Anda di halaman 1dari 10

RESUSITASI PADA NEONATUS

DI RUANG NICU RSUP. DR. KARIADI SEMARANG

MAKALAH

Oleh :

Yenny Mayangsari

PELATIHAN PICU NICU

RSUP.DR. KARIADI SEMARANG

2018
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Angka kematian bayi baru lahir merupakan indikator pertama penilaian derajat
kesehatan anak. Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun
2012, angka kematian neonaturum di Indonesia yaitu sebesar 19 per 1.000
kelahiran hidup (Profil Kesehatan Anak Indonesia, 2015). Hasil Survei Penduduk
Antar Sensus (SUPAS) 2015 menunjukkan angka kematian bayi sebesar 22, 23
per 1.000 kelahiran hidup (Depkes, 2015). Angka kematian bayi di ruang NICU
RSUP. Dr. Kariadi Semarang periode Januari – Juni 2017 mencapai 39,2 % dari
jumlah total pasien 78 bayi.
Resusitasi merupakan salah satu usaha yang dilakukan untuk memperpanjang
kehidupan bayi dan mencegah terjadinya gejala sisa yang mungkin muncul.
Seorang perawat di ruang NICU mempunyai peranan penting dalam keberhasilan
pelaksanaan resusitasi. Pasien neonatus di ruang NICU berada dalam kondisi yang
memerlukan pengawasan intensif, sehingga diperlukan respon yang cepat dari
perawat untuk melakukan penilaian terhadap kegawatan dan membuat keputusan
dalam menerapkan tindakan resusitasi sesuai prosedur. Pasien dalam kondisi
kegawatan memerlukan perawat yang menguasai keterampilan resusitasi, mulai
dari melakukan penilaian kegawatan, membebaskan jalan nafas, memberikan
ventilasi tekanan positif, kompresi dada sampai dengan pemberian epinefrin secara
intravena (Perinasia, 2014).
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mampu memahami dan melaksanakan resusitasi pada neonatus di ruang
NICU RSUP. Dr. Kariadi Semarang.
2. Tujuan Khusus
a. Memahami dan melakukan penilaian terhadap kegawatan.
b. Memahami dan melakukan pembebasan jalan nafas (airway).
c. Memahami dan melakukan ventilasi tekanan positip (breathing).
d. Memahami dan melakukan kompresi dada (circulation ).
e. Memahami dan melakukan pemberian epinefrin secara intravena (drug)
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian
Resusitasi adalah suatu tindakan darurat sebagai suatu usaha untuk
mengembalikan keadaan henti nafas atau henti jantung ke fungsi optimal guna
mencegah kematian biologis (Ghofar,2012)
Resusitasi adalah segala usaha untuk mengembalikan fungsi sistem
pernafasan, peredaran darah dan otak yang terhenti atau terganggu sedemikian
rupa agar kembali normal seperti semula (IDAI, 2008).
Neonatus adalah organisme yang berada pada perode adaptasi kehidupan
intrauterin ke ekstrauterin. Masa neonatus adalah periode selama 1 bulan (4
minggu atau 28 hari setelah lahir) (Syafrudin dan Hamidah, 2009).

B. Tujuan
Tujuan resusitasi, yaitu mencegah berhentinya sirkulasi dan respirasi,
memberikan bantuan eksternal terhadap sirkulasi dan ventilasi dari pasien yang
mengalami henti jantung dan memberikan oksigenasi pada otak, jantung dan organ
vital (Gofar, 2012).

C. Tahapan Resusitasi Neonatus


1. Penilaian terhadap kegawatan
Penentuan tindakan resusitasi berdasarkan pada penilaian dua tanda vital
yaitu pernapasan dan frekuensi denyut jantung. Setelah ventilasi tekanan
positif (VTP) atau setelah pemberian oksigen tambahan, penilaian dilakukan
pada tiga hal yaitu frekuensi denyut jantung, pernapasan, dan status oksigenasi
(Konsesus Resusitasi Neonatus, 2010).
Resusitasi dilakukan, jika didapatkan frekuensi denyut jantung kurang dari
100 kali permenit, bayi apneu atau megap megap. Penilaian terhadap status
oksigenasi dapat dilihat dari penampilan bayi yang tampak sianosis dan
didukung dengan pemantauan saturasi oksigen yang kurang dari 85 %.
2. Airway (A)
Pembebasan jalan nafas (Airway) merupakan salah satu tahapan yang
terdapat dalam langkah awal resusitasi.
Langkah awal resusitasi meliputi :
a. Hangatkan bayi dengan menempatkan bayi di bawah alat pemanas atau
infant warmer.
b. Atur kepala bayi untuk membuka jalan nafas.
Bayi diletakkan terlentang dengan posisi leher sedikit tengadah dalam
posisi menghidu.
c. Bersihkan jalan nafas (jika diperlukan).
(1) Lendir dibersihkan.
(2) Lakukan penghisapan pada mulut dan hidung.
d. Keringkan bayi dengan melakukan rangsang taktil.
(1) Keringkan bayi dengan lap bersih mulai dari muka, kepala, dan
bagian tubuh lainnya.
(2) Lakukan rangsangan taktil dengan menepu/ menyentil telapak kaki.
Atau menggosok punggung/perut/dada/ tungkai bayi dengan
telapak tangan.
e. Atur posisi kembali
(1) Ganti kain yang telah basah dengan kain kering yang ada di
bawahnya.
(2) Seimuti seluruh tubuh bayi dengan kain tersebut, kecuali muka dan
dada.
(3) Atur posisi kembali bayi dengan posisi menghidu.
f. Lakukan penilaian
(1) Pernafasan
Terlihat gerakan dada yang adekuat, frekuensi dan kedalaman.
(2) Frekuensi jantung
Frekuensi jantung seharusnya di atas 100 kali permenit. Bila bayi
tidak bernafas (apnu), atau megap – megap atau frekuensi jantung
kurang dari 100 kali permenit, walaupun sudah diberikan
rangsangan, saturasi berada di bawah target segera lanjutkan dengan
pemberian ventilasi tekanan positif (VTP).
3. Breathing (B)
Memberikan nafas buatan pada bayi dengan menggunakan ventilasi tekanan
positif, termasuk memberikan oksigen 100 %. Ventilasi adalah proses keluar
masuknya udara ke dalam paru yang besarnya 4 – 6 cc/kgbb (Dewi, 2014).
Indikasi pemberian ventilasi tekanan positif, jika bayi tidak bernafas (apnu)
atau megap – megap, frekuensi jantung kurang dari 100 kali permenit, saturasi
berada di bawah target, walaupun telah diberikan aliran oksigen bebas sampai
100 %.
Hal – hal yang perlu diperhatikan
a. Pilih sungkup yang sesuai
b. Tekanan inspirasi awal yang diberikan 20 cmH2O
c. Frekuensi 40 – 60 napas permenit atau sedikitnya 1 kali perdetik.
d. Lakukan langkah koreksi ventilasi
Tindakan Langkah Koreksi
M ( S ) Mask adjustment Pastikan ada lekatan yang baik
(S)ungkup melekat antara sungkup dan wajah.
rapat.
R ( R ) Reposition airway Kepala pada posisi menghidu.
(R)eposisi jalan napas.
S ( I ) Suction mouth and Periksa sekresi, lakukan isap
nose lendir jika ada.
(I)sap lendir mulut dan
hidung.
O ( B ) Open mouth Ventilasi dengan mulut bayi
(B)uka mulut sedikit terbuka dan angkat dagu
ke depan
P ( T ) Pressure increase Naikkan tekanan bertahap,
(T)ekanan dinaikkan sampai terdengar bunyi napas
bilateral dan terdapat
pergerakkan dada.
A ( A ) Airway alternative Pertimbangkan intubasi
(A)lternatif jalan napas endotrakeal atau sungkup
laring

4. Circulation ( C )
Bantuan sirkulasi dilakukan dengan memulai kompresi dada dengan
dikombinasikan dengan pemberian VTP. Kompresi dada dilakukan jika
frekwensi jantung kurang dari 60 kali per menit, walaupun telah dilakukan
VTP efektif minimal 30 detik.
Kombinasi antara kompresi dan VTP perlu dilakukan, karena miokard
melemah sehingga kontraksi jantung tidak kuat untuk memompa darah ke paru
untuk mengangkut oksigen. Penekanan tulang dada akan menekan jantung dan
meningkatkan tekanan dalam dada, sehingga darah terpompa ke pembuluh
darah arteri. Saat penekanan dada dilepaskan, darah dari pembuluh darah vena
mengalir ke jantung. Pemasangan endotrakheal tube dengan kolaborasi medis
dapat dilakukan pada tahap ini, untuk memaksimalkan pemberian VTP.
Kompresi dada pada neonatus diberikan pada 1/3 bawah tulang iga, yang
terletak di antara sifoid dan garis khayal yang menghubungkan puting susu.
Letakkan ibu jari atau 2 jari sedikit di atas sifoid, jangan menekan langsung
pada sifoid. Mengatur tekanan pada kompresi dada merupakan bagian
terpenting, penekanan dilakukan sedalam ± 1/3 diameter antero posterior dada,
kemudian lepaskan untuk memberi kesempatan jantung terisi darah.
Kompresi dada dapat dilakukan dengan menggunakan teknik ibu jari dan
teknik dua jari

5. Drug (D)
Epinefrin atau sering disebut adrenalin merupakan suatu stimulan, yang
berfungsi untuk meningkatkan kekuatan dan kecepatan kontraksi jantung dan
menyebabkan vasokonstriksi perifer, sehingga dapat meningkatkan aliran
darah ke otak dan arteri koronaria. Pemberian epinefrin dapat mengembalikan
aliran darah secara normal dari miokardium ke otak.
Epinefrin diberikan secara intravena, sehingga diperlukan akses vena
umbilikalis. Dosis epinefrin intravena yang dianjurkan untuk neonatus adalah
0,1 – 0,3 ml/kg larutan 1 : 10.000 (setara 0,01 – 0,03 mg/kg). Lakukan evaluasi
frekuensi jantng bayi kira – kira 1 menit setelah pemberian epinefrin, jika
frekuensi jantung kurang dari 60 kali per menit setelah epinefrin dosis pertama,
epinefrin bisa diulang setiap 3 – 5 menit sampai dosis maksimal.
BAB III
TINJAUAN KASUS

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di ruang NICU RSUP. Dr. Kariadi


Semarang, perawat yang bekerja di ruang tersebut telah mengikuti pelatihan PICU
NICU dan beberapa telah mengikuti pelatihan maupun seminar tentang resusitasi
neonatus, sehingga perawat NICU telah memiliki pengetahuan sesuai yang
distandartkan untuk bekerja di ruang NICU, namun pelaksanaan resusitasi
neonatus tidak cukup dengan pengetahuan perawat saja, tetapi harus ditunjang
dengan keterampilan perawat yang memadai. Misalnya perawat telah mengetahui
bahwa perbandingan antara kompresi dan ventilasi adalah 3 : 1, tetapi beberapa
perawat melakukan kompresi dan ventilasi secara bersamaan, beberapa belum
melakukan koreksi ventilasi, dan pemberian adrenalin secara intravena yang
belum sesuai.
Jika dilakukan penilaian terhadap tingkat keterampilan perawat, maka
didapatkan perawat di ruang NICU terampil dalam melakukan penilaian
kegawatan, pembebasan jalan nafas, kompresi dada dan pemberian epinefrin
intravena. Sedangkan untuk pemberian ventilasi tekanan positif dalam kategori
cukup.
BAB IV
PEMBAHASAN

Mengkoreksi ventilasi perlu dilakukan sebelum menentukan langkah resusitasi


berikutnya. Koreksi ventilasi, meliputi mengevaluasi perlekatan sungkup, reposisi kepala
(menghidu), isap lendir, buka mulut untuk membuka jalan nafas, tambah tekanan dan
alternatif pemasangan endotrakheal tube. Koreksi ventilasi ini, bisa dilakukan dengan
menyesuaikan kondisi pasien, pada pasien yang terpasang endotrakheal tube tidak perlu
melakukan evaluasi perlekatan sungkup (Perinasia, 2014). Penelitian pada bayi babi baru
lahir yang dilakukan oleh Dannevig (2015) menunjukkan bahwa pemberian ventilasi
tekanan positif efektif dapat menaikkan frekuensi jantung.
Kompresi dada membantu pemompaan darah melalui jantung secara mekanik, pada
saat kompresi dilepaskan, darah dari pembuluh darah vena mengalir ke jantung dan saat
ventilasi diberikan, miokardium akan teroksigenisasi, untuk itu kompresi dada dan
ventilasi lebih efektif jika dilakukan secara terkoordinasi (perinasia, 2014). Penelitian
yang dilakukan Dannevig (2015) menyatakan bahwa kompresi pada bayi baru lahir
dilakukan dengan perbandingan 3 : 1, kecuali telah diketahui sebelumnya penyebab henti
jantung karena penyakit jantung atau ada pertimbangan lainnya.
Dosis intravena yang dianjurkan pada neonatus adalah 0,1 – 0,1 ml/kg larutan 1 :
10.000 (setara dengan 0,01 – 0,002 mg/kg). Yang perlu diperhatikan dalam pemberian
epinefrin intravena, yaitu pengenceran dan dosis pemberiannya. Epinefrin 1 mg/ml
diencerkan menjadi 10 ml, dengan dosis pemberian 0,1 – 0,3 ml/kgbb. Penelitian
Patterson,et al (2005) menyatakan bahwa pemberian epinefrin dosis tinggi pada bayi
mungkin mengakibatkan kerusakkan jantung dan otak.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pelaksanaan resusitasi yang di ruang NICU memerlukan keterampilan seorang
perawat secara tepat dan cepat, karena berhubungan dengan kegawatan pasien.
Pasien dalam kondisi kegawatan memerlukan perawat yang menguasai
keterampilan resusitasi, mulai dari melakukan penilaian kegawatan, membebaskan
jalan nafas, memberikan ventilasi tekanan positif, kompresi dada sampai dengan
pemberian epinefrin secara intravena. pelaksanaan resusitasi neonatus tidak cukup
dengan pengetahuan perawat saja, tetapi harus ditunjang dengan keterampilan perawat
yang memadai. Seorang perawat di ruang NICU mempunyai peranan penting dalam
keberhasilan pelaksanaan resusitasi. Pasien neonatus di ruang NICU berada dalam
kondisi yang memerlukan pengawasan intensif, sehingga diperlukan respon yang cepat
dari perawat untuk melakukan penilaian terhadap kegawatan dan membuat keputusan
dalam menerapkan tindakan resusitasi sesuai prosedur.

B. Saran
Sebagai seorang perawat perlu adanya kemauan untuk meningkatkan keterampilan
dengan mengikuti pelatihan , workshop maupun seminar tentang resusitasi neonatus
dan mengaplikasikannya di lapangan. Secara aktif mengikuti sharing ilmu yang rutin
di lakukan ruangan, untuk terus mengup date ilmu untuk meningkatkan keterampilan.
Perlu adanya evaluasi secara berkala untuk menilai keterampilan resusitasi.
DAFTAR PUSTAKA

Bertnus. (2009). Faktor yang Mempengaruhi Keterampilan. Tersedia dalam URL


http://digilib.unimus.ac,id/files/disk1/115/.
Dannevig, Ingrid, et al. (2015). Resuscitation of severely asphyctic newborn pigs with
cardiac arrest by using 21% or 100% oxygen.
Daniella, Dian & Suryo Christanto. (2017). Penanganan Jalan Nafas Sulit pada Neonatus.
Dewi,V.N.L. ( 2014). Resusitasi Neonatus. Jakarta : Salemba
Ghofar, Abdul. (2012). Pedoman Lengkap Keterampilan Perawatan Klinik. Yogyakarta :
Mitra Buku.
Hidayat, A. Aziz. Alimul (2012). Riset Keperawatan & Tehnik Penulisan Ilmiah (Edisi
kedua). Jakarta : Salemba Medika.
Maisyaroh, Arista.,dkk. (2015). Studi Fenomologi Kebutuhan dan Hambatan Perawat
dalam Pelaksanaan Resusitasi Pada Kegawatan Neonatus Prematur di Ruang
Neonatus RSD DR. Haryoto Lumajang. The Indonesian Journal of Health Science,
Vol.5, No.2. Diunduh 13 Juni 2017.
Patterson, M.D, et al. (2005). The use Of high – dose epinephrine for patients with out of
hospital cardiopulmonary arrest refractory to prehospital interventions pediatric
emergency care.
Perinasia. (2014). Buku Panduan Resusitasi Neonatus (Edisi ke-6). Jakarta : Perinasia.
Riwidikdo, Handoko. (2010). Statistik untuk Penelitian Kesehatan (Cetakan Kedua).
Yogyakarta : Pustaka Rihama.
Saragih, Dameria. (2010). Panduan Praktik Keperawatan Bayi dan Anak. Klaten : PT.
Intan Sejati.