Anda di halaman 1dari 10

DETEKSI ANTIBODI JAPANESE ENCEPHALITIS DENGAN UJI HI

(Hemagglutination Inhibition) PADA SERUM BABI YANG DIAMBIL


DARI PETERNAKAN BABI KABUPATEN TULUNGAGUNG

Disusun Oleh:
Amirul Muslim Amrullah
(061711133169)

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2019
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan saya kemudahan sehingga saya dapat
menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya saya tidak
akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga
terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-
natikan syafa’atnya di akhirat nanti.
Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya, baik itu
berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis mampu untuk menyelesaikan
pembuatan makalah sebagai tugas dari mata kuliah Ilmu Penyakit Infeksius II dengan judul
“Deteksi Antibodi Japanese Encephalitis Dengan Uji Hi (Hemagglutination Inhibition) Pada
Serum Babi Yang Diambil Dari Peternakan Babi Kabupaten Tulungagung ”.
Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak
terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik serta
saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi makalah
yang lebih baik lagi. Demikian, dan apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini
penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membimbing kami
dalam menulis makalah ini.
Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

Surabaya, 06 Mei 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR……………………………………………………………………... i
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………….. ii
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………………….. 1

A. LATAR BELAKANG……………………………………………………………... 1
B. RUMUSAN MASALAH…………………………………………………………... 1
C. TUJUAN PENELITIAN…………………………………………………………… 1
D. MANFAAT PENELITIAN………………………………………………………....2
BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………………………....3

A. PRINSIP KERJA HI………………………………………………………………...3


B. BAHAN PENELITIAN……………………………………………………………..3
C. METODE PENELITIAN……………………………………………………….......3
D. HASIL DAN PEMBAHASAN……………………………………………………..5
BAB III PENUTUP………………………………………………………………………....6

A. KESIMPULAN…………………………………………………………………….. 6
B. SARAN…………………………………………………………………………….. 6
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………… 7

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Japanese Encephalitis (JE) adalah penyakit yang disebabkan oleh arbovirus dari
genus flavivirus. Penyakit ini bersifat zoonosis dan ditularkan melalui gigitan nyamuk.
Di Jakarta, vektor untuk JE adalah nyarnuk Culex tritaeniorhvnchus dan Culex gelidus.
Infeksi pada manusia bervariasi dari subklinis sampai ensefalitis akut yang fatal. Dari
penelitian serologis yang dilakukan pada manusia diketahui bahwa antibodi terhadap
virus JE telah terdistribusi secara luas, tetapi laporan kasus secara klinis masih sedikit
sekali. Pada hewan, virus ini bisa menyerang kuda, babi, sapi, dan dornba. Infeksi pada
babi yang sedang mengandung bisa ditularkan ke fetus melalui plasenta, mengakibatkan
kernatian fetus sebelum lahir atau lahir lemah. Sedangkan pada kuda bisa menimbulkan
gejala ensefalitis. Babi bertindak sebagai induk semang penguat (amplifier host).
Viremia bisa terjadi pada babi. Hal ini dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan oleh
(Van Peenen dkk) ternyata babi yang diteliti tidak hanya positif mengandung antibodi
terhadap JE pada uji HI, namun juga menunjukkan adanya viremia.
Virus Japanese Encephalitis merupakan virus yang bersifat endemik di Indonesia.
Virus ini berhasil diisolasi dari nyamuk pertamakali pada tahun 1972 oleh Van Peenen
dkk. Namun demikian, kasus Japanese Encephalitis pada hewan belum pernah
dilaporkan di Indonesia. Epidemiologi JE telah banyak diketahui di negara-negara
tetangga seperti halnya Thailand dan Serawak. Tetapi masih sedikit sekali informasi dari
Indonesia. Penelitian ini dirnaksudkan untuk menambah pengetahuan mengenai
epidemiologi dari JE di Indonesia dengan mendeteksi titer antibodi terhadap virus JE
pada babi.
Oleh latar belakang itulah, makalah ini akan membahas tentang metode diagnosa
untuk mendeteksi antibodi Japanese Encephalitis dengan menggunakan uji HI
(Hemagglutination Inhibition) pada serum babi yang diambil dari peternakan babi
Kabupaten Tulungagung

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka rumusan
masalah pada penelitian ini adalah apakah serum babi yang diambil dari peternakan babi
Kabupaten Tulungagung mengandung antibodi dari virus Japanese Encephalitis yang
dapat dideteksi dengan uji HI?

C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi ada atau tidaknya antibodi virus Japanese
Encephalitis pada babi dari peternakan babi Kabupaten Tulungagung dengan uji HI.

1
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan data tentang adanya infeksi virus
Japanese Encephalitis pada babi dari peternakan babi Kabupaten Tulungagung sehingga
dapat dimanfaatkan antara lain sebagai berikut:
1. Menambah pengetahuan tentang virus Japanese Encephalitis yang
menyerang babi atas dasar deteksi antibodi Japanese Encephalitis dengan uji
HI.
2. Memberikan informasi bagi peternak yang mensuplai babi di peternakan
tersebut. Sehingga dapat menghindari terjadinya babi sebagai pembawa
penyakit bagi hewan lain seperti kuda, sapi, maupun manusia. Hal ini
dilakukan agar pemerintah dan masyarakat dapat bersama-sama lebih
meningkatkan tata laksana peternakan babi dan melakukan tindakan
pencegahan, pengendalian dan penanggulangan yang lebih efektif dan efisien
agar kerugian dan penularan yang cukup besar akibat virus Japanese
Encephalitis dapat dicegah.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Prinsip Kerja HI
Prinsip uji HI adalah menghambat terjadinya agglutinasi sel darah merah (RBC) oleh
virus akibat terikatnya virus tersebut dengan antibodi spesifik.

Proses hemaglutinasi ini terjadi akibat aktivitas hemaglutinin yang terdapat pada amplop
virus tersebut. Aktivitas hemaglutinasi berlangsung maksimal selama satu jam karena
dipengaruhi oleh kerja enzim neuraminidase yang merusak ikatan pada reseptor eritrosit
dengan hemaglutinin dari virus. Pengamatan nilai titer antibodi dari serum sampel
berdasarkan hasil pengenceran tertinggi (paling encer) yang masih sanggup menghambat
aglutinasi (RBC) oleh antigen.

B. Bahan Penelitian
Bahan dalam penelitian ini berupa pereaksi dan spesimen. Pereaksi yang digunakan
adalah pengencer PZ (Physiologische Zaline atau Natrium Chloride 0,9%) PH 7,2-7,4,
antigen JE, suspensi sel darah merah babi 0,5%. Spesimen yang dipakai adalah sampel
serum darah babi yang diambil dari peternakan babi Kabupaten Tulungagung. Peralatan
yang dipakai dalam penelitian ini adalah tabung venoject, microtube, micropippet 25µl,
multichannel pippet 25µl dan 50 µl, yellowtip, microplate 96 sumuran dengan dasar V,
centrifuge, waterbath, bak atau tempat pereaksi, syringe 3 ml, dan jarum no.18, no.21,
no.22.

C. Metode Penelitian
1. Pengambilan Sampel Penelitian
Sampel darah babi diambil melalui pre-vena cava anterior menggunakan
jarum no.18 dan syringe 3 ml, atau melalui vena telinga menggunakan jarum no.21
atau no.22 dan syringe 3 ml. Kulit pada daerah pengambilan darah dibersihkan
sebelumnya menggunakan alkohol 70%, setiap syringe dan jarum hanya dipakai
untuk satu ekor babi untuk menghindarkan kontaminasi. Sampel darah yang
diambil adalah 3 ml dari tiap ekor babi, dimasukkan ke dalam vacutainer.

3
Sampel darah babi di dalam vacutainer didiarnkan selama ±1 jam dalam suhu
ruangan sampai serumnya terpisah dari jendalan darah. Darah disentrifus dengan
kecepatan 1500 rpm selama 10 menit. Serum dipisahkan dengan menggunakan
pipet plastik disposible, dimasukkan ke dalam cryovial, diberi label nomor
identifikasi, kemudian disimpan dalam nitrogen cair untuk dikirim ke laboratorium
dan dilakukan pemeriksaan terhadap serum tersebut.

2. Pemeriksaan Laboratorium
Uji HI (hemaglutination inhibition test) dilakukan terhadap serum sampel
tersebut untuk mengetahui adanya antibodi terhadap virus Japanese Encephalitis
menurut metode (Ksiazek et a17) yang merupakan hasil modifikasi dari metode
Lenette and Schmidt (1969) dan Clarke and Casals (1958). Serum dengan titer
antibodi ≥ 10 dianggap positif.

3. Pemeriksaan Titer Antibodi (Uji HI)


Pemeriksaan titer antibodi menggunakan 1 microplate untuk sampel serum
babi. Langkah kerja uji HI adalah sebagai berikut:
a. Pertama untuk menghilangkan inhibitor non-spesifik, 10 μL serum dan 50
μL albumin sapi 4% dicampur dengan 40 μL 25% kaolin (Sigma, St. Louis,
MO, USA), Campuran itu kemudian diinkubasi selama 30 menit
b. Kaolin kemudian dihilangkan dengan sentrifugasi pada 3.000 × g selama 15
menit
c. Supernatan jernih yang dihasilkan dicampur dengan 5 μL erythrocytes angsa
yang dikemas untuk menghilangkan aglutinin alami
d. Setelah inkubasi pada 37 ℃ selama 1 jam, serum yang diperlakukan
dipisahkan dari erythrocytes angsa dengan sentrifugasi
e. Mengisi semua sumuran microplate dengan 25µl pengencer (PZ)
f. Kemudian serum babi diisi pada sumuran no.1-12 (baris A-H) menggunakan
micropipet 25µl
g. Dengan menggunakan micropipet 25µl, serum dicampurkan dengan PZ pada
sumuran mulai no.1 kemudian pindahkan ke sumuran berikutnya sampai
sumuran no.10, no.11-12 (Kontrol)
h. Kemudian dilanjutkan dengan mengisi sumuran no.1 sampai 10 dengan
antigen JE 8HA unit sebanyak 25µl dengan menggunakan multichannelpipet
25µl.
i. Microplate diinkubasi pada suhu kamar selama 30 menit
j. Kemudian semua sumuran diisi dengan 50µl eritrosit angsa 0,33%.
Diinkubasi lagi pada suhu kamar selama 30 menit atau sampai eritrosit pada
sumuran kontrol eritrosit mengendap sempurna
k. Kemudian dibaca titernya. Titer antibodi tergantung sampai sumuran mana
masih terjadi hambatan hemaglutinasi. Titer HI dihitung berdasarkan
pengenceran tertinggi antibodi yang masih mampu menghambat
hemaglutinasi (Ernawati dkk., 2004). Titer antibodi dinyatakan positif

4
apabila titer antibodi lebih tinggi ≥ 10 atau lebih dari 1:10 dengan
menggunakan antigen 8 HAU.

D. Hasil dan pembahasan


Hasil uji HI dikatakan negatif bila terjadi hemaglutinasi sempurna, reaksi tersebut
disebabkan tidak adanya antibodi pada serum babi yang dapat menghambat antigen virus
Japanese Encephalitis untuk mengaglutinasikan eritrosit. Dan uji HI positif bila tidak
terjadi hemaglutinasi, hal ini disebabkan adanya antibodi dalam serum dapat
menghambat antigen virus Japanese Encephalitis untuk mengaglutinasikan eritrosit.

Uji HI negatif, terjadi hemaglutinasi

Uji HI positif, tidak terjadi hemaglutinasi

Penelitian deteksi antibodi Japanese Encephalitis pada serum babi yang diambil
dari peternakan babi Kabupaten Tulungagung dilakukan dengan uji HI untuk mengetahui
ada tidaknya antibodi Japanese Encephalitis. Kriteria pemeriksaan yang digunakan
adalah positif terdapat antibodi Japanese Encephalitis apabila hasil uji HI menunjukkan
titer antibodi ≥ 10 atau lebih dari 1:10.

Berdasarkan hasil penelitian dengan melakukan uji HI terhadap sampel serum babi
pada peternakan babi Kabupaten Tulungagung didapatkan sampel yang diperiksa negatif
mengandung antibodi Japanese Encephalitis, karena terlihat jumlah titer antibodi kurang
dari 10. Hal ini menunjukkan bahwa babi dari daerah tersebut tidak pernah terpapar virus
Japanese Encephalitis ataupun divaksin virus Japanese Encephalitis sebelumnya.

5
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dengan melakukan uji HI terhadap sampel serum babi
dari peternakan babi Kabupaten Tulungagung dapat disimpulkan bahwa pada babi di
peternakan babi Kabupaten Tulungagung tidak ditemukan adanya antibodi virus
Japanese Encephalitis

B. Saran
Setelah melakukan penelitian ini maka saran yang dapat diberikan adalah:
1. Perlu dilakukan pemeriksaan dan deteksi antibodi pada hewan ternak lain pada
daerah tersebut
2. Perlu dilakukan deteksi antibodi dan isolasi virus Japanese Encephalitis di
wilayah lain

6
DAFTAR PUSTAKA

Winoto, R. R. Graham, Ima Nurisa, S. Hartati, C. Ma’roef. 1995. Penelitian Serologis Japanese
Encephalitis Pada Babi Dan Kelelawar Di Sintang, Kalimantan Barat. Badan Penelitian Dan
Pengembangan Kesehatan. Jakarta 23 (3).
Bo-Kyu Kang, Jeong-Min Hwang, Hyoungjoon Moon, Sang-Yoon Han, Jong-Man Kim, Dong-
Kun Yang, Bong-Kyun Park, Daesub Song. 2016. Comparison Of The Antigenic Relationship
Between Japanese Encephalitis Virus Genotypes 1 And 3. Clinical And Experimental Vaccine
Research. January; 5(1): 26-30
Sendow, Indrawati., Bahri, Sjamsul. 2005. Perkembangan Japanese Encephalitis Di
Indonesia. Balai Penelitian Veteriner. Bogor. Vol. 15, No. 3.
Novie H. Rampengan. 2016. Japanese Encephalitis. Jurnal Biomedik. Manado; Volume 8,
Nomor 2 Suplemen, Halaman S10-S22.
Widiarti, Rima Tunjungsari, Tri Wibowo Ambar Garjito. 2014. Pendekatan Molekuler
Konfirmasi Vector Japanese Encephalitis (JE) Di Kota Surabaya Jawa Timur. Balai Besar
Penelitian Dan Pengembangan Vector Dan Reservoir Penyakit. Vektora Volume 6, Nomor 2,
73-79.
S. T. Hsu, L. C. Chang, S. Y. Lin, T. Y. Chuang, C. H. Ma, Y. K. Inoue, T. Okuno. 1972. The
Effect Of Vaccination With A Live Attenuated Strain Of Japanese Encephalitis Virus On
Stillbirths In Swine In Taiwan. 465-471.
Van Peenen, P.F.D., Joseph, P.L., Atmosoejono, S., Irsiana, R., and Saroso, J.S. (1975).
Japanese Encephalitis Virus From Pigs And Mosquitoes In Jakarta, Indonesia. Trans R Soc
Trop Med Hyg 69: 477-47
Budiharta, S., I.W. Suardana. 2007. Buku Ajar Epidemiologi & Ekonomi Veteriner. Penerbit
Universitas Udayana. Denpasar. 54-55.

Direktorat Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan


Kementerian Pertanian. 2013. Jakarta.

Ernawati, R., A. P. Rahardjo., N. Sianita., J. Rahmahani., F. A. Rantam., W. Tjahjaningsih dan


Suwarno. 2004. Petunjuk Praktikum Pemeriksaan Virologik dan Serologik. Laboratorium
Virologi dan Imunologi Bagian Mikrobiologi Veteriner. Fakultas Kedokteran Hewan.
Universitas Airlangga. Surabaya.

Fenner, F.J., E.P.J. Gibbs., F.A. Murphy., R. Root., M.J. Studdert and D.O. White. 1995.
Veterinary Virology. 2nd Ed. (Harya Putra dkk., trans) IKIP Semarang Press. Semarang.

Murphy, F.A., E.P.J Gibbs, M.C. Horzinek, M.J. Studdert. 2003. Veterinary Virology Third
edition. 2003.

Selleck, P., A. Axell. 2008. Reliable and Repeatable Hemagglutinin Inhibition Assays. Offlu.
Jakarta.