Anda di halaman 1dari 10

Laporan Praktikum Genetika

GENETIKA POPULASI

Fisila Aflanindya*, A. Ambarwati, A. Fadhilah, A. Hangestu, D. C. Lahiang, D. U. Wulaningsih, Y. A. Putri,


A. M. Dinata

Universitas Indonesia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Departemen Biologi
November 2019

Abstrak
Genetika populasi adalah salah satu cabang ilmu genetika yang mempelajari variasi genetik dalam suatu populasi.
Genetika populasi memegang prinsip Hardy-Wainberg yang menyatakan bahwa jumlah alel dalam suatu populasi akan
selalu sama dalam setiap generasi. Latar belakang dilakukannya praktikum pengamatan genetika populasi yaitu untuk
mengetahui fungsi serta fenomena genetika populasi dalam kehidupan. Praktikum dilakukan dengan metode pengukuran
tinggi badan, pendataan golongan darah, PTC, earlobe, dan tongue rolling pada populasi praktikan genetika tahun 2019.
Tujuan praktikum genetika populasi adalah untuk memahami prinsip dan perhitungan dari persamaan Hardy-
Weinberg, untuk mengetahui fenotip dan frekuensi alel dari populasi praktikan genetika tahun 2019, serta mengetahui
distribusi tinggi badan praktikan sebagai contoh quantitative trait locus pada populasi.

Kata kunci: frekuensi alel; genetika populasi; hukum Hardy-Weinberg; quantitative trait locus; populasi.

1. Pendahuluan sekelompok individu dari spesies yang sama, tinggal di


daerah yang sama, dan kawin silang sehingga
Genetika populasi adalah salah satu cabang ilmu
menghasilkan keturunan yang fertil (Campbell, dkk.
genetika yang mempelajari variasi genetik dalam suatu
2008: 472). Hardy dan Weinberg pada tahun 1908
populasi (Khoiriyah, 2014: 132). Populasi merupakan
secara terpisah menemukan dasar-dasar untuk

*)Kelompok 2 siang 1
mengetahui penyebaran (frekuensi) gen dalam suatu gen. Polygenic character adalah variabel kuantitatif
populasi. Prinsip ekuilibrium Hardy-Weinberg fenotip yang tergantung pada interaksi dengan banyak
menyatakan bahwa di dalam populasi yang berada dalam gen (King, dkk. 2006: 346). Peristiwa gen ganda mula-
keseimbangan (ekuilibrium) maka baik frekuensi gen mula diperhatikan oleh Kölreuter dari hasil
maupun frekuensi genotip akan tetap dari satu generasi percobaannya tahun 1760 dengan menggunakan
ke generasi selanjutnya (Suryo, 2001: 378). tanaman tembakau. Sifat keturunan yang dikemukakan
Syarat prinsip Hardy-Weinberg yaitu pertama, tidak oleh Kölreuter ditinjau secara kuantitatif, artinya sifat
ada mutasi, karena mutasi memodifikasi kumpulan gen. keturunan tampak berderajat berdasarkan intensitas dari
Syarat kedua adalah perkawinan acak. Jika individu ekspresi sifat itu (Suryo, 2001: 404-405).
berpasangan dengan kerabat dekat dalam suatu populasi, Contoh dari single gene inheritance dua variasi
maka pencampuran gamet secara acak tidak terjadi dan alel antara lain yaitu, PTC, tipe earlobe, dan tongue
frekuensi genotip berubah. Syarat ketiga adalah tidak rolling. Kemampuan untuk merasakan
ada seleksi alam, karena perbedaan dalam bertahan phenylthiocarbamide (PTC) telah banyak digunakan
hidup dan keberhasilan reproduksi dalam suatu individu dalam menggambarkan variasi genetik di antara populasi
yang dibawa oleh genotip yang berbeda dapat mengubah manusia di seluruh dunia. Sensitivitas PTC merupakan
frekuensi alel. Syarat keempat adalah jumlah populasi sifat autosomal bimodal dengan perasa dominan atau
yang sangat besar. Semakin kecil populasi, semakin taster (T) dan perasa resesif atau non-taster (t) (Alimba,
besar kemungkinan frekuensi alel akan berfluktuasi dari dkk. 2009: 154). Sensitivitas PTC telah terbukti penting
satu generasi ke generasi selanjutnya (Campbell, dkk. dalam pemilihan makanan, yang dapat mempengaruhi
2008: 472). metabolisme dan fisiologi individu. Kemampuan untuk
Persamaan Hardy-Weinberg sering digunakan untuk mencicipi PTC atau tidak, juga dapat menunjukkan
menguji apakah terjadi evolusi dalam suatu populasi. hubungan dengan beberapa penyakit seperti diabetes,
Persamaannya juga digunakan untuk aplikasi medis, gangguan tiroid, tukak gastrointestinal, dan kerentanan
seperti memperkirakan presentase populasi yang terhadap penyakit menular (Alimba, dkk. 2009: 154).
membawa alel untuk penyakit bawaan. Rumus Contoh selanjutnya adalah tipe earlobe. Earlobe
persamaan Hardy-Weinberg bentuknya adalah (Suryo, merupakan bagian bawah berdaging lunak yang terletak
2001: 379): di pangkal telinga luar. Earlobe adalah bagian dari daun
p² + 2pq + q² = 1 telinga yang tidak didukung oleh tulang rawan. Terdapat
(p + q)² = 1, sehingga (p + q) = 1; p = 1 – q. dua tipe earlobe, yaitu attached, di mana earlobe secara
Keterangan: langsung melekat pada sisi lateral kepala, dan detached,
p = frekuensi alel dominan terlepas menggantung bebas dari sisi lateral kepala
q = frekuensi alel resesif (Ordu, dkk. 2014: 1). Karakter dominan diberikan
2pq = frekuensi genotip heterozigot. kepada earlobe yang terpisah sedangkan resesif
Single Gene Inheritance adalah suatu sifat suatu diberikan kepada earlobe yang menempel (Ordu, dkk.
individu dalam populasi yang diekspresikan oleh satu 2014: 6).

2
Karakter lainnya adalah tongue rolling. Gen Iᴮ Iᴮ atau
B B Iᴮ
dominan adalah yang bertanggung jawab untuk melipat Iᴮi
dan menggulung ujung lidah secara lateral, sedangkan AB A dan B Iᴬ dan Iᴮ IᴬIᴮ
ketidakmampuan lidah untuk melipat dan menggulung
dikaitkan oleh gen resesif (Odokuma, dkk. 2008: 533). Persamaan Hardy-Weinberg tiga variasi alel
Sistem golongan darah didasarkan pada berbeda dengan persamaan untuk dua variasi alel.
pembentukan alel ganda, sehingga merupakan contoh Frekuensi alel Iᴬ dinyatakan dengan p, frekuensi alel Iᴮ
dari single gene inheritance tiga variasi alel. Alel ganda dinyatakan dengan q, dan frekuensi alel i dinyatakan
disebabkan karena mutasi yang berulang-ulang dengan r, maka persamaannya menjadi (p+ q+ r = 1)
menyebabkan jumlah alel bertambah banyak. Sistem (Suryo, 2001: 381). Hukum ekuilibrium Hardy-
golongan darah ABO diperkenalkan oleh Landsteiner Weinberg untuk golongan darah dinyatakan sebagai
pada 1901, diketahui bahwa masing-masing individu berikut (Suryo, 2001: 381):
akan memiliki salah satu dari empat golongan darah p²+ q²+ 2pq+ 2pr+ 2qr+ r² = 1.
yang ada yakni golongan darah A, B, AB atau O Quantitative trait loci atau QTLs adalah wilayah
(Raditya, 2016: 412). Antigen diwariskan oleh suatu alel genom yang berkontribusi terhadap variasi dalam sifat-
ganda. Alel tersebut diberi simbol I (berasal dari kata sifat kuantitatif (Hamilton, 2009: 315). Dalam kasus
isoagglutinin, suatu protein yang terdapat pada ideal yang paling sederhana, QTLs suatu individu adalah
permukaan sel eritrosit). Orang yang mampu gen tunggal yang berkontribusi terhadap nilai sifat
membentuk antigen-A memiliki alel Iᴬ dalam kuantitatif dan memiliki alel alternatif dengan efek
kromosom, yang mampu membentuk antigen-B berbeda pada nilai fenotipik (Hamilton, 2009: 315).
memiliki alel Iᴮ, yang mampu membentuk antigen-A Beberapa sifat keturunan pada manusia
dan antigen-B memiliki alel Iᴬ dan Iᴮ, sedangkan yang diwariskan lewat poligen. Contoh dari poligen adalah
tidak mampu membentuk antigen sama sekali memiliki perbedaan pigmentasi kulit, perbedaan tinggi tubuh,
alel resesif i (Suryo, 2001: 349). sidik jari, warna mata manusia, hidrosefali, dan penyakit
Interaksi antara alel-alel Iᴬ, Iᴮ, dan i turunan seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung,
menyebabkan terjadinya 4 fenotif (golongan darah) A, dan intelegensia (Suryo, 2001: 408-419).
B, AB, dan O. Berikut tabel golongan darah (Suryo, Praktikum genetika populasi bertujuan untuk
2001: 349): memahami perhitungan dari persamaan Hardy-
Golongan Antigen Weinberg. Selanjutnya, untuk mengetahui kesesuaian
darah Alel dalam
dalam Genotif antara hukum Hardy-Weinberg dengan tongue rolling,
kromosom
kromosom tipe earlobe, PTC, golongan darah, dan tinggi badan.
(fenotif)
Terakhir, untuk mengetahui fenotip dan frekuensi alel
O - i ii
dari populasi praktikan genetika tahun 2019.
Iᴬ Iᴬ atau
A A Iᴬ
Iᴬi

3
2. Metodologi sifat dominan dan non-taster merupakan sifat resesif
Alat yang digunakan pada praktikum genetika (Alimba, dkk. 2009: 154).
populasi adalah alat tulis, meteran, dan kertas. Bahan Frekuensi detached earlobe (52) lebih besar
yang digunakan dalam praktikum genetika populasi dibandingkan dengan frekuensi attached earlobe (19).
adalah brokoli, kubis, kembang kol, dan praktikan Frekuensi alel detached earlobe = 0.4827, dan frekuensi
sebagai objek pengamatan. Cara kerja praktikum alel attached earlobe = 0.5173. Hal ini sesuai dengan
genetika populasi yaitu pertama, brokoli, kubis, dan literatur, yaitu Karakter dominan diberikan kepada
kembang kol sudah direbus terlebih dahulu selama 5 – earlobe yang terpisah sedangkan resesif diberikan
10 menit di rumah masing-masing praktikan tanpa diberi kepada earlobe yang menempel (Ordu, dkk. 2014: 6).
garam atau gula. Selanjutnya, bahan tersebut dibawa ke Frekuensi roller (46) lebih besar dibandingkan
laboratorium dan dicicipi satu per satu oleh praktikan. dengan frekuensi nonroller (25). Frekuensi alel roller=
Hasil percobaan tersebut dicatat pada selembar kertas 0.4067, dan frekuensi alel nonroller= 0.5933. Hal ini
untuk mendapatkan data jumlah orang yang merasakan sesuai dengan literatur karena Gen dominan adalah yang
pahit atau tidak merakasan pahit. Pengamatan kedua bertanggung jawab untuk melipat dan menggulung
adalah praktikan dijadikan sebagai objek pengamatan. ujung lidah secara lateral, sedangkan ketidakmampuan
Pratikan diminta untuk menjulurkan dan melipat lidah untuk melipat dan menggulung dikaitkan oleh gen
lidahnya lalu dicatat orang yang bisa melakukannya dan resesif (Odokuma, dkk. 2008: 533).
yang tidak bisa melakukannya. Pengamatan ketiga, Pada data distribusi tinggi badan, didapatkan
telinga praktikan diamati satu persatu untuk menentukan rata-rata sebesar 160.3429 dengan frekuensi tertinggi
tipe earlobe nya. Pengamatan keempat, dilakukan pada nilai tengah 156 cm. Perbedaan tinggi badan
pendataan golongan darah praktikan. Pengamatan merupakan salah satu contoh dari quantitative trait
kelima, tinggi badan praktikan diukur menggunakan locus, yaitu wilayah genom yang berkontribusi terhadap
meteran. variasi dalam sifat-sifat kuantitatif (Hamilton, 2009:
315). Pada golongan darah didapatkan data dengan
3. Hasil dan Pembahasan jumlah golongan darah terbanyak yaitu O, diikuti oleh
Hasil pengamatan praktikum genetika populasi A, B, serta yang paling sedikit AB.
dijabarkan dalam bentuk tabel dan kurva yang terlampir. Salah satu syarat hukum Hardy-Weinberg
Tabel 1 memperlihatkan frekuensi distribusi PTC, adalah jumlah populasi yang sangat besar. Hal tersebut
earlobe, dan tongue rolling pada populasi praktikan penting karena semakin kecil populasi, semakin besar
genetika kelas siang. Frekuensi non-taster (37 orang) kemungkinan frekuensi alel akan berfluktuasi dari satu
lebih besar dibandingkan dengan frekuensi taster (34 generasi ke generasi selanjutnya (Campbell, dkk. 2008:
orang). Frekuensi alel non-taster t= 0.7219, dan 472).
frekuensi alel taster T= 0.2781. Hal ini kurang sesuai
dengan literatur karena seharusnya taster merupakan

4
4. Kesimpulan Campbell, N. A., Reece, J. B., Cain, M. L., Urry, L. A.,
Genetika populasi adalah salah satu cabang ilmu Wasserman, S. A., & Minorsky, P. V. 2008.
genetika yang mempelajari variasi genetik dalam suatu Biology, 8th ed. Pearson Benjamin Cummings,
populasi. Prinsip dasar yang digunakan pada genetika San Fransisco: vi + 1267 hlm.
populasi adalah prinsip ekuilibrium Hardy-Weinberg
Hamilton, M. B. 2009. Population Genetics. Blackwell
yang menyatakan bahwa jumlah alel dalam suatu
Publishing, UK: vi + 407 hlm.
populasi akan selalu sama dalam setiap generasi dengan
beberapa syarat, yaitu tidak ada mutasi, adanya Khoiriyah, Y. N. 2014. Karakter Genetik Populasi
perkawinan acak, tidak ada seleksi alam, dan jumlah Bedeng 61B Desa Wonokarto Kabupaten
populasi yang sangat besar. Persamaan dalam Lampung Timur Pasca Program Kolonialisasi
perhitungan hukum Hardy-Weinberg untuk 2 variasi alel Pemerintah Belanda. Biogenesis Jurnal Ilmiah
menggunakan rumus p + q= 1 dan untuk 3 variasi alel Biologi . vol 2(2): 132-137 hlm.

menggunakan p + q+ r= 1. Sedangkan dalam King, R. C., Stansfield, W. D., & Mulligan, P. K. 2006.
menghitung frekuensi genotipe, dapat digunakan rumus A Dictionary of Genetics. Oxford University
2 2
(p+q) = 1 untuk 2 variasi alel dan (p+q+r) = 1 untuk 3 Press Inc., Oxford, New York: 6-569 hlm.
variasi alel. Hasil pengamatan praktikum genetika
Odokuma, E. I., Eghworo, O., Avwioro, G., & Agbedia,
populasi didapatkan rata-rata tinggi badan tinggi secara
U. 2008. Tongue Rolling and Tongue Folding
keseluruhan adalah 160,3429 dengan frekuensi tertinggi
Traits in an African Population. Int. J. Morphol.
pada nilai tengah 156 cm. Pada pengamatan PTC, paling
vol 26(3): 533-535 hlm.
banyak yaitu frekuensi non-taster. Pada pengamatan
earlobe, paling banyak yaitu frekuensi detached earlobe. Ordu, K. S., Didia, B. C., & Egbunefu, N. 2014.
Pada pengamatan tongue rolling, paling banyak yaitu Inheritance Pattern of Earlobe Attachment
frekuensi roller. Amongst Nigerians. Greener Journal of Human
Physiology and Anatomy. vol 2(1): 001-007
5. Daftar Acuan hlm.
Alimba, C. G., Adekoya, K. O., & Oboh, B. O. 2010.
Raditya, A. 2016. Distribusi Golongan Darah ABO pada
Prevalence and Gene Frequencies of
Masyarakat Tengger. Antro Universitas
Phenylthiocarbamide (PTC) taste sensitivity,
Airlangga. vol V(3): 411-421 hlm.
ABO and Rhesus Factor (Rh) Blood Groups,
and Haemoglobin Variants Among a Nigerian Suryo. 2001. Genetika Manusia. Gadjah Mada
Population. The Egyptian Journal of Medical University Press, Yogyakarta: xii+540 hlm.
Human Genetics. Vol 11: 153-158 hlm.

5
LAMPIRAN

Tabel 1. Data Hasil Percobaan Populasi Praktikan Genetika 2019 Pararel Siang

SIFAT ALEL KELOMPOK PARALEL TOTAL

1 2 3 4 5

A &B A&B A&B A&B A&B 35 orang

PTC Taster (TT) 2 2 1 5 2 12

Non-taster (NT) 5 5 6 2 5 23

Rolling Tongue Roller (RR/Rr) 3 5 5 6 5 24

Nonroller (rr) 4 2 2 1 2 11

Attached ear lobe Free (FF/Ff) 4 7 4 2 5 22

Attached (ff) 3 0 3 5 2 13

SIFAT ALEL KELOMPOK PARALEL TOTAL

6 7 8 9 10

A &B A&B A&B A&B A&B 36 orang

PTC Taster (TT) 3 5 5 5 4 22

Non-taster (NT) 4 2 2 2 4 14
Rolling Tongue Roller (RR/Rr) 4 7 6 4 1 22

Nonroller (rr) 3 0 1 3 7 14

Attached ear lobe Free (FF/Ff) 4 5 6 7 8 30

Attached (ff) 3 2 1 0 0 6

Total 71 orang

(f) alel (f) genotip

Sifat Fenotip Jumlah Total


p q 𝐩𝟐 2pq 𝐪𝟐

PTC Tester (T-) 34

71 0.2781 0.7219 0.0773 0.4015 0.5211


Non tester (NT) 37

Tongue Rolling Roller (T-) 46

71 0.4067 0.5933 0.1654 0.4826 0.3520


Nonroller (tt) 25

Attached Earlobe Free (F-) 52

71 0.4827 0.5173 0.2330 0.4994 0.2676


Attached (ff) 19
Tabel 2. Golongan Darah Populasi Praktikan Genetika 2019

SIFAT ALEL Paralel Paralel Total


Pagi Siang
(Jumlah) (Jumlah)

𝐈𝐀 − 15 14 29

𝐈𝐁 − 17 17 34
Golongan Darah

𝐈 𝐀𝐈𝐁 8 8 16

𝐈𝐎𝐈𝐎 30 32 62

Sifat Fenoti Kelompo Tota (f) alel (f) genotip


p k 2 Siang l

(Jumlah) p q r 𝐩𝟐 𝐪𝟐 𝐫𝟐 2pq 2pr 2qr

Golonga 𝐈𝐀 − 2 0.276 0.345 0.377 0.076 0.119 0.142 0.191 0.209 0.261
n Darah 7 4 9 5 3 8 1 1 0
𝐈𝐁 − 2
7
𝐈 𝐀𝐈𝐁 2

𝐈 𝐎 𝐈𝐎 1

Sifat Fenoti Jumlah Total (f) alel (f) genotip


p

p q r 𝐩𝟐 𝐪𝟐 𝐫𝟐 2pq 2pr 2qr

Golonga 𝐈𝐀 − 29 0.140 0.196 0.663 0.019 0.038 0.439 0.055 0.185 0.260
n Darah 141 2 7 1 6 7 7 1 9 8
𝐈𝐁 − 34
𝐈 𝐀 𝐈𝐁 16

𝐈 𝐎 𝐈𝐎 62

Tabel 3. Data Tinggi Badan Populasi Praktikan Genetika 2019

a) Kelompok Pagi (dalam cm)


Kel. 1 Kel. 2 Kel. 3 Kel. 4 Kel. 5 Kel. 6 Kel. 7 Kel. 8 Kel. 9 Kel. 10

156 147 148 152 149 152 152 148 156 153

157 150 150 154 154 156 152 153 156 159

159 150 160 156 156 157 154 154 156 160

159 155 162 160 157 158 157 154 162 162

162 156 166 162 163 158 158 160 167 168

166 164 169 167 163 171 159 162 169 168

167 173 178 168 174 179 167 167 176 172

b) Kelas Siang (dalam cm)


Kel. 1 Kel. 2 Kel. 3 Kel. 4 Kel. 5 Kel. 6 Kel. 7 Kel. 8 Kel. 9 Kel. 10

149 144 149 152 150 152 151 155 149 154

157 155 160 153 156 156 152 156 157 154

158 159 163 164 161 156 152 157 157 155

166 159 168 165 165 158 154 161 160 155

168 160 169 169 166 159 156 161 165 158

170 162 170 169 174 160 160 163 166 159

170 165 173 172 175 170 160 164 166 164

180
Perhitungan untuk membuat data persebaran kelas:

Banyak kelas : 1+3.3 log(141) = 8

Panjang kelas : (180-144)/8 = 5

Rata-rata : 160.3429

No. Kelas Xi (cm) Frekuensi

1. 144-148 146 4

2. 149-153 151 20

3. 154-158 156 40

4. 159-163 161 32

5. 164-168 166 24

6. 169-173 171 14

7. 174-178 176 5

8. 179-183 181 2

Gambar 1. Kurva Tinggi Badan Populasi Praktikan Genetika


Angkatan 2019