Anda di halaman 1dari 28

PERAWATAN POPULASI RENTAN PADA IBU HAMIL, ANAK, DAN

PENYAKIT KRONIK

TUGAS

Di susun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Bencana yang di


ampuh oleh Ns. Zulkifli Pomalango, S.Kep, M.Kep

OLEH

KELOMPOK 5 KELAS B

1. APRIS DJAILANI (841416044)


2. NUR AINI HIOLA (841416012)
3. SALMA DUKALANG (841416015)
4. NAZLI HASNI (841416018)
5. LUSIANA LASOMA (841416050)
6. MEYSIN ADAM (841416056)
7. NURSAFITRA JAMAL (841416104)
8. ADELIA DULANIMO (841416109)
9. MIRZA APRILIANI PAKAYA (841416131)

UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO

FAKULTAS OLAHRAGA DAN KESEHATAN

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat
dan karunianya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ”Perawatan
Populasi Rentan pada Ibu Hamil, Anak dan Penyakit Kronis”.
Kami sangat berharap makalah ini dapat bermanfaat dalam rangka
menambah pengetahuan juga wawasan menyangkut Perawatan Populasi Rentan
pada Ibu Hamil, Anak dan Penyakit Kronis.
Kami pun menyadari bahwa di dalam makalah ini masih terdapat banyak
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami mengharapkan
adanya kritik dan saran demi perbaikan makalah yang akan kami buat di masa
yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang
membangun.
Mudah-mudahan makalah sederhana ini dapat dipahami oleh semua orang
khususnya bagi para pembaca. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya jika
terdapat kata-kata yang kurang berkenan.

Gorontalo, 24 oktober 2019

Kelompok 5
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................i.

DAFTAR
ISI………………………………………………………………………………....ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang………………………………………………………………...1

1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………..............2

1.3 Tujuan Masalah………………………………………………………...……...2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Perawatan Populasi Rentan pada Ibu Hamil……………………………….…7

2.2 Perawatan Populasi Rentan pada Anak-anak………………………………..11

2.3 Perawatan Populasi Rntan pada Penyakit Kronis……………………..……..19

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan…………………………………………………………………..23

3.2 Saran……………………………………………………………………........24

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………….25
BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Berbagai bencana telah menimbulkan korban dalam jumlah yang
besar. Banyak korban yang selamat menderita sakit dan cacat. Rumah, tempat
kerja, ternak, dan peralatan menjadi rusak atau hancur. Korban juga
mengalami dampak psikologis akibat bencana, misalnya - ketakutan,
kecemasan akut, perasaan mati rasa secara emosional, dan kesedihan yang
mendalam. Bagi sebagian orang, dampak ini memudar dengan berjalannya
waktu. Tapi untuk banyak orang lain, bencana memberikan dampak psikologis
jangka panjang, baik yang terlihat jelas misalnya depresi , psikosomatis
(keluhan fisik yang diakibatkan oleh masalah psikis) ataupun yang tidak
langsung : konflik, hingga perceraian.
Beberapa gejala gangguan psikologis merupakan respons langsung
terhadap kejadian traumatik dari bencana. Namun gejala-gejala yang lain juga
akan menyusul, ini adalah dampak tidak langsung dan bersifat jangka panjang
yang dapat mengancam berbagai golongan terutama kelompok yang rentan
yaitu anak-anak, remaja, wanita dan lansia.
Dalam banyak kasus, jika tidak ada intervensi yang dirancang dengan
baik, banyak korban bencana akan mengalami depresi parah, gangguan
kecemasan, gangguan stress pasca-trauma, dan gangguan emosi lainnya.
Bahkan lebih dari dampak fisik dari bencana, dampak psikologis dapat
menyebabkan penderitaan lebih panjang, mereka akan kehilangan semangat
hidup, kemampuan social dan merusak nilai-nilai luhur yang mereka miliki.
Menurut Departeman Hukum dan Hak Asasi Manusia, kelompok
rentan adalah semua orang yang menghadapi hambatan atau keterbatasan
dalam menikmati standar kehidupan yang layak bagi kemanusiaan dan berlaku
umum bagi suatu masyarakat yang berperadaban. Jadi kelompok rentan dapat
didefinisikan sebagai kelompok yang harus mendapatkan perlindungan dari
pemerintah karena kondisi sosial yang sedang mereka hadapi. Konteks
kerentanan merujuk kepada situasi rentan yang setiap saat dapat
mempengaruhi atau membawa perubahan besar dalam penghidupan
masyarakat. Setiap orang yang termasuk kelompok masyarakat yang rentan
berhak memperoleh perlakuan dan perlindungan lebih berkenaan dengan
kekhususannya. Kelompok masyarakat yang rentan adalah orang lanjut usia,
anak-anak, perempuan, dan penyandang cacat. Dalam konteks ini, kita akan
membicarakan lebih rinci mengenai ”Perawatan Populasi Rentan pada Ibu
Hamil, Anak-Anak dan Penyakit Kronis.”

2.1 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah
sebagai berikut:
1. Bagaimana perawatan populasi rentan pada ibu hamil?
2. Bagaimana perawatan populasi rentan pada anak-anak?
3. Bagaimana perawatan populasi rentan pada penyakit kronis ?

3.1 Tujuan Masalah


Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka dapat diketahui tujuan
dari pembuatan makalah ini adalah :
1. Untuk dapat mengetahui perawatan populasi rentan pada ibu hamil
2. Untuk dapat mengetahui perawatan populasi rentan pada anak-anak
3. Untuk dapat mengetahui perawatan populasi rentan pada penyakit kronis
BAB II

PEMBAHASAN

Organisasi Kesehatan dunia (WHO,2016) menyebutkan kelompok rentan


saat terjadi bencana antara lain anak-anak, perempuan hamil, lanjut usia, orang
dengan malnutrisi dan orang yang memiliki penyakit ataupun gangguan imunitas.
WHO memperkirakan pada tahun 2020, penyakit kronis akan mencapai hampir
tigaperempat dari semua kematian di seluruh dunia. 71% kematian karena
penyakit jantung iskemik (IHD), 75% dari kematian akibat stroke, dan 70% dari
kematian akibat diabetes akan terjadi di negara berkembang. Jumlah penderita
diabetes di negara berkembang akan meningkat lebih dari 2,5 kali lipat, dari 84
juta pada tahun 1995 menjadi 228 juta pada tahun 2025. Kerentanan kelompok
dengan penyakit kronis dalam menghadapi bencana disebabkan oleh gangguan
pada kondisi kesehatan dan terputusnya perawatan kesehatan rutin dengan
fasilitas pelayanan kesehatan akibat terjadinya bencana sehingga membuat
kelompok dengan penyakit kronis menghadapi resiko paparan penyakit menular,
gangguan pernapasan, gangguan integritas kulit, eksaserbasi dan kematian yang
lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok biasa pada umumnya saat
menghadapi bencana (Cherry & Trainer, 2008; Greenough et al, 2008; Pate, 2008;
Smith & Macdonald, 2006 yang disitasi oleh Owens & Martsolf, 2014; Tomio &
Sato, 2014).

PENANGGULANGAN MASALAH KESEHATAN DALAM KONDISI


BENCANA
Bencana alam merupakan kejadian luar biasa yang disebabkan oleh
peristiwa/faktor alam atau perilaku manusia yang menyebabkan kerugian besar
bagi manusia dan lingkungan dimana hal itu berada diluar kemampuan manusia
untuk dapat mengendalikannya. Mengingat bencana alam yang cukup beragam
dan semakin tinggi intensitasnya, Pemerintah Indonesia mengeluarkan Undang-
Undang (UU) No 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Dengan
lahimya UU tersebut, terjadi perubahan paradigma penanganan bencana di
Indonesia, yaitu penanganan bencana tidak lagi menekankan pada aspek tanggap
darurat, tetapi lebih menekankan pada keseluruhan manajemen penanggulangan
bencana mulai dari mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat sampai dengan
rehabilitasi. Berdasarkan UU No 24 tersebut, tahapan penyelenggaraan
penanggulangan bencana meliputi:
1. Prabencana, pada tahapan ini dilakukan kegiatan perencanaan
penanggulangan bencana, pengurangan risiko bencana, pencegahan,
pemaduan dalam perencanaan pembangunan, persyaratan analisis risiko
bencana, penegakan rencana tata ruang, pendidikan dan peletahihan serta
penentuan persyaratan standar teknis penanggulangan bencana
(kesiapsiagaan, peringatan dini dan mitigasi bencana).
2. Tanggap darurat, tahapan ini mencakup pengkajian terhadap lokasi,
kerusakan dan sumber daya, penentuan status keadan darurat,
penyelamatan dan evakuasi korban, pemenuhan kebutuhan dasar,
pelayanan psikososial dan kesehatan.
3. Paskabencana, tahapan ini mencakup kegiatan rehabilitasi (pemulihan
daerah bencana, prasarana dan sarana umum, bantuan perbaikan rumah,
sosial, psikologis, pelayanan kesehatan, keamanan dan ketertiban) dan
rekonstruksi (pembangunan, pembangkitan dan peningkatan sarana
prasarana, termasuk fungsi pelayanan kesehatan).
Penanggulangan masalah kesehatan merupakan kegiatan yang harus
segera diberikan baik saat terjadi dan paskabencana disertai pengungsian. Upaya
penanggulangan bencana perlu dilaksanakan dengan memperhatikan hak-hak
masyarakat, antara lain hak untuk mendapatkan bantuan pemenuhan kebutuhan
dasar, perlindungan sosial, pendidikan dan keterampilan dalam penyelenggaraan
penanggulangan bencana serta hak untuk berpartisipasi dalam pengambilan
keputusan. Sebagaimana tercantum dalam Pasal 53 UU No 24 tahun 2007,
pelayanan kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar yang harus dipenuhi
pada kondisi bencana, di samping kebutuhan-kebutuhan dasar lainnya:
1. Air bersih dan sanitasi,
2. Pangan,
3. Sandang,
4. Pelayanan psikososial, serta
5. Penampungan dan tempat hunian.
Penanggulangan masalah kesehatan dalam kondisi bencana ditujukan
untuk menjamin terselenggaranya pelayanan kesehatan bagi korban akibat
bencana dan pengungsi sesuai dengan standar minimal. Secara khusus, upaya ini
ditujukan untuk memastikan:
1. Terpenuhinya pelayanan kesehatan bagi korban bencana dan pengungsi
sesuai standar minimal
2. Terpenuhinya pemberantasan dan pencegahan penyakit menular bagi
korban bencana dan pengungsi sesuai standar minimal
3. Terpenuhinya kebutuhan pangan dan gizi bagi korban bencana dan
pengungsi sesuai standar minimal
4. Terpenuhinya kesehatan lingkungan bagi korban bencana dan pengungsi
sesuai standar minimal
5. Terpenuhinya kebutuhan papan dan sandang bagi korban bencana dan
pengungsi sesuai standar minimal.

Peran Puskesmas pada Tahap Prabencana, Saat Bencana dan Paskabencana


Prabencana Saat Bencana Pasca Bencana
1. Membuat peta Puskesmas di lokasi 1. Menyelenggarakan
geomedik bencana: pelayanan kesehatan
daerah rawan 1. Menuju lokasi dasar di tempat
bencana bencana dengan penampungan (pos
2. Membuat jalur membawa peralatan kesehatan lapangan)
evakuasi yang di perlukan 2. Memeriksa kualitas air
3. Mengadakan untuk melaksanakan bersih dan senitasi
penelitian triase dan lingkungan
4. Inventarisasi memberikan 3. Melaksanakan
sumber daya pertolongan survailans penyakit
sesuai dengan pertama menular dan gizi buruk
potensi bahaya 2. Melaporkan yang mungkin timbul
yang mungkin kejadian bencana 4. Segera melapor ke
terjadi kepada kepala dinas Dinkes kebupaten/kota
5. Menerima dan kesehatan bila terjadi KLB
menindaklanjuti (kadinkes) penyakit menular dan
informasi kabupaten/kota gizi buruk
peringatan dini 3. Melakukan 5. Memfasilitasi relawan,
(early warning penilaian cepat kader dan petugas
system) untuk masalah kesehatan pemerintah kecamatan
kesiapsiagaan awal (initial rapid dalam memberikan
bidang health assessment) komunkasi, informasi
kesehatan 4. Menyerahkan dan edukasi (KIE)
6. Membentuk tim tanggung jawab kepada masyarakat
kesehatan kepada kadinkes luas, bimbingan pada
lapangan yang kabupaten/kota bila kelompok serta
tergabung telah tiba di lokasi konseling pada
dalam satgas Puskesmas di sekitar lokasi individu yang
7. Mengadakan bencana: berpotensi mengalami
koordinasi lintas 1. Mengirimkan tenaga gangguan stres
sektor dan perbekalan paskatrauma
kesehatan serta 6. Merujuk penderita
ambulans/transporta yang tidak dapat di
si lain ke lokasi tangani dengan
bencana dan tempat konseling awal dan
penampungan membutuhkan
pengungsi konseling lanjut,
2. Membantu psikoterapi atau
perawatan dan penanggulangan lebih
evakuasi korban spesifik
serta pelayanan
kesehatan pengungsi
3.1 Perawatan Populasi Rentan pada Ibu Hamil
1. Pengertian Kelompok Rentan
Menurut UU No 24/2007, pasal 55, ayat 2 Kelompok rentan dalam
situasi bencana adalah individu atau kelompok yang terdampak lebih berat
diakibatkan adanya kekurangan dan kelemahan yang dimilikinya yang
pada saat bencana terjadi menjadi beresiko lebih besar, meliputi: bayi,
balita, dan anak-anak; ibu yang sedang mengandung/menyusui;
penyandang cacat (disabilitas) ; dan orang lanjut usia. Pada dasarnya
pengertian mengenai kelompok rentan tidak dijelaskan secara rinci. Hanya
saja dalam UU Nomor 39 Tahun 1999 pasal 5 ayat 3 dijelaskan bahwa
setiap orang yang termasuk kelompok masyarakat yang rentan berhak
memperoleh perlakuan dan perlindungan lebih berkenaan dengan
kekhususannya. Kelompok masyarakat yang rentan adalah orang lanjut
usia, anak-anak, fakir miskin, wanita hamil, dan penyandang cacat.
Sedangkan menurut Human Rights Reference yang dikutip oleh Iskandar
Husein disebutkan bahwa yang tergolong ke dalam Kelompok Rentan
adalah:
1) Refugees (pengungsi)
2) Internally Displaced Persons (IDPs) adalah orang-orang yang terlantar/
pengungsi
3) National Minorities (kelompok minoritas)
4) Migrant Workers (pekerja migrant)
5) Indigenous Peoples (orang pribumi/ penduduk asli dari tempat
pemukimannya)
6) Children (anak)
7) Women (Perempuan).
Menurut Departeman Hukum dan Hak Asasi Manusia, kelompok
rentan adalah semua orang yang menghadapi hambatan atau keterbatasan
dalam menikmati standar kehidupan yang layak bagi kemanusiaan dan
berlaku umum bagi suatu masyarakat yang berperadaban. Jadi kelompok
rentan dapat didefinisikan sebagai kelompok yang harus mendapatkan
perlindungan dari pemerintah karena kondisi sosial yang sedang mereka
hadapi.
Kamus Besar Bahasa Indonesia merumuskan pengertian rentan
sebagai : (1) mudah terkena penyakit dan, (2) peka, mudah merasa.
Kelompok yang lemah ini lazimnya tidak sanggup menolong diri sendiri,
sehingga memerlukan bantuan orang lain. Selain itu, kelompok rentan juga
diartikan sebagai kelompok yang mudah dipengaruhi. Pengertian kedua
merupakan konsekuensi logis dari pengertian yang pertama, karena
sebagai kelompok lemah sehingga mudah dipengaruhi.
2. Identifikasi Kelompok Beresiko
Terdapat individu atau kelompok-kelompok tertentu dalam
masyarakat yang lebih rentan terhadap efek lanjut dari kejadian bencana
yang memerlukan perhatian dan penanganan khusus untuk mencegah
kondisi yang lebih buruk pasca bencana. Kelompok-kelompok ini
diantaranya: anak-anak, perempuan, terutama ibu hamil dan menyusui,
lansia, individu-individu yang menderita penyakit kronis dan kecacatan.
Identifikasi dan pemetaan kelompok beresiko melalui pengumpulan
informasi dan data demografi akan mempermudah perencanaan tindakan
kesiap-siagaan dalam menghadapi kejadian bencana di masyarakat
(Morrow, 1999; Powers & Daily, 2010; World Health Organization
(WHO) & International Council of Nursing (ICN), 2009).
a. Perempuan
Diskriminasi terhadap perempuan dalam kondisi bencana telah
menjadi isu vital yang memerlukan perhatian dan penanganan khusus.
Oleh karena itu, intervensi-intervensi kemanusiaan dalam penanganan
bencana yang memperhatikan standar internasional perlindungan hak
asasi manusia perlu direncanakan dalam semua stase penanganan
bencana (Klynman, Kouppari, & Mukhier, 2007).
Studi kasus bencana alam yang dilakukan di Bangladesh mendapati
bahwa pola kematian akibat bencana dipengaruhi oleh relasi gender
yang ada, meski tidak terlalu konsisten. Pola ini menempatkan
perempuan, terlebihl agi yang hamil, menyusui, dan lansia lebih
berisiko karena keterbatasan mobilitas secara fisik dalam situasi darurat
(Enarson, 2000; Indriyani, 2014; Klynman et al, 2007).
Laporan PBB pada tahun 2001 yang berjudul "Women, Disaster
Reduction, and Sustainable Development" menyebutkan bahwa
perempuan menerima dampak bencana yang lebih berat. Dari 120 ribu
orang yang meninggal karena badai siklon di Bangladesh tahun 1991,
korban dari kaum perempuan menempati jumlah terbesar. Hal ini
disebabkan karena norma kultural membatasi akses mereka terhadap
peringatan bahaya dan akses ketempat perlindungan (Fatimah, 2009
dikutip dalam Indriyani, 2014).
3. Tindakan Yang Sesuai Untuk Kelompok Rentan
Untuk mengurangi dampak bencana pada individu dari kelompok-
kelompok rentan, petugas-petugas yang terlibat dalam perencanaan dan
penanganan bencana perlu (Morrow, 1999 & Daily, 2010);
1) Mempersiapkan peralatan-peralatan kesehatan sesuai dengan
kebutuhan kelompok-kelompok rentan tersebut, contohnya ventilisator
untuk anak, alat bantu untuki ndividu yang cacat, alat-alat bantuan
persalinan, dll.
2) Melakukan pemetaan kelompok-kelompok rentan.
3) Merencanakan intervensi-intervensi untuk mengatasi hambatan
informasi dan komunikasi.
4) Menyediakan transportasi dan rumah penampungan yang dapat
diakses.
5) Menyediakan pusat bencana yang dapat diakses.
Adapun tindakan-tindakan spesifik untuk kelompok rentan akan
diuraikan pada pembahasan berikut (Enarson, 2000; Federal Emergency
Management Agency (FEMA), 2010; Klynman et al., 2007; Powers &
Daily, 2010; Veenema 2007):
a. Tindakan yang sesuai untuk kelompok berisiko pada ibu hamil
Dalam memberikan pelayanan keperawatan pada berbagai macam
kondisi kita harus cepat dan bertindak tepat di tempat bencana, petugas
harus ingat bahwa dalam merawat ibu hamil adalah sama halnya
dengan menolong janinnya sehingga meningkatkan kondisi fisik dan
mental wanita hamil dapat melindungi dua kehidupan, ibu hamil dan
janinnya. Perubahan fisiologis pada ibu hamil, seperti peningkatan
sirkulasi darah, peningkatan kebutuhan oksigen, dan lain-lain sehingga
lebih rentan saat bencana dan setelah bencana (Farida, Ida. 2013).
Menurut Ida Farida (2013) hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
penanggulangan ibu hamil, diantaranya:
1) Meningkatkan kebutuhan oksigen
Penyebab kematian janin adalah kematian ibu.Tubuh ibu hamil
yang mengalami keadaan bahaya secara fisik berfungsi untuk
membantu menyelamatkan nyawanya sendiri daripada nyawa si
janin dengan mengurangi volume perdarahan pada uterus.
2) Persiapan melahirkan yang aman
Dalam situasi bencana, petugas harus mendapatkan informasi
yang jelas dan terpercaya dalam menentukan tempat melahirkan
adalah keamanannya. Hal yang perlu dipersiapkan adalah air
bersih, alat-alat yang bersih dan steril dan obat-obatan, yang perlu
diperhatikan adalah evakuasi ibu ke tempat perawatan selanjutnya
yang lebih memadai.

Pra bencana

1) Melibatkan perempuan dalam penyusunan perencanaan


penanganan bencana
2) Mengidentifikasi ibu hamil dan ibu menyusui sebagai kelompok
rentan
3) Membuat disaster plans dirumah yang di sosialisasikan kepada
seluruh anggota keluarga
4) Melibatkan petugas-petugas kesehatan reproduktif dalam mitigasi
bencana
Saat bencana
1) Melakukan usaha/bantuan penyelamatan yang tidak meningkatkan
risiko kerentanan bumil dan busui, misalnya:
2) Meminimalkan guncangan pada saat melakukan mobilisasi dan
transportasi karena dapat merangsang kontraksi pada ibu hamil
3) Tidak memisahkan bayi dan ibunya saat proses evakuasi
4) Petugas bencana harus memiliki kapasitas untuk menolong korban
bumil dan busui
Pasca bencana
1) Dukung ibu-ibu menyusui dengan dukungan nutrisi adekuat, cairan
dan emosional
2) Melibatkan petugas-petugas kesehatan reproduktif di rumah
penampungan korban bencana untuk menyediakan jasa konseling
dan pemeriksaan kesehatan untuk ibu hamil dan menyusui.
3) Melibatkan petugas petugas konseling untuk mencegah,
mengidentifikasi, mengurangi risiko kejadian depresi pasca
bencana

2.2 Perawatan Populasi Rentan pada Anak


Anak-anak adalah orang yang memerlukan kegembiraan,kasih sayang
perlakuan yang santun dan asupan gizi seimbang untuk memastikan potensi-
potensi dalam dirinya bisa tumbuh dengan baik. bencana atau ancaman
bencana akan bisa merampas ini semua,sehingga kebijakan berkaitan
kebencanaan harus memastikan bisa menjamin dan melindungi mereka.
Kelompok yang paling rentan ketika terjadi bencana adalah anak.
1. Tindakan Yang Sesuai Untuk Kelompok Rentan
Untuk mengurangi dampak bencana pada individu dari kelompok
rentan, petugas-petugas yang terlibat dalam perencanaan dan penanganan
bencana perlu (Morrow,& Daily, 2010)
a. Mempersiapkan peralatan-peralatan kesehatan sesuai dengan
kebutuhan kelompok-keompok rentan tersebut, contohnya ventilisator
untuk anak, alat bantu untuk individu yang cacat, alat-alat bantuan
persalinan, dll.
b. Melakukan pemetaan kelompok-kelompok rentan
c. Merencanakan intervensi-intervensi untuk mengatasi hambatan
informasi dan komunikasi
d. Menyediakan transportasi dan rumah penampungan yang dapat diakses
e. Menyediakan pusat bencana yang dapat diakses
2. Perawatan Populasi Rentan Pada Bayi Dan Anak-Anak
Bayi dan anak-anak sering menjadi korban dalam semua tipe bencana
karena ketidakmampuan mereka melarikan diri dari daerah bahaya. Ketika
Pakistan diguncang gempa Oktober 2005, sekitar 16.000 anak meninggal
karena gedung sekolah mereka runtuh. Tanah longsor yang erjadi di Leyte,
Filipina, beberapa tahun lalu mengubur lebih dari 200 anak sekolah yang
tengah belajar di dalam kelas (Indriyani 2014). Diperkirakan sekitar 70%
dari semua kematian akibat bencana adalah anak-anak baik itu pada
bencana alam maupun bencana yang disebabkan oleh manusia (Powers &
Daily, 2010).
Selain menjadi korban, anak-anak juga rentan terpisah dari orang tua
atau wali mereka saat bencana terjadi. Diperkirakan sekitar 35.000 anak-
anak Indonesia kehilangan satu atau dua orang tua mereka saat kejadian
tsunami 2004. Terdapat juga laporan adanya perdagangan anak (Child-
Trafficking) yang dialami oleh anak-anak yang kehilangan orang tua/wali
(Powers & Daily, 2010)
Pasca bencana, anak-anak berisiko mengalami masalah-masalah
kesehatan jangka pendek dan jangka panjang baik fisik dan psikologis
karena malnutrisi, penyakit-penyakit infeksi, kurangnya skill bertahan
hidup dan komunikasi, ketidakmampuan melindungi diri sendiri, kurangnya
kekuatan fisik, imunitas dan kemampuan koping. Kondisi tersebut dapat
mengancam nyawa jika tidak diidentifikasi dan ditangani dengan segera
oleh petugas kesehatan (Powers & Daily, 2010; Veenema, 2007).
3. Tindakan yang sesuai untuk kelompok berisiko pada bayi dan anak
a. Pra Bencana
1) Mensosialisasikan dan melibatkan anak-anak dalam latihan
kesiagsiagaan bencana misalnya dalam simulasi bencana kebakaran
atau gempa bumi
2) Mempersiapkan fasilitas kesehatan yang khusus untuk bayi dan
anak pada saat bencana
3) Perlunya diadakan pelatihan-pelatihan penanganan bencana bagi
petugas kesehatan khusus untuk menangani kelompok-kelompok
berisiko
b. Saat Bencana
1) Mengintegrasikan pertimbanan pediatric dalam sistem triase standar
yang digunakan saat bencana
2) Lakukan pertolongan kegawat daruratan kepada bayi dan anak
sesuai dengan tingkat kegawatan dan kebutuhannya dengan
mempertimbangkan aspek tumbuh kembangnya, misalnya
menggunakan alat dan bahan khusus untuk anak dan tidak
disamakan dengan orang dewasa
3) Selama proses evakuasi, transportasi, sheltering dan dalam
pemberian pelayanan fasilitas kesehatan, hindari memisahkan anak
dari orang tua, keluarga atau wali mereka
c. Pasca Bencana
1) Usahakan kegiatan rutin sehari-hari dapat dilakukan sesegera
mungkin contohnya waktu makan dan personal hygiene teratur,
tidur, bermain dan sekolah
2) Monitor status nutrisi anak dengan pengukuran antropometri
3) Dukung dan berikan semangat kepada orang tua
4) Dukung ibu-ibu menyusui dengan dukungan adekuat, cairan dan
emosional
5) Minta bantuan dari ahli kesehatan anak yang mungkin ada di lokasi
evakuasi sebagai voluntir untuk mencegah,
mengidentifikasi,mengurangi resiko kejadian depresi pada anak
pasca bencana.
6) Identifikasi anak yang kehilangan orang tua dan sediakan penjaga
yang terpercaya serta lingkungan yang aman untuk mereka.
4. Hak Anak dalam Masa Tanggap Darurat
Secara umum ada lima kluster pengelompokan hak anak yang harus
dipenuhi dalam konteks tahap tanggap darurat mengacu kepada Konvensi
Hak Anak dan undang-undang perlindungan anak.
a. Hak Sipil dan Kemerdekaan
Ada dua hak dasar anak yang harus diperhatikan terkait dengan hak
sipil dan kemerdekaan dalam tanggap darurat, yaitu:
1) Hak atas pencatatan kelahiran dan identitas (KHA pasal 7, UUPA
pasal 5). Dalam situasi pasca bencana, kehancuran infrastruktur dan
kelumpuhan sistem administrasi negara sampai di tingkat RT/ RW,
membuat anak-anak yang lahir pasca gempa tidak tercatat. Hal ini
menempatkan anak-anak dalam situasi kehilangan hak akibat tidak
tercatat dalam mekanisme pencatatan kelahiran ataupun pencatatan
darurat menyangkut bantuan darurat. Di samping itu, situasi darurat
saat bencana mengakibatkan masyarakat tidak dapat mengamankan
harta benda dan dokumen-dokumen berharga seperti akte kelahiran
sehingga ketika bencana datang akte kelahiran tersebut menjadi ikut
rusak. Oleh karena itu, perlu mengembangkan program khusus dari
pemangku kepentingan untuk memenuhi kebutuhan anak akan hak
identitas mereka. Selama ini, karena dianggap tidak terlalu
mendesak program yang mencoba menjawab kebutuhan ini belum
banyak dilakukan dalam masa tanggap darurat.
2) Hak atas Kebebasan Beragama (KHA pasal 27). Dalam situasi
pasca bencana, bantuan kemanuasiaan baik fisik maupun bersifat
dukungan psikologis harus ditujukan kepada semua anak/orang
dewasa tanpa memandang keyakinan dan agama. Situasi pasca
bencana, sangat mudah dijumpai pemberian bantuan dan dukungan
kemanusiaan yang lain dimanfaatkan baik secara langsung maupun
terselubung untuk memaksakan keyakinan agama pada korban,
termasuk anak-anak. Oleh karena itu, setiap program yang
dilaksanakan haruslah menghormati keyakinan dan agama yang
dianut oleh penerima manfaat program sehingga program yang
dilaksanakan tidak dijadikan media untuk mengubah keyakinan
anak. Dalam konteks ini, peran masyarakat dan pemerintah menjadi
penting sekali untuk memantau setiap program yang mempunyai
maksud dan tujuan tersembunyi untuk mengubah agama para
penerima manfaat.
b. Lingkungan keluarga dan pengasuhan alternative
1) Hak atas bimbingan orang tua (KHA pasal 5). Dalam situasi pasca
bencana, kehidupan yang serba darurat sering membuat orangtua
kehilangan kontrol atas pengasuhan dan bimbingan terhadap anak-
anak mereka. Keadaan ini dapat mengancam perkembangan mental,
moral dan sosial anak, sekaligus menempatkan anak dalam posisi
rentan terhadap kemungkinan tindak eksploitasi, penculikan,
kekerasan dan perdagangan. Perhatian dari orang tua mengambil
peran penting dalam membantu anak melewati masa-masa krisis
setelah bencana. Oleh karena itu, menjadi penting untuk setiap
stakeholder melibatkan peran orang tua dalam melakukan
pendampingan terhadap anak-anak mereka sesuai dengan kapasitas
yang bisa diperankan oleh mereka. Peran paling sederhana yang
bisa diperankan oleh orang tua adalah bersikap tenang karena
anakanak secara psikologis melihat tanda dari apa yang
diperlihatkan oleh orang tua mereka. Mereka akan menjadi semakin
panik dan stress ketika orang tua mereka menunjukkan kepanikan
dan stress. Oleh karena itu orang tua dan pemangku kepentingan
yang lain harus mendampingi anak dan meyakinkan mereka bahwa
keluarga dan masyarakat akan memperhatikan mereka dan keadaan
akan kembali normal. Disamping itu, orang tua adalah teman anak
yang dapat mendorong anak untuk mengungkapkan perasaan dan
perhatian mereka terkait dengan bencana. Kemampuan
mendengarkan dan berempati dari orang tua menjadi kekuatan yang
luar bisaa dalam membantu anak melewati masa-masa krisis akibat
bencana
2) Hak untuk tidak dipisahkan dan penyatuan kembali dengan orang
tua (KHA pasal 9 dan 10, UUPA pasal 7). Dalam situasi pasca
bencana, anak-anak dapat terpisahkan dari orangtua mereka.
Kemungkinan situasi keterpisahan bersifat permanen (orangtua
meninggal atau tidak pernah ditemukan) atau temporer hingga
orangtua kelak ditemukan. Pengalaman dari bencana Gempa dan
Tsunami di Aceh menunjukkan bahwasanya banyak sekali anak-
anak yang dibawa keluar dari Aceh terpisah dengan orang tuanya.
Meskipun bertujuan baik untuk mengadopsi misalnya terkadang hal
tersebut dapat merampas hak anak untuk mendapatkan pengasuhan
langsung dari orang tua mereka. Oleh karena itu, prioritas utama
program yang dapat dilakukan adalah program reunifikasi atau
mempertemukan anak dengan orang tua dan keluarganya.
c. Kesehatan dan kesejahteraan dasar
1) Hak khusus anak difabel/orang dengan kecacatan (KHA pasal 23).
Pada saat dan pasca bencana, anak-anak difabel berada dalam
kerentanan khusus karena situasi kecacatan mereka. Saat terjadi
bencana mereka mengalami kesulitan untuk menyelamatkan diri. Di
samping itu, peristiwa bencana dapat mengakibatkan anak menjadi
difabel baru. Saat pasca bencana kebutuhan khusus mereka
seringkali terabaikan oleh bantuan masa tanggap darurat yang
disalurkan. Oleh karena itu menjadi penting untuk merancang
program yang memperhatikan kebutuhan khusus dari anak-anak
difabel baik karena bencana atau tidak.
2) Hak atas layanan kesehatan (KHA pasal 6 dan 24, UUPA pasal 8).
Pada saat dan pasca bencana, anak-anak dihadapkan pada situasi
yang dapat mengancam tingkat kesehatan mereka. Hancur dan
rusaknya fasilitas sanitasi, luka-luka akibat bencana alam ataupun
lingkungan buruk pasca bencana alam menyebabkan dapat
menurunkan tingkat kesehatan anak. Di sisi lain, hilangnya
kemampuan orang tua memberikan asupan gizi yang layak dalam
jangka panjang dapat mempengaruhi perkembangan fisik dan
kesehatan anak. Oleh karena itu, program yang memberikan
layanan kesehatan gratis bagi korban anak sangat dibutuhkan dalam
situasi tanggap darurat. Pengalaman penanganan bencana selama ini
menunjukan banyak sekali program-program layanan kesehatan
yang disediakan untuk korban bencana baik anak-anak maupun
orang dewasa baik dari unsur pemerintah dan non-pemerintah.
3) Hak atas standar penghidupan yang layak (KHA pasal 27). Dalam
situasi pasca bencana, standar kehidupan yang layak bagi
perkembangan jasmani, mental, spiritual, moral and sosial anak
yang dalam situasi normal disediakan oleh orangtua/wali tidak
terpenuhi akibat kerusakan sarana prasarana. Stakeholder khususnya
Negara wajib memberikan bantuan material serta program
dukungan, khususnya menyangkut nutrisi, pakaian dan
penampungan sementara. Menyangkut bantuan tersebut, anakanak
memilki kebutuhan sangat khusus terutama berkaitan dengan
tingkat usia mereka. Pemenuhan hak dasar inilah dalam konteks
tangap darurat melului bantuan logistic mendominasi model dan
bentuk bantuan kemanusian yang diberikan oleh hampir semua
stakeholder.
d. Pendidikan, waktu luang dan kegiatan budaya
1) Hak atas pendidikan termasuk pelatihan dan bimbingan
keterampilan (KHA pasal 28, UUPA pasal 9). Dalam situasi pasca
bencana, kerusakan sarana dan prasarana pendidikan termasuk
prasarana perhubungan serta situasi-situasi seperti kehidupan
keluarga anak dan keluarga guru yang tidak normal dapat
menyebabkan proses belajar-mengajar reguler terhenti.
Terganggunya perekonomian akibat bencana juga menempatkan
anak-anak dalam posisi rawan putus sekolah. Berdasarkan kondisi
ini, program-program pendidikan alternatif yang diberikan para
pemangku kepentingan akan sangat membantu para korban anak.
Program sekolah darurat, program menggambar, bercerita, Taman
Pendidikan Al-Qur’an adalah program yang sering dilaksanakan
untuk menjawab kebutuhan dan hak anak atas pendidikan dalam
masa tanggap darurat.
2) Hak atas waktu luang, rekreasi dan kegiatan budaya (KHA pasal
31). Dalam situasi darurat pasca bencana, aktifitas sosialbudaya
menjadi terganggu. Ruang fisik dan ruang sosial untuk bermain dan
bersosialisasi secara normal menjadi hilang. Keadaan ini dapat
berlangsung lama hingga masa rekonstruksi dan rehabilitasi. Begitu
pula, kehidupan perekonomian yang belum pulih membuat anak-
anak rawan untuk kehilangan waktu beristirahat dan mendapatkan
waktu luang yang cukup. Untuk menjawab kebutuhan dan hak anak
akan waktu luang, rekreasi dan budaya, banyak program yang bisa
ditawarkan seperti program bermain, rekreasi, pelatihan seni seperti
menari, menyanyi dll.
e. Perlindungan khusus
1) Hak untuk dilindungi dari eksploitasi ekonomi (KHA pasal 32).
Kerusakan sarana & prasarana ekonomi serta situasi tidak normal
yang dialami oleh keluarga-keluarga mengancam kelangsungan
pendapatan keluarga baik dalam jangka pendek maupun jangka
panjang. Tantangan pemenuhan kebutuhan yang dihadapi oleh
keluarga-keluarga menempatkan anak-anak dalam posisi rawan
mengalami eksploitasi ekonomi, baik oleh orangtua/keluarga sendiri
maupun oleh orang/pihak lainnya. Dalam kondisi tersebut, tidak
jarang anak bekerja dalam bentukbentuk pekerjaan terburuk untuk
anak seperti menjadi pekerja rumah tangga dll.
2) Hak untuk dilindngi dari Eksploitasi dan kekerasan seksual (KHA
pasl 34). Pada situasi pasca bencana, terutama dalam situasi
pemukiman kolektif di barak-barak pengungsian, tidak memberi
ruang privasi dan pemenuhan kebutuhan seksual orang dewasa
sehingga menempatkan anak-anak dalam posisi rawan mengalami
kekerasan atau eksploitasi seksual.
3) Hak untuk mendapat perlindungan dari penculikan dan perdagangan
anak (KHA pasal 35). Dalam situasi pasca bencana, keterpisahan
dari orangtua, atau orangtua yang kehilangan kontrol efektif
terhadap anak-anak mereka, orangtua yang kehilangan kemampuan
finansial untuk mengasuh anak-anak mereka, atau terdesak oleh
kebutuhan finansial yang nyata dan ketiadaan perlindungan sosial
yang memadai, menempatkan anak-anak dalam posisi rawan untuk
menjadi korban penculikan dan perdagangan. Berdasarakan kondisi
inilah maka, Komisi Perlindungan Anak Indonesia mensinyalir
bahwa praktek perdagangan anak meningkat pasca bencana alam di
daerah.

2.3 Perawatan Populasi Rentan pada Penyakit Kronis


1. Tindakan yang sesuai untuk kelompok berisiko pada orang dengan
penyakit kronik
Menurut Ida Farida (2013) dampak bencana pada penyakit kronis
akan memberi pegaruh besar pada kehidupan dan lingkungan bagi orang-
orang dengan penyakit kronik. Terutama dalam situasi yang terpaksa
hidup di tempat pengungsian dalam waktu yang lama atau terpaksa
memulai kehidupan yang jauh berbeda dengan pra-bencana, sangat sulit
mengatur dan memanajemen penyakit seperti sebelum bencana.Walaupun
sudah berhasil selamat dari bencana dan tidak terluka sekalipun
manajemen penyakit kronis mengalami kesulitan, sehingga kemungkinan
besar penyakit tersebut kambuh dan menjadi lebih parah lagi ketika hidup
di pengungsian atau ketika memulai kehidupan sehari-hari lagi.
Berdasarkan perubahan struktur penyakit itu sendiri, timbulnya
penyakit kronis disebabkan oleh perubahan gaya hidup sehari-hari. Bagi
orang-orang yang memiliki resiko penyakit kronis, perubahan kehidupan
yang disebabkan oleh bencana akan menjadi pemicu meningkatnya
penyakit kronis seperti diabetes mellitus dangan gguan pernapasan.
a. Pra bencana
1) Identifikasi kelompok rentan dari kelompok individu yang cacat
dan berpenyakit kronis
2) Sediakan informasi bencana yang bisa di akses oleh orang-orang
dengan keterbatasan fisik seperti: tuna rungu, tuna netra, dll
3) Perlunya diadakan pelatihan-pelatihan penanganan
kegawatdaruratan bencana bagi petugas kesehatan khusus untuk
menanganni korban dengan kebutuhan khusus (cacat dan penyakit
kronis)
Menurut Ida Farida (2013) keperawatan pada fase persiapan
sebelum bencana bagi korban dengan penyakit kronik
1) Mempersiapkan catatan self-care mereka sendiri, terutama nama
pasien, alamat ketika darurat, rumah sakit, dan dokter yang
merawat.
2) Membantu pasien membiasakan diri untuk mencatat mengenai isi
dari obat yang diminum, pengobatan diet, dan data olahraga
3) Memberikan pendidikan bagi pasien dan keluarganya mengenai
penanganan bencana sejak masa normal
b. Saat bencana :
1) Sediakan alat-alat emergency dan evakuasi yang khusus untuk
orang cacat dan berpenyakit kronis (HIV/AIDS dan penyakit
infeksi lainnya), alat bantu berjalan untuk korban dengan
kecacatan, alat-alat BHD sekali pakai, dll
2) Tetap menjaga dan meningkatkan kewaspadaan universal
(universal precaution) untuk petugas dalam melakukan tindakan
kegawatdaruratan.
Menurut Ida Farida (2013) keperawatan pada penyakit kronis
saat bencana adalah
1) Pada fase akut bencana ini, bisa dikatakan bahwa suatu hal yang
paling penting adalah berkeliling antara orang-orang untuk
menemukan masalah kesehatan mereka dengan cepat dan
mencegah penyakit mereka memburuk. Perawat harus mengetahui
latar belakang dan riwayat pengobatan dari orang-orang yang
berada di tempat dengan mendengarkan secara seksama dan
memahami penyakit mereka yang sedang dalam proses
pengobatan, sebagai contoh diabetes dan gangguan pernapasan.
Pada fase akut yang dimulai sejak sesaat terjadinya bencana,
diperkirakan munculnya gejala khas, seperti gejala gangguan
jantung, ginjal, dan psikologis yang memburuk karena kurang
control kandungan gula di darah bagi pasien diabetes, pasien
penyakit gangguan pernapasan yang tidak bisa membawa keluar
peralatan tabung oksigen dari rumah
2) Penting juga perawat memberikan dukungan kepada pasien untuk
memastikan apakah mereka diperiksa dokter dan minum obat
dengan teratur. Karena banyak obat-obatan komersial akan
didistribusikan ketempat pengungsian, maka muncullah resiko
bagi pasien penyakit kronis yang mengkonsumsi beberapa obat
tersebut tanpa memperhatikan kecocokan kombinasi antara obat
tersebut dan obat yang diberikan di rumahsakit.
c. Pasca bencana
1) Sedapat mungkin, sediakan fasilitas yang dapat mengembalikan
kemandirian individu dengan keterbatasan fisik di lokasi evakuasi
sementara. Contohnya: kursi roda, tongkat, dll
2) Libatkan agensi-agensi yang berfokus pada perlindungan
individu-individu dengan keterbatasan fisik dan penyakit kronis
3) Rawat korban dengan penyakit kronis sesuai dengan
kebutuhannya.
2. Keperawatan bagi pasien diabetes
1) Mengkonfirmasi apakah pasien yang bersangkutan harus minum obat
untuk menurunkankan dengan gula darah (contoh: insulin, dll) atau
tidak, dan identifikasi obat apa yang dimiliki pasien tersebut.
2) Mengkonfirmasi apakah pasein memiliki penyakit luka fisik atau
infeksi, dan jika ada, perlu pengamatan dan perawatan pada gejala
infeksi (untuk mencegah komplikasi kedua dari penyakit diabetes)
3) Memahami situasi manajemen diri (self-management) melalui kartu
penyakit diabetes (catatan pribadi)
4) Memberikan instruksi tertentu mengenai konsumsi obat, makanan
yang tepat, dan memberikan pedoman mengenai manajemen makanan
5) Mengatur olahraga dan relaksasi yang tepat
3. Keperawatan bagi pasien gangguan pernapasan kronis
1) Konfirmasikan volume oksigen yang tepat dan mendukung untuk
pemakaian tabung oksigen untuk berjalan yang dimilikinya dengan
aman
2) Menghindari narcosis CO2 dengan menaikkan konsentrasi oksigen
karena takut peningkatan dysphemia
3) Mengatur pemasokan tabung oksigen (ventilator) dan transportasi jika
pasien tersebut tidak bisa membawa sendiri.
4) Membantu untuk manajemen obat dan olahraga yang tepat
5) Mencocokkan lingkungan yang tepat (contoh: suhu udara
panas/dingin, dan debu)
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan makalah diatas kami dapat menyimpulkan bahwa
Perawatan Populasi Rentan pada Ibu Hamil, Anak dan Penyakit Kronis diatur
dalam UU No 24/2007, pasal 55, ayat 2 Kelompok rentan dalam situasi
bencana adalah individu atau kelompok yang terdampak lebih berat
diakibatkan adanya kekurangan dan kelemahan yang dimilikinya yang pada
saat bencana terjadi menjadi beresiko lebih besar, meliputi: bayi, balita, dan
anak-anak; ibu yang sedang mengandung/menyusui; penyandang cacat
(disabilitas); dan orang lanjut usia.
Anak-anak adalah orang yang memerlukan kegembiraan, kasih sayang
perlakuan yang santun dan asupan gizi seimbang untuk memastikan potensi-
potensi dalam dirinya bisa tumbuh dengan baik. Bencana atau ancaman
bencana akan bisa merampas ini semua, sehingga kebijakan berkaitan
kebencanaan harus memastikan bisa menjamin dan melindungi mereka.
Kelompok yang paling rentan ketika terjadi bencana adalah anak.
Bayi dan anak-anak sering menjadi korban dalam semua tipe bencana karena
ketidakmampuan mereka melarikan diri dari daerah bahaya. Pasca bencana,
anak-anak berisiko mengalami masalah-masalah kesehatan jangka pendek dan
jangka panjang baik fisik dan psikologis karena malnutrisi, penyakit-penyakit
infeksi, kurangnya skill bertahan hidup dan komunikasi, ketidakmampuan
melindungi diri sendiri, kurangnya kekuatan fisik, imunitas dan kemampuan
koping. Kondisi tersebut dapat mengancam nyawa jika tidak diidentifikasi dan
ditangani dengan segera oleh petugas kesehatan.
Bencana juga berdampak pada penyakit kronis yang akan memberi
pegaruh besar pada kehidupan dan lingkungan bagi orang-orang dengan
penyakit kronik. Terutama dalam situasi yang terpaksa hidup di tempat
pengungsian dalam waktu yang lama atau terpaksa memulai kehidupan yang
jauh berbeda dengan pra-bencana, sangat suli tmengatur dan memanajemen
penyakit seperti sebelum bencana. Walaupun sudah berhasil selamat dari
bencana dan tidak terluka sekalipun manajemen penyakit kronis mengalami
kesulitan, sehingga kemungkinan besar penyakit tersebut kambuh dan menjadi
lebih parah lagi ketika hidup di pengungsian atau ketika memulai kehidupan
sehari-hari lagi.

3.2 Saran
Kami menyadari bahwa makalah diatas banyak sekali kesalahan dan
jauh dari kesempurnaan. Kami akan memperbaiki makalah tersebut dengan
berpedoman pada banyak sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka
dari itu kami mengharapkan kritik dan saran mengenai pembahasan makalah
diatas.
DAFTAR PUSTAKA

Dewa.(2017).perawatan pada kelompok rentan saat bencana. Diakses di


http://id.scribd.com/document/340027590/perawatan-pada-kelompok-
rentan-saat-bencana
Farida, Ida. 2014. Manajemen Penanggulangan Bencana Kegiatan Belajar II:
Keperawatan Bencana pada Anak. Jakarta: Badan Pengembangan dan
Pemberdayaan Sumber Daya Manusia, Pusat Pendidikan dan Pelatihan
Tenaga Kesehatan

Dewa.(2017).perawatan pada kelompok rentan saat bencana.


Diakses di http://id.scribd.com/document/340027590/perawatan-pada-
kelompok-rentan-saat-bencana
Farida, Ida. 2014. Manajemen Penanggulangan Bencana Kegiatan Belajar II:
Keperawatan Bencana pada Anak. Jakarta: Badan Pengembangan dan
Pemberdayaan Sumber Daya Manusia, Pusat Pendidikan dan Pelatihan
Tenaga Kesehatan.
Purnomo Hadi, Dkk, Manajemen Bencana: Respon dan Tindakan Terhadap
Bencana, Jakarta: Niaga Swadaya, 2016.
Herman Ade, wulan Susilo. (2018). penanggulangan bencana. Vol. 9, No. 2
Tahun 2018 Hal.102-115
Nurhidayati, I,. Ema R. 2017. Kesiapsiagaan Keluarga Dengan Penyakit Kronis
Menghadapi Becana Gunung Berapi Di Desa Sidorejo Kec. Kemalang
Klaten. Jurnal Ilmiah keperawatan Indonesia. Vol 1, No 1. Klaten

Widayatun,. Zainal, F. 2013. Permasalahan Kesehatan Dalam Kondisi Bencana:


Peran Petugas Kesehatan Dan Partisipasi Masyarakat. Jurnal Kependudukan
Indonesia. Vol. 8 No.1