Anda di halaman 1dari 8

Perdagangan Manusia (Human Trafficking) Dalam Pandangan Agama Islam

A. Pengertian
Manusia adalah makhluk Allah Azza wa Jalla yang dimuliakan, sehingga anak
Adam ini dibekali dengan sifat-sifat yang mendukung untuk itu, yaitu seperti akal untuk
berfikir, kemampuan berbicara, bentuk rupa yang baik serta hak kepemilikan yang
Allah Azza wa Jalla sediakan di dunia, yang tidak dimiliki oleh makhluk-makhluk
lainnya. Tatkala Islam memandang manusia sebagai pemilik, maka hukum asalnya ia
tidak dapat dijadikan sebagai barang yang dapat dimiliki atau diperjual belikan. Hal ini
berlaku jika manusia tersebut berstatus merdeka.

B. Pandangan Fikih Islam Tentang Perdagangan Manusia Merdeka


Hukum dasar muâmalah perdagangan adalah mubâh kecuali yang diharamkan
dengan nash atau disebabkan gharâr (penipuan).[4] Dalam kasus perdagangan
manusia, ada dua jenis yaitu manusia merdeka (hur) dan manusia budak (‘abd atau
amah). Dalam pembahasan ini akan kami sajikan dalil-dalil tentang hukum
perdagangan manusia merdeka yang kami ambilkan dari al-Qur’ân dan Sunnah serta
beberapa pandangan ahli Fikih dari berbagai madzhab tentang masalah ini.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

ً ‫ض‬
‫يل‬ ٍ ‫ت َوفَض َّْلنَا ُه ْم َعلَ ٰى َك ِث‬
ِ ‫ير ِِّم َّم ْن َخلَ ْقنَا تَ ْف‬ َّ ‫َولَقَ ْد ك ََّر ْمنَا َب ِني آ َد َم َو َح َم ْلنَا ُه ْم ِفي ْال َب ِ ِّر َو ْال َبحْ ِر َو َرزَ ْقنَاهُم ِِّمنَ ال‬
ِ ‫ط ِِّي َبا‬

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di
daratan dan di lautan,Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan
mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami
ciptakan. (Al Isra’/17 : 70)

Sudut pandang pengambilan hukum dari ayat ini adalah; bahwa kemuliaan
manusia yang Allah Azza wa Jalla berikan kepada mereka yaitu dengan
dikhususkannya beberapa nikmat yang tidak diberikan kepada makhluk yang lain
sebagai penghormatan bagi manusia. Kemudian dengan nikmat itu manusia
mendapatkan taklîf (tugas) syari’ah seperti yang telah dijelaskan oleh mufassirîn dalam
penafsiran ayat tersebut di atas [6]. Maka hal tersebut berkonsekwensi seseorang
manusia tidak boleh direndahkan dengan cara disamakan dengan barang dagangan,
semisal hewan atau yang lainnya yang dapat dijual-belikan. Imam al-Qurthûbi t berkata
mengenai tafsir ayat ini “….dan juga manusia dimuliakan disebabkan mereka mencari
harta untuk dimiliki secara pribadi tidak seperti hewan,…”[ Tafsir Al-Qurthubi].

Disebutkan dalam sebuah hadits Qudsi Allah Azza wa Jalla mengancam keras
orang yang menjual manusia ini dengan ancaman permusuhan di hari Kiamat. Imam
al-Bukhâri dan Imam Ahmad meriwayatkan dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu
‘anhu :

‫طى ِبي ث ُ َّم‬ َ ‫وم ا ْل ِق َيا َم ِة َر ُج ٌل أ َ ْع‬ ْ ‫شلَشَةٌ أَنَا َخ‬


َ ‫ص ُم ُه ْم َي‬ َ : ‫ّللا‬ َّ ‫ قَا َل‬: ‫صلىاّلل عليه وسلم قَا َ َل‬ ِّ ِّ ‫ع ْن النَّ ِب‬
ِ‫ي‬ َ ‫ّللا عنه‬
ِّ ‫ي‬ ِ ‫َع ْن أ َب ْي هُري َْرة َ َر‬
َ ‫ض‬
ُ‫ىم ْنهُ َولَ ْم يُ ْع ِط أَجْ َره‬
ِ َ‫يرا فَ ْست َْو ف‬ ً ‫ع حََُ ًرافَأ َ َك َل ث َ َمنَهُ َو َر ُج ٌل ا ْستَأ َج َر أَ ِج‬
َ ‫َغ َد َر َو َر ُج ٌل بَا‬

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau
bersabda: Allah Azza wa Jalla berfirman: “ Tiga golongan yang Aku akan menjadi
musuh mereka di hari Kiamat; pertama: seorang yang bersumpah atas nama-Ku lalu ia
tidak menepatinya, kedua: seseorang yang menjual manusia merdeka dan memakan
hasil penjualannya, dan ketiga: seseorang yang menyewa tenaga seorang pekerja
yang telah menyelesaikan pekerjaan itu akan tetapi dia tidak membayar upahnya.

Dalam masalah ini Ulama bersepakat atas haramnya menjual orang yang merdeka
(Baiul hur), dan setiap akad yang mengarah ke sana, maka akadnya dianggap tidak
sah dan pelakunya berdosa.

Di antara pendapat mereka yaitu.

1. Hanafiyah
Ibnu Abidin rahimahullah berkata, “ Anak Adam dimuliakan menurut syari’ah, walaupun
ia kafir sekalipun (jika bukan tawanan perang), maka akad dan penjualan serta
penyamaannya dengan benda adalah perendahan martabat manusia, dan ini tidak
diperbolehkan…” [9]
Ibnu Nujaim rahimahullah berkata dalam Al-Asybah wa Nazhâir pada kaidah yang
ketujuh, “ Orang merdeka tidak dapat masuk dalam kekuasaan seseorang, maka ia
tidak menanggung beban disebabkan ghasabnya walaupun orang merdeka tadi masih
anak-anak” [10]

2. Malikiyah
Al-Hatthab ar-Ru’aini rahimahullah berkata, “ Apa saja yang tidak sah untuk dimiliki
maka tidak sah pula untuk dijual menurut ijma’ Ulama’, seperti orang merdeka , khamr,
kera, bangkai dan semisalnya “ [11]

3. Syâfi’iyyah:
Abu Ishâq Syairazit dan Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa menjual
orang merdeka haram dan bathil berdasarkan hadist di atas [12].

Ibnu Hajart menyatakan bahwa perdagangan manusia merdeka adalah haram menurut
ijma’ Ulama’ [13]

4. Hanâbilah
Ulama’ Hanabilah menegaskan batalnya baiul hur ini dengan dalil hadits di atas dan
mengatakan bahwa jual beli ini tidak pernah dibolehkan dalam Islam, di antaranya
adalah Ibnu Qudâmah [14], Ibnu Muflih al-Hanbali [15], Manshûr bin Yûnus al-Bahuthi,
dan lainnya.

5. Zhâhiriyyah
Madzhab ini menyebutkan bahwa semua yang haram dimakan dagingnya, haram
untuk dijual [16]

Dari keterangan di atas, telah jelas bagi kita bahwa Ulama bersepakat atas
haramnya penjualan manusia merdeka. Bahkan memperkerjakan orang merdeka
kemudian tidak menepati upah yang telah disepakati, maka perbuatan semacam ini
disamakan dengan memakan hasil penjualan manusia merdeka, yaitu berupa ancaman
yang terdapat dalam hadits tersebut di atas

‫وم ْال ِقيَا َم ِة‬ ْ ‫شلَشَةٌ أَنَا َخ‬


َ َ‫ص ُم ُه ْم ي‬ َ
“ Tiga golongan yang Aku akan menjadi musuh mereka di hari Kiamat…”.

Begitu pula mereka yang menjadi makelar untuk memperkerjakan tenaga


kerja, upah pekerja tersebut diambil oleh para makelar itu, dan akhirnya si pekerja tidak
mendapatkan upah, atau karena adanya makelar tersebut mengakibatkan upah
pekerja menjadi berkurang dari upah yang telah disepakati dengan majikan atau UMR.
Syaikh Ibnu Utsaimîn rahimahullah dalam kitab Syarhul Mumti’ ketika memberikan
contoh masalah Ijârah Fâsidah (akad persewaan yang rusak) menyebutkan bahwa
menyewakan tenaga kerja merdeka tidak diperbolehkan dengan alasan si pekerja tadi
bukanlah milik (budak) si penyedia sewa (makelar). Padahal syarat Ijârah (persewaan)
adalah si penyedia persewaan harus memiliki barang yang mau disewakan, dan di sini
orang yang merdeka ini tidak dimilikinya (bukan budaknya). Kemudian apabila akad
persewaan ini terjadi atas sepengetahuan musta’jir (penyewa/majikan) bahwa pekerja
tersebut bukan budak, maka sang majikan wajib mengganti upah mitsil (standar)
kepada pekerja tersebut. Akan tetapi apabila ia tidak mengetahui penipuan ini, maka ia
cukup membayar kesepakatan di muka tentang upah sewa kepada pekerja tadi. Dan
apabila upah tersebut kurang dari upah mitsil maka penanggungnya adalah pihak
penyedia tenaga.[17]

C. KESIMPULAN

Maka bisa kita ambil kesimpulan bahwa tidak ada hak bagi makelar untuk
mengambil jatah upah tenaga kerja, karena mereka adalah manusia merdeka yang
memiliki hak kepemilikan, bukan untuk dimiliki orang lain; begitu pula hasil kerjanya.
Bila ia ingin mendapat upah, maka hendaknya di luar upah mereka. Maka hal yang
demikian termasuk memakan harta dengan batil.
Wallâhu a’lam bis shawâb
Footnote
[1]. Lihat Bidâyah wa Nihâyah, Abu Fidâ‘ Ismâîl Ibn Katsîr, Kisah kelahiran Nabi Ismâ‘il.
Penerbit Hajar cet. Pertama,Th.1417H, 1/354.
[2]. Tafsir Al-Qur‘ânul Adzîm, Abu Fidâ‘ Ismâ‘îl Ibn Katsîr , tafsir Surat Yûsuf/12 :75,
Dâr Thayyibah cet.kedua Th. 1420, 4/401
[3]. Lihat Subulus Salâm Syarh Bulûghul Marâm, Muhammad bin Ismâ‘îl As-Shan’âni,
Kitâbul ‘itq 4/189- 195
[4]. Lihat Syarh shahîh Muslim Imam Nawawi rahimahullah, dalam penyebutan kaidah
Baiul gharâr 10/156
[5]. Al Isra’/17 : 70
[6]. Lihat Fathul Qadîr, Muhammad bin Ali Asy-Syaukâni, dalam tafsir Surat al-
Isrâ’/17:70, 1/1289
[7]. Tafsir Al-Qurthubi
[8]. Shahîul-Bukhâri No. 2227 Dalam Kitâbul Buyû’ Bab : Itsmu man bâ’a hurran dan
Musnad Imam Ahmad dari riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu
[9]. Raddul Mukhtâr Alâ Durrill Mukhtâr Syarh Tanwîril Abshar-Khasyiah Ibnu Abidîn,
Muh. Amin Ibn Abidin, Cet. Dârul Kutub Beirut,Th 1423 H. 4/110
[10]. Al-Asybah wa Nazhâir, Ibnu Nujaim al-Hanafi, Jilid 1 hlm. 146 maksud kaidah
tersebut adalah ; apabila orang yang merdeka dighasab oleh seseorang, maka apabila
ia mati tanpa sebab maka si ghâsib tidak menanggung harga orang tersebut, dan jika
ia mati disebabkan ghâsib, maka si âqilah ghâsib (keluarga dari jalur lelaki) yang
menanggung diyat orang tadi. Hal ini beda halnya jika yang di ghasab itu budak, maka
ia harus menanggung harga budak tersebut dan âqilahnya menanggung diyatnya. Hal
yang demikian untuk membedakan antara budak dan merdeka. Karena manusia
merdeka bukanlah sebuah harta.
[11]. Mawâhibul Jalîl lisyarhi Mukhtasar Khalîl, Abu ‘Abdillâh Muhammad al-Magribi al-
Mâliki al-ma’rûf bi al-Hathab ar-Ru’ainy, Dâr ‘Alimil Kutub, cet 1, 6/.67
[12]. Al-Majmû’ Syarh Muhazzab, An-Nawawi, cet Dârul Fikr, 9/ 228
[13]. Lihat Fathul Bâri, Ibnu Hajar al-Asqalâni, Bab Itsmu man bâ’a hurran, cet. Dârul
Hadîts Mesir Th.1424H 4/479- 480
[14]. Al-Mughni, Ibnu Qudâmah al-Maqdisy, Dâr Fikr, 4 / 327
[15]. Al-Mubaddi’ Fî Syarhi Muqnî’, Abu Ishâq Ibnu Muflih al-Hanbali, Al-Maktab al-
Islâmi, Cet. Beirut, 4/ 328
[16]. Muhalla, Ibnu Hazm 4/ 481
[17]. Lihat Syarhul Mumti’ ‘Alâ Zâdi Mustaqni’, Muhammad Shâlih al-Utsaimîn, Cet
pertama Dâr Ibn Jauzi, 10/88
Perdagangan Manusia (Human Trafficking) Dalam Pandangan Agama Kristen

A. Pengertian
Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) mendefenisikan human trafficking atau
perdagangan manusia sebagai: Perekrutan, pengiriman, pemindahan,
penampungan, atau penerimaan seseorang, dengan ancaman, atau penggunaan
kekerasan, atau bentuk-bentuk pemaksaan lain, penculikan, penipuan, kecurangan,
penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, memberi atau menerima bayaran
atau manfaat untuk memperoleh ijin dari orang yang mempunyai wewenang atas
orang lain, untuk tujuan eksploitasi. (Protokol PBB tahun 2000 untuk Mencegah,
Menanggulangi dan Menghukum Trafiking terhadap Manusia, khususnya
perempuan dan anak-anak; Suplemen Konvensi PBB mengenai Kejahatan Lintas
Batas Negara). Sementara dalam UU Nomor 21 tahun 2007 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, trafficking atau perdagangan
orang adalah tindakan perekrutan, pengangkutan, penampungan,
pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman
kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan,
penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau
memberi bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang
memegang kendali atas orang lain tersebut, baik yang dilakukan di dalam negara
maupun antar negara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang
tereksploitasi.

B. Citra Allah Diperdagangkan

Disebutkan di atas bahwa trafficking merupakan pelanggaran terhadap HAM.


HAM menunjuk pada hak dasar setiap orang yang berlandaskan kodrat
kemanusiaan. Dan karena kodrat manusia itu diciptakan Tuhan maka hak-hak asasi
ini mewujudkan kehendak Tuhan sebagai pribadi dengan akal dan kehendak bebas.
Penekanannya itulah bahwa HAM merupakan perwujudan kehendak Tuhan.
Manusia ada dengan segala hak asasinya sebagai karunia Pencipta. Justru karena
itulah maka manusia itu desebut mulia dan melebihi segala mahkluk hidup lain di
dunia. Dikatakan bahwa manusia diciptakan sebagai citra Allah. Dalam kitab
Kejadian disebutkan bahwa Manusia adalah hasil ciptaan Allah yang paling tinggi
dan sempurna, yang menonjol atas segalanya karena diciptakan sebagai citra Allah
(bdk. Kej. 1:16). Maka manusia yang menolak Allah dan kehendak-Nya menjadi
kehilangan dasar dan makna hidupnya dan akan musna.

Adanya trafficking menunjukan bahwa ada manusia yang diperdagangkan


dan ada yang menjadi pedagang manusia. Ini sudah menujukkan bahwa manusia
sebagai citra Allah diturunkan derajatnya seperti sapi atau babi yang
diperjualbelikan. Dalam arti itu, manusia sebenarnya sudah keluar dari kehendak
Allah. Situasi ini bagus dibandingkan dengan kata-kata Yesus kepada Yudas yang
menjual diri Yesus. “Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.”
(bdk. Mat. 26:24). Penegasan ini untuk mengatakan bahwa penghargaan dan
penghormatan terhadap manusia dan martabatnya memang merupakan keharusan.
Itu disertai dengan peringatan yang sangat karas. “Celakalah orang yang olehnya Ia
diserahkan (Luk. 22: 22).