Anda di halaman 1dari 10

Struktur Sel Bakteri

1. Membran sel

Gambar 1. Membran sel bakteri


Membran sel merupakan struktur yang tipis yang meliputi sel. Struktur ini
terdiri dari fosfolipida (20-30%) dan protein (60-70)%. Fosfolipida merupakan
struktur dasar dari membran ini, dan merupakan lapisan ganda dengan protein
integral yang tersebar di dalamnya. Protein ini sangat erat ikatannya sehingga hanya
terlepas bila diberi perlakuan atau dirusakkan. Protein lainnya (protein periferal)
dapat dibebaskan dengan perlakuan seperti tekanan osmotik. Kemantapan dari
struktur membran disebabkan oleh adanya ikatan hidrogen, ikatan hidrofobik,
kation Mg dan Ca yang berikatan dengan muatan negatif pada lapisan fosfolipida.
Matrik pada lapisan fosfolipida bersifat cair, sifat cair ini sangat penting untuk
berfungsinya membran, sifat ini juga ditentukan oleh suhu dan perbandingan asam
lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh dalam fosfolipida. Membran sel
merupakan pembatas antara sitoplasma dan lingkungan luar. Bila terjadi kerusakan
pada struktur ini, maka akan terjadi gangguan pada keutuhan sel sehingga akan
mengakibatkan kematian sel (Lay & Hastowo, 1992).
2. Dinding sel
Gambar 2. Diagram perbandingan dinding sel bakteri Gram positif dan bakteri
Gram negatif secara detail (sumber : Salton & Kwang-Shin, 2001).

Dinding sel memberikan bentuk dan kekuatan pada sel. Bakteri Gram-
positif dan Gram-negatif mempunyai perbedaan dalam struktur dinding selnya.
Dinding sel bakteri Gram-negatif merupakan struktur berlapis sedangkan bakteri
Gram-positif hanya mempunyai satu lapis yang tebal. Meskipun strukturnya
berbeda, susunan kimia dari dinding sel kedua kelompok bakteri ini tidaklah
menunjukkan perbedaan yang mencolok. Bagian dinding sel yang memberikan sifat
kaku ini disebut peptidoglikan (Lay & Hastowo, 1992).
Ikatan glikosida dan ikatan dan ikatan peptida pada peptidoglikan
menyebabkan suatu bentuk anyaman seperti jala yang kuat dari dinding sel,
sehingga dapat menahan tekanan dari luar. Dinding sel bakteri Gram-positif
memiliki kandungan peptidoglikan yang lebih tinggi dibandingkan bakteri Gram-
negatif. Pada bakteri Gram-positif polimer ini dapat mencapai 50%, sedangkan
bakteri Gram-negatif mempunyai sekitar 10 %. Dinding sel bakteri Gram-positif
memiliki asam teikoat, asam teikoat merupakan polisakarida yang bersifat asam
dan mengandung ulangan rantai gliserol atau ribitol. Asam teikoat mengikat ion
magnesium, ion ini berperan dalam membran sitoplasma sehingga memberikan
ketahanan terhadap suhu tinggi. Asam teikoat ini bermuatan negatif, sehingga
menyebabkan muatan negatif pada permukaan sel bakteri Gram-positif. Fungsi lain
dari asam teikoat adalah sebagai pengatur dinding sel sewaktu pertumbuhan atau
pembelahan sel. Ketika terjadi pertumbuhan sel, enzim otolisin akan merusak
dinding sel yang lama kemudian akan digantikan dengan dinding sel baru. Daya
kerja dari enzim otolisin ini harus diatur, karena kerusakan dapat saja terjadi pada
dinding sel yang baru tumbuh, sehingga akan meyebabkan lisis. Asam teikoat ini
berfingsi untuk mengatur otolisin sehingga enzim ini bekerja bersama-sama dengan
sintesis dinding sel (Lay & Hastowo, 1992).
Dinding sel bakteri Gram-negatif lebih kompleks dibandingkan bakteri
Gram-positif. Perbedaan utama ialah adanya lapisan membran luar, yang meliputi
peptidoglikan, kehadiran membran ini menyebabkan dinding sel bakteri Gram-
negatif kaya akan lipid (11-22%). Pada bakteri Gram-negatif, lapisan membran luar
disebut “outer wall layer” yang mempunyai struktur sebagai unit membran.
Perbedaannya yaitu lapisan ini tidak hanya terdiri dari fosfolipida saja seperti pada
membral sel tetapi mengandung lipid lainnya, polisakarida dan protein. Lipid dan
polisakarida ini berhubungan erat dan membentuk struktur khas yang disebut
lipopolisakarida atau LPS (Lay & Hastowo, 1992).
3. Flagel

Gambar 3. Struktur flahel bakteri (sumber : Fardiaz, 1992)

Flagela merupakan alat gerak dari bakteri yang bersifat motil. Alat gerak ini
sangat halus (20 nm) sehingga tidak dapat terlihat langsung melalui mikroskop
medan terang. Untuk dapat melihat flagela diperlakukan teknik pewarnaan khusus.
Flagela terdiri dari protein yang disebut flagelin. Susunan asam amino dari flagela
sedikit berbeda bila dibandingkan dengan bagian sel lainnya. Asam amino yang
seringkali ditemukan adalah:
a. asam amino aromatik dan yang mengandung sulfur, kedua jenis asam amino ini
terdapat dalam jumlah sedikit.
b. Asam aspartat dan glutamat, kedua jenis asam amino ini terdapat dalam jumlah
yang banyak.
Bentuk dan panjangnya flagel tergantung pada susunan protein flagelin, bila
terdapat perubahan pada susunan ini maka akan terjadi juga perubahan bentuk dan
panjang flagela (Lay & Hastowo, 1992). Pergerakan flagela bakteri yaitu denagan
memutar flagela berbentuk heliks. Cara pergerakannya digambarkan sebagai
gerakan renang yang diikuti oleh gerakan bolak balik, sehingga arah gerakan
berbeda diikuti kembali oleh gerakan renang. Letak flagel mempengaruhi
pergerakan bakteri. Pada bakteri yang memiliki bentuk polar atau lopotrikos
pergerakannya hanyalah satu arah. Sedangkan yang memiliki flagel peritrikos akan
berputar-putar menuju kesegala arah, seakan terlihat seperti melompat-lompat dari
satu tempat ke tempat yang lain. Kemampuan bakteri yang motil untuk mendekati
atau menjauh senyawa kimia disebut kemotaksis. Kemampuan ini disebabkan
adanya kemoreseptor yang terletak pada ruang periplasma (Lay & Hastowo, 1992).

4. Fimbrie

Gambar 4. Pili atau fimbrie bakteri

Fimbria, disebut juga pili dapat diamati dengan mikroskop elektron pada
permukaan beberapa jenis sel bakteri. Fimbria merupakan mikrofibril serupa
rambut berukuran 0,004 – 0,008 µm. Fimbria lebih lurus, lebih tipis dan lebih
pendek dibandingkan dengan flagela. Fungsi fimbria dianggap membantu bakteri
untuk bertahan hidup dan berinteraksi dengan inang. Pada bakteri patogen yang
menyebabkan infeksi, fimbria dan komponen permukaan lainnya dapat berperan
sebagai faktor pelekat spesifik, yang disebut adhesin. Spesifisitas perlekatan
fimbria dapat menyebabkan bakteri menempel dan berkoloni pada jaringan inang
spesifik (Milton & Kwang-Shin, 2001).
Beberapa bakteri menghasilkan pili khusus yang disebut konjugasi atau pili
seks yang mampu berkonjugasi. Konjugasi merupakan transfer DNA dari donor
atau bakteri jantan dengan pili seks ke resipien atau bakteri betina agar dapat terjadi
rekombinan genetik (Subandi, 2014).
Mikrofibril bakteri Gram-negatif, sering disebut pili umum (fimbria) atau
sebagai pili seks. Mikrofibril terdapat secara bebas atau secara simultan pada sel
yang sama. Pada permukaan sel tersebar sekitar 100 – 200 fimbria, hanya 1- 4 pili
seks ditemukan pada daerah tertentu. Pili seks berfungsi untuk mendeteksi adanya
antigen spesifik atau diduga untuk meng-inaktifkan bakteriofaga tertentu, yang
menempel secara spesifik pada pili seks. Faga RNA spesifik menempel sepanjang
filamen pili seks, sedangkan faga DNA berbentuk filamen menempel pada ujung
pili. Struktur mikrofibril juga dapat dilibatkan dalam meluncur dan gerak kedutan
lambat pada bakteri yang tidak berflagel (translokasi permukaan) (Milton &
Kwang-Shin, 2001).
5. Kapsul

Gambar 5. Struktur kapsul pada sel bakteri (sumber : Kenneth, 2001).

Kapsul merupakan lapisan polimer yang terletak di luar dinding sel. Jika
lapisan ini berlekatan dengan dinding sel, maka lapisan ini disebut kapsul, bila
lapisan polisakarida ini tidak melekat pada dinding sel, maka lapisan ini disebut
lendir. Kapsul dapat diwarnai. Bila lapisan ini sangat banyak sehingga beberapa sel
bakteri terendam didalamnya, lapisan ini disebut lapisan lendir.
Fungsi kapsul :
a. Mencegah terhadap kekeringan
b. Menghambat pencantelan bakteriofag
c. Bersifat antifagosit, sehingga kapsel memberikan sifat virulen bagi bakteri
d. Mencantelkan diri pada permukaan (contoh: Streptococcus mutans)
6. Spora

Gambar 6. Struktur endospora (sumber : Kenneth, 2001).

Gambar 7. Beberapa tipe spora atau endospora berdasarkan bentuk dan


lokasinya pada sel bakteri (a) tipe endospora di ujungg sel/terminal (b) di tengah
sel (sentralis) (c) tipe endospora bakteri streptobasil (sumber : Kenneth, 2001).

Spora atau endospora bukan struktur reproduktif, tetapi sebagai bentuk


pertahanan hidup yang dorman dan resisten dari organisme. Endospora dapat
bertahan ribuan tahun sampai kondisi lingkungan mrangsang perkecambahan,
sehingga tumbuh menjadi bakteri vegetatif tunggal (Subandi, 2014). Spora bakteri
merupakan struktur bakteri yang tahan panas, sehingga seringkali selalu kesulitan
dalam proses sterilisasi. Selain tahan panas spora bakteri juga tahan terhadap
kekeringan, radiasi, asam, dan desinfektans. Resistensi panas dari endospora
disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut.
a. Kalsium diplikolinat, kalsium ini berlimpah di dalam endospora, akan
menstabilkan dan melindungi DNA endospora.
b. Protein pengikat DNA memenuhi DNA endospora, dan melindunginya dari
panas, pengeringan, zat kimia, dan radiasi.
c. Korteks secara osmosis mengeluarkan air dari dalam endospora dan dehidrasi
ini menjadi penting agar endospora resisten terhadap panas dan radiasi.
d. Enzim memperbaiki DNA yang terkandung dalam endospora, dan dapat
memperbaiki DNA yang rusak selama perkecambahan (Subandi, 2014).
Pada kondisi yang merugikan terutama bila tidak ada sumber karbon dan
nitrogen, endospora tunggal dibentuk di dalam bakteri, prosesnya disebut sporulasi
(Subandi, 2014). Dengan mikroskop biasa, spora akan terlihat sebagai struktur yang
refraktil. Spora bersifat impermeabel terhadap zat warna, sehingga diperlukan
teknik perwarnaan khusus untuk mewarnai spora (Lay & Hastowo, 1992).

7. Volutin
Volutin bakteri (granul metakromatik) adalah bahan basofilik yang
refraktif. Volutin ini terdiri daripada polimetafosfat yang mempunyai berat molekul
tinggi dan dihubungkaitkan dengan bakteria genus corynebacterium. Jika diwarnai
dengan toluidina biru, kompenen ini akan kelihatan berwarna biru kehitaman dan
bukan biru. Keadaan ini disebabkan oleh fenomena metakromatik yang melibatkan
perubahan di dalam warna sesuatu bahan. Toluidina biru adalah pewarna
metakromatik, apabila pewarna ini masuk ke dalam kompleks granul volutin yang
besar, volutin ini mengubah spektrum serapan toluidina biru supaya pada mata
kasar pewarna ini talah berubah warnanya dari biru ke biru kehitaman. Tetapi jika
metilena biru digunakan, granul volutin akan kelihatan merah dan bukan
biru. Walau bagaimanapun, keadaan ini bukanlah merupakan fenomena
metakromasi sungguhpun dalam bidang bakteriologi ia dinyatakan demikian.
Dalam keadaan ini, pendedahan metilena biru kepada udara menyababkan
sebahagian kecil daripada pewarna ini dioksidasi menjadi metilena ungu pada pH
tinggi dan metilena ungu secara selektif mewarnakan volutin tersebut.

8. Sitoplasma
Di dalam sitoplasma dapat ditemukan asam nukleat (DNA dan RNA), enzim
dan asam amino, karbohidrat, lipid, ion anorganik dan berberapa senyawa berberat
molekul rendah. Sekitar 80% dari sitoplasma bakteri mengandung air. Komponen
cair dari sitoplasma disebut sitosol. Sitoplasma bakteri juga mengandung protein
seperti aktin yang berbentuk heliks disepanjang dinding sel, yang berkontribusi
terhadap bentuk sel. Beberapa kelompok bakteri menghasilkan badan dalam
sitoplasma yang melaksanakan fungsi seluler khas. Saat bakteri mensekretkan
ekoenzim untuk menghidrolisis makromolekul menjadi molekul yang lebih kecil
agar dapat ditranspor melintasi membran sitoplasma. Reaksi kimia yang terjadi di
dalam bakteri dikontrol endoenzim (Subandi, 2014).

DAFTAR RUJUKAN

Fardiaz, S. 1992. Mikrobiologi Pangan 1. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Jones & Bartlett. (Tidak dicantumkan tahun). Cell Strcture and Function in the
Bacteria and Archaea, (online), (http://Microbiology.jbpub.com/), diakses 23
Januari 2019.

Lay, Bibiana W. & Hastowo, S. 1992. Mikrobiologi. Bogor: CV Rajawali

Milton R.J. Salton & Kwang-Shin Kim, 2001. Structur of Bacteria. Departement of
Baceriology University of WisconsinMadison. USA. (www.bact.wisc.edu).

Subandi, H.M. 2014. Mikrobiologi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Todar, Kenneth, 2001. Biological identity of Procaryotes. Departement of


Baceriology University of Wisconsin-Madison. USA. (www.bact.wisc.edu).