatan yang tersisa.
Cara menentukan:
a. Menetapkan penganggaran modal optimum usulan investasi dengan
NPV positif diterima.
b. Menentukan jumlah saham yang diperlukan untuk membiayai investaso
baru sambil menjaga target struktur modal.
c. Memanfaatkan laba ditahan untuk memenuhi modal semaksimal
mungkin.
d. Membayar dividen jika ada sisal aba setelah usulan investasi ber – NPV
positif diterima.
e. Dividen = laba bersih – (struktur modal target x total nggaran modal)
Selain teory diatas terdapat dua teori lain yang dapat membantu untuk memahami
kebijakan dividen adalah (Brigham, 2004 seperti dikutip Setiawati, 2012) :
a Information Content or Signaling Hypothesis
Di dalam teori ini M-M berpendapat bahwa suatu kenaikan dividen yang
diatas kenaikan nirmal biasanya merupakan suatu sinyal kepada para investor
bahwa manajemen perusahaan meramalkan suatu penghasilan yang baik dimasa
yang akan datang. Sebaliknya, suatu penurunan atau kenaikan dividen yang
dibawah kenaikan norma diyakini investor sebagai suatu sinyal bahwa
perusahaan menghadapi masa sulit dimasa mendatang. Namun demikian sulit
dikatakan apakah kenaikan atau penurunan harga setelah adanya kenaikan atau
penurunan dividen semata-mata disebabkan oleh efek sinyal atau mungkin
disebabkan oleh efek sinyal dan preferensi terhadap dividen.
b Clientele Effect
Yang menyatakan bahwa pemegang saham yang berbeda akan memiliki
preferensi yang berbeda terhadap kebijakan dividen perusahaan. Kelompok
investor yang membutuhkan penghasilan saat ini lebih menyukai dividend
payout ratio (DPR) yang tinggi, sebaliknya kelompok investor yang tidak begitu
membutuhkan uang saat ini lebih senang jika perusahaan menahan sebagian
besar laba bersih perusahaan.

2.5 Beberapa Aspek Kebijakan Dividen


2.5.1 Stabilitas Dividen
Perusahaan yang membayar dividen stabil dari waktu ke waktu,
kemungkinan dinilai lebih baik daripada perusahaan yang membayar dividen
berfluktuasi. Hal ini karena perusahaan yang membayar dividen stabil
mencerminkan kondisi keuangan perusahaan tersebut juga stabil dan
sebaliknya, perusahaan dengan dividen tidak stabil mencerminkan kondisi
keuangan perusahaan yang kurang baik.
2.5.2 Target Payout Ratio
Sejumlah perusahaan mengikuti kebijakan target payout ratio jangka
panjang. Hal ini akan mengakibatkan besarnya jumlah dividen yang dibayarkan
berfluktuasi atau dividennya tidak stabil. Perusahaan hanya akan meningkatkan
dividend payout ratio, jika pendapatan perusahaan meningkat dan perusahaan
merasa mampu untuk mempertahankan kenaikan pendapatan tersebut dalam
jangka panjang.
2.5.3 Regular dan Extra Dividend
Salah satu cara perusahaan meningkatkan dividen kas adalah dengan
memberikan extra dividend di samping regular dividend. Hal ini biasanya
dilakukan jika pendapatan perusahaan meningkat cukup besar tetapi sifatnya
sementara. Apabila tidak terjadi peningkatan pendapatan perusahaan, maka
dividen yang dibagikan hanya regular dividend.

2.6 faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen


Faktor-faktor yang mempengaruhi rasio pembayaran dividen suatu perusahaan adalah
sebagai berikut :
2.6.1 Posisi Likuiditas Perusahaan
Posisi kas atau likuiditas perusahaan merupakan faktor yang penting yang
harus dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan untuk menetapkan
besarnya dividen yang akan dibayarkan kepada para pemegang saham. Oleh
karena dividen merupakan arus kas keluar, maka semakin kuat posisi likuiditas
perusahan berarti makin besar kemampuan perusahaan untuk membayar
dividen. Suatu perusahan yang sedang tumbuh secara rendabel (perusahaan
yang masih mencari keuntungan), mungkin tidak begitu kuat posisi
likuiditasnya karena sebagian besar dari dananya tertanam dalam aktiva tetap
dan modal kerja sehingga kemampuannya untuk membayarkan dividen pun
sangat terbatas. Dengan sendirinya likuiditas suatu perusahaan ditentukan oleh
keputusan- keputusan di bidang investasi dan cara pemenuhan kebubutuhan
dananya.
2.6.2 Kebutuhan Untuk Membayar Hutang
Perusahaan akan memperoleh hutang baru untuk menjual obligasi baru untuk
membiayai perluasan perusahaan, sebelumnya harus merencanakan terlebih
dahulu bagaimana cara untuk membayar kembali hutang tersebut. Apabila
perusahaan menentukan bahwa pelunasan utangnya akan diambilkan dari laba
ditahan, berarti perusahaan harus menahan dari sebagian besar pendapatannya
untuk keperluan tersebut, yang ini berarti hanya sebagian kecil saja dari
pendapatan yang dapat dibayarakan sebagai dividen.
2.6.3 Tingkat Pertumbuhan Perusahaan
Makin cepat tingkat pertumbuhan suatu perusahaan, makin besar kebutuhan
dana untuk waktu mendatang untuk membiayai pertumbuhannya. Perusahaan
tersebut biasanya akan lebih senang untuk menahan pendapatannya dari pada
dibayarkan sebagai dividen dengan mengingat batasan-batasan biayanya.
Apabila perusahaan telah mencapai tingkat pertumbuhan sedemikian rupa
sehingga perusahaan telah mencapai tingkat pertumbuhan yang mapan, dimana
kebutuhan dananya dapat dipenuhi dengan dana yang berasal dari pasar modal
atau sumber dana lainnya, maka keadaanya adalah berbeda. Dalam hal yang
demikian perusahaan dapat menetapkan dividen payout ratio yang tinggi.
2.6.4 Pengawasan Terhadap Perusahaan
Kontrol atau pengawasan terhadap perusahaan. Perusahaan yang mempunyai
kebijakan hanya membiayai ekspansi dengan dana yang berasal dari intern
saja. Kebijakan tersebut dijalankan atas pertimbangan bahwa kalau ekspansi
dibiayai dengan dana yang berasal dari hasil penjualan saham baru akan
melemahkan kontrol atau pengawasan dari kelompok dominan di dalam
perusahaan. Demikian pula kalau membiayai ekspansi dari utang akan
menambah risiko finansialnya. Mempercayakan kepada pembelajaran intern
dalam rangka untuk mempertahankan kontrol terhadap perusahaan berarti
mengurangi “dividen payout ratio”.
Berikut berbagai faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen :
(Sutrisno, 2001)
a Kebutuhan Dana Perusahaan
Kebutuhan dana bagi perusahaan dalam kenyataanya merupakan faktor
yang harus dipertimbangkan dalam menentukan kebijakan dividen yang
akan diambil. Aliran kas perusahaan yang diharapkan, pengeluaran modal
dimasa datang yang diharapkan, kebutuhan tambahan piutang dan
persediaan, pola (skedul) pengurangan utang dan masih banyak faktor lain
yang mempengaruhi posisi kas perusahaan harus dipertimbangkan dalam
analisis kebijakan dividen.
b Likuiditas
Likuiditas perusahaan merupakan pertimbangan utama dalam banyak
kebijakan dividen. Karena dividen bagi perusahaan merupakan kas keluar,
maka semakin besar posisi kas dan likuiditas perusahaan secara
keseluruhan akan semakin besar kemampuan perusahaan untuk
membayar dividen.
c Kemampuan Meminjam
Kemampuan meminjam dalam jangka pendek tersebut akan
meningkatkan fleksibilitas likuiditas perusahaan. Selain itu fleksibilitas
perusahaan juga dipengaruhi oleh kemampuan perusahaan untuk bergerak
dipasar modal dengan mengeluarkan obligasi. Perusahaan yang semakin
besar akan memiliki akses yang lebih baik di pasar modal. Kemampuan
meminjam yang lebih besar akan memperbesar kemampuan membayar
dividen.
d Keadaan Pemegang Saham
Jika perusahaan itu kepemilikan sahamnya relatif tertutup, manajemen
biasanya mengetahui dividen yang diharapkan oleh pemegang saham dan
dapat bertindak dengan tepat. Jika hampir semua pemegang saham berada
dalam golongan high tax (pajak yang lebih tinggi) dan lebih suka
memperoleh capital gains, maka perusahaan dapat mempertahankan
dividen payout ratio yang rendah. Dengan dividend payou ratiot yang
rendah tentunya dapat diperkirakan apakah perusahaan akan menahan
laba untuk kesempatan investasi yang profitable. Untuk perusahaan yang
jumlah pemegang sahamnya besar hanya dapat menilai dividen yang
diharapkan pemegang saham dalam konteks pasar.
e Stabilitas Dividen
Bagi para investor faktor stabilitas dividen akan lebih menarik daripada
dividend payout ratio yang tinggi. Stabilitas disini dalam arti tetap
memperhatikan tingkat pertumbuhan perusahaan yang ditujukan oleh
koefisien arah positif. Bagi investor pembayaran dividen yang stabil
merupakan indikator prospek perusahaan yang stabil pula dengan
demikian resiko perusahaan juga relatif lebih rendah dibandingkan dengan
perusahaan-perusahaan yang membayar dividen tidak stabil.

2.7 Metode Pembayaran Dividen


Perusahaan memutuskan untuk mengikuti metode dividen tinggi atau rendah,
akan menggunakan salah satu dari tiga pendekatan utama: residual, stabilitas, atau
kompromi hibrida antara keduanya.
2.6.1 Residual
Perusahaan yang menggunakan kebijakan dividen residual memilih
untuk mengandalkan ekuitas yang dihasilkan secara internal untuk membiayai
setiap proyek baru. Akibatnya, pembayaran dividen dapat keluar dari sisa atau
sisa ekuitas hanya setelah semua persyaratan modal proyek dipenuhi.
Perusahaan-perusahaan ini biasanya berusaha untuk menjaga keseimbangan
dalam rasio utang / ekuitas mereka sebelum melakukan pembagian dividen,
yang menunjukkan bahwa mereka memutuskan dividen hanya jika ada cukup
uang yang tersisa setelah semua biaya operasi dan ekspansi dipenuhi. Sebelum
memilih kebijakan dividen residual, laba yang perlu dipertahankan untuk
mendukung anggaran modal harus dihitung. Kemudian, penghasilan yang
tersisa dapat dibayarkan dalam bentuk dividen kepada pemegang saham.
Dengan demikian, masalah ekuitas baru akan sangat berkurang dan ini pada
gilirannya mengarah pada pengurangan biaya pensinyalan dan flotasi. Jumlah
yang dibayarkan sebagai dividen sangat berfluktuasi jika kebijakan ini
diterapkan.
2.6.2 Stabilitas
Fluktuasi dividen yang diciptakan oleh kebijakan residual secara
signifikan kontras dengan kepastian kebijakan stabilitas dividen. Dengan
kebijakan stabilitas, perusahaan dapat memilih kebijakan siklus yang
menetapkan dividen pada fraksi tetap dari pendapatan kuartalan, atau dapat
memilih kebijakan yang stabil dimana dividen kuartalan ditetapkan pada
sebagian kecil dari pendapatan tahunan. Dalam kedua kasus tersebut, tujuan
kebijakan stabilitas dividen adalah untuk mengurangi ketidakpastian bagi
investor dan memberi mereka penghasilan.
2.6.3 Hibrida
Pendekatan terakhir adalah kombinasi antara kebijakan dividen residual
dan stabil. Dengan menggunakan pendekatan ini, perusahaan cenderung melihat
rasio utang dan ekuitas sebagai tujuan jangka panjang dan bukan jangka pendek.
Di pasar saat ini, pendekatan ini biasanya digunakan oleh perusahaan yang
membayar dividen. Karena perusahaan-perusahaan ini umumnya akan
mengalami fluktuasi siklus bisnis, mereka umumnya akan memiliki satu set
dividen, yang ditetapkan sebagai bagian kecil dari pendapatan tahunan dan
dapat dengan mudah dipertahankan. Di atas set dividen ini, perusahaan-
perusahaan ini akan menawarkan dividen tambahan lain yang dibayarkan hanya
ketika pendapatan melebihi level umum.

2.8 Syarat Pembayaran Dividen


Jika suatu perusahan mempertimbangkan pembagian dividen, ada dua persyaratan
utama yang harus dipenuhi, yaitu :
2.8.1 Legalitas Dividen
Legalitas dividen dapat ditentunkan dengan melihat hukum suatu negara
yang berlaku. Sebagai contoh, hukum disuatu negara yang ada menekankan
pada solven atau tidaknya suatu perusahaan sebelum perusaah mengadakan
pembagian dividen dan ada yang menekankan bahwa pembagian dividen tidak
boleh melebihi nilai wajar dari aset neto, bahkan ada yang menggunakan
kombinasi keduanya.
2.8.2 Kondisi Keuangan
Pengelolaan perusahaan yang baik memerlukan perhatian yang lebih
daripada legalitas pembagian dividen. Pertimbangan harus diberikan pada
kondisi ekonomi tertentu, terutama likuiditas. Jadi, sebelum dividen
diumumkan manajemen harus mempertimbangkan ketersediaan dana untuk
membayar dividen. Para direktur juga harus mempertimbangkan pengaruh
inflasi dan biaya pengganti sebelum melakukan komitmen dividen.

2.9 Kendala Pembagian Dividen


Kendala-kendala dalam pembagian dividen :
2.9.1 Perjanjian Kredit atau Surat Pengakuan Utang
Perjanjian kredit biasanya membatasi pembagian dividen dari laba yang
dihasilkan sebelum pinjaman dilunasi. Disamping itu perjanjian kredit sering
kali mensyaratkan bahwa tidak ada dividen yang tidak dapat dibagikan kecuali
rasio lancar, rasio kemampuan membayar bunga dan rasio-rasio pengaman
lainnya melebihi batas minimum yang ditetapkan.
2.9.2 Ketidakcukupan Laba
Pembagian dividen tidak boleh melebihi laba ditahan pada pos neraca.
Pembatasan ini disebut impairment of capital rule, dirancang untuk melindungi
kreditur. Tanpa peraturan tersebut, suatu perusahaan yang tengah dilanda
masalah mungkin mendistribusukan sebagian besar asetnya kepada pemegang
saham dan membiarkan kreditur membatasi sendiri persoalannya.
2.9.3 Ketersediaan Dana
Dividen tunai hanya dapat dibagiakan dengan ketersediaan uang tunai.
Jadi, kekurangan uang tunai di bank dapat membatasi pembagian dividen. Akan
tetapi, hal ini biasanya diatasi bila perusahaan dapat memperoleh pinjaman.
2.9.4 Denda Pajak Atas Penimbunan Laba yang Tidak Wajar
Untuk mencegah agar orang kaya tidak menggunakan perusahaan untuk
menghindari pajak pribadi, peraturan pajak membuat peraturan khusus
mengenai penimbunan penghasilan yang tidak wajar.
BAB III
KASUS

3.1 Latar Belakang Kasus


Ini adalah akhir dari kuarter ke-4. Laporan keuangan telah disiapkan dan
diedarkan kepada direksi Perusahaan The New Wave. Pendapatan perusahaan telah
melebihi atau melampaui penjualan pada kuarter sebelumnya sekitar 20% dan
penjualan tahunan kira kira menjadi 15% lebih tinggi. Hal yang lebih penting lagi, laba
bersih juga naik sekitar 25%. Tidak perlu dikatakan lagi, suasana pada kantor pusat
perusahaan sedang optimis dan penuh keceriaan. Kinerja tahun ini berakhir dari tahun
keterpurukan dan kenaikan kerugian. Pertanyaannya, “Kapan mereka akan membayar
deviden?”.
Edwin Rosewood merupakan pensiunan biokimia yang mendirikan
perusahaan tersebut kurang lebih 12 tahun yang lalu di kota tempat tinggalnya yaitu
di Skokie, Illinois, Amerika Serikat. Dengan menggunakan modal sendiri (uangnya)
sebesar $500,000 dan dengan meminjam dari bank lokal, ia memulai perusahaan
manufaktur tersebut dengan memproduksi beraneka ragam lotion, pewarna rambut
celup, dan krim facial dengan fasilitas rendah.
Pada awalnya, bisnis mengalami pertumbuhan yang lambat, bahkan
membutuhkan waktu selama 3 tahun sebelum mendapatkan keuntungan pertama kali.
Tidak lama kemudian perusahaan memiliki transaksi besar dengan klien di luar negeri,
sehingga membuat perusahaan mulai berkembang. Penjualan semakin meningkat dan
pusat perusahaan pindah ke Texas setelah menjual saham di IPO sebesar 1,000,000
lembar. Meskipun perusahaan membuat keuntungan yang baik selama 4 tahun, dewan
direksi tetap ingin mempertahankan keuntungan tersebut dengan
menginvestasikannya kembali dalam bisnis. Mereka melakukan hal tersebut terus
menerus dalam beberapa tahun, dan akhirnya terlibat ke dalam krisis ekonomi dan
adanya biaya yang berlebihan, perusahaan berakhir pada angka “merah”.
Beruntungnya, perusahaan tidak mengakumulasi kelebihan biaya tersebut ke dalam
utang dan dapat menahan masa sulit dengan baik. Selama periode buruk tersebut,
harga saham menurun dari $25 ke $2. Saat ini perdagangan saham berada pada harga
$8/lbr saham dengan P/E Rasio 8.33
Ketika pertemuan dewan direksi, ed sebagai presiden perusahaan dan juga
CEO, mengetahui bahwa ini adalah meeting yang menarik karena setiap orang – orang
didalamnya memiliki background, kepribadin, dan kepercayaan yang berbeda-beda.
Tidak lama setelah ia menyelesaikan pembicaraan awal meeting, muncul pertanyaan
mengenai kebijakan deviden perusahaan. Joe Smolinski, "Mengapa memperbaikinya,
jika tidak rusak? Saya pikir kita harus terus mempertahankan semua penghasilan kita
dan menggunakan uang itu untuk investasi di masa depan. Saya pikir kita tidak cukup
bijaksana apabila kita membayar deviden karena kita sendiri harus mengumpulkan
uang atau dana $1,000,000 untuk projek yang sudah kita sepakati bulan lalu. Mengapa
harus membayar floatation cost? Selain itu, bukankah harga saham hampir selalu turun
setelah pembayaran deviden?
Ruangan tersebut mulai panas. Jim Baker berkata, “saya pikir kita memiliki
kewajiban kepada para pemegang saham. Mereka telah menunggu waktu yang lama
untuk deviden. Jika kita tidak membayar deviden, mereka akan angkat kaki.’’ Saya
pikir kita seharusnya identifikasi grup pemegang saham yang ada dan membuat
keputusan berdasarkan preferensi mayoritas.
Janet Long, telah membaca teori dividen irrelevancy dari Modigliani dan
Millerm. Ia mengatakan seharusnya orang – orang tidak perlu membicarakan hal yang
basa – basi. Dia pikir tidak masalah selama harga saham masih dipertimbangkan.
Pemegang saham yang tidak suka kebijakan deviden kita bisa membuat dividen
sendiri.
Bob Mc. Kay mengatakan seharusnya menggunakan pendekatan dividen
residual. Dengan hal itu, ia menganggap bisa membuat pemegang saham tetap senang
da bisa mempertahankan target struktur modal kita. Saya cenderung setuju dengan
Jim. Pemegang saham mengekspektasikan beberapa jenis dividend dan jika kita tidak
menyerahkan, kita bisa merusak harga saham. Tetapi kita mendukung untuk
melanjutkan dukungan dengan DPR apapun yang akan kita jalankan, atau informasi
negatif reaksi balik dapat menghantui kita terus menerus.
Edwin, berkata, “saya memiliki saran berbeda. Mengapa kita tidak mencari
tahu berapa banyak sebenarnya yang bisa kita bayar jika dilihat dari kebutuhan
investasi langsung kita, dan melihat target struktur modal kita, lalu melakukan
pembelian kembali saham pada harga pasar yang tersisa. Dengan hal itu pengurangan
kerugian pajak pada klien kaya kita, dan hal itu juga tidak berpengaruh buruk pada
EPS kita.
Tabel 1
The New Wave Corporation
Analisis Kelompok Pemegang Saham

% Total
Jumlah Pemegang Saham yang Saham
Kelompok Investor
saham Dimiliki yang
Dimiliki
Dana Pensiun 20 240.000 24%
Perusahaan Asuransi 10 60.000 6%
Reksadana 50 130.000 13%
Individu 10.000 570.000 57%
10.080 1.000.000 100%

Tabel 2
The New Wave Corporation
Laporan Laba Rugi

Tahun Berjalan
Penjualan $ 20.000.000
Harga Pokok Penjualan $ 14.400.000
Laba Kotor $ 5.600.000
Beban Penjualan dan Administrasi $ 3.365.000
Depresiasi $ 300.000
Laba sebelum bunga dan Pajak $ 1.935.000
Beban bunga $ 335.000
Laba Sebelum Pajak $ 1.600.000
Pajak $ 640.000
Laba Bersih $ 960.000
Tabel 3
The New Wave Corporation
Neraca

$
Kas $ 250.000 Utang Usaha 300.000
$
Piutang Usaha $ 450.000 Akrual 250.000
$
Persediaan $ 675.000 Pajak Tangguhan 100.000
Total aktiva $
Lancar $ 1.375.000 Total Kewajiban Lancar 650.000
$
Utang Jangka Panjang 3.350.000
Aktiva Tetap $
Bersih $ 8.000.000 Total Kewajiban Lancar 4.000.000
Saham Biasa :
Aktiva Tidak $
Berwujud $ 625.000 Nilai Nominal 2.000.000
$
Modal Disetor 3.000.000
$
Laba Ditahan 1.000.000
Total Ekuitas Pemegang $
Saham 6.000.000
Total Kewajiban dan
$
Total Aktiva $ 10.000.000 Ekiutas Pemegang Saham 10.000.000

3.2 Pemecahan Kasus


1 Berikan Komentar atas saran Joe Smolinski agar perushaan tidak
membayar dividen. Apa saja keuantungan dan kerugian dari kebijakan
seperti tersebut?
Saran Joe untuk tidak membayar dividen apa pun sehingga memberi perusahaan
uang tunai yang dibutuhkan untuk proyek yang direncanakan memiliki beberapa
poin bagus. Namun, dividen memang memiliki biaya, yang biasanya lebih tinggi
daripada biaya utang sesudah pajak. Ini dianggap sebagai biaya peluang bagi
pemegang saham. Karena New Wave Corporation telah memiliki sejarah
panjang tidak membayar dividen, dan pemegang saham mengharapkan beberapa
dividen mengingat kinerja yang baik, mungkin tidak bijaksana untuk
mempertahankan 100% dari pendapatan kecuali perusahaan dapat meyakinkan
pemegang saham bahwa itu akan berada di kepentingan terbaik bagi perusahaan
untuk menginvestasikan kembali penghasilan.
Keuntungan Pro (Negatifnya Dividen)

1. Dividen tunai dapat menegaskan 1. Penerimaan dividen dikenakan pajak.


hasil baik dan menyediakan dukungan
terhadap harga saham. (Bird In The
Hand Theory)
1. Dividen dapat menarik perhatian 1. Dividen dapat mengurangi sumber
para investor institusional yang lebih pendanaan internal (laba ditahan),
memilih imbal hasil dalam bentuk Dividen dapat memaksa perusahaan
dividen. Bauran antara investor untuk mengabaikan proyek ber-NPV
institusional dan individual positif atau ketergantungan terhadap
memungkinkan sebuah perusahaan untuk pendanaan modal eksternal yang mahal.
meningkatkan modal dan biaya yang
lebih rendah karena kemampuan
perusahaan tersebut untuk mencapai
pasar lebih luas.
3. Harga saham sebuah perusahaan 3. Setelah ditetapkan, pemotongan
biasanya akan mengalami kenaikan dividen menjadi sulit untuk dilakukan
dengan adanya pengumuman dividen tanpa memberikan pengaruh negatif
baru atau dividen yang mengalami terhadap harga saham perusahaan.
kenaikan. (Bird In The Hand Theory)
4. Dividen mengurangi biaya keagenan 4. Berdasarkan tarif pajak investor, ini
yang timbul dari konflik di antara karena tarif pajak capital gain lebih rendah
manajemen dan pemegang saham. daripada tarif pajak pendapatan dividen.
5. Pembayaran dividen akan 5. Jika tidak membayar dividen akan
menghilangkan keraguan investor dalam memberikan sinyal negatif bagi investor;
hal laba perusahaan mereka akan berpikir bahwa kinerja dan
laba perusahaan akan turun.

6. Jika tidak membayar dividen, investor


akan menjual saham mereka karena
mereka lebih suka mendapatkan dividen
daripada capital gain.

2. Secara kritis berikan evaluasi atas argumen Jim baker bahwa pemegang
saham sedang mengharapkan dividen dan jika tidak dibayar, maka harga
saham akan turun. Apakah argumennya mendasar? Jelaskan.
Berdasarkan teori yang ada bernama “Bird In the Hand Theory” yang
dikemukakan oleh Myron Gordon dan John Lintner. Berdasarkan bird in the
hand theory, kebijakan dividen berpengaruh positif terhadap harga pasar saham
atau nilai perusahaan. Artinya, jika dividen yang dibagikan perusahaan tersebut
semakin besar, maka harga pasar saham perusahaan tersebut akan semakin tinggi
dan sebaliknya, Jika dividen yang dibagikan perusahaan akan semakin rendah,
maka harga pasar saham perusahaan akan semakin rendah pula. (Berbanding
Lurus). Hal ini terjadi karena, pembagian dividen dapat mengurangi
ketidakpastian yang dihadapi investor, sehingga risiko yang dihadapi investor
akan menurun. Karena itu, harga saham akan naik karena investor cenderung
tertarik dengan kebijakan dividen tersebut.
Argumen Jim Baker bahwa pemegang saham mengharapkan dividen
mungkin benar, mengingat sejarah perusahaan. Apakah harga saham akan
menurun atau tidak, tergantung pada keinginan mayoritas pemegang saham.
Namun, jika staf humas perusahaan dapat meyakinkan pemegang saham bahwa
uang mereka diinvestasikan dengan bijak dan akan mengarah pada apresiasi
harga saham lebih lanjut, harga saham mungkin tidak selalu turun.

3. Apa yang Janet Long maksud ketika dia berkata, "Para pemegang saham
yang tidak menyukai kebijakan dividen kami dapat menciptakan ‘deviden
buatan sendiri’(homemade dividends)?" Bagaimana bisa membuat dividen
buatan sendiri? Asumsikan Anda adalah pemegang saham yang memiliki
1.000 saham dan mengharapkan perusahaan untuk membayar setidaknya
$ 0,25 per lembar saham. Jika perusahaan memutuskan untuk
mempertahankan semua pendapatannya, bagaimana Anda dapat membuat
deviden buatan sendiri?
Apa itu Homemade Dividend?
Homemade Dividend adalah kebijakan dividen yang dirancang khusus yang
dibuat oleh investor individu yang membatalkan kebijakan dividen perusahaan
dengan menginvestasikan kembali dividen atau menjual saham.
Bentuk Homemade Dividend ini, bentuk pendapatan investasinya berasal
dari penjualan sebagian saham yang dipegang oleh pemegang saham. Ini berbeda
dari dividen yang diterima pemegang saham dari sebuah perusahaan sesuai
dengan jumlah saham yang dimiliki pemegang saham.
Jika dividen yang diberikan perusahaan kepada investor tidak seperti
yang diharapkan investor sebelumnya, investor dapat menjual saham mereka
sendiri untuk mendapatkan distribusi uang yang mereka inginkan.
Bagaimana cara melakukan Homemade Dividend:
a. Menginvestasikan kembali dividen dengan membeli saham lagi kepada
perusahaan tempat ia berinvestasi (Apabila perusahaan belum
menginginkan dana dr perusahaan tersebut).
b. Menjual saham pada pasar modal ketika investor menginginkan dana nya
kembali dari perusahaan.

Jika saya memiliki 1.000 saham, dan dividen yang diharapkan adalah $ 0,25 per
lembar saham.

TOTAL DIVIDEN YANG DIHARAPKAN= dividen per lembar saham x jumlah saham

= $ 0.25 x 1.000
= $ 250

PERSENTASE TOTAL DIVIDEND YANG DIHARAPKAN DARI JUMLAH LEMBAR SAHAM YANG DIMILIKI
𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝒅𝒊𝒗𝒊𝒅𝒆𝒏𝒅 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒊𝒉𝒂𝒓𝒂𝒑𝒌𝒂𝒏
= 𝑱𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒍𝒆𝒎𝒃𝒂𝒓 𝒔𝒂𝒉𝒂𝒎 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒊𝒎𝒊𝒍𝒊𝒌𝒊 𝒑𝒂𝒅𝒂 𝒑𝒆𝒓𝒖𝒔𝒂𝒉𝒂𝒂𝒏

($250/1000 lembar saham) x 100% = 25%


SAHAM YANG DAPAT DIJUAL OLEH PEMEGANG SAHAM:

𝐭𝐨𝐭𝐚𝐥 𝐝𝐢𝐯𝐢𝐝𝐞𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐡𝐚𝐫𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 $ 250


=
𝐡𝐚𝐫𝐠𝐚 𝐩𝐞𝐫 𝐥𝐞𝐦𝐛𝐚𝐫 𝐬𝐚𝐡𝐚𝐦 $8

= 31,25 atau 32 lembar.


Berdasarkan perhitungan di atas, dapat diketahui bahwa untuk menciptakan
Homemade Dividend, investor dapat menjual sebagian sahamnya yaitu
sebanyak 32 lembar saham (25% dari total saham yang dimiliki) untuk
mendapatkan disitribusi uang tunai yang setara dengan dividen yang
diharapkan yaitu sebesar $250 (250 lembar saham).

4. Apa komposisi kelompok pemegang saham dalam perusahaan yang harus


dilakukan dengan kebijakan dividen? Berdasarkan kelompok kepemilikan
saham mayoritas dan proporsi kepemilikan relatifnya dalam perusahaan,
seperti apa kebijakan dividen yang harus dipilih New Wave?

Tabel 1
The New Wave Corporation
Analisis Kelompok Pemegang Saham

% Total
Kelompok Jumlah Pemegang Saham yang Saham
Investor saham Dimiliki yang
Dimiliki

Dana Pensiun 20 240.000 24%


Perusahaan
Asuransi 10 60.000 6%

Reksadana 50 130.000 13%

Individu 10.000 570.000 57%

10.080 1.000.000 100%

Dari data dapat diketahui bahwa mayoritas pemegang saham The New
Wave adalah individual (57%). Kelompok individual ini tentu memiliki
preferensi yang berbeda-beda. Sehingga tanpa survei lebih lanjut tentang
mayoritas preferensi kelompok individual ini perusahaan tidak bisa menentukan
kebijakan dividen apa yang akan diambil.
Kemudian kita lihat mayoritas kedua yakni dana pension (24%), dimana
pemegang saham ini tentu berharap akan mendapatkan keuntungan secara
berkala dari dividen atas investasi saham yang mereka lakukan.
Reksa dana dan perusahaan asuransi adalah pihak yang cenderung lebih
menginginkan kenaikan harga (capital gain) dan dividen atas investasi
mereka.
Saat ini, perusahaan telah memutuskan akan menjalankan proyek baru
yang memerlukan pendanaan $1.000.000. Oleh karena itu, sebaiknya perusahaan
menerapkan kebijakan residual dividend, dimana perusahaan akan
membayarkan dividend dari sisa dana setelah digunakan untuk mendanai
investasi. Hal ini bertujuan agar pemegang tetap bahagia karna menerima
dividend berapapun dividend payout ratio nya serta tetap menjamin target
struktur modal tercapai.

5. Bagaimana cara kerja kebijakan dividen residual(residual dividend)?


Berdasarkan kebijakan residual dividend berapa banyak dividen per lembar
saham yang dapat dibayar perusahaan? Asumsikan bahwa obligasi perusahaan
diperdagangkan dengan nilai nominalnya.

Kebijakan dividen residual adalah kebijakan di mana dividen yang


dibayarkan ditetapkan sama dengan laba bersih dikurangi jumlah laba ditahan yang
diperlukan untuk membiayai anggaran modal optimal perusahaan. Ini berarti laba
bersih perusahaan dikurangi dengan jumlah laba ditahan yang digunakan untuk proyek
modal, kemudian sisanya digunakan sebagai dividen kepada investor.
Cara kerjanya adalah : di bawah kebijakan residual dividen, perusahaan
membayar dividen hanya setelah memenuhi kebutuhan investasinya sambil
mempertahankan rasio utang-ekuitas yang diinginkan.
Berikut perhitungannya :

Dividen

► Laba bersih - laba ditahan yang diperlukan untuk membiayai investasi baru

= penghasilan bersih - [(rasio ekuitas target) (total anggaran modal)]

Diberikan, laba bersih = $ 960.000

► rasio target ekuitas = ($ 6.000.000 / $ 10.000.000) * 100% = 60% = 0,6

total anggaran modal = $ 1.000.000

► total anggaran modal adalah rencana perusahaan untuk mengeluarkan uang untuk
proyek modal

Kemudian,

Dividen (Uang yang tersedia untuk pemegang saham)


= $ 960.000 - [(0,6) ($ 1.000.000)]
= $ 960.000 - $ 600.000
= $ 360.000

Dividend Per Share (DPS) = dividen / saham beredar


= $ 360.000 / 1.000.000
= $ 0,36 / share

Dividen per saham dapat dibayar oleh perusahaan adalah $ 0,36 / saham.

6. Apa saja kelemahan mengikuti kebijakan residual dividend yang ketat? Apa yang
biasanya dilakukan oleh perusahaan?

Kebijakan dividen residual yang ketat dapat membuat rasio pembayaran dividen
berfluktuasi secara signifikan setiap kuartal yang mengarah ke kebijakan dividen yang
sangat tidak stabil. Pemotongan dividen karena laba bersih yang lebih rendah dan /
atau peningkatan peluang investasi dapat memiliki efek negatif jangka panjang pada
harga saham.
Kelemahan dari mengikuti kebijakan dividen residual yang ketat adalah
tentang fluktuasi tingkat dividen tadi. Karena ini disebabkan oleh peluang investasi
ulang yang berbeda di setiap tahun. Perusahaan mungkin tidak membayar dividen
dalam setahun karena perusahaan perlu membiayai proyek modal yang
menguntungkan, tetapi di sisi lain, perusahaan akan membayar dividen tinggi karena
tidak ada peluang investasi kembali dalam ekonomi. Dalam kasus naik turunnya laba
bersih perusahaan yang membuat tingkat dividen tidak stabil walaupun ada peluang
investasi kembali.
Perusahaan biasanya melakukan dalam praktiknya, perusahaan menggunakan
kebijakan dividen residual untuk memutuskan pembayaran dividen jangka panjang,
bukan untuk pembayaran dividen tahunan.
Dalam praktiknya perusahaan cenderung mengikuti kebijakan kompromi
berdasarkan kepatuhan terhadap rasio utang-ekuitas jangka panjang yang konstan dan
memungkinkan proporsinya bervariasi dalam jangka pendek.
Beberapa perusahaan mencoba untuk menghindari perubahan drastis dalam
rasio pembayaran dividen dengan menciptakan dua jenis dividen: reguler dan
ekstra. Dividen ekstra dibayarkan selama periode yang baik sebagai bonus sehingga
sedikit atau tidak ada gangguan selama periode yang tidak begitu baik. Perusahaan lain
menggunakan pembelian kembali saham sebagai cara mengembalikan modal kepada
pemegang saham.

7. Kritis mengevaluasi saran Ed untuk mengikuti kebijakan residual dividend disertai


dengan pembelian kembali saham pada $ 8 per saham. Apa pro dan kontra menggunakan
opsi pembelian kembali saham bukannya dividen tunai untuk mendistribusikan
pengembalian kepada pemegang saham.

 Saham beredar: 1.000.000


 Harga = $ 8
 Uang tersedia untuk pemegang saham (dividen) = $ 360.000
 EPS saat ini = total pendapatan / saham = $ 960.000 / 1.000.000 = $ 0,96
per saham
 Rasio P / E = harga per saham / EPS = $ 8 / $ 0,96 = 8.333 kali
Rasio P / E menunjukkan jumlah uang yang akan dibayarkan investor untuk $
1 dari penghasilan saat ini.
• Beli kembali saham dengan harga $ 8 per saham: # share beredar
= 1.000.000 - (360.000 / $ 8)
= 1.000.000 - 45.000 = 955.000 saham EPS = $ 960.000 / 955.000 = $ 1,0052

P = (P / E) (EPS)
= (8.333) ($ 1.0052) = $ 8.3733 per saham

Berdasarkan perhitungan di atas jika perusahaan membeli kembali sahamnya sebesar


$ 8 per saham. Harga saham di pasar akan menjadi $ 8,3733 per saham. Tindakan ini
tidak terlalu menarik bagi investor karena harga saham setelah pembelian kembali
hampir sama dengan harga saham saat ini diperdagangkan di pasar ($ 8 per saham).
Karena itu para investor tidak mendapatkan banyak manfaat dari opsi ini.

 Pro pembelian kembali saham:


Dengan pembelian kembali saham, jumlah saham yang beredar akan berkurang; itu
membuat EPS meningkat dan akhirnya DPS juga meningkat. Itu membuat harga pasar
saham juga akan naik. Berdasarkan teori ini, capital gain dari pembelian kembali saham
harus sama dengan dividen yang harus dibayarkan.

 Kontra pembelian kembali saham:


Dapat dipandang sebagai sinyal negatif (perusahaan memiliki peluang investasi yang
buruk). Dari perspektif seorang investor, dividen tunai dapat diandalkan, biasanya
setiap tiga bulan. Pembelian kembali saham, bagaimanapun, tidak. Bagi beberapa
investor, ketergantungan dividen mungkin lebih penting. Dengan demikian, investor
dapat berinvestasi lebih banyak di saham dengan dividen yang dapat diandalkan
daripada di saham dengan pembelian kembali yang kurang dapat diandalkan.

8. Komentari tentang debat kebijakan dividen di New Wave Corporation. Menurut Anda,
apakah mereka harus membayar dividen? Mengapa atau mengapa tidak? Jika mereka
memutuskan untuk membayar dividen, kebijakan dividen macam apa yang harus
mereka adopsi? Jelaskan.

Dari pendapat mereka, ada banyak argumen tentang kebijakan dividen di New Wave.
 Joe Smolinski berpendapat bahwa lebih baik untuk melanjutkan semua pendapatan dan
menggunakan uang untuk investasi masa depan.
 Jim Baker mengatakan bahwa mereka harus dipertimbangkan pada dividen karena
investor telah menunggu lama untuk dividen dan membuat keputusan berdasarkan apa
yang lebih disukai mayoritas.
 Janet Long berpikir bahwa mereka harus menggunakan pendekatan dividen residual.
 Edwin mengatakan bahwa mereka harus mencari tahu berapa banyak mereka mampu
membayar berdasarkan kebutuhan investasi langsung kami dan struktur modal target
dan membeli kembali saham pada harga pasar yang berlaku.

Kami pikir bijaksana untuk memikirkan kembali kebijakan dividen. Karena


perusahaan tidak membayar dividen untuk waktu yang lama, dan itu akan membuat
kepercayaan dari investor menurun. Kebijakan dividen harus fleksibel diikuti oleh
situasi, dan juga mempertimbangkan kekayaan investor.

Menurut pendapat kelompok kami, perlu memberikan dividen kepada


pemegang saham. Karena mereka telah menunggu lama, dan dengan memberi mereka
dividen, kepercayaan dari dividen tentang kinerja perusahaan akan meningkat. Dan itu
bisa mencegah penjualan saham dari pemegang saham. Kami mencoba menggunakan
pendekatan dividen residual karena kami dianggap menyetujui proyek peluang
investasi, tetapi kami juga masih memikirkan kekayaan pemegang saham kami dengan
memberikan dividen kepada mereka yaitu sisa pendapatan bersih dikurangi laba ditahan
yang diperlukan untuk membiayai baru investasi.
KESIMPULAN

Dari penjelasan dan analisis di atas, kami dapat menyimpulkan bahwa dividen
harus diberikan kepada investor. Pembayaran dividen mencerminkan kinerja
perusahaan yang baik. Dan jika kinerjanya yang baik menyebar ke publik, itu akan
membuat harga saham naik.

Keuntungan lain dari membayar dividen kepada investor adalah membuat


kepercayaan investor semakin tinggi. Hal itu menghindari penjualan saham dari
investor. Kebijakan dividen harus disesuaikan berdasarkan situasi, misalnya: peluang
investasi. Kebijakan dividen terbaik yang cocok untuk New Wave Company adalah
kebijakan dividen residual. Kami pikir kebijakan ini adalah yang paling bijaksana,
karena perusahaan dapat menginvestasikan kembali pendapatan mereka dan juga dapat
membayar dividen kepada pemegang saham, jika New Wave masih memiliki sisa
pendapatannya.