Anda di halaman 1dari 19

TINJAUAN PUSTAKA

1. Anatomy
Tonsil adalah massa yang terdiri dari jaringan limfoid dan ditunjang oleh jaringan ikat dengan
kriptus di dalamnya. tonsil terdiri dari 3 macam yaitu tonsil faringeal(adenoid), tonsil palatina.
Tonsil terdiri dari jaringan limfoid yang dilapisi oleh epitel respiratori. Cincin Waldeyer
merupakan jaringan limfoid yang membentuk lingkaran di faring yang terdiri dari :
 Tonsil faringeal (adenoid)
 Tonsil palatina (tonsil faucial)
 Tonsil lingual (tosil pangkal lidah)
 Tonsil tuba eustachius (lateral band dinding faring / Gerlach’s tonsil).
Cincin waldeyer merupakan jaringan limfoid yang mengelilingi faring. Bagian terpentingnya
adalah tonsil palatina dan tonsil faringeal (adenoid). Unsur yang lain adalah tonsil lingual, gugus
limfoid lateral faring dan kelenjar-kelenjar limfoid yang tersebar dalam fosa Rosenmuller, di
bawah mukosa dinding posterior faring dan dekat orifisium tuba eustachius.

Gambar 1. Letak anatomi tonsil yang membentuk cicin waldeyer


Tonsil palatina adalah suatu massa jaringan limfoid yang terletak di dalam fosa tonsil pada
kedua sudut orofaring, dan dibatasi oleh pilar anterior (otot palatoglosus) dan pilar posterior (otot
palatofaringeus). Tonsil berbentuk oval dengan panjang 2-5 cm, masing-masing tonsil mempunyai
10-30 kriptus yang meluas ke dalam jaringan tonsil. Tonsil tidak selalu mengisi seluruh fosa
tonsilaris, daerah yang kosong diatasnya dikenal sebagai fosa supratonsilar. Tonsil ini terletak di
lateral orofaring dengan dibatasi oleh:
 Lateral → muskulus konstriktor faring superior
 Anterior → muskulus palatoglosus
 Posterior → muskulus palatofaringeus
 Superior → palatum mole
 Inferior → tonsil lingual

Tonsil palatina memiliki 2 lapisan (lateral dan medial) serta memiliki 2 kutub (kutub atas
dan kutub bawah. Berikut ini penjelasan dari bagian bagian :
 Lapisan medial
Lapisan ini ditutupi oleh epitel squamous bertingkat non-keratinizing yang berlekuk masuk
ke dalam substansi tonsil dan membentuk kripta. Pintu masuk dari 12 – 15 kripta dapat
terlihat pada lapisan medial ini. Salah satu dari kripta tadi, yang terletak dekat dengan kutub
atas merupakan kripta dengan ukuran paling besar dan dalam yang dikenal dengan crypta
magna atau intratonsillar cleft. Kripta dapat diisi oleh material seperti sel epitel, bakteri, atau
debris makanan.
 Lapisan lateral
Lapisan ini ditutupi oleh kapsul berupa jaringan fibrosa. Diantara kapsul dan bagian dalam
tonsil terdapat jaringan ikat longgar yang menjadi batas saat dilakukan tonsilektomi. Tempat
ini juga merupakan tempat pengambilan sampel nanah pada penderita peritolsillar abscess.
Beberapa serat otot palatoglossus dan otot palatopharingeal juga melekat pada kapsul tonsil6.
 Kutub atas
Bagian ini memanjang sampai pallatum mole. Lapisan medialnya ditutupi oleh lipatan
semilunar, yang memanjang diantara pilar anterior dan posterior, dan menutupi fossa
supratonsilar.

 Kutub bawah
Bagian ini melekat pada pangkal lidah. Lipatan triangular dari membran mukosa memanjang
dari pilar anterior sampai bagian anteroinferior dari tonsil dan menutupi anterior pillar space.
Tonsil dipisahkan dari lidah oleh tonsillolingual sulcus yang sering menjadi tempat terjadinya
keganasan .

Gambar 2. Gambaran anatomi tonsil palatina


Adenoid merupakan masa limfoid yang berlobus dan terdiri dari jaringan limfoid yang
sama dengan yang terdapat pada tonsil. Lobus atau segmen tersebut tersusun teratur seperti suatu
segmen terpisah dari sebuah ceruk dengan celah atau kantong diantaranya. Lobus ini tersusun
mengelilingi daerah yang lebih rendah di bagian tengah, dikenal sebagai bursa faringeus. Adenoid
tidak mempunyai kriptus. Adenoid terletak di dinding belakang nasofaring. Jaringan adenoid di
nasofaring terutama ditemukan pada dinding atas dan posterior, walaupun dapat meluas ke fosa
Rosenmuller dan orifisium tuba eustachius. Ukuran adenoid bervariasi pada masing-masing anak.
Pada umumnya adenoid akan mencapai ukuran maksimal antara usia 3-7 tahun kemudian akan
mengalami regresI
Tonsil lingual terletak di dasar lidah dan dibagi menjadi dua oleh ligamentum
glosoepiglotika. Di garis tengah, di sebelah anterior massa ini terdapat foramen sekum pada apeks,
yaitu sudut yang terbentuk oleh papilla sirkumvalata
Fossa tonsil dibatasi oleh otot-otot orofaring, yaitu batas anterior adalah otot palatoglosus,
batas posterior adalah otot palatofaringeus dan batas lateral atau dinding luarnya adalah otot
konstriktor faring superior. Berlawanan dengan dinding otot yang tipis ini, pada bagian luar
dinding faring terdapat nervus ke IX yang merupakan nervus glosofaringeal
Tonsil mendapat pendarahan dari cabang-cabang arteri karotis eksterna, yaitu 1) arteri
maksilaris eksterna (arteri fasialis) dengan cabangnya arteri tonsilaris dan arteri palatina asenden;
2) arteri maksilaris interna dengan cabangnya arteri palatina desenden; 3) arteri lingualis dengan
cabangnya arteri lingualis dorsal; 4) arteri faringeal asenden. Kutub bawah tonsil bagian anterior
diperdarahi oleh arteri lingualis dorsal dan bagian posterior oleh arteri palatina asenden, diantara
kedua daerah tersebut diperdarahi oleh arteri tonsilaris. Kutub atas tonsil diperdarahi oleh arteri
faringeal asenden dan arteri palatina desenden 4. Vena-vena dari tonsil membentuk pleksus yang
bergabung dengan pleksus dari faring. Aliran balik melalui pleksus vena di sekitar kapsul tonsil,
vena lidah dan pleksus faringeal.

Gambar 3 sistem vaskularisasi tonsil Palatina


Aliran getah bening dari daerah tonsil akan menuju rangkaian getah bening servikal
profunda (deep jugular node) bagian superior di bawah muskulus sternokleidomastoideus,
selanjutnya ke kelenjar toraks dan akhirnya menuju duktus torasikus. Tonsil hanya mempunyai
pembuluh getah bening eferan sedangkan pembuluh getah bening aferen tidak ada. Tonsil bagian
bawah mendapat sensasi dari cabang serabut saraf ke IX (nervus glosofaringeal) dan juga dari
cabang desenden lesser palatine nerves.

Tonsil merupakan jaringan limfoid yang mengandung sel limfosit. Limfosit B membentuk
kira-kira 50-60% dari limfosit tonsilar. Sedangkan limfosit T pada tonsil adalah 40% dan 3% lagi
adalah sel plasma yang matang. Limfosit B berproliferasi di pusat germinal. Immunoglobulin (IgG,
IgA, IgM, IgD), komponen komplemen, interferon, lisozim dan sitokin berakumulasi di jaringan
tonsilar. Sel limfoid yang immunoreaktif pada tonsil dijumpai pada 4 area yaitu epitel sel retikular,
area ekstrafolikular, mantle zone pada folikel limfoid dan pusat germinal pada folikel ilmfoid..
Tonsil merupakan organ limfatik sekunder yang diperlukan untuk diferensiasi dan
proliferasi limfosit yang sudah disensitisasi. Tonsil mempunyai 2 fungsi utama yaitu :
1. Menangkap dan mengumpulkan bahan asing dengan efektif
2. Sebagai organ utama produksi antibodi dan sensitisasi sel limfosit T dengan antigen spesifik.

Gambar 4 Anatpmi faring dan tonsil

Definisi
Tonsilitis adalah peradangan tonsil palatina yang merupakan bagian dari cincin Waldeyer. Cincin
waldeyer terdiri dari susunan kelenjar limfa yang terdapat di dalam rongga mulut.
Etiologi
Tonsillitis dapat disebabkan baik oleh infeksi virus, infeksi bakteri, maupun jamur.

Tabel 1. Etiologi terjadinya tonsillitis


Dari beberapa studi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa Streptococcus β Hemolitikus Grup
A merupakan penyebab utama dari tonsilitis dengan persentase sekitar 15 – 30% dari semua jenis
bakteri13. Beberapa etiologi lain yang juga cukup tinggi insidennya dalah menyebabkan terjadinya
tonsilitis adalah Haemophyllus influenza Staphylococcus aureus dan Streptococcus Pyogens.
Gambar 5. Gambaran tonsilitis akut.
Etiologi disebabkan oleh (a) Streptococcus beta hemoliticus grup A (b) Lesi eksudatif
terlihat pada kedua tonsil (c) Infeksi mononukleosis
Klasifikasi
Berdasarkan perjalanan penyakitnya, tonsilitis dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis,
yaitu sebagai berikut :
1. Tonsilitis Akut
Radang akut tonsil dapat disebabkan kuman grup A streptokokus β hemolitikus,
pneumokokus, streptokokus viridan, dan streptokokus pyogenes. Hemofilus influenzae
merupakan penyebab tonsilitis akut supuratif. Bentuk tonsilitis akut dengan detritus yang jelas
disebut tonsilitis folikularis. Bila bercak-bercak detritus ini menjadi satu, membentuk alur-
alur maka akan terjadi tonsilitis lakunaris. Bercak detritus ini dapat melebar sehingga
terbentuk membran semu (pseudomembrane) yang menutupi tonsil.
Tonsilitis akut merupakan suatu inflamasi akut yang terjadi pada tonsilla palatina, yang
terdapat pada daerah orofaring disebabkan oleh adanya infeksi maupun virus. Tonsilitis akut
dapat dibagi menjadi :
 Acute superficial tonsilitis, biasanya disebabkan oleh infeksi virus dan biasanya
merupakan perluasan dari faringitis serta hanya mengenai lapisan lateral.
 Acute folicular tonsilitis, infeksi menyebar sampai ke kripta sehingga terisi dengan
material purulen, ditandai dengan bintik – bintik kuning pada tonsil
 Acute parenchymatous tonsilitis, infeksi mengenai hampir seluru bagian tonsil sehingga
tonsil terlihat hiperemis dan membesar,
 Acute membranous tonsilitis, merupakan stase lanjut dari tonsilitis folikular dimana
eksudat dari kripta menyatu membentuk membran di permukaan tonsil .
Ada beberapa macam penyakit yang termasuk dalam tonsillitis membranosa beberapa
diantaranya yaitu Tonsilitis difteri, Tonsilitis septic, serta Angina Plaut Vincent, penyakit
kelainan darah seperti leukemia akut, anemia pernisiosa, neutropenia maligna serta infeksi
mononucleosis, proses spesifik luas dan tuberculosis, infeksi jamur moniliasis,
aktinomikosis dan blastomikosis, serta infeksi virus morbili, pertusis, dan skarlatina.
Gambar 6. Gambaran Acute parenchymatous tonsilitis
2. Tonsilitis Kronis
Tonsilitis kronis adalah peradangan tonsil yang menetap sebagai akibat infeksi akut atau
subklinis yang berulang. Ukuran tonsil membesar akibat hiperplasia parenkim atau degenerasi
fibrinoid dengan obstruksi kripta tonsil, namun dapat juga ditemukan tonsil yang relatif kecil
akibat pembentukan sikatrik yang kronis sehingga kripta melebar, tampak diisi oleh detruitus,
proses berjalan terus menerus sehingga menimbulkan perlekatan dengan jaringan disekitar fosa
tonsilaris, pada anak dapat disertai dengan pembesaran kelenjar limfa submandibula. Durasi
maupun beratnya keluhan nyeri tenggorok sulit dijelaskan. Biasanya nyeri tenggorok dan nyeri
menelan dirasakan lebih dari 4 minggu dan kadang dapat menetap . Tonsilitis kronis adalah
suatu kondisi yang merujuk kepada adanya pembesaran tonsil sebagai akibat infeksi tonsil
yang berulang.
Faktor predisposisi timbulnya tonsillitis kronis ialah rangsangan menahun baik dari rokok,
jenis makanan, higienitas mulut yang buruk, kelelahan fisik dan pengobatan tonsillitis yang
tidak adekuat.

Patofisiologi
Bakteri atau virus memasuki tubuh melalui hidung atau mulut. Tonsil berperan sebagai
filter yang menyelimuti bakteri ataupun virus yang masuk dan membentuk antibodi terhadap
infeksi. Kuman menginfiltrasi lapisan epitel, bila epitel terkikis maka jaringan limfoid superfisial
mengadakan reaksi. Terdapat pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit poli morfonuklear.
Proses ini secara klinik tampak pada korpus tonsil yang berisi bercak kuning yang disebut detritus.
Detritus merupakan kumpulan leukosit, bakteri dan epitel yang terlepas, suatu tonsillitis akut
dengan detritus disebut tonsillitis falikularis.
Pada tonsilitis akut dimulai dengan gejala sakit tenggorokan ringan hingga menjadi parah.
Pasien hanya mengeluh merasa sakit tenggorokannya sehingga sakit menelan dan demam tinggi.
Sekresi yang berlebih membuat pasien mengeluh sakit menelan, tenggorokan akan terasa
mengental. Tetapi bila penjamu memiliki kadar imunitas antivirus atau antibakteri yang tinggi
terhadap infeksi virus atau bakteri tersebut, maka tidak akan terjadi kerusakan tubuh ataupun
penyakit. Sistem imun selain melawan mikroba dan sel mutan, sel imun juga membersihkan debris
sel dan mempersiapkan perbaikan jaringan.

Gambar 7. Tonsilitis akut dengan folikel pada tonsil

Infeksi berulang pada tonsilitis akut sering tejadi pada pengobatan yang tidak adekuat. Hal
terjadi dikarenakan kemampuan bakteri untuk bertahan pada lingkungan intraseluler di dalam
kripta tonsil, sehingga tidak terkena paparan antibiotik yang diberikan pada pasien. Dengan begitu
bakteri tersebut dapat berkembang biak dan menyebabkan reinfeksi kembali. Mekanisme lain
yang dapat menjelaskan kejadian ini adalah karena penetrasi antibiotik ke dalam tonsil yang rendah
akibat jaringan parut karena infeksi tonsilitis. Selain itu juga adanya flora normal yang
menghasilkan enzim protektif dan membentuk lapisan biofilm juga dapat menghalangi penetrasi
dari antobiotik ke dalam tonsil .
Gambar 8. Pembesaran tonsil. Disebabkan oleh (A) Tonsilitis berulang (B) Pada pasien
Obstructive Sleep Apnea (C) Unilateral hipertrofi tonsil

Tonsilitis kronis adalah suatu keadaan dimana penyakit terjadi secara berulang diikuti oleh
episode serangan akut atau keadaan subklinis dari suatu infeksi yang persisten, biasanya terjadi
akibat penatalaksanaan yang kurang adekuat. Terminologi tonsilitis berulang/recurrent
merupakan keadaan yang hampir sama dengan tonsilitis kronis. Akan tetapi pada keadaan tonsilitis
berulang, ada suatu keadaan dimana tonsil kembali ke keadaan normal secara makroskopis dan
histologis diantara dua serangan. Hal ini yang membedakannya dengan tonsilitis kronis dimana
keadaan ini tidak ditemukan.
Pada tonsillitis kronik terjadi karena proses radang berulang yang menyebabkan epitel
mukosa dan jaringan limfoid terkikis. Sehingga pada proses penyembuhan, jaringan limfoid
diganti jaringan parut. Jaringan ini akan mengkerut sehingga ruang antara kelompok melebar
(kriptus) yang akan diisi oleh detritus. Infiltrasi bakteri pada epitel jaringan tonsil akan
menimbulkan radang berupa keluarnya leukosit polimorfonuklear serta terbentuk detritus yang
terdiri dari kumpulan leukosit, bakteri yang mati, dan epitel yang lepas.
Patofisiologi tonsilitis kronis adalah akibat adanya infeksi berulang pada tonsil maka pada
suatu waktu tonsil tidak dapat membunuh semua kuman sehingga kuman kemudian menginfeksi
tonsil. Pada keadaan inilah fungsi pertahanan tubuh dari tonsil berubah menjadi tempat infeksi.
Proses radang berulang yang timbul maka selain epitel mukosa juga jaringan limfoid terkikis,
sehingga pada proses penyembuhan jaringan limfoid diganti oleh jaringan parut yang akan
mengalami pengerutan sehingga kripta melebar. Secara klinik kripta ini tampak diisi oleh detritus.
Proses berjalan terus sehingga menembus kapsul tonsil dan akhirnya menimbulkan perlekatan
dengan jaringan disekitar fossa tonsilaris. Proses ini disertai dengan pembesaran kelenjar limfa
submandibula.

Gambar 9 Gambaran tonsilitis kronis. Tidak ada kriteria diagnostik yang jelas untuk
tonsilitis kronis. Kripta tonsil yang dalam, debris putih pada kripta, dan vaskularisasi
pada pilar anterior tampak pada tonsilitis kronis. Debris putih terdiri dari sisa sisa
makanan yang dapat menyebabkan halitosis

Tanda dan gejala Tonsilitis

Gejala pada tonsillitis akut adalah rasa gatal/ kering ditenggorokan, anoreksia, otalgia,
tonsil membengkak. Dimulai dengan sakit tenggorokan yang ringan hingga menjadi parah, sakit
menelan, kadang muntah. Pada tonsillitis dapat mengakibatkan kekambuhan sakit tenggorokan
dan keluarnya nanah pada lekukan tonsil.
Tanda klinisnya dijumpai tonsil membengkak dan meradang. Tonsila biasanya bercak-
bercak dan kadang-kadang diliputi oleh eksudat. Eksudat ini mungkin keabu-abuan dan
kekuningan. Eksudat ini dapat berkumpul, membentuk membran dan pada beberapa kasus dapat
terjadi nekrosis jaringan local.
Berikut ini adalah tanda dan gejala yang dialami oleh pasien yang menderita tonsilitis akut,
yaitu sebagai berikut ini :
1. Tanda
 Napas berat dan lidah yang licin
 Hiperemis pada pilar, uvula dan palatum mole
 Kemerahan dan bengkak pada tonsil disertai dengan gambaran bintik bintik kuning yang
merupakan gambaran material purulen pada kripta yang terbuka (acute folicular tonsilitis).
Kedua tonsil dapat membesar hingga dapat bertemu pada midline orofaring.
 Pembesaran dari KGB jugulodigastrikus
2. Gejala
Gejala yang sering ditemui berupa kesulitan dalam menelan, gangguan fonasi, respirasi dan
pendengaran. Selain itu gejala yang dapat muncul antara lain :
 Sakit tenggorokan
 Sakit menelan
 Perubahan suara (serak)
 Sakit pada telinga
 Snoring (akibat obstruksi jalan napas atas)
 Napas berbau
 Gangguan pendengaran
 Pasien tampak sangat sakit

Pada pemeriksaan, terdapat dua macam gambaran tonsil dari Tonsilitis Kronis yang mungkin
tampak, yakni :

1. Tampak pembesaran tonsil oleh karena hipertrofi dan perlengketan ke jaringan sekitar,
kripte yang melebar, tonsil ditutupi oleh eksudat yang purulen atau seperti keju.
2. Mungkin juga dijumpai tonsil tetap kecil, mengeriput, kadang-kadang seperti terpendam
di dalam tonsil bed dengan tepi yang hiperemis, kripte yang melebar dan ditutupi eksudat
yang purulen.

Berdasarkan rasio perbandingan tonsil dengan orofaring, dengan mengukur jarak antara kedua
pilar anterior dibandingkan dengan jarak permukaan medial kedua tonsil, maka gradasi
pembesaran tonsil dapat dibagi menjadi :

 T0: tonsil sudah diangkat.


 T1: <25% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring atau batas medial tonsil
melewati pilar anterior sampai ¼ jarak pilar anterior uvula.
 T2: 25-50% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaringatau batas medial tonsil
melewati ¼ jarak pilar anterior-uvula sampai ½ jarak pilar anterioruvula.
 T3: 50-75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring atau batas medial
tonsil melewati ½ jarak pilar anterior-uvula sampai ¾ jarak pilar anterioruvula.
 T4: > 75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring atau batas medial tonsil
melewati ¾ jarak pilar anterior-uvula sampai uvula atau lebih.
Diagnosis
Anamnesis :
1. Rasa kering di tenggorokan sebagai gejala awal.
2. Nyeri pada tenggorok, terutama saat menelan. Rasa nyeri semakin lama semakin
bertambah sehingga anak menjadi tidak mau makan.
3. Nyeri dapat menyebar sebagai referred pain ke telinga.
4. Demam yang dapat sangat tinggi sampai menimbulkan kejang pada bayi dan anak-anak.
5. Sakit kepala, badan lesu, dan nafsu makan berkurang.
6. Plummy voice / hot potato voice: suara pasien terdengar seperti orang yang mulutnya
penuh terisi makanan panas.
7. Mulut berbau (foetor ex ore) dan ludah menumpuk dalam kavum oris akibat nyeri telan
yang hebat (ptialismus).
8. Pada tonsilitis kronik, pasien mengeluh ada penghalang / mengganjal di tenggorok,
tenggorok terasa kering dan pernafasan berbau (halitosis).
9. Pada Angina Plaut Vincent (Stomatitis ulseromembranosa) gejala yang timbul adalah
demam tinggi (39˚C), nyeri di mulut, gigi dan kepala, sakit tenggorokan, badan lemah,
gusi mudah berdarah dan hipersalivasi.

Pemeriksaan Fisik :

1. Tonsilitis akut:

a. Tonsil hipertrofik dengan ukuran ≥ T2.


b. Hiperemis dan terdapat detritus di dalam kripti yang memenuhi permukaan tonsil baik
berbentuk folikel, lakuna, atau pseudomembran. Bentuk tonsillitis akut dengan detritus yang
jelas disebut tonsilitis folikularis. Bila bercakbercak detritus ini menjadi satu, membentuk
alur alur maka akan terjadi tonsilitis lakunaris.
c. Bercak detritus ini dapat melebar sehingga terbentuk membran semu (pseudomembran)
yang menutupi ruang antara kedua tonsil sehingga tampak menyempit. Temuan ini
mengarahkan pada diagnosis banding tonsilitis difteri.
d. Palatum mole, arkus anterior dan arkus posterior juga tampak udem dan hiperemis.
e. Kelenjar limfe leher dapat membesar dan disertai nyeri tekan

2.Tonsilitis kronik:
a. Tampak tonsil membesar dengan permukaan yang tidak rata, kriptus melebar dan berisi
detritus.
b. Pembesaran kelenjar limfe submandibula dan tonsil yang mengalami perlengketan.

Pemeriksaan Penunjang (bila diperlukan) :


a. Inflammatory parameter (Darah Lengkap) : pemeriksaan darah menunjukkan
leukositosis, dan erhytrocyte sedimentation rate (ESR) dan C-reactive protein (CRP)
meningkat.
b. Pemeriksaan bakteri (swab tonsil) : sebuah kultur bakteri jarang diambil dari apus
tenggorok karena biasanya membutuhkan 2-3 hari untuk mendapatkan hasil yang
definitif, dimana waktu pengobatan sudah harus dimulai. Itu sbaiknya dilakukan sebuah
rapid immunoassay, yang dapat mengidentifikasi organisme penyebab seperti
Streptococcus grup A hanya dalam waktu 10 menit.

Penatalaksanaan
 Istirahat cukup
 Makan makanan lunak dan menghindari makan makanan yang mengiritasi
 Menjaga kebersihan mulut
 Pemberian obat topikal dapat berupa obat kumur antiseptik
 Pemberian obat oral sistemik

a. Tonsilitis viral.
 Istirahat, minum cukup, analgetika / antipiretik (misalnya, Paracetamol), dan antivirus
diberikan bila gejala berat.
 Antivirus Metisoprinol diberikan pada infeksi virus dengan dosis 60-100mg/kgBB dibagi
dalam 4-6 kali pemberian/hari pada orang dewasa dan pada anak < 5 tahun diberikan
50mg/kgBB dibagi dalam 4-6 kali pemberian/hari.
b. Tonsilitis bakteri
 Bila diduga penyebabnya Streptococcus group A, diberikan antibiotik yaitu Penisilin G
Benzatin 50.000 U/kgBB/IM dosis tunggal atau Amoksisilin 50 mg/kgBB dosis dibagi 3
kali/hari selama 10 hari dan pada dewasa 3 x 500 mg selama 6-10 hari atau Eritromisin 4
x 500 mg/hari.
 Selain antibiotik juga diberikan Kortikosteroid karena steroid telah terbukti menunjukkan
perbaikan klinis yang dapat menekan reaksi inflamasi. Steroid yang dapat diberikan
berupa Deksametason 3 x 0,5 mg pada dewasa selama 3 hari dan pada anak-anak 0,01
mg/kgBB/hari dibagi 3 kali pemberian selama 3 hari. Analgetik / antipiretik, misalnya
Paracetamol dapat diberikan.

c. Tonsilektomy

Kontraindikasi :
1. Gangguan perdarahan
2. Risiko anestesi atau penyakit sistemik yang berat
3. Anemia

Konseling dan Edukasi


Memberitahu individu dan keluarga untuk:
 Menghindari pencetus, termasuk makanan dan minuman yang mengiritasi
 Melakukan pengobatan yang adekuat karena risiko kekambuhan cukup tinggi.
 Menjaga daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makan bergizi dan olahraga teratur.
 Berhenti merokok.
 Selalu menjaga kebersihan mulut.
 Mencuci tangan secara teratur.

Kriteria Rujukan
Segera rujuk jika terjadi:
1. Komplikasi tonsilitis akut: abses peritonsiler, septikemia, meningitis, glomerulonephritis,
demam rematik akut.
2. Adanya indikasi tonsilektomi.
3. Pasien dengan tonsilitis difteri

Prognosis
 Ad vitam : Bonam
 Ad functionam : Bonam
 Ad sanationam : Bonam
DAFTAR PUSTAKA

1. Shah, K. Udayan. 2014. Tonsilitis and Peritonsilar abcess. Emedicine,


http://emedicine.medscape.com/article/871977-overview
2. Farokah. 2005. Laporan Penelitian: Hubungan Tonsilitis Kronik dengan Prestasi Belajar
Siswa Kelas II Sekolah Dasar di Kota Semarang. FKUGM : Yogyakarta.
Hal :1-46
3. Babaiwa, U.F., Onyeagwara N.C., dan Akerele J.O. 2013. Bacterial tonsillar microbiota
and antibiogram in recurrent tonsillitis. Japan . Page : 1012-1105
4. Mal, R.K., A.F. Oluwasanmi, dan J.R. Mitchard. 2010. Tonsillar Crypts and Bacterial
Invasion of Tonsils: A Pilot Study. NEJM : England p: 567-569
5. Dhingra, P.L., dan Shruti Dhingra. 2005. Diseases of Ear, Nose and Throat, Fifth
Edition. New Delhi : Elseiver.
6. Soepardi, E.A. et al. 2012. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala
dan Leher. Edisi Ketujuh. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; hal 223-4.
7. Snow, James B. dan John Jacob Ballenger. 2003. Ballenger’s Otorhinolaryngology
Head and Neck Surgery 16th Edition. Chicago : Williams & Wilkins.
8. Pasha, R. 2008. Otolaryngology, Head and Neck Surgery, Clinical Reference Guide.
Singular : Thompson Learning.
9. Pulungan, M.R., dan Novialdi N. 2005. Mikrobiologi Tonsilitis Kronis. EGC : Jakarta ,
H: 119-198]
10. Probst, Rudolf., Gerhard Greves, dan Heinrich Iro. 2006. Basic Otorhinolaryngology
A Step-by-Step Learning Guide. USA: Georg Thieme Verlag, 2006; Hal 113-9.
11. Flint, Paul W. et al. 2010. Cummings Otolaryngology Head & Neck Surgery 5th edition.
Philadelphia : Mosby Elsevier.
12. Campisi, Paolo., dan Ted L. Tewfik. 2003. Tonsilitis and its Complications. London
:Elsevier :, Page 13-16]
13. Hsieh, T.H., et al. 2011. Are empiric antibiotics for acute exudative tonsillitis needed in
children ?.
14. Onerci, T.M. 2009. Diagnosis in Otorhinolaryngology, An Illustrate Guide. New York :
Springer