Anda di halaman 1dari 9

HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS

(HIV)

DISUSUN OLEH :

1. Akhmad Megantoro (20116001)


2. Desy Fitria W. (20116006)
3. Hamida Khusnul L. (20116013)
4. Ima Anjanisa (20116014)
5. Indana Farodis (20116016)
6. Lailatul Ulfa Anwar (20116019)
7. Laili Lutfiah (20116020)
8. Nita Nur Dian S. (20116029)
9. Siti Rukmana (20116042)

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV ANALIS KESEHATAN


FAKULTAS SAINS DAN ANALISIS
INSTITUT ILMU KESEHATAN
BHAKTI WIYATA
KEDIRI
2019
A. Pengertian HIV
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah sejenis virus yang menyerang sistem
kekebalan tubuh manusia dan dapat menimbulkan AIDS. HIV menyerang salah satu
jenis dari sel-sel darah putih yang bertugas menangkal infeksi. Sel darah putih
tersebut terutama limfosit yang memiliki CD4 sebagai sebuah marker atau penanda
yang berada di permukaan sel limfosit. Karena berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh
manusia menunjukkan berkurangnya sel-sel darah putih atau limfosit yang seharusnya
berperan dalam mengatasi infeksi yang masuk ke tubuh manusia. Pada orang dengan
sistem kekebalan yang baik, nilai CD4 berkisar antara 1400-1500. Sedangkan pada
orang dengan sistem kekebalan yang terganggu (misal pada orang yang terinfeksi
HIV) nilai CD4 semakin lama akan semakin menurun (bahkan pada beberapa kasus
bisa sampai nol) (KPA, 2007). Virus HIV diklasifikasikan Grup : Grup IV (ssRNA-
RT), Famili: lentivirus (retroviridae) Subfamili: Orthroretrovirinae,
Spumaretrovirinae. Virus ini secara material genetik adalah virus RNA yang
tergantung pada enzim reverse transcriptase untuk dapat menginfeksi sel mamalia,
termasuk manusia, dan menimbulkan kelainan patologi secara lambat. Virus ini terdiri
dari 2 grup, yaitu HIV-1 dan HIV-2. Masing-masing grup mempunyai lagi berbagai
subtipe, dan masing-masing subtipe secara evolusi yang cepat mengalami mutasi.
Diantara kedua grup tersebut, yang paling banyak menimbulkan kelainan dan lebih
ganas di seluruh dunia adalah grup HIV-1 (Zein, 2006).

A. Struktur HIV
HIV merupakan virus RNA berbentuk sferis dengan diameter 100 nm, terdiri dari
bagian inti (core) berbentuk silindris dan dikelilingi oleh selubung (envelope)
sehingga virus ini peka terhadap inaktivasi. Inti virus terdiri dari untaian RNA, protein
struktural dengan protein utama p7 dan p9, serta enzim-enzim reverse transcriptase,
integrase dan protease yang diperlukan pada proses replikasi virus. Selubung virus
tersusun oleh lapisan lipid bilayer dengan adanya 70 – 80 buah tonjolan (knoblike
projection) yang tertanam pada permukaan selubung lipid dengan dua macam
glikoprotein yaitu gp 120 dan gp 41. Gp 120 berperan pada pengikatan HIV dengan
sel yang mempunyai reseptor CD4+ sedangkan gp 41 bertanggung jawab terhadap
fusi antara virus dengan membran sel tubuh ketika virus akan memasuki sel tubuh.
Struktur RNA genom sepanjang 10 kilo pasang basa meliputi 3 gen utama yang
mengkode pembentukan struktur-struktur virus, yaitu gen gag (group associated
antigen) yang mengkode pembentukan protein, gen pol (polymerase) yang mengatur
pembentukan enzim-enzim reverse transcriptase, protease dan endonuklease serta gen
env (envelope) yang mengatur pembentukan glikoproteinenvelop. Selain itu pada
HIV-1 masih ada 6 gen tambahan, 3 di antaranya adalah gen tat (transactivation of
transcription), rev (regulator of expression of virion), dan nef (negative regulatory
factor). Struktur polipeptida utama dari inti adalah p24, polipeptida lain yang terdapat
sekeliling inti adalah p17, sedangkan polipeptida yang membentuk kompleks dengan
RNA virus adalah p15. Polipeptida-polipeptida serta glikoprotein di atas bersifat
antigenik sehingga di dalam serum penderita yang terinfeksi HIV akan terbentuk
antobodi terhadap antigen-antigen tersebut.

1
B. Patofisiologi HIV/perjalanan infeksi HIV
Secara ringkas perjalanan infeksi HIV dapat dijelaskan dalam tiga fase, yaitu: (1) Fase
Infeksi Akut (Sindroma Retroviral Akut); (2) Fase Infeksi Laten; (3) Fase Infeksi
Kroni (Nasronudin , 2008).
Fase Infeksi Akut (Sindroma Retroviral Akut) Keadaan ini disebut juga infeksi
primer HIV. Sindroma akut yang terkait dengan infeksi primer HIV ini ditandai oleh
proses replikasi yang menghasilkan virus-virus baru (virion) dalam jumlah yang
besar. Virus yang dihasilkan dapat terdeteksi dalam darah dalam waktu sekitar tiga
minggu setelah terjadinya infeksi. Pada periode ini protein virus dan virus yang
infeksius dapat dideteksi dalam plasma dan juga cairan serebrospinal, jumlah virion di
dalam plasma dapat mencapai 106 hingga 107 per mililiter plasma. Viremia oleh
karena replikasi virus dalam jumlah yang besar akan memicu timbulnya sindroma
infeksi akut dengan gejala yang mirip infeksi mononukleosis akut yakni antara lain:
demam, limfadenopati, bercak pada kulit, faringitis, malaise, dan mual muntah, yang
timbul sekitar 3–6 minggu setelah infeksi. Pada fase ini selanjutnya akan terjadi
penurunan sel limfosit T-CD4 yang signifikan sekitar 2–8 minggu pertama infeksi
primer HIV, dan kemudian terjadi kenaikan limfosit T karena mulai terjadi respons
imun. Jumlahlimfosit T pada fase ini masih diatas 500 sel/mm3 dan kemudian akan
mengalami penurunan setelah enam minggu terinfeksi HIV (Nasronudin , 2008).
Fase Infeksi Laten Setelah terjadi infeksi primer HIV akan timbul respons imun
spesifik tubuh terhadap virus HIV. Sel sitotoksik B dan limfosit T memberikan
perlawanan yang kuat terhadap virus sehingga sebagian besar virus hilang dari
sirkulasi sistemik. Sesudah terjadi peningkatan respons imun seluler, akan terjadi
peningkatan antibodi sebagai respons imun humoral. Selama periode terjadinya
respons imun yang kuat, lebih dari 10 milyar HIV baru dihasilkan tiap harinya, namun
dengan cepat virus-virus tersebut dihancurkan oleh sistem imun tubuh dan hanya
memiliki waktu paruh sekitar 5–6 jam. Meskipun di dalam darah dapat dideteksi
partikel virus hingga 108 per ml darah, akan tetapi jumlah partikel virus yang
infeksius hanya didapatkan dalam jumlah yang lebih sedikit, hal ini menunjukkan
bahwa sejumlah besar virus telah berhasil dihancurkan. Pembentukan respons imun
spesifik terhadap HIV menyebabkan virus dapat dikendalikan, jumlah virus dalam
darah menurun dan perjalanan infeksi mulai memasuki fase laten. Namun demikian
sebagian virus masih menetap di dalam tubuh, meskipun jarang ditemukan di dalam
plasma, virus terutama terakumulasi di dalam kelenjar limfe, terperangkap di dalam
sel dendritik folikuler, dan masih terus mengadakan replikasi. Sehingga penurunan
limfosit T-CD4 terus terjadi walaupun virion di plasma jumlahnya sedikit. Pada fase
ini jumlah limfosit T-CD4 menurun hingga sekitar 500 sampai 200 sel/mm3
(Nasronudin , 2008). Jumlah virus, setelah mencapai jumlah tertinggi pada awal fase
infeksi primer, akan mencapai jumlah pada titik tertentu atau mencapai suatu "set
point" selama fase laten. Set point ini dapat memprediksi onset waktu terjadinya
penyakit AIDS. Dengan jumlah virus kurang dari 1000 kopi/ml darah, penyakit AIDS
kemungkinan akan terjadi dengan periode laten lebih dari 10 tahun. Sedangkan jika
jumlah virus kurang dari 200 kopi/ml, infeksi HIV tidak mengarah menjadi penyakit

2
AIDS. Sebagian besar pasien dengan jumlah virus lebih dari 100.000 kopi/ml,
mengalami penurunan jumlah limfosit T-CD4 yang lebih cepat dan mengalami
perkembangan menjadi penyakit AIDS dalam kurun waktu kurang dari 10 tahun.
Sejumlah pasien yang belum mendapatkan terapi memiliki jumlah virus antara 10.000
hingga 100.000 kopi/ml pada fase infeksi laten. Pada fase ini pasienumumnya belum
menunjukkan gejala klinis atau asimtomatis. Fase laten berlangsung sekitar 8–10
tahun (dapat 3-13 tahun) setelah terinfeksi HIV (Nasronudin, 2008).
Fase Infeksi Kronis Selama berlangsungnya fase ini, di dalam kelenjar limfa terus
terjadi replikasi virus yang diikuti dengan kerusakan dan kematian sel dendritik
folikuler serta sel limfosit T-CD4 yang menjadi target utama dari virus HIV oleh
karena banyaknya jumlah virus. Fungsi kelenjar limfa sebagai perangkap virus
menurun atau bahkan hilang dan virus dicurahkan ke dalam darah. Pada fase ini
terjadi peningkatan jumlah virion secara berlebihan di dalam sirkulasi sistemik.
respons imun tidak mampu mengatasi jumlah virion yang sangat besar. Jumlah sel
limfosit T-CD4 menurun hingga dibawah 200 sel/mm3 , jumlah virus meningkat
dengan cepat sedangkan respons imun semakin tertekan sehingga pasien semakin
rentan terhadap berbagai macam infeksi sekunder yang dapat disebabkan oleh virus,
jamur, protozoa atau bakteri. Perjalanan infeksi semakin progresif yang mendorong ke
arah AIDS. Setelah terjadi AIDS pasien jarang bertahan hidup lebih dari dua tahun
tanpa intervensi terapi. Infeksi sekunder yang sering menyertai antara lain: pneumonia
yang disebabkan Pneumocytis carinii, tuberkulosis, sepsis, toksoplasmosis ensefalitis,
diare akibat kriptosporidiasis, infeksi virus sitomegalo, infeksi virus herpes,
kandidiasis esofagus, kandidiasis trakea, kandidiasis bronkhus atau paru serta infeksi
jamur jenis lain misalnya histoplasmosis dan koksidiodomikosis. Kadangkadang juga
ditemukan beberapa jenis kanker yaitu, kanker kelenjar getah bening dan kanker
sarkoma Kaposi's(Nasronudin, 2008).
Selain tiga fase tersebut di atas, pada perjalanan infeksi HIV terdapat periode masa
jendela atau "window period" yaitu, periode saat pemeriksaan tes antibodi terhadap
HIV masih menunjukkan hasil negatif walaupun virus sudah ada dalam darah pasien
yang terinfeksi HIV dengan jumlah yang banyak. Antibodi yang terbentuk belum
cukup terdeteksi melalui pemeriksaan laboratorium oleh karena kadarnya belum
memadai. Periode ini dapat berlangsung selama enam bulan sebelum terjadi
serokonversi yang positif, meskipun antibodi terhadap HIV dapat mulai terdeteksi 3–6
minggu hingga 12 minggu setelah infeksi primer. Periode jendela sangat penting
diperhatikan karena pada periode jendela ini pasien sudah mampu dan potensial
menularkan HIV kepada orang lain (Nasronudin, 2008).

C. Pemeriksaan HIV
1. Hitung sel T CD4
Pemeriksaan ini adalah indikator yang cukup dapat diandalkan untuk mengetahui
risiko terkena infeksi oportunistik.
a. Prinsip pemeriksaan
Tabung reagen mengandung antibody yang telah ditandai oleh fluorochrome
dalam jumlah tertentu. Ketika ditambahkan sampel, antibody tersebut akan

3
berfluoresensi bila terkena sinar laser, fluoresensi yang erjadi sebanding
dengan jumlah sel CD4 yang ada.
b. Persiapan reagen
1). Tabung BD TruCOUNT
Merupakan tabung yang digunakan untuk menghitung jumlah absolutleukosit
dalam darah. Tabung ini berisi lyophilized pellet yang akan larut apabila
kedalam tabung ditambahkan reagen monoclonal antibody dan darah utuh.
Lyophilized pellet akan melepaskan fluorescent beads yang telah diketahui
jumlahnya.
2). Reagen BD Tritest CD3/CD4/CD45
Terdiri dari CD4+ fluorescen isothiocyanate(FITC)/CD8+ phycoerythin
(PE)/CD3 peridinin cholorophil protein (perCP).
Merupakan reagen imunofluorescen 3 warna untuk identifikasi dan
menghitung jumlah persentase dan absolut limfosit T CD4+, limfosit T
helper/inducer (CD3+ CD4+ dan limfosit T supresor/sitotoksik (CD3+ CD8+)
dalam eritosit).
3). Facs flow
4). Larutan pelisis
100 µl larutan pelisis ditambah 900 µl air suling.

c. Prosedur
1). Ambil darah vena 3 cc di masukkan dalam tabung K2EDTA/K3EDTA
2). Ambil darah 50 mikro, masukkan tabung khusus BDTRUCON
3). Ditambah 20 mikroliter antibody
4). Lalu di vortex(dicampur/digetarkan) selama 5 menit, di inkubasi pada suhu
kamar ditempat gelap selama 15 menit.
5). Lalu dibaca dengan alat BD Facs Calibur.

d. Nilai normal
1). Normal
Sel CD4+ pada orang yang tidak terinfeksi HIV biasanya berkisar dari 600-
1500 sel/µl.

4
Sel CD4+ lebih besar dari 350 tapi kurang dari 500 sel/µl menunjukkan system
kekebalan tubuh mulai melemah.
2). Abnormal
CD4+ kurang dari 350 sel/µl menunjukkan system kekebalan tubuh yang
lemah dan peningkatan resiko infeksi oprtunistik.

CD4+ kurang dari 200 sel/MCL mengindikasikan adanya acquired immunodeficiency

syndrome (AIDS) dan risiko tinggi terkena infeksi oportunistik.

Ketika tingkat CD4+ menurun, kecenderungan berkembangnya acquired


immunodeficiency syndrome (AIDS) mungkin terjadi.

2. Pemeriksaan Imunologi
1. Rapid Test
Rapid test adalah tes yang digu- nakan untuk mengetahui secara cepat ada
atau tidaknya HIV di dalam tu- buh kurang lebih dalam waktu 20 menit
dan digunakan sebagai tes skri- ning. Rapid test membutuhkan sampel darah
atau cairan mulut untuk men- deteksi adanya antibodi dan HIV. Tes ini
dapat memberikan hasil yang sa- lah jika immunoassay berada dalam
window period (waktu setelah exposure tetapi sebelum tes mene- mukan
antibodi).

RAPID TEST SD BIOLINE HIV 1/2 3.0


Cara Penggunaan rapid test ini adalah :
1. Untuk Spesimen darah (dengan lancet)
2. Tusuk jari dengan lancet steril.
3. Ambil 20 µl darah dengan pipet kapiler (hingga garis hitam).
4. Teteskan 20 µl darah ke dalam wadah spesimen.
5. Teteskan 4 tetes assay diluent ke dalam wadah spesimen.

Darah (dengan venipuncture), Plasma atau serum


Masukkan 10 µl plasma atau serum (20 µl darah) ke dalam wadah spesimen.
Teteskan 4 tetes assay diluent kedalam wadah spesimen

Jika pada kolom bertanda C (Control) dan kolom bertanda angka 1 muncul
garis berwarna merah maka dapat dinyatakan positif HIV tipe 1, sedangkan
jika muncul garis di angka 2 dapat dinyatakan positif HIV tipe 2, namun jika
hanya satu garis saja pada colom C (Control) saja maka pasien dapat
dinyatakan negatif HIV. Perlu diperhatikan, jika dalam colom C tidak keluar
garis maka hasil tes dinyatakan invalid.

Indikasi:
Rapid Test SD (Standard Diagnostics, Inc.,) Bio Line HIV 1 /2 3.0 dapat
digunakan untuk mendeteksi HIV dengan sangat cepat karena hanya
diperlukan waktu kurang dari 20 menit. Penggunaan alat ini sangat sederhana

5
dan hampir mirip dengan cara penggunaan tes kehamilan pada umumnya,
hanya saja untuk tes kehamilan spesimen yang digunakan adalah urin
sedangkan untuk mendeteksi HIV diperlukan spesimen yang dapat berupa
darah (Whole Blood), serum ataupun plasma.
2. RNA test
RNA test akan mendeteksi virus secara langsung (kebalikan dari
antibodi terhadap HIV) dan hal ini yang menguntungkan karena dapat
mendeteksi HIV dalam waktu 10 hari setelah infeksi segera setelah muncul
dalam aliran darah, sebelum pemben- tukan antibodi. Biasanya tes ini jarang
digunakan karena membutuhkan lebih banyak biaya dibandingkan tes lain-
nya.
a. Elisa

Untuk mengetahui apakah seseorang mengidap HIV diperlukan pemeriksaan


penunjang di laboratorium, pemeriksaan tersebut antara lain teknik enzyme
linked immunoassay (ELISA), Western Blot, dan immunofluorescence
assay. Teknik tersebut mendeteksi antibodi terhadap HIV. Kelemahan metode
tersebut tidak dapat mendeteksi virus pada window period, suatu periode di
mana seseorang telah terinfeksi HIV tetapi tubuh belum membentuk antibodi
yaitu sekitar 2–4 minggu. Virus dapat dideteksi dengan teknik polymerase
chain reaction (PCR) dalam periode tersebut, meskipun dalam jumlah kecil
(Abravaya et al, 2000).

1). Prinsip
Sumuran simpai titer mikro (Microtiter strip wells) sebelumnya telah dilapisi
antigen HSV jenis (tipe)-2 penggabung kembali (rekombinan) untuk mengikat
antibodi yang berkesesuaian dari contoh (spesimen). Setelah proses pencucian
sumuran (wells) untuk menghilangkan semua bahan terokan (material sampel)
yang tidak berikatan, ditambahkan HRP (Horseradish peroxidase) bertanda
IgM anti manusia (labelled anti-human) IgM berpasangan (conjugate).
Pasangan (conjugate) ini berikatan dengan captured HSV tipe-2 specifics
antibodies. Kompleks imun yang dibentuk oleh conjugate yang terikat tersebut
divisualisasikan dengan penambahan substrat TMB (Tetramethylbenzidine)
yang akan memberikan produk berwarna hijau. Intensitas produk ini sebanding
dengan jumlah antibodi IgM spesifik untuk HSV- 2 pada spesimen. Asam
sulfur ditambahkan untuk menghentikan reaksi. Hal ini akan menghasilkan
warna kuning. Selanjutnya intensitas produk dibaca dengan microELISA
reader pada panjang gelombang 450 nm.

2). Bahan/Reagen:
1. HSV-2 coated wells
2. IgM sample diluent
3. Stop solution
4. washing solution
6
5. HSV-2 anti IgM conjugate
6. TMB substrate solution
7. HSV-2 IgM positive control
8. HSV-2 IgM Cutt-off Control
9. HSV-2 Negative Control

3). Cara Kerja:


1. Semua sampel yang akan diperiksa diencerkan 1+100 dengan IgM sample
diluent (10 μL sampel ditambah 1ml IgM sample diluent),
2. Disediakan: 1 well untuk substrat blank (A1), 1 well untuk kontrol negatif, 2
wells untuk kontrol cut-off, dan 1 well untuk kontrol positif,
3. Dimasukkan 100 μL kontrol dan sampel yang telah diencerkanpada well
masing-masing,
4. Sumuran (Well) ditutup dengan kertas aluminium (foil) yang tersedia,
5. Diinkubasi selama 1 jam ± 5 menit pada suhu 37° C ± 1° C,
6. Setelah inkubasi selesai foil dibuka, diambil isi dari well dan dicuci 3 kali
dengan 300 μL washing solution. Dihindari isi yang berlebihan dari well. Jarak
tiap pencucian > 5 detik. Terakhir diambil sisa cairan memakai kertas isap
secara hati-hati sebelum tahap berikut,
7. Dimasukkan 100 μL HSV-2 antiIgM Conjugate
8. pada semua well kecuali blank well,
9. Ditutup dengan foil,
10. Diinkubasi selama 30 menit pada suhu ruang, tidak terekspos sinar
matahari langsung,
11. Diulangi pencucian 3 kali dengan masing-masing 300 μL washing
solution,
12. Ditambahkan 100 μL TMB substrat solution pada semua well,
13. Inkubasi 15 menit pada suhu kamar di ruang gelap,
14. Ditambahkan100 μL stop solution pada semua well. Akan terlihat
perubahan warna biru menjadi kuning,
15. Diukur absorbans pada 450/620 nm dalam waktu 30 menit setelah
pemberian stop solution.

7
b. RT-PCR

Metode reverse transcription – polymerase chain reaction (RT-PCR) dengan


hibridisasi menggunakan pelacak DNA spesifik adalah metode deteksi
alternatif berdasarkan adanya RNA HIV, dapat mendeteksi adanya virus
dalam darah secara langsung baik secara kualitatif (ada atau tidak virus dalam
darah) maupun kuantitatif (jumlah virus/jumlah copy RNA dalam darah).
Beberapa penelitian menyatakan metode deteksi HIV yang sensitif dan
spesifik adalah PCR yang dilanjutkan dengan teknik hibridisasi menggunakan
pelacak DNA spesifik (Dickover et al, 1998)

RT-PCR dengan hibridisasi dot blot menggunakan pelacak berlabel biotin


yang lebih sensitif digunakan untuk mendeteksi HIV dalam sampel dengan
jumlah banyak sehingga sangat efisien untuk studi surveillance. Beberapa
penelitian membuktikan penggunaan pelacak DNA berlabel radio isotop pada
proses hibridisasi ternyata lebih sensitif dan prosedur yang digunakan lebih
sederhana dibandingkan dengan pelacak DNA non isotop. Oleh karenanya,
penggunaan pelacak DNA berlabel radioisotop (32P) pada proses
hibridisasi dot blot untuk deteksi HIV masih akan terus dikembangkan pada
penelitian selanjutnya (IAEA, 2006)

DAFTAR PUSTAKA

Abravaya, K Espin, C Hoenle, R Gorzowski, J Perry R Kroeger, P. 2000. Performance of a


multiplex qualitative PCR LCx assay for detection of human immunodeficiency virus type 1
(HIV-1) group M subtypes, group O, and HIV-2. J Clin Microbiol; 38: 716-23.

Dickover RE, Herman SA, Saddiq K, Wafer D, Dillon M, Bryson YJ. 1998. Optimization of
Specimen Handling Procedures for Accurate Quantitation of Level of Human
Immunodeficiency Virus RNA in Plasma by Reverse Transcriptase PCR. J Clin Microbiol;
36: 1070-3.

International Atomic Energy Agency (IAEA). Organization of radioisotopes based molecular

biology laboratory (IAEA-TECDOC-1528). Vienna, Austria.

Nasronudin. HIV & AIDS Pendekatan Biologi 3. Nasronudin. HIV & AIDS Pendekatan
Biologi Molekuler Klinis dan Sosial. Edisi 1. Surabaya: Airlangga University Press;
2008.

Zein, U., dkk., 2006. 100 Pertanyaan Seputar HIV/AIDS yang Perlu Anda Ketahui. Medan:
USU press

Hull, MW., Rollet, K., Odueyungbo, A., Saeed, S., Potter, M., Cox, J. et al. (2012) Actors
Associated With Discordance Between Absolute CD4 Cell Count and CD4 Cell
Percentage in Patients Coinfected With HIV and Hepatitis C Virus. J Clin Infectious
Dis. 54(12), pp.1798- 1805.