Anda di halaman 1dari 9

Tugas Individu

TUGAS III

FISISOLOGI HEWAN

OLEH

LILI SURIYANI

A1J117066

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS HALUOLEO

2019
SOAL

1. Ikan mujair mula-mula ditemukan di laut tetapi menjadi ikan air tawar dapatkah ikan
mujair itu diubah kembali menjadi ikan laut? Jelaskan dan hubungkan dengan
osmoregulasi!
2. Ikan bandeng bisa dipelihara di air tawar, bagaimana caranya?
3. Apa bedanya osmoregulasi ikan air tawar dan ikan air laut!
4. Jelaskan bagaimana cara hewan dapat mengatasi kehilangan air di tubuhnya? Apa ada
hubungan antara ADH dan osmoregulasi?
5. Atas dasar apa dapat ditentukan apakah hewan itu ammonotelik, ureotelik dan urikotelik?
6. Selain amonia, urea, dan asam urat sebutkan sisa-sisa metabolisme lainnya. Jelaskan!
7. Jelaskan ada berapa macam alat-alat ekskresi pada hewan invertebrata!

JAWABAN

1. Ikan mujair hidup di sekitar dasar perairan dan permukaan perairan laut, tergolong ikan
pelagis yang mengkehendaki perairan bersalinitas tinggi, suka hidup secara bergerombol
baik diperairan pantai maupun dilepas pantai.Ikan mujair berasal dari Afrika dan secara
alami banyak ditemukan di sungai - sungai di wilayah Mozambik dengan warna abu-abu,
coklat atau hitam. Ikan ini mempunyai toleransi yang besar terhadap kadar
garam/salinitas. Jenis ikan ini mempunyai kecepatan pertumbuhan yang relatif lebih
cepat, tetapi setelah dewasa percepatan pertumbuhannya akan menurun. Kemampuan
hidup di air payau tersebut sangat dimungkinkan karena mujair memiliki toleransi yang
besar terhadap berbagai tingkat salinitas air.

Perubahan salinitas di laut terbuka relatif lebih kecil dibandingkan dengan perubahan
salinitas di pantai yang memiliki masukan air tawar dari sungai terutama saat musim
hujan. Salinitas berpengaruh kepada osmoregulasi dari ikan serta berpengaruh besar
terhadap kesuburan dan pertumbuhan telur. Beberapa spesies bisa hidup dengan toleransi
salinitas yang besar tetapi ada juga yang sempit.
2. Cara memelihara ikan bandeng di air tawar.
1. Persiapkan Lahan Kolam Ikan

Pada tahap ini ada beberapa hal yang harus anda perhatikan antara lain sebagai
berikut :

 Tentukan lokasi yang tepat yang akan digunakan dalam pembuatan kolam.kolam
yang dipakai ialah kolam air tawar.
 Bisa menggunakan genangan air sawah ataupun air dalam.
 Pastikan kedalaman genangan air tersebut tidak terlampau dalam.
 Tentukan juga panjang dan lebar atau luasan kolam.
 Luas kolam harus sesuai dengan jumlah populasi ikan bandeng.
 Sebaiknya terlebih dahulu tumbuhkan plankton alami, agar ikan bisa mencari
makan secara alami.Cara mudah yang bisa dipakai untuk menumbuhkan plankton
adalah dengan menggaru tanah atau area kolam.

2. Pemilihan Benih Ikan Bandeng

 Pertama ialah, perilsa bagian tubuh benih, apakah mengalami kecacatan atau
tidak.
 Selanjutnya, liat gerakan benih ikan bandeng, benih yang berkualitas ialah benih
ikan yang memiliki pergerakan yang aktif.
 Selain itu, benih juga harus sehat dan bebas dari hama dan penyakit.
 Pastikan bahwa, benih yang didapatkan adalah benih ikan bandeng air tawar.
 Ukuran ideal benih sebaiknya telah mencapai 1-2 inch.
 Tempatkan benih pada bak atau wadah plastik yang bersih dan beri udara atau
angin.

3. Penebaran Benih Ikan Di kolam

 Sebaiknya sehari sebelum di tebar, benih di tempatkan dalam wadah atau bak
besar.
 Kemudian setelahnya dpt langsung ditebar pada kolam. Dengan cara ini
diharapkan daya adaptasi benih dapat meningkat, serta tidak mengalami stres saat
berada di kolam yang baru.
 Hal penting yang perlu di perhatikan Ialah pastikan bahwa benih yang di
masukkan merupan benih yang sehat, sebab jika ada satu yang sakit maka
kemungkinan besar akan bisa menulari yang lainnya. Selain itu juga pastikan
bahwa kepadatan kolam dan isis benih sesuai.

4. Perawatan dan Pemeliharaan

 Manajemen Pemberian Pakan

Dalam pemberian pakan harus dilakukan dengan seksama, sebab dalam hal ini
jika pakan di berikan terlampau sedikit maka pertumbuhan ikan tidak akan optimal.
Sebaliknya jika diberikan terlampau banyak, maka paka bisa jadi akan mubazir.
Penberian pakan yang sesuai dosis selain akan lebih efektif juga akan mampu
membuat pertumbuhan ikan bandeng lebih optimal. Selain itu, dikhawatirkan jika
amda tidak memeperhatikan dosisnya dan jor-joran memberikan pakan. Maka akan
bisa berdampak pada pemborosan pakan yang diberikan. Selain itu juga, resiko ikan
terkena serangan penyakit menjadi lebih besar. Sebab sisa-sisa makanan yang
berkumpul lama kelamaan akan membusuk dan tentunya berisiko buruk bagi
pertumbuhan ikan.
 Manajemen Air Kolam

Selain pakan, kondisi kolam sebagai tempat hidup ikan bandeng tentunya
wajib diperhatikan. Sebab, kolam yang kotor dan kekurangan oksigen akan bisa
membuat pertumbuhan dan perkembangan ikan terganggu. Terlebih lagi, jika anda
tidak memeprhatikan kualitas air, maka akan berakibat pada kesehatan ikan bandeng.
Salah-salah ikan akan bisa menjadi sakit kemudian mati.

3. Osmoregulasi pada ikan air tawar

Ikan air tawar cenderung untuk menyerap air dari lingkungannya dengan cara
osmosis, terjadi sebagai akibat dari kadar garam dalam tubuh ikan yang lebih tinggi
dibandingkan dengan lingkungannya. Insang ikan air tawar secara aktif memasukkan
garam dari lingkungan ke dalam tubuh. Ginjal akan memompa keluar kelebihan air
sebagai air seni. Ikan air tawar harus selalu menjaga dirinya agar garam tidak melarut dan
lolos ke dalam air. Ginjal mempunyai glomeruli dalam jumlah banyak dengan diameter
besar. Ini dimaksudkan untuk lebih dapat menahan garam-garam tubuh agar tidak keluar
dan sekaligus memompa air seni sebanyak-banyaknya. Ketika cairan dari badan malpighi
memasuki tubuli ginjal, glukosa akan diserap kembali pada tubuli proximallis dan garam-
garam diserap kembali padatubuli distal. Dinding tubuli ginjal bersifat impermiable
(kedap air, tidak dapat ditembus)terhadap air.

Ikan mempertahankan keseimbangannya dengan tidak banyak minum air,


kulitnya diliputi mucus, melakukan osmosis lewat insang, produksi urinnya encer, dan
memompa garam melalui sel-sel khusus pada insang. Secara umum kulit ikan merupakan
lapisan kedap, sehingga garam di dalam tubuhnya tidak mudah bocor kedalam air. Satu-
satunya bagian ikan yang berinteraksi dengan air adalah insang.

Osmoregulasi pada ikan air Laut

Urine yang dihasilkan mengandung konsentrasi air yang tinggi. Ikan air laut
memiliki konsentrasi garam yang tinggi di dalam darahnya. Ikan air laut cenderung untuk
kehilangan air di dalam sel-sel tubuhnya karena proses osmosis melalui kulit. Untuk itu,
insang ikan air laut aktif mengeluarkan garam dari tubuhnya. Untuk mengatasi
kehilangan air, ikan ‘minum’air laut sebanyak-banyaknya. Dengan demikian berarti pula
kandungan garam akan meningkat dalam cairan tubuh. Organ dalam tubuh ikan
menyerap ion-ion garam seperti Na+, K+ dan Cl-, serta air masuk ke dalam darah dan
selanjutnya disirkulasi. Kemudian insang ikan akan mengeluarkan kembali ion-ion
tersebut dari darah ke lingkungan luar. Karena ikan laut dipaksa oleh kondisi osmotik
untuk mempertahankan air, volume air seni lebih sedikit dibandingkan dengan ikan air
tawar. Tubuli ginjal mampu berfungsi sebagai penahan air. Jumlah glomeruli ikan laut
cenderung lebih sedikit dan bentuknya lebih kecil daripada ikan air tawar.

Berikut adalah tabel perbedaan antara osmoregulasi ikan air tawar dan air laut

Ikan air tawar Ikan air laut


- Sedikit minum - Banyak minum
- Pengeluaran urine - Pengeluaran urine
banyak, encer sedikit, pekat.
- Mempertahankan - Aktif mengeluarkan
garam dalam tubuh garam dari tubuh

4. Osmoregulasi pada Hewan di Lingkungan Darat, yaitu memiliki keuntungan hewan yang
berhasil hidup di darat dan mudah memperoleh oksigen. Sedangkan kerugiannya yaitu
masalah keseimbangan air dan ion mudah terancam dehidrasi. Kehilangan air yitu berupa
penguapan yang dipengaruhi oleh Kandungan uap air di atmosfer, Gerakan udara,
Tekanan barometrik, Luas permukaan penguapan, dan suhu. Pada Invertebrata darat,
umumnya merupakan golongan Artropoda, Insekta, dan laba-laba, yang paling banyak
ialah Insekta. Untuk membatasi pelepasan air dilakukan respirasi discontinue dan karbon
dioksida dilepaskan secara periodic (setiap kali inspirasitidak selalu diikuti dengan
ekspirasi). kondisi ketika spirakel bergetar, tekanan trakea lebih rendah daripada
atmosfir, udara masuk ke trakea dan udara dicegah keluar dari trakea , sehingga
INSPIRASI tidak selalu diikuti dengan EKSPIRASI.

Cara lain penghematan pengeluaran air pada Insekta yaitu melalui pengeluaran faeses
dan urin berupa/dalm bentuk asamurat. Asam urat tidak dikeluarkan dari tubuh, tapi
ditimbun di permukaan tubuh membentuk struktur yang mirip kutikula. Cara insekta
memperoleh air yaitu dengan menyerap uap air dari lingkungan dan dari
makanan/minuman. Vertebrata yang berhasil berkembang di lingkungan darat,
memperoleh air dari air minum dan makanan, dan untuk menghemat air vertebrata
melakukan berbagai cara yang cukup bervariasi. Cara mengatasi tidak banyak
kehilangan air yaitu dengan memiliki kulit yang kering dan bersisik, menghasilkan feses
kering, menghasilkan asam urat, mereabsorbsi urin encer yang di kandung kemih.

Pada manusia, ADH meningkatkan permeabilitas dinding tubulus ginjal, mengakibatkan


sejumlah besar air yang diserap kembali ke dalam sistem peredaran darah, mengurangi
konsentrasi darah (atau meningkatkan konsentrasi air darah). Akibatnya air kurang akan
hilang melalui urin.

Sebaliknya adalah benar jika darah terlalu encer; tidak ada ADH akan dilepaskan dari
hipofisis dan tidak ada air akan kembali diserap dari tubulus ginjal.
5. Zat metabolisme harus dikeluarkan dari tubuh karena bersifat racun. Selain itu, jika zat
sisa ini ditimbun dalam tubuh dalam waktu yang lama, maka keseimbangan dalam tubuh
(hemeostasis) akan terganggu.

Zat sisa yang dihasilkan oleh makhluk hidup terdiri dari berbagai macam zat antara lain
garam mineral, zat racun dan komponen nitrogen.

Berdasarkan komponen Nitrogen yang dikeluarkan oleh tubuh, hewan dibedakan menjadi
tiga golongan, yaitu :
 Ureotelik, yaitu golongan hewan yang menghasilkan zat sisa berupa urea.
Contohnya mamalia dan amfibi.
 Urikotelik, yaitu golongan hewan yang menghasilkan zat sisa berupa asam urat
(uric acid). Contohnya burung dan reptil.
 Amonotelik, yaitu golongan hewan yang menghasilkanz zat sisa berupa amonia
(NH3). Contohnya ikan.
6. Sisa-sisa metabolisme selain amonia, urea dan asam urat antara lain CO2, H2O, NHS, zat
warna empedu. Karbon dioksida dan air merupakan sisa oksidasi atau sisa pembakaran
zat makanan yang berasal dari karbohidrat, lemak dan protein. Kedua senyawa tersebut
tidak berbahaya bila kadarnya tidak berlebihan. Walaupun CO2 berupa zat sisa namun
sebagian masih dapat dipakai sebagai dapar ( penjaga kestabilan PH) dalam darah.
Demikian juga H2O dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan misalnya sebagai pelarut.

7. Sistem Ekskresi pada Hewan Invertebrata

Invertebrata belum memiliki ginjal yang berstruktur sempurna seperti pada


vertebrata. Pada umumnya invertebrata memiliki sistem ekskresi yang sangat sederhana,
dan sistem ini berbeda antara invertebrata satu dengan invertebrata lain nya. Alat
ekskresi pada invertebrata secara umum berupa saluran malphigi, nefridium, dan sel api.
Nefridium adalah tipe yang umumnya dari struktur ekskresi khusus pada invertebrata.

a. Vakuola Kontraktil Pada Protozoa

Protozoa berukuran mikroskopis, yaitu sekitar 10- 200 µ. Bentuk selnya


sangat bervariasi, ada yang tetap dan ada yang berubah-ubah. Sebagian besar
psrotozoa memiliki alat gerak berupa kaki semu (pseudopodia), bulu getar (silia),
atau bulu cambuk (flagellum). Beberapa protozoa memiliki cangkang.

Pengeluaran sisa-sisa metabolisme Protozoa dilakukan melalui membran


sel secara difusi. Protozoa mempunyai organel ekskresi berupa vakuola
berdenyut yang bekerja secara periodik untuk mengatur kadar air dalam sel.
Sewaktu mengeluarkan air, sisa-sisa metabolisme ikut dikeluarkan
Struktur dan Fungsi Tubuh Sel protozoa umumnya terdiri dari membrane
sel, sitoplasma, vakuola makanan, vakuola kontraktil (vakuola berdenyut), dan
inti sel. Membran Sel Fungsi : sebagai pelindung serta pengatur pertukaran
makanan dan gas Vakuola Makanan Fungsi : Mencerna Makanan. Vakuola
makanan terbentuk dari proses makan sel atau sel dengan cara ‘menelan’ oleh
setiap bagian membrane sel atau melalui sitostoma (mulut sel). Zat-zat makanan
hasil cernaan dalam vakuola makanan masuk ke dalam sitoplasma secara difusi.
Sedangkan sisa makanan dikeluarkan dari vakuola ke luar sel melalui membrane
plasma. Vakuola Kontraktil Fungsi : mengeluarkan sisa makanan berbentuk cair
ke luar sel melalui membrane sel serta mengatur kadar air dalam sel. Vakuola
kontraktil merupakan vakuola yang selalu mengembang dan mengempis.Inti Sel
berfungsi, mengatur aktivitas sel.

b. Nelfida Cacing Tanah


Sistem ekskresi invertebrata berbeda dengan sistem ekskresi pada
vertebrata. Invertebrata belum memiliki ginjal yang berstruktur sempurna seperti
pada vertebrata. Pada umumnya, invertebrata memiliki sistem ekskresi yang
sangat sederhana, dan sistem ini berbeda antara invertebrata satu dengan
invertebrata lainnya. Alat ekskresinya ada yang berupa saluran Malphigi,
nefridium, dan sel api. Nefridium adalah tipe yang umum dari struktur ekskresi
khusus pada invertebrata. Berikut ini akan dibahas sistem ekskresi pada cacing
pipih (Planaria), cacing gilig (Annellida), dan belalang.
 Platyhelminthes Alat ekskresi Platyhelminthes seperti pada Planaria
berupa sel-sel berambut getar. Karena rambut getar ini tampak seperti
nyala api , maka sel-sel ini dinamakan flame cell (sel api). Cairan tubuh
disaring di dalam flame cell dan zat-zat sisa diserap kemudian dikeluarkan
dari tubuh melalui lubang-lubang yang terdapat pada permukaan tubuh.
 Annelida sudah mempunyai alat ekskresi khusus, yaitu berupa nefridia
yang terdapat pada setiap segmen tubuh. Pada setiap segmen terdapat
sepasang nefridia. Nefridia ini dilengkapi dengan corong terbuka dan
bersilia yang disebut nefrostom yang terdapat pada setiap sekat pemisah
segmen. Nefrostom berfungsi menarik dan mengambil cairan tubuh. Pada
saat cairan melalui nefridia, zat-zat yang berguna diserap darah dan zat
sisa, seperti air, senyawa nitrogen, dan garam-garam yang tidak diperlukan
oleh tubuh ditampung dalam kantong kemih. Zat sisa tersebut kemudian
dikeluarkan melalui nefridiofor (lubang nefridium). Contoh Annelida yang
mudah kita temui yaitu cacing tanah. Cacing tanah mengeluarkan urine
per hari sebesar 60% dari berat tubuh. Sistem Ekskresi pada Cacing Tanah
Pada cacing tanah yang merupakan anggota anelida, setiap segmen dalam
tubuhnya mengandung sepasang metanefridium, kecuali pada tiga segmen
pertama dan terakhir.

Metanefridium memiliki dua lubang. Lubang yang pertama berupa corong,


disebut nefrostom (di bagian anterior) dan terletak pada segmen yang lain.
Nefrostom bersilia dan bermuara di rongga tubuh (pseudoselom). Rongga
tubuh ini berfungsi sebagai sistem pencernaan. Corong (nefrostom) akan
berlanjut pada saluran yang berliku-liku pada segmen berikutnya. Bagian
akhir dari saluran yang berliku-liku ini akan membesar seperti gelembung.
Kemudian gelembung ini akan bermuara ke bagian luar tubuh melalui pori
yang merupakan lubang (corong) yang kedua, disebut nefridiofor. Cairan
tubuh ditarik ke corong nefrostom masuk ke nefridium oleh gerakan silia
dan otot. Saat cairan tubuh mengalir lewat celah panjang nefridium,
bahan-bahan yang berguna seperti air, molekul makanan, dan ion akan
diambil oleh sel-sel tertentu dari tabung. Bahan-bahan ini lalu menembus
sekitar kapiler dan disirkulasikan lagi. Sampah nitrogen dan sedikit air
tersisa di nefridium dan kadang diekskresikan keluar. Metanefridium
berlaku seperti penyaring yang menggerakkan sampah dan
mengembalikan substansi yang berguna ke sistem sirkulasi. Cairan dalam
rongga tubuh cacing tanah mengandung substansi dan zat sisa. Zat sisa ada
dua bentuk, yaitu amonia dan zat lain yang kurang toksik, yaitu ureum.
Oleh karena cacing tanah hidup di dalam tanah dalam lingkungan yang
lembab, anelida mendifusikan sisa amonianya di dalam tanah tetapi ureum
diekskresikan lewat sistem ekskresi.

c. Sistem Ekskresi pada Cacing Pipih


Cacing pipih mempunyai organ nefridium yang disebut sebagai
protonefridium.Protonefridium tersusun dari tabung dengan ujung membesar
mengandung silia. Di dalam protonefridium terdapat sel api yang dilengkapi
dengan silia. Tiap sel api mempunyai beberapa flagela yang gerakannya seperti
gerakan api lilin. Air dan beberapa zat sisa ditarik ke dalam sel api. Gerakan
flagela juga berfungsi mengatur arus dan menggerakan air ke sel api pada
sepanjang saluran ekskresi. Pada tempat tertentu, saluran bercabang menjadi
pembuluh ekskresi yang terbuka sebagai lubang di permukaan tubuh
(nefridiofora). Air dikeluarkan lewat lubang nefridiofora ini. Sebagian besar sisa
nitrogen tidak masuk dalam saluran ekskresi. Sisa nitrogen lewat dari sel ke
sistem pencernaan dan diekskresikan lewat mulut. Beberapa zat sisa berdifusi
secara langsung dari sel ke air.