Anda di halaman 1dari 36

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Remaja putri merupakan salah satu kelompok rawan menderita

anemia. Remaja putri berisiko lebih tinggi terkena anemia dibandingkan

dengan remaja putri laki-laki karena alasan pertama remaja perempuan setiap

bulan mengalami siklus menstruasi dan alasan pertama remaja kedua yaitu

karena memiliki kebiasaan makan yang salah. Hal ini terjadi karena para

remaja putri ingin langsing untuk menjaga penampilan sehingga mereka

berdiet dan mengurangi makan, akan tetapi diet yang dijalankan merupakan

diet yang tidak seimbangan dengan kebutuhan tubuh sehinggga dapat tubuh

kekurangan zat-zat penting seperti zat besi (1).

Anemia merupakan masalah gizi yang paling sering dijumpai di

seluruh dunia, terutama di negara berkembang. Survei berbagai negara

menunjukkan prevalensi anemia berkisar 32%-55%. Prevalensi anemia pada

penduduk perkotaan sebesar 19,1%. World Health Organisation (WHO)

menyatakan bahwa 41,4%-66,7% remaja putri di Indonesia menderita

anemia (2).

Berdasarkan data WHO, (2018 ) prevalensi anemia dunia berkisar

40-88%. Angka kejadian anemia pada remaja putri di negara-negara

berkembang sekitar 53,7% dari semua remaja putri, anemia sering menyerang

remaja putri disebabkan karena keadaan stress, haid, atau terlambat makan.
2

Berdasarkan data Indonesia, berada di urutan ke 5dengan jumlah anemia

terbanyak wanita subur antara 15-49 tahun Nilai 48 % (2).

Angka anemia di Indonesia sebanyak 72,3%, kekurangan besi pada

remaja mengakibatkan pucat, lemah, letih, pusing dan menurunnya

konsentrasi belajar. Penyebab anemia pada remaja dikarenakan tingkat

ekonomi, tingkat pengetahuan tentang anemia remaja putri konsumsi Fe,

vitamin C dan lamanya menstruasi. Jumlah penduduk usia remaja 10-19

tahun di Indonesia sebesar 26,2% yang terdiri dari 50,9% laki-laki dan 49,1%

perempuan. Selain itu, berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2018, prevalensi

anemia di Indonesia yaitu 12,7% dengan penderita anemia berumur 5-14

tahun sebesar 26,4% dan 18,4% penderita berumur 15–24 tahun. Data Survei

Kesehatan Rumah Tangga (SKRT ) tahun 2018 prevalensi anemia sulawesi

tenggara yaitu sebesar 33,5% dengan penderita anemia berumur 5-14 tahun

sebesar 26,4% dan 18% penderita berumur 10-12 tahun(3).

Angka anemia di Provinsi Daerah Sulawesi Tenggara sebanyak 35%

(Dinkes Provinsi Sultra), sedangkan anemia remaja di Kecamatan Wawotobi

sebesar 22%, angka ini cukup tinggi sehingga pemerintah mengambil

kebijakan untuk melakukan skrining anemia ditingkat Sekolah Menengah

Atas (SMA) untuk selanjutnya pemberian tablet besi(4).

Dampak negatif dari anemia akibat kekurangan zat besi terhadap

pertumbuhan dan perkembangan remaja mempengaruhi kebutuhan tidur yang

cukup tidak hanya di tentukan oleh faktor jam tidur (kualitas tidur). Kualitas

tidur meliputi aspek kuantitatif dan kualitatif tidur, seperti lamanya tidur,
3

waktu yang diperlukan untuk bisa tertidur, frekuensi terbangun dan aspek,

subjektif seperti kedalaman dan kepulasan tidur (5).

Anemia pada remaja akan berdampak pada penurunan konsentrasi

belajar, penurunan kesegaran jasmani dan gangguan pertumbuhan sehingga

tinggi badan dan berat badan tidak mencapai normal. Tidurmerupakan

kebutuhan dasar setiap orang pada kondisi istirahatdan tidurtubuh melakukan

proses pemulihan untuk mengembalikanstamina tubuh hingga berada dalam

kondisi yang optimal. Perubahanpola tidurumumnya di sebabkan oleh

tuntutan aktivitas sehari-hari yang berakibat pada berkurangnya kebutuhan

untuk tidur sehingga sering mengantuk yang berlebihan di siang harinya (5).

Anemia adalah suatu kondisi medis kadar hemoglobin kurang dari

normal. Kadar Hb normal pada remaja adalah <12 g/dl. Remaja putri

dikatakan anemia jika kadar Hb <12 gr/ dl. Remaja putri adalah tahap umur

yang datang setelah masa kanak-kanak berakhir, ditandai oleh pertumbuhan

fisik yang cepat pada umumnya, anemia lebih sering terjadi pada wanita dan

remaja putri dibandingkan dengan pria yang sangat dibayangkan adalah

kebanyakan penderita anemia tidak tahu atau tidak menyadarinya. Bahkan

ketika tahu pun masih menganggap anemia sebagai masalah penting (1).

Kualitas tidur dikatakan baik jika tidak menunjukkan tanda-tanda

kekurangan tidur dan tidak banyak mengalami masalah dalam tidur. Kondisi

kurang tidur banyak ditemui dikalangan dewasa muda terutama mahasiswa

yang nantinya bisa menimbulkan banyak efek, seperti berkurangnya

konsentrasi belajar, dan gangguan kesehatan (5).


4

Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2 Wawotobi merupakan

salah satu SMAN yang ada di Kabupaten Konawe Sulawesi tenggara, yang

sebagian besar muridnya berasal dari Kabupaten Konawe. Berdasarkan

studi pendahuluan yang telah di lakukan, di temukan 30 dari 50 sampel yang

berada di puskesmas Wawotobi yang terindukasi anemia (6).

Berdasarkan uraian di atas, perlu diindentifikasi hubungan

konsumsi Fe dan Kualitas tidur dengan kejadian anemia pada remaja putri di

SMAN 2 Wawotobi Kabupaten Konawe.

B. Rumusan Masalah

Mengacu pada latar belakang diatas maka penelitian merumuskan masalah

dalam penelitian ini yaitu :

1. Apakah ada hubungan asupan Fe dengan kejadian anemia pada remaja

putri SMAN 2 Wawotobi ?

2. Apakah ada hubungan kualitas tidur dengan kejadian anemia pada remaja

putri di SMAN 2 Wawotobi ?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan asupan dan

kualitas tidur dengan kejadian anemia pada remaja putri SMAN 2

Wawotobi Kabupaten Konawe

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui hubungan asupan Fe dengan kejadian anemia pada

Remaja putri di SMAN 2 Wawotobi Kabupaten Konawe


5

b. Untuk mengetahui hubungan kualitas tidur dengan kejadian anemia

pada remaja putri di SMAN 2 Wawotobi Kabupaten Konawe

D. Manfaat Penelitian

a. Manfaat Teoritis

a. Dapat digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan penelitian-

penelitian selanjutnya

b. Sebagai bahan masukan untuk menambah dan memperkokoh teori atau

ilmu pengetahuan tentang hubungan konsumsi Fe dan kualitas dengan

kejadian anemia pada remaja putri di SMAN 2 Wawotobi

b. Manfaat Praktis

a. Sebagai informasi untuk mengetahui hubungan asupan Fe dan kualitas

tidur dengan kejadian anemia pada remaja putri di SMAN 2 Wawotobi

Kabupaten Konawe

b. Sebagai informasi untuk mengetahui tentang anemia pada anak sekolah

menegah atas di SMAN 2 Wawotobi Kabupaten Konawe

c. Sebagai informasi mengenai kesehatan dan status anemia dari masing-

masing remaja putri.

d. Sebagai tambahan pengetahuan, wawasan dan pengalaman kepada

peneliti dalam upaya penangulangan masalah gizi khususnya tentang

masalah anemia.
6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori

1. Tinjauan Tentang Anemia

a. Pengertian Anemia

Anemia adalah keadaan berkurangnya jumlah eritrosit atau

hemoglobin (protein pembawa O2) dari nilai normal dalam darah

sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa O2 dalam

jumlah yang cukup ke jaringan perifer pengiriman O2 ke jaringan

menurun. Anemia adalah suatu kondisi medis dimana jumlah sel darah

merah atau hemoglobin kurang dari normal. Kadar laki-laki dan

perempuan untuk pria, anemia biasanya didefinisikan sebagai

hemoglobin kurang dari 13,5 gram/100 ml dan pada wanita sebagai

hemoglobin kurang dari 12,0 gram/100ml. Definsi ini mungkin sedikit

berbeda tergantung pada sumber dan referensi laboratorium yang

digunakan(7).

Anemia merupakan salah satu kelainan darah yang umumnya

terjadi ketika kadar sel darah merah eritrosit dalam tubuh menjadi

terlalu rendah. hal ini dapat menyebabkan masalah kesehatan karena

sel darah merah mengandung hemoglobin, yang membawa oksigen

kejaringan tubuh. Anemia dapat menyebabkan berbagai komplikasi

termasuk, kelelahan dan stress pada organ tubuh. Memiliki kadar sel

darah merah yang normal dan mencegah anemia membutuhkan


7

kerjasama antara ginjal, sumsum tulang dan nutrisi dalam tubuh, jika

ginjal atau sumsum tulang tidak berfungsi atau tubuh kurang gizi, maka

jumlah sel darah merah dan fungsi normal mungkin sulit untuk untuk

dipertahankan(8).

Anemia didefinisikan sebagai keadaan dimana level Hb rendah

karena kondisi patogonis. Defisiensi Fe merupakan salah satu penyebab

tetapi bukanlah satu-satunya penyebab anemia, penyebab lainnya

adalah infeksi kronik, khususnya malaria dan defisiensi asam folat.

Anemia sebenarnya adalah sebuah tanda proses sebuah tanda dari

proses penyakit bukan penyakit itu sendiri. Hal ini biasanya

digolongkan baik kronis atau akut Anemia kronik terjadi selama jangka

waktu panjang(8).

Anemia gizi merupakan suatu keadaan dimana sel-sel darah

merah tidak mampumembawa oksigen yang diperlukan dalam

pembentukan energi.Defisiensi besi merupakanakibatdari

keseimbangan negatif besi yang berkepanjangan yang disebabkan oleh

ketidak cukupan konsumsibesi dalamkonten ketidakcukupan konsumsi

besi ataupenyerapannya. Wanita usia produktifberisiko tinggi

mengalami defisiensi besi karena kehilangan darah selama menstruasi.

Kadar laki-laki dan perempuan untuk pria, anemia biasanya

didefinisikan sebagai hemoglobin ≤ 13,5 gram/100 ml dan pada

wanita sebagai hemoglobin ≤12,0 gram/100ml. Definsi ini mungin


8

sedikit berbeda tergantung pada sumber dan referensi laboratorium

yang digunakan(9).

Anemia defiensi besi merupakan anemia terjadi yang karena

berkurangnya penyediaan besi eritropoesis, kekosongan cadangan besi

Depleted Iron Store(DIS)menyebabkan pembentukanhemoglobin

mikrositer dan hasil pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan

cadangan besi kosong. Pada anemia akibat penyakit kronik penyediaan

besi untuk eritropoesis berkurang(10).

b. Pencegahan Anemia

Menurut Dewi dkk,ada beberapa cara pencegahan penyakit

anemia diantaranya(11).

1) Asupan Makanan Mengandung Zat Besi

Pastikan asupan zat besi terpenuhi lewat makanan.Konsumsi

makanan mengandung zat besi dapat membantu mencegah

anemia.Makanan ini misalnya daging dan kerang.Orang dapat

memilih daging merah seperti hati sapi serta keluarga kerang-

kerangan seperti kerang hijau atau udang. Selain daging dan kerang,

sumber zat besi lain dapat diperoleh dari kacang-kacangan, sayuran

hijau seperti bayam dan kubis.

2) Tingkatkan Asupan Vitamin C dan Folat

Asupan makanan yang mengandung zat besi perlu didukung

dengan asupan vitamin C dan Folat.Keduanya membantu tubuh

memaksimalkan penyerapan zat besi.Vitamin C bisa didapat dari


9

konsumsi paprika, kale, brokoli, jeruk, strowberi, nenas dan bayam.

Sedangkan folat bisa diperoleh lewat bahan pangan yang sama

termasuk jeruk dan sayuran hijau. Folat bisa pula ditemui pada

pisang, roti dan sereal yang difortifikasi.

3) Konsumsi Makanan Mengandung Vitamin B12

Langkah pencegahan anemia dapat dilakukan lewat

konsumsi makanan yang mengandung vitamin B12.Tak hanya

mencegah anemia, vitamin B12 berfungsi untuk memaksimalkan

penyerapan zat besi seperti halnya vitamin C dan folat.Seseorang

dapat mengonsumsi beberapa sumber pangan yang mengandung

vitamin B12 antara lain, ikan seperti salmon dan tuna, kerang-

kerangan, telur, produk susu seperti keju dan yogurt, sereal

fortifikasi dan produk kedelai misalnya susu kedelai dan

tahu.Mengobati penyakityang menyebabkan atau perbaiki

anemiaseperti kecacingan, malaria dan penyakit Tuberculosis

(TBC).

c. Anemia pada Remaja Putri

Remaja adalah individukelompok umur 10-19 tahunyang di

bagi dalam dua terminasiyaitu remaja awal pada rentang umur 10-14

tahun dan remaja akhir 15-19 tahun. Masaremaja adalah peralihan dari

masa anak dengan masa dewasa yang mengalami semua

perkembangansemua aspek atau fungsi untuk memasuki masa dewasa

(13).
10

Remaja adalah masa pertumbuhan dari kematangan manusia,

terjadinya perubahanpada usiaini. Masa ini ini merupakan masa transisi

dari anak–anak menuju dewasa, terjadi perkembangan dalam mencari

identitas diridan moralin dan nilai kehidupan, penghargaan terhadap

diri dan pandangan terhadap masa depan (14).

d. Status Gizi Remaja

Remaja merupakan salah satu kelompokrentang gizi masa ini,

remaja masuk kedalam fase pertumbuhan cepat kedua dan selanjutnya

pertumbuhan fisik menurun saat masuk usia dewasa muda.Remaja

membutuhkanmakanan yang adekuat tidak hanya dari segi kuantitas

tapi juga dari segi kualitas. Semakin bervariasi atau beraneka ragam

makanan yang dikonsumsi remaja akanmenjamin terpenuhinya

kecukupan zat giziyang selanjutnya akan berdampak pada status gizi

dan kesehatanya (15).

2. Tinjauan Umum tentang AsupanFe

a. Tablet Tambah Darah (Tablet Fe)

Tablet tambah darah adalahtablet besi folat yang setiaptablet

mengandung 200 mgferro sulfat atau 60mg besielemental dan 0,25 mg

asamfolat.Tablet tambah darahmerupakantablet yang di berikan

kepadawanitausia subur. Wanita usia subur di berikansebanyak 1kali

seminggudan 1kali sehariselama haid dan untukremaja putridiberikan

setiaphari selamamasa remaja atauminimal 90tablet(16).


11

Zat besi berfungsi untuk membentuk sel darah merah,

sementara seldarah merah bertugas mengangkut oksigen dan zat-zat

makanankeseluruhtubuhserta membantu prosesmetabolisme tubuh

untukmenghasilkan energi, jika konsumsi zat besi kedalam tubuh

berkurang, tubuh pun akan kekuranganoksigen akibatnya timbulnya

gejala-gejala anemia. Setiap tablet tambah darah bagiwanita usia subur

dan remaja putri sekurangnya mengandung zat besi setara dengan 60 m

besi elemental (dalam bentuk sediaan ferro sulfat,ferro fumarat

atauferro gluconat)danAsam folat 0,400 Mg (16).

b. Metabolisme Besi

Besi merupakan unsur vital yang sangat dibutuhkan oleh tubuh

untuk pembentukan hemoglobin dan merupakan komponen penting

pada sistem enzim pernafasan.Pada metabolisme besi perlu diketahui

komposisi dan distribusi besi dalam tubuh, cadangan besi tubuh, siklus

besi, absorbsi besi dan transportasi besi (16).

c. SumberZat Besi

Zat besi terdapat ada makanan hewani seperti daging,ayam,

ikan, dan makanan hasil olahan darah sepert ihati. Sumber zat besi

lainnya yaitu telur,kacang-kacangan, biji-bijian,sayuran hijau dan buah-

buahan (16).
12

3. Tinjuan Umumtentang Kualitas Tidur

a. Pengertian Kualitas Tidur

Tidurmerupakansalahsatukebutuhandasar manusia.Kebutuhan

tidur dirasakan dalam kehidupan setelah seharian lelah beraktivitas dan

secara otomatis tubuh akan memberi sinyal untuk istirahat. Seseorang

akan terbangun dari tidurnya secara perlahan dan alami saat tubuh

sudah mendapatkan tidur yang cukup. Tidur menjadi kegiatan normal

dan menjadi aktivitas yang manuasiawi dalam kehidupan sehari-

hari(17).

b. Macam- macam Jenis Tidur

Tidur sebagai salah satu kebutuhan fisiologis manusia yang

secara alami terjadi karena perubahan status kesadaran, ditandai dengan

penurunan pada kesadaran dan respon terhadap stimuli(17).

Masalah tidur remaja dapat dimulai jauh sebelum mereka

berusia 13 tahun. Kebiasaan tidur dan perubahan tubuh 10 sampai 12

tahun memiliki hubungan erat dengan masa remaja.Pola tidur remaja

juga secara kuat diatur dalam hidup mereka. Hal ini tidak mudah bagi

mereka untuk mengubah cara mereka tidur(17).

c. Siklus Tidur

Setiap malam seseorang mengalami dua jenis tidur yang

berbeda dan saling bergantian yaitu: tidur NREM dan REM.Burner

menjelaskan bahwa tidur dimulai dengan fase 1-4 NREM, kemudian

menurun ke pase 3-2 dan masuk fase REM. Putaran fase tersebut
13

dikatakan sebagai 1 siklus tidur. Individu yang memiliki tidur normal

melewati 4-5 siklus setiap tidurnya.Setiap siklus berlangsung selama

60-90 menit(17).Selain itu, Petermenerangkan tahapan tidur dan cirinya

sebagai berikut:

1) Tidur Non Rapid-EyeMovemen (NREM)

Tidur Non Rapid-EyeMovemen (NREM) atau tidur

gelombang lambat yang dikenal dengan tidur yang dalam, istirahat

penuh dengan gelombang otak yang lebih lambat.Nelson

menjelaskan bahwa tidur ini memiliki 4 tahapan dari yang sampai

1-4. Saat seseorang mulai tidur maka dia memasuki fase 1 yaitu

tahapan tidur biasa, kemudian memasuki fase 2 dan 3 yaitu tidur

sedang dan kemudian fase 4 yaitu tidur yang pulas. Selama tidur

pulas ini, jantung berkerja lambat, dan tekanan darah berada pada

titik paling rendah dari seluruhhari itu (17).

2) Tidur Rapid-Eye Movement(REM)

Tidur REM dicirikan dengan pergerakan mata oleh

seseorang dalam tidur. Dalam tidur ini mata seseorang bergerak

beputar, gelombang otak cepat, sementara otot-otot tubuh menjadi

rileks dan lembut, pada tidur semacam inilah seseorang

bermimpiPada saat tidur REM otak mengolah sebagian informasi

yang dialami sepanjang hari dan pada saat ini seseorang memiliki

mimpi yang tegas. Jumlah keseluruhan tidur REM pada malam hari

berlangsung sekitar 25 persen dari waktu tidur secara


14

keseluruhan.Tidur REM biasanya terjadi setiap 90 menit dan

berlangsung selama 5-20 menit.Tidur REM tidak senyenyak tidur

NREM, dan sebagian besar mimpi terjadi pada tahap ini.Pada siklus

pertama, tidur REM hanya sedikit bahkan tidak ada. Periode REM

semakin berkembang pada siklus-siklus tidur berikutnya(18).

d. ManfaatTidur

Selama tidur semua fungsi vital tubuh berkurang, sel-sel

tubuh yang telah digunakan selama aktivitas diperbaiki,tingkat

metabolisme diturunkan dan energi dipulihkan.Waktu tidur yang baik

dan terjaga mendatangkan manfaat yang positif bagi tubuh.Tidur

meringankan kerja organ vital selama seharian beraktivitas, sel-sel yang

rusak selama berkerja diperbaiki dan saat bangun tubuh manusia

mendapatkan energi kembali untuk melakukan aktivitas

selanjutnya.Orang yang dalam jangka panjang sering kurang tidur

berarti merusak tubuhnya bahkan sampai taraf mengundang resiko

serangan jantung.Bila individu kehilangan tidur selama waktu tertentu

dapatmenyebabkankesukaran untuk berkonsentrasi,perubahan fungsi

tubuh,mental dan emosi(17).

e. Pengukuran Kualitas Tidur

Pengukuran kualitas tidur dapat berupa kuesioner maupun

sleep diary, nocturnal polysomnography, dan multiple sleep latency

test. Sleep diary merupakan pencatatan aktivitas tidur sehari-hari, waktu

ketika tertidur, aktivitas yang dilakukan dalam 15 menit setelah bangun,


15

makanan dan minuman, serta obat yang dikonsumsi.Beberapa peneliti

juga telah melakukan pengukuran kualitas tidurdengan Sleep

QualityScale(SQS)(17).

Penilaian Pittsburgh Sleep Quality Index(PSQI)yang menjadi

kualitas tidur baik dan buruk mencakup 7 ranah yaitu kualitas tidur

subjektif, latensi tidur, durasi tidur, efisiensi tidur, gangguan tidur,

penggunaan obat tidur, dan disfungsi tidur di siang hari. Jawaban dari

masing-masing soal memiliki skor 0-3 dan setiap jenis pertanyaan

memiliki cara perhitungan berbeda-beda. Pada akhir penjumlahan skor

dari seluruh pertanyaan dan hasilnya diklasifikasikan menjadi 4

kategori yaitu: (17)

1. Baik : 1-5

2. Ringan : 6-7

3. Sedang : 8-14

4. Buruk : 15-22
16

B. Kerangka Teori

Pengetahuan gizi Kualitas tidur

Kebutuhan Kehilangan
konsumsi tablet darah

Pola konsumsi Konsumsi tablet


makan tambah darah Pola tidur

Riwayat penyakit Konsumsi zat gizi Status


infeksi menstruasi

Status anemia
remaja

Gambar 2.1 Kerangka Teori Anemia


Sumber: (15)
17

BAB III

KERANGKA KONSEP

A. Kerangka Konsep Penelitian

Kerangka konsep penelitian adalah abtraksi mengenai suatu

fenomena yang di rumuskan. Dalam penelitian ini menggunakan variabel

independen yakni asupan Fe dan kualitas tidur serta variabel dependen yakni

kejadian anemia pada remaja putri di SMAN 2 Wawotobi Kabupaten

Konawe.

Adapun kerangka konsep dalam penelitian adalah :

Variabel independen Variabel dependen

AsupanFe

Anemia
Kualitas tidur

Gambar 2. 2 Kerangka Konsep

Keterangan :

: Variabel independen yang di teliti

: Variabel dependen yang di teliti

: Hubungan antara variabel


18

B. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif

Tabel 3.1 Definisi Operasional dan Kriteria Objektif


Definisi Skala
No Variabel Kriteria Objektif Alat ukur
Operasional Pengukuran
1. Anemia Suatu keadaan di a. Normal ≥ 12 gr/dL Easy touch Ordinal
mana kadar b. Anemia˂ 12 gr/dL meter
hemoglobin (18)
(Hb) dalam
darah kurang
dari nilai normal
(18)
2 Kualitas Kualitas 1. Baik : 1-5 Penilaian Ordinal
Tidur tiduradalah 2. Ringan : 6-7 diperoleh
takaran baikdan 3. Sedang : 8-14 dari skor
buruk dari 4. Buruk : 15-22 yang
kebiasaan (17) diperoleh
tidurseseorang dari
selama 1 bulan responden
terakhir. yang telah
menjawab
pertanyan-
pertanyaan
pada
kuesioner
PSQI.
3. Asupan Jumlah asupan Wawancara dengan Formulir Numerik
Fe Fe yang di responden recall 1x 24
konsumsi pada jam
remaja putri baik
yang bersumber
dari makanan
maupun tablet
Fe yang di
konsumsi.
19

C. Hipotesis Penelitian

1. AsupanFe

Ho: Tidak ada hubungan antara asupan Fe dengan kejadian anemia pada

remaja putridi SMAN 2 Wawotobi Kabupaten Konawe

Ha: Ada hubungan antara asupan Fe dengan kejadian anemia pada

remaja putri di SMAN 2 Wawotobi Kabupaten Konawe

2. Kualitas Waktu

Ho: Tidak ada hubungan antara kualitas tidur dengan kejadian

anemiapada remaja putridi SMAN 2 Wawotobi Kabupaten Konawe

Ha: Ada hubungan antara kualitas tidur dengan kejadian anemia pada

remajaputri di SMAN 2 Wawotobi pada remaja putridi SMAN 2

Wawotobi Kabupaten Konawe


20

BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Desain penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional,

yaitu peneliti mempelajari tentang hubungan asupanFe dankualitas tidur

dengan kejadian anemia pada remaja putridi SMAN 2WawotobiKabupaten

Konawe yang hanya diobservasi atau menggunakan kuesioner pada

waktuyang sama.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi

Lokasi penelitian ini dilaksanakan di SMAN 2 Wawotobi Kabupaten

Konawe.

2. Waktu

Waktu penelitian ini dimulai pada tanggal 07-11 September tahun 2019.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja putri di SMA 2

Wawotobi Kabupaten Konawe yang berjumlah 32 responden.

2. Sampel penelitian ini merupakan sampel jenuh yang berarti semua

populasi dijadikan sampel


21

D. Pengumpulan data

1. Data primer dalampenelitian inimeliputi :

a. Data identitas responden, meliputi umur, jenis kelamin dan kelas

dikumpulkan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner.

b. Data asupan makan (asupan Fe) diperoleh dengan wawancara

menggunakan recall 1 x 24Jam.

c. Data pola tidur (kualitas tidur) diperoleh dengan wawancara

menggunakan kuesioner.

d. Data anemia dikumpulkan dengan melakukan pemeriksaan kadar

hemoglobin darah remaja menggunakan alat Easy Touch Meter.

2. Data sekunder yakni data yang diperoleh dari hasil observasi awal, baik

dari intansi–intansi terkait dengan proposal ini berupa data jumlah remaja

di SMAN 2 Wawotobi.

E. Instrumen penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar kuesioner,

wawancara, easy touchmeter dan dokumentasi yang digunakan untuk

penelitian ini yang bersifat tertutup dengan jawaban yang sudah di sediakan.

F. Pengolahan Data dan analisis Data

1. Pengolahan data

Pengolahan data dilakukan dengan bantuan perangkat lunak

komputer menggunakan software microsoft excel dan software Product

Statistic Solution (SPSS), dan Nutrisurvey. Adapun tahapan pengolahan

datayang dilakukan adalah:


22

a. Pengkodean (coding) adalah mengklasifikasikan jawaban dari para

responden kedalam kategori berdasarkan kode yang diberikan.

Jawaban dari masing-masing soal memiliki skor 0-3, hasilnya

diklasifikasikan menjadi 4 kategori. Jika skor 1-5 dikategorikan ke

dalam kualitas tidur baik, 6-7 dikategorikan kualitas tidur ringan, 8-14

dikategorikan kualitas tidur sedang dan kualitas tidur buruk jika skor

nilai mencapai 15-22.

b. Pengeditan (editing) adalah memeriksa kembali semua data yang

terkumpul untuk mengetahui kelengkapan, kesalahan dan tidak

konsisten dalam pengisian.

c. Proses (processing) adalah memasukan data yang sudah terkumpul

dan siapuntukdi olah dengan menggunakan analisis deskriptif maupun

analis statik.

G. PenyajianData

Data yang telah diolah disajikan dalam tabel distribusi frekuensi disertai

penjelasan.

1. Analisis data

a. Deskriptif

Analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui distribusi dan

frekuensidari tiap variabel bebas (asupanFe dan kualitas tidur)dengan

variabel terikat.
23

b. Analisis Bivariat.

Analisis bivariat adalah analisis yang dilakukan untuk

mengetahui hubungan antara variabel bebas terhadap variabel terikat

dengan menggunakan uji statistik Fisher Exact dan Rank Spearman

menggunakan perangkat lunak SPSS. Untuk interprestasi data yaitu p

value dibandingkan dengan α, pada taraf signifikan 95 % atau 0,05.

1) Pengambilan keputusan p value≤ α (0,05) maka Ho ditolak dan Ha

diterima yang berarti ada hubungan antara variabel yang diteliti.

2) Pengambilan p value> α (0,05) maka Ho gagal diterima dan Ha

ditolak yang berarti tidak ada hubungan antara variabel yang

diteliti(20).

Selanjutnya untuk menentukan korelasi antara varabel yang

digunakan adalah dengan melihat nilai r, jika r 0,0-0,2 menunjukan

kekuatan korelasi sangat lemah, nilai r 0,2-0,4 menunjukan kekuatan

korelasi lemah, dan jika r 0,4-0,6 menunjukan kekuatan korelasi

sedang, jika nilai r 0,6-0,8 maka menunjukan kekuatan korelasi kuat

sedangkan nilai r 0,8-1,00 menunjukan kekuatan korelasi sangat kuat

(20).
24

H. Etika Penelitian

Dalam penelitian ini, masalah etika sangat diperhatikandengan

menggunakanmetode: (21)

1. Informed Concent

Merupakancara persetujuan antara peneliti dengan responden

penelitiandengan memberikan lembar persetujuan (informedcontent)

.Informed concent tersebut di berikan sebelum peneliti di lakukan dengan

memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden. Tujuan

informedconted adalah agar responden mengerti maksud dan

tujuanpenelitian serta mengetaui dampaknya.

2. Tanpa Nama (Anonymity)

Tanpa nama dilakukan untuk menjaga kerahasian , peneliti

tidakmencantumkannama responden tetapi hanya memberikan kode pada

lembarkuesioner yang di bagikan.

3. Kerahasian (Confidentiality)

Kerahasiaan informasi responden di jaga peneliti dan hanya

kelompokdata tertentu akan di laporkan sebagai hasil penelitian.


25

I. Jadwal Penelitian

2019
NO. KEGIATAN
Mei Juni Juli Agustus September Oktober
1-31 1-28 1-31 1-30 1-31
1. Persiapan
Penyusunan dan
2. konsultasi
proposal
3. Seminar Proposal
4. Revisi proposal
Pengumpulan
5.
data
Penyusunan dan
6. konsultasi hasil
penelitian
Seminar hasil
7.
penelitian
8 Skripsi
26

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian


a. Letak geografi
SMA Negeri 2 Wawotobi terletak di kelurahan Anggotoa

Kecamatan Wawotobi Kabupaten Konawe dengan luas lahan 8522 m2.

Batas-batas wilayah SMA Negeri 2 Wawotobi antara lain:

1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Meluhu

2. Sebelah Timurberbatasan dengan Kecamatan Wanggeduku

3. Sebalah Selatanberbatasan dengan Kecamatan Konawe

4. Sebelah Baratberbatasan dengan Kecamatan Anggaberi

b. Tenaga pendidikan

Tabel. 5.1 Tenaga pendidikan

Ketenagaan Jumlah
Guru tetap (PNS) D3 1 orang
Guru tetap (PNS) S1 15 orang
Guru tetap (PNS) S2 2 orang
Guru tidak tetap/Honorer S1 12 orang
Staf Tata Usaha PNS 2 orang
Staf Tata Usaha Honorer 13 orang
Jumlah 45 orang

B. Hasil Penelitian

1. Karakteristik responden

Karakteristik responden diteliti meliputi umur, kelas dan kadar Hb

dengan jumlah responden yang diteliti pada penelitian ini sebanyak 32

responden.
27

a. Umur

Distribusi responden berdasarkan umur dapat dilihat pada Tabel

5.2 berikut:

Tabel 5.2 DistribusiResponden Menurut Umur di SMAN 2


Wawotobi
Karakteristik Median (IQR)
Umur Responden (tahun) 15,0(14,0-16,0)
Sumber:Data primer terolah, 2019

Tabel 5.2 menunjukkan untuk rata-rata umur 15,0 tahun

dengan IQR (14,0-16,0).

b. Kelas

Distribusi responden berdasarkan kelas dapat dilihat pada tabel

5.4 berikut:

Tabel 5.4 Distribusi Responden menurut kelas di SMAN 2


Wawotobi
Kelas N %
X1 7 22
X2 8 25
XI IPA 8 25
XIIPS 9 28
32 100
Sumber:Data primer terolah, 2019

Tabel 5.4 menunjukkan dari sampel 32, jumlah siswi yang paling

sedikit di kelas X 1 sebanyak 7orang (22%) dan jumlah siswi

terbanyak di kelas XI IPS sebesar 9 orang (28%).


28

c. Kadar Hb

Distribusi responden berdasarkan kadar Hb dapat dilihat pada tabel

5.5 berikut:

Tabel 5.5 Distribusi Responden Berdasarkan Kadar


Hemoglobin di SMAN 2 Wawotobi
Kadar Hb gr/dL N %
<12gr/dl(anemia) 18 56,2
≥12gr/dl(normal) 14 43,8
Total 32 100
Sumber:Data primer terolah, 2019

Tabel 5.5 dapat diketahui jumlah siswa yang mengalami

anemia sebesar 18 orang (56,2%) dan siswa yang tidak mengalami

anemia sebesar 14 orang (43,8%)

d. Kualitas Tidur

Distribusi responden berdasarkan kualitas tidur dapat dilihat

pada Tabel 5.6 berikut:

Tabel 5.6 Distribusi Responden Berdasarkan Kualitas Tidur


Kualitas Tidur N %
Baik 8 25
Ringan 13 40,6
Sedang 11 34,4
Total 32 100
Sumber:Data primer terolah, 2019

Berdasarkan Tabel 5.6 dari 32 responden kualitas tidur

dengan kategori baik sebesar 8 orang (25%) sedangkan kualitas tidur

dengan kategori ringan sebesar 13 orang (40,6%) dan kualitas tidur

dengan kategori sedang sebesar 11 orang (34,4%)


29

2. Analisis Bivariat

a. Hubungan Asupan Fe dengan kejadian anemia pada remaja putri di

SMA Negeri 2 Wawotobi

Tabel 5.7 Hubungan Asupan Fe dengan Kejadian Anemia pada


Remaja Putri di SMA Negeri 2 Wawotobi
Anemia
r = -3,13
Asupan Fe p =0,081
n=32
Sumber: data primer terolah, 2019

Berdasarkan Tabel 5.7 diperoleh nilai p > 0,05 yang

menunjukan bahwa ada tidak ada hubungan asupan fe dengan

kejadian anemia, dengan kekuatan korelasi sangat lemah yang

menunjukan krelasi negatif (r = < 0)

b. Hubungan kualitas tidur dengan kejadian anemia pada remaja di SMA

dengan kejadian anemia pada remaja di SMA Negeri 2 Wawotobi

Tabel 5.8 Hasil analisis Uji Fisher Exact kualitas tidur dengan
kejadian anemia pada remaja putri di SMA Negeri 2
Waworobi
Status anemia Total
Kualitas Normal Anemia N % p
tidur N % n % value
Cukup 4 50,0 4 50,0 8 100
Ringan 8 61,5 5 38,5 13 100
0,102
Sedang 2 18,2 9 81,8 11 100
Total 14 43,8 18 56,2 32 100
Sumber:Data primer terolah, 2019

Tabel 5.8 menunjukkan dari 8 orang yang kualitas tidurnya

cukup, terdapat 4 orang (50,0%) yang status anemianya normal dan 4

orang (50,0%) yang menderita anemia. Selanjutnya dari 13 orang yang

kualitas tidurnya ringan, terdapat 8 orang (61,5%) yang status aneminya

normal dan 5 orang (38,5%) yang menderita anemia dan dari 11 orang
30

yang kualitas tidurnya sedang, terdapat 2 orang (18,2%) yang status

anemianya normal dan 9 orang (81,8%) yang menederita anemia.

Hasil uji Fisher Exactdiperoleh nilai p value 0,102˂α (0,05)

maka Ha ditolak sehingga tidak ada hubungan antara kualitas tidur

dengan kejadian anemia pada remaja putri di SMAN 2 Wawotobi.

C. Pembahasan

1. Hubungan Asupan Fe dengan kejadian anemia di SMA Negeri 2

Wawotobi

Berdasarkan hasil penelitian ini tidak ada hubungan antara asupan

Fe dengan kejadian anemia di SMA Negeri 2 Wawotobi. Penelitian ini

serupa dengan yang dilakukan Indah Lispi yaitu Hasil uji statistik

menunjukkan tidak terdapat hubungan asupan Fe dengan kejadian anemia

(22).

Penelitian menunjukkan sebagian besar responden dengan variabel

asupan fe yang kurang masih ada yang memiliki status anemia normal, ini

terjadi karena dari hasil recall yang didapatkan kebanyakan responden

mengkonsumsi telur, susu dan ikan yang banyak mengandung vitamin B12

yang mampu meningkatkan fungsi sumsum tulang untuk membentuk sel

darah merah sehingga menjadikan vitamin sebagai makanan penambah

darah. Hal ini sejalan dengan Muwakhidahbahwa zat-zat yang diperlukan

oleh sumsum tulang untuk pembentukan hemoglobin yaitu logam (besi,

mangan, kobalt, seng, tembaga) , vitamin (B12, B6, C, E, asam folat,

tiamin, riboflavin, asam 7 pantotenat), protein, dan hormon (eritropoetin,


31

androgen, tiroksin).Semakin banyaknya asupan vitamin B12 maka akan

semakin tinggi kadar hemoglobin, begitupun sebaliknya. (23).

2. Hubungan Kualitas Tidur dengan kejadian Anemia di SMA Negeri 2

Wawotobi

Hasil dalam penelitian ini didapatkan nilai p value 0,102> 0,005

sehingga tidak ada hubungan antara kualitas tidur dengan kejadian anemia

di SMA 2 Wawotobi. Hal ini dikarenakan kulitas tidur yang buruk tidak

mempengaruhi hemoglobin pada remaja putri di SMAN 2

Wawotobi.Pernyataan ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh

Lilian Sarjono yang menemukan bahwa tidak terdapat perbedaan yang

bermakna antara kadar hemoglobin berdasarkan kualitas tidur. Kadar

Hemoglobin pada responden dengan kualitas tidur yang baik dan yang

buruk menunjukkan angka yang tidak jauh berbeda.(24).

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan variabel kualitas tidur

cukup dengan kategori anemia ini terjadi karena sebagian responden

mengkonsumsi obat maag sehingga masih ada responden yang anemia, hal

ini sesuai dengan penelitian yang di lakukan Moayeddy bahwa antasida

jika dikonsumsi dalam jangka panjang dapat menyebabkan anemia karena

menghambat penyerapan berbagai nutrisi penting pembentuk sel darah

merah (eritrosit).Konsumsi antasida, terutama yang mengandung kalsium,

dapat menghambat penyerapan zat besi di lambung.Kejadian anemia pada

remaja putri selain dipengaruhi oleh pola tidur juga dapat disebabkan oleh
32

beberapa faktor seperti menstruasi, pola makan, riwayat penyakit, aktivitas

fisik dan konsumsi pangan (25).

Kejadian anemia pada remaja putri selain dipengaruhi oleh pola

tidur juga dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti menstruasi, pola

makan, riwayat penyakit, aktivitas fisik dan konsumsi pangan. Dalam

penelitian ini tidak ditemukan adanya hubungan antara pola tidur dengan

kejadian anemia sehingga kemungkinan tingginya kejadian anemia pada

remaja putri di Kabupaten Bantul dikarenakan oleh faktor lain.

Sementara itu, variabel kualitas tidur yang ringan dan sedang

dengan kategori tidak anemia ini terjadi karena responden yang sering

mengkonsumsi makanan di sekolah seperti jajanan bakso yag mengandung

protein dan zat besi, teori Dian yang mengatakan bahwa protein

merupakan salah satu zat gizi yang dibutuhkan untuk penyerapan zat besi.

Protein pada daging sapi paling baik untuk dikonsumsi penderita

anemia.Hal ini berkaitan dengan banyaknya pigmen myoglobin dalam

daging sapi.Myoglobin adalah sejenis protein dalam darah yang berperan

dalam mengikat oksigen dan mengangkutnya ke seluruh tubuh. Semakin

banyak kandungan myoglobin dalam darah, akan menyebabkan daging

binatang semakin merah.(26).

D. Keterbatasan Penelitian

1. Keterbatasan waktu penelitian sehingga tidak melakukan recall 1 x 24 jam

2. Keterbatasan waktu responden dimana hanya diberikan sedikit waktu oleh

siswi untuk melaksanakan penelitian dan bila penelitian dilakukan pada


33

jam istrahat sedikit susah mengumpulkan responden penelitian di kelas

karena mempergunakan waktu istrahat untuk makan di kantin dan

beristrahat di luar ruangan.

3. Sampel dan responden penelitian inisedikit sehingga hasil penelitian ini

tidak dapat memberikan gambaran secara umum tentang hubungan asupan

Fe dan kualitas tidur dengan kejadian anemia.

BAB VI

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat ditarik

kesimpulan penelitian sebagai berikut:

1. Tidak ada hubungan antara asupanFe dengan kejadian anemia pada remaja

putri di SMA Negeri 2 Wawotobi (p=0,183)

2. Tidak ada hubungan antara kualitas tidur dengan kejadian anemia pada

remaja putri di SMA Negeri 2 Wawotobi (p=0,102)

B. Saran

1. Bagi peneliti lain agar menambahkan sampel sehingga mendapatkan

hubungan yang signifikan.


34

2. Peneliti selanjutnya sebaiknya melakukan recall 1x 24 jam agar konsumsi

Fe yang didapatkan akurat.

3. Bagi petugas kesehatan agar memberikan penyuluhan tentang bahaya

anemia bagi remaja putri dan tablet tambah darah.

4. Untuk mengetahui asupan fe yang mengkonsumsi siswi.

5. Untuk mengonsumsi tablet tambah darah yang di berikan oleh siswi

tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

1. World Health Organization. Haemoglobin Concentrations for The Diagnosis of


Anaemia and Assessment of Severity. Vitamin and mineral Nutrition Information
System. Geneva: WHO 2016.

2. Burner. 2012. Tips anemia tanda gejala kekurangan zat besi pada remaja. Dikutip
dari http://bumbata.co diakses tanggal 18 november 2016.

3. Dinkes Sultra. Profil Kesehatan Propinsi Sulawesi Tenggara 2018. Dinas Kesehat
Provinsi Sulawesi Tenggara. 2019;52–4.

4. Adriana. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Anemia Remaja Putri di


Madrasa Aliyah Negeri 2 Bogor Tahun 2010 (Skripsi). Jakarta: Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah. 2010.

5. Profil SMAN 2 Wawotobi tahun 2019

6. Siregar MA. Hubungan Antara Pemberian ASI Eksklusif fengan Kejadian Diare dan
Faktor-Faktor Di Kelurahan Bendungan Kecamatan Cilegon Pada Bulan Agustus
2010. FKIK UIN Syarif Hidayatullah. 2010;20(4):1526.

7. Masrizal. Anemia defisiensi besi. J Kesehat Masy. 2007;II(1):1405.


35

8. Sri Amelia. Gizinet - Permenkes Tentang Angka Kecukupan Gizi. Berita Utama,
Info Nasional, Kebijakan Gizi.2014.

9. Furkon LA, Perlu M, Ilmu M. Mengenal Zat Gizi. Ilmu Kesehat Gizi [Internet].
2014;1–53.

10. Hatta M, Renaldi M, Alicia S. Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Anemia
pada Remaja Putri di SMA N 2 Buntumalangka Kabupaten Mamasa Tahun 2017. J
Mitra Sehat. 2017;VIII:73–80.

11. Marfuah D, Dyah Kusudaryati Dp. Efektifitas Edukasi Gizi Terhadap Perbaikan
Asupan Zat Besi Pada Remaja Putri. Profesi (Profesional Islam Media Publ Penelit.
2016;14(1):5.

12. Putri PR. Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Riau 1
Departemen Keperawatan Komunitas Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas
Riau 2 Departemen Keperawatan Medikal Bedah Program Studi Ilmu Keperawatan
Universitas Riau 3. J Online Mhs. 2015;2(1).

13. Khambali K. Gambaran Pengetahuan, Sikap, Dan Praktek Remaja Puteri Dalam
Pencegahan Anemia Di Panti Asuhan Yatim Putri ‘Aisyiyah Kota Semarang
[Internet]. Vol. 2, Keperawatan. 2011.

14. Martini. Faktor - Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Anemia Pada Remaja
Putri Di Man 1 Metro. J Kesehat Metro Sai Wawai. 2015;VIII(1):1–7.

15. Lestari P, Widardo W, Mulyani S. Pengetahuan Berhubungan dengan Konsumsi


Tablet Fe Saat Menstruasi pada Remaja Putri di SMAN 2 Banguntapan Bantul. J
Ners dan Kebidanan Indones. 2016;3(3):145.

16. Sulistiyani C. Beberapa Faktor yang Berhubungan dengan Kualitas Tidur Pada
Mahasiswa. J Kesehat Masy. 2012;1(2):280–92.

17. Busyee, D., Reynolds, C., Monk, T., et al. (1989). The Pittsburgh Sleep Quality
Index (PSQI): A New Instrument for Psychiatric Research and Practice. Psychiatri
Research, 28, 193-213

18. Smyth C. The Pittsburgh Sleep Quality Index ( PSQI ) The Pittsburgh Sleep Quality
Index ( PSQI ). New York. 2012;29(6):12.

19. Syofian Siregar. Statistika parametrik untuk penelitian kuantitatif. Bumi aksara.
2013;

20. Kemenkes RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 39 Tahun 2016
Tentang Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga. Kemenkes RI.
2016.

21. STIKES Karya Kesehatan Kendari,2018. Pedoman penulisan proposal.STIKesKarya


Kesehatan Kendari tahun 2019.
36

22. Siahaan, Nahsty Raptauli. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Status Anemia
pada Remaja Putri di Wilayah Kota Depok Tahun 2011. Skripsi. Fakultas Kesehatan
Masyarakat, Universitas Indonesia. 2012.

23. Muwakhidah. 2009. Efek Suplementasi Fe, Asam Folat dan Vitamin B12 terhadap
Peningkatan Kadar Hemoglobin (Hb) Pada Pekerja Wanita (di Kabupaten
Sukoharjo). Skripsi. Semarang:Universitas Diponegoro.

24. Sarjono, Lilian. Perbedaan Kadar Hemoglobin pada Mahasiswa Kedokteran


Universitas Sam Ratulangi Berdasarkan Kualitas Tidur. Jurnal e-Clinic, Vol. 4 No.
2, Juli-Desember 2016.

25. Purnawati, Susi. Hubungan Tingkat Aktivitas Fisik Dengan Dysmenorrhea Primer
Pada Remaja Umur 13-15 Tahun Di SMP Kristen Harapan Denpasar. [Skripsi].
Denpasar : Universitas Udayana. 2015.

26. Moayyedi, p, Soo S, Deeks J. Eradication of Helicobacter pylori for non-ulcer


dyspepsia:Canada. 2006

27. Safitri, Riska, Nurdin Rahman, dan Hasanah. Hubungan Asupan Kalsium dan
Aktivitas Olahraga Dengan Kejadian Dismenore Pada Siswi Kelas XI diSMA
Negeri 2 Palu. Jurnal Kesehatan Tadulako. Vol 1 No.1. Palu : Universitas
Tadulako. 2015.