Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH

ANALISIS FARMASI

“TITRASI KOMPLEKSOMETRI”

Disusun oleh :

Muhammad Wahid Abdulloh 16330014

Afifah Rizqi Septiyanawati 16330042


Alika Dita Pratiwi 16330070
Nidya Ananda Fiorentina 16330079
Sinta Bela 16330080

FAKULTAS FARMASI
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadiran Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya pada kita semua sehingga kami bisa menyelesaikan makalah ini dengan baik dan
lancar. Untuk melengkapi tugas dan menambahkan wawasan dan pengetahuan ilmu khususnya
pada bidang ilmu Analisis Farmasi.

Tak lupa kami ucapkan terima kasih yang sebanyak – banyaknya kepada semua pihak
yang telah berpartisipasi dalam penyusunan makalah ini, kami ucapkan banyak terima kasih.
Semoga segala bantuan dan dukungan yang diberikan kepada kami, mendapat imbalan yang
berlipat dari Allah Subhanahu Wata’ala, amin.

Kami menyadari dalam penulisan makalah ini masih terdapat beberapa kekurangan,
sehingga saran dan kritik yang membangun sangat kami butuhkan dalam penyempurnaan
makalah ini. Atas saran, kritik maupun bantuannya kami ucapkan terima kasih.

Semoga apa yang di tulis di makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Jakarta, 28 Mei 2018

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................. 1

DAFTAR ISI................................................................................................................... 2

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................... 3

1.1 Latar Belakang ....................................................................................... 3


1.2 Rumusan Masalah ................................................................................. 4
1.3 Tujuan Makalah..................................................................................... 5

BAB 11 PEMBAHASAN ............................................................................................... 6

2.1 Definisi Titrasi Kompleksometri .......................................................... 6


2.2 Ikatan Kompleks Pada Titrasi Kompleksometri ................................ 7
2.3 Macam-Macam Komplekson ................................................................ 7
2.4 Indikator Untuk Penetapan Akhir Titrasi Kompleksometri ............. 9
2.5 Jenis Titrasi Dalam Analisis Kompleksometri .................................... 18
2.6 Senyawa Obat Yang Di Analisis Dengan Titrasi Kompleksometri.... 23
2.7 Aplikasi Titrasi Kompleksometri Dalam Bidang Kefarmasian…….. 26

BAB III PENUTUP ....................................................................................................... 27

3.1 Kesimpulan ............................................................................................. 27


3.2 Saran ....................................................................................................... 28

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 29


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam analisis suatu zat kimia digunakan berbagai macam metode. Salah satu
metode yang di pakai untuk penetapan kadar logam adalah kompleksometri. Metode ini
didasarkan atas pembentukan senyawa komplek antara logam dengan zat pembentuk
komplek. Sebagai zat pembentuk kompleks yang banyak digunakan dalam titrasi
kompleksometri adalah garam dinatrium etilen diamina tetra asetat (dinatrium EDTA).
Kompleks yang terbentuk dari suatu reaksi ion logam, yaitu kation dengan suatu anion atau
molekul netral, ion logam di dalam kompleks disebut atom pusat dan kelompok yang
terikat pada atom pusat disebut ligan. Jumlah ikatan terbentuk oleh atom logam perut
disebut bilangan koordinasi dua, dan sianidanya merupakan ligannya.
Pengertian persenyawaan kompleks sudah mulai timbul sejak teori Archenius
dalam tahun 1884. Mula-mula sudah dikenal adanya garam rangkap yaitu zat-zat yang
mengkristal dan terbentuk 2 macam garam rangkap yang dalam larutannya akan
memberikan ion-ion yang sama dengan garam tunggal pembentukannya. Sedangkan garam
kompleks adalah garam rangkap yang dalam larutannya memberikan ion-ion yang berbeda
dengan ion-ion garam tunggal pembentuknya.
Reaksi pembentukan kompleks dapat dianggap sebagai suatu reaksi kimia asam
basa Lewis dengan ligan bertindak sebagai basa karena menyumbangkan sepasang
elektronnya kepada kation yang merupakan asamnya. Ikatan yang terbentuk antara atom
logam pusat dengan ligan seringkali bersifat kovalen, tetapi dalam beberapa kasus intraksi
tersebut berupa tarik-menarik Coulumb.
Salah satu metode titrimetri adalah titrasi pembentukan kompleks yang dikenal
sebagai titrasi kompleksometri. Titrasi kompleksometri adalah suatu cara penetapan kadar
dengan metode titrasi berdasarkan pada pembentukan senyawa kompleks antara
coumplexing agent dengan ion logam sebagai atom pusat.. Tidak semua reaksi
pembentukan senyawa kompleks dapat digunakan untuk titrasi, syarat yang harus
diperhatikan antara lain :
a. Kompleks yang terbentuk harus stabil. Jika K stabilitas makin besar maka kompleks
makin stabil.
b. Reaksi yang terjadi harus kuantitatif sehingga dapat diukur.
c. Tidak mempunyai reaksi samping. Bila memiliki dua atau lebih tingkat keseimbangan
reaksi, perbedaan antara K stabilnya harus cukup besar.
d. Pembentukan kompleks tidak terlalu lama dan kompleks yang terbentuk tidak boleh
mengendap.
e. Ada perubahan nyata yang dapat diamati, baik dengan indikator visual maupun dengan
potensiometri.
f. Adanya indikator yang dapat menunjukkan perubahan tersebut dan bekerja pada
kondisi yang sama dengan reaksi kompleksometri yang terjadi.

Titrasi kompleksometri ini digunakan untuk penetapan kation bervalensi banyak dalam
air. Di dalam dunia farmasi, metode ini banyak digunakan dalam penetapan kadar suatu
senyawa obat yang mengandung ion logam, misalnya penentuan kadar MgSO4 yang
digunakan sebagai laksativum atau ZnO yang digunakan sebagai antiseptic. Sehingga
kadar logam-logam yang ada dalam suatu produk farmasi sehingga tepat kadar (sesuai
standar) dan tidak menjadi toksik serta membahayakan konsumen.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa itu definisi titrasi kompleksometri?
2. Apa saja ikatan kompleks yang terjadi pada titrasi kompleksometri?
3. Apa saja macam-macam komplekson yang digunakan pada titrasi kompleksometri?
4. Apa saja indikator yang digunakan pada saat melakukan penetapan titrasi akhir titrasi
kompleksometri?
5. Apa saja jenis titrasi yang digunakan dalam analisis kompleksometri?
6. Apa saja macam-macam senyawa obat yang di analisis dengan titrasi kompleksometri?
7. Apa saja aplikasi kompleksometri dalam bidang kefarmasian?

1.3 Tujuan Makalah


1. Dapat mengetahui definisi titrasi kompleksometri.
2. Dapat mengetahui macam-macam ikatan yang terjadi pada titrasi kompleksometri.
3. Dapat mengetahui macam-macam komplekson pada saat titrasi kompleksometri.
4. Dapat mengetahui indikator yang digunakan pada penetapan titrasi akhir titrasi
kompleksometri.
5. Dapat mengetahui jenis titrasi dalam analisis kompleksometri.
6. Dapat mengetahui senyawa obat yang di analisis menggunakan titrasi kompleksometri.
7. Dapat mengetahui aplikasi titrasi kompleksometri dalam bidang kefarmasian.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Titrasi Kompleksometri

Kompleksometri merupakan jenis titrasi dimana titran dan titrat saling


mengkompleks, membentuk hasil berupa kompleks. Reaksi-reaksi pembentukan kompleks
atau yang menyangkut kompleks banyak sekali dan penerapannya juga banyak, tidak hanya
dalam titrasi, karena itu perlu pengertian yang cukup luas untuk titrasi kompleksometri.
Contoh reaksi kompleksometri :

Kompleksometri adalah jenis titrasi dimana titrant dan titrat saling mengkompleks,
jadi membentuk hasil berupa kompleks. Kompleks-kompleks yang akan dibahas dibentuk
oleh reaksi suatu ion logam suatu kation, dengan suatu anion atau molekul netral. Ion
logam dalam kompleks itu disebut atom pusat, dan gugus yang terikat pada atom pusat
disebut ligan. Banyaknya ikatan yang dibentuk oleh atom pusat disebut bilangan koordinasi
logam itu.

Titrasi kompleksometri juga dikenal sebagai reaksi yang meliputi reaksi


pembentukan ion-ion kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang terdisosiasi
dalam larutan. Persyaratan mendasar terbentuknya kompleks demikian adalah tingkat
kelarutan tinggi. Selain titrasi komplek biasa seperti di atas, dikenal pula kompleksometri
yang dikenal sebagai titrasi kelatometri, seperti yang menyangkut penggunaan EDTA.

Titrasi kompleksometri atau kelatometri adalah suatu jenis titrasi dimana reaksi
antara bahan yang dianalisis dan titrat akan membentuk suatu kompleks senyawa.
Kompleks senyawa ini dsebut kelat dan terjadi akibat titran dan titrat yang saling
mengkompleks. Kelat yang terbentuk melalui titrasi terdiri dari dua komonen yang
membentuk ligan dan tergantung pada titran serta titrat yang hendak diamati. Kelat yang
terbentuk melalui titrasi terdiri dari dua komponen yang membentuk ligan dan tergantung
pada titran serta titrat yang hendak diamati.
Dalam larutan dengan pH tertentu sebagaian besar kation atau logam dapat bereaksi
dengan komplekson yang kemudian membentuk ion kompleks. Contoh :
Ag+ → [Ag(CN)2]¯
Cu2+ → [Cu(NH₃)₄]²⁺
Jika diperhatikan contoh-contoh kompleks, terlihat bahwa suatu kompleks selalu
terjadi dari sebuah ion logam yang dinamakan ion negatif atau molekul.
Pada prinsip dasarnya saat melakukan titrasi kompleksometri yaitu pereaksi untuk
titrasi kompleksometri sangat banyak digunakan untuk menitrasi ion-ion logam dalam
larutan. Kebanyakan dari pereaksi ini adalah zat-zat anorganik yang mengandung beberapa
gugus elektron yang dapat berikatan kovalen dengan ion logam, misalnya EDTA (H4Y)
yang dapat bereaksi dengan ion logam dengan perbandingan stoikiometri 1:1. Karena
banyak ion-ion logam yang dapat bereaksi dengan EDTA maka selektivitas dapat diatur
dengan mencari pH serendah mungkin dimana titrasi masih layak dilakukan.

2.2 Ikatan Kompleks yang Terjadi Pada Titrasi Kompleksometri

Ikatan kompleks yang terbentuk antara ion logam dengan suatu complexing agent
dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu :

a. Ikatan kompleks biasa


Tipe ikatan ini yaitu ion pusat berikatan dengan molekul yang hanya mempunyai satu
donor pasangan electron sunyi.
b. Ikatan kompleks chelat (kelat)
Ikatan ini merupakan ikatan yang berbentuk cincin. Ion pusat berikatan dengan molekul
yang mempunyai dua atau lebih donor pasangan electron sunyi. Sebagai contoh adalah
ikatan ion logam dengan EDTA.

2.3 Macam-Macam Komplekson Pada Titrasi Kompleksometri

Macam-macam komplekson yang dapat digunakan pada titrasi kompleksometri


antara lain garam Na dari asam nitrilo triasetat (NTA), garam Na dari asam etilen diamin
tetraasetat (EDTA) dan garam Na dari asam-1,2-diamino-sikloheksan tetraasetat.
EDTA adalah suatu ligan yang heksadentat (mempunyai enam buah atom donor
pasagan electron), yaitu melalui kedua atom N dan keempat atom O (dari OH). Dalam
pembentukan kelat, keenam donor (tetapi kadang-kadang hanya lima) bersama-sama
mengikat satu atom satu ion inti dengan membentuk lima lingkaran kelat. Molekul EDTA
dilipat mengelilingi ion logam itu sedemikian rupa sehingga keenam atom donor terletak
pada puncak-puncak sebuah oktaeder (bidang delapan) dan inti terdapat di pusat oktaeder.
Suatu EDTA dapat membentuk suatu senyawa kompleks yang mantap dengan sejumlah
besar ion logam, sehingga EDTA merupakan ligan yang tidak selektif. Dalam larutan yang
agak asam, dapat terjadi protonasi parsial EDTA tanpa pematahan sempurna kompleks
logam, yang menghasilkan CuHY. Ternyata bila beberapa ion logam yang ada dalam
larutan tersebut maka titrasi dengan EDTA akan menunjukan jumlah semua ion yang ada
dalam larutan tersebut.

Komplekson yang paling sering digunakan adalah Na2EDTA atau garam Na dari
asam etilen diamin tetraasetat, karena :

a. Dapat beraksi dengan hamper semua logam pada system periodic.


b. Stabilitas kompleks yang terbentuk paling besar jika dibandingkan dengan
komplekson lain.
c. Ligannya membentuk senyawa kelat heksadenat yang sesuai dengan bilangan
koordinasi dari ion logamnya.
d. Harga relative lebih murah.

Na2EDTA memiliki 4 macam penguraian, antara lain :

H4Y-→ H3Y- + H+ pK1 = 2,0

H3Y- → H2Y2- + H+ pK2 = 2,7

H2Y2-→ HY3- + H+ pK3 = 6,2


HY3-→ Y4- + H+ pK4 = 10,3

Hal-hal yang perlu diketahui dalam penggunaan Na2EDTA adalah :

a. Dalam pembentukan kelat, satu ionselalu bereaksi dengan satu ion H2Y2- atau HY3-
, tidak tergantung pada valensi atau muatan ion logamnya.
b. Untuk logam-logam dengan berbagai valensi, reaksi yang terjadi adalah sebagai
berikut :
M2+ + H2Y2-↔ MY2- + 2H+
M3+ + H2Y2-↔ MY- + 2H+
M3+ + H2Y2-↔ MY2- + 2H+
M13+ + H2Y2-↔MY(n-4) + 2H+
c. Ionisasi kompleks tergantung pada pH larutan. Logam valensi 2 stabil pada pH
basa, sedangkan logam dengan valensi 3 stabil pada pH asam.
d. Bila pH larutan terlalu rendah, dapat terbentuk hydrogen kompleksomat, yaitu
kompleks hydrogen dengan komplekson yang memperlambat reaksi, dan terjadi
juga kompetensi antara logam dengan ion H3O-.

2.4 Macam-Macam Indikator Dalam Penentuan Titik Akhir Titrasi Kompleksometri

Titrasi dapat ditentukan dengan adanya penambahan indikator yang berguna


sebagai tanda tercapai titik akhir titrasi, penentuannya dapat dilakukan dengan cara:
potensiometri; kolorimetri; atau secara visual. Ada beberapa syarat suatu indikator dapat
digunakan pada pendeteksian visual dari titik-titik akhir, yaitu :

a. Reaksi warna yang dihasilkan harus kuat, dan hamper semua ion logam berkompleks
dengan EDTA.
b. Reaksi harus spesifik (khusus) atau setidaknya selektif.
c. Kompleks indikator logam harus memiliki kestabilan yang cukup, jika tidak akan
terjadi disosiasi (tidak akan memperoleh perubahan warna yang tajam)
d. Kontras antara warna indikator bebas dan kompleks indikator logam harus mudah
diamati, indikator harus sangat peka terhadap ion logam sehingga perubahan warna
terjadi sedikit mungkin dengan titik ekivalen.

Indikator visual yang digunakan dapat berupa indikator logam, indikator redoks,
atau asam-basa.

1. Indikator Logam

Indikator logam adalah indikator yang memiliki warna yang berbeda dalam
keadaan bebas dan dalam keadaan terikat dengan logam.

Logam-indikator + EDTA ↔ logam-EDTA + indikator

(Warna A) (warna B)

Syarat-syarat indikator logam :

a. Stabilitas kompleks logam titran harus lebih besar dari stabilitas kompleks logam
indikator.
b. Reaksi warna yang terjadi harus sensitive, sekurangnya harus selektif dengan
sesedikit mungkin gangguan.
c. Perbedaan warna antara kompleks logam-indikator dengan indikator bebas harus
cukup jelas dan dapat diamati.
d. Reaksi subtitusi indikator harus berlangsung dengan cukup cepat sehingga TA
dapat dilihat dengan jelas dan tepat.

Macam – macam indikator logam :

a. Mureksida
adalah garam ammonium dari asam purpurat, dan anionnya mempunyai
struktur. Mureksida dapat digunakan untuk titrasi langsung dengan EDTA
terhadap kalsium pada pH = 11; perubahan warna pada titik akhir adalah
dari merah menjadi violet biru, tetapi jauh dari ideal. Perubahan warna pada
titrasi langsungdari nikel pada pH 10-11 adalah dari kuning menjadi violet
biru.
Larutan indikator ini dapat disiapkan dengan mensuspensikan 0,5 gram zat
warna yang telah dijadikan bubuk dalam air, dikocok dengan seksama, dan
membiarkan bagian – bagian yang tak melarut untuk mengendap
(mengendap turun). Cairan supernatant yang jenuh digunakan untuk titrasi..
b. Hitam Solokrom (Hitam Eriokrom T).

Zat ini adalah natrium 1-(1-hodroksi-2-naftilazo)-6-nitro-2-naftol-4-


sulfona t(II); dan mempunyai acuan Indeks Warna C.I.14645. Dalam larutan
yang sangat asam, zat warna itu cenderung untuk berpolimerisasi menjadi
produk yang coklat-merah, danakibatnya indikator itu jarang digunakan
dalam titrasi EDTA dari larutan-larutan yang lebih asam daripada pH = 6,5.

Gugus asam sulfonat itu menyerahkan protonnya lama sebelum jangkau pH


7-12, yang merupakan perhatian paling utama bagi penggunaan indikator
ion logam. Kedua nilai pK untuk atom-atom hidrogen ini masing-masing
adalah 6,3 dan 11,5. Di bawah pH = 5,5, larutan Hitam Solokrom (Hitam
Eriokrom T) adalah merah (disebabkan oleh H2D-), anatara pH 7 dan 11
warnanya biru (disebabkan oleh HD2-), dan di atas pH = 11,5 ia berwaarna
jingga-kekuningan (disebabkan oleh D3-). Dalam jangkau pH 7-11,
penambahan garam logam mengjhasilkan perubahan warna yang cemerlang
dari biru menjadi merah.
c. Kalmagit.
Indikator ini, asam 1-(1-hidroksil-4-metil-2-fenilazo)-2-naftaol-4-sulfonat
(V), mempunyai perubahan warna yang sama seperti hitam solokrom
(Hitam Eriokrom T), tetapi perubahan warnyanya agak lebih jelas dan
tajam. Suatu keuntungan yang penting adalah bahwa larutan-air indicator
itu stabil hamper tanpa batas waktu. Zat ini digunakan sebagai ganti Hitam
Solokrom (HItam eriokrom T) tanpa mengubah eksperimen untuk titrasi
kalsium ditambah magnesium.

Kalmagit berfungsi sebagai suatu indicator asam basa :

Warna biru dari Kalmagit pada pH = 10 berubah menjadi merah dengan


penambahan ion magnesium, dan perubahan ini adalah reversible :

Ini merupakan dasara dari aksi indikator itu dalam titrasi EDTA. pH = 10
dicapai dengan menggunakan campuran buffer larutan amonia-amonium
klorida dalam air.

d. Hitam Sulfon F Permanen


Zat warna ini adalah garam natrium dari asam 1-hidroksi-8-(2-
hidroksinaftilazo)-2-(sulfonaftilazo)-3,6-disulfat (VII). Reaksi warnanya
boleh dikatakan spesifik untuk ion tembaga.Dalam larutan amoniakal, zat
ini membentuk kompleks hanya dengan tembaga dan nikel; adanya amonia
atau piridina diperlukan untuk pembentukan warna.Pada titrasi langsung
tembaga dalam larutan amoniakal, perubahan warna pada titik akhir adalah
dari magenta (ungu kemerahan) atau (bergantung pada konsentrasi ion-ion
tembaga (II) biru pucat, menjadi hijau terang.

e. Merah Bromopirogalol (Bromopyrogalol Red).


Indikator ion logam ini adalah dibromopirogalol sulfonftalein (IX), dan
lebih tahan terhadap oksidasi ketimbang Violet Katekol; zat ini juga
memiliki sifat kuning-jinggadalam larutan yang sagat asam, merah anggur
dalam larutan yang hampir netral, dan violet sampai biru dalam larutan
basa.Zat warna ini membentuk kompleks-kompleks berwarna dengan
banyak kation.Ia sangat berharga untuk penetapan, antar lain, bismut (pH =
2-3, larutan asam nitrat; titik akhir biru ke merah anggur).

f. Jingga Xilenol (Xylenol Orange)


Indikator ini, yang dibuat dengan kondensasi o-kresolsulfonftalein (Merah
Kresol) dengan formaldehida dan asam iminodiasetat, adalah 3,3′-bis[N,N-
di(karboksimetil)-aminometil)]-o-kresolsulfonftalein (X). Zat warna ini
tetap mempertahankan sifat asam-basa (dari) Merah Kresol dan
memperlihatkan sifat-sifat indikator logam, bahkan dalam larutan yang
asam (pH = 3-5).Larutan asam (dari) indikator ini, berwarna kuning-lemon
dan larutan kompleks logamnya berwarna merah kuat.

g. Violet Katekol (Catechol Violet).


Indikator ini juga dinamakan Violet Pirokatekol (Pyrocatechol Violet),
adalah sulfonftalein (VIII). Ia juga memiliki sifat indikator asam
basa.(H4D). Larutan air (dari) Violet Katekol berwarna kuning; pada pH di
bawah 1,5 warnanya merah; ia berwarna kuning antara pH = 2 dan 6 (anion
H3D-), pada pH = 7 berwarna violet (anion H2D2-), dan diatas pH = 10,
warnanya biru ( anion D4-). Perubahan warna ini disebabkan oleh ionisasi
berangsur-angdur dari gugus-gugus hidroksil.Larutan biru yang sangat basa
tidak stabil, dan warnanya cukup cepat hilang, mungkin disebabkan oleh
oksidasi oleh atmosfer.

Violet Katekol membentuk senyawaan berwarna (biasanya biru atau biru-


hijau) dengan banyak logam; yang paling stabil dari kompleks-kompleks ini
terbenuuk dalam jangkau pH 2-6, sehingga terjadi perubahan warna yang
tajam dan kuning menjadi biru, bila kation tertentu (misalnya, kation bismut
dan torium) ditambahkan kepada larutan indikator.
h. Kalsikrom (calcichcrome).
Indikator ini, asam siklotris-7-(-1-1azo-8-hidroksinaftalena-3,6-disulfat)
(VI), adalah ;uar biasa, karena mempunya stuktur lingkara, dan sangat
selektif untuk kalsium. Zat ini sebenarnya tidak begitu sesuai sebagai
indikator untuk titrasi EDTA, karena perubahan warnanya tidak begitu
tajam, tetapi jika EDTA diganti dengan CDTA, maka indikator ini memberi
hasil yang baik untuk kalsium dengan adanya banyak barium dan sedikit
strontium

i. Indikator Patton dan Reeder adalah asam 2-hidroksil-1-(2-hidroksi-4-


sulfat-1-naftilazo)-3-naftoat(III); nama ini boleh disingkat menjadi
HHSNNA.
Penggunaannya yang utama adalah dalam titrasi langsung dari kalsium;
terutama dengan adanya magnesium. Perubahan warna yang tajam dari
merah angur menjadi biru murni diperoleh bila ion-ion kalsium dititrasi
dengan EDTA pada nilai pH antara 12 dan 14

2. Indikator Redoks
Indikator ini hanya dapat dipakai untuk ligam-logam yang mempunyai dua atau
lebih tingkat oksidasi dan indikator tersebut memberikan warna yang berbeda antara
bentuk tereduksi dengan jelas dan tepat.

3. Indikator Asam-Basa

Indikator ini dapat digunakan jika ion H+ yang dilepaskan pada reaksi pembentukan
kompleks dititrasi secara asam basa.Pengamatan perubahan warna pada TA titrasi
dapat berbeda tergantung dari metode titrasi yang dilakukan.

a. Bila titrasi dilakukan secara langsung, titrasi diakiri pada saat warna indikator
berubah sempurna dari warna pada keadaan terikat sebagai kompleks logam-
indikator menjadi warna indikator bebasnya pada pH yang bersangkutan. Hal ini
karena semua logam harus ditarik dari bentuk logam-indikator menjadi bentuk
logam komplekson.
b. Bila titrasi dilakukan dengan cara tidak langsung, titrasi diakhiri pada saat warna
indikator tepat berubah, berasal dari bentuk kopleks logam baku indikator. Jika
titrasi dilakukan dengan cara tidak langsung, pada awalnya bentuk indikator adalah
indikator dalam keadaan bebas karena logamnya terikat dengan komplekson yang
doberikan berlebih. Titrasi dengan logam baku akan mengikat komplekson berlebih
tersebut dan jika komplekson telah semuanya terikat, akan terjadi kompleks logam
baku dengan indikator yang ditandai dengan perubahan warna indikator.

Beberapa indikator yang digunakan dalam titrasi kompleksometri antara lain:


Eriochrome Black T (EBT) untuk penetapan kadar logam Cd, Pb, Hg, Zn, Mg, Cad an Sr;
indikator thiourea untuk logam Bi; xylenol orange untuk Bi dan Al; piridil azanaftol untuk
Cu, Cd, Zn, dan Ce; dan lain-lain.

4. Difenilkarbazida
(C6H5 NHNH)2CO tak berwarna dan difenilkarbazion (C6H5 NHNH-CON = N C6H5)
berwarna jingga yang membentuk kompleks purpur yang sangat itensif dengan ion Hg
(II) seperti tampak untuk difenilkarbazida sebagai berikut:

Untuk indicator ini, pH perlu diatur sekitar 1,5 dan 2,0 sebab bila lebih asam,
kesetimbangan digeser ke kiri dan kalau terlalu basa, perubahan warna terjadi terlalu
awal. Dengan ini difenilkarbazon diperlukan pH sedikit lebih tinggi yaitu sekitar 3,2
dan 3,3.

5. Natrium nitroprusida

Na2Fe (CN)5NO, yang membentuk endapan putih dengan Hg (II) sehingga titik akhir
ini ditandai dengan terjadinya kekeruhan dalam larutan yang selama titrasi berlangsung
tampak jernih. Titrasi ini dapat dilakukan dalam ruang cukup asam dan masih baik
untuk titrasi encer, misalnya 10mg/liter.

Titrasi Br-, SCN- , dan CN- juga dapat dilkaukan dengan baik, tetapi tidak menunjukkan
keistimewaan bila dibandingkan dengan titrasi ion-ion tersebut dengan perak nitrat.

Untuk I-, titrasi dengan Hg(II) kurang memuaskan. Kompleks yang terbentuk ialah
HgI4= pada titik akhir terbentuk endapan merah HgI2 karena reaksi:

Hg2+ + HgI4- 2HgI2 (14.12)

Endapan timbul terlalu awal sehingga menyebabkan kesalahan negatif.

Salah satu contoh prosedur titrasi kompleksometri:

 pembuatan larutan
 Larutan baku primer ZnSO4.&H2O 0,05 M

timbang dengan teliti ZnSO4.7H2O, masukkan dalam labu ukur 100 mL,
tambahkan 1-2 mL H2SO4 4 N, kemudian encerkan hingga tanda batas.

 Larutan baku sekunder Na2EDTA

Larutkan Na2EDTA dalam aquadest

 Larutan dapar salmiak pH 10

142 mL amoniak pekat dicampur dengan 17,5 g NH4Cl, encerkan dengan aquadest
sampai volume 250 mL, periksa pHnya, bila perlu tambahkan HCl atau NH4OH
sampai pH 10 ± 0,1. Indicator:

A. Eriochrom Black T (EBT)

1 g EBT dihaluskan (digerus) dengan 100 g NaCl kering, simpan dalam botol
kering.

B. Murexide
1 g murexide ditambah NaCl 1 : 100, dihaluskan dan disimpan dalam botol kering.

2.5 Jemis-Jenis Titrasi Yang Digunakan Dalam Analisa Kompleksometri

Beberapa cara titrasi dengan EDTA untuk menganalisa kompleksometri,


diantaranya :

1. Titrasi langsung.
Titrasi secara langsung dilakukan dengan mendapat larutan ion logam yang akan
dititrasi pada pH yang sesuai, lalu dititrasi langsung dengan larutan baku Na2EDTA.
Pengendapan.Hidroksi atau garam basa dapat dicegah dengan penambahan complexing
agent.
Larutan yang mengandung ion logam yang akan ditetapkan, dibufferkan samapi ke pH
yang dikehendaki (misalnya, sampai pH = 10 dengan NH4+ larutan air NH3), dan titrasi
langsung dengan larutan EDTA standar. Mungkin adalah perlu untuk mencegah
pengendapan hidroksida logam itu (atau garam basa) dengan menambahkan sedikit zat
pengkompleks pembantu, seperti tartrat atau sitrat atau trietanolamina. Pada titik
ekivalen, besarnya konsentrasi ion logam yang sedang ditetapkan itu turun dengan
mendadak. Ini umumnya ditetapkan dari perubahan-perubahan pM: titik akhir ini dapat
juga ditetapkan dengan metode-metode amperometri, kondutometri, spektrofotometri,
atau dalam beberapa keadaan dengan metode potensiometri.
2. Titrasi tidak langsung.
Titrasi secara tidak langsung dilakukan dengan cara menambahkan larutan
Na2EDTA berlebih pada larutan yang mengandung ion logam, didapat pada pH yang
sesuai, lalu kelebihan EDTA dititrasi dengan larutan baku logam.
Cara ini dapat dilakukan jika tidak ada indikator yang cocok untuk penetapan kadar
secara langsung dan logam-logam tidak larut pada pelarut yang digunakan atau
mungkin mengendap pada pH titrasi.
Titrasi ini dapat dilakukan dengan cara, yaitu :
 Titrasi kelebihan kation pengendap (misalnya penetapan ion sulfat, dan
fosfat).
 Titrasi kelebihan kation pembentuk senyawa kompleks (misalnya
penetapan ion sianida).
Karena berbagai alasan, banyak logam tak dapat dititrasi langsung, mereka
mungkin mengendap dari dalam larutan dalam jangka pH yang perlu untuk titrasi, atau
mereka mungkin membentuk kompleks-kompleks yang inert, atau indikator logam
yang sesuai tidak tersedia. Dalam hal-hal demikian, ditambahkan larutan EDTA
standar berlebih, larutan yang dihasilkan dibufferkan samapi ke pH yang dikehendaki,
dan kelebihan reagnesia dititrasi balik dnegan suatu larutan ion logam standar, larutan
zink klorida atau sulfat atau magnesium klorida sering digunakan untuk tujuan ini. Titik
akhir dideteksi dengan bantuan indikator logam yang berespons terhadap ion logam
yang ditambahakn pada titrasi balik.
3. Titrasi penggantian atau titrasi substitusi.
Titrasi dengan cara substitusi dilakukan dengan menambahkan larutan yang
mengandung ion logam pada kompleks logam yang ekuivalen, lalu kompleks atau
logam yang dibebaskan dengan larutan baku.
Cara ini digunakan jika ion tidak bereaksi dengan indikator logam dan jika kestabilan
kompleks logam-EDTA lebih besar dari kestabilan kompleks logam dengan logam
lain.contoh penentuannya ialah untuk ion-ion Ca dan Mg. Bisa berguna bila tidak ada
indikator yang sesuai untuk ion logam yang ditentukan. Sebuah larutan berlebih yang
mengandung kompleks Mg-EDTA ditambahkan dan ion logam, misalnya M2 +,
menggantikan magnesium dari kompleks EDTA yang relatif lemah itu
Titrasi-titrasi substitusi dapat digunakan untuk ion logam yang tidak bereaksi (atau
berekasi dengan tak memuaskan) dengan indikator logam, atau untuk ion logam yang
membentuk komplkes EDTA yang lebih stabil daripada komplkes EDTA dari logam-
logam lainnya seperti magnesium dan kalsium. Kation Mn+ yang akan ditetapkan dapat
diolah dengan kompleks magnesium EDTA, pada mana reaksi berikut terjadi :

Mn+ + MgY2- → (MY)(n-4)+ + Mg2+

Jumlah ion magnesium yang dibebaskan adalah ekivalen dengan kation-kation yang
berada di situ, dapat dititrasi dengan suatu larutan EDTA standar serta indikator logam
yang sesuai. Satu penerapan yang menarik adalah titrasi kalsium. Pada titrasi langsung
ion-ion kalsium, Hitam Solokrom (Hitam Erikrom T) memberi titik akhir yang buruk;
jika magnesium ada serta, logam ini akan digantiakn dari komplkes EDTA-nya oleh
kalsium, dan menghasilkan titik kahir yang lebih baik.
4. Cara asam-basa
Titrasi dengan cara asam-basa dapat dilakukan karena dalam setiap pembentukan
senyawa kompleks selalu dibebaskan ion H+ yang dapat ditentukan dengan cara asam
basa biasa dengan syarat warna kompleks yang terjadi tidak menutupi warna indikator.
Bila hal ini terjadi, dapat pula digunakan indikator potensiometri.
5. Titrasi alkalimetri.
Bila suatu larutan dinatrium etilenadiaminatetraasetat, NaH2Y, ditambahkan kepada
suatu larutan yang mengandung ion-ion logam, terbentuklah kompleks-kompleks
dengan disertai pembebasan dua ekivalen ion hidrogen :

Mn+ + MgY2- → (MY)(n-4)+ + 2H+

Ion hidrogen yang dibebaskan demikian dapat dititrasi dengan larutan natrium
hidroksida standar dengan menggunakan indikator asam-basa, atau titik akhir secara
potensiometri; pilihan lain, suatu campuran iodida-iodida ditambahkan disamping
larutan EDTA, dan iod yang dibebaskan dititrasi dengan larutan tiosulfat standar.
Larutan logam yang akan ditetapkan harus dinetralkan dengan tepat sebelum titrasi; ini
sering merupakan hal yang sukar, yang disebabakan oleh hidrolisis banyak garam, dan
merupakan segi lemah dari titrasi alkalimetri.

Macam-macam Metode Reaksi pertukaran antara ion tetrasianonikelat(II)


[Ni(CN)4]2 (garam kaliumnya mudah dibuat) dan unsur yang kan ditetapkan, pada mana
ion-ion nikel dibebaskan, mempunyai penerapan yang terbatas. Begitulah perak dan
emas, yang sendirinya tak dapt dititrasi secara kompleksometri, dapat ditetapkan dengan
cara ini.

[Ni(CN)4]2- + 2Ag+ →2[Ag(CN)2]- + Ni2+

Reaksi ini berlangsung dengan garam perak yang hanya sedikit sekali dapat larut,
jadi memberi satu metode untuk penetapan ion halida Cl-, Br-, I-, dan ion tiosianat SCN-
. Anion-anion ini mula-mula diendapkan sebagai garam perak, dan garam perak ini
dilarutakn dalam larutan [Ni(CN)4]2-, dan nikel yang dengan demikian dibebaskan
dalam jumlah ynag ekivalen, lalu ditetapkan dengantitrasi cepat dengan EDTA dengan
menggunakn indikator yang sesuai (Mureksida, Merah Bromopirogalol).
Sulfat dapat ditetapkan dengan mengendapkannya sebagai Barium sulfat atau
Timbel sulfat, endapan dilarutkan dalam larutan EDTA standar berlebih, dan kelebihan
EDTA dititrasi balik dengan larutan Magnesium atau Zink standar dengan menggunkan
Hitam Solokrom (Hitam Erikrom T) sebagai indikator. Fosfat dapat ditetapakan dengan
mengendapkannya sebagai Mg(NH4)PO4.6H2O, melarutkan endapan dalam asam
klorida encer, dan menambahkan larutan EDTA standar berlebih, serta membufferkan
pada pH = 10, dan menitrasi-balik dengan larutan ion Magnesium standar dengan
adanya Hitam Solokrom.
Kestabilan suatu kompleks jelas akan berhubungan dengan kemampuan
mengkompleks dari ion logam yang terlibat, dan pentingnya untuk memeriksa faktor-
faktor mengenai ciri khas dari ligand.
Kemampuan mengkompleks relatif dari logam-logam digambarkan dengan baik
menurut klasifikasi SCHwarzen-bach, yang dalam garis besarnya didasarkan atas
pembagian logam menjadi asam Lewis (penerima pasangan electron) kelas A dan kelas
B. Logam kelas A dicirikan oleh larutan afinitas (dalam larutan air) terhadap halogen F-
>Cl- >Br->I-, dan membentuk kompleks terstabilnya dengan anggota pertama dari grup
Tabel Berkala dari atom penyumbang (yakni, nitrogen, oksigen, dan fluor).
Logam kelas B jauh lebih mudah berkoordinasi dengan I- dari pada F- dalam larutan
air, dan membentuk kompleks terstabilnya dengan atom penyumabang kedua (atau yang
lebih berat) dari masing-masing grup itu (yakni P, S, Cl).
6. Cara iodometri
H+ yang dibebaskan pada pembentukan kompleks jika ditambah dengan KIO3 atau KI
akan membentuk I2 yang dapat ditentukan secara iodometri.
7. Cara redoks
Cara ini hanya dapat dilakukan pada logam-logam yang memiliki dua buah potensial
oksidasi, misalnya Fe.
8. Metode discocollineus
Cara penetapan kadar pada metode ini sama dengan metode substitusi. Cara ini
dilakukan karena kompleks yang terbentuk antara ion logam dengan indikator terlalu
stabil sehingga pada penambahan komplekson tidak ada perubahan warna yang dapat
diamati.

2.6 Senyawa Obat Yang Di Analisis Menggunakan Titrasi Kompleksometri


Aplikasinya banyak digunakan dalam farmasi ,metode ini banyak digunakan dalam
penetapan kadar MgSO4 yang digunakan sebagai laksativum atau ZnO yang digunakan
sebagai antiseptik.

Pada bidang industry digunakan untuk menjernihkan air atau yang sering disebut
dalam penggunaannya di bidang industry adalah water treatment. Dan untuk menentukan
kesadahan air sumur, sungai, dll.
Beberapa contoh sistem titrasi kompleksometri pada obat :
Sampel Pelarut Peniter Indikator Sediaan obat
Kalsium Air Dinatrium Kalkon (merah Injeksi kalsium
glukonat dibasakan edetat jambu menjadi glukonat
dengan biru)
NaOH
Kalsium Air Dinatrium Biru hidroksi Kalsium laktat
laktat edetat naftol (biru)
Kalsium Air Dinatrium Biru hidroksi Tablet kalsium
pantotenat edetat naftol (biru) pantotenat
Alukol Air Pb(NO3)2 Jingga xilenol Suspensi
antasida
Metil Air Raksa (II) Difenilkarbazon Metil tiourasil
tiourasil asetat

Persyaratan mendasar terbentuknya kompleks demikian adalah tingkat kelarutan


tinggi. Kompleksometri termasuk salah satu analisis kimia kuantitatif, yang tujuannya
untuk menentukan kadar ataupun konsentrasi dalam suatu sampel. Adapun prinsip
kerjanya yaitu berdasarkan reaksi pembentukan senyawa kompleks dengan EDTA, sebagai
larutan standar dengan bantuan indikator tertentu. Titik akhir titrasi ditunjukkan dengan
terjadinya perubahan warna larutan, yaitu dari merah anggur menjadi biru. Titrasi dapat
ditentukan dengan adanya penambahan indikator yang berguna sebagai tanda tercapai titik
akhir titrasi. Ada lima syarat suatu indikator ion logam dapat digunakan pada pendeteksian
visual dari titik-titik akhir yaitu reaksi warna harus sedemikian sehingga sebelum titik
akhir, bila hampir semua ion logam telah berkompleks dengan EDTA, larutan akan
berwarna kuat. Kedua, reaksi warna itu haruslah spesifik (khusus), atau sedikitnya selektif.
Ketiga, kompleks-indikator logam itu harus memiliki kestabilan yang cukup, kalau tidak,
karena disosiasi, tak akan diperoleh perubahan warna yang tajam. Namun, kompleks-
indikator logam itu harus kurang stabil dibanding kompleks logam-EDTA untuk menjamin
agar pada titik akhir, EDTA memindahkan ion-ion logam dari kompleks-indikator logam
ke kompleks logam-EDTA harus tajam dan cepat. Kelima, kontras warna antara indikator
bebas dan kompleks-indikator logam harus sedemikian sehingga mudah diamati. Indikator
harus sangat peka terhadap ion logam (yaitu, terhadap pM) sehingga perubahan warna
terjadi sedikit mungkin dengan titik ekuivalen. Terakhir, penentuan Ca dan Mg dapat
dilakukan dengan titrasi EDTA, pH untuk titrasi adalah 10 dengan indikator
eriochrome Black T.
Asam etilen diamin tetra asetat atau yang lebih dikenal dengan EDTA, merupakan
salah satu jenis asam amina polikarboksilat. EDTA sebenarnya adalah ligan seksidentat
yang dapat berkoordinasi dengan suatu ion logam lewat kedua nitrogen dan keempat gugus
karboksil-nya atau disebut ligan multidentat yang mengandung lebih dari dua atom
koordinasi per molekul, misalnya asam 1,2-diaminoetana tetraasetat (asametilenadiamina
tetraasetat, EDTA) yang mempunyai dua atom nitrogen– penyumbang dan empat atom
oksigen penyumbang dalam molekul.
Suatu EDTA dapat membentuk senyawa kompleks yang mantap dengan sejumlah
besar ion logam sehingga EDTA merupakan ligan yang tidak selektif. Dalam larutan yang
agak asam, dapat terjadi protonasi parsial EDTA tanpa pematahan sempurna kompleks
logam, yang menghasilkan spesies seperti CuHY-. Berikut adalah struktur dari EDTA
(Asam etilen diamin tetra asetat) :
EDTA merupakan ligan seksidentat yang berpotensi, yang dapat berkoordinasi
dengan ion logam dengan pertolongan kedua nitrogen dan empat gugus
karboksil.
Sebagian besar titrasi kompleksometri mempergunakan indikator yang juga bertindak
sebagai pengompleks dan tentu saja kompleks logamnya mempunyai warna yang berbeda
dengan pengompleksnya sendiri. Indikator demikian disebut indikator metalokromat.
Indikator jenis ini contohnya Erichrome Black T (EBT). EBT adalah sejenis indikator yang
berwarna merah muda bila berada dalam larutan yang mengandung ion kalsium dan ion
magnesium dengan pH 10,0 + 0,1.
Contoh beberapa senyawa obat yang di analisa dengan titrasi kompleksometri :
a. RAKSA (II) KLORIDA/SUBLIMAT
o Practical Pharmaceutical Chemistry, edisi II, bagian 1 hlm.213-214
Timbang saksama kurang lebih 300 mg, larutkan dalam 100 ml air, 40 ml larutan
Na edetat 0,02 M, larutan dapar ammonia 5 ml dan indikator mordant black II,
titrasi dengan larutan seng klorida 0,02 m sampai warna larutan berubah jadi ungu.
Tambahkan kalium iodide 3 g, diamkan 2 menit, diamkan 2 menit, titrasi kembali
sampai timbul warna ungu yang stabil selama 2 detik.
o Pharmacope Eropa vol II th. 1971 hlm.237
Timbang saksama 300 mg, larutkan dalam 100 ml air, tambahkan 40 ml larutan
EDTA 0,05 M, 5ml larutan dapar pH 10,9 dan 0,2 ml indikator mordant black.
Titrasi dengan larutan zink klorida 0,05 M sampai warna larutan berubah menjadi
ungu. Tambahkan kalium iodat 3 g, diamkan 2 menit, titrasi kembali sampai timbul
warna ungu.
1 ml larutan zink klorida 0,05 M setara dengan 13,57 mg HgCl2
b. KALSIUM (Ca2+)
Timbang saksama lebih kurang 200 mg sampel, masukkan ke dalam gelas piala 250
ml, basahkan dengan beberapa ml air, tambahkan tetes demi tetes asam klorida 3N
secukupnya hingga larut sempurna. Tambahkan Natrium 1N dan indikator biru
hidroksi naftol, titrasi dengan dinatrium edetat 0,05M sampai titik akhir berwarna
biru.
c. RAKSA (I) KLORIDA/KALOMEL
o Pharmaceutisch Weekblad th. 1956 hlm. 180

Satu atau dua miliekuivalen larutan kalomel ditambahkan 25 ml EDTA 0,1M dan
5ml dapar ammonia (pH10). Titrasi kelebihan EDTA dengan larutan magnesium
klorida 0,1N menggunakan hitam eriokrom T sebagai indicator.

I ml EDTA 0,1M yang bereaksi dengan kalomel setara dengan 47,214 mg


kalomel.

2.7 Aplikasi Titrasi Kompleksometri Dalam Bidang Kefarmasian

Jurnal Review :
Judul : Penggunaan Metode Kompleksometri Pada Penetapan Kadar Seng Sulfat Dalam
Campuran Seng Sulfat Dengan Vitamin C.

Kesimpulan :

Pada penelitian ini didapatkan beberapa kesimpulan, metode kompleksometri


masih cukup baik digunakan pada penetapan kadar seng sulfat yang bercampur dengan
vitamin C. Vitamin C masih bisa ditambahkan ke dalam campuran seng sulfat kurang lebih
sebanyak 550 mg, pada penelitian ini juga didapatkan kadar seng sulfat masih memenuhi
persyaratan menurut farmakope Indinesia yaitu 95-100%.

Dari hasil penelitian juga diperoleh data rekoveri seng sulfat dengan penambahan
vitamin C dengan dosis 0 mg; 100 mg; 150 mg; 200 mg; 250 mg; 300 mg; 350 mg; 400
mg; 450 mg; 500 mg; 550 mg dengan hasil presentase recorvery berturut-turut adalah
100%; 98,67%; 98,28%; 98,24%; 97,78%; 97,57%; 97,17%; 96,77%; 96,45%; 95,82%,
95,46%.

BAB III

PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Kompleksometri merupakan jenis titrasi dimana titran dan titrat saling


mengkompleks, membentuk hasil berupa kompleks. Reaksi–reaksi pembentukan
kompleks atau yang menyangkut kompleks banyak sekali dan penerapannya juga banyak,
tidak hanya dalam titrasi. Karena itu perlu pengertian yang cukup luas tentang kompleks,
sekalipun disini pertama-tama akan diterapkan pada titrasi.

Ligan dengan satu atom pengikat disebut ligan monodentat, dan yang memiliki
lebih dari satu atom pengikat disebut ligan polidentat, yang juga disebut ligan khelat.
2. Komplekson yaitu zat-zat yang dapat membentuk senyawaan kompleks khelat dengan
ion logam. Jenis-jenis komplekson yakni: Asam etilen-diamin-tetra-asetat( EDTA), Asam
nitroloasetat dan Asam 1,2 – diaminosiklo heksana– tetraasetat.

Indikator ion logam adalah suatu zat warna organik yang membentuk kelat
berwarna dengan ion logam pada rentang pM. Jenis titrasi kompleksometri antara lain
titrasi langsung, titrasi tidak langsung, titrasi kembali dan titrasi penggantian.

Pada penelitian penggunaan metode kompleksometri pada penetapan kadar seng


sulfat dalam vitamin C didapatkan beberapa kesimpulan, metode kompleksometri masih
cukup baik digunakan pada penetapan kadar seng sulfat yang bercampur dengan vitamin
C. Vitamin C masih bisa ditambahkan ke dalam campuran seng sulfat kurang lebih
sebanyak 550 mg, pada penelitian ini juga didapatkan kadar seng sulfat masih memenuhi
persyaratan menurut farmakope Indinesia yaitu 95-100%.

Aplikasinya banyak digunakan dalam farmasi ,metode ini banyak digunakan dalam
penetapan kadar MgSO4 yang digunakan sebagai laksativum atau ZnO yang digunakan
sebagai antiseptik.
Pada bidang industry digunakan untuk menjernihkan air atau yang sering disebut
dalam penggunaannya di bidang industry adalah water treatment. Dan untuk menentukan
kesadahan air sumur, sungai, dll.

3.2 Saran
Pada saat melakukan titrasi kompleksometri harus dilakukan ketelitian, agar hasil
akhir titrasi dapat sesuai dengan teori dan panduan yang ada.

DAFTAR PUSTAKA

1. Basset,J,dkk. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik edisi Empat. EGC.

Jakarta. .Hal: 299,310-311,316-323

2. Day,R.A, Underwood,A.L. Analisis Kimia Kuantitatif. Erlangga. Jakarta. .Hal: 193


3. Wunas, Yeanny, Susanti. Analisa Kimia Farmasi Kuantitatif. Universitas Hasanuddin.

Makassar. 2010. Hal. 182-184

4. Dirjen POM. Farmakope Indonesia edisi Tiga. Depkes RI. Jakarta.Hal 1979.96,329-330,354-

355,637,638,683

5. Prof. Dr. Harmita, Apt. Penetapan Kadar Bahan Baku Obat Dan Sediaan Farmasi. EGC.

Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai