Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Penyakit kronis adalah jenis penyakit yang memiliki durasi waktu yang
lama dan biasanya dalam proses yang lambat. Penyakit kronis, seperti diabetes
mellitus, hipertensi, penyakit jantung, kanker, dan stroke, tuberkulosis, hepatitis
telah menjadi penyebab kematian di dunia, yaitu sebesar 63% dari semua
penyebab kematian. Pada tahun 2008, terdapat 36 juta orang yang meninggal
karena penyakit kronis, 90% dari kematian ini terjadi di negara miskin dan negara
berkembang. Di Indonesia sendiri, penyakit tidak menular atau penyakit kronis
adalah penyebab kematian terbanyak. Proporsi angka kematian akibat penyakit
kronis meningkat dari 41,7% pada tahun 1995 menjadi 49,9% pada tahun 2001
dan 59,5% pada tahun 2007.

Penyakit kronis ini merupakan penyebab kematian terbesar dengan jumlah


proporsi cukup besar pula termasuk pembiayaannya juga sangat besar yaitu 60%
dari pembiayaan kesehatan seluruh masyarakat di Indonesia. Oleh karena itu,
dalam penanganan penyakit kronis diperlukan program yang bersifat preventif,
promotif, kuratif, dan rehabilitatif secara berkesinambungan.

Pasien dengan penyakit kronis harus terus mengkonsumsi obat-obatan


secara rutin, untuk menjaga kualitas hidup dan tidak mengganggu aktivitas
kesehariannya. Namun pada saat puasa otomatis pola waktu untuk mengkonsumsi
obat juga berubah. Jika untuk penggunaan sehari 1-2 kali masih mudah untuk
mengkonsumsinya yaitu disaat buka dan sahur. Namun untuk obat-obat yang
dikonsumsi 3-4 kali dalam sehari akan sulit untuk dikonsumsi secara teratur.

Oleh sebab itu promosi kesehatan ini sangat penting dilakukan oleh tenaga
kesehatan khususnya Apoteker, agar masyarakat tahu bagaimana mengkonsumsi
obat-obatan disaat puasa, baik puasa di bulan Ramadhan maupun puasa sunnah
yang dilaksanakan diluar bulan Ramadhan.

1.2 Tujuan Kegiatan

1. Masyarakat dapat mengetahui cara mengkonsumsi obat yang benar disaat


berpuasa.
2. Masyarakat dapat melaksanakan puasa dan tetap rutin mengkonsumsi
obat.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penyakit Kronis

Penyakit kronis merupakan penyakit yang berkepanjangan dan jarang


sembuh sempurna. Walau tidak semua penyakit kronis mengancam jiwa, tetapi
akan menjadi beban ekonomi bagi individu, keluarga, dan komunitas secara
keseluruhan. Penyakit kronis akan menyebabkan masalah medis, sosial dan
psikologis yang akan membatasi aktifitas dari lansia sehingga perawatan dan
rehabilitasi jangka panjang diperlukan pada penyakit kronis dan akan
meningkatkan quality of life (QOL) lansia (Yennya dan Elly, 2006).

Penyakit kronis merupakan penyakit dengan ciri bersifat menetap,


menyebabkan ketidakmampuan pada penderitanya, dan untuk menyembuhkannya
penderita perlu melakukan perawatan dalam periode waktu yang lama (Mayo,
1956 dalam Lubkin & Larsen, 2006). Miller (2012) menyatakan bahwa
kebanyakan lansia memiliki satu atau lebih kondisi kronis. Penelitian yang
dilakukan oleh National Center for Health Statistics (2003) dalam Meiner dan
Lueckenotte (2006) mendapati sebanyak 62% lansia yang berusia 65 tahun atau
lebih memiliki dua atau lebih kondisi atau penyakit kronis.

Lansia berisiko mengalami penyakit kronis dikarenakan penurunan fungsi


tubuh. Faktor lain yang dapat meningkatkan risiko yaitu perilaku keseharian yang
kurang baik, seperti merokok, alkohol, nutrisi tidak baik, dan lain-lain (Smeltzer,
Suzanne C & Bare, 2002).

Penyakit kronis, seperti diabetes mellitus, hipertensi, penyakit jantung,


kanker, dan stroke, tuberkulosis, hepatitis telah menjadi penyebab kematian di
dunia, yaitu sebesar 63% dari semua penyebab kematian.

2.2 Definisi Obat

Obat Menurut Undang-Undang Kesehatan No. 36 tahun 2009, obat adalah


bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang digunakan untuk
mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam
rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan
kesehatan dan kontrasepsi, untuk manusia. Selain itu menurut Katzung (1997),
obat dalam pengertian umum adalah suatu substansi yang melaui efek kimianya
membawa perubahan dalam fungsi biologik.

2
2.3 Rute Pemberian Obat

2.3.1 Per Oral

Rute ini paling sering digunakan karena paling nyaman dan biasanya yang
paling aman dan tidak mahal. Namun, rute ini memiliki keterbatasan karena
jalannya obat biasanya bergerak melalui saluran pencernaan. Untuk obat diberikan
secara oral, penyerapan (absorpsi) bisa terjadi mulai di mulut dan lambung.
Namun, sebagian besar obat biasanya diserap di usus kecil. Obat melewati
dinding usus dan perjalanan ke hati sebelum diangkut melalui aliran darah ke situs
target. Dinding usus dan hati secara kimiawi mengubah (memetabolisme) banyak
obat, mengurangi jumlah obat yang mencapai aliran darah. Akibatnya, ketika obat
yang sama diberikan secara suntikan (intravena), biasanya diberikan dalam dosis
yang lebih kecil untuk menghasilkan efek yang sama.

2.3.2 Sublingual dan Bukal

Beberapa obat ditempatkan di bawah lidah (secara sublingual) atau antara


gusi dan gigi (secara bucal) sehingga mereka dapat larut dan diserap langsung ke
dalam pembuluh darah kecil yang terletak di bawah lidah. Obat ini tidak tertelan.
Rute sublingual sangat baik untuk nitrogliserin, yang digunakan untuk meredakan
angina, karena penyerapan yang cepat dan obat segera memasuki aliran darah
tanpa terlebih dahulu melewati dinding usus dan hati. Namun, sebagian besar obat
tidak bisa digunakan dengan cara ini karena obat dapat diserap tidak lengkap atau
tidak teratur.

2.3.3 Rektal

Banyak obat yang diberikan secara oral dapat juga diberikan secara rektal
sebagai supositoria. Dalam bentuk ini, obat dicampur dengan zat lilin yang larut
atau mencairkan setelah itu dimasukkan ke dalam rektum. Karena dinding rektum
adalah tipis dan kaya pasokan darah, obat ini mudah diserap. Supositoria
diresepkan untuk orang-orang yang tidak bisa menggunakan obat oral karena
mereka mengalami mual, tidak bisa menelan, atau memiliki pembatasan makan,
seperti yang diperlukan sebelum dan setelah operasi bedah. Obat-obatan yang
dapat diberikan secara rektal termasuk asetaminofen atau parasetamol (untuk
demam), diazepam (untuk kejang), dan obat pencahar (konstipasi).

2.3.4 Inhalasi

Pemberian obat secara inhalasi hanya dapat dilakukan untuk obat yang
berbentuk gas atau cairan yang mudah menguap. Absorpsi terjadi melalui epitel
paru dan mukosa saluran napas.

3
2.3.5 Topikal

Bermanfaat untuk pemberian obat-obat lokal. Paling banyak digunakan


untuk preparat dermatologi, mata dan telinga.

2.3.6 Parenteral

Pemberian dengan suntikan (parenteral) meliputi rute berikut:

 Subkutan (di bawah kulit)


 Intramuskular (dalam otot)
 Intravena (dalam pembuluh darah)
 Intratekal (sekitar sumsum tulang belakang)
Suatu obat dapat dibuat atau diproduksi dengan cara yang memperpanjang
penyerapan obat dari tempat suntikan selama berjam-jam, hari, atau lebih lama.
Produk tersebut tidak perlu diberikan sesering produk obat dengan penyerapan
yang lebih cepat.
Untuk rute subkutan, jarum dimasukkan ke dalam jaringan lemak tepat di
bawah kulit. Setelah obat disuntikkan, kemudian bergerak ke pembuluh darah
kecil (kapiler) dan terbawa oleh aliran darah. Atau, obat mencapai aliran darah
melalui pembuluh limfatik. Obat protein yang berukuran besar seperti insulin,
biasanya mencapai aliran darah melalui pembuluh limfatik karena obat ini
bergerak perlahan dari jaringan ke kapiler. Rute subkutan digunakan untuk
banyak obat protein karena obat tersebut akan hancur dalam saluran pencernaan
jika mereka diambil secara oral.
Obat-obatan tertentu (seperti progestin yang digunakan untuk pengendalian
kelahiran hormonal) dapat diberikan dengan memasukkan kapsul plastik di bawah
kulit (implantasi). Meskipun rute ini jarang digunakan, keunggulan utamanya
adalah untuk memberikan efek terapi jangka panjang (misalnya, etonogestrel yang
ditanamkan untuk kontrasepsi dapat bertahan hingga 3 tahun).
Rute intramuskular disukai dibanding rute subkutan ketika diperlukan obat
dengan volume yang lebih besar. Karena otot-otot terletak di bawah kulit dan
jaringan lemak, digunakan jarum yang lebih panjang. Obat biasanya disuntikkan
ke dalam otot lengan atas, paha, atau pantat. Seberapa cepat obat ini diserap ke
dalam aliran darah tergantung, sebagian, pada pasokan darah ke otot: Semakin
kecil suplai darah, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk obat yang akan
diserap.
Rute intravena, jarum dimasukkan langsung ke pembuluh darah. Suatu
larutan yang mengandung obat dapat diberikan dalam dosis tunggal atau dengan
infus kontinu. Pemberian intravena adalah cara terbaik untuk memberikan dosis
yang tepat dengan cepat dan dengan cara yang terkendali dengan baik ke seluruh
tubuh. Hal ini juga digunakan untuk larutan yang membuat iritasi, yang akan
menyebabkan nyeri dan kerusakan jaringan jika diberikan melalui suntikan
subkutan atau intramuskular. Suntikan intravena dapat lebih sulit untuk dikelola
daripada injeksi subkutan atau intramuskular karena memasukkan jarum atau
kateter ke dalam vena mungkin sulit, terutama jika orang tersebut adalah obesitas.

4
Ketika diberikan secara intravena, obat dikirimkan langsung ke aliran darah dan
cenderung berlaku lebih cepat daripada ketika diberikan oleh rute lain. Juga, efek
dari obat yang diberikan oleh rute ini cenderung bertahan untuk waktu yang lebih
singkat. Oleh karena itu, beberapa obat harus diberikan melalui infus terus
menerus untuk menjaga efeknya konstan (Anief, 1990).
2.4 Waktu Pengunaan Obat Oral

Untuk mendapatkan efek obat yang optimal, obat harus diminum pada waktu
yang tepat. Tepat bisa terkait dengan sebelum atau sesudah makan, atau terkait
dengan waktu pagi, siang, atau malam. Beberapa obat mungkin bisa diminum
setiap saat tanpa mempengaruhi efeknya, sedangkan obat lainnya sebaiknya
diminum pada saat-saat tertentu.

Waktu terbaik untuk minum obat tergantung pada jenis obatnya. Di bawah ini
adalah beberapa contoh waktu minum obat berdasarkan golongan penggunaannya.

a) Obat diabetes dan penguat jantung

Waktu yang terbaik adalah pukul 04.00-05.00 pagi. Tubuh manusia paling
sensitif terhadap insulin pada pukul 4-5 pagi, sehingga jika diberikan pada saat
itu, efeknya paling baik, walaupun dalam dosis lebih kecil. Efek obat penguat
jantung juga lebih tinggi sampai 10-20 kali pada jam tersebut dibandingkan
waktu-waktu yang lain. Hal ini karena tubuh manusia juga paling sensitif terhadap
digitalis

b) Obat diuretik (pelancar air seni)

Paling baik digunakan pada pukul 7 pagi. Sangat penting untuk


menggunakan obat pelancar seni pada waktu yang tepat karena itu terkait dengan
fungsi ginjal dan hemodinamik. Selain itu juga pada umumnya pasien dalam
keadaan terjaga, sehingga tidak mengganggu waktu tidur. Obat seperti
hidroklortiazid memiliki efek samping yang lebih rendah jika dipakai pada pukul
7 pagi.

c) Penurun tekanan darah (anti hipertensi)

Waktu yang paling baik adalah pada pukul 9-11 pagi. Riset menunjukkan
bahwa tekanan darah mencapai angka paling tinggi pada pukul 9-11 pagi, dan
paling rendah pada malam hari setelah tidur. Sehingga secara umum, sebaiknya
obat antihipertensi diminum pada pagi hari. Jika obat anti hipertensi diminum
malam hari karena mungkin terjadi penurunan tekanan darah yang berlebihan
pada saat tidur.

5
d) Anti Asma

Waktu yang terbaik adalah pukul 15.00 – 16.00 sore. Hal ini karena pada
saat itu produksi steroid tubuh berkurang dan mungkin akan menyebabkan asma
pada malam hari. Karena itu jika steroid dihirup di sore hari diharapkan akan
mencegah asma di malam harinya.

e) Obat Penurun Kolesterol

Waktu yang paling baik adalah pada pukul 19.00-21.00 malam, karena
memberikan efek lebih baik (Zulliesikawati, 2010).

Namun paparan diatas merupakan panduan penggunaan umum waktu


mengkonsumsi obat. Jika sudah ada aturan etiket dari apotek, maka gunakan
sesuai waktu yang dianjurkan dengan memperhatikan interval waktu penggunaan
obat.

2.5 Interval Waktu Minum Obat

Selain memperhatikan waktu minum obat, penting juga untuk memperhatikan


interval waktu minum obat. Jika obat diminta untuk diminum 2 kali sehari, maka
interval waktu yang tepat adalah 12 jam. Jadi jika obat diminum jam 7 pagi,
waktu minum obat selanjutya adalah jam 7 malam, jangan diminum di waktu pagi
dan siang. Tujuan obat diminum 2 kali, 3 kali dan lainnya adalah untuk menjaga
kadar obat dalam tubuh berada dalam kisaran terapi, yaitu kadar obat yang
memberikan efek menyembuhkan (Zulliesikawati, 2010).

2.6 Waktu Penggunaan Obat Oral Disaat Puasa bagi Penderita Penyakit
Kronis

Secara umum penggunaan obat di saat puasa untuk penggunaan 1 kali sehari
dapat diminum di saat sahur ataupun di saat buka puasa tergantung jenis obat
yang dikonsumsi. Begitu juga untuk penggunaan 2 kali sehari dapat dikonsumsi di
saat sahur dan berbuka puasa. Akan tetapi untuk penggunaan lebih dari 2 kali
sehari akan sulit mengkonsumsinya disaat puasa. Akan lebih baik mengganti obat
dengan kerja panjang. Namun jika tidak dapat menggantinya, obat tersebut bisa di
bagi ke 3 waktu juga yaitu disaat berbuka, menjelang tengah malam dan disaat
sahur.

a. Penderita Diabetes Melitus (Kencing Manis)

Secara umum, puasa tidak disarankan bagi penderita Diabetes, karena


berisiko mengalami Hipoglikemi (kurangnya kadar gula dalam darah) pada saat
puasa, atau sebaliknya hiperglikemi (kelebihan kadar gula darah) pada saat
berbuka puasa. Obat golongan Sulfonilurea seperti Glibenklamid dan glimepirid,
memiliki resiko efek samping hipoglikemi yang besar, sehingga kurang

6
direkomendasikan. Sebagai gantinya pasien dapat menggunakan obat Metformin
3 kali sehari. Namun pada saat puasa harus diminum 2 dosis pada saat berbuka
dan 1 dosis pada saat sahur. Obat Acarbose juga relatif aman karena kurang
menyebabkan hipoglikemi.

Pasien yang tetap menggunakan obat golongan Sulfonilurea sehari sekali,


sebaiknya meminumnya disaat berbuka puasa sebelum makan. Sedangkan yang
untuk 2 kali sehari, maka obat diminum satu dosis disat buka puasa dan satu dosis
pada saat sahur. Namun adapula ahli yang menyarankan untuk tidak
mengkonsumsinobat tersebut pada saat sahur, karena dikhawatirkan mengalami
hipoglikemi saat pasien berpuasa

b. Pasien Hipertensi, Asma Dan Epilepsi

Pasien hipertensi, asma dan epilepsi yang harus menggunakan obat secara teratur
tetap dapat berpuasa, dengan mengatur waktu minum obatnya pada saat berbuka
dan sahur.

Minta pada dokter untuk menggunakan obat-obat yang memiliki aksi panjang,
sehingga cukup diminum sekali atau dua kali sehari.

Pasien asma yang menggunakan inhaler secara teratur dapat menggunakan


inhalernya pada saat berbuka puasa dan sahur. Namun jika diperlukan
penggunaan inhaler saat terjadi serangan akut di siang hari, maka pasien lebih
baik membatalkan puasannya.

7
BAB III
LAPORAN PELAKSANAAN PKRS

3.1 Topik Materi


Cara penggunaan obat di waktu puasa untuk penyakit kronis.
3.2 Tujuan Pelaksanaan
a) Masyarakat dapat mengetahui cara mengkonsumsi obat yang benar disaat
berpuasa.
b) Masyarakat dapat melaksanakan puasa dan tetap rutin mengkonsumsi
obat.
3.3 Tempat danWaktu
Tempat dilaksanakannya penyuluhan adalah Lobby RSUD Kota Bandung
(Ruang Tunggu Loket Instalasi Farmasi Rawat Jalan). Pada hari Senin
tanggal 28 Oktober 2019 pukul 09.00-10.00 wib.
3.4 Sasaran
Sasaran Penyuluhan adalah pasien RSUD Kota Bandung, keluarga pasien
serta masyarakat RSUD Kota Bandung
3.5 Metode
Metode yang digunakan pada penyuluhan ini adalah presentasi, materi dan
tanya jawab.
3.6 Media
Media yang digunakan untuk pelaksanaan penyuluhan adalah layar monitor,
laptop, microphone, speaker dan leaflet.
3.7 Pelaksana
Pelaksana kegiatan PKRS di RSUD Kota Bandung dilakukan oleh mahasiswa
praktek kerja apoteker (PKPA) Universitas jendral achmad yani periode
Oktober 2019, yang beranggotakan:
1. Nurul Zahra
2. Neng Sri Wulansari
3. Febby Yulia
3.8 Pembimbing
Pembimbing yang mendampingi pelaksanaan kegiatan penyuluhan ini adalah
Ibu Lala Latifah Wiyandi, S.Farm., Apt.

8
3.9 Kegiatan Penyuluhan
Tahap Waktu Kegiatan Metode Media
- Salam dan perkenalan
- Penyampaian tujuan
promkes
Layar
- Meminta izin kesediaan
Presentasi, monitor,
masyarakat untuk
ceramah, laptop,
Pembukaan 10’ mendengarkan materi
Tanya microphone,
promkes
jawab speaker, dan
- Kontrak waktu
leaflet
- Membagi Leaflet dan
melakukan absensi
audiens
Layar
Presentasi, monitor,
ceramah, laptop,
Penyajian 20’ Presentasi dan Tanya jawab
Tanya microphone,
jawab speaker, dan
leaflet
- Merangkum materi Layar
presentasi Presentasi, monitor,
- Melakukan pengisian ceramah, laptop,
Penutup 30’
quisioner Tanya microphone,
- Menutup presentasi dan jawab speaker, dan
ucapan terimakasih leaflet

3.10 Evaluasi
Dari program promosi kesehatan (penuluhan) yang dilakukan, adapun
penilaian evaluasi yang dilakukan antara lain sebagi berikut:
3.9.1 Evaluasi struktur
 Melakukan perizinan kepada kepala IFRS, bagian PKRS, dan
peserta mengenai kegiatan penyuluan sebelum acara
dilangsungkan
 Persiapan penyuluhan oleh mahasiswa
 Kegiatan sesuai waktu yang ditentukan
 Alat yang dibutuhkan dapat disediakan dengan baik.
3.9.2 Evaluasi Proses
a. Jumlah peserta penyuluhan ± 30 orang
b. Media yang digunakan adalah leaflet dan presentasi dengan
power point dan layar monitor

9
c. Waktu penyuluhan 60 menit
d. Peserta penyuluhan memperhatikan presentasi dan ceramah
dengan baik
e. Peserta penyuluhan mengajukan pertanyaan sesuai dengan materi
presentasi
f. Materi disampaikan dengan jelas serta berulang
g. Selama kegiatan berlangsung tidak ada penyimpangan dari tujuan
yang telah ditetapkan.
3.9.3 Evaluasi Hasil
a. Peseta penyuluhan dapat menjelaskan kembali tentang waktu
penggunaan obat yang benar disaat puasa
b. Peserta penyuluhan mengisi kuisioner yang diberikan oleh panitia
terkait kegiatan yang telah dilakukan dan berdasarkan
pemahaman serta penilaian peserta penyuluhan

10
BAB IV
PENUTUPAN

4.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diperoleh dari kegiatan promosi kesehatan
di rumah sakit ini adalah masyarakat, baik pasien maupun keluarga pasien dapat
mengetahui tentang cara menggunaan obat penyakit kronis yang tepat di saat
melaksanakan ibadah puasa, agar tidak terjadi kesalahan dalam pengobatan atau
penggunaan obat sehingga tujuan terapi tetap tercapai meski harus melakukan
ibadah puasa baik itu puasa sunat maupun puasa wajib dibulan ramadhan.

4.2 Saran
Saran yang dapat diberikan untuk program ini adalah sebagai berikut:
1. Kiranya kegiataan promosi kesehatan ini dapat dilakukan secara rutin untuk
menjangkau semua masyarakat yang ada di lingkungan Rumah Sakit dengan
materi PROMKES yang sederhana, namun sering dijumpai dalam kehidupan
sehari-hari
2. Sebaiknya tempat pelaksanaan kegiatan promosi kesehatan ini lebih valiatif,
dan dilakukan dengan pendekatan secara langsung kepada masyarakat, karena
kondisi lokasi promosi kesehatan ini kurang efektif dalam penyampaian
materinya.

11
Daftar Pusataka

Anief, M. 1990. Perjalanan dan Nasib Obat dalam Tubuh. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.

Ikawati Zullies. 2019. Cerdas Mengenali Obat. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Katzung, Betram G.1997. Farmakologi Dasar dan Klinik. Jakarta: EGC

Smeltzer, Suzanne C. dan Bare, Brenda G, 2002, Buku Ajar Keperawatan


Medikal Bedah Brunner dan Suddarth (Ed.8, Vol. 1,2), Alih bahasa oleh
Agung Waluyo…(dkk). Jakarta: EGC

Undang-Undang Kesehatan No. 36 tahun 2009 Tentang Kesehatan

Yennya dan Elly Herwana. 2006. Prevalensi Penyakit Kronis Dan Kualitas Hidup
Pada Lanjut Usia Di Jakarta Selatan. Jakarta: Universa Medicina Vol.25
No.4

12