Anda di halaman 1dari 3

TUGAS HIDROLOGI

REVIEW JURNAL

DISUSUN OLEH:

Kelompok :1
Kelas : Meteorologi 3B
Nama Anggota :

1. Anisa Suryani
2. Henqy Indra Kurniawan
3. Muhammad Ikko Safrilda Maulana
4. Muhammad Musa Yoga Mahendra
5. Muhammad Rizaldi Ainurahman
6. Safinatunnajah Dinda Putri

SEKOLAH TINGGI METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA


TANGERANG SELATAN
2019
Review Jurnal

Judul Hidrologi DAS Ciliwung dan Andilnya Terhadap Banjir Jakarta

Jurnal Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika


Volume & Halaman Vol. 3 No.1, Maret 2016
Tahun 2016
Penulis Marlina Nababan , Bayong Tjasyono

Tanggal Maret 2016

Abstrak Hujan lebat yang dihasilkan oleh awan-awan jenis Cumuliform akan
menjadi bencana banjir apabila curah hujan dengan intensitas tinggi
dan durasi lama meluap pada daerah aliran sungai (DAS). Bencana
banjir yang terjadi diwilayah Jakarta pada tanggal 17 Januari 2014
bahkan telah menyebabkan 11 warga meninggal dunia serta banyak
kerugian materi lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
factor meteorologi yaitu paras kondensasi dan ketebalan awan dari
data radiosonde, intensitas hujan dari pias pluviogram serta
melakukan kajian dengan isohyet diarea banjir sebelum, saat, dan
sesudah kejadian banjir. Penelitian ini dilakukan dengan
menggunakan analisis diagram aerodinamik, pluviograf, citra radar
cuaca serta membuat peta isohyet. Cara analisis data menggunakan
analisis deskriptif, komperatif, dan spasial. Hasil menunjukkan
bahwa bencana banjir yang terjadi diwilayah Jakarta merupakan tipe
awan – awan konvektif dengan tinggi dasar awan konvektif cukup
rendah, yaitu kurang dari satu kilometer dan awan cukup tebal antara
7,6 km sampai 8,2 km, intesitas hujan per jam lebih dari 20 mm
(hujan sangat lebat) terjadi setelah jam 12.00 waktu setempat yang
disebabkan oleh konveksi darat, serta terkonsentrasi di wilayah
Jakarta Utara dengan pergerakan awan dari Timur Laut bergerak
menuju Barat Daya.

Tujuan Penelitian Menganalisis faktor meteorologis sebelum, saat, dan sesudah


kejadian banjir.

Latar Belakang Hujan lebat yang dihasilkan oleh awan-awan jenis Cumuliform akan
menjadi bencana apabila curah hujan dengan intensitas tinggi dan
durasi lama meluap pada daerah aliran sungai (DAS), yaitu disebut
fenomena bencana banjir. Bencana banjir salah satu bencana alam,
yang menyebabkan korban jiwa dan kerugian ekonomi yang besar
(WMO, 1998). Bencana banjir yang terjadi diwilayah Jakarta pada
tanggal 17 Januari 2014 bahkan telah menyebabkan 11 warga
meninggal dunia serta banyak kerugian materi lainnya
(berita2bahasa, 2014).
Metode Data yang digunakan dalam melakukan analisis kejadian bencana
banjir berdasarkan karakteristik awan di Jakarta pada tanggal 17
Januari 2014 diperoleh dari Badan Meteorologi Klimatologi dan
Geofisika (BMKG) sebagai data sekunder. Data cuaca yang dikoleksi
yaitu : 1. Data Curah Hujan, 2. Data Radiosonde, 3. Data Radar
Cuaca.
Langkah langkah a) Analisa Data Radiosonde dengan Diagram Aerodinamik.
b) Membuat Peta Isohyet.
penelitian
c) Analisa Data Pluviogram.
d) Analisis Radar Cuaca.
Analisis dan Hasil

Kesimpulan 1. Berdasarkan hasil olahan data sounding diketahui tinggi dasar


awan dan ketebalan awan menjustifikasi bahwa awan lebat berasal
dari awan – awan konvektif. Selama periode sebelum, saat dan
sesudah kejadian banjir, tinggi dasar awan konvektif cukup rendah
kurang dari satu kilometer dan awan cukup tebal antara 7,6 km
sampai 8,2 km.
2. Hujan yang terjadi sepanjang tanggal 14 – 20 Januari 2014 dengan
intesitas hujan perjam lebih dari 20mm ( hujan sangat lebat) terjadi
setelah jam 12.00 waktu setempat, disebabkan oleh konveksi darat.
Hal ini menunjukkan bahwa energi panas yang membentuk gaya
konvektiftermal berasal dari radiasi gelombang panjang bumi dan
bukan secara langsung dari radiasi gelombang pendek matahari.
Selain itu di wilyah Jakarta Utara disebabkan oleh konveksi laut
menjelang fajar akibat beda fisis antara laut dan darat hal ini
didukung
dengan data radar cuaca, sehingga pada siang hari darat dapat jauh
lebih panas dan pada malam sampai pagi hari laut jauh lebih panas
dari darat.
3. Peta Isohyet menunjukkan banjir di wilayah Jakarta dengan
intensitas lebat hingga sangat lebat terkonsentrasi di wilayah Jakarta
Utara didukung oleh citra radar cuaca yang memperlihatkan sebaran
awan dengan reflektivitas tinggi (40 – 45 dBz) tersebar di wilayah
Jakarta Utara.