Anda di halaman 1dari 15

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Usaha dalam mencapai tujuan kualitas Kerohanian jemaat GTDI

Bethlehem di Indonesia Gembala berusaha untuk membina dan membimbing

jemaat kearah pertumbuhan rohani yang berkualitas yang dapat mampu

berdiri,kuat baik didalam masyarakat,melayani pekerjaan Tuhan ditengah-

tengah dunia sebagai saksi Kristus. Untuk itu gembala jemaat mempuyai tugas

mengajar, membimbing, memotivasi, dan memberitakan firman Tuhan

ditengah pengembalaan semua anggota jemaat.

Pertumbuhan gereja tidak terlepas dari tanggung jawab gembala jemaat

pada suatu jemaat atau gereja tertentu, itu berarti bahwa gembala jemaat

merupakan titik tolak dari pertumbuhan gereja secara kualitas dan juga secara

iman dan rohani. Oleh karena itu gereja yang ingin maju dan berkembang harus

dimulai dengan rohani yang kuat dan diberi motivasi dan dorongan didalam

melayani Tuhan, mengacu pada (Roma 12:11)”Jangan hendaknya kerajinanmu

kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Serta di tanamkan

pengenalan tentang Amanat Agung Tuhan Yesus (Matius 26:19)” Pergilah,

jadikanlah semua bangsa muridKU dan baptislah mereka dalam nama Bapa,

dan Anak, dan Roh Kudus; Maka gembala bukan hanya menesehati rohani

jemaat tetapi memberikan motivasi buat jemaat untuk semangat didalam

beritakan Injil lewat pelayanan,mengajar,dan bersaksi untuk memajukan


2

pertumbuhan jemaat secara rohani di gereja maupun ditengah-tengah

masyarakat.

Untuk memajukan pertumbuhan jemaat sebagai gembala haruslah

memiliki kepemimpinan kepribadian yang baik, menjadi teladan ,harus

bijaksana (1 Tim 5:1-5) setia dan menjadi bapak /ibu rohani yang bisa

mengubah dan menjadi berkat bagi jemaat.

Mengacu pada kualitas rohani, maka penulis mengangkat permasalahan

yang ada di jemaat GTDI Bethlehem. Adapun masalah-masalah-yang nyata

dalam jemaat tersebut adalah :

1. Menurut angka kehadiran jemaat dalam kebaktian Minggu

2. Ibadah PW dan youth dan unsur dll kurangnya gairah beribadah

3. Warga jemaat banyak sibuk didalam aktifitas bekerja rutinitas.

Hal ini atau masalah-masalah tersebut diatas membuat jemaat GTDI

mengalami kerohanian yang mundur dan tidak stabil.

Berdasarkan tugas gembala sebagai pelayan yang berwenang tentunya

dapat mengatasi masalah-masalah itu dan mencari solusi agar pertumbuhan

rohani jemaat bisa kembali semangat didalam Tuhan. Tentunya pekerjaan yang

dilakukan gembala sangat berat, yang harus dilaksanakan oleh gembala dan

gembala percaya bahwa pekerjaan yang dilakukan adalah sangat mulia yang

diberikan oleh Tuhan.


3

Dengan melihat kepada masalah-masalah yang terjadi di jemaat GTDI

Bethlehem, maka berdasarkan judul skripsi ini penulis akan memaparkan

beberapa akibat dari latar belakang masalah sesuai dengan judul penulis skripsi

yaitu : Peranan Gembala Dalam Kualitas Rohani Di Jemaat GTDI Bethlehem

sebagai berikut :

1. Dalam Kebaktian hari minggu dan ibadah sepekan terjadi penurunan

kehadiran jemaat.

2. Menurunya semangat ibadah dan doa.

3. Warga jemaat lebih memetingkan kehidupan jasmani dari pada

kehidupan rohani yang artinya warga jemaat mencari material (uang)

dengan berkebun dan berdagang dan juga tingkat kemalasan sangat

tinggi yang sangat memperhatinkan.

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka penulis merasa perlu

untuk membahas hal tersebut dalam sebuah karya ilmiah dengan judul

“Tanggung Jawab Gembala Dalam Kualitas Rohani Di Jemaat GTDI

Bethlehem”.

B. PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah di uraikan diatas ini

maka penulis akan merumuskan tiga pokok permasalahan adalah sebagai

berikut :

1. Bagaimana tanggung jawab gembala jemaat GTDI Bethlehem.

2. Sejauh mana peningkatan pelayanan di jemaat GTDI Bethlehem


4

C. MANFAAT PENELITIAN

Adapun manfaat dari penelitian ini, penulis mengangkat penulisan

skripsi ini adalah :

1. Untuk melengkapi persyaratan guna memperoleh gelar sarjana Teologia

( S.Th ) jurusan teologi kependetaan.

2. Untuk memberi masukan,penilaian dan solusi didalam meningkatkan

efektifitas kerohanian jemaat GTDI Bethlehem, didalam melayani di

gereja dan setia beribadah.

3. Berguna untuk penulisan dalam rangka mengetahui dan memahami arti

gembala didalam pelayanan menjaga kerohanian jemaat.

D. TUJUAN PENELITIAN

Adapun tujuan penelitian dalam penulisan ini yang hendak di capai

antara lain :

1. Ingin mengetahui tingkat kerohanian jemaat didalam beribadah.

2. Untuk mengetahui sejauh mana tindakan dan tanggung jawab gembala

terhadap jemaat dalam kualitas rohani jemaat GTDI Bethlehem.

E. DEFENISI OPERASIONAL

Untuk memperjelas pengertian dari judul skripsi ini, maka penulis

mendefinisikan pengertian tanggung jawab gembala jemaat dalm pembinaan

rohani terhadap peningkatan kualitas rohani jemaat GTDI Bethlehem sebagai

berikut :
5

1. Tanggung jawab gembala jemaat

Tanggung jawab adalah mengambil resiko dari suatu pekerjaan

yang di bebankan kepadanya (kamus umum bahasa Indonesia,

1994:1428). Dalam artinya dalam jabatan sebagai jemaat yang artinya

sebagai pengatur atau pekerja di dalam suatu gereja atau jemaat Tuhan.

Maka tanggung jawab gembala jemaat tersebut di angkat berdasarkan

Alkitab Perjanjian Lama dan Alkitab Perjanjian Baru, yaitu :

a. Menurut Perjanjian Baru

Tanggung jawab menurut Perjanjian Baru dapat di jabarkan

berdasarkan surat I Petrus, yaitu “ Gembalakan kawanan domba Allah

yang ada padamu “ ( I Petrus 5:2a )

Berdasarkan kata kitab ini, maka sebagai gembala, harus menjadi

Pelayan, pengajar,dan membimbing serta harus bertanggung jawa

terhadap warga jemaat dalam memberikan pelayanan dengan penuh kasih,

dan memberikan pengajaran-pengajaran Alkitab yang benar sehingga

rohani jemaat bisa bertumbuh didalam Tuhan.

b. Menurut Perjanjian Lama

Tanggung jawab gembala jemaat menurut Perjanjian Lama dapat di

angakat atau di jabarkan berdasarkan perintah Tuhan yang diturunkan

kepada Musa “ urapilah mereka, seperti engkau mengurapi ayah

mereka, mereka memegang jabatan Imam bagiku “ ( Keluaran 4:15 ).


6

Dari pengertian tanggung jawab gembala jemaat menurut

Perjanjian Lama ini, maka penulis menafsirkan defenisi tersebut secara

bebas bahwa gembala majelis jemaat memiliki tanggung jawab sebagai

gembala, sebagai pelayan, sebagai guru atau pengajar, yang tanggung

jawab penuh terhadap jemaat secara rohani untuk di tuntun baik dalam

menjalankan ibadah. Artinya selalu memberikan pelayanan terhadap

jemaat gereja yang Tuhan percayakan di tengah dunia ini.

2. Kualitas Pelayanan Dalam Jemaat

Secara pinsip gembala jemaat adalah sentral dari semua kegiatan

dalam jemaat secara langsung terhadap peningkatan kualitas rohani dalam

pelayanan kepada warga jemaat. Artinya sebagai pelayan, pengajar, dan

mengembalakan jemaat selalu mempuyai beban terhadap kemajuan jemaat

di dalam gereja secara kualitas rohani dan kuantitas iman.

Dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan di dalam jemaat

maka sebagai gembala jemaat harus mempuyai sikap yang aktif dalam

pelayanan, sehingga menimbulkan suatu wujud melalui persekutuan

bersama orang-orang percaya lainnya di jemaat tesebut. Alitab dengan

tegas menegaskan dan menyatakan bahwa “ janganlah membiarkan

matamu tertidur “ dan kelopak matamu mengantuk ( Amsal 6:4 ).

Dari teks kitab ini maka penulis dapat menafsirkan bahwa setiap

orang yang terlibat di dalam pekerjaan gerejawi tidak boleh merasa bosan

dan pasif atau bermasa bodoh terhadap pelayanan pertumbuhan rohani

jemaat di dalam gereja.


7

a. Jemaat GTDI Bethlehem di Indonesia

Jemaat GTDI Bethlehem adalah umat Tuhan (Qahaal yahwe ),

menjelaskan dengan jelas di dalam Alkitab tersebut “ dan umatKu,

yang atasnya namaKu disebut (2 Tawarikh 7 :14a ) dengan demikian

warga jemaat GTDI merupakan suatu persekutuan umat Tuhan yang

perlua diperhatikan dan mendapat pelayanan.

Berkaitan dengan judul skripsi ini, maka penulis menjadikan

warga jemaat GTDI sebagai objek penelitian. Bukan berarti warga

jemaat semata-mata sebagai objek saja, tetapi jemaat GTDI adalah

bagian dari tubuh Kristus. Dengan demikian warga jemaat GTDI

didalam kualitas rohani merupakan tempat dimana penelitian ini

dilakukan.

F. SISTIMATIK PENULISAN

Sistimatik adalah aturan yang tersusun dengan baik dan teratur agar

memperoleh hasil yang baik. Dengan demikian dalam penulisan skripsi ini

penulis memaparkan sistematik penulisan sebagai berikut.

BAB. I. Pendahuluan

A. Latar Belakang Masalah

B. Perumusan Masalah

C. Maanfaat Penelitian

D. Tujuan Penelitian
8

E. Defenisi Operasional

F. Sistematik Penulisan

BAB. II Landasan Teoritas yang terdiri dari

A. Telaah Kepustakaan

B. Kerangka Berfikir
9

BAB II

LANDASAN TEORI

A. TELAAH KEPUSTAKAAN

Salah satu yang dilakukan dalam persiapan penelitian setelah masalah

di rumuskan maka langkah selanjutnya mencari teori-teori, konsep-konsep

yang dapat dijadikan landasan teori bagi penelitian yang akan dilakukan.

Landasan ini perlu dilakukan agar penelitian mempuyai dasar yang kokoh dan

bukan sekedar mencoba mendapatkan informasi mengenai “Tanggung Jawab

Gembala Dalam Kualitas Rohani Jemaat GTDI Bethlehem”

1. Tanggung Jawab Gembala menurut Alkitab

a. Perjanjian Lama

Di dalam Alkitab perjanjian lama uraian tentang tugas dan

tanggung jawab gembala jemaaat dapat kita lihat pada suku Lewi,

dimana Allah memerintahkan Musa untuk mentahbiskan Harun dan

anak-anaknya supaya memegang jabatan Imam (Keluaran 4:12-15 ).

Untuk memegang jabatan sebagai pekerja dalam kemah pertemuan

atau kemah suci itu.

Dalam PL kata ‘gembala’ memakai kata ro’eh berasal dari

kata ra’ah yang berarti “ memberi makan atau mengembalakan”

dengan kata lain gembala bertanggung jawab atas ternaknya untuk

mengembalakan, merawat dan memelihara, bahkan Allah sendiri

juga disebut sebagai gembala bagi umat-Nya, dimana Israel dapat


10

memanggil Dia ketika membutuhkan perlindungan dan

membimbing,memimpin ( Maz 80:1 ).

Mengacu pada tanggung jawab gembala dalam kualitas

rohani, dapat di simpulkan bahwa gembala mempuyai tanggung

jawab didalam menjalankan ibadah, mengembalakan,dan

membimbing kerohanian dalam memajukan gereja sebagai terang

dan garam didalam dunia.

b. Perjanjian Baru

Didalam Alkitab Perjanjian Baru uraian tentang tanggung

jawab gembala jemaat di uraikan khusus pada kitab 1 dan 2 Timotius

dan Titus, kedua kitab ini biasanya di sebut dengan surat-surat

pengembalaan.

Bila seseorang ingin menjadi gembala jemaat, ia harus

memiliki sikap pembawaan sebagai seorang gembala, pengajar,

pembimbing dan seorang pelayan.

2. Tanggung Jawab Gembala Jemaat

a. Tanggung Jawab Gembala sebagai Gembala

Menurut Teologi Pastoral, bahwa system Pastoral teologi di

bangun di atas thema gembala. Hal ini benar karena baik di dalam

Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru banyak memberikan

gambaran tentang karakteristik dari Allah, terutama di lihat sebagai

gembala, tangan yang kuat memimpin, memberi makan, disiplin dan

melindungi umatnya ( Yesaya 40:11 ).


11

Pemaszmur melihat Allah sebagai gembala Agung, yang

menyembuhkan jiwa manusia yang kesulitan, memimpin orang

kepada langkah yang benar yang melindungi dari yang jahat, dan

yang menyediakan pertumbuhan fisik maupun spiritual (Mazmur

23) .

Gembala-gembala di tandai dengan keterampilan untuk

membimbing dan melindungi domba-domba mereka yang tidak

bercerai-berai.

Mengacu kepada tanggung jawab gembala jemaat maka

sebagai seorang gembala yang bekerja atas nama Tuhan di sebut

sebagai gembala, “ Celakalah bagi gembala-gembala Israel, yang

mengembalakan diri sendiri “. Bukan domba-domba yang

seharusnya digembalakan oleh gembala-gembala itu ? ( Yehezkiel

34:2 ) ini berarti bahwa fungsi dan tanggung jawab gembala

memperhatikan semua aspek kehidupan (sosial), baik itu segi rohani,

segi jasmani.

Yang di maksud dengan 3 segi aspek di atas adalah :

- Aspek social

Gembala jemaat herus mempu mengatasi masalah-

masalah sosial dalam jemaat, seperti masalah perkembangn

rohani jemaat, masalah kemiskinan, masalah keluarga, masalah

kesalahpahaman di antara warga jemaat dan sesama para

pelayan dan pengerja dalam gereja.


12

- Aspek Rohani

Gembala jemaat harus mengontrol, mengawasi dan

memberikan motivasi didalam pertumbuhan rohani jemaat

sehingga tidak terpengaruh dengan pengajaran-pengajaran sesat

dan kemalasan di dalam beribadah kepada Tuhan.

- Aspek Jasmani

Gembala jemaat perlu menyediakan waktu terhadap

kebutuhan-kebutuhan jemaat, misalnya; memberikan pelayanan

meja bagi kaum janda, duda,dan yatim piatu, bahkan warga

jemaat yang berada dalam kekurangan secara jasmani bisa di

perhatikan dan diberi dukungan secara moril.

Sebagai gembala jemaat selalu mencerminkan motif

gembala Agung kita, yang pelayanannya selalu setia dalam

keadaan apapun, dan sikap kasih yang sangat tinggi terhadap

domba-dombanya ( Markus 5:34 ).

Menurut William A.Clebsch dan Carles R.Jakl dalam

bukunya yang berjudul Pastoral Care Historical Perspective, ada

empat fungsi pastoral ( gembala ) : yaitu Penyembuhan (

Healing ), Penopangan ( Sustaining ), Pembimbing ( Building ),

dan Perdamaian ( Reconciling ). Yang dimaksud dengan empat

fungsi ini ialah:

- Penyembuhan adalah salah satu fungsi dan tanggung jawab

gembala yang bertujuan untuk mengatasi beberapa kerusakan


13

dengan cara mengembalikan orang itu pada suatu kebutuhan dan

menuntun di ke arah yang lebih baik dari pada kondisi

sebelumnya.

- Penopangan berarti menolong orang yang terluka untuk

bertahan dan melewati suatu keadaan yang lebih baik.

- Pembimbing berarti membantu orang-orang yang

kebingungan untuk menentukan pilihan-pilihan yang pasti

diantara berbagai pikiran dan tindakan alternative/solusi untuk

berikan pandangan yang terbaik dan benar sesuai Firman Tuhan.

- Pendamaian berupa membangun ulang relasi manusia dengan

sesame dan manusia dengan Allah.

b. Tanggung Jawab Gembala sebagai Pelayan

Menurut Van Itterson ( Michael west, 13-14 2003 )

mengatakan bahwa jabatan gereja adalah jabatan pelayanan ini

berarti bahwa gembala di tuntun lebih mengarah kepada kata

melayani, karena Tuhan Yesus sendiri membuktikan sikap melayani

yang luar biasa, “ Anak manusia datang bukan untuk di layani

melainkan untuk melayani “ ( Matius 20:26-28 ) pelayanan Tuhan

haarus memiliki kepribadian sikap yang mencerminkan kehidupan

Kristus. Artinya memiliki hati, tubuh dan jiwa dan seluruh aspek

kehidupan menunjukan seorang pelayan Tuhan yang mengiringi Dia

dalam pekerjaan yang mulia.


14

3. Peningkatan kualitas dalam Pelayanan

a. Keaktifan Dalam Pelayanan

Untuk mencapai kemajuan atau peningkatan kualitas

pelayanan dalam meningkatkan rohani jemaat maka factor yang

mempengaruhi adalah sikap yang aktif, artinya selalu siap sedia

untuk melayani warga jemaatnya. Memberikan pembekalan rohani

kepada jemaat, Ini adalah sikap yang harus dimiliki oleh setiap orang

yang memegang jabatan gembala jemaat. Dan ini di pertajam oleh

perkataan Tuhan Yesus, “ BapaKu bekerja sampai sekarang, maka

akupun bekera juga “ ( Yohanes 5: 17 ).

b. Melayani Dengan Sungguh-Sungguh

Kata melayani berarti tindakan atau sikap seseorang untuk

menerima atau menyediakan tempat atau kesempatan, artinya

pelayanan yang memiliki dua dimensi, yaitu melayani melalui

pemberian barang dan jasa dan pelayanan melalui suatu interaksi.

Dengan kata lain bahwa setiap pelayanan yang kita bawa hrus

mencerminkan nilai-nilai Kristus yang terkandung dalam buah-buah

roh ( Galatia 5 : 22 ) kemudian dimpletasikan atau di praktekkan

dalam kehidupan sehari-sehari didalam pengembalaan jemaat.


15

B. Kerangka Berfikir

Yang di maksud dengan kerangka berfikir adalah landasan berpijak

yang akan memberikan arah secarah sistematis, agar dapat mengatasi berbagai

yang di hadapi di lapangan. Dengan adanya kerangka pemikiran ini, tentunya

akan mempermudah setiap penelitian dalam perumusan masalah yang

kemudian di pecahkan dengan teori yang mendukung persepsi yang

dikemukakan oleh Lincshoten, bahwa tanggapan resperesentatif ( tanggapan

mengimajinasikan ).

Manusia berfikir berusaha memecahkan segala gejalanya dengan

kekuatan kemahiran akal budi ( Petrus Sarjhono,1982 : 10 ). Berdasarkan kedua

teori di atas ini, maka penulis mendapatkan gambaran yang jelas tentang situasi

yang di hadapi serta mengetahui faktor-faktor yang ikut memegang peranan

dalam pembahasan masalah yang sebuah penafsiran bahwa sebagai seorang

gembala harus memberikan pelayanan yang sungguh-sungguh secara terus

menerus bagi pertumbuhan rohani jemaat GTDI Bethlehem. Maka sikap

gembala harus benar-benar melayani dan dapat menjadi teladan bagi semua

jemaat yang dilayaninya.

Anda mungkin juga menyukai