Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan kebudayaan masyarakat, membawa banyak perubahan dalam
segala segi kehidupan manusia. Setiap perubahan situasi kehidupan individu baik yang
sifatnya positif ataupun yang negatif dapat mempengaruhi keseimbangan fisik, mental,
dan sosial. Manusia selalu berusaha untuk mempertahankan keseimbangan agar selalu
sehat baik fisik, mental ataupun sosial. Manusia sebagai makluk biologi-psikologi-sosial-
cultural mempunyai sejumlah kebutuhan dasar yang harus dipenuhi dan apabila
mengalami kegagalan dalam mendapatkan keutuhan tersebut, maka akan terjadi
ketidakseimbangan (Stuart and Sunnden,1991).
Seseorang akan beradaptasi terhadap ketidakseimbangan melalui mekanisme
penanganan yang dipelajari pada masa lampau. Apabila seseorang berhasil beradaptasi
dimasa lampau, berarti ia telah mempelajari efektifitas mekanisme penanganan yang
sangat berguna bagi dirinya pada saat ini dan dimasa yang akan datang dan sebaliknya,
jika adaptasi dimasa lampau tak berhasil, maka ia tak punya mekanisme penanganan
yang adekuat untuk beradaptasi terhadap kesulitan yang lebih komplek dimasa
mendatang dan bisa menyebabkan terjadinya keadaan yang mempunyai pengaruh buruk
terhadap kesehatan jiwa atau dengan kata lain adalah gangguan jiwa.
Salah satu tanda dan gejala gangguan jiwa adalah ungkapan marah yang mal
adaptif yang dilakukan seseorang karena gagal dalam beradaptasi dan tak punya
mekanisme penanganan yang adekuat. Ungkapan marah yang mal adaptif, salah satunya
adalah agresif, yang akan membahayakan karena dapat timbul dorongan untuk bertindak
baik secara kontruktif maupun destruktif dan masih terkontrol. Marah agresif adalah
suatu prilaku yang menyertai rasa marah dan merupakan dorongan untuk bertindak baik
secara kontruktif maupun destruktif dan masih terkontrol. Pasien dengan marah agresif
akan bersifat menentang, suka membantah, bersikap kasar, kecenderungan menuntut
secara terus-menerus, bertingkah laku kasar disertai kekerasan (Stuart and Sunden,1991).
Permasalahan yang dihadapi dalam perawatan pasien dengan marah agresif adalah sikap
pasien yang tak kooperatif, membahayakan dirinya sendiri dan lingkungan serta masalah
pasien yang dapat menimbulkan dorongan agresifnya.

1
Umumnya klien dengan perilaku kekerasan dibawa dengan paksa ke rumah sakit
jiwa. Sering tampak klien diikat secara tidak manusiawi disertai bentakan dan
“pengawalan” oleh sejumlah anggota keluarga bahkan polisi. Perilaku kekerasan seperti
memukul anggota keluarga/orang lain, merusak alat rumah tangga dan marah-marah
merupakan alasan utama yang paling banyak dikemukakan oleh keluarga. Penanganan
yang dilakukan oleh keluarga belum memadai sehingga selama perawatan klien
setidaknya sekeluarga mendapat pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien
(manajemen perilaku kekerasan). Asuhan keperawatan yang diberikan di rumah sakit
jiwa terhadap perilaku kekerasan perlu ditingkatkan serta dengan perawatan intensif di
rumah sakit umum. Asuhan keperawatan perilaku kekerasan (MPK) yaitu asuhan
keperawatan yang bertujuan melatih klien mengontrol perilaku kekerasannya dan
pendidikan kesehatan tentang MPK pada keluarga. Seluruh asuhan keperawatan ini dapat
dituangkan menjadi pendekatan proses keperawatan.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep dasar mengenai perilaku kekerasan pada keluarga?
2. Bagaimana asuhan keperawatan jiwa perilaku kekerasan pada keluarga?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Memperoleh pengalaman nyata dalam melakukan Asuhan keperawatan jiwa perilaku
kekerasan pada keluarga yang diharapkan akan mampu mengidentifikasikan seluruh
masalah yang terjadi sehubungan dengan Perilaku kekerasan.
2. Tujuan Khusus.
- Untuk mengetahui konsep dasar mengenai perilaku kekerasan.
- Untuk mengetahui mengenai asuhan keperawatan klien perilaku kekerasan.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Kekerasan dalam Rumah Tangga


Perilaku kekerasan dalam keluarga adalah suatu keadaan dimana seseorang
melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap perempuan
maupun anak. Hal tersebut dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah
yang tidak konstruktif. (Stuart dan Sundeen, 1995)
Undang-Undang PKDRT ini menyebutkan bahwa Kekerasan dalam Rumah
Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat
timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau
penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan,
atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga
(Pasal 1 ayat 1).
Kekerasan dalam keluarga mencakup penganiayaan fisik, emosonal dan seksual
pada anak-anak pengabaian anak, pemukulan pasangan, pemerkosaan terhadap suami
atau istri dan penganiayaan lansia. Perilaku penganiyaan dan prilaku kekerasan yang
tidak akan dapat diterima bila dilakukan oanng yang tidak dikenal sering kali di
tolerannsi selama bertahun-tahun dalam keluarga. Dalam kekerasan keluarga, keluarga
yang normalnya merupakan tempat yang aman dan anggotanya merasa dicintai dan
terlindung, dapat menjadi tempat palinng berbahaya bagi korban.

B. Rentang Respon Marah


Adaptif Maladaptif
Asertif Frustasi Pasif Agresif Amuk
Tindakan kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan
yang dapat membahayakan fisik, baik kepada diri sendiri maupun ornag lain. Sering
disebut juga gaduh gelisah atau amuk dimana seseorang marah berespon terhadap suatu
stressor dengan gerkan motorik yang tidak dikontrol.
1. Asertif : Mampu menyatakan rasa marah tanpa menyakiti orang lain dan merasa
lega.

3
2. Frustasi : Merasa gagal mencapai tujuan disebabkan karena tujuan yang tidak
realistis.
3. Pasif : Diam saja karena merasa tidak mampu mengungkapkan perasaan yang
sedang dialami.
4. Agresif : Tindakan destruktif terhadap lingkungan yang masih terkontrol.
5. Amuk : Tindakan destruktif dan bermusuhan yang kuat dan tidak terkontrol.

C. Karakteristik Kekerasan Dalam Keluarga


1. Isolasi sosial
Anggota keluarga merahasiakan kekerasan dan sering kali tidak mengundang
orang lain datanng kerumah mereka atau tidak mengatakan kepada orang lain apa
yang terjadi. Anak dan wanita yang mengalami penganiyaan sering kali diancam oleh
penganiaya bahwa mereka akan lebih disakiti jika mengungkapkan rahasia tersebut.
Anak-anak mungkin diancam bahwa ibu, saudara kandung atau hewan peliharaan
mereka kan dibunuh jika oranng diluar keluarga mengetahui penganiayaan tersebut.
Mereka ditakuti agar mereka menyimpan rahasia atau mencegah orang lain
mencampuri “ urusan keluarga yang pribadi
2. Kekuasaan dan kontrol
Anggota keluarga yang mengalami penganiayaan hampir selalu berada dalam
posisi berkuasa daan memilki kendali terhadap korban, baik korban adalah anak,
pasangan, atau lansia. Penganiaya bukan hanya menggunakan kekuatan fisik terhadap
korban, tetapi juga kontrol ekonomi dan sosial. Penganiaya sering kali adalah satu-
satunya anggota keluarga yang membuat keputusan, mengeluarkan uang, atau
diijinkan untuk meluangkan waktu diluar rumah dengan orang lain. Penganiaya
melakukan penganiayaan emosional dengan meremehkan atau menyalahkan korban
dan sering mengancam korban. Setiap indikasi kemandirian atau ketidakpatuhan
anggota keluarga, baik yang nyata atau dibayangkan, biasanya
menyebabkan peningkatan prilaku kekerasan (singer at al, 1995).

4
3. Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan yang lain
Ada hubungan antara penyalahgunaan zat, terutama alkohol, dengan kekerasan
dalam keluarga. Hal ini tidak menunjukkan sebab dan akibat-alkohol tidak
menyebabkan individu menjadi penganiaya sebalik, penganiaya juga cenderung
menggunakan alkohol atau obat-obatan lain. 50-90% pria yang memukul
pasangannya dalam rumah tangga juga memiliki riwayat penyalahgunaan zat. Jumah
wanita yang mengalami penganiayaan dan mencari pelarian dengan menggunakan
alkohol mencapai 50 %. Akan tetapi, banyak peneliti yakin bahwa alkohol dapat
mengurangi inhibisi dan membuat perilaku kekerasan lebih intens atau sering
(denham, 1995).
4. Proses transmisi antargenerasi
Berarti bahwa pola prilaku kekerasan diteruskan dari satu generasi ke generasi
berikutnya melalui model peran dan pembelajaran sosial (humphreeys, 1997;tyra,
1996). Transmisi antargenerasi menunjukkan bahwa kekerasan dalam keluarga
merupakan suatu pola yang dipelajari. Misalnya, anak-anak yang menyaksikan
kekerasan dalam keluarga akan belajar dari melihat orang tua mereka bahwa
kekerasan ialah cara menyelesaikan konflik dan bagian integral dalam suatu
hubungan dekat. Akan tetapi tidaak semua orang menyaksikan kekerasan dalam
keluarga menjadi penganiayaa atau pelaku kekerasan ketika dewasa sehingga faktor
tunggal ini saja tidak menjelaskan prilku kekerasan yang terus ada.

D. Faktor Presdiposisi
1. Faktor Psikologis
Psycoanalytical Theory; Teori ini mendukung bahwa perilaku agresif merupakan
akibat dari instinctual drives. Freud berpendapat bahwa perilaku manusia di
pengaruhi oleh dua insting. Pertama insting hidup yang dapat di ekspresikan dengan
seksualitas; dan kedua, insting kematian yang diekspresikan dengan agresivitas.
Pandangan psikologi lainnya mengenai perilakuu agresif, mendukung pentingnya
peran dari perkembangan presdiposisi atau pengalaman hidup. Ini menggunakan
pendekatan bahwa manusia mampu memilih mekanisme koping yang sifatnya tidak
merusak. Beberapa contoh dari pengalaman tersebut :

5
- Kerusakan otak organik, retardasi mental, sehingga tidak mampu
menyelesaikan secara efektif.
- Severe Emotional deprivation atau rejeksi yang berlebihan pada masa kanak-
kanak, atau seduction parental, yang mengkin telah merusak hubungan saling
percaya (trust) dan harga diri.
- Terpapar kekerasan selama masa perkembangan, termasuk child abuse atau
mengobservasi kekerasan dalam keluarga, sehingga membentuk pola
pertahanan atau koping.
2. Faktor Sosial Budaya
Sosial Learning Theory; teori yang dikembangkan oleh Bandura (1977) ini
mengemukakan bahwa agresif tidak berbeda dengan respon-respon yang lain. Agresif
dapat di pelajari melalui observasi atau imitasi, dan semakin sering mendapatkan
penguatan maka semakin besar kemungkinan untuk terjadi. Jadi seseorang akan
merespon terhadap keterbangkitaan emosionalnya secara agresif sesuai dengan respon
yang di pelajarinya. Pembelajaran ini bisa internal atau ekternal. Contoh internal;
orang yang mengalami keterbangkitan seksual karena menonton film erotis menjadi
lebih agresif dibandingkan mereka yang tidak menonton film tersebut; seseorang
anak yang marah karena tidak boleh beli es kemudian ibunya memberinya es agar si
anak mendapatkan apa yang dia inginkan. Contoh eksternal; seorang anak
menunjukan perilaku agresif setelah melihat seseorang dewasa mengekspresikan
berbagai bentuk perilaku agresif terhadap sebuah boneka. Kultural dapat pula
mempengaruhi perilaku kekerasan. Adanya norma dapat membantu mendefinisikan
ekspresi agresif mana yang dapat diterima atau tidak dapat diterima. Sehingga dapat
membantu individu untuk mengekspresikan marah dengan cara asertif.
3. Faktor biologis
Ada beberapa penelitian membuktikan bahwa dorongan agresif mempunyai dasar
biologis. Penelitian neurobiologi mendapatkan bahwa adanya pemberian stimulus
elektris ringan pada hipotalamus (yang berada di tengah sistem limbik binatang
ternyata menimbulkan perilaku agresif). Perangsangan yang diberikan terutama pada
nukleus periforniks hipotalamus dapat menyebabkan seekor kucing mengeluarkan
cakarnya, mengangkat ekornya, mendesis, bulunya berdiri. Neurotransmitter yang

6
sering dikaitkan dengan perilaku agresif adalah serotonin, dopamin, norepinephrine,
acetilkolin, dan asam amino GABA.
4. Faktor Presipitasi
Secara umum, seseorang akan berespon dengan marah apabila merasa dirinya
teramcam. Ancaman tersebut dapat berupa injury secara psikis, atau lebih dikenal
dengan adanya ancaman terhadap konsep diri seseorang. Ketika seseorang merasa
terancam, mungkin dia tidak menyadari sama sekali apa yang menjadi sumber
kemarahannya. Oleh karena itu, baik perawat maupun klien harus bersama-sama
mengidentifikasikannya. Ancaman dapat berupa internal ataupun eksternal. Contoh
stressor eksternal yaitu serangan secara psikis, kehilangan hubungan yang di anggap
bermakna dan adanya kritikan dari orang lain. Sedangkan stressor dari internal yaitu
merasa gagal dalam bekerja, merasa kehilangan orang yang dicintainya, dan
ketakutan terhadap penyakit yang diderita. Bila dilihat dari sudut perawat-klien, maka
faktor yang mencetuskan terjadinya perilaku kekerasan terbagi dua, yaitu :
- Klien : Kelemahan fisik, keputusasaan, ketidakberdayaan, kurang percaya
diri.
- Lingkungan : Ribut, kehilangan orang / objek yang berharga, konflik
interaksi sosial.

E. Etiologi
Menurut Stearen kemarahan adalah kombinasi dari segala sesuatu yang tidak
enak, cemas, tegang, dendam, sakit hati, dan frustasi. Beberapa faktor yang
mempengaruhi terjadinya kemarahan yaitu frustasi, hilangnya harga diri, kebutuhan akan
status dan prestise yang tidak terpenuhi.
1. Frustasi, sesorang yang mengalami hambatan dalam mencapai tujuan / keinginan
yang diharapkannya menyebabkan ia menjadi frustasi. Ia merasa terancam dan cemas.
Jika ia tidak mampu menghadapi rasa frustasi itu dengan cara lain tanpa
mengendalikan orang lain dan keadaan sekitarnya misalnya dengan kekerasan.

7
2. Hilangnya harga diri; pada dasarnya manusia itu mempunyai kebutuhan yang sama
untuk dihargai. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi akibatnya individu tersebut
mungkin akan merasa rendah diri, tidak berani bertindak, lekas tersinggung, lekas
marah, dan sebagainya.
3. Kebutuhan akan status dan prestise ; Manusia pada umumnya mempunyai keinginan
untuk mengaktualisasikan dirinya, ingin dihargai dan diakui statusnya.

F. Tanda dan Gejala


Kemarahan dinyatakan dalam berbagai bentuk, ada yang menimbulkan
pengrusakan, tetapi ada juga yang hanya diam seribu bahasa. Gejala-gejala atau
perubahan-perubahan yang timbul pada klien dalam keadaan marah diantaranya adalah :
1. Perubahan fisiologi
Tekanan darah meningkat, denyut nadi dan pernapasan meningkat, pupil dilatasi,
tonus otot meningkat, mual, frekuensi buang air besar meningkat, kadang-kadang
konstipasi, refleks tendon tinggi.
2. Perubahan Emosional
Mudah tersinggung , tidak sabar, frustasi, ekspresi wajah nampak tegang, bila
mengamuk kehilangan kontrol diri.
3. Perubahan Perilaku
Agresif pasif, menarik diri, bermusuhan, sinis, curiga, mengamuk, nada suara keras
dan kasar.
4. Menyerang atau menghindar (fight of flight)
Pada keadaan ini respon fisiologis timbul karena kegiatan sistem saraf otonom
beraksi terhadap sekresi epinephrin yang menyebabkan tekanan darah meningkat,
takikardi, wajah merah, pupil melebar, sekresi HCl meningkat, peristaltik gaster
menurun, pengeluaran urine dan saliva meningkat, konstipasi, kewaspadaan juga
meningkat diserta ketegangan otot, seperti rahang terkatup, tangan dikepal, tubuh
menjadi kaku dan disertai reflek yang cepat.

8
5. Menyatakan Secara Asertif (Assertiveness)
Perilaku yang sering ditampilkan individu dalam mengekspresikan kemarahannya
yaitu dengan perilaku pasif, agresif dan asertif. Perilaku asertif adalah cara yang
terbaik untuk mengekspresikan marah karena individu dapat mengekspresikan rasa
marahnya tanpa menyakiti orang lain secara fisik maupun psikolgis. Di samping itu
perilaku ini dapat juga untuk pengembangan diri klien.
6. Memberontak (acting out)
Perilaku yang muncul biasanya disertai akibat konflik perilaku “acting out” untuk
menarik perhatian orang lain.
7. Perilaku kekerasan
Tindakan kekerasan atau amuk yang ditujukan kepada diri sendiri, orang lain maupun
lingkungan

G. Bentuk-Bentuk KDRT
1. Kekerasan fisik
Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit atau luka
berat (Pasal 6).
2. Kekerasan psikis
Kekerasan psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa
percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau
penderitaan psikis berat pada seseorang (pasal 7).
3. Kekerasan Seksual
Kekerasan seksual adalah setiap perbuatan yang berupa pemaksaan hubungan
seksual, pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak wajar dan/atau tidak disukai,
pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau
tujuan tertentu (pasal 8).
4. Penelantaran Rumah Tangga
Penelantaran rumah tangga adalah seseorang yang menelantarkan orang dalam
lingkup rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena
persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan, atau
pemeliharaan kepada orang tersebut. Selain itu, penelantaran juga berlaku bagi setiap

9
orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau
melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga korban
berada di bawah kendali orang tersebut (pasal 9).

H. Mekanisme Koping
Mekanisme koping adalah tiap upaya yang diarahkan pada penatalaksanaan stress,
termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan yang
digunakan untuk melindungi diri.(Stuart dan Sundeen, 1998 hal 33).
Kemarahan merupakan ekspresi dari rasa cemas yang timbul karena adanya ancaman.
Beberapa mekanisme koping yang dipakai pada klien marah untuk melindungi diri antara
lain :
1. Sublimasi
Menerima suatu sasaran pengganti yang mulia artinya di mata masyarakat untuk
suatu dorongan yang mengalami hambatan penyalurannya secara normal. Misalnya
seseorang yang sedang marah melampiaskan kemarahannya pada obyek lain seperti
meremas adonan kue, meninju tembok dan sebagainya, tujuannya adalah untuk
mengurangi ketegangan akibat rasa marah.
2. Proyeksi
Menyalahkan orang lain mengenai kesukarannya atau keinginannya yang tidak baik.
Misalnya seseorang wanita muda yang menyangkal bahwa ia mempunyai perasaan
seksual terhadap rekan sekerjanya, berbalik menuduh bahwa temannya tersebut
mencoba merayu, mencumbunya.
3. Represi
Mencegah pikiran yang menyakitkan atau membahayakan masuk ke alam sadar.
Misalnya seseorang anak yang sangat benci pada orang tuanya yang tidak disukainya.
Akan tetapi menurut ajaran atau didikan yang diterimanya sejak kecil bahwa
membenci orang tua merupakan hal yang tidak baik dan dikutuk oleh Tuhan,
sehingga perasaan benci itu ditekannya dan akhirnya ia dapat melupakannya.

10
4. Reaksi formasi
Mencegah keinginan yang berbahaya bila diekspresikan, dengan melebih-lebihkan
sikap dan perilaku yang berlawanan dan menggunakannya sebagai rintangan.
Misalnya seorang yang tertarik pada teman suaminya, akan memperlakukan orang
tersebut dengan kasar.
5. Displacement
Melepaskan perasaan yang tertekan biasanya bermusuhan, pada obyek yang tidak
begitu berbahaya seperti yang pada mulanya yang membangkitkan emosi itu.
Misalnya Timmy berusia 4 tahun marah karena ia baru saja mendapat hukuman dari
ibunya karena menggambar di dinding kamarnya. Dia mulai bermain perang-
perangan dengan temannya.
I. Psikopatologi
Depkes (2000) mengemukakan bahwa stress, cemas dan marah merupakan bagian
kehidupan sehari-hari yang harus dihadapi oleh setiap individu. Stress dapat
menyebabkan kecemasan yang menimbulkan perasaan tidak menyenangkan dan
terancam. Kecemasan dapat menimbulkan kemarahan yang mengarah pada perilaku
kekerasan. Respon terhadap marah dapat diekspresikan secara eksternal maupun internal.
Secara eksternal dapat berupa perilaku kekerasan sedangkan secara internal dapat berupa
perilaku depresi dan penyakit fisik. Mengekspresikan marah dengan perilaku konstruktif
dengan menggunakan kata-kata yang dapat dimengerti dan diterima tanpa menyakiti
orang lain, akan memberikan perasaan lega, menu runkan ketegangan, sehingga perasaan
marah dapat diatasi (Depkes, 2000). Apabila perasaan marah diekspresikan dengan
perilaku kekerasan, biasanya dilakukan individu karena ia merasa kuat. Cara demikian
tentunya tidak akan menyelesaikan masalah bahkan dapat menimbulkan kemarahan yang
berkepanjangan dan dapat menimbulkan tingkah laku destruktif, seperti tindakan
kekerasan yang ditujukan kepada orang lain maupun lingkungan. Perilaku yang tidak
asertif seperti perasaan marah dilakukan individu karena merasa tidak kuat. Individu akan
pura-pura tidak marah atau melarikan diri dari rasa marahnya sehingga rasa marah tidak
terungkap. Kemarahan demikian akan menimbulkan rasa bermusuhan yang lama dan
pada suatu saat dapat menimbulkan kemarahan destruktif yang ditujukan kepada diri
sendiri (Depkes, 2000).

11
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Pengumpulan data
a. Aspek Biologis
Respons fisiologis timbul karena kegiatan system saraf otonom bereaksi terhadap
sekresi epineprin sehingga tekanan darah meningkat, tachikardi, muka merah,
pupil melebar, pengeluaran urine meningkat. Ada gejala yang sama dengan
kecemasan seperti meningkatnya kewaspadaan, ketegangan otot seperti rahang
terkatup, tangan dikepal, tubuh kaku, dan refleks cepat. Hal ini disebabkan oleh
energi yang dikeluarkan saat marah bertambah.
b. Aspek emosional
Salah satu anggota yang marah merasa tidak nyaman, merasa tidak berdaya,
jengkel, frustasi, dendam, ingin memukul anggota yang lain , mengamuk,
bermusuhan dan sakit hati, menyalahkan dan menuntut.(pasal 8):Sebagian besar
pengalaman hidup individu didapatkan melalui proses intelektual, peran panca
indra sangat penting untuk beradaptasi dengan lingkungan yang selanjutnya diolah
dalam proses intelektual sebagai suatu pengalaman. Perawat perlu mengkaji cara
klien marah, mengidentifikasi penyebab kemarahan, bagaimana informasi
diproses, diklarifikasi, dan diintegrasikan.
c. Aspek sosial
Meliputi interaksi sosial, budaya, konsep rasa percaya dan ketergantungan. Emosi
marah sering merangsang kemarahan anggota keluarga yang lain lain. Individu
seringkali menyalurkan kemarahan dengan mengkritik tingkah laku yang lain
sehingga anggota keluarga yang lain merasa sakit hati dengan mengucapkan kata-
kata kasar yang berlebihan disertai suara keras. Proses tersebut dapat
mengasingkan individu sendiri, menjauhkan diri dari orang lain, menolak
mengikuti aturan.

12
d. Aspek spiritual
Kepercayaan, nilai dan moral mempengaruhi hubungan individu dengan
lingkungan. Hal yang bertentangan dengan norma yang dimiliki dapat
menimbulkan kemarahan yang dimanifestasikan dengan amoral dan rasa tidak
berdosa. Dari uraian tersebut di atas jelaslah bahwa perawat perlu mengkaji
individu secara komprehensif meliputi aspek fisik, emosi, intelektual, sosial dan
spiritual yang secara singkat dapat dilukiskan sebagai berikut : Aspek fisik terdiri
dari :muka merah, pandangan tajam, napas pendek dan cepat, berkeringat, sakit
fisik, penyalahgunaan zat, tekanan darah meningkat. Aspek emosi : tidak adekuat,
tidak aman, dendam, jengkel. aspek intelektual : mendominasi, bawel, sarkasme,
berdebat, meremehkan. aspek sosial : menarik diri, penolakan, kekerasan, ejekan,
humor.
2. Klasifikasi data
Data yang didapat pada pengumpulan data dikelompokkan menjadi 2 macam yaitu
data subyektif dan data obyektif. Data subyektif adalah data yang disampaikan secara
lisan oleh klien dan keluarga. Data ini didapatkan melalui wawancara perawat dengan
klien dan keluarga. Sedangkan data obyektif yang ditemukan secara nyata. Data ini
didapatkan melalui obsevasi atau pemeriksaan langsung oleh perawat.
3. Analisa data
Dengan melihat data subyektif dan data objektif dapat menentukan permasalahan
yang dihadapi keluarga dan dengan memperhatikan pohon masalah dapat diketahui
penyebab sampai pada efek dari masalah tersebut. Dari hasil analisa data inilah dapat
ditentukan diagnosa keperawatan.
4. Aspek Fisik
Aspek fisik terdiri dari :muka merah, pandangan tajam, napas pendek dan cepat,
berkeringat, sakit fisik, penyalahgunaan zat, tekanan darah meningkat. Aspek emosi :
tidak adekuat, tidak aman, dendam, jengkel. aspek intelektual : mendominasi, bawel,
sarkasme, berdebat, meremehkan. aspek sosial : menarik diri, penolakan, kekerasan,
ejekan, humor.

13
5. Pohon Masalah

Resiko menciderai
diri sendiri, orang
lain dan lingkungan

Resiko Prilaku
Kekerasan

Gg. komonikasi
verbal HALUSINASI Defisit perawatan diri

HDR ISOLASI
SOSIAL

Koping individu
tidak efektif

Marah, frustasi
cemas, dendam, sakit
hati, tidak enak

14
B. Diagnosa dan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
1. Adapun diagnosa keperawatan utama pada klien marah dengan masalah utama
perilaku kekerasan adalah Resiko Perilaku Kekerasan
2. Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
Harga Diri Pasien Keluarga
Rendah
SP Ip SP Ik
1.
1. Mengidentifikasi penyebab PK Mendiskusikan masalah yang
2. Mengidentifikasi tanda dan gejala PK dirasakan keluarga dalam
3. Mengidentifikasi PK yang dilakukan merawat pasien
4. Mengidentifikasi akibat PK 2. Menjelaskan pengertian PK,
5. Menyebutkan cara mengontrol PK tanda dan gejala, serta proses
6. Membantu pasien mempraktekkan terjadinya PK
latihan cara mengontrol fisik I 3. Menjelaskan cara merawat
7. Menganjurkan pasien memasukkan pasien dengan PK
dalam kegiatan harian
SP II k
SP IIp 1. Melatih keluarga
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian mempraktekkan cara merawat
pasien pasien dengan PK
2. Melatih pasien mengontrol PK 2. Melatih keluarga melakukan
dengan cara fisik II cara merawat langsung kepada
3. Menganjurkan pasien memasukkan pasien PK
dalam jadwal kegiatan harian
SP III k
SP IIIp 1. Membantu keluarga membuat
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian jadual aktivitas di rumah
pasien termasuk minum
2. Melatih pasien mengontrol PK dengan obat (discharge planning)
cara verbal Menjelaskan follow up pasien
3. Menganjurkan pasien memasukkan setelah pulang
dalam jadwal kegiatan harian

SP IVp
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian
pasien
2. Melatih pasien mengontrol PK dengan
cara spiritual
3. Menganjurkan pasien memasukkan
dalam jadwal kegiatan harian

15
SP Vp
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian
pasien
2. Menjelaskan cara mengontrol PK
dengan minum obat
3. Menganjurkan pasien memasukkan
dalam jadwal kegiatan harian

16
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Perilaku kekerasan dalam keluarga adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan
tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap perempuan maupun anak.
Hal tersebut dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah yang tidak
konstruktif. (Stuart dan Sundeen, 1995)
Undang-Undang PKDRT ini menyebutkan bahwa Kekerasan dalam Rumah Tangga
adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya
kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah
tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan
kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga (Pasal 1 ayat 1).
Seharusnya seorang suami dan istri harus banyak bertanya dan belajar, seperti membaca
buku yang memang isi bukunya itu bercerita tentang bagaimana cara menerapkan sebuah
keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah. Di dalam sebuah rumah tangga butuh
komunikasi yang baik antara suami dan istri, agar tercipta sebuah rumah tangga yang rukun
dan harmonis. Jika di dalam sebuah rumah tangga tidak ada keharmonisan dan kerukunan
diantara kedua belah pihak, itu juga bisa menjadi pemicu timbulnya kekerasan dalam rumah
tangga. Seharusnya seorang suami dan istri bisa mengimbangi kebutuhan psikis, di mana
kebutuhan itu sangat mempengaruhi keinginan kedua belah pihak yang bertentangan.
Seorang suami atau istri harus bisa saling menghargai pendapat pasangannya masing-
masing. Untuk mempertahankan sebuah hubungan, butuh rasa saling percaya, pengertian,
saling menghargai dan sebagainya. Begitu juga halnya dalam rumah tangga harus dilandasi
dengan rasa saling percaya. Jika sudah ada rasa saling percaya, maka mudah bagi kita untuk
melakukan aktivitas. Jika tidak ada rasa kepercayaan maka yang timbul adalah sifat cemburu
yang kadang berlebih dan rasa curiga yang kadang juga berlebih-lebihan. Tidak sedikit
seorang suami yang sifat seperti itu, terkadang suami juga melarang istrinya untuk
beraktivitas di luar rumah. Ini adalah dampak dari sikap seorang suami yang memiliki sifat
cemburu yang terlalu tinggi. Sifat rasa cemburu ini bisa menimbulkan kekerasan dalam
rumah tangga.

17
B. Saran
Dalam sebuah rumah tangga kedua belah pihak harus sama-sama menjaga agar tidak
terjadi konflik yang bisa menimbulkan kekerasan. Tidak hanya satu pihak yang bisa memicu
konflik di dalam rumah tangga, bisa suami maupun istri. Sebelum kita melihat kesalahan
orang lain, marilah kita berkaca pada diri kita sendiri. Sebenarnya apa yang terjadi pada diri
kita, sehingga menimbulkan perubahan sifat yang terjadi pada pasangan kita masing-masing.
-

18
DAFTAR PUSTAKA

Stuart GW, Sundeen, Principles and Practice of Psykiatric Nursing (5 th ed.). St.Louis Mosby

Year Book, 1995

Keliat Budi Ana, Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Edisi I, Jakarta : EGC, 1999

Keliat Budi Ana, Gangguan Konsep Diri, Edisi I, Jakarta : EGC, 1999

Aziz R, dkk, Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa Semarang : RSJD Dr. Amino Gonohutomo,

2003

Tim Direktorat Keswa, Standar Asuhan Keperawatan Jiwa, Edisi 1, Bandung, RSJP Bandung,

2000

19