Anda di halaman 1dari 18

NAMA MK : SISTEM INFORMASI KESEHATAN

DOSEN PENGAMPU : ROSITA, S. ST., M. Kes

ISU KESEHATAN DALAM RUANG LINGKUP KEBIDANAN


(IMUNISASI dan PENYAKIT CAMPAK)

OLEH :

NAMA : SITI HARDIYANTI


NIM : A1 B1 19 131
KELAS :C

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV KEBIDANAN

FAKULTAS KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN

UNIVERSITAS MEGAREZKY

MAKASSAR

2019
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kita panjatkan kehadirat Allah swt., atas


berkat rahmat, taufik dan hidayahnya. Sehingga makalah ini dapat
terselesaikan dengan hasil yang tertuang dalam tulisan ini. Makalah ini
membahas mengenai salah satu isu kesehatan dalam ruang lingkup
kebidanan yakni “Tingkat Kejadian Campak di Indonesia“.

Penulis menyadari bahwa dalam penyelesaian makalah ini masih


terdapat banyak kekurangan sehingga jika kita mememukan kelebihannya
maka sesungguhnya kelebihan itu adalah rahmat dari Allah swt.
Penulis menyadari pula bahwa, penulis tidak akan mampu
menyelesaikan makalah ini tanpa sumbangsi dari berbagai pihak. Untuk
itu penulis menghanturkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu hingga makalah ini dapat terselesaikan.
Akhirnya hanya kepada Allah swt., penulis memohon ridha dan
magfirahnya semoga segala dukungan serta bantuan semua pihak
mendapat pahala yang berlipat ganda disisi Allah swt. Semoga makalah
ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Makassar, 5 Oktober 2019

Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR....................................................................................i
DAFTAR ISI.................................................................................................ii
BAB I Pendahuluan ....................................................................................1
A. Latar Belakang....................................................................................1
B. Rumusan Masalah..............................................................................2
C. Tujuan Penulisan................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN...............................................................................3
A. Defenisi Imunisasi...............................................................................3
B. Jenis-Jenis Imunisasi..........................................................................3
C. Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi...............................9
D. Tingkat Kejadian Penyakit Campak di Indonesia................................9
E. Upaya Pemerintah Dalam Pengendalian Penyakit Campak.............11
BAB III PENUTUP.....................................................................................13
A. Kesimpulan...............................................................................13
B. Saran........................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................15
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Derajat kesehatan masyarakat sebuah negara ditentukan oleh
beberapa indikator. Beberapa indikator yang dianggap signifikan
dalam menggambarkan derajat tersebut antara lain, kematian ibu,
kematian bayi, dan status gizi. Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka
Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih dianggap sensitif dalam
mendeteksi ada atau tidaknya perbaikan pada sektor pelayanan
kesehatan.
Angka Kematian Bayi menggambarkan banyaknya kejadian
kematian pada anak usia 0-11 bulan per 1.000 kelahiran hidup di
populasi. Indikator ini diperoleh berdasarkan hasil survey atau sensus
yang dilakukan secara periodik pada tahun tertentu. Hasil Survey
Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) yang dilaksanakan oleh
Badan Pusat Statistik menujukkan peningkatan. Namun demikian
peningkatan tersebut masih dianggap “on track”, yang artinya AKB
masih berpeluang dapat diturunkan. Kematian bayi dan balita dapat
disebabkan oleh infeksi, asfiksia, dan PD3I.
Imunisasi merupakan salah satu upaya pencegahan kematian
pada bayi dengan memberikan vaksin. Dengan imunisasi, seseorang
menjadi kebal terhadap penyakit khususnya penyakit infeksi. Dengan
demikian, angka kejadian penyakit infeksi akan menurun, kecacatan
serta kematian yang ditimbulkannya akan berkurang (Cahyono, 2010).
Strategisnya imunisasi sebagai alat pencegahan, menjadikan
imunisasi sebagai program utama suatu negara. Bahkan merupakan
salah satu alat pencegahan penyakit yang utama di dunia. Di
Indonesia, imunisasi merupakan andalan program kesehatan
(Achmadi, 2006). Angka cakupan imunisasi sering dipakai sebagai
indikator pencapaian pelayanan kesehatan (Marimbi, 2010).
Pada tahun 1974, WHO mencanangkan Expanded Programme
on Immunization (EPI) atau Program Pengembangan Imunisasi (PPI)
dalam rangka pencegahan penularan terhadap penyakit yang dapat
dicegah dengan imunisasi (PD3I), yaitu dengan cara meningkatkan
cakupan imunisasi pada anak-anak di seluruh belahan dunia. Di
Indonesia, PPI mulai diselenggarakan tahun 1977 dan berfokus pada
campak, tuberkulosis, difteri, tetanus, pertusis, polio. Sementara
imunisasi hepatitis B dimasukkan terakhir karena vaksin hepatitis B
baru tersedia pada tahun 1980-an (Depkes, 2005).
Campak merupakan salah satu penyakit yang dapat dicegah
dengan imunisasi. Pencapaian target imunisasi di Indonesia
mengalami penurunan dari tahun 2014 ke 2015 (Rahmawati 2017).
Campak merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan oleh
virus Paroxymyvirus. Pada umumnya menyerang anak-anak dan
termasuk penyakit endemis di banyak belahan dunia.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimkasud dengan imunisasi?
2. Sebutkan jenis-jenis imunisasi?
3. Penyakit apa saja yang dapat dicegah dengan imunisasi?
4. Bagaimana tingkat kejadian penyakit campak di Indonesia?
5. Bagaimana upaya atau tindakan pemerintah dalam pengendalian
penyakit campak?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui defenisi imunisasi.
2. Untuk mengetahui jenis-jenis imunisasi.
3. Untuk mengetahui penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
4. Untuk mengetahui tingkat kejadian penyakit campak di Indonesia.
5. Untuk mengetahui upaya atau tindakan pemerintah dalam
pengendalian penyakit campak.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Defenisi Imunisasi
Imunisasi adalah pemberian vaksin untuk mencegah terjadinya
penyakit tertentu. imunisasi merupakan kebutuhan yang harus
dipenuhi sejak bayi baru lahir untuk menjaga kesehatannya.
Kemudian demi memperpanjang “masa berlaku” perlindungannya,
beberapa jenis vaksin utama harus diulangi sesuai dengan jadwal dan
jarak yang telah ditentukan.
V a ksin a d a lah su a t u o ba t ya n g d ib e rika n u n tu k
m em ba n t u m e n cega h su a tu p e n ya kit . V a ksin mem b an tu
t u b uh u n tu k m en gh a silka n antibodi. Antibodi berfungsi
melindungi terhadap penyakit. Vaksin tidak hanya menjaga agar anak
tetap sehat, tetapi juga membantu membasmi penyakit yang serius
yang timbul pada masa kanak-kanak.
B. Jenis-Jenis Imunisasi
1. Hepatitis B
Vaksin ini diberikan untuk mencegah infeksi hati serius,
yang disebabkan oleh virus hepatitis B. Vaksin hepatitis B
diberikan dalam waktu 12 jam setelah bayi lahir, dengan didahului
suntik vitamin K, minimal 30 menit sebelumnya. Lalu, vaksin
kembali diberikan pada usia 2, 3, dan 4 bulan.
Vaksin hepatitis B dapat menimbulkan efek samping,
seperti demam serta lemas. Pada kasus yang jarang terjadi, efek
samping bisa berupa gatal-gatal, kulit kemerahan, dan
pembengkakan pada wajah.
2. Polio
Polio merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh
virus. Pada kasus yang parah, polio dapat menimbulkan keluhan
sesak napas, kelumpuhan, hingga kematian. Imunisasi polio
pertama kali diberikan saat anak baru dilahirkan hingga usia 1
bulan. Kemudian, vaksin kembali diberikan tiap bulan, yaitu saat
anak berusia 2, 3, dan 4 bulan. Untuk penguatan, vaksin bisa
kembali diberikan saat anak mencapai usia 18 bulan.
Vaksin polio bisa menimbulkan demam hingga lebih dari 39
derajat Celsius. Efek samping lain yang dapat terjadi meliputi
reaksi alergi seperti gatal-gatal, kulit kemerahan, sulit bernapas
atau menelan, serta bengkak pada wajah.
3. BCG
Vaksin BCG diberikan untuk mencegah perkembangan
tuberkulosis (TB), penyakit infeksi serius yang umumnya
menyerang paru-paru. Perlu diketahui bahwa vaksin BCG tidak
dapat melindungi orang dari infeksi TB. Akan tetapi, BCG bisa
mencegah infeksi TB berkembang ke kondisi penyakit TB yang
serius seperti meningitis TB.
Vaksin BCG hanya diberikan satu kali, yaitu saat bayi baru
dilahirkan, hingga usia 2 bulan. Bila sampai usia 3 bulan atau lebih
vaksin belum diberikan, dokter akan melakukan uji tuberculin atau
tes Mantoux terlebih dahulu, untuk melihat apakah bayi telah
terinfeksi TB atau belum. Vaksin BCG akan menimbulkan bisul
pada bekas suntikan dan muncul pada 2- 6 minggu setelah suntik
BCG. Bisul bernanah tersebut akan pecah, dan meninggalkan
jaringan parut. Sedangkan efek samping lain, seperti anafilaksis,
sangat jarang terjadi.
4. DPT
Vaksin DPT merupakan jenis vaksin gabungan untuk
mencegah penyakit difteri, pertusis, dan tetanus. Difteri merupakan
kondisi serius yang dapat menyebabkan sesak napas, paru-paru
basah, gangguan jantung, bahkan kematian. Tidak jauh berbeda
dengan difteri, pertusis atau batuk rejan adalah penyakit batuk
parah yang dapat memicu gangguan pernapasan, paru-paru basah
(pneumonia), bronkitis, kerusakan otak, hingga kematian.
Sedangkan tetanus adalah penyakit berbahaya yang dapat
menyebabkan kejang, kaku otot, hingga kematian.
Pemberian vaksin DPT harus dilakukan empat kali, yaitu
saat anak berusia 2, 3, dan 4 bulan. Vaksin dapat kembali
diberikan pada usia 18 bulan dan 5 tahun sebagai penguatan.
Kemudian, pemberian vaksin lanjutan dapat diberikan pada usia
10-12 tahun, dan 18 tahun.
5. Hib
Vaksin Hib diberikan untuk mencegah infeksi bakteri
Haemophilus influenza tipe B. Infeksi bakteri tersebut dapat
memicu kondisi berbahaya, seperti meningitis (radang selaput
otak), pneumonia (paru-paru basah), septic arthritis (radang sendi),
serta perikarditis (radang pada lapisan pelindung jantung).
Imunisasi Hib diberikan 4 kali, yaitu saat anak berusia 2 bulan, 3
bulan, 4 bulan, dan dalam rentang usia 15-18 bulan. Sebagaimana
vaksin lain, vaksin Hib juga dapat menimbulkan efek samping,
antara lain demam di atas 39 derajat Celsius, diare, dan nafsu
makan berkurang.
6. Campak
Campak adalah infeksi virus pada anak yang ditandai
dengan beberapa gejala, seperti demam, pilek, batuk kering, ruam,
serta radang pada mata. Imunisasi campak diberikan saat anak
berusia 9 bulan. Sebagai penguatan, vaksin dapat kembali
diberikan pada usia 18 bulan. Tetapi bila anak sudah mendapatkan
vaksin MMR, pemberian vaksin campak kedua tidak perlu
diberikan.
7. MMR
Vaksin MMR merupakan vaksin kombinasi untuk mencegah
campak, gondongan, dan rubella (campak Jerman). Tiga kondisi
tersebut merupakan infeksi serius yang dapat menyebabkan
komplikasi berbahaya, seperti meningitis, pembengkakan otak,
hingga hilang pendengaran (tuli).
Vaksin MMR diberikan saat anak berusia 15 bulan,
kemudian diberikan lagi pada usia 5 tahun sebagai penguatan.
Imunisasi MMR dilakukan dalam jarak minimal 6 bulan dengan
imunisasi campak. Namun bila pada usia 12 bulan anak belum
juga mendapatkan vaksin campak, maka dapat diberikan vaksin
MMR.
Vaksin MMR dapat menyebabkan demam lebih dari 39
derajat Celsius. Efek samping lain yang dapat muncul adalah
reaksi alergi seperti gatal, gangguan dalam bernapas atau
menelan, serta bengkak pada wajah.
Banyak beredar isu negatif seputar imunisasi, salah satunya
adalah isu vaksin MMR yang dapat menyebabkan autisme. Isu
tersebut sama sekali tidak benar. Hingga kini tidak ditemukan
kaitan yang kuat antara imunisasi MMR dengan autisme.
8. PCV
Vaksin PCV (pneumokokus) diberikan untuk mencegah
pneumonia, meningitis, dan septikemia, yang disebabkan oleh
bakteri Streptococcus pneumoniae. Pemberian vaksin harus
dilakukan secara berangkai, yaitu saat anak berusia 2, 4, dan 6
bulan. Selanjutnya pemberian vaksin kembali dilakukan saat anak
berusia 12-15 bulan. Efek samping yang mungkin timbul dari
imunisasi PCV, antara lain adalah pembengkakan dan kemerahan
pada bagian yang disuntik, yang disertai demam ringan.
9. Japanese Encephalitis (JE)
Japanese encephalitis (JE) adalah infeksi virus pada otak,
yang menyebar melalui gigitan nyamuk. Pada umumnya, JE hanya
menimbulkan gejala ringan seperti flu. Tetapi pada sebagian
orang, JE dapat menyebabkan demam tinggi, kejang, hingga
kelumpuhan.
Vaksin JE diberikan mulai usia 1 tahun, terutama bila
tinggal atau bepergian ke derah endemis JE. Vaksin dapat kembali
diberikan 1-2 tahun berikutnya untuk perlindungan jangka panjang.
10. Rotavirus
Imunisasi ini diberikan untuk mencegah diare akibat infeksi
rotavirus. Vaksin rotavirus diberikan 3 kali, yaitu saat bayi berusia
2, 4, dan 6 bulan. Sama seperti vaksin lain, vaksin rotavirus juga
menimbulkan efek samping. Pada umumnya, efek samping yang
muncul tergolong ringan, seperti diare ringan, dan anak menjadi
rewel.
11. Influenza
Vaksin influenza diberikan untuk mencegah flu. Vaksinasi
ini bisa diberikan pada anak berusia 6 bulan dengan frekuensi
pengulangan 1 kali tiap tahun, hingga usia 18 tahun. Efek samping
imunisasi influenza, antara lain demam, batuk, sakit tenggorokan,
nyeri otot, dan sakit kepala. Pada kasus yang jarang, efek samping
yang dapat muncul meliputi sesak napas, sakit pada telinga, dada
terasa sesak.
12. Tifus
Vaksin ini diberikan untuk mencegah penyakit tifus, yang
disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Pemberian vaksin tifus
dapat dilakukan saat anak berusia 2 tahun, dengan frekuensi
pengulangan tiap 3 tahun, hingga usia 18 tahun. Meskipun jarang,
vaksin tifus dapat menimbulkan sejumlah efek samping, seperti
diare, demam, mual dan muntah, serta kram perut.
13. Hepatitis A
Sesuai namanya, imunisasi ini bertujuan untuk mencegah
hepatitis A, yaitu penyakit peradangan hati yang disebabkan oleh
infeksi virus. Vaksin hepatitis A harus diberikan 2 kali, pada
rentang usia 2-18 tahun. Suntikan pertama dan kedua harus
berjarak 6 bulan atau 1 tahun. Vaksin hepatitis A dapat
menimbulkan efek samping seperti demam dan lemas. Efek
samping lain yang tergolong jarang meliputi gatal-gatal, batuk,
sakit kepala, dan hidung tersumbat.
14. Varisela
Vaksin ini diberikan untuk mencegah penyakit cacar air,
yang disebabkan oleh virus Varicella zoster. Imunisasi varisela
dilakukan pada anak usia 1-18 tahun. Bila vaksin diberikan pada
anak usia 13 tahun ke atas, vaksin diberikan dalam 2 dosis,
dengan jarak waktu minimal 4 minggu. 1 dari 5 anak yang
diberikan vaksin varisela mengalami nyeri dan kemerahan pada
area yang disuntik. Vaksin varisela juga dapat menimbulkan ruam
kulit, tetapi efek samping ini hanya terjadi pada 1 dari 10 anak.
15. HPV
Vaksin HPV diberikan kepada remaja perempuan untuk
mencegah kanker serviks, yang umumnya disebabkan oleh virus
Human papillomavirus. Vaksin HPV diberikan 2 atau 3 kali, mulai
usia 10 hingga 18 tahun. Umumnya, vaksin HPV menimbulkan
efek samping berupa sakit kepala, serta nyeri dan kemerahan
pada area bekas suntikan. Akan tetapi, efek samping tersebut
akan hilang dalam beberapa hari. Pada kasus yang jarang,
penerima vaksin HPV dapat mengalami demam, mual, dan gatal
atau memar di area bekas suntikan.
16. Dengue
Imunisasi dengue dilakukan untuk mengurangi risiko
demam berdarah, yang disebarkan oleh nyamuk Aedes aegypti.
Vaksin dengue diberikan 3 kali dengan interval 6 bulan, pada usia
9 hingga 16 tahun.
C. Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)
Adapun beberapa penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi
adalah sebagai berikut:
1. Difteri
2. Pertusis
3. Tetanus
4. Campak
5. Tuberculosis (TB)
6. Polio
7. Hepatitis B
D. Tingkat Kejadian Penyakit Campak Di Indonesia
Salah satu penyakit yang termasuk ke dalam golongan PD3I
adalah Campak. Campak merupakan penyakit yang sangat mudah
menular yang disebabkan oleh virus dan ditularkan melalui batuk dan
bersin. Gejala penyakit Campak adalah demam tinggi, bercak
kemerahan pada kulit (rash) disertai dengan batuk dan/atau pilek
dan/atau mata merah (conjunctivitis). Penyakit ini akan sangat
berbahaya bila disertai dengan komplikasi pneumonia, diare,
meningitis, bahkan dapat menyebabkan kematian.
Manusia diperkirakan satu-satunya reservoir, walaupun monyet
dapat terinfeksi tetapi tidak berperan dalam penularan. Setiap orang
yang belum pernah divaksinasi Campak atau sudah divaksinasi tapi
belum mendapatkan kekebalan, berisiko tinggi tertular Campak dan
komplikasinya, termasuk kematian.
Pada tahun 1980, sebelum imunisasi dilakukan secara luas,
diperkirakan lebih 20 juta orang di dunia terkena Campak dengan 2,6
juta kematian setiap tahun yang sebagian besar adalah anak-anak di
bawah usia lima tahun. Indonesia merupakan salah satu dari negara-
negara dengan kasus Campak terbanyak di dunia.
Setiap tahun melalui kegiatan surveilans dilaporkan lebih dari
11.000 kasus suspek campak, dan hasil konfirmasi laboratorium
menunjukkan 12–39% di antaranya adalah campak pasti (lab
confirmed). Dari tahun 2010 sampai 2015, diperkirakan terdapat
23.164 kasus campak. Jumlah kasus ini diperkirakan masih lebih
rendah dibanding angka sebenarnya di lapangan, mengingat masih
banyaknya kasus yang tidak terlaporkan, terutama dari pelayanan
kesehatan swasta serta kelengkapan laporan surveilans yang masih
rendah.
Incidence Rate Campak per 100.000 penduduk di Indonesia
pada tahun 2011-2015 menunjukkan kecenderungan penurunan, dari
9,2 menjadi 3,2 per 100.000 penduduk. Namun demikian, Incidence
rate cenderung naik dari tahun 2015 sampai dengan 2017, yaitu
dari 3,2 menjadi 5,6 per 100.000 penduduk. Suspek campak pada
tahun 2018 tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia, dengan
Incidence Rate (IR) sebesar 3,18 per 100.000 penduduk. Angka
tersebut menurun dibandingkan tahun 2017 yang sebesar 5,6 per
100.000 penduduk. Kasus suspek campak terbanyak terdapat di
Provinsi Aceh (1.619 kasus), DKI Jakarta (578 kasus), DI Yogyakarta
(546 kasus), dan Sumatera Selatan (505 kasus).
Apabila terjadi 5 atau lebih kasus suspek campak dalam waktu
4 minggu berturut-turut, yang terjadi secara mengelompok, dan
dibuktikan adanya hubungan epidemiologis di suatu daerah, maka
dinyatakan KLB suspek campak. KLB Campak dalam tiga tahun
terakhir hampir di setiap provinsi dengan jumlah provinsi melaporkan
KLB meningkat dari 27 provinsi tahun 2015 menjadi 30 provinsi tahun
2017. Pada tahun 2018, dari 8.429 kasus suspek campak terdapat 85
kasus KLB suspek campak. Jumlah tersebut lebih rendah
dibandingkan dengan tahun 2017 dengan 349 KLB dan jumlah kasus
sebanyak 3.056 kasus.
KLB suspek campak terbanyak terdapat pada Provinsi
Kalimantan Selatan sebanyak 13 KLB dengan 251 kasus suspek.
Diikuti oleh Provinsi Sulawesi Selatan sebanyak 11 KLB dengan 330
kasus suspek. Sementara itu, walaupun di Provinsi Aceh terjadi 1.619
kasus suspek, namun hanya terdapat 3 kasus KLB suspek campak.
Semua KLB suspek campak yang terjadi pada tahun 2018 dilaporkan
tidak ada kematian.
E. Upaya atau Tindakan Pemerintah Dalam Pengendalian Penyakit
Campak
Meskipun Campak sangat menular dan bisa menyebabkan
kematian, penyakit ini dapat dicegah melalui program Imunisasi.
Pengendalian Campak di Indonesia diawali pada tahun 1982. Program
Imunisasi Nasional diperluas dan mulai menerapkan jadwal standar
untuk imunisasi rutin yang mencakup dosis vaksin Campak diberikan
pada usia 9 bulan. Cakupan imunisasi Campak semakin meningkat
sehingga pada tahun 1990 dapat mencapai lebih dari 90%. Pada tahun
2000, dalam rangka mengatasi KLB dan memberikan kesempatan kedua
bagi anak yang belum diimunisasi atau pun yang belum terbentuk
kekebalannya, maka ditetapkan 3 strategi pengendalian Campak:
1. Crash program Campak untuk anak balita di daerah risiko tinggi
2. Catch-up campaign Campak untuk anak sekolah
3. Introduksi pemberian dosis kedua melalui kegiatan rutin BIAS untuk
kelas satu SD pada tahun berikutnya setelah catch-up campaign.
Reduksi Campak ditargetkan untuk mengurangi kematian
akibat Campak hingga 90% pada 2010 berdasarkan perkiraan pada
tahun 2000. Setelah tercapai reduksi Campak maka fase selanjutnya
adalah upaya untuk mencapai eliminasi yang telah disepakati akan
dicapai pada tahun 2020.
Pada tahun 2014 untuk lebih meningkatkan kekebalan pada
anak-anak, maka dikeluarkan kebijakan pemberian imunisasi Campak
lanjutan pada anak usia 24 bulan dan sesuai dengan Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 12 Tahun 2017 pemberian imunisasi Campak
lanjutan dosis ke-2 diberikan pada anak usia 18 bulan.
Dalam rangka mencapai cakupan imunisasi yang tinggi dan
merata di setiap wilayah, Menteri Kesehatan mengimbau agar seluruh
Kepala Daerah (1) mengatasi dengan cermat hambatan utama di
masing-masing daerah dalam pelaksanaan program imunisasi; (2)
menggerakkan sumber daya semua sektor terkait termasuk swasta;
dan (3) meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya
imunisasi rutin lengkap sehingga mau dan mampu mendatangi tempat
pelayanan imunisasi.
Selain pelaksanaan imunisasi, salah satu strategi untuk
mencapai eliminasi dan pengendalian Campak di Indonesia adalah
pelaksanaan surveilans Campak Rubella berbasis individu yang dikenal
juga dengan CBMS (case based measles surveillance). Pelaksanaan
surveilans ini jika ditemukan setiap satu kasus dengan gejala demam,
rash/bintik merah pada tubuh, disertai salah satu gejala atau lebih
batuk/pilek/mata merah, maka diambil spesimen darah/serum
diperiksa di laboratorium rujukan nasional yaitu Badan Litbangkes
Kemenkes, Bio Farma, BBLK Surabaya dan BLK Yogyakarta untuk
memastikan diagnosis Campak atau Rubella.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Imunisasi adalah pemberian vaksin untuk mencegah terjadinya
penyakit tertentu. imunisasi merupakan kebutuhan yang harus
dipenuhi sejak bayi baru lahir untuk menjaga kesehatannya. Ada
beberapa jenis imunisasi yang harus diperoleh oleh anak diantaranya:
Hepatitis B, BCG, Polio, DPT, Hib, Campak, MMR, PCV, Rotavirus,
Influenza, Tifus, Hepatitis A, Varisela, HPV, JE, dan Dengue.
Imunisasi wajib diantranya: Hepatitis B, BCG, Polio tetes 1-4, Polio
Suntik (IPV), DPT-HB-Hib 1-3, Campak-Rubella, PCV 1-3 dan JE.
Pemberian imunisasi PCV dan JE baru berlaku dibeberapa daerah
percontohan (demonstrasi program).
Salah satu penyakit yang mendapat perhatian khusus oleh
pemerintah dan termasuk ke dalam golongan PD3I adalah Campak.
Campak merupakan penyakit yang sangat mudah menular yang
disebabkan oleh virus dan ditularkan melalui batuk dan bersin. Gejala
penyakit Campak adalah demam tinggi, bercak kemerahan pada kulit
(rash) disertai dengan batuk dan/atau pilek dan/atau mata merah
(conjunctivitis). Penyakit ini akan sangat berbahaya bila disertai
dengan komplikasi pneumonia, diare, meningitis, bahkan dapat
menyebabkan kematian.
Incidence Rate Campak per 100.000 penduduk di Indonesia
pada tahun 2011-2015 menunjukkan kecenderungan penurunan, dari
9,2 menjadi 3,2 per 100.000 penduduk. Namun demikian, Incidence
rate cenderung naik dari tahun 2015 sampai dengan 2017, yaitu
dari 3,2 menjadi 5,6 per 100.000 penduduk. Suspek campak pada
tahun 2018 tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia, dengan
Incidence Rate (IR) sebesar 3,18 per 100.000 penduduk. Angka
tersebut menurun dibandingkan tahun 2017 yang sebesar 5,6 per
100.000 penduduk.
3 strategi pengendalian Campak:
1. Crash program Campak untuk anak balita di daerah risiko tinggi
2. Catch-up campaign Campak untuk anak sekolah
3. Introduksi pemberian dosis kedua melalui kegiatan rutin BIAS
untuk kelas satu SD pada tahun berikutnya setelah catch-up
campaign.
Selain pelaksanaan imunisasi, salah satu strategi untuk mencapai
eliminasi dan pengendalian Campak di Indonesia adalah pelaksanaan
surveilans Campak Rubella berbasis individu yang dikenal juga dengan
CBMS (case based measles surveillance).
B. Saran
Imunisasi merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi sejak
bayi baru lahir untuk menjaga kesehatannya. Sehingga kesadaran dan
kemauan masyarakat sangat diperlukan untuk mencapai cakupan
imunisasi yang tinggi dan merata di setiap wilayah. Mengingat
pentingnya imunisasi yang rutin dan lengkap untuk menjaga
kesehatan anak dari penularan penyakit yang serius yang timbul pada
masa kanak-kanak.
DAFTAR PUSTAKA

Sembiring, Julina Br. 2018. Asuhan Neonatus, Bayi, Balita dan Anak Pra
Sekolah. Yogyakarta: Deepublish
Kemenkes RI. 2019. Buku Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta: DIPA
Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. 2018. Imunisasi,
Situasi Campak Di Indonesia.

Kemenkes RI. 2018. Profil Kesehatan Indonesia.