Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia pada hakekatnya adalah mahluk sosial, yang dalam
kehidupan sehari-hari tidak bisa lepas dari kegiatan interaksi dan
komunikasi. Komunikasi merupakan bagian integral kehidupan
manusia, apapun statusnya di masyarakat. Sebagai mahkluk sosial,
kegiatan sehari-hari selalu berhubungan dengan orang lain dalam
upaya pemenuhan kebutuhan hidup.
Dalam kehidupan kita sehari-hari, mengenal diri adalah sesuatu
hal yang sangat penting jika kita menempatkan diri di tengah-tengah
masyarakat. Sebab dengan mengenal diri, kita dapat mengetahui
kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri kita.
Konsep diri merupakan hal yang sangat menentukan dalam
komunikasi interpersonal, karena setiap orang bertingkah laku
sedapat mungkin sesuai dengan konsep dirinya. Ternyata kita tidak
hanya menanggapi orang lain, tetapi kita juga mempersepsikan diri
kita. Diri kita bukan lagi persoalan penanggap, tetapi personal stimuli
sekaligus. Menurut Charles Horton Cooley, kita melakukannya dengan
membayangkan diri kita dengan orang lain, dalam benak kita. Cooley
menyebutnya gejala looking-glass self (cermin diri), seakan-akan
menaruh cermin didepan kita.
Konsep diri merupakan faktor yang sangat penting dan
menentukan dalam komunikasi antar pribadi. Kunci keberhasilan
hidup adalah konsep diri positif. Konsep diri memainkan peranan yang
sangat besar dalam menentukan keberhasilan hidup seseorang,
karena konsep diri dapat dianalogikan sebagai suatu operating sistem.
Konsep diri dapat mempengaruhi kemampuan berpikir seseorang.
Banyak orang yang berpendapat bahwa bidan juga perlu
menjawab pertanyaan “siapa saya”. Bidan harus mengkaji perasaan,
reaksi, dan perilakunya secara pribadi maupun sebagai pemberi
pelayanan. Kesadaran diri akan membuat bidan menerima perbedaan
dan keunikan klien. Kesadaran diri dan perkembangan diri bidan perlu
ditingkatkan agar penggunaan diri secara terapeutik dapat lebih
efektif.
Untuk memahami diri sendiri, Joseph Luft dan Harrington
Ingham memperkenalkan dengan nama “ Johari window” Sebagai
perwujutan bagaimana seseorang berhubungan dengan orang lain
yang digambarkan sebagai sebuah kaca jendela yang terdiri dari 4
bagian , yakni wilayah terbuka (open area),wilayah buta (Blind Area),
Wilayah tersembunyi (Hidden Area) dan wilayah tak dikemal
(unknown area).
B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan Konsep Diri?
2. Apakah yang dimaksud dengan Model Johari Window?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan konsep diri.
2. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Model Johari
Window.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Diri
1. Defenisi Konsep Diri
Defenisi konsep diri menurut para ahli:
a. William D. Brooks, konsep diri adalah pandangan dan perasaan
kita tentang diri kita. Konsep diri bukan hanya sekedar
gambaran deskriptif, tetapi juga penilaian anda tentang diri
anda. Jadi konsep diri meliputi apa yang anda pikirkan dan apa
yang anda rasakan tentang diri anda. Karena itu, Anita Taylor
(1977) mendefinisikan konsep diri adalah “All you think and feel
about you, the entire complex of beliefs and attitude you hold
about yourself.”
b. Jalalluddin Rahmat (1996:66) mendefinisikan konsep diri
sebagai gambaran dan penilaian diri, pandangan dan perasaan
kita tentang diri kita sendiri. Berdasarkan pendapat tersebut,
dapat ditegaskan bahwa setiap orang pastilah mengenali
dirinya sendiri.
c. Stuart dan Laraia (2001), konsep diri adalah semua nilai, ide,
perasaan, pikiran dan keyakinan yang kuat tentang diri sendiri
yang mempengaruhi hubungan dengan orang lain.
d. Charles H Cooley mengemukakan teori yang diberi nama
Looking glass self (melihat diri dengan bercermin). Artinya
bahwa setiap orang dapat mengenali dirinya sendiri dengan
cara seolah-olah orang menaruh cermin di depannya dan
dengan demikian maka profil diri orang itu dapat dikenalinya.
e. Keliat (1992) mengemukakan bahwa konsep diri adalah
persepsi individu tentang kerakteristik dan kemampuannya,
interaksi dengan orang lain dan lingkungannya, serta nilai yang
berkaitan dengan pengalaman / obyek / tujuan / ide. Persepsi
ini bisa bersifat psikologi, sosial dan fisis misalnya kita
mengajukan pertanyaan untuk diri sendiri:
1) Bagaimana watak saya sebenarnya? ( Persepsi Psikologi )
2) Apa yang membuat saya bahagia atau sedih? ( Persepsi
Sosial )
3) Apa yang sangat saya cemaskan? ( Persepsi Fisis )
Konsep diri adalah pandangan kita mengenai siapa diri kita
yang kita dapat dari informasi orang lain kepada kita. Konsep diri
kita yang paling awal biasa dipengaruhi oleh keluarga dan orang-
orang dekat disekitar kita yang disebut significants others.
2. Klasifikasi Konsep Diri
Menurut Hurlock (1990) mengemukakan bahwa konsep diri
dapat dibagi menjadi dua bagian :
a. Konsep diri sebenarnya, merupakan konsep seseorang tentang
dirinya yang sebagian besar ditentukan oleh peran dan
hubungannya dengan orang lain serta persepsinya tentang
penilaian orang lain terhadap dirinya.
b. Konsep diri ideal, merupakan gambaran seseorang mengenai
keterampilan dan kepribadian yang didambakannya.
Menurut Burn (1993), membagi konsep menjadi dua bagian, yaitu
konsep diri negatif dan positif.
a. Konsep diri positif merupakan perasaan harga diri yang positif,
penghargaan diri yang positif dan penerimaan diri yang positif.
Konsep diri positif memungkinkan seseorang untuk bisa
bertahap menghadapi masalah yang mungkin saja muncul.
Selain itu akan membawa dampak positif pula pada orang lain
disekitarnya. Karakteristik orang yang mempunyai konsep diri
positif yaitu :
1) Seseorang meyakini betul nilai dan prinsip-prinsip tertentu
dan mempertahankannya, meski menghadapi pendapat
kelompok yang kuat.
2) Mampu bertindak berdasarkan penilaian yang baik tanpa
bersalah yang berlebihan, atau menyesali tindakannya jika
orang lain tidak menyetujui tindakannya.
3) Tidak menghabiskan waktu yang tidak perlu untuk
mencemaskan apa yang terjadi esok.
4) Memiliki keyakinan pada kemampuannya untuk mengatasi
persoalan, bahkan ketika dia menghadapi kegagalan dan
kemunduran.
5) Merasa sama dengan orang lain, sebagai manusia ia tidak
tinggi atau rendah, walaupun terdapat perbedaan dalam
berbagai hal.
6) Sanggup menerima dirinya sebagai orang yang penting dan
bernilai bagi orang lain, paling tidak bagi orang yang sangat
berarti dalam hidupnya.
7) Dapat menerima pujian tanpa berpura-pura rendah hati dan
menerima penghargaan tanpa rasa bersalah.
8) Cenderung menolak usaha orang lain untuk
mendominasikannya.
9) Sanggup mengaku pada orang lain bahwa dia mampu
merasakan berbagai dorongan dan keinginan, dari perasaan
marah sampai cinta, dari sedih sampai bahagia, dari
kecewa yang mendalam, sampai kepuasan yang mendalam
pula.
10) Mampu menikmati dirinya secara utuh dalam berbagai
kegiatan meliputi pekerjaan, permainan, ungkapan diri yang
kreatif, persahabatan atau sekedar mengisi waktu
11) Peka pada kebutuhan orang lain, kebiasaan sosial yang
telah diterima, terutama pada gagasan bahwa ia tidak bisa
bersenang-senang dengan mengorbankan orang lain.
b. Konsep diri negatif merupakan rendah diri, membenci dan
tiadanya perasaan yang menghargai pribadi dan penerimaan
diri. Orang yang mempunyai konsep diri negatif akan sangat
sedikit mengetahui tentang dirinya. Karakterisitik dari konsep
diri negatif secara umum tercermin dari kedaan diri sebagai
berikut :
1) Peka pada kritik
Orang tersebut sangat tidak tahan terhadap kritik yang
diterimanya, dan mudah marah atau naik pitam. Koreksi
atau kritikan dipersepsikannya sebagai usaha untuk
menjatuhkan harga dirinya.
2) Responsif terhadap pujian
Tidak dapat menyembunyikan antusiasmenya pada waktu
menerima pujian, walaupun mungkin berpura-pura untuk
menghindari pujian dan senang terhadap pujian yang
diberikan kepadanya.
3) Hiper kritis
Selalu mengeluh, mencela atau meremehkan apapun dan
siapapun. Mereka tidak pandai dan tidak sanggup
mengungkapkan penghargaan dan pengakuan pada
kelebihan orang lain.
4) Merasa tidak disenangi orang lain
Merasa tidak diperhatikan. Karena itulah dia bereaksi pada
orang lain sebagai musuh, sehingga tidak dapat
menghadirkan kehangatan dan keakraban persahabatan. Ia
tidak mempersalahkan dirinya, tetapi menganggap dirinya
sebagai korban dari sistem sosial yang tidak beres.
5) Pesimis terhadap kompetisi
Terungkap dari keengganannya untuk bersaing dengan
orang lain dalam membuat prestasi. Ia akan menganggap
tidak akan berdaya melawan persaingan yang merugikan
dirinya.
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri
a. Perkembangan
Konsep diri berkembang sejak lahir secara bertahap, yaitu
dimulai dengan mengenal dan membedakan orang lain,
membedakan diri dengan orang lain, kemudian melakukan
aktifitas eksplorasi pengalaman dengan diri sendiri dan
berkaitan dengan perkembangan bahasa. Pada tahap
perkembangan manusia, konsep diri merupakan suatu proses
yang terus menerus berlangsung didasarkan pada pengalaman
interaksi dan budaya, perasaan positif dan berharga, persepsi
akan kompetensi yang dimiliki, penilaian diri sendiri dan orang
lain, serta aktualisasi diri.
b. Orang penting lain
Orang penting lain dalam kehidupan manusia sangat
mempengaruhi konsep diri seseorang. Belajar tentang diri
sendiri melalui cermin orang lain mempengaruhi konsep diri.
Pada anak kecil dan keluarga, hal-hal yang akan berdampak
kepada perkembangan konsep diri anak adalah perasaan
adekuat atau tidak, perasaan diterima atau ditolak, kesempatan
identifikasi, dan harapan diterima orang lain. Sementara pada
remaja (pertemanan) dan orang dewasa lain, budaya dan
sosialisasi membawa dampak terhadap perkembangan konsep
diri.
c. Persepsi
Faktor persepsi individu membawa dampak pada
perkembangan konsep diri. Persepsi individual berarti baginya
konsisten dengan kebutuhan dan nilai personal. Apabila
persepsi akan diri individu lemah atau negatif maka individu
akan cenderung distorsi, mempunyai pandangan yang sempit
dan tidak memiliki rasa percaya diri. Persepsi individu yang
negatif akan membawa individu pada keadaan yang selalu
terancam dan kecemasan. Sebaliknya, persepsi individu yang
positif akan membawa individu pada pribadi yang terbuka dan
jujur, sehingga individu akan selalu menerima keadaan dan
kesuksesan akan menyertainya.
4. Komponen Konsep Diri
Komponen konsep diri terdiri atas citra diri, ideal diri, harga diri,
identitas diri, dan peran yang akan dijelaskan sebagai berikut :
a. Citra Diri
Adalah persepsi dan keyakinan serta pengetahuan
individu secara sadar atau tidak terhadap tubuhnya seperti
ukuran, penampilan, fungsi dan potensi tubuh.
Perkembangan citra diri belum ada saat lahir. Citra diri
merupakan bagian yang erat dengan tubuh (pakaian, mainan,
dan peralatan tubuh) dan penampilan. Apabila konsep diri
positif maka individu akan menerima atau menyukai tubuhnya,
sehingga harga diri tinggi dan individu terbebas dari kecemasan
(anxiety).
b. Ideal Diri
Merupakan persepsi individu tentang bagaimana ia
harus berperilaku berdasarkan beberapa standar personal.
Ideal diri dapat berupa gambaran individu yang disukai,
aspirasi, tujuan, atau nilai yang ingin dicapai. Perkembangan
ideal diri dipengaruhi oleh orang penting atau orang terdekat
sejak masa kanak-kanak, yaitu berupa harapan, tuntutan, dan
dentifikasi terhadap individu; dan norma, sosial budaya,
keluarga, kemampuan individu terkait dengan usaha individu
untuk memenuhinya.
Sementara itu perkembangan ideal diri dipengaruhi oleh
faktor ambisi dan keinginan untuk sukses, kebutuhan yang
realistis, kebahagiaan dalam mengatasi kegagalan, perasaan
ansietas, dan rendah diri. Individu yang selalu mengungkapkan
keputusasaan dan selalu mencapai keinginan yang terlalu
tinggi, menandakan bahwa individu tersebut sedang mengalami
gangguan ideal diri. Ideal diri harus lebih tinggi dari prestasi
saat ini, jelas, dan realistis. Sebaiknya, ideal diri jangan sulit
untuk dicapai, tidak jelas (samar), dan jangan menuntut. Ideal
diri yang sehat adalah sesuai dengan persepsi diri.
c. Harga Diri
Merupakan penilaian individu tentang pencapaian diri
dengan menganilis sejauh mana perilaku mencapai ideal.
Harga diri berkaitan dengan cita-cita, apabila cita-cita dapat
tercapai, maka individu akan sukses dan harga dirinya tinggi.
Sebaliknya, apabila cita-cita gagal dicapai, maka harga diri
cenderung menurun atau rendah. Perkembangan harga diri
dipengaruhi oleh diri sendiri (misalnya menghargai diri sendiri,
tidak mengecilkan diri, dan ada kepuasan terhadap diri) dan
orang lain (dicintai, diperhatikan, dan dihargai orang lain).
Harga diri sangat rentan pada masa remaja, sebaliknya harga
diri meningkat sejalan dengan bertambahnya usia. Perasaan
negatif terhadap diri sendiri dan hilangnya rasa percaya diri
merupakan tanda dari gangguan harga diri.
Individu dengan harga diri rendah menunjukkan gejala-
gejala seperti perasaan malu, perasaan bersalah pada diri
sendiri, merendahkan martabat, menarik diri, percaya diri
kurang, dan mencederai diri. Rendahnya harga diri seseorang
dikarenakan adanya stresor berupa penolakan orang tua,
kurangnya penghargaan dari orang tua atau orang terdekat,
pola asuh yang tidak sehat (selalu dilarang, selalu dituruti,
dikontrol, dituntut, tidak konsisten), persaingan antar saudara,
kegagalan berulang, dan tidak tercapainya ideal diri.
Cara meningkat harga diri:
1) Memberi kesempatan sukses pada diri disertai dengan
penghargaan saat sukses
2) Menanamkan ideal diri serta harapan yang realistis dan
tidak terlalu tinggi sesuai dengan latar belakang sosial
budaya yang berlaku.
3) Mendukung diri sendiri untuk beraspirasi dan bercita-cita.
4) Membantu membentuk pertahanan untuk hal-hal yang
mengganggu.
d. Identitas Diri
Merupakan kesadaran akan keunikan diri sendiri yang
bersumber dari penilaian dan observasi diri sendiri secara
mendasar, identitas diri adalah sintesis dari semua aspek yang
mewakili diri yang diorganisasi menjadi satu keutuhan.
Perkembangan identitas diri sudah ada sejak lahir yang
dimulai dengan adanya proses identifikasi dan introspeksi.
Proses identifikasi seperti hubungan ibu dengan bayi,
hubungan anak dengan orang tua/guru/teman, tokoh terkait
dengan aspek seksual dan gambaran diri. Proses introspeksi
diri sepert evaluasi diri, penghargaan diri, dan berpikir kritis.
Individu dengan identitas diri yang kuat akan selalu
memandang diri secara unik, merasa diri berbeda dengan
orang lain, merasa atonomi (menghargai diri sendiri,
percaya/menerima diri, mampu berdiri sendiri, dan dapat
mengontrol dirinya sendiri), mempunyai persepsi positif tentang
citra tubuh, peran, dan konsep diri. Sebaiknya, individu yang
selalu merasa ragu, tidak konsisten dalam menilai diri, sukar
memutuskan atau menetapkan tujuan (keinginan) adalah
individu yang mengalami gangguan identitas diri.
Gangguan identitas diri dengan gejala seperti sukar
menilai diri sendiri; sukar mengambil keputusan/tergantung
orang lain; sukar menetapkan keinginan baik dalam hal agama,
karir, maupun teman hidup; hubungan interpersonal tidak stabil;
respon tidak konsisten; dan selalu menyalahkan orang lain atau
lingkungan (projeksi).
e. Peran
Merupakan seperangkat perilaku yang diharapkan
secara sosial yang berhubungan dengan fungsi individu pada
berbagai kelompok sosial. Perkembangan peran dipengaruhi
oleh model peran dan kesempatan berperan. Penyesuaian
peran dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti ketidakjelasan
perilaku, konsistensi respons orang terdekat terhadap peran,
kecocokan atau keseimbangan berbagai peran, serta
keselarasan budaya dan harapan terhadap harapan peran
tersebut.
Berubah atau berhentinya fungsi peran yang disebabkan
oleh penyakit, proses menua, putus sekolah, putus hubungan
kerja, perceraian, dan lainnya merupakan gangguan
penampilan peran yang ditandai dengan gejala seperti
mengingkari ketidakmampuan menjalankan peran,
mengungkapkan ketidakpuasan, kegagalan menjalankan
peran, kurang bertanggung jawab terhadap peran, apatis,
bosan, jenuh, putus asa, serta berganti-ganti peran.
B. Model Johari Window
1. Mengenal Diri Sendiri dengan Teori Johari Window
Mengenal diri merupakan hal penting sebab kita dapat
mengetahui kelemahan dan kelebihan yang ada pada diri kita.
Untuk memahami diri sendiri Joseph Luft dan Harrington Ingham
memperkenalkan konsep yang dikenal dengan Johari Windows.
Johari dari kata Joseph Luft dan Harrington Ingham sedang
Windows berarti jendela. Dalam individu diumpamakan seperti
jendela yang terbagi dalam 4 kuadran yakni wilayah terbuka (open
area), wilayah buta (blind area), wilayah tersembunyi (hidden area)
dan wilayah tak dikenal (unknown area).
I. Wilayah Terbuka (Open Area) II. Wilayah Buta (Blind Area)

( Diketahui diri sendiri dan orang lain) ( Tidak diketahui diri sendiri, tetapi
diketahui orang lain )

III. Wilayah Tersembunyi (Hidden IV. Wilayah Tak Dikenal


Area) (Unknown Area)

( Diketahui diri sendiri, tetapi tidak ( Tidak diketahui diri sendiri maupun
diketahui orang lain ) orang lain )
Gambar 2.1 Model Johari Window
a. Wilayah Terbuka ( open area )
Wilayah ini menunjukkan kegiatan yang dilakukan
komunikator disadari sepenuhnya oleh yang bersangkutan juga
oleh orang lain, ini berarti adanya keterbukaan atau tidak ada
disembunyikan pada orang lain. Menurut konsep ini
kepribadian, kelemahan dan kekurangan kita selain diketahui
diri kita sendiri juga diketahui orang lain. Contoh: nama kita,
jabatan, pangkat, status perkawinan,dan lain- lain.
Dengan demikian jika ingin sukses dalam komunikasi
maka kita harus bisa mempertemukan keinginan kita dengan
orang lain. Oleh karena itu, semakin lebar atau luas area
terbuka maka komunikasi akan semakin bagus. Sebaliknya
semakin sempit area terbuka maka komunikasi cenderung
semakin tertutup.
b. Wilayah Buta ( blind area )
Pada wilayah buta ini menggambarkan bahwa perbuatan
komunikator diketahui orang lain tetapi diri sendiri tidak
menyadari apa yang dia lakukan. Oleh karena itu, semakin
lebar wilayah buta maka akan terjadi kesulitan dalam
komunikasi. Menurut Joseph Luft dan Harrington Ingham
wilayah buta ini ada pada setiap manusia dan sulit dihapuskan
sama sekali kecuali menguranginya. Cara yang bisa digunakan
untuk menguranginya adalah dengan bercermin pada nilai,
norma, hukum yang diikuti orang lain.
c. Wilayah Tersembunyi ( hidden area )
Wilayah tersembunyi adalah kebalikan dari Blind Area
yakni apa yang dilakukan komunikator disadari sepenuhnya
oleh dirinya sendiri, tetapi orang lain tidak dapat
mengetahuinya. Ini berarti komunikator bersikap tertutup, dia
merasa bahwa apa yang dilakukannya tidak perlu diketahui
orang lain. Ada dua konsep yang mengenai wilayah ini yaitu
over disclose dan under disclose.
1) Over Disclose ialah sikap terlalu banyak mengungkapkan
sesuatu sehingga hal-hal yang seharusnya disembunyikan
juga diutarakan. Misalnya kebiasaan-kebiasaan buruk yang
dimiliki diceritakan kepada orang lain dll.
2) Under Disclose ialah sikap terlalu menyembunyikan sesuatu
yang seharusnya dikemukakan. Contohnya adalah riwayat
penyakit yang akan bermanfaat untuk pengobatan dirinya
tetapi disembunyikan dan ditutupi.
Memiliki wilayah ini ada keuntungan dan kerugiannya.
Keuntungannya jika dilakukan secara wajar. Tetapi kalau
underdisclose akan menyulitkan tercapainya komunikasi yang
mengena.
d. Wilayah Tak Dikenal ( unknown area )
Merupakan wilayah yang paling kritis dalam komunikasi, sebab
selain diri kita yang tidak mengenal diri sendiri orang juga tidak
mengetahui sikap kita. Dalam kehidupan sehari-hari
kesalahpahaman atau kesalahan perlakuan biasa terjadi
karena kita tidak saling mengenal kelebihan, kekurangan
tentang diri kita maupun orang lain. Baik diri kita maupun orang
lain tidak mengenal siapa diri kita yang sesungguhnya.
Menurut Joseph Luft dan Harrington Ingham keempat
wilayah konsep diri ini merupakan satu kesatuan yang terdapat
dalam diri seseorang. Hanya saja, yang membedakan antara satu
orang dengan orang lain adalah kadar wilayahnya yang berbeda-
beda. Dengan memperlebar wilayah terbuka maka orang dapat
mencapai kesuksesan. Bagi pasien (klien) yang berkeinginan lebih
cepat beradaptasi kepada perawat / bidan guna membantu dirinya
dalam perawatan dan penyembuhan rasa sakitnya, maka dia harus
memperbesar wilayah terbuka ( open area ) dan mempersempit
wilayah konsep diri lainnya.
2. Prinsip Model Johari Window
a. Perubahan pada satu kuadran akan mempengaruhi /
menyebabkan perubahan pada kuadran lain.
b. Jika kuadran I (open area) paling kecil dibanding kuadran
lainnya, maka ini berarti keterbukaan atau pemahaman /
pengenalan diri seseorang kurang dan akan semakin buruk
komunikasi yang terjadi, namun jika kuadran I lebih besar maka
menunjukkan pribadi tersebut memiliki keterbukaan /
pemahaman diri yang baik dan akan semakin baik komunikasi
yang terjadi.
c. Jika kuadran II (blind area) paling besar, maka individu tersebut
umumnya adalah individu yang kurang menerima masukan
(umpan balik) dari orang lain, sehingga ia tidak mengetahui apa
yang dibicarakan oleh orang lain tentang dirinya.
d. Jika kuadran III (hidden area) paling besar, maka individu
tersebut cenderung mau berbagi dengan orang lain, serta
menutupi hal-hal yang dirasakan mengancam dirinya bila orang
lain tahu sesuatu yang dirahasiakannya.
e. Kuadran IV (unknown area), umumnya tidak berubah
besarannya, akan tetapi bila ada hal-hal khusus seperti
pengalaman traumatis, hipnotis hal ini dapat saja menjadi kecil.
Dengan demikian untuk menjadi pribadi yang sehat, maka
sebaiknya kuadran I diperbesar dan kuadran II, III, IV bila
memungkinkan harus diperkecil. Dalam kaitan ini, maka perlu bagi
kita untuk dapat meningkatkan pengenalan terhadap diri sendiri
dengan mempelajari diri sendiri (introspeksi diri) baik pikiran,
perasaan dan perilaku, hubungan interpersonal dan kebutuhan
pribadi, membuka diri serta belajar dari orang lain.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Konsep diri adalah pandangan kita mengenai siapa diri kita
yang kita dapat dari informasi orang lain kepada kita. Menurut Burn
(1993), membagi konsep menjadi dua bagian, yaitu konsep diri negatif
dan positif. Konsep diri positif merupakan perasaan harga diri yang
positif, penghargaan diri yang positif dan penerimaan diri yang positif,
sedangkan konsep diri negatif merupakan rendah diri, membenci dan
tiadanya perasaan yang menghargai pribadi dan penerimaan diri.
Faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri yaitu perkembangan,
orang penting lain dan persepsi. Adapun komponen konsep diri terdiri
atas citra diri, ideal diri, harga diri, identitas diri, dan peran.
Mengenal diri merupakan hal penting sebab kita dapat
mengetahui kelemahan dan kelebihan yang ada pada diri kita. Untuk
memahami diri sendiri Joseph Luft dan Harrington Ingham
memperkenalkan konsep yang dikenal dengan Johari Windows. Johari
dari kata Joseph Luft dan Harrington Ingham sedang Windows berarti
jendela. Dalam individu diumpamakan seperti jendela yang terbagi
dalam 4 kuadran yakni wilayah terbuka (open area), wilayah buta
(blind area), wilayah tersembunyi (hidden area) dan wilayah tak
dikenal (unknown area).
Menurut Joseph Luft dan Harrington Ingham keempat wilayah
konsep diri ini merupakan satu kesatuan yang terdapat dalam diri
seseorang. Hanya saja, yang membedakan antara satu orang dengan
orang lain adalah kadar wilayahnya yang berbeda-beda. Dengan
demikian untuk menjadi pribadi yang sehat, maka sebaiknya kuadran I
diperbesar dan kuadran II, III, IV bila memungkinkan harus diperkecil.
Dengan memperlebar wilayah terbuka maka orang dapat mencapai
kesuksesan.
B. Saran
Mengingat pentingnya konsep diri yang dikaitkan dengan model
johari window untuk mengenal diri sendiri merupakan hal penting
sebab kita dapat mengetahui kelemahan dan kelebihan yang ada
pada diri kita. Disarankan setelah membaca dan memahami isi
makalah ini kita dapat mengaplikasikan ilmunya dalam kehidupan.
Sehingga, sikap saling mengerti dan menghargai sesama manusia
lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA

Rosdianah. 2019. Ilmu Komunikasi Untuk Kebidanan. Makassar

Ahmad, Mardiana dan Hadi Pajarianto. 2012. Komunikasi Dalam Praktik


Kebidanan. Makassar : Pustaka Refleksi

Romauli, Suryati dan Ahmad Wahyu Arrasyid. 2013. Komunikasi


Kebidanan. Jakarta : CV Trans Info Medika

Yulifah, Rita dan Tri Johan Agus Yuswanto. 2015. Komunikasi Dalam
Praktik Kebidanan. Jakarta : Salemba Medika

Pieter, Zan. . 2017. Dasar–Dasar Komunikasi Bagi Perawat. Jakarta :


Kencana

Saodah dan Narimah. 2014. Teori–Teori Komunikasi. Jakarta : CV Trans


Media