Anda di halaman 1dari 47

ANALISA JURNAL EBN (Evidence Based Nursing)

Pengaruh Relaksasi Otot Progesif Terhadap Pola


Tidur pada Lansia di dusun daleman Desa Poreh
Kecamatan Lenteng

Proposal Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas


Keperawatan Medikal Bedah Program S1 Keperawatan

Disusun Oleh:
Ardhiyanningsih
11182021

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PERTAMEDIKA
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat dan hidayat-Nya penulisan dan penyusunan makalah Analisa Jurnal EBN
yang berjudul “Hubungan Tingkat Pengetahuan Kader tentang pengukuran
antropometri dengan keterampilan dalam melakukan pengukuran pertumbuhan balita
di posyandu kelurahan karangasem kecamatan laweyan.
Makalah ini merupakan salah satu tugas mata ajar Keperawatananak dalam Program
Studi Pendidikan S1 Keperawatan di STIKes PERTAMEDIKA. Tak lupa juga
penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam
menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada:
1. Ibu Wasijati selaku koordinator mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah
sistem Muskulokeletal yang membimbing dan mengarahkan penulis dalam
menyelesaikan makalah ini.
2. Teman-teman yang sudah bersedia membantu.
3. Dan semua pihak-pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang
telah banyak membantu dalam pembuatan makalah ini.

Makalah ini diharapkan dapat dapat menambah, memperluas, dan memperkaya


pengetahuan perawat tentang bagaimana menerapkan intervensi tersebut sebagai
evidence base nursing terutama dalam Keperawatan Anak . Penulis menyadari dalam
pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan. Untuk itu penulis berterimakasih
bila terdapat masukan yang konstruktif sebagai perbaikan proposal berikutnya.
Jakarta, maret 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................. i


DAFTAR ISI............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................ 3
A. Latar Belakang .............................................................................................. 3
B. Tujuan ...........................................................................................................4
C. Manfaat .........................................................................................................4
BAB II ANALISA JURNAL ................................................................................... 5
A. JURNAL UTAMA........................................................................................ 5
1. Judul Jurnal
2. Penelitan
3. Posulasi, Sample dan tehnik Sampling
4. Desain Penelitian
5. Instrumen penelitian
6. Uji Statistik
B. Jurnal Pendukung .......................................................................................... 6
C. Analisa Pico...................................................................................................6
BAB III TINJAUAN TEORITIS .......................................................................... 10
A. Antropometri .................................................................................................10
B. Indeks Masa Tubuh (IMT) .......................................................................22

BAB IV ANALISA SWOT .................................................................................. 25


A. Analisis Situasi............................................................................................ 25
BAB V PENUTUP ................................................................................................ 26
A. Kesimpulan ..................................................................................................... 26
B. Saran............ ..................................................................................................26
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tubuh memerlukan energi untuk fungsi-fungsi organ tubuh, pergerakan tubuh,
mempertahankan suhu, fungsi enzim, serta pertumbuhan dan pergantian sel yang rusak.
Masalah nutrisi merupakan hal yang sangat berhubungan dengan intake makanan yang
diberikan pada tubuh.
Pengkajian dan penilaian kecukupan gizi atau nutrisi diperlukan untuk mengetahui
keseimbangan kebutuhan tubuh akan nutrisi dan kegunaannya. Keseimbangan kebutuhan
nutrisi pada seseorang dikatakan baik apabila asupan nutrisinya seimbang dengan
kegunaannya. Keseimbangan nutrisi dipengaruhi oleh 2 hal yaitu konsumsi makanan dan
keadaan kesehatan tubuh.Salah satu cara yang digunakan untuk mengkaji dan menilai
angka kecukupan nutrisi adalah dengan antopometri.
B. Rumusan Masalah
Kelurahan Karangasem memiliki 9 Posyandu. Hasil pengamatan peneliti di salah satu
posyandu kesalahan prosedur terutama pada pengukuran tinggi badan balita. Sepatu /
sandal balita tidak dilepas dan balita cukup berdiri di bawah microtoise tanpa
memperhatikan posisi kaki, tumit sudah menempel pada tembok atau belum.
Pengukuran panjang badan tidak memperhatikan apakah sudah tepat dari ujung kepala
sampai ujung kaki, terkadang tidak menekan lutut bayi agar lurus. Penggunaan dacin
untuk mengukur berat badan balita kesalahan terutama pada saat persiapan. Posisi
bandul dacin pada saat diseimbangkan tidak tepat pada posisi ‘nol’. Kader kadang
juga lupa tidak melepas sandal / alas kaki balita pada saat ditimbang. Pengukuran
lingkar kepala tidak dilingkarkan secara tepat pada lingkar kepala. Hal ini
menunjukkan bahwa masih banyak kader yang belum terampil dalam melakukan
pengukuran antropometri
C. Tujuan
Tujuan dari penyampaian seminar Evidance Based Nursing ini adalah :
1. Menambah wawasan perawat terhadap antara tingkat pengetahuan kader tentang
pengukuran antropometri dengan keterampilan dalam melakukan pengukuran
pertumbuhan balita di posyandu Kelurahan Karangasem Kecamatan Laweyan.
2. Perawat dapat meningkatkan Ketelitian, pengetahuan dan keterampilan kader
posyandu dalam melakukan pengukuran antropometri

3
D. Manfaat

1. Manfaat bagi pelayanan keperawatan


Diharapkan perawat dapat teliti, pengetahuan dan keterampilan kader posyandu
dalam melakukan pengukuran antropometri
2. Manfaat bagi perkembangan ilmu keperawatan
Diharapkan dimasa mendatang dapat memunculkan ide-ide baru yang inovatif
terkait tentang pengukuran antropometri

4
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. JURNAL UTAMA
1. Judul Jurnal : pengaruh relaksasi otot progesif terhadap pola tidur
pada lansia di dusun daleman desa poreh kecamatan lenteng
2. Nama Peneliti : Syaifurrahman Hidaya Millatul hanifah
3. Tempat & Waktu : Dusun Daleman Desa Poreh Kecamatan Lenteng
4. Tujuan Penelitian : Tujuan penelitian ini adalah Tujuan penelitian ini yaitu
untuk mengetahui pengaruh terapi relaksasi otot progresif
terhadap pola tidur pada lansia di Dusun Dheleman Desa Poreh
Kecamatan Lenteng Kabupaten Sumenep pada tahun 2017.
5. Populasi dan sampling : Berdasarkan studi pendahuluan pada bulan januari 2017
dengan observasi dan wawancara pada 16 lansia di Dusun
Dheleman DesanPoreh Kecamatan Lenteng Kabupaten
Sumenep di dapatkan hasilsebanyak 11 lansia (68,7%)
mengatakan lansia sering bangun tengah malam dan sulit untuk
tidur kembali,sebanyak 3 lansia (18,7%) mengatakan bangun
terlalu pagi dan sulit terbangun pada waktu yang diinginkan.
Dan sebanyak 2 lansia (12,5%) mengatakan sulit memuali
tidur, tidur kurang dari 6 jam, dan mengalami penurunan daya
tahan tubuh (mudah terserang flu).
6. Teknik sampling : purpuse sampli analisa data menggunakan uji wilcoxon
untuk mengetahui perbedaan pola tidur sebelum dan sesudah
pemberian relaksasi otot progesif
7. Metode Penelitian : pra eksperimental dengan menggunakan rancanga one
group pre test and post test

8. Instrumen Penelitian : Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif


dengan rancangan cross sectional.

5
9. Analisa data : Menggunakan Analisis analisa data menggunakan uji
wilcoxon untuk mengetahui perbedaan pola tidur sebelum dan
sesudah pemberian relaksasi otot progesif
10. Uji Statistik : Chi-square, T-test independent

1. Hasil Penelitian :
bagai berikut :
1. Pola tidur pada lansia sebelum diberikan relaksasi otot progresif
sebagian besar lansia memiliki pola tidur yang buruk.
2. Pola tidur pada lansia sesudah diberikan relaksasi otot progresif
sebagian besar memiliki pola tidur yang baik.
3. Ada pengaruh antara pemberian relaksasi otot progresif terhadap
pola tidur pada lansia di Dusun Daleman Desa Poreh Kecamatan
Lenteng.

6
B. Jurnal Pendukung

1. Judul Jurnal : Pengaruh terapi relaksasi otot progesif pada kualitas tidur pada lansia dinpanti
wresna budi sejahtera martapura tahun 2016
2. Peneliti : Izma Daud
3. Hasil : Hasil penelitian berupa perbandingan antara sebelum dan sesudah
diberikan intervensi menunjukan adanya pengaruh yaitu perubahan pada
kategori buruk yang berjumlah 16 orang (76,2%) menjadi 11 orang
(52,4%), dan kategori baik berjumlah 5 orang (23,8%) menjadi 10 orang
(47,6%). Tabel diatas menunjukkan adanya efektifitas terapi otot
progresif terhadap kualitas tidur. Dari hasil uji Wilcoxonmenunjukkan
nilai signifikan p=0,025 (p value < 0,05). Berdasarkan penjelasan
tersebut di ambil kesimpulan bahwaada pengaruh pemberian terapi otot
progresif terhadap kualitas tidur pada lansiadi Panti Sosial Tresna
Werdha Budi Sejahtera Martapura.

7
C. Analisa PICO
Unsur PICO Analisis

Problem Pada penelitian ini tidak didapat


masalah yang dihadapi oleh peneliti.

Intervensi Tujuan intervesi yang akan dilakukan


“Pengaruh Relaksasi Otot
ProgresifTerhadap Pola Tidur Pada
Lansia
di Dusun Daleman Desa PorehKecamatan
Lenteng

‘’
Tujuan penelitian ini adalah
Tujuan penelitian ini yaitu untuk
mengetahui pengaruh terapi
relaksasi otot progresif terhadap pola
tidur pada lansia di Dusun Dheleman
Desa Poreh Kecamatan Lenteng
Kabupaten Sumenep pada tahun
2017.

Jenis penelitian yang digunakan adalah


Desain Penelitian pra eksperimental
dengan menggunakan rancangan one
group pre test and post test, Populasi
penelitian ini yaitu lansia yang
tinggal di Dusun Dheleman Desa
Poreh Kecamatan Lenteng dengan
jumlah sebanyak 103 lansia.Sampel
penelitian yaitu lansia di Dusun
Dheleman Desa Poreh Kecamatan
Lenteng melalui pendekatan kriteria
8
inklusi dan eksklusi yaitu 30 lansia
berdasarkan kriteria inklusi dan
ekslusi. Teknik
pengambilan sampel dengan
caraPurposive sampli.Analisa data
menggunakan uji wilcoxonuntuk
mengetahui perbedaan pola tidur
sebelum dan sesudah pemberian
relaksasi otot progresif.

Comparison Judul jurnal pembanding :


PENGARUH TERAPI RELAKSASI
OTOT PROGRESIF TERHADAP
KUALITAS TIDUR PADA LANSIA DI
PANTI TRESNA WERDHA BUDI
SEJAHTERA MARTAPURA TAHUN
2016

Peneliti ; Izma Daud

9
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Terapi Relaksasi Otot Progresif


1. Pengertian Relaksasi Otot Progresif
Relaksasi merupakan kebebasan mental dan fisik dari ketegangan dan
stress yang memberikan individu kontrol diri ketika tidak merasa nyaman,
stress fisik, dan emosi (Edelman dan Mandle, 1994 dalam Potter dan
Perry, 2009). Sedangkan, Alim (2011) menyatakan relaksasi adalah salah
satu teknik dalam terapi prilaku untuk mengurangi ketegangan dan
kecemasan sehingga efek yang dirasakan adalah perasaan tenang.
Relaksasi otot progresif telah menjadi salah satu teknik terapeutik yang
penting dalam perawatan yang modern. Metode ini diperkenalkan oleh
Edmund Jacobson pada tahun 1938 (Conrad dan Roth, 2010). Relaksasi
otot progresif merupakan salah satu teknik untuk mengurangi ketegangan
otot dengan proses yang simpel dan sistematis dalam menegangkan
sekelompok otot kemudian merilekskannya kembali.

Ketika otot tubuh merasa tegang, kita akan merasakan ketidaknyamanan,


seperti sakit pada leher, punggung belakang, serta ketegangan pada otot
wajahpun akan berdampak pada sakit kepala. Jika ketegangan otot ini
dibiarkan maka akan mengganggu tidur seseorang (Marks, 2011).
Relaksasi otot progresif merupakan kombinasi latihan pernafasan yang
terkontrol dengan rangkaian kontraksi serta relaksasi kelompok otot.
Kegiatan ini menciptakan sensasi dalam melepaskan ketidaknyamanan dan
stress (Potter dan Perry, 2009)

2. Manfaat Relaksasi Otot Progresif


Relaksasi otot progresif memberikan hasil yang memuaskan dalam
program terapi terhadap ketegangan otot, menurunkan ansietas,
memfasilitasi tidur, depresi, mengurangi kelelahan, kram otot, nyeri pada
leher dan punggung, menurunkan tekanan darah tinggi, fobia ringan, serta

10
8

meningkatkan konsentrasi (Davis, 2012). Target yang tepat dan jelas


dalam memberikan relaksasi otot progresif adalah pada keadaan yang
memiliki respon ketegangan otot yang cukup tinggi dan membuat tidak
nyaman sehingga dapat mengganggu kegiatan sehari-hari. Hal ini biasanya
terjadi pada orang yang mengalami gangguan tidur yang disebabkan oleh
ketegangan otot dan adanya pemikiran yang mengganggu sehingga
kebutuhan tidur merekapun kurang terpenuhi (Berstein, Borkovec, dan
Stevens, 2012).

3. Prinsip Kerja Relaksasi Otot Progresif


Dalam melakukan relaksasi otot progresif, hal yang penting dikenali
adalah tegangan otot. Ketika otot berkontraksi (tegang) maka ransangan
akan disampaikan ke otak melalui jalur saraf aferent. Tension merupakan
kontraksi dari serat otot rangka yang menghasilkan sensasi tegangan.
Relaksasi adalah pemanjangan dari serat serat otot tersebut yang dapat
menghilangkan sensasi ketegangan. Setelah memahami dalam
mengidentifikasi sensasi tegang, kemudian dilanjutkan dengan merasakan
relaks. Ini merupakan sebuah prosedur umum untuk mengidentifikasi
lokalisasi ketegangan, relaksasi dan merasakan perbedaan antara keadaan
tegang (tension) dan relaksasi yang akan diterapkan pada semua kelompok
otot utama. Dengan demikian, dalam relaksasi otot progresif diajarkan
untuk mengendalikan otot – otot rangka sehingga memungkinkan setiap
bagian merasakan sensasi tegang dan relaks secara sistematis (Mc Guigan
dan Lehrer, 2011).

4. Mekanisme fisiologi relaksasi otot progresif dalam pemenuhan


kebutuhan tidur
Kontraksi dari serat otot rangka mengarah kepada sensasi dari tegangan
otot yang merupakan hasil dari interaksi yang kompleks dari sistem saraf
pusat dan sistem saraf tepi dengan otot dan sistem otot rangka. Dalam hal
ini, sistem saraf pusat melibatkan sistem saraf simpatis dan sistem saraf
parasimpatis. Beberapa organ dipengaruhi oleh kedua sistem saraf ini.

11
9

Walaupun demikian, terdapat perbedaan antara efek sistem saraf simpatis


dan parasimpatis yang berasal dari otak dan saraf tulang belakang
(Andreassi, 2009 dalam Conrad dan Roth, 2010).

Antara simpatik dan parasimpatik bekerja saling timbal balik. Aktivasi


dari sistem saraf simpatik disebut juga ergotropic atau respon fight or
flight dimana organ diaktivasi untuk keadaan stress. Respon ini
memerlukan energi yang cepat, sehingga hati lebih banyak melepaskan
glukosa untuk menjadi bahan bakar otot sehingga metabolisme juga
meningkat (Erliana, 2009). Cannon (1929) mengobservasi efek dari saraf
simpatis, yaitu meningkatkan denyut nadi, tekanan darah, hiperglikemia,
dan dilatasi pupil, pernafasan meningkat, serta otot menjadi tegang.
Aktifnya saraf simpatis membuat lansia tidak dapat santai dan rilaks
sehingga tidak memunculkan rasa kantuk (Erliana, 2009).

Aktivasi dari sistem saraf parasimpatis disebut juga Trophotropic yang


dapat menyebabkan perasaan ingin istirahat, dan perbaikan fisik tubuh.
Aktivasi ini merupakan dasar yang disebut Benson (1975, dalam Conrad
dan Roth, 2010) yaitu respon relaksasi. Respon parasimpatik meliputi
penurunan denyut nadi dan tekanan darah serta meningkatkan aliran darah
(Conrad dan Roth, 2010). Oleh sebab itu, melalui latihan relaksasi lansia
dilatih untuk dapat memunculkan respon relaksasi sehingga dapat
mencapai keadaan tenang.

5. Petunjuk pelaksanaan Relaksasi Otot Progresif


Menurut (Davis, 2010) relaksasi otot progresif memberikan cara dalam
mengidentifikasi otot dan kumpulan otot tertentu serta membedakan antara
perasaan tegang dan relaks. Terdapat 10 kelompok utama dalam relaksasi
otot progresif yang meliputi (1) kelompok otot pergelangan tangan, (2)
kelompok otot lengan bawah, (3) kelompok otot siku dan lengan atas, (4)
kelompok otot bahu, (5) kelompok otot kepala dan leher, (6) kelompok
otot wajah, (7) kelompok otot punggung, (8) kelompok otot dada, (9),
kelompok otot perut, (10) kelompok otot kaki dan paha.

12
10

Relaksasi dilakukan secara bertahap dan dipraktekkan dengan berbaring


atau duduk di kursi dengan kepala ditopang dengan bantal. Setiap
kelompok otot ditegangkan selama 4–10 detik dan direlaksasikan selama
10–20 detik. Prosedur ini diulang paling tidak satu kali. Petunjuk relaksasi
progresif dibagi dalam dua bagian, yaitu bagian pertama dengan
mengulang kembali pada saat praktek sehingga lebih mengenali bagian
otot tubuh yang paling sering tegang, dan bagian kedua dengan prosedur
singkat untuk menegangkan merilekskan beberapa otot secara simultan
sehingga relaksasi otot dapat dicapai dalam waktu singkat. Waktu yang
diperlukan untuk melakukan relaksasi otot progresif sehingga dapat
menimbulkan efek yang maksimal adalah selama empat minggu, dan
setiap minggu dilaksanakan sebanyak 3 kali yang dilakukan selama 15
menit setiap intervensi (Davis, 2010).

6. Hal-hal yang disarankan dan diperhatikan dalam latihan relaksasi


otot progresif (Hayden, 2008)
a. Selalu latihan di tempat yang tenang, sendirian, tanpa atau
menggunakan audio untuk membantu konsentrasi pada kelompok otot.
b. Melepaskan sepatu dan pakaian yang tebal.
c. Hindari makan, merokok dan minum, yang terbaik melakukan latihan
sebelum makan.
d. Tidak boleh latihan setelah minum minuman keras.
Latihan dilakukan dengan posisi duduk, tetapi dapat juga dengan posisi
tidur.
Jangan terlalu menegangkan otot berlebihan karena dapat melukai diri
sendiri.
Latihan membutuhkan waktu 15 sampai 20 menit.

7. Prosedur Terapi Relaksasi Otot Progresif


a. Memperkenalkan diri
b. Menjelaskan tujuan dilakukannya terapi relaksasi otot progresif.
c. Meminta persetujuan pasien untuk menjadi responden dengan
menandatangani informed consent.

13
11

d. Klien diberi penjelasan terlebih dahulu dan mengatur posisi klien


dengan posisi duduk dan rilek.
e. Meminta klien untuk memejamkan mataperlahan-lahan dan konsentrasi
pada latihan.
f. Meminta klien untuk menirukan gerakan yang ditampilkan dalam
video.

Berikut ini gerakan-gerakan latihan :


Gerakan 1.
Menggenggam tangan kanansambil membuat suatu kepalan semakin
kuat, sambilmerasakan ketegangan, kemudian kepalan dilepaskan dan
rasakan rileks selama 10 detik.Setelah selesai tangan kanan kemudian
dilanjutkan tangan kiri.
1 : Menggenggam dan otot tangan bawah
2 Menekuk kedua lengan ke belakang pada pergelangan tangan
sehingga otot-otot di tanganbagian belakang dan lengan bawah
menegang, jari-jari menghadap ke langit-langit. Gerakan 2ini seperti
pada gambar
Gerakan 3.
Gerakan ini diawali dengan menggenggam kedua tangan sehingga
menjadi kepalan kemudianmembawa kedua kepalan ke pundak
sehingga otot-otot biceps akan menjadi tegang. Gerakan3 seperti pada
gambar 3.

Gerakan 4.
Mengangkat kedua bahu setinggi-tingginya seakan-akan bahu akan
dibawa hingga menyentuhkedua telinga. Fokus perhatian gerakan ini
adalah kontras ketegangan yang terjadi di bahu,punggung atas, dan
leher. Gerakan 4 seperti pada gambar 4.

Gerakan 5.
Mengerutkan dahi dan alis sampai otot-ototnya terasa dan kulitnya
keriput. Gerakan 5 sepertipada gambar 5

14
Gerakan 6.
Menutup keras-keras mata sehingga dapat dirasakan ketegangan di
sekitar mata dan otot-ototyang mengendalikan gerakan mata. Gerakan 6
seperti pada gambar 6.

Gerakan 7
Mengatupkan rahang, diikuti dengan menggigit gigi-gigi sehingga
ketegangan di sekitar otot-otot rahang. Gerakan 7 seperti pada gambar7.
Gerakan 8.
Bibir dimoncongkan sekuat-kuatnya sehingga akan dirasakan
ketegangan di sekitar mulut. Gerakan 8 seperti pada gambar 8.

Gerakan 9.
Meletakkan kepala sehingga dapat beristirahat, kemudian diminta untuk
menekankan kepalapada permukaan bantalan kursi sedemikian rupa
sehingga responden dapat merasakanketegangan di bagian belakang
leher dan punggung atas. Gerakan 9 seperti pada gambar 9.

Gambar 9. Latihan otot leher belakang.


Gerakan 10.

Membawa kepala ke muka, kemudian diminta untuk membenamkan


dagu ke dadanya.Sehingga dapat merasakan ketegangan di daerah leher
bagian muka.

Gerakan 11.
Mengangkat tubuh dari sandaran kursi, kemudian punggung
dilengkungkan, lalu busungkandada. Kondisi tegang dipertahankan
selama 10 detik, kemudian rileks. Pada saat rileks,letakkan tubuh
kembali ke kursi, sambil membiarkan otot-otot menjadi lemas. Gerakan
11seperti pada gambar 11.

Gerakan 12.
Menarik nafas panjang untuk mengisi paru-paru dengan udara
sebanyak-banyaknya. Posisi iniditahan selama beberapa saat, sambil
merasakan ketegangan di bagian dada kemudian turunke perut. Pada

15
saat ketegangan dilepas, responden dapat bernafas normal dengan
lega.Gerakan 12 seperti pada gambar 12.
Gerakan 13.

Menarik kuat-kuat perut ke dalam, kemudian menahannya sampai perut


menjadi kencangdank eras. Setelah 10 detik dilepaskan bebas,
kemudian diulang kembali seperti gerakan awaluntuk perut ini. Gerakan
13 seperti pada gambar 13.

Gerakan 14.
Meluruskan kedua belah telapak kaki sehingga otot paha terasa tegang.
Gerakan 14 sepertipada gambar 14.

Gerakan 15.
Setelah gerakan 14 dilanjutkan dengan mengunci lutut sedemikian
sehingga keteganganpindah ke otot-otot betis. Gerakan 15 seperti pada
gambar 15.
Setelah menyelesaikan semua gerakan, releks dengan menghitung dari
hitungan 5 sampai 1 perlahan, nafas dalam dan berkata buka mata, dan
berkata Rileks atau OK.

16
B. Kualitas Tidur Lansia
1. Pengertian Kualitas Tidur Lansia
Kualitas tidur adalah suatu keadaan tidur yang dijalani seorang individu
menghasilkan kesegaran dan kebugaran saat terbangun. Kualitas tidur
mencakup aspek kuantitatif dari tidur, seperti durasi tidur, latensi tidur
serta aspek subjektif dari tidur. Kualitas tidur adalah kemampuan setiap
orang untuk mempertahankan keadaan tidur dan untuk mendapatkan tahap
tidur REM dan NREM yang pantas (Khasanah, 2012). Kualitas tidur yang
buruk telah dikaitkan dengan kesehatan yang buruk. Kualitas tidur yang
buruk dapat menyebabkan seseorang absen dari pekerjaannya dan
peningkatan risiko untuk gangguan kejiwaan termasuk depresi (Buyese et
al, 2011). Jadi untuk memperoleh kualitas tidur terbaik adalah penting
untuk meningkatkan kesehatan yang baik dan pemulihan individu yang
sakit.

Kecukupan tidur seseorang sebenarnya bukan hanya diukur dari lama


waktu tidur, tapi juga kualitas tidur itu sendiri. Tidur seseorang dikatakan
berkualitas adalah jika ia bangun dengan kondisi segar dan bugar. Pola
tidur akan berubah seiring dengan pertambahan usia dan semakin
beragamnya pekerjaan atau aktivitas. Semakin bertambah usia, efisiensi
tidur akan semakin berkurang. Efisiensi tidur diartikan sebagai jumlah
waktu tidur berbanding dengan waktu berbaring ditempat tidur. Kebutuhan
tidur lansia semakin menurun karena dorongan homeostatik untuk tidur
pun berkurang (Prasadja, 2009). Tidur tahap IV sangat penting untuk
menjaga kesehatan fisik. Para ahli tentang tidur mengetahui bahwa tahap
IV sangat jelas terlihat menurun pada lansia. Lansia mengalami penurunan
tahap III dan IV waktu NREM, lebih banyak terbangun selama malam hari
dibandingkan tidur, dan lebih banyak tidur selama siang hari.

17
20

Kebanyakan lansia yang sehat tidak melaporkan adanya gejala yang terkait
dengan perubahan ini selain tidak dapat tidur dengan cukup atau tidak bisa
tidur. Banyak penelitian menunjukkan bahwa tidur disiang hari dapat
mengurangi waktu dan kualitas tidur di malam hari pada beberapa lansia.
Setelah memasuki tahap IV, akan berlanjut ketidur REM. Tidur REM
terjadi beberapa kali dalam siklus tidur dimalam hari tetapi lebih sering
terjadi dipagi hari sekali. Tidur REM membantu melepaskan ketegangan
dan membantu metabolisme system saraf pusat. Kekurangan tidur REM
telah terbukti menyebabkan iritasi dan kecemasan (Stockslager, 2011).

2. Parameter Kualitas Tidur


Ada beberapa parameter untuk melihat kualitas tidur seseorang antar lain :
waktu yang dibutuhkan untuk dapat tidur, total jam tidur, frekuensi
terbangun, lama waktu tidur siang hari, perasaan segar saat bangun pagi,
kepuasan tidur, kedalaman tidur, serta perasaan ngantuk disiang hari,
faktor-faktor tersebut dapat digunakan sebagai tolak ukur baik tidaknya
kualitas tidur seseorang.

Waktu yang dibutuhkan untuk dapat tidur adalah waktu yang dihabiskan
oleh seseorang sejak munculnya keinginan untuk tidur sampai tercapainya
tidur tahap REM. Total jam tidur adalah lamanya waktu tidur dikurang
dengan lamanya waktu terbangun saat tidur (Buyese et al 2011). Total jam
tidur merupakan jumlah waktu individu dalam kehidupannya yang
digunakan untuk tidur . Frekuensi terbangun adalah sering atau tidak nya
seseorang terbangun dari tidurnya yang dapat dipengaruhi oleh lingkungan
atau akibat dari keinginan untuk buang air kecil. Seseorang dewasa muda
normal selama tidur malam akan terbangun sekitar satu sampai dua kali.

Terbangun dimalam hari berpengaruh pada pengurangan total waktu tidur,


lama waktu tidur pada siang hari normalnya kurang dari satu jam pada
orang dewasa. Individu yang kurang tidur pada malam hari akan
menambah jam tidurnya pada siang/sore hari. Individu yang tidur sesuai

18
21

dengan jumlah tidur pada tahap perkembangannya akan merasa segar saat
bangun dipagi hari refreshing on awakenings. Waktu tidur seorang wanita
lebih sedikit dibanding seorang pria. Hal ini disebabkan oleh faktor
fisiologis yang selalu terjadi pada seorang wanita termasuk kehamilan
yang menyebabkan wanita kurang puas dalam merasakan tidur yang
nyenyak. Kepuasan tidur tergantung pada kondisi lingkungan, kesehatan
fisik dan kesehtan jiwa (Buyese et al 2011).
Ketidakpuasan tidur disebabkan tidur yang tidak melewati seluruh tahapan
normal baik NREM dan REM. Sulit tidur sering terjadi pada lansia. Hal ini
dikarenakan proses degenerative yang mengakibatkan perubahan-
perubahan baik pada ritmik sirkandian. Neuro-transmitter maupun neuro-
hormon sehingga terjadi fase penurunan tidur dalam. Penurunan
kedalaman tidur ini berbanding lurus dengan kualitas tidur. Kelelahan
disiang hari baik karena aktifitas maupun kondisi fisik seseorang dapat
mengakibatkan perasaan yang mengantuk disiang hari.

3. Faktor-faktor yang menyebabkan gangguan tidur


Hubungan yang harmoni antara sistem imun, neuro-endokrin, dan sistem
tidur terjaga menghasilkan pola sirkardian tidur dan terjaga. Ketidak
seimbangan interaksi antara faktor psikososial, psikofisiologik,
perkembangan syaraf dan kesehatan dapat menyebabkan gangguan pola
tidur. Ada beberapa faktor yang menyebabkan gangguan tidur menurut
Stockslanger (2011) yaitu :
a. Faktor Internal
1) Faktor Fisiologis
Setiap penyakit yang menyebabkan nyeri, ketidaknyamanan fisik
atau masalah suasana hati seperti kecemasan atau depresi dapat
mempengaruhi masalah tidur. Penyakit juga memaksa klien untuk
tidur dalam posisi yang tidak biasa, seperti memperoleh posisi yang
aneh saat tangan atau lengan diimobilisasi pada traksi dapat
mengganggu tidur. Faktor-faktor yang berhubungan pada lansia yang
mengalami penyakit kritis adalah nyeri, stres akut, depresi, gangguan

19
22

suhu tubuh, gangguan pernafasan saat tidur, gangguan eleminasi


gangguan siklus tidur, gangguan pergerakan kaki saat tidur, gejala
menopause, penyakit parkinson. Kesemua perubahan fisiologis ini
dapat mencetuskan gangguan pola tidur pada lansia dan diperburuk
dengan penyakit terutama jika terdapat demam.

2) Faktor Psikologis
Kecemasan tentang masalah pribadi dapat mempengaruhi situasi
tidur. Stres menyebabkan seseorang mencoba untuk tidur, namun
selama siklus tidurnya klien sering terbangun atau terlalu banyak
tidur. Stres yang berlanjut dapat mempengaruhi kebiasaan tidur yang
buruk.

b. Faktor Eksternal
1) Lingkungan
Lingkungan tempat seorang tidur berpengaruh pada kemampuan
untuk tertidur. Ventilasi yang baik memberikan kenyamanan untuk
tidur tenang. Ukuran, kekerasan dan posisi tempat tidur
mempengaruhi kualitas tidur. Tingkat cahaya, suhu dan suara dapat
mempengaruhi kemampuan untuk tidur. Klien ada yang menyukai
tidur dengan lampu yang dimatikan, remang-remang atau tetap
menyala. Suhu yang panas atau dingin menyebabkan klien
mengalami kegelisahan. Beberapa orang menyukai kondisi tenang
untuk tidur dan ada yang menyukai suara untuk membantu tidurnya
seperti dengan musik lembut dan televisi.

2) Gaya hidup
Kebiasaan mengkonsumsi kafein dan alkohol mempunyai efek
insomnia. Makan dalam porsi besar, berat dan berbumbu pada
makan malam juga menyebabkan makanan sulit dicerna,
menghabiskan waktu yang berlebihan ditempat tidur, tidur siang

20
23

yang berlebihan, merokok serta olahraga yang kurang sehingga dapat


mengganggu tidur.

3) Pengobatan
Obat tidur seringkali membawa efek samping. Dewasa muda dan
dewasa tengah dapat mengalami ketergantungan obat tidur untuk
mengatasi stresor gaya hidup. Obat tidur golongan hipnotik maupun
sedative juga seringkali digunakan untuk mengontrol atau mengatasi
sakit kroniknya. Beberapa obat juga dapat menimbulkan efek
samping penurunan tidur REM

4. Penatalaksanaan gangguan tidur


Evaluasi terhadap pasien lansia dengan gangguan pola tidur memerlukan
pemeriksaan yang komprehensif dan upaya terintegrasi dari semua tim
pelayanan kesehatan. Unsur-unsur dari riwayat yang lebih rinci
memerlukan data dari pasien, pasien lain, keluarga serta petugas kesehatan
sehingga dapat dilakukan intervensi yang bertujuan untuk memelihara
kondisi fungsional pasien. Manipulasi lingkungan dan penyebab eksternal
yang potensial merupakan pendekatan yang terbaik (Prayitno, 2012).

Penatalaksanaan umum gangguan tidur yaitu dengan penatalaksanaan


farmakologis dan non-farmakologis yang meliputi: pendekatan hubungan
antara pasien dan tenaga medis, konseling dan psikoterapi serta Sleep
hygiene, (Japardi 2012). Mengobati gejala gangguan tidur, selain
dilakukan pengobatan secara kausal, juga dapat diberikan obat golongan
sedatif hipnotik. Pada dasarnya semua obat yang mempunyai kemampuan
hipnotik merupakan penekanan aktifitas dari RAS di otak. Hal tersebut
didapatkan pada berbagai obat yang menekan susunan syaraf pusat, mulai
dari obat anti ansietas dan beberapa obat anti depresan. Selain itu obat
hipnotik juga mempunyai efek kelemahan yang dirasakan efeknya pada
hari berikutnya (long acting) sehingga mengganggu aktifitas sehari-hari.
Begitu pula bila pemakaian obat dalam jangka panjang dapat

21
24

menimbulkan over dosis dan ketergantungan obat. Sebelum


mempergunakan obat hipnotik, harus terlebih dahulu ditentukan jenis
gangguan tidur misalnya, apakah gangguan pada fase latensi panjang
(NREM) gangguan pendek, bangun terlalu dini, cemas sepanjang hari
kurang tidur pada malam hari, adanya perubahan jadwal kerja/kegiatan
atau akibat gangguan penyakit primernya.

Walaupun obat hipnotik tidak ditunjukkan dalam penggunaan gangguan


tidur kronik, tapi dapat dipergunakan hanya untuk sementara sambil
mencari penyebab yang mendasari. Jadi yang terpenting dalam
penggunaan obat hipnotik adalah mengidentifikasi dari masalah gangguan
tidur sedini mungkin tanpa menilai kondisi primernya dan harus berhati-
hati pada pemakaian obat hipnotik untuk jangka panjang akan
menyebabkan terselubungnya kondisi yang mendasarinya serta akan
berlanjut tanpa penyelesaian yang memuaskan (Japardi, 2012). Pendekatan
hubungan antara pasien dengan tenaga medis bertujuan untuk mencari
penyebab dasarnya dan pengobatan yang adekuat untuk mengubah
kebiasaan tidur yang jelek serta mencegah komplikasi sekunder yang
diakibatkan oleh penggunaan obat hipnotik, alkohol dan gangguan mental.
Melakukan konseling dan psikoterapi akan sangat membantu pada pasien
dengan gangguan psikiatri (depresi, obsesi, konvulsi) maupun penderita
dengan gangguan tidur kronik. Dengan psikoterapi akan dapat membantu
mengatasi masalah-masalah gangguan tidur yang dihadapi oleh penderita
tanpa penggunaan obat hipnotik.

Tidur sehat yaitu membiasakan diri tidur dan bangun secara regular,
menghindari tidur pada siang hari, tidak mengkonsumsi kafeine pada
malam hari atau menggunakan obat-obat stimulant seperti dekongestan,
menghindari makan pada saat mau tidur, tidak tidur dengan perut kosong,
segera bangun dari tidur bila tidak dapat tidur (15-30 menit), menghindari
rasa cemas atau frustasi, membuat suasana ruang tidur yang sejuk, sepi,
aman dan nyaman serta melakukan latihan atau olahraga (senam) yang
ringan secara teratur(Japardi 2012).

22
25

C. Konsep Tidur
1. Pengertian Tidur
Tidur adalah keadaan pikiran dan tubuh yang berbeda dimana tubuh
beristirahat secara tenang, aktivitas metabolisme tubuh menurut, dan
pikiran menjadi tidak sadar terhadap dunia luar (Chopra, 2013). Tidur
merupakan suatu hal yang terjadi secara alami, periodik dan dapat
mengistirahatkan tubuh dan pikiran (Lueckenotte, 2011). Tidur juga
memberikan waktu bagi otak untuk mengatur dan menyimpan informasi
yang didapatkan seharian serta memberi tubuh kesempatan untuk
memulihkan dan memperbaiki dirinya (Barnett, 2010).

Tidur merupakan suatu keadaan yang berulang – ulang, terjadinya


perubahan status kesadaran selama periode tertentu (Potter & Perry, 2009).
Menurut Tarwoto (2009) tidur adalah suatu keadaan yang relatif tanpa
sadar yang penuh ketenangan, tanpa kegiatan, memiliki urutan siklus dan
masing – masing menyatakan fase kegiatan otak dan badaniah yang
berbeda. Sedangkan Guyton (2010) mendefinisikan tidur merupakan suatu
keadaan bawah sadar dan seseorang dapat terbangun jika diberikan
ransangan sensorik

2. Jenis-jenis Tidur.
Pada dasarnya, jenis-jenis tidur dapat di bagi menjadi dua macam, yaitu
tidur REM (Rapid Eye Movement) yang sering disebut dengan tidur
dengan gerak mata cepat dan tidur NREM (Non Rapid Eye Movement)
atau tidur dengan gerak mata lambat (Kozier, 2012).

d. Tipe Rapid Eye Movement (REM)


Tidur REM (Rapid Eye Movement) adalah tidur dengan gerakan mata
cepat. Merupakan tidur dalam kondisi aktif atau tidur paradoksial yang
biasanya ditandai dengan mimpi yang bermacam-macam, otot-otot
kendor, kecepatan jantung dan pernafasan tidak teratur, biasanya lebih
cepat, perubahan tekanan darah, gerakan otot tidak teratur, gerakan

23
26

mata cepat, pembebasan steroid, sekresi lambung meningkat, dan ereksi


penis pada pria (Priharjo, 2013).

b. Tipe Non Rapid Eye Movement (NREM)


Tidur NREM (Non Rapid Eye Movement) merupakan tidur yang
nyaman dan biasa disebut tidur dengan gerakan mata lambat. Tanda-
tanda tidur NREM adalah mimpi berkurang, keadaan istirahat, tekanan
darah turun, kecepatan pernafasan turun, metabolisme turun, dan
gerakan mata lambat.

Menurut Japardi (2012), fase awal tidur didahului oleh fase NREM
yang terdiri dari 4 stadium, lalu diikuti oleh fase REM. Keadaan tidur
normal antara fase NREM dan REM terjadi secara bergantian antara 4-
7 kali siklus semalam. Bayi baru lahir total tidur 16-20 jam/hari, anak-
anak 10-12 jam/hari, kemudian menurun 9-10 jam/hari pada umur
diatas 10 tahun, kira-kira 7-7,5 jam/hari pada orang dewasa dan 6 jam
pada lansia.

Menurut Potter dan Perry (2005) ada empat Tipe- tipe NREM dalam
stadium yaitu:
1) Tahap NREM 1
Merupakan tahap transisi ketika seseorang beralih dari sadar menjadi
tidur. Tahap NREM 1 adalah tahapan yang paling dangkal dari tidur,
berakhir dalam beberapa menit (Potter dan Perry, 2005). Pada tahap
ini ditandai dengan seseorang merasa rileks, otot menjadi lemas,
kelopak mata menutup mata, kedua bola mata bergerak ke kiri dan
ke kanan, kecepatan jantung pernapasan menurun secara jelas, pada
EEG terlihat penurunan voltase gelombang alfa, dapat dibangunkan
dengan mudah oleh stimulus sensori seperti suara (Asmadi, 2008),
merespon terhadap cahaya, bila terbangun terasa sedang bermimpi
(Tarwoto dan Wartonah, 2010).

24
27

2) Tahap NREM 2
Merupakan tahap tidur ringan dan proses tubuh terus menurun.
Tahap ini ditandai dengan kedua bola mata berhenti bergerak, suhu
tubuh menurun, tonus otot perlahan – lahan berkurang, kecepatan
jantung dan pernapasan turun dengan jelas. Pada EEG timbul
gelombang beta yang berfrekuensi 14–18 siklus/detik. Gelombang
ini disebut dengan gelombang tidur, berlangsung 10 – 15 menit
(Asmadi, 2010).
3) Tahap NREM 3
Merupakan tahap tidur yang dalam, orang yang tidur sulit
dibangunkan dan jarang bergerak, otot – otot dalam keadaan santai
penuh, tanda – tanda vital menurun, tetapi tetap teratur, tahap
berakhir 15 – 30 menit (Potter dan Perry, 2005), kecepatan jantung,
dan proses tubuh berlanjut mengalami penurunan akibat dominasi
sitem saraf parasimpatis. Pada EEG memperlihatkan perubahan
gelombang beta menjadi 1-2 siklus/detik (Asmadi, 2010).

4) Tahap NREM 4
Merupakan tahap tidur terdalam, sangat sulit membangunkan orang
yang tidur, tanda – tanda vital menurun secara bermakna
dibandingkan selama terjaga, tahap berakhir kurang lebih 15 – 30
menit, tidur sambil berjalan, enuresis dapat terjadi (Potter dan Perry,
2005), pada EEG tampak gelombang delta yang lambat dengan
frekuensi 1-2 siklus/detik, denyut jantung dan pernapasan menurun
20-30 %. Selan itu, tahap empat juga dapat memulihkan keadaan
tubuh kembali (Asmadi, 2010).

3. Tujuan Tidur.
Menurut Deepak Chopra (2013), ada beberapa tujuan tidur yaitu :
a. Membuat tubuh agar bisa memperbaiki keadaannya dan membuat
dirinya muda kembali.
b. Membuat tubuh memulikan dirinya kembali dari kelelahan dan stress.

25
28

c. Meningkatkan mekanisme perbaikan tubuh sendiri serta mekanisme


homeostatis atau keseimbangan.

4. Aspek-Aspek Tidur
Menurut Nashori (2005, dalam Maas2012), aspek-aspek kualitas tidur
dirumuskan berdasarkan pendapat ahli-ahli psikologi moderen dan
mempercayai bahwa tidur lebih awal dan bangun lebih awal adalah cara
tidur yang berkualitas. Sementara itu ahli-ahli psikologi moderen
berpandangan bahwa tidur yang baik ditandai dengan :
a. Nyenyak selama tidur.
Sebenarnya orang tidur melalui beberapa fase: tidak nyenyak, nyenyak,
hingga tidak nyenyak dalam tidur. Berkaitan dengan kenyenyakan ini,
para ahli menggambarkan tahap tidur menjadi enam tahap (Nashori,
2005, dalam Maas, 2012). Seseorang yang nyenyak tidur tidak
mengalami gangguan internal maupun eksternal yang menjadikan
tidurnya tidak nyenyak. Termasuk gangguan internal adalah mudah
terbangun karena ingin kencing, suhu tubuh yang panas, dan
sebagainya. Termasuk gangguan eksternal adalah suara gaduh (seperti
ketukan pintu, suara mobil, adanya pukulan di tembok, dan
sebagainya).

b. Waktu tidur yang cukup (minimal enam jam).


Bila seseorang dapat tidur dalam waktu yang cukup, maka ia akan siap
melakukan aktivitas-aktivitas yang harus dikerjakannya saat ia tersadar.
Tentang waktu tidur yang cukup, diungkapkan oleh Nashori (2005,
dalam Maas, 2012), bahwa setiap orang mempunyai rekening utang
tidur. Setiap orang perlu menyimpan cukup tidur dalam rekening
tersebut agar dapat menjaga kondisi homeostatis tidur tetap stabil, suatu
hal yang akan membuatnya awas sepanjang siang. Tidur yang terjadi
dalam diri seseorang adalah tabungan atau asset, setiap jam terjaga
adalah penarikan tabungan, atau utang.

26
29

Karena setiap jam yang dilewatkan seseorang untuk terjaga menambah


utang tidurnya, maka ia harus terus menerus menabung tidur dalam
rekeningnya. Sebagian besar orang perlu menabung sekitar delapan jam
dalam rekeningnya untuk menghapus utang tidur yang diakibatkan oleh
enam belas jam terjaga terus-menerus. “Kita perlu memperoleh
sejumlah tidur setiap malam sehingga tidak membuat atau tetap
mempunyai utang tidur,” ungkap William Dement dari Universitas
Stanford (Nashori, 2005, dalam Maas, 2012). Jika tidak, orang akan
utang dan mengantuk setiap hari.

c. Tidur lebih awal dan bangun lebih awal.


Keteraturan tidur dan terjaga adalah sesuatu yang sangat penting,
namun yang tak kalah penting dalamketeraturan itu adalah perlunya
seseorang tidur lebih awal dan dan bangun lebih awal. Diungkapkan
oleh Nashori (2005, dalam Maas, 2012), bahwa adalah penting bagi
setiap orang untuk menjaga jam biologisnya agar tetap selaras
sepenuhnya dengan rutinitas hariannya. Dengan demikian, jam-jam
yang telah dilaluinya dengan tidur akan sesuai dengan fase mengantuk
irama sirkadiannya, dan jam-jam yang telah dilewatkan di luar kamar
tidur akan sesuai dengan fase terjaga irama sirkadiannya. Satu-satunya
cara untuk melakukan hal di atas adalah dengan menjaga jadwal tidur
yang teratur, mulai dari tidur pada jam yang sama setiap malam dan
bangun pada waktu yang sama setiap pagi.

d. Merasa segar ketika terbangun.


Saat terbangun dari tidur yang cukup semestinya seseorang merasakan
rasa segar atau bugar saat terbangun. Dengan kebugarannya itu, ia siap
melakukan berbagai aktivitas sepanjang hari secara efektif dan efisien
(Nashori, 2005, dalam Maas, 2012). Namun, tidak semua orang yang
tidur merasa bugar saat terbangun. Banyak orang yang merasakan
badannya tidak bugar, persendiannya yang ngilu-ngilu saat terbangun,
matanya ingin tertutup saja, dan sebagainya.

27
30

e. Tidak bermimpi buruk.


Dalam bahasa Arab (Nashori dalam Mubarok, 2013), terdapat istilah
adghats ahlam, yang artinya mimpi-mimpi kalut atau mimpi buruk. Hal
ini dapat ditemukan dalam Surat Yusuf 12:44 dan 21:5. Pada QS al-
Anbiya’,21:5 disebutkan kaum musyrikini menilai ayat-ayat al-Qur’an
tak lebih dari produk mimpi kalut. Mimpi kalut atau mimpi buruk yang
dialami seseorang berkaitan dengan berbagai pengalaman buruk yang
dialaminya saat terjaga.

Menurut Chopra (2013), ada empat aspek tidur yang baik, tujuan sulit
yang banyak diperjuangkan oleh orang-orang yang dapat membantu kita
memahami fenomena ini, yaitu:
a. Kualitas tidur yang baik sepertinya terjadi dengan sendirinya. Anda
tidak perlu menghadapinya dengan tidak bisa beristirahat atau dengan
kecemasan, dan anda tidak perlu meminum obat apa pun untuk
mengalaminya
b. Anda jarang terbangun di tengah malam dari tidur yang nyenyak, jika
ini terjadi pada anda, segeralah kembali tidur tanpa
mengkhawatirkannya.
c. Secara alami anda bangun dipagi hari. Anda tidak perlu merassa membe
dan canggung, tidak juga merasa cemas dan terlalu waspada.
d. Akhirnya, tidur yang baik memberikan anda sebuah perasaan vitalitas
yang anda rasakan sepanjang hari. Anda tidak merasa bahwa anda
kehilangan istirahat di malam sebelumnya, dan jangan merasa cemas
tentang apa yang akan terjadi di waktu selanjutnya ketika anda
mencoba untuk tidur.

5. Kebutuhan Tidur
Kebutuhan waktu tidur bagi setiap orang adalah berlainan, tergantung pada
kebiasaan yang dibawa selama perkembangannya menjelang dewasa,
aktivitas pekerjaan, usia, kondisi kesehatan dan lain sebagainya.
Kebutuhan tidur pada dewasa 6-9 jam untuk menjaga kesehatan, usia

28
31

lanjut 5-8 jam untuk menjaga kondisi fisik karena usia yang semakin senja
mengakibatkan sebagian anggota tubuh tidak dapat berfungsi optimal,
maka untuk mencegah adanya penurunan kesehatan dibutuhkan energi
yang cukup dengan pola tidur yang sesuai (Wicaksono, 2009dalam
Lumbantobing, 2013).

6. Tanda-Tanda Kekurangan Tidur


Menurut Dhimas Wahyu Wicaksonodalam Potter dan Perry (2009), waktu
tidur yang kurang dari kebutuhan dapat mempengaruhi sintesis protein
yang berperan dalam memperbaiki sel–sel yang rusak menjadi menurun.
Kelelahan, meningkatnya stres, kecemasan serta kurangnya konsentrasi
dalam aktivitas sehari–hari adalah akibat yang sering terjadi apabila waktu
tidur tidak tercukupi. kondisi tidur seseorang yang dapat digambarkan
dengan lama waktu tidur dan keluhan-keluhan yang dirasakan saat tidur
maupun saat bangun tidur seperti merasa letih, pusing, badan pegal-pegal
atau mengantuk berlebihan pada siang hari (Potter dan Perry, 2005).

7. Pertambahan usia dengan perubahan tidur pada lansia


Seiring berjalannya usia, lansia memiliki perubahan dalam tidur. Pada
lansia episode tidur REM cenderung memendek dan terdapat penurunan
yang progresif terhadap NREM 3 dan NREM 4. Beberapa lansia hampir
tidak memiliki tahap 4 atau tidur yang dalam (Potter dan Perry, 2009).
Selain itu, waktu tidur lansia sekitar 6 jam sehari dan memiliki 20 – 25 %
tidur REM (Asmadi, 2008). Perubahan ini dikatakan tidak normal jika
lansia memiliki masalah selama terjadinya perubahan tidur tersebut
(Fichten et al, 1995 dalam Lueckenotte, 2010). Menurut Bundlie (2009)
Terdapat beberapa perubahan yang terjadi pada lansia berkaitan dengan
aspek tidurnya, seperti peningkatan masa laten (sleep latency) dari tidur,
penurunan efisiensi tidur, peningkatan bangun pada malam hari,
peningkatan bangun terlalu dini, dan rasa mengantuk pada siang hari
(Lueckenotte, 2010).

29
32

Pemenuhan kebutuhan tidur berkaitan erat dengan kualitas tidur, seperti


lamanya tidur, waktu yang diperlukan untuk bisa tertidur, frekuensi
terbangun, dan beberapa aspek subjektif lainnya seperti kedalaman
(nyenyak waktu tidur) dan kepuasan tidur (Daniel et al, 1998 dalam
Sagala, 2011). Selain itu, seseorang akan mendapatkan tidur yang baik jika
individu tersebut mampu untuk mempersiapkan pola tidurnya pada malam
hari, seperti rasa nyenyak waktu tidur, kemampuan untuk memulai tidur,
serta kemudahan untuk tidur tanpa adanya bantuan medis. Hal ini bisa
meningkatkan perasaan tenang di pagi hari, tidak mengeluh adanya
gangguan tidur (Wavy, 2008 dalam Sagala, 2011).

Pemenuhan kebutuhan tidur setiap orang berbeda-beda. Hal tersebut


terlihat dari kualitas tidurnya. Menurut Hidayat (2010), kualitas tidur
merupakan kepuasan seseorang terhadap tidurnya sehingga tidak
memperlihatkan perasaan gelisah, lesu ataupun mengantuk. Sementara itu,
kebutuhannya kualitas tidur ada yang terpenuhi dengan baik. Ada yang
mengalami gangguan. Tidur yang baik adalah sesuatu yang penting untuk
mencapai perasaan yang sejahtera dan sehat. Tidur juga didefinisikan
sebagai suatu perasaan subjektif dan dihubungkan dengan perasaan
seseorang ketika ia terbangun. Tidur malam yang baik digambarkan
dengan keadaan yang kembali fresh, dan siap untuk menjalankan aktifitas
keesokan harinya. Sementara itu, perasaan kelelahan, keletihan, dan
kurang waspada pada siang hari merupakan gambaran tidur malam yang
buruk sehingga menjadikan seseorang kurang aktif dan produktif
(Lueckenotte, 2010).

Sleep Latency merupakan waktu yang dibutuhkan seseorang untuk tertidur.


Seiring dengan peningkatan usia, lansia cenderung mengalami penurunan
waktu untuk memulai tidur. Lansia sering melaporkan bahwa mereka
membutuhkan waktu yang lebih lama untuk tertidur pada malam hari. Jika
terbangun pada malam harinya, mereka akan membutuhkan waktu lagi
untuk tertidur kembali. Hal ini menyebabkan efisiensi tidurnya mengalami

30
33

penurunan. Efisiensi tidur merupakan persentase waktu yang digunakan


untuk tidur malam. Pada dewasa muda, efisiensi tidurnya mencapai 80% -
90 %, tetapi persentase ini turun hingga 60% - 70% pada saat lansia
(Carpenito, 2011).

Terbangun pada malam hari juga berkontribusi dalam penurunan jumlah


jam tidur. Frekuensinya meningkat seiring dengan bertambahnya usia.
Gangguan ini akan berpengaruh pada keadekuatan dari tidur tersebut. jika
terdapat kesulitan untuk jatuh tertidur maka terjadi penurunan jumlah jam
tidur. Tetapi, beberapa lansia melaporkan terjadinya periode terjaga diikuti
dengan terbagun pada malam hari. Beberapa alasan yang dikemukakan
lansia adalah ingin ke kamar mandi, dispnea, nyeri dada, nyeri sendi,
batuk, dan kram pada kaki (Lueckenotte, 2010). Keadaan bangun yang
terlalu pagi dan kesulitan untuk tidur kembali dihubungkan dengan
perubahan ritme sirkadian.

Rasa mengantuk di siang hari sering dilaporkan oleh lansia. Hal ini
disebabkan karena frekuensi terbangun pada malam hari juga meningkat
atau terjadinya gangguan tidur lainnya. Tetapi, pada beberapa lansia rasa
kantuk di siang hari kemungkinan karena efek samping dari medikasi
(Lueckenotte, 2010). Miller (1995, dalam Carpenito, 2010) melaporkan
lansia menghabiskan banyak waktu dalam tahap mengantuk dan sangat
sedikit waktu dalam tahap mimpi. Walaupun beberapa perubahan pada
saat tidur dipengaruhi oleh bertambahnya usia, namun bisa juga
dipengaruhi oleh penyakit kronis dan masalah kesehatan lainnya
(Lueckenotte, 2010).

8. Faktor – faktor yang mempengaruhi tidur pada Lansia Beberapa


faktor yang mempengaruhi tidur pada lansia antara lain :
a. Status Kesehatan.
Seseorang yang kondisi tubuhnya sehat menunjukkan ia dapat tidur
dengan nyenyak. Tetapi pada orang yang sakit maka kebutuhan istirahat

31
34

tidurnya tidak dapat dipenuhi dengan baik sehingga tidak dapat tidur
dengan nyenyak (Asmadi, 2010). Setiap penyakit yang menyebabkan
nyeri, ketidaknyamanan fisik, atau masalah suasana hati, seperti
kecemasan dapat menyebabkan masalah tidur. Seseorang dengan
masalah itu mempunyai masalah kesulitan tertidur atau tetap tertidur.
Berkemih pada malam hari akan mengganggu tidur dan siklus tidur.
Kondisi ini paling umum terjadi pada lansia. Setelah seseorang
berulang kali terbangun untuk berkemih, menyebabkan kembali untuk
tertidur lagi menjadi sulit (Potter dan Perry, 2009).

e. Lingkungan
Lingkungan fisik tempat seseorang tidur berpengaruh penting untuk
tertidur dan tetap tertidur (Potter dan Perry, 2009). Lingkungan dapat
meningkatkan dan menghalangi seseorang untuk tidur. Pada lingkungan
yang tenang, yang memungkinkan seseorang dapat tertidur dengan
nyenyak. Sebaliknya, lingkungan yang ribut, bising, dan gaduh akan
menghambat seseorang untuk tidur (Asmadi, 2010). Tingkat cahaya
dapat mempengaruhi untuk tidur. Lansia menyukai cahaya yang remang
selama tidur. Sementara itu, ruangan juga tidak terlalu hangat ataupun
terlalu dingin (Potter dan Perry, 2005)

f. Stress Psikologis
Cemas dan depresi akan menyebabkan gangguan pada frekuensi tidur.
Hal ini disebabkan karena pada kondisi cemas akan meningkatkan
noreepinefrin darah melalui sistem darah simpatis. Zat ini akan
mengurangi tahap IV NREM dan REM (Asmadi, 2010). Stress
menyebabkan seseorang menjadi tegang dan seringkali menjadi frustasi
apabila tidak tidur, sering terbangun selama siklus tidur. Stress yang
berlanjut menyebabkan keadaan tidur menjadi buruk. Seringkali lansia
mengalami masalah ini sehingga mengalami perlambatan untuk jatuh
tertidur, perasaan tidur yang kurang, dan terbangun cepat (Bliwise,
1993 dalam Potter dan Perry, 2009).

32
35

g. Gaya Hidup
Rutinitas harian seseorang mempengaruhi pola tidur. Beberapa rutinitas
yang dapat mengganggu pola tidur, yaitu kerja berat yang tidak
biasanya, terlibat dalam aktivitas sosial pada larut malam, dan
perubahan waktu makan malam (Potter dan Perry, 2009). Sementara
itu, pada lansia terdapat beberapa hal yang mempengaruhi tidur seperti
kehilangan pasangan hidup mengurangi kenyamanan untuk tidur secara
psikologis, lansia yang pensiun, pindah dari rumahnya ke tempat
anaknya atau berpindah ke panti, serta lansia yang memiliki perbedaan
kebiasaan untuk tertidur dengan teman sekamarnya di panti
(Lueckenotte, 2010).

e. Obat-obatan. Beberapa obat dapat mempengaruhi tidur dengan tiga


cara, yaitu obat-obatan yang menyebabkan tidur, menyebabkan kantuk
karena efek obat dan menyebabkan insomnia atau gangguan tidur
lainnya (Lueckenotte, 2010). Jenis obat yang mengganggu tidur adalah
amfetamin karena menurunkan tidur REM (Asmadi, 2010).

e. Latihan fisik dan kelelahan. seseorang dengan kelelahan menengah


(moderate) biasanya memperoleh tidur yang mengistirahatkan,
khususnya kelelahan karena dari hasil kerja yang menyenangkan.
Tetapi, kelelahan yang berlebihan yang dihasilkan dari kerja yang yang
meletihkan dan penuh stress membuat sulit untuk tidur.

D. Konsep Lansia
1. Pengertian Lansia
Lansia (masa dewasa tua) dimulai setelah pensiun, yaitu biasanya
antarausia 65 tahun dan 75 tahun (Potter, 2010).Sedangkan menurut
Undang-Undang No. 4 tahun 1965 pasal 1 dalamNugroho (2010),
merumuskan bahwa “Seseorang dapat dinyatakan sebagaiorang jompo
atau lanjut usia setelah yang bersangkutan mencapai umur 55tahun, tidak
mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri untukkeperluan

33
36

hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain”, tetapitelah


diperbaharui dan saat ini berlaku UU No. 13 tahun 1998 yaitu : pada
pasal1 ayat 2 yang berbunyi Lanjut usia adalah seseorang yang mencapai
usia 60tahun ke atas.

Batasan-Batasan Lansia dalam Nugroho (2010) yaitu :


a. WHO mengelompokkan lansia menjadi 4 kelompok yaitu meliputi :
1) Usia pertengahan (middle age), kelompok usia 45-59 tahun
2) Usia lanjut (elderly), antara usia 60-74 tahun
3) Usia lanjut tua (old), antara usia 75-90 tahun
4) Usia sangat tua (very old), di atas 90 tahun

b. Menurut Masdani (2008, dalam Nugroho (2010) lansiamerupakan


kelanjutan dari usia dewasa yang dibagi menjadi empat bagian, yaitu:
1) Fase Iuventus, antara usia 25-40 tahun
2) Fase Verilitas, antara usia 40-50 tahun
3) Fase Praseniun, antara usia 55-65 tahun
4) Fase Seniun, usia lebih dari 65 tahun.

2. Teori-Teori Proses Menua


Beberapa teori tentang proses menua dalam Potter (2010) yaitu :
a. Teori Biologis terdiri dari :
1) Teori Radikal Bebas
Radikal bebas adalah produk metabolisme seluler yang merupakan
bagianmolekul yang sangat reaktif. Molekul ini memiliki muatan
ekstraseluler kuatyang dapat menciptakan reaksi dengan protein,
mengubah bentuk dan sifatnya,molekul ini juga dapat bereaksi
dengan lipid yang berada dalam membran sel,mempengaruhi
permeabilitasnya atau dapat berikatan dengan organel sel. Teoriini
menyatakan bahwa penuaan disebabkan karena terjadinya
akumulasikerusakan ireversibel akibat senyawa pengoksidasi.
Dimana radikal bebas dapatterbentuk di alam, tidak stabilnya radikal

34
37

bebas mengakibatkan oksidasi bahan-bahan organik seperti


karbohidrat dan protein.

2) Teori Cross Link


Teori cross link dan jaringan ikat menyatakan bahwa molekul
kolagen danelastin, komponen jaringan ikat, membentuk senyawa
yang lama meningkatkanrigiditas sel, cross-linkage diperkirakan
akibat reaksi kimia yang menimbulkansenyawa antara molekul-
molekul yang normalnya terpisah atau secarasingkatnya sel-sel tua
atau usang, reaksi kimianya menyebabkan ikatan yangkuat
khususnya jaringan kolagen. Ikatan ini menyebabkan kurang elastis
danhilangnya fungsi. Contoh cross-linkage jaringan ikat terkait
usiameliputipenurunan kekuatan daya rentang dinding arteri,
tanggalnya gigi, tendon keringdan berserat.

3) Teori Imunologis (Lueckenotte, 1995)


Beberapa teori menyatakan bahwa penurunan atau perubahan
dalamkeefektifan sistem imun berperan dalam penuaan.Mekanisme
seluler tidak tak-teratur diperkirakan menyebabkan serangan pada
jaringan tubuh melaluiimunodefisiensi atau penurunan imun.Tubuh
kehilangan kemampuan untukmembedakan proteinnya sendiri
dengan protein asing, sistem imun menyerangdan menghancurkan
jaringannya sendiri pada kecepatan yang meningkat secarabertahap.

Dengan bertambahnya usia, kemampuan sistem imun


untukmenghancurkan bakteri, virus dan jamur melemah. Bahkan
sistem ini mungkintidak memulai serangannya sehingga sel mutasi
terbentuk beberapa kali.Semakin bertambahnya usia, fungsi sistem
imun kehilangan keefektifan,imunodefisiensi berhubungan dengan
penurunan fungsi.

4) Teori Wear and Tear (Stanley, 2010)


Teori ini mengusulkan bahwa akumulasi sampah metabolik atau zat
nutrisidapat merusak sintesis DNA, sehingga mendorong malfungsi
35
38

molekular dan akhirnya malfungsi organ tubuh. Pendukung teori ini


percaya bahwa tubuh akanmengalami kerusakan berdasarkan suatu
jadwal.

e) Riwayat Lingkungan (Stanley, 2006)


Menurut teori ini, faktor-faktor di dalam lingkungan seperti
karsinogendari industri, sinar matahari, trauma dan infeksi dapat
membawa perubahandalam proses penuaan. Walaupun faktor-faktor
ini diketahui dapat mempercepatpenuaan, dampak dari lingkungan
lebih merupakan dampak sekunder dan bukanmerupakan faktor
utama dalam penuaan.

b. Teori Psikososial
1) Teori Disengagement
Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia maka
seseorangakan berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari
kehidupan sosialnya ataumenarik diri dari pergaulan sekitarnya,
keadaan ini menyebabkan kehilanganganda seperti: kehilangan
peran, hambatan kontak sosial, berkurangnyakomitmen atau dengan
kata lain orang yang menua menarik diri dari peran yangbiasanya
dan terikat pada aktivitas yang lebih introspektif dan berfokus
padadiri sendiri.
a) Individu yang menua dan masyarakat secara bersama saling
menarik diri.
b) Disengagement adalah intrinsik dan tidak dapat dielakkan baik
secarabiologis dan psikologis.
c) Disengagement dianggap perlu untuk keberhasilan penuaan.
d) Disengagement bermanfaat baik bagi lansia dan masyarakat.

2)Teori Aktivitas
Teori aktivitas tidak menyetujui teori disengagement dan
menegaskan bahwa kelanjutan aktivitas dewasa tengah penting untuk
36
keberhasilan penuaan. Beberapa pendapat mengemukakan bahwa
penuaan terlalu kompleks untuk dikarakteristikan ke dalam cara
sederhana tersebut. Mereka beralasan bahwa teori ini
mengasumsikan lansia memiliki kebutuhan yang sama seperti
dewasatengah, selain itu teori ini tidak menunjukkan dampak
perubahan biopsikososial atau adanya kehilangan kemampuan yang
multiple pada lansia yang melanjutkan aktivitasnya. Teori ini
menyatakan pada lansia yang sukses adalahmereka yang aktif dan
ikut banyak dalam kegiatan sosial. Ukuran optimumdilanjutkan pada
cara hidup dari lansia, mempertahankan hubungan antarasistem
sosial dan individu agar tetap stabil dari usia pertengahan ke lanjut
usia.

3) Teori Kontinuitas
Teori kontinuitas atau teori perkembangan menyatakan bahwa
kepribadian tetap sama dan perilaku menjadi lebih mudah diprediksi
seiring penuaan. Kepribadian dan pola prilaku yang berkembang
sepanjang kehidupan menentukan derajat keterikatan dan aktivitas
pada masa lansia. Berdasarkanteori, kepribadian merupakan faktor
kritis dalam menentukan hubungan antaraaktivitas peran sebagai
teori yang menjanjikan karena teori ini menunjukkankompleksitas
proses penuaan dan kemampuan adaftif seseorang. Beberapa
pendapat bahwa teori ini terlalu sederhana dan tidak
mempertimbangkan berbagai faktor yang mempengaruhi respons
seseorang terhadap proses penuaan. Teori ini juga menyatakan
bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat
dipengaruhi oleh tipe kepribadian yangdimiliki.

3. Tugas Perkembangan Lansia

37
Seiring tahap kehidupan lain, lansia memiliki tugas perkembangan
khususdalam Perry dan Potter (2010) yaitu :
a. Menyesuaikan terhadap penurunan kekuatan fisik dan kesehatan

b. Menyesuaikan terhadap masa pensiun, penurunan atau penetapan


pendapatan
c. Menyesuaikan terhadap kematian pasangan
d. Menerima diri sendiri sebagai individu lansia
e. Mempertahankan kepuasan pengaturan hidup
f. Mendefinisikan ulang hubungan dengan anak yang sudah dewasa
g. Menemukan cara untuk mempertahankan kualitas hidup.

4. Lansia Dan Akhir Kehidupannya


Usia lanjut merupakan usia yang mendekati akhir siklus kehidupan
manusia. Usia tahap ini dimulai dari 60 tahun sampai akhir kehidupan.
Masa usia lanjut atau menjadi tua dialami oleh semua orang tanpa
terkecuali. Pada masa ini, seseorang akan mengalami kemunduran fisik,
mental, dan sosial. Kemunduran ini sejalan dengan waktu, sedikit

sedikit, sehingga tidak dapat lagi melakukan tugasnya sehari-hari.


Pada masa perkembangan lansia, tubuh mulai melemah dan fisik
mengalami penurunan secara alamiah. Perubahan-perubahan fisik tersebut
membuat lansia merasa minder atau kurang percaya diri jika harus
berinteraksi dengan lingkungannya. Selain itu, kemunduran kemampuan
mental merupakan bagian dari proses penuaan organism secara umum.
Kemunduran intelektualiatas juga cenderung mempengaruhi keterbatasan
memori tertentu. Pada perkembangan emosional, munculnya rasa tersisih,
tidak dibutuhkan lagi, tidak siap menerima kenyataan seperti penyakit
yang tidak kunjung sembuh, dan kematian pasangan adalah sebagian kecil
kejadian atau perasaan yang tidak enak yang harus dihadapi lanjut usia.
Orang berusia lanjut kurang memiliki kemampuan mengekspresikan
kehangatan dan perasaan secara spontan terhadap orang lain. Semakin
orang berusia lanjut menutup diri, semakin pasif pula perilaku emosional
mereka Kondisi ini membuat lansia memiliki status kelompok minoritas
(Hurlock, 2005).Secara umum, lansia dalam menjalani kehidupannya di
masa ini dapat disikapi dengan dua sikap. Pertama, ia menerima masa
tuanya

38
41

dengan wajar melalui kesadaran yang mendalam. Kedua, ia cenderung


menolak datangnya masa tua. Sikap kedua ini menggambarkan ia tidak
mau menerima realitas yang ada dan sebagian besar, lansia kurang siap
menghadapi dan menyikapi masa tua tersebut, sehingga mereka kurang
dapat menyesuaikan diri dan memecahkan masalah yang dihadapi.
Dibutuhkan kerjasama yang baik antara lansia, keluarga, family
caregivers, professional yang menangani agar mereka dapat melewati
masa usia lanjutnya dengan bahagia.

E. Kerangka Konsep

Variabel Independen Variabel Dependen

Terapi Relaksasi
Kualitas Tidur
Otot Progresif
Pada Lansia

F. Hipotesa Penelitian

Ha : Ada pengaruh terapi relaksasi otot progresif terhadap kualitas tidur pada
lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Wilayah Binjai-Medan
Tahun 2016.

39
BAB IV
ANALISA SWOT

A. Analisis Situasi
Penerapan pengaruh relaksasi otot progesif terhadap pola tidur pada
lansia di dusun daleman desa poreh kecamatan lenteng
Adapun pendekatan analisis situasi pada program inovasi ini menggunakan
analisis SWOT (Strength, Weakness, Oppurtunities, Threats) sebagai
berikut:
1. Strength (Kekuatan)
Kekuatan dalam program inovasi yang akan dilaksanakan , antara lain:
Metode untuk mengetahui tancangan one group pre test and post test,
Populasi penelitian ini yaitu lansia yang tinggal di Dusun Dheleman Desa
Poreh Kecamatan Lenteng dengan jumlah sebanyak 103 lansia.Sampel
penelitian yaitu lansia di Dusun Dheleman Desa Poreh Kecamatan
Lenteng melalui pendekatan kriteria inklusi dan eksklusi yaitu 30 lansia
berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi Metode ini tidak memerlukan
biaya
2. Weakness (Kelemahan)
Lansia yang menjadi responden peneliti sebagian besar mengalami
kesulitan memuali tidur, hal itu disebabkan karena kebiasaan tidur di siang
hari sehingga mengakibatkan
kesulitan mengawali tiduryang terbangun ditengah malam
3. Oppurtunities (Kesempatan)
a) Menambah ilmu bagi perawat Menambah keterampilan Pengetahuan
pengaruh relaksasi otot progesif terhadap pola tidur pada lansia
di dusun daleman desa poreh kecamatan lenteng

40
4. Threats (Ancaman)

Sebagian besar lansia mengeluh lama tidur yang pendek, yaitu kuranga dari 5
jam. Setelah diberikan resslaksasi otot progresif lansia mengatakan lama
tidurnya menjadi lebih panjang sehingga ketika bangun dari tidur menjadi
lebih rileks dan badan menjadi segar kemabali. Oleh karena itu, relaksasi otot
progresif sangat berpengaruh dalam meningkatkan pola tidur pada lansia.

41
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan terdapat peningkatan
yang signifikan terhadap kualitas tidur lansia sesudah diberikan
relaksasi otot progresif dibandingkan dengan sebelum diberikan
relaksasi otot progresif. Teknik pernapasan tersebut, mampu memberikan
pijatan pada jantung yang menguntungkan akibat naik turunnya diafragma,
membuka sumbatan-sumbatan dan memperlancar aliran darah ke jantung
serta meningkatkan alirandarah ke seluruh tubuh. Aliran darah yang
meningkat juga dapat meningkatkannutrien dan oksigen. Peningkatan oksigen
di dalam otak akan merangsangpeningkatan sekresi serotonin sehingga
membuat tubuh menjadi tenang dan mudah untuk tertidur (Erliana, 2012).

B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat diberikan saran kepada berbagai pihak
antara lain :
1. Bagi Penelitian Lain / Bidang Keperawatan
Diharapkan kepada peneliti selanjutnya agar menambahkan beberapa inovasi
terbaru dalam teknik relaksasi otot progresif dan melengkapi kekurangan -
kekurangan dalam penelitian ini. Dan dalam bidang keperawatan dapat
menggunakan teknik relaksasi otot progresif menjadi intervensi mandiri untuk
mengatasi gangguan tidur pada lansia.

2. Bagi Kader
Dengan diketahuinya bahwa teknik relaksasi otot progresif efektif dalam
meningkatkan kualitas tidur maka diharapkan bagi kader untuk dapat

42
memprogramkan/menggunakan teknik relaksasi otot progresif ini dalam
mengatasi masalah-masalah terkait gangguan tidur khususnya bagi lansia.

3. Bagi Lansia
Diharapkan bagi lansia, untuk menggunakan teknik relaksasi otot progresif ini
dalam mengatasi masalah gangguang kesulitan tidur serta meningkatkan
kualitas tidur.

43
44
DAFTAR PUSTAKA

Akmal, S.A (2012). Diagnosis Dan Penatalaksanaan Insomnia Pada Lanjut


Usia. Dasar Manusia: Aplikasi Konsep DanProses Keperawatan. Jakarta
: Salemba Medika

Asmadi. 2008. Teknik Prosedural Keperawatan: Konsep Dan


Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. Jakarta : Salemba Medika

Efendi, F., Makhfudi. (2009). Keperawatan Kesehatan Komunita


Teori Dan Praktik Dalam Keperawatan. Jakarta: Selemba
Medika

Fitrisyia R (2012). Relaksasi Otot Progresif Dengan Pemenuhan


Kebutuhan Tidur Lansia.

Maryam, R. Siti dkk (2008). Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya.


Jakarta : Selemba Medika

Muhtar & Haris, A. (2010). Pengaruh Relaksasi Otot Progresif Terhadap


Pemenuhan Kebutuhan Istirahat Tidur Klien Di Ruangan VIP-B RSUD Bima.

Nugroho. W. (2008). Keperawatan Gerontik dan Geriatri. (Edisi 3) Jakarta :


EGC.

Nursalam (2013). Metodologi Penelitian. Jakarta : Selemba Medika

Pereira, S dkk (2014). Hubungan Pola Tidur Dengan Kualitas Hidup Orang
Lanjut Usia Di Griya Usia Lanjut St. Yosef Surabaya.

45
Potter, P.A, Perry (2005). Buku ajar Fundamental Keperawatan: Konsep,
Proses, dan Praktik. Edisi 4. Volume 2. Alih Bahasa Renata Komalasari, dkk.
Jakarta : EGC

Prayitno (2002). Gangguan Pola Tidur Pada Kelompok Usia Lanjut Dan
Penatalaksanaannya.

Sriyono. (2015). Pengaruh Latihan Relaksasi Progresif Terhadap


Penurunan Insomnia Klien Di Ruang Sena Rumah Sakit Jiwa Daerah
Surakarta.

Notoatmodjo, S. (2007). Pendidikan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Austaryani.PN. dan Widodo.A (2012). Pengaruh terapi relaksasi otot progresif terhadap
perubahan insomnia pada lansia di posyandu lansia desa Gonilan, Kartasura.

Agustin. (2015). Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas tidur pada lansia.

Asmadi. (2008). Tipe-tpe NREM (Non Rapid Eye Movement).

Ana. (2012). Pengaruh latihan relaksas otot progresif terhadap kualitas tidur.

46