Anda di halaman 1dari 10

PENGAMATAN ASAM MALAT PADA TANAMAN CAM

Oleh :
Halimatus Sa’diyah B1A018108
Andri Muhammad G. B1A018119
Freedo Mahardikha B1A018123
Rombongan : V
Kelompok : 2
Asisten : Devi Vira Setiana

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN I

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2019
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tanaman CAM adalah tanaman yang dapat berubah menjadi seperti tanaman
C3 pada pagi hari (suhu rendah) dan menjadi seperti tanaman C4 pada siang dan
malam hari. Tanaman CAM adalah tanaman yang stomatanya membuka pada malam
hari dan menutup pada siang hari, serta memiliki laju fotosintesis yang rendah bila
dibandingkan dengan tanaman C3 dan C4. Tanaman CAM merupakan jenis tanaman
yang biasa hidup di tempat kering (xerofit) dan panas. Tanaman CAM memiliki
proses fotosintesis yang mirip dengan tanaman C4, namun ada perbedaan pada
proses fiksasinya (Kusumo, 1984).
Tanaman CAM memiliki penambahan CO2 seperti pada tanaman C4, tetapi
dilakukan pada malam hari dan dibentuk senyawa dengan gugus 4-C. Stomata pada
siang hari dalam keadaan tertutup terjadi dekarboksilasi senyawa C4 tersebut dan
penambatan kembali CO2. Tanaman C4 memiliki pemisahan ruangan, sedangkan
pada tanaman CAM pemisahannya bersifat sementara. Beberapa contoh tanaman
CAM adalah Crassulaceae, Cactaceae, Bromeliaceae, Liliaceae, Agaveceae, Ananas
comosus, dan Oncidium lanceanum. Beberapa tanaman CAM dapat beralih ke jalur
C3 bila keadaan lingkungan lebih baik (Gardner, 1991).
Tanaman CAM (Crassulacean Acid Metabolism) pada dasarnya adalah
tanaman sukulen, yaitu tanaman yang berdaun atau berbatang tebal dan bertanspirasi
rendah. Stomatanya akan mengabsorbsi CO2 ketika terbuka dan mengurangi
transpirasi ketika menutup. Tanaman CAM dapat menghasilkan asam malat. Salah
satu cara yang dapat dilakukan untuk menghitung jumlah asam malat yang dihasilkan
adalah dengan melakukan titrasi pada daun dari salah satu tipe tanaman CAM.
Perlakuan yang diberikan adalah perbedaan waktu ketika memotong daun untuk
membandingkan kadar asam malat dari setiap perlakuan (Salisbury & Ross, 1995).

B. Tujuan

Tujuan dari praktikum pengamatan asam malat pada tanaman CAM adalah
mengetahui fluktuasi kandungan asam malat pada tanaman CAM.
II. TELAAH PUSTAKA

Crassulacean Acid Metabolism (CAM) adalah salah satu dari tiga jalur
fotosintesis tanaman vaskular dan adaptasi metabolik fotosintetik khusus untuk stres
lingkungan. CAM dimodifikasi atas dasar jalur C3 yang meningkatkan konsentrasi
CO2 di sekitar rubisco, sehingga menghambat fotorespirasi. Jalur CAM melibatkan
pemisahan temporal fiksasi CO2 dari atmosfer, terutama pada malam hari dengan
membuka stomata dan kemudian asimilasi CO2 ini untuk karbohidrat selama waktu
siang. Selama waktu malam, CO2 ambien tetap menuju ke asam malat melalui
Phosphoenolpyruvate Carboxylase (PEPC) dan asam oksaloasetat yang terakumulasi
dalam sel mesofil yang mengandung kloroplas. CO2 dirilis kemudian diperbaiki oleh
rubisco dalam siklus Calvin pada fotoperiode berikut, dekarboksilasi asam malat
menghasilkan konsentrasi CO2 interselular yang tinggi, menyebabkan penutupan
stomata pada siang hari. Jalur fotosintesis dari tanaman C3 dan C4 dikenal memiliki
sifat fotosintetik yang berbeda dari tanaman CAM. Tanaman C3 dan nilai tukar CO2
bersih dari tanaman CAM pada siang hari dikurangi atau rendah karena stomata
tertutup atau penutupan stomata non-seragam. Pola pertukaran CO2 bersih yang
diurnal untuk tanaman CAM lebih rumit daripada tanaman C3 dan C4. Karakteristik
fotosintesis CAM tanaman sangat sulit untuk secara akurat tercermin dengan
menggunakan ruang kecil dan pengukuran terputus-putus. Terus mengukur nilai
tukar CO2 bersih diurnal dari seluruh tanaman dapat membedakan jalur fotosintesis
yang berbeda C4 menunjukkan fiksasi CO2 pada siang hari dan pelepasan CO2 pada
malam harinya (Cheng & He, 2019).
Asam malat merupakan asam organik yang berperan penting dalam
metabolisme tanaman CAM (Crassulacean Acid Metabolism) seperti buah naga
(Khuriyati et al., 2018). Asam malat adalah asam dikarboksilat yang memberikan
rasa asam dan getir dalam berbagai buah seperti apel hijau dan anggur. Asam malat
dapat disintesis dalam tubuh melalui siklus asam sitrat (krebs) untuk meningkatkan
metabolisme energi. Asam malat memiliki rantai senyawa dasar yang mencakup
atom karbon terikat dengan ikatan ganda, atom oksigen, dan senyawa hiroksida.
Asam malat merupakan senyawa organik yang memiliki rumus kimia C5H6O5. Zat ini
juga memainkan peran dalam pembentukan adenosine triphosphate (Dwidjoseputro,
1990). Asam ini higroskopis dan kelarutannya dalam air cukup baik. Kekuatan
asamnya lebih kecil dari asam sitrat dan asam tartrat tetapi dapat menghasilkan
reaksi effervescing ketika direaksikan dengan sumber basa. Asam malat juga
memiliki rasa yang lebih asam dari asam sitrat, sehingga untuk menghasilkan rasa
yang sama asamnya dengan penggunaan asam sitrat hanya memerlukan jumlah yang
sedikit (Regiarti & Susanto, 2015).
Tanaman CAM adalah tanaman yang dapat berubah seperti tanaman C3 pada
saat pagi hari (suhu rendah) dan dapat berubah seperti tanaman C4 pada siang hari
dan malam hari. Tanaman CAM adalah tanaman yang stomatanya membuka pada
malam hari dan menutup pada siang hari, memiliki laju fotosintesis yang rendah bila
dibandingkan dengan tanaman C3 dan C4. Potongan melintang daun C3
menunjukkan mayoritas sel yang mengandung kloroplas dan mesofil., sedangkan C4
memiliki dua tipe sel yang mengandung kloroplas, mesofil, dan bundle sheath.
Tumbuhan C4 cenderung memiliki suhu optimum yang lebih tinggi dibandingkan
tumbuhan C3. Tidak seperti tumbuhan C3, fotosintesis pada C4 tidak terhambat oleh
oksigen dan memiliki titik kompensasi CO2 yang lebih rendah. Kompensasi CO2
adalah banyaknya konsentrasi CO2 yang diambil untuk fotosintesis dengan CO2 yang
digunakan untuk respirasi. C3 berkisar antara 20 hingga 100 µl CO2 per liter
sedangkan C4 berkisar 0 hingga 5 µl (Hopkins et al., 2008).
Berdasarkan tipe fotosintesis, tumbuhan dibagi ke dalam tiga kelompok
besar, yaitu C3, C4, dan CAM (Crassulacean Acid Metabolism). Tumbuhan C4 dan
CAM lebih adaptif di daerah panas dan kering dibandingkan dengan tumbuhan C3.
Tanaman C3 dan C4 dibedakan oleh cara mereka mengikat CO2 dari atmosfer dan
produk awal yang dihasilkan dari proses assimilasi. Enzim yang menyatukan CO2
adalah RuBP dalam proses awal asimilasi pada tanaman C3, yang juga dapat
mengikat tipe Cassulacean Acid Metabolism (CAM) merupakan tipe tanaman yang
mengambil CO2 pada malam hari,dan mengunakannya untuk fotosistensis pada siang
harinya. Tumbuhan CAM yang dapat mudah ditemukan adalah nanas, kaktus, dan
bunga lili (Budiarti, 2008).
III. MATERI DAN CARA KERJA

A. Materi

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah labu Erlenmeyer, buret &
statif, pembakar bunsen, pipet tetes, gelas ukur, gunting, kertas saring, freezer, label,
dan alat tulis.
Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah potongan daun nanas
(Ananas comosus), indikator pp 1%, akuades, dan NaOH 0,01 N.

B. Metode

Cara kerja dalam praktikum ini yaitu:

Daun dipotong dengan 20 mL akuades


Daun ditimbang seberat ditambahkan,
luas ±1 𝑚𝑚² pada 1 gram (masing-masing
pukul 03.00 dipanaskan agar ekstrak
waktu) didapatkan selama ±15
menit

pp

10 mL
Ekstrak dititrasi Ekstrak diambil 10
dengan NaOH mL ke dalam
0,01N. erlenmeyer, 50 mL Ekstrak disaring pada
Dihentikan setelah Akuades
ditambahkan gelas beker
warna berubah ditambahkan
indikator pp 1%
menjadi merah hingga volume
1%sebanyak 5 tetes
jambu mencapai 50 mL
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 4.1 Kandungan Asam Malat pada Tanaman CAM


No. Waktu % Asam Malat
1 03.00 0,9
2 06.00 1,22
3 09.00 0,82
4 12.00 1,01
5 15.00 1,005

6 18.00 0,67
7 21.00 0,67
8 24.00 0,335

 Perhitungan % Asam Malat Kelompok 2


𝑉 𝑥 𝑁 𝑥 𝐹𝑃 𝑥 67
% Asam Malat = x 100% = 0,9% Asam Malat
𝑊
0,3 𝑥 0,01 𝑥 0,1 𝑥 67
= x 100%
2,02

Grafik 4.1.1 Fluktuasi Kandungan Asam Malat pada Tanaman CAM

2
1.8 1.82
1.6
1.4
1.2 1.22
1 1.01 1.005
0.9
0.8
0.6 0.67 0.67
0.4 0.335
0.2
0
Gambar 4.1 Larutan Ekstrak Sebelum Dititrasi pp 1% untuk Waktu 03.00

Gambar 4.2 Larutan Ekstrak Setelah Dititrasi pp 1% untuk Waktu 03.00


B. Pembahasan
Praktikum kali ini adalah pengamatan asam malat pada tanaman CAM dengan
tujuan untuk mengetahui fluktuasi kandungan asam malat pada tanaman CAM.
Berdasarkan hasil pengamatan rombongan 5, kadar asam malat sampel daun pukul
03.00 adalah 0,9 %, kadar asam malat sampel daun pukul 06.00 adalah 1,22 %, kadar
asam malat sampel daun pukul 09.00 adalah 0,82 %, kadar asam malat sampel daun
pukul 12.00 adalah 1,01 %, kadar asam malat sampel daun pukul 15.00 adalah
1,005%, kadar asam malat sampel daun pukul 18.00 adalah 0,67 %, kadar asam
malat sampel daun pukul 21.00 adalah 0,67 %, dan kadar asam malat sampel daun
pukul 24.00 adalah 0,335 %. Sampel daun yang dipotong pukul 03.00 memiliki
kadar asam malat sebesar 0,9 % dan jika dibandingkan dengan sampel daun yang
dipotong pukul 12.00, jumlah asam malat pukul 03.00 lebih kecil. Hal ini tidak
sesuai dengan pernyataan Perkasa et al. (2015) yang menyatakan bahwa, asam malat
akan terkumpul dalam jumlah besar di dalam vakuola pada malam hari. Hal ini dapat
disebabkan karena rentang waktu yang terlalu lama saat pengeluaran sampel daun
dari lemari pendingin hingga pengamatan kadar asam malat pada sampel daun.
Tanaman CAM mengurangi penguapan air akibat respirasi dengan cara
melakukan respirasi di malam hari dimana suhu lingkungan lebih rendah daripada
siang hari, menyimpan CO2 tersebut dalam vakuola dalam bentuk asam malat.
Pembentukan asam malat terjadi pada malam hari dan penguraiannya terjadi pada
malam hari. Pembentukan asam melat dibarengi dengan penguraian gula, pati, atau
polimer glukosa yang mirip dengan pati. Asam malat merupakan jenis asam yang
paling banyak, tetapi pada beberapa spesies juga terakumulasi dalam jumlah yang
lebih rendah jenis asam-asm lainnya, seperti asam strat dan asam isositrar. Reaksi
glikolisis terjadi pada malam hari yang mengubah pati sampai PEP terbentuk. CO2
bereaksi dengan PEP untuk membentuk oksaloasetat dengan bantuan enzim PEP
karboksilase. Oksaloasetat kemudian direduksi menjadi malat dengan bantuan enzim
malat dehydrogenase dan prosuksi NADPH. Malat yang terbentuk kemudian
disimpan pada vakuola dalam bentuk asam malat. Siang hari, asam malat diangkut
keluar dari vakuola secara difusi pasif. Sitosol mengandung asam malat yang akan
didekarboksilasi untuk membebaskan kembali CO2 (Sholekhah, 2017).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kandungan asam malat pada tanaman CAM
yaitu dipengaruhi oleh perbedaan jalur fotosintesis antara bagian tanaman yang
berbeda. Jumlah asam malat yang tinggi pada batang menunjukkan aktivitas
pengambilan CO2 di malam hari. Jumlah asam malat ketika tanaman tercekam
kekeringan menunjukkan peningkatan, baik di daun maupun batang. Hal ini
menunjukkan adanya kemungkinan plastisitas jalur fotosintesis C3 ke CAM di daun,
tetapi secara anatomi daun tidak sukulen sehingga asam malat yang disimpan
terbatas jumlahnya (Hastilestari, 2015).
DAFTAR PUSTAKA

Budiarti, 2008. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: Gramedia.


Cheng, Y. & He, D., 2019. A Photosynthesis Continuous Monitoring System for
CAM Plants. Int J Agric & Biol Eng, 12(3), pp. 141–146.
Dwidjoseputro., 1990. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama.
Gardner., 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Hastilestari, B.R. 2015. Plastisitas Sistem Fotosintesis pada Tanaman CAM. Pros.
Sem. Nas. Masy. Biodiv. Indon,1(4), pp. 864-867.
Hopkins, William, G., Norman, P. A. & Huner., 2008. Introduction to Plant
Physiology: Fourth Edition. Hoboken: John Wiley & Sons Inc.
Kusumo, S., 1984. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. Jakarta: CV Yasaguna.
Khuriyati, N., Fibrianto, M. B. & Nugroho., 2018. Penentuan Kualitas Buah Naga
(Hylocereus undatus) dengan Metode Non Destruktif. Jurnal Teknologi &
Industri Hasil Pertanian, 23(2), pp. 65-74.
Perkasa, U., Dwi, A. N. & Susanto, W. H., 2015. Analisis Asam Malat dalam
Pembuatan Serbuk Effervescent Murbei (Morus alba L.). Jurnal Bahan Alam
Indonesia, 2(2), 1-7.
Regiarti, U. & Susanto, W. H., 2015. Pengaruh Konsentrasi Asam Malat dan Suhu
Terhadap Karakteristik Fisik Kimia dan Organoleptik Effervescent Ekstrak
Daun Mengkudu (Morinda citrifolia L.). Jurnal Pangan dan Agroindustri,
3(2), pp. 638-649.
Salisbury, F. B., & Ross, C. W., 1995. Fisiologi Tanaman. Bandung : Institut
Teknologi Bandung Press.
Sholekhah, S., 2017. Penentuan Waktu Optimal Pembukaan Stomata pada Tanaman
Anggrek Budidaya di Kota Bandar Lampung (Sebagai Sumber Belajar pada
Materi Jaringan Tumbuhan SMA Kelas XI Semester Ganji). Lampung: UIN
Raden Intan Lampung.