Anda di halaman 1dari 16

Makalah Akuntansi Pajak

“Akuntansi Aset Tetap Berwujud”

Dosen pengampu : Chasan Abrori, SE, MSi, Ak, CA, BKP.


Tim Penyusun : Kelompok 1
1. Khusnul Khotimah (162010300028)
2. Novita Maharani (162010300081)
3. Ismul Wahyu R (162010300084)
4. Ferry Prima W. (162010300085)
5. Laila Rahayu L. (162010300090)
6. Aminin Kun Arifah (162010300092)
7. Riska Wahyu K (162010300093)
8. Octavia Sari Dia (152010300303)

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO


FAKULTAS EKONOMI, HUKUM, DAN ILMU SOSIAL
APRIL 2019
BAB 8
AKUNTANSI ASET TETAP BERWUJUD

A. Pengakuan Aset Tetap


Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 16 (Revisi 2007) bertujuan
untuk mengatur perlakukan akuntansi aset tetap, agar pengguna laporan keuangan
dapat memahami informasi mengenai investasi entitas di aset tetap. Aset Tetap
adalah aset berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dibangun lebih
dahulu, yang digunakan dalam operasi perusahaan, tidak dimaksudkan untuk dijual
dalam rangka kegiatan normal perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari
satu tahun. Kriteria aset tetap:
1. Mempuanyai wujud fisik
2. Tidak ditujukan untuk dijual lagi
3. Memiliki nilai yang material, harga aset tersebut cukup signifikan contohnya
tanah, bangunan, mesin, kendaraan, dan lain-lain.
4. Memiliki masa manfaat ekonomi lebih dari satu tahun buku dan nilai manfaatn
ekonominya bisa diukur dengan handal.
5. Aset digunakan dalam aktivitas normal perusahaan (tidak untuk dijual lagi seperti
barang dagang/persediaan atau investasi) misal, mobil bagi dealer mobil diakui
sebagai "persediaan" bukan aktiva tetap sedangkan bagi perusahaan manufakture
mobil diakui sebagai "Aktiva Tetap" bukan persediaan.
Sebuah Entitas bisnis atau perusahaan mengakui setiap aset sebagai aset tetap
jika aset yang dimiliki telah memenuhi sifat dan karakteristiknya seperti yang telah
disebut sebelumnya. Aset yang berwujud diakui dan diklasifikasikan kedalam aset
tetap jika:
1. Besar kemungkinan manfaat ekonomis di masa depan berkenaan dengan aset
tersebut akan mengalir ke entitas, dan
2. Biaya perolehan aset dapat diukur secara andal
Pengertian biaya perolehan (cost) adalah jumlah kas atau setara kas yang
dibayarkan atau dinilai wajar dari imbalan lain yang diserahkan untuk memperoleh
suatu asset pada saat perolehan atau konstruksi atau bila dapat diterapkan, jumlah
yang diatribusikan pada asset saat pertama kali diakui sesuai dengan persyaratan
tertentu dalam PSAK lain.
Berdasarkan uraian sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa suatu benda
berwujud dapat diakui dan dikelompokkan sebagai aset tetap sesuai ketentuan
akuntansi komersial apabila:
1. Manfaat keekonomian masa yang akan datang yang berkaitan dengan aset
tersebut kemungkinan akan mengalir ke dalam perusahaan, dan
2. Biaya perolehan dapat diukur secara andal.

Berdasarkan gambaran tersebut diperlukan adanya penilaian tingkat kepastian


aliran manfaat ekonomi masa akan datang sesuai bukti-bukti yang ada. Kepastian ini
tersedia apabila risiko dan imbalan telah diterima perusahaan. Hal lainnya adalah
adanya pengakuan langsung, sebagai contoh transaksi pertukaran karena mempunyai
bukti pembelian asset yang memberikan dari sisi biaya dapat dibuat melalui transaksi
dengan pihak luar perusahaan dan perusahaan mengakumulasi biaya yang digunakan
dalam proses penyelesaian (konstruksi), sehingga agar memenuhi suatu kualifikasi
sebagai asset dan dikelompokkan sebagai asset tetap, pada awalnya harus diukur
berdasarkan biaya perolehan.
Biaya perolehan ini terdiri atas harga beli, termasuk bea impor, PPN Masukan
yang tidak dapat dikreditkan, dan biaya lain yang dapat diatribusikan secara langsung
sampai asset tersebut siap dipakai atau berada di tempat. Biaya yang dapat
diatribusikan contohnya adalah persiapan tempat, pengiriman awal (initial delivery),
penyimpanan, bongkar muat (handling cost), pemasangan (installation cost), dan
biaya professional (arsitek). Sebagai contoh, PT Mekar membeli sebuah mobil
angkutan orang yang kapasitasnya lebih dari 100 orang (mini bus), dengan harga
perolehan yang dirinci sebagai berikut :

Harga pembelian = Rp 220.000.000,00


PPN yang harus dibayarkan 10% = Rp 22.000.000,00
PPnBM yang harus dibayar 10% = Rp 22.000.000,00
Harga perolehan Rp 264.000.000,00

Suatu aset tetap yang memenuhi kualifikasi diakui sebagai aset awal harus diukur
sebesar biaya perolehan. Sebagai komponen biaya perolehan aset tetap tersebut
meliputi berikut ini (penerapan paragraph 16 PSAK no. 16 Revisi 2007).
1. Harga Perolehan
Dalam komponen harga perolehan termasuk bea impor dan pajak pembelian yang
tidak boleh dikreditkan setelah dikurangi diskon pembelian dan potongan-potongan
lain.
2. Biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk membawa aset ke
lokasi dan kondisi yang diinginkan agar aset siap digunakan sesuai dengan keinginan
dan maksud manajemen.
3. Estimasi awal biaya pembongkaran dan pemindahan aset tetap dan restorasi lokasi
aset. Kewajiban biaya-biaya tersebut timbul pada saat aset diperoleh atau karena
entitas menggunakan aset selama periode tertentu yang bertujuan selain menghasilkan
persediaan.

Sebagai biaya yang diatribusikan secara langsung yaitu meliputi:


a. Biaya imbalan kerja yang timbul secara langsung dari pembangunan atau akisisi
aset tetap;
b. Biaya penyiapan lahan pabrik;
c. Biaya handling dan penyerahan awal;
d. Biaya perakitan dan instalasi;
e. Biaya pengujian aset apakah aset berfungsi dengan baik, setelah dikurangi hasil
bersih penjualan produk yang dihasilkan sehubungan dengan pengujian terserbut; dan
f. Komisi professional.
Pengakuan terhadap biaya-biaya dalam jumlah tercatat suatu asset tetap
dihentikan pada saat asset berada pada lokasi dan kondisi yang diinginkan agar siap
digunakan sesuai yang diinginkan dan maksud manajemen. Dari hal tersebut,
sehingga biaya pemakaian dan pengembangan asset tidak dimasukkan ke dalam
jumlah tercatat asset. Beberapa contoh yang dikategorikan sebagai biaya yang tidak
termasuk jumlah tercatat yaitu:
1. Biaya-biaya yang terjadi saat aset telah mampu beroperasi sebagaimana
dimaksudkan oleh manajemen namun belum dipakai atau masuk beroperasi di
bawah kapasitas sempurna.
2. Kerugian awal operasi, seperti ketika permintaan terhadapt keluaran (output)
masih rendah, dan
3. Biaya relokasi atau reorganisasi sebagian atau seluruh operasi entitas.
B. Pengukuran Biaya Perolehan
Sebagaimana telah dijelaskan dalam pengukuran awal bahwa aset tetap pada
awalnya harus diukur sebesar biaya perolehan. Pengertian biaya perolehan aset tetap
adalah setara dengan nilai tunainya dan diakui pada saat terjadinya.Jika pembayaran
untuk suatu aset ditangguhkan hingga melampaui jangka waktu kredit
normal,perbedaan antara nilai tunai dengan pembayaran total diakui sebagai beban
bunga selamaperiode kredit, kecuali dikapitalisasi sesuai dengan perlakuan alternatif
yang diizinkan dalam PSAK 26 tentang Biaya Pinjaman.

Aset yang diperoleh melalui pertukaran non moneter atau kombinasi aset moneter dan
non moneter diukur sebesar nilai wajar, kecuali:
a. Transaksi pertukaran tidak memiliki substansi komersial; atau
b. Nilai wajar aset yang diterima dan diserahkan tidak dapat diukur secara andal

Perolehan aset tetap juga diperoleh dari hibah pemerintah. Dalam hal hibah
pemerintah inilah tidak boleh diakui sampai diperoleh keyakinan bahwa entitas
tersebut akan memenuhi kondisi atau prasyarat hibah dan hibah diperoleh.
Paragraph 7 PSAK (Revisi 2007) memberikan kriteria atas biaya perolehan
asset tetap yang harus diakui sebagai asset. Biaya perolehan asset tetap harus diakui
sebagai aset jika dan hanya jika :
1. Besar kemungkinan manfaat ekonomis di masa depan berkenaan dengan asset
tersebut akan mengalir ke entitas, dan
2. Biaya perolehan asset dapat diukur secara andal.

C. Perolehan Aset Tetap


Aset tetap dapat diperoleh dengan berbagai cara yang akan mempengaruhi harga
perolehan, antara lain:

1. Perolehan Aset Tetap secara Gabungan


Apabila aset tetap diperoleh secara gabungan, maka harga perolehan aset masing-
masing aset tetap ditentukan dengan mengalokasikan harga gabungan berdasarkan
perbandingan nilai wajar masing-masing aset yang bersangkutan.
Contoh soal:
Harga bangunan termasuk tanah seharga Rp. 300.000.000,- (termasuk biaya notaries,
bea balik nama, bea perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan, dan lain-lain).
Alokasi harga perolehannya dapat dihitung sebagai berikut:
No. Jenis Aset Harga wajar Alokasi harga perolehan
1 Tanah Rp. 150.000.000,- 15/25 x Rp. 300.000.000 = Rp.
180.000.000
2 Bangunan Rp. 100.000.000,- 10/25 x Rp. 300.000.000 = Rp.
120.000.000
Jumlah Rp. 250.000.000,- Rp. 300.000.000,-

Jurnal:
Tanah Rp. 180.000.000,-
Bangunan Rp. 120.000.000,-
Kas dan Bank Rp. 300.000.000,-

2. Perolehan Aset Tetap secara Angsuran


Harga perolehan aktiva tetap yang didapat dari transaksi pembelian angsuran
diukur dengan jumlah uang (harga) yang dibayarkan apabila aktiva itu dibeli secara
tunai (cash equivalent price). Unsur bunga dan financing cost yang terdapat di
dalamnya harus dikeluarkan dan diperlakukan sebagai biaya dalam periode di mana
pembayaran itu terjadi. Jika di dalam harga kontrak pembelian tidak secara spesifik
dinyatakan adanya bunga yang dibebankan, maka pada dasarnya unsur bunga itu
harus diperhitungkan dan dikurangkan dari harga kontrak di dalam menentukan harga
perolehan aktiva tetap yang bersangkutan.

Contoh, harga perolehan mobil Rp 120.000.000 dibayar 24x angsuran,


Rp 5.000.000 per bulan dengan bunga 20 % pertahun.
Perhitungan angsuran pertama :
Angsuran bulanan Rp 5.000.000
Bunga 1/12 x 20% x Rp 120.000.000 Rp 2.000.000
Jumlah pembayaran Rp 7.000.000
Perhitungan angsuran bulan kedua :
Angsuran bulanan Rp 5.000.000
Bunga 1/12 x 20% x 120.000.000- 5.000.000 Rp 1.916.700
Jumlah pembayaran Rp 6.916.700
Ayat Jurnal :
1. saat pembelian aset tetap
Mobil/kendaraan (dalam angsuran) 120.000.000
Utang angsuran 120.000.000
2. saat pembayaran
Utang angsuran 5.000.000
Beban Bunga 2.000.000
Kas dan Bank 7.000.000
3. Saat pembayaran angsuran kedua
Utang angsuran 5.000.000
Beban Bunga 1.916.700
Kas dan Bank Rp 6.916.700
Perhitungan pembayaran angsuran dibuat setiap bulan. Bunga semakin lama
semakin menurun karena jumlah pinjama juga menurun. Penetapan bunga yang
digunkan berdasarkan pada tingkat bunga efektif (effective interest rate).
Harga dengan angsuran ditetapkan terlebih dahulu dan angsuran yang harus
dibayar setiap bulan tetap, maka setiap angsuran terdiri atas 2 komponen yaitu
angsuran dan bunga. Besarnya bunga ditetapkan menggunakan tingkat bunga tetap
(flat interest rate).
Contoh, harga perolehan kendaraan Rp 120.000.000, angsuran 24x bunga 25% per
tahun. Perhitungan :
Harga perolehan tunai Rp 120.000.000
Bunga Rp 120.000.000 x 25% x 24/12 Rp. 60.000.000
Harga beli dengan angsuran Rp 180.000.000
Angsuran yang dibayar setiap bulan sebesar :
1/24 x Rp 180.000.000 = Rp 7.500.000 (angsuran+bunga)
Ayat Jurnal :
1. saat pembelian aset tetap
Mobil/kendaraan (dalam angsuran) 120.000.000
Utang angsuran 120.000.000
2. saat pembayaran
Utang angsuran 6.000.000
Beban Bunga 1.500.000
Kas dan Bank 7.500.000
3. Perolehan Aset Tetap secara Pertukaran

Menurut PSAK No. 16 2007, aset tetap dapat diperoleh dengan pertukaran atau
pertukaran sebagian.
Pertukaran sebagian, untuk suatu aset tetap yang tidak serupa aset lain. Biaya
diukur pada nilai wajar aset yang dipertukarkan atau diperoleh, yang paling andal,
sebanding nilai wajar aset yang dipertukarkan setelah disesuaikan dengan jumlah
setiap kas atau setara kas yang dtransfer.
Contoh, harga perolehan truk lama Rp 60.000.000 telah disusutkan Rp 40.000.000
ditukar dengan truk baru Rp 80.000.000 dan kekurangannya dibayar tunai.
Perhitungan laba atau rugi pertukaran :
Harga perolehan truk lama Rp 60.000.000
Penyusutan Rp 40.000.000 -
Harga sisa buku Rp 20.000.000

Harga truk baru Rp 80.000.000


Harga tukar tambah aset lama (trade in allowance) Rp 20.000.000 –
Tambahan uang tunai Rp 60.000.000
Tidak terdapat rugi atau laba, karena truk lama dihargai sama dengan harga sisa buku.
Contoh, pada Laba atau Rugi
Harga tukar tambah aset lama (trade in allowance) Rp 24.000.000
Harga perolehan truk lama Rp 60.000.000
Penyusutan Rp 40.000.000 -
Harga sisa buku Rp 20.000.000
Harga tukar tambah aset lama (trade in allowance) Rp 24.000.000
Laba Pertukaran Rp 4.000.000

Harga truk baru Rp 80.000.000


Harga tukar tambah aset lama (trade in allowance) Rp 24.000.000 –
Tambahan uang tunai Rp 56.000.000

Ayat Jurnal :
Akumulasi Penyusutan Rp 40.000.000
Alat pengangkut baru Rp 80.000.000
Kas dan Bank Rp 56.000.000
Alat pengangkut lama Rp 60.000.000
Laba pertukaran Rp 4.000.000

Harga tukar tambah aset lama (trade in allowance) Rp 18.000.000


Harga perolehan truk lama Rp 60.000.000
Penyusutan Rp 40.000.000 -
Harga sisa buku Rp 20.000.000
Harga tukar tambah aset lama (trade in allowance) Rp 18.000.000 –
Rugi pertukaran Rp 2.000.000

Harga truk baru Rp 80.000.000


Harga tukar tambah aset lama (trade in allowance) Rp 18.000.000 –
Tambahan uang tunai Rp 62.000.000
Ayat Jurnal :
Akumulasi Penyusutan Rp 40.000.000
Alat pengangkut baru Rp 80.000.000
Rugi pertukaran Rp 2.000.000
Alat pengangkut lama Rp 60.000.000
Kas dan Bank Rp 62.000.000
Aset yang diperoleh dari pertukaran melalui pertukaran dengan :

1.aset nonmoneter, baik dengan aset tetap yang sejenis atau aset tetap yang tidak
sejenis.
2.sekuritas berupa obligasi atau saham yang dikeluarkan oleh perusahaan sendiri atau
emisi oleh badan lain.
Dalam hal penilai sebagaimana telah disampaikan di atas bahwa asset tetap yang
diperoleh dalam pertukaran atau pertukaran sebagian untuk suatu asset tetap yang
tidak serupa asset lain, biaya tersebut diukur dengan nilai wajar asset yang dilepas
atau diperoleh yang manakah lebih andal, ekuivalen dengan nilai wajar asset yang
dilepas setelah disesuaikan dengan jumlah setiap kas atau setara kas yang ditransfer.
Bagaimana selanjutnya dengan selisih nilai ? selisih nilai adalah selisih antara nilai
buku asset tetap yang lama dengan nilai perolehan baru. Dalam hal demikian, apabila
asset tetap dipertukarkan dengan asset tetap yang tidak sejenis harus diakui sebagai
laba atau rugi. Sebaliknya apabila dipertukarkan dengan asset tetap yang sejenis,
maka pengakuan laba rugi ditangguhkan sampai saat asset tetap yang baru dilepaskan
kembali. Perlu diperhatikan, PSAK No. 16 (Revisi 2007) juga menyebutkan
bahwakeuntungan atau kerugian yang timbul dari penghentian atau pelepasan suatu
asset tetap diakui sebagai keuntungan atau kerugian dalam laporan laba rugi.
Praktik akuntansi pajak tidak mengatur tentang perolehan asset dengan
pertukaran, baik kategori pertukaran asset yang sejenis atau bukan sejenis, maupun
dengan sekuritas yang tidak diterbitkan perusahaan sendiri. Hanya masalah perlakuan
perpajaknnya diatur dalam Pasal 10 ayat (2) Undang-Undang Pajak Penghasilan yang
menyatakan bahwa nialai perolehan atau nilai penjualan dalam hal terjadi tukar-
menukar harta adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima berdasarkan .
harga pasar (market place).
Sebagai contoh, pada tanggal 2 Januari 2016 PT Anugerah menukar asset
tetapnya berupa mobil yang sama milik PT. Rakhmat dengan rincian sebagai berikut :
PT Anugrah PT Rakhmat

Nilai sisa buku Rp 120.000.000 Rp 150.000.000

Harga Pasar Rp 80.000.000 Rp 160.000.000


Nilai perolehan atau nilai penjualan adalah jumlah yang seharusnya
dikeluarkan atau diterima berdasarkan harga pasar. Atas pertukaran tersebut, laba atau
rugi yang diperhitungkan untuk :
Dengan memperhatikan penggolongan dan implikasinya terhadap bantuan,
sumbangan, dan hibah, maka perlakuan bagi pihak penerima bantuan akan dikreditkan
pada akun “Entitas atau Modal”, sehingga diperlakukan secara fiskal sebagai
penghasilan. Sebaliknya, pihak pemberi bantuan membukukan berdasarkan harga atau
nilai sisa buku. Dalam memberikan bantuan atau sumbangan timbul aliran uang kas.
Sebagai contoh, ayat jurnal atas hibah sebesar Rp. 300.000.000,- diatur sebagai
berikut :
1. memenuhi syarat Pasal 4 Ayat 3
Kas dan Bank 300.000.000

Modal Donasi 100.000.000

2. tidak memenuhi syarat Pasal 4 ayat (3)


maka bantuan atua sumbangan dianggap sebagai penghasilan yang dikenakan
Pajak Penghasilan

Kas dan Bank 300.000.000

Penghasilan Sumbangan/bantuan 300.000.000

Dari pihak yang memberikan sumbangan

Biaya sumbngan/bantuan 300.000.000

Kas dan Bank 300.000.000

D. ASET TETAP YANG DIHIBAHKAN


Kembali seperti contoh terdahulu yang mengacu pada Pasal 4 ayat (3) Undang –
Undang Pajak Penghasilan, maka hibah pun dapat dikelompokkan sebagai berikut.
1. Memenuhi syarat Pasal 4 ayat (3)
Bila hibah ang diterima Wajib Pajak tidak dalam rangka hubungan usaha,
pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan, maka dipandang sebagai transaksii
modal dengan sisa buku menurut pembukuan pemberi hibah yang digunakan
sebagai dasar pengukurannya. Sebelumnya, penerima hibah mengakuinya
sebagai ekuitas, bukan sebagai penghasilan menurut fiskus.
2. Tidak memenuhi syarat Pasal 4 ayat (3)
Dalam hal tidak memenuhi syarat Pasal 4 ayat (3) pemberian hibah tersebut
dimaksudkan menjadi penghasilan bagi yang menerimanya karena ternyata
pemberian hibah ini mempunyai hibungan usaha, perkerjaan, kepemilikan,
atau penguasaan dengan pihak penerima hibah. Transaksi hibah ini dipandang
sebagai transaksi pertukaran, sehingga dasar pengukutannya harga pasar.
Apabila tidak memenuhi syarat Pasal 4 ayat (3), hibah dianggap sebagai
penghasilan yang dikenakan Pajak Penghasilan bagi penerimanya, dan dicatat
sebesar harga pasar dari harta hibahan. Bagi pemberi harta hibahan,
pengubahan harta tersebut merupakan pengalihan harta. Oleh karena itu, harus
dihitung laba atau rugi atas hibah harta, yaitu harga pasar dikurangi nilai sisa
buku apabila harta tersebut disusutkan, atau harga pasar dikurangi harga
perolehan apabila harta tersebut tidak disusutkan. Penghibahan berupa tanah
dan/atau bangunan oleh orang pribadi yang dikategorikan sebagai pengolahan
harta dikenakan PPh Final.

E. PENYUSUTAN ASET TETAP


Berdasarkan PSAK No. 16 (Revisi 2007), yang dimaksudkan penyusutan
adalah alokasi sistematis jumlah yang dapat disusutkan dari suatu asset selama
umur manfaatnya. Penyusutan untuk periodde akuntansi dibebankan ke
pendapatan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Penyusutan
dilakukan terhadap aset tetap berwujud dengan syarat :

1. diharapkan digunakan selma lebih dari satu periode akuntnasi


2. memiliki suatu masa manfaat yang terbatas dan
3. ditahan oleh suatu perusahaan untuk digunakan produksi atau memasok
barang dan jasauntuk disewakan atau untuk tujuan administrasi.

Penyusutan atau jumlah disusutkan adalah biaya perolehan suatu aset atau
jumlah lain yang disubtitusikan untuk biaya dalam laporan keuangan
dikurangi nilai sisa. Sesuai Pasal 11 Undang – Undang Pajak Penghasilan,
penyusutan atas pengeluaran untuk pembelian, pendirian, penambahan,
perbaikan, atau peruahan harta berwujud, kecuali tanah yang berstatus hak
milik, hak guna bangunan, hak guna usaha, dan hak pakai, yang dimiliki dan
digunakan untuk mendapatkan, menahih, dan memelihara penghasilan yang
mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun dilakukan dalam bagian –
bagian yang sama besar masa manfaat yang telah ditentukan bagi harta
tersebut. Dalam pengaturan penyusutan tersebut, persyaratan asset yang
dapat disusutkan menurut ketentuan perpajakan meliputi :

1. harta yang dapat disusutkan adalah harta berwujud


2. harta tersebut mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun
3. harta tersebut digunakan untuk mendapatkan, managih, dan memelihara
penghasilan

Terdapat pula asset tetap yang menurut akuntansi dapat disusutkan, tetapi
menurut akuntansi pajak tidak dapat disusutkan, yaitu:

1. aset tetap perusahaan berupa kendaraan yang dikuasai dan dibawa pulang
pegawai, termasuk juga yang ada di daerah terpencil
2. aset tetap perusahaan berupa rumah yang terletak bukan didaerah terpencil
yang ditempati pegawai yang tida diberi tunjangan oleh perusahaan.

Secara komersial yang diatur pada PSAK No. 46 (Reformat tahun 2007),
selisih pajaknya dibukukan dalam akun Pajak Penghasilan yang ditangguhkan.
Sedangkan ketentuan perpajakan untuk pengelompokan asset tetap
berdasarkan masa manfaat mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan No.
96/PMK.03/2009 Tanggal 15 Mei 2009 berlaku per 1 Januari 2009.

F. METODE PENYUSUTAN SESUAI KETENTUAN KOMERSIAL


Dalam praktik akuntansi komersial metode penyusutan dapat digunakan sesuai
pengelompokan menurut criteria berikut ini.
1. Dasar Waktu
a. Metode Garis Lurus (straight line method)
Dalam metode ini, biaya penyusutan dialokasikan berdasarkan berjalannya
waktu dalam jumlah-jumlah yang sama selama masa manfaat aset tetap
berwujud tersebut.

Biaya Penyusutan = tarif penyusutan x dasar perhitungan penyusutan


Persentase penyusutan dapat diketahui dari masa manfaat.

Contoh, masa manfaat aset tetap 5 tahun, harga perolehan Rp 300.000.000,


Nilai residu Rp 40.000.000

Perhitungan :

Tarif penyusutan : 100% = 20%

Beban penyusutan = tarif penyusutan x (biaya perolehan – nilai residu)

= 20% x ( 300.000.000 – 40.000.000 )

Ayat jurnal : = Rp 52.000.000

Biaya penyusutan aset tetap 52.000.000

Akumulasi penyusutan aset tetap 52.000.000

Daftar penyusutan rinci 5 tahun :

Th. Harga perolehan Biaya penyusutan Ak. Penyusutan Nilai sisa buku

1. 300.000.000 52.000.000 52.000.000 248.000.000

2. 300.000.000 52.000.000 104.000.000 196.000.000

3. 300.000.000 52.000.000 156.000.000 144.000.000

4. 300.000.000 52.000.000 208.000.000 92.000.000

5. 300.000.000 52.000.000 260.000.000 40.000.000

b. Metode Pembebanan Menurun


1. Metode jumlah angka tahun (sum of the year digit method)
Metode ini sering disebut metode jumlah angka tahun yang akan
menghasilkan jumlah penyusutan semakin menurun dari tahun ke
tahun.
Dengan rumusan:
Biaya Penyusutan = tarif penyusutan x dasar perhitungan penyusutan
Dasar perhitungan penyusutan = (Harga perolehan – nilai
residu)
Tarif penyusutan = pembilang angka tahun masa manfaat dengan
pembalikan tahun dari athun terakhir dan pembilang adalah jumlah
angka tahun pertama sampai terakhir.
Contoh : masa manfaat 5 tahun 1+2+3+4+5 = 15
Harga perolehan aset tetap Rp 300.000.000
Nilai residu Rp. 45.000.000
Penyusutan :
Tahun ke1 = 5/15 x (300.000.000 – 45.000.000) = 85.000.000
Tahun ke2 = 4/15 x (300.000.000 – 45.000.000) = 68.000.000
Tahun ke3 = 3/15 x (300.000.000 – 45.000.000) = 51.000.000
Tahun ke4 = 2/15 x (300.000.000 – 45.000.000) = 34.000.000
Tahun ke5 = 1/15 x (300.000.000 – 45.000.000) = 17.000.000
Daftar Penyusutan selama 5 tahun sebagai berikut :

Th. Harga Tarif Biaya Ak. Penyusutan Nilai sisa


buku
perolehan penyusutan Penyusutan

1. 300.000.000 5/15 85.000.000 85.000.000 215.000.000

2. 300.000.000 4/15 68.000.000 153.000.000 147.000.000

3. 300.000.000 3/15 51.000.000 204.000.000 96.000.000

4. 300.000.000 2/15 34.000.000 238.000.000 62.000.000

5. 300.000.000 1/15 17.000.000 255.000.000 45.000.000

2.

Beri Nilai