Anda di halaman 1dari 26

MINI PROJECT

PREVALENSI PENDERITA DIABETES


MELLITUS TIPE 2 BERDASARKAN JENIS
KELAMIN
DI PUSKESMAS BERENG KECAMATAN
KAHAYAN HILIR
PERIODE JANUARI – APRIL 2019

Pembimbing :
dr. Angga Richardo

Disusun oleh :
dr. Sylvia Ingrid

PROGRAM DOKTER INTERNSHIP


KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK
INDONESIA
2019
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit tidak menular yang
mengalami peningkatan terus menerus dari tahun ke tahun.Diabetes Melitus
merupakan penyakit metabolik yang berlangsung kronik dan progresif dengan ciri
meningkatnya konsentrasi gula dalam darah. Peningkatan tersebut dapat
mengakibatkan komplikasi penyakit lain yang lebih serius. DM dibedakan menjadi
dua, yaitu Diabetes Melitus tipe 1 (DM Tipe 1) dan Diabetes Melitus Tipe 2 (DM
tipe 2). DM tipe 1 jarang dijumpai, hanya sebesar 10% dari kasus DM seluruhnya,
sedangkan yang kasus yang paling banyak ditemukan di masyarakat adalah DM
tipe 2.1
Saat ini penelitian epidemiologi menunjukkan adanya kecenderungan
peningkatan angka insidensi dan prevalensi DM tipe-2 di berbagai penjuru
dunia.Badan Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi adanya peningkatan jumlah
penyandang DM yang menjadi salah satu ancaman kesehatan global. WHO
memprediksi kenaikan jumlah penyandang DM di Indonesia dari 8,4 juta pada
tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Laporan ini menunjukkan
adanya peningkatan jumlah penyandang DM sebanyak 2-3 kali lipat pada tahun
2035.2Pada tahun 2012 angka kejadian diabetes melitus didunia adalah sebanyak
371 juta jiwa, dimana proporsi kejadiandiabetes melitus tipe 2 adalah 95% dari
populasi dunia yang menderita diabetesmellitus dan hanya 5% dari jumlah tersebut
menderita diabetes mellitus tipe 1.3
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Indonesia tahun 2003, diperkirakan
penduduk Indonesia yang berusia diatas 20 tahun sebanyak 133 juta jiwa. Dengan
mengacu pada pola pertambahan penduduk, maka diperkirakan pada tahun 2030
nanti akan ada 194 juta penduduk yang berusia diatas 20 tahun.2 Laporan hasil Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 oleh Departemen Kesehatan,
menunjukkan bahwa rata-rata prevalensi DM di daerah urban untuk usia di atas 15
tahun sebesar 5,7%.2,3Hasil Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2008, menunjukan
prevalensi DM di Indonesia membesar sampai 57%.3 International Diabetes
Federation (IDF) memprediksi adanya kenaikan jumlah penyandang DM di
Indonesia dari 9,1 juta pada tahun 2014 menjadi 14,1 juta pada tahun 2035.2
Data-data diatas menunjukkan bahwa jumlah penyandang DM di Indonesia
sangat besar. Dengan kemungkinan terjadi peningkatan jumlah penyandang DM di
masa mendatang akan menjadi beban yang sangat berat untuk dapat ditangani
sendiri oleh dokter spesialis/subspesialis atau bahkan oleh semua tenaga kesehatan
yang ada.4
Berdasarkan penjelasan diatas kita dapat menyimpulkan bahwa sangat
banyak penderita Diabetes Melitus di lingkungan sekitar kita, Maka daripada itu
peneliti tertarik mengangkat judul ini sehingga diharapkan pasien dapat mengontrol
kadar gula darah, mencegah komplikasi dan mengatasi komplikasi yang sudah
terjadi.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti ingin mengetahui
bagaimana Profil Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 di Puskesmas Bereng Periode
Januari - April 2019.

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui Profil Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 di Puskesmas
Bereng Periode Januari - April 2019.

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Mengetahui profil penderita diabetes mellitus tipe 2 berdasarkan jenis
kelamin di Puskesmas Bereng Periode Januari - April 2019.
2. Mengetahui profil penderita diabetes mellitus tipe 2 berdasarkan usia di
Puskesmas Bereng Periode Januari - April 2019.
3. Mengetahui profil penderita diabetes mellitus tipe 2 berdasarkan factor
resiko di Puskesmas Singosari periode Mei-Agustus 2018.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Teoritik
Mini project ini dilakukan untuk memperoleh pengalaman belajar di
lapangan melalui studi kasus dan untuk meningkatkan pengetahuan. Selain itu
melatih dalam menilai suatu kemampuan dan kecermatan dalam berinteraksi di
dalam masyarakat serta mencari alternatif penyelesaian dari suatu masalah dan
menyelesaikannya.
1.4.2 Manfaat Aplikatif
Sebagai informasi dan data bagi pelaksana program terutama yang akan
melaksanakan program yang berhubungan dengan mini projek ini dan khususnya
bagi penulis dapat menambah wacana keilmuan dan wawasan.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Diabetes Melitus


2.1.1 Definisi
Diabetes mellitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik
dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin,
kerja insulin atau kedua-duanya.5 Insulin adalah hormon yang disekresi oleh
pankreas. Pankreas merupakan organyang letaknya di belakang lambung dan
memiliki fungsi memproduksi enzim-enzim pencernaan dan hormon. Insulin
memegang peranan yang sangat penting dalam proses metabolisme karbohidrat,
yaitu bertugas memasukan glukosa ke dalam sel dan digunakan sebagai bahan
bakar. Insulin diibaratkan sebagai anak kunci yang dapat membuka pintu masuknya
glukosa ke dalam sel, yang kemudian di dalam sel tersebut glukosa akan
dimetabolisme menjadi tenaga. Bila insulin tidak ada, maka glukosa tidak dapat
masuk ke sel, yang mengakibatkan glukosa tetap berada di dalam pembuluh darah
yang artinya kadar glukosa di dalam darah meningkat.6
Karbohidrat diserap dari usus halus ke dalam darah, pankreas akan
terangsang untuk melepaskan insulinsecara proposial. Kebanyakan sel tubuh
memiliki reseptor insulin yangmengikat insulin yang beredar dalam tubuh. Dengan
adanya reseptor insulintersebut, sel-sel dapat menyerap glukosa dari aliran darah ke
dalam sel. Sel memanfaatkan glukosa dan nutrisi lainnya sebagai energi.7
2.1.2 Klasifikasi
Klasifikasi DM dapat dilihat pada table berikut:2
Tabel 2.1 Klasifikasi etiologi DM
Tipe 1 Destruksi sel beta, umumnya menjurus
ke defisiensi insulit absolut
a. Autoimun
b. Idiopatik
Tipe 2 Bervariasi, mulai yang dominan
resistensi insulin disertai defisiensi
insulin relatif sampai yang dominan
defek sekresi insulin disertai resistensi
insulin

Tipe Lain a. Defek genetik fungsi sel beta


b. Defek genetic kerja insulin
c. Penyakit eksokrin pancreas
d. Endokrinopati
e. Karena obat atau zat kimia
f. Infeksi
g. Sebab imunologi yang jarang
h. Sindrom genetic lain yang berkaitan
dengan DM
Diabetes mellitus
gesrasional

2.1.3 Kriteria Diagnosis


Gejala klasik diabetes adalah rasa haus yang berlebihan (polidipsia),sering
kencing terutama malam hari (poliuria), banyak makan (polifagia), serta berat
badan yang turun dengan cepat. Di samping itu terdapat beberapa keluhan lain yaitu
ada keluhan lemah, kesemutan pada jari tangan dan kaki, cepat lapar, gatal-gatal,
penglihatan jadi kabur, gairah seks menurun, luka sukar sembuh dan pada ibu-ibu
sering melahirkan bayi di atas empat kg. Kadang-kadang ada pasien yang sama
sekali tidak merasakan adanya keluhan, mereka mengetahui adanya diabetes karena
pada saat periksa kesehatan ditemukan kadar glukosa darahnya tinggi.8
Kadar gula dalam darah meninggi ke tingkat pada saat jumlah glukosa yang
difiltrasi oleh sel-sel tubulus untuk di reabsorbsi melebihi kapasitas, glukosa akan
muncul di urin (glukosuria). Glukosa di urin menimbulkan efek osmotik yang
menarik air bersamanya, menimbulkan diuresis osmotik yang ditandai oleh sering
berkemih terutama dimalam hari (poliuria). Cairan yang berlebihan yang keluar
menimbulkan dehidrasi yang pada gilirannya dapat menyebabkan kegagalan
sirkulasi perifer karena darah turun mencolok. Sel-sel kehilangan air karena tubuh
mengalami dehidrasi akibat perpindahan osmotik air dalam sel ke cairan ekstrasel,
sehingga tubuh mengkompensasi dehidrasi dengan rasa haus berlebihan sehingga
penderita banyak minum (polidipsia).8
Glukosa sangat diperlukan oleh sel untuk metabolisme sel itu sendiri,
walaupun glukosa dalam sel menurun sel tetap melakukan metabolisme sehingga
tubuh berusa meningkatkan kadar glukosa dengan meningkatnya nafsu makan
(polifagi). Akan tetapi walaupun terjadi peningkatan makanan, berat tubuh turun
secara progresif akibat efek defisiensi insulin pada metabolisme lemak dan protein.
Sintesis trigliserida menurun saat lipolisis meningkat, sehingga terjadi mobilisasi
besar-besaran asam lemak dari simpanan trigliserida. Peningkatan asam lemak
dalam darah sebagian besar digunakan oleh sel sebagai sumber energi alternatif.
Pada metabolisme protein juga mengalami gangguan karena terjadi defisiensi
insulin sehingga terjadi penguraian protein secara besar-besaran sehingga terjadi
penurunan berat badan.8
KriteriadiagnostikDM:2
1. Glukosa plasma puasa ≥ 126 mg/dl. Puasa adalah kondisi tidak ada assupan
kalori minimal 8 jam
2. Pemeriksaan glukosa plasma ≥ 200 mg/dl 2 jam setelah TTGO
3. Pemeriksaan glukosa plasma sewaktu ≥ 200 mg/dl dengan keluhan klasik
4. Pemeriksaan HbA1c ≥ 6.5%
Tabel 2.2 Kadar tes Laboratorium untuk diagnosa Diabetes Melitus2
HbA1c (%) Glukosa darah Glukosa plasma 2 jam
puasa (mg/dL) setelah TTGO
(mg/dL)
Diabetes ≥ 6.5 ≥ 126 mg/dl ≥200 mg/dL
Prediabetes 5.7-6.4 100-125 140-199
Normal ≤ 5.7 < 100 <140

Gambar 2.1 Langkah diagnostik DM5

2.1.4 Penatalaksaan
Tujuan penatalaksanaan secara umum adalah meningkatkan kualitas hidup
penyandang diabetes. Tujuan penatalaksanaan meliputi:2
1. Tujuan jangka pendek: menghilangkan keluhan DM, memperbaiki kualitas
hidup, dan mengurangi risiko komplikasi akut.
2. Tujuan jangka panjang: mencegah dan menghambat progresivitas penyulit
mikroangiopati dan makroangiopati.
3. Tujuan akhir pengelolaan adalah turunnya morbiditas dan mortalitas DM.
Penatalaksanaan DM dimulai dengan menerapkan polahidup sehat (terapi
nutrisi medis dan aktivitas fisik) bersamaan dengan intervensi farmakologis dengan
obat anti hiperglikemia secara oral dan/atau suntikan. Obat anti hiperglikemia oral
dapat diberikan sebagai terapi tunggal atau kombinasi.2
Pengetahuan tentang pemantauan mandiri, tanda dangejala hipoglikemia
dan cara mengatasinya harus diberikan kepada pasien. Pengetahuan tentang
pemantauan mandiritersebut dapat dilakukan setelah mendapat pelatihan khusus.2

2.1.4.1 Terapi Non farmakologi


a. Edukasi2
Edukasi dengan tujuan promosi hidup sehat, perluselalu dilakukan sebagai
bagian dari upaya pencegahan dan merupakan bagian yang sangat penting dari
pengelolaan DM secara holistik.
b. Terapi Nutrisi Medis (TNM)2,5
TNM merupakan bagian penting daripenatalaksanaan DMT2 secara
komprehensif.Kunci keberhasilannya adalah keterlibatan secara menyeluruh dari
anggota tim (dokter, ahli gizi, petugas kesehatan yang lain serta pasien dan
keluarganya). Guna mencapai sasaran terapi TNM sebaiknya diberikan sesuai
dengan kebutuhan setiap penyandang DM.
Penyandang DM perludiberikan penekanan mengenai pentingnya
keteraturan jadwal makan, jenis dan jumlah kandungan kalori, terutama pada
mereka yang menggunakan obat yang meningkatkan sekresi insulin atau terapi
insulin itu sendiri.
Komposisi Makanan yang Dianjurkan terdiridari:2,5
- Karbohidrat
Karbohidrat yang dianjurkan sebesar45-65% total asupan energi.
- Lemak
Asupan lemak dianjurkan sekitar 20-25% kebutuhan kalori, dan tidak
diperkenankan melebihi 30% total asupan energi.
- Protein
Kebutuhan protein sebesar 10 – 20%total asupan energi.
- Natrium
Anjuran asupan natrium untuk penyandang DM sama dengan orang sehat
yaitu <2300 mg perhari.
- Serat
Penyandang DM dianjurkanmengonsumsi serat dari kacangkacangan,buah
dan sayuran sertasumber karbohidrat yang tinggi serat.Anjuran konsumsi
serat adalah 20-35gram/hari yang berasal dari berbagaisumber bahan
makanan.
- Pemanis Alternatif
Pemanis alternatif aman digunakansepanjang tidak melebihi batas aman.
Kebutuhan Kalori
Ada beberapa cara untuk menentukan jumlahkalori yang dibutuhkan
penyandang DM, antara lain dengan memperhitungkan kebutuhan kalori basal yang
besarnya 25-30 kal/kgBB ideal. Jumlah kebutuhan tersebut ditambah ataudikurangi
bergantung pada beberapa factor yaitu: jenis kelamin, umur, aktivitas, berat badan,
dan lain-lain. Beberapa cara perhitunganberat badan ideal adalah sebagai berikut:2,5
- Perhitungan berat badan ideal (BBI)
menggunakan rumus Broca yang dimodifikasi:
Berat badan ideal = 90% x (TB dalam cm - 100) x 1 kg.
- Jenis Kelamin
Kebutuhan kalori basal perhariuntukperempuan sebesar 25 kal/kgBB
sedangkan untuk pria sebesar 30 kal/kgBB.
- Umur
Pasien usia diatas 40 tahun, kebutuhankalori dikurangi 5% untuk setiap
decade antara 40 dan 59 tahun.Pasien usia diantara 60 dan 69
tahun,dikurangi 10%. Pasien usia diatas usia 70 tahun,dikurangi 20%.
- Aktivitas Fisik atau Pekerjaan
Kebutuhan kalori dapat ditambah sesuaidengan intensitas aktivitas
fisik.Penambahan sejumlah 10% darikebutuhan basal diberikan
padakeadaan istirahat. Penambahan sejumlah 20% pada pasien dengan
aktivitas ringan: pegawaikantor, guru, ibu rumah tangga.Penambahan
sejumlah 30% padaaktivitas sedang: pegawai industry ringan, mahasiswa,
militer yang sedangtidak perang. Penambahan sejumlah 40% padaaktivitas
berat: petani, buruh, atlet,militer dalam keadaan latihan.Penambahan
sejumlah 50% padaaktivitas sangat berat: tukang becak,tukang gali.
- Stres Metabolik
Penambahan 10-30% tergantung dariberatnya stress metabolik
(sepsis,operasi, trauma).
- Berat Badan
Penyandang DM yang gemuk,kebutuhan kalori dikurangi sekitar 20-30%
tergantung kepada tingkatkegemukan.Penyandang DM kurus,
kebutuhankalori ditambah sekitar 20-30% sesuaidengan kebutuhan untuk
meningkatkanBB.Jumlah kalori yang diberikan palingsedikit 1000-1200 kal
perhari untukwanita dan 1200-1600 kal perhari untukpria.
c. Jasmani2
Latihan jasmani merupakan salah satu pilardalam pengelolaan DMT2
apabila tidak disertai adanya nefropati.Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan
jasmani dilakukan secara secara teratur sebanyak 3-5 kali perminggu selama sekitar
30-45 menit, dengan total 150 menit perminggu. Jeda
ntar latihan tidak lebih dari 2 hari berturut-turut.
Latihan jasmani selain untuk menjaga kebugaranjuga dapat menurunkan
berat badan dan memperbaiki sensitivitas insulin, sehingga akan
memperbaiki kendali glukosa darah. Latihan jasmani yang dianjurkan berupa
latihan jasmani yang bersifat aerobik dengan intensitas sedang (50-
70% denyut jantung maksimal) seperti: jalancepat, bersepeda santai, jogging, dan
berenang.
2.1.4.2 Terapi Farmakologis
Terapi farmakologis diberikan bersama denganpengaturan makan dan
latihan jasmani (gaya hidup sehat). Terapi farmakologis terdiri dari obat oral dan
bentuk suntikan.2,5
a. Golongan Insulin Sensitizing2,5
- Biguanid
Metformin mempunyai efek utamamengurangi produksi glukosa
hati(glukoneogenesis), dan memperbaikiambilan glukosa di jaringan
perifer.Metformin merupakan pilihan pertama pada sebagian besar kasus
DMT2.
- Glitazone
Glitazone (Tiazolidindion) merupakan agonis dariPeroxisome Proliferator
ActivatedReceptor Gamma (PPAR-gamma), suatureseptor inti yang
terdapat antara laindi sel otot, lemak, dan hati. Golonganini mempunyai
efek menurunkanresistensi insulin dengan meningkatkanjumlah protein
pengangkut glukosa,sehingga meningkatkan ambilanglukosa di jaringan
perifer.
b. Pemacu Sekresi Insulin (Insulin Secretagogue)2,5
- Sulfonilurea
Obat golongan ini mempunyai efekutama meningkatkan sekresi insulin oleh
sel beta pankreas.Efek samping utamaadalah hipoglikemia dan peningkatan
berat badan.Hati-hati menggunakan sulfonilurea pada pasien dengan risiko
tinggi hipoglikemia.
- Glinid
Glinid merupakan obat yang cara kerjanya sama dengan sulfonilurea,
dengan penekanan pada peningkatan sekresi insulin fase pertama. Golongan
ini terdiri dari 2 macam obat yaituRepaglinid (derivat asam benzoat)
danNateglinid (derivat fenilalanin).Obat inidiabsorbsi dengan cepat setelah
pemberian secara oral dan diekskresisecara cepat melalui hati. Obat ini
dapatmengatasi hiperglikemia post prandial.Efek samping yang mungkin
terjadiadalah hipoglikemia.
Gambar 2.2 Algoritma pengelolahan DM tipe 2 Tanpa Dekompensasi

Gambar 2.3 Algoritma pengelolahan DM tipe 2 dengan Dekompensasi


2.1.5 FAKTOR RESIKO DIABETES
Faktor resiko diabetes mellitus bisa dikelompokkan menjadi factor
risiko yang tidak dapat dimodifikasi dan yang dapat dimodifikasi. Faktor
resiko yang tidak dapat dimidifikasi adalah ras dan etnik,umur, jenis
kelamin, riwayat keluarga dengan diabetes mellitus, riwayat melahirkan
bayi dengan berat badan lebih dari 4000 gram, dan riwayat lahir dengan
berat badan rendah (kurang dari 2500 gram). Sedangkan factor resiko yang
dapat dimodifikasi erat kaitannya dengan perilaku hidup yang kurang sehat,
yaitu berat badan lebih, obesitas abdominal/ sentral, kurangnya aktifitas
fisik, hipertensi, dyslipidemia, diet tidak sehat/ tidak seimbang, riwayat
toleransi glukosa terganggu (TGT) atau gula darah puasa terganggu (GDP),
dan merokok.
2.1.6 KOMPLIKASI
1. Komplikasi Akut2,5
- Reaksi Hipoglikemia
Reaksi hipoglikemia adalah gejala yang timbul akibat tubuh kekurangan
glukosa, dengan tanda-tanda: rasa lapar, gemetar, keringat dingin, pusing.
Jika keadaan ini tidak segera diobati, penderita dapat menjadi koma. Karena
koma pada penderita disebabkan oleh kekurangan glukosa di dalam
darah,maka koma disebut “Koma Hipoglikemik”.
- Koma Hiperosmolar Hiperglikemik Non Ketotik (HHNK)
Koma Hiperosmolar Hiperglikemik Non Ketotik merupakan komplikasi
akut yang ditandai oleh hiperglikemia, hyperosmolar tanpa disertai adanya
ketosis.Faktor yang memulai timbulnya HHNK adalah diueresis glukosuria.
Glukosuria mengakibatkan kegagalan pada kemampuan ginjal dalam
mengkonsentrasikan urin yang akan semakin memperberat derajat
kehilangan air. Hilangnya air yang lebih banyak dibandingkan natrium
menyebabkan keadaan hiperosmolar. Keadaan dimana insulin yang tidak
tercukupi akan menyebabkan hiperglikemia. Hiperglikemia yang terjadi
menyebabkan diuresis osmotic dan menurunnya cairan secara total.Keluhan
pasien HHNK adalah rasa lemah, gangguan penglihatan atau kaki
kejang.Dpat pula terjadi keluhan mual dan muntah.Pada beberapa pasien
datang dalam keadaan letargi, disorientasi, hemiparesis atau koma.
- Ketoasidosis Diabetik (KAD)
Ketoasidosis Diabetik adalah keadaan dekompensasi- kekacauan metabolik
yang ditandai oleh hiperglikemia, asidosis dan ketosis.Pada Ketoasidosis
Diabetik terdapat defisiensi insulin absolut atau relative. Gejala yang
timbul dapat terjadi secara tiba-tiba dan bisa berkembang dengan cepat.
Kadar gula di dalam darah adalah tinggi tetapi karena sebagian besar sel
tidak dapat menggunakan gula tanpa insulin, maka sel-sel ini mengambil
energi dari sumber yang lain. Sel lemak dipecah dan menghasilkan keton
dan asam lemak bebas yang berlebihan(10). Keton merupakan senyawa kimia
beracun yang bisa menyebabkan darah menjadi asam (ketoasidosis). Gejala
awal dari ketoasidosis diabetikum adalah rasa haus dan sering kencing,
mual, muntah, lelah dan nyeri perut (terutama pada anak-anak). Pernafasan
menjadi dalam dan cepat (Kussmaul) karena tubuh berusaha untuk
memperbaiki keasaman darah. Bau nafas penderita tercium seperti bau
aseton. Derajat kesadaran pasien dapat dijumpai mulai komposmentis,
delirium atau depresi sampai koma.

2. KOMPLIKASI KRONIS2,5
Komplikasi kronis terjadi pada semua pembuluh darah adalah seluruh
bagian tubuh yang disebut sebagi angiopati diabeti . Komplikasi kronis tersebut
antara lain:
- Mikrovaskular
Komplikasi mikrovaskuler adalah komplikasi pada pembuluh darah kecil,
diantaranya:Retinopati diabetika, yaitu kerusakan mata seperti katarak dan
glukoma atau meningkatnya tekanan pada bola mata. Bentuk kerusakan
yang paling sering terjadi adalah bentuk retinopati yang dapat
menyebabkankebutaan.Nefropati diabetika, yaitu gangguan ginjal yang
diakibatkan karena penderita menderita diabetes dalam waktu yang cukup
lama.
- Makrovaskular
Komplikasi makrovaskuler adalah komplikasi yang mengenai pembuluh
darah arteri yang lebih besar, sehingga menyebabkan atherosklerosis.
Akibat atherosklerosis antara lain timbul penyakit jantung koroner,
hipertensi, stroke, dan gangren pada kaki.
- Nefrotika diabetika
yaitu gangguan sistem syaraf pada penderita DM. Indera perasa pada kaki
dan tangan berkurang disertai dengan kesemutan, perasaan baal atau tebal
serta perasaan seperti terbakar, mudah timbul luka yang sukar sembuh,
sistem imun menurun sehingga rentan terjadinya infeksi.
BAB 3
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1 Kerangka Konsep

Profil pasien
1. Jenis Kelamin Diabetes Melitus
2. Umur
3. Faktor Resiko

Gambar 3.1 KerangkaKonsep

3.2 Definisi Operasional


Definisi operasional yang digunakan pada penelitian ini akan dijelaskan
dalam bentuk tabel sebagai berikut:
Tabel 3.1 Definisi Operasional
Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Hasil Ukur Skala
Ukur
Jenis Jenis Kelamin Melihat rekam a. laki-laki Nominal
Kelamin adalah tanda fisik medis dan b. Perempuan
yang terindentifikasi Wawancara
pada pasien dan langsung
dibawa sejak
dilahirkan
umur Umur responden Melihat rekam a. 30 – 40 Interval
merupakan usia medis dan tahun
responden dari awal Wawancara b. 40-50
kelahiran sampai langsung tahun
pada saat penelitian c. >50 tahun
ini dilakukan
Faktor Faktor resiko yang Melihat rekam a. Iya Nominal
resiko dapat di modifikasi medis dan b. Tidak
dan yang tidak dapat Wawancara
di modifikasi langsung
BAB 4
METODE PENELITIAN

4.1 Jenis Penelitian


Penelitian ini merupakan penelitian survei deskriptif yang bertujuan untuk
mengetahui profil penderita diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Bereng Periode
Januari - April 2019.

4.2 Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilakukan di poli penyakit tidak menular (PTM) Puskemas
Bereng. Penelitian ini berlangsung dari Januari - April 2019.

4.3 Populasi dan Sampel Penelitian


4.3.1 Populasi
Semua pasien Diabetes Melitus Tipe 2 yang datang berobat ke poliklinik
PTM Puskesmas Bereng Periode Januari - April 2019.
4.3.2 Sampel
Untuk menghitung jumlah sampel pada penelitian ini digunakan teknik total
sampling. Pada total sampling, semua subyek penelitian yang memenuhi kriteria
inklusi dan eksklusi dimasukkan dalam penelitian (Sudigdo, 2010).

4.4 Kriteria Inklusi Dan Eksklusi


Adapun kriteria inklusi dan eksklusi pada penelitian ini adalah :
a. Kriteria Inklusi :
1. Menderita diabetes melitus tipe 2
b. Melakukan kunjungan ke Puskesmas Bereng Periode Januari - April
2019
c. Kriteria Eksklusi :
1. Bukan penderita diabetes mellitus tipe 2
2. Tidak melakukan kunjungan ke Puskesmas Bereng Periode Januari -
April 2019.
4.5 Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan langsung (melihat dan
mencatat jumlah) terhadap data-data pasien yang menderita diabetes mellitus tipe
2 yang ada di Puskesmas Bereng Periode Januari - April 2019.

4.6 Pengolahan dan Analisis Data


4.6.1 Pengolahan Data
Pengolahan data adalah suatu proses dalam memperoleh data ringkasan atau
angka ringkasan dengan menggunakan cara-cara tertentu :
1. Editing
Editing dilakukan untuk memeriksa ketepatan dan kelengkapan data.
Apabila data belum lengkap ataupun ada kesalahan data dilengkapi
dengan mewancarai ulang responden.
2. Coding
Data yang telah terkumpul dan dikoreksi ketepatan dan kelengkapannya
kemudian diberi kode oleh peneliti secara manual sebelum diolah
dengan komputer.
3. Cleaning
Pemeriksaan semua data yang telah dimasukkan ke dalam komputer
guna menghindari terjadinya kesalahan dalam pemasukan data.
4. Saving
Penyimpanan data untuk siap dianalisis.

4.6.2 Analisis Data


Analisa yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis univariat.
Analisa ini dilakukan terhadap tiap variable dari hasil penelitian. Pada umumnya
dalam analisa ini hanya menghasilkan distribusi dan persentase dari tiap variabel.
BAB 5
HASIL PENELITIAN

5.1 Hasil Penelitian


5.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Bereng Periode Januari - April 2019
yang terdiri kelurahan, dengan luas wilayah Km2 jumlah penduduk terdiri dari
laki-laki dan perempuan .

5.1.2 Deskripsi Karakteristik Responden


Dalam penelitian ini melibatkan 39 penderita Diabetes Melitus tipe 2 yang
datang berobat ke Puskesmas Bereng pada bulan Januari – April 2019.
a. Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 5.1 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Frekuensi %
Laki-Laki 18 46
Perempuan 21 54
Jumlah 39 100

Berdasarkan jenis kelamin, kelompok terbanyak adalah perempuan yaitu


sebesar 54% dan paling sedikit pada kelompok laki-laki yaitu sebesar 46%.

Frekuensi
21, 54%

18, 46%

Laki-Laki Perempuan

Gambar 5.1 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin


b. Berdasarkan Umur
Tabel 5.2 Distribusi Responden Berdasarkan Umur
Umur Frekuensi %
30 – 40 tahun 5 12
40 – 50 tahun 10 25
>50 tahun 24 63
Jumlah 39 100

Berdasarkan umur, kelompok terbanyak adalah pada usia lanjut yaitu umur
>50 tahun sebesar 63%.

FREKUENSI MENURUT UMUR

umur 30-40
12%

umur 40-50
25%

umur > 50
63%

Gambar 5.2 Distribusi Responden Berdasarkan Umur


c. Berdasarkan Faktor resiko
Tabel 5.3 Distribusi Responden Berdasarkan Faktor Resiko
FaktorResiko Frekuensi %
Dapat Di Modifikasi 3 7,6
Tidak Dapat Di Modifikasi 2 92,3
Jumlah 20 100

Berdasarkan factor resiko, kelompok terbanyak adalah yang tergolong tidak


dapat di modifikasi sebesar 92,3%

Faktor Resiko
Dapat Di
Modifikasi
7,6%

Dapat Di Modifikasi

Tidak Dapat Tidak Dapat Di Modifikasi


Di Modifikasi
92,3%

Gambar 5.2 Distribusi Responden Berdasarkan Umur


BAB 6
PEMBAHASAN

1.1. Pembahasan
Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Bereng Periode Januari - April 2019.
Pengambilan data dilakukan dengan mengambil data dilakukan dengan
mewawancarai langsung penderita diabetes mellitus tipe 2.
a. Jenis Kelamin
Kartono (dalam Astuti, 2009) mengemukakan bahwa jenis kelamin
merupakan kualitas yang menentukan individu itu laki-laki atau perempuan yang
menyatakan bahwa perbedaan secaara anatomis dan fisiologi pada manusia
menyebabkan perbedaan struktur tingkah laku dan struktur aktivitas antara pria dan
wanita. Pada penelitian ini responden yang menderita diabetes mellitus tipe 2 lebih
banyak perempuan daripada laki-laki. Dijelaskan oleh Kozier (dalam
Darusman,2009) pada umumnya perempuan lebih memperhatikan dan peduli pada
kesehatan mereka.
b. Umur
Hasil penelitian ini menunjukan persentase umur responden mayoritas
berada pada usia 30-50 Tahun. Soegondo (2011) menjelaskan bahwa usia
merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan seseorang. Di
negara berkembang kebanyakan penderita diabetes mellitus berusia antar 45-64
tahun, yang merupakan golongan usia yang masih sangat produktif.
c. Faktor Resiko
Pada penelitian ini menunjukan bahwa penderita diabetes melitus tipe 2
kebanyakan dari kelompok tidak dapat di modifikasi. Hal ini menunjukan bahwa
usia diatas 45 Tahun sangat rentan menderita diabetes militus tidak menjalani pola
hidup sehat.
BAB 7
KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan

Dari hasil yang peneliti peroleh dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
a. Distribusi responden penderita diabetes mellitus tipe 2
berdasarkan jenis kelamin di Puskesmas Bereng Periode Januari
- April 2019 yang terbanyak adalah Perempuan sebanyak 21
orang (54%) dan diikuti laki-laki sebanyak 18 orang (46%)
b. Distribusi responden penderita diabetes mellitus tipe 2
berdasarkan umur di Puskesmas Bereng Periode Januari - April
2019 yang terbanyak adalah kelompok umur >50 tahun
sebanyak 24 orang (63%) .
c. Distribusi responden penderita diabetes mellitus tipe 2
berdasarkan faktor resiko di Puskesmas Singosari periode
Januari - April 2019 yang terbanyak adalah yang tergolong tidak
dapat dimodifikasi.
d. Saran
1. Untuk meningkatkan pengetahuan dan kepedulian pasien tentang
penyakit diabetes mellitus tipe 2 perlu dilakukan penyuluhan mengenai
penyakit diabetes mellitus.
2. Untuk mencegah meningkatnya angka kejadian terhadap komplikasi
yang akan ditimbulkan oleh diabetes mellitus maka penderita sebaiknya
dapat mengonsumsi obat agar kadar gula darahnya terkontrol.
DAFTAR PUSTAKA

1. Nurlaili Haida Kurnia Putri. Hubungan Empat Pilar Pengendalian Dm Tipe


2 Dengan Rerata Kadar Gula Darah. Universitas Airlangga. Di akses di
http://journal.unair.ac.id/filerPDF/jbed89640f867full.pdf. (Sitasi 5 Mei
2018).
2. Konsensus. 2015. Pengelolahan dan Pencegahan Diabetes Melitus tipe 2 di
Indonesia. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia.
3. Restyana Noor F. DIABETES MELITUS TIPE 2. Di akses di
http://jukeunila.com/wp-content/uploads/2016/02/Restyana-nor.pdf. (Sitas
1 Mei 2018).
4. Pusat Data dan Informasi. 2014. Waspada DiabetesEat well live well.
Kementrian Kesehatan RI: Jakarta.
5. Setiati S, Alwi I, dkk. 2014. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi VI.
.FKUI: Jakarta.
6. Price dan Sylvia.2006.Patofisiologi Edisi 6. Jakarta : EGC.
7. Sjamsuhidayat R dan De Jong W. 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta :
EGC.
8. Sherwood, Laurale. 2006. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta
:EGC.