Anda di halaman 1dari 19

RESUME

PERSPEKTIF PENDIDIKAN SD
MODUL 1 & 2

Disusun Oleh Kelompok 1

KETUA : MARWOTO
ANGGOTA HENNY SUCIYANTI 835031536
SITI NURHAYATI
AZIZAH
YENI SISMIANA
UPBJJ-UT : MUARA BELITI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIT PROGRAM BELAJAR JARAK JAUH (UPBJJ)
UNIVERSITAS TERBUKA
PALEMBANG
2019
MODUL 1
LANDASAN PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR

PENDAHULUAN

Jenjang pendidikan dasar mencakup Pendidikan Anak Usia Dini Formal (PAUD

Formal), Taman Kanak-kanak atau TK dan pendidikan di Sekolah Dasar (SD), serta Sekolah

Menengah Pertama (SMP). Dilihat dari kedudukan dan perannya, SD merupakan jenis

pendidikan formal paling awal yang member landasan bagi pendidikan selanjutnya, yaitu

pendidikan SMP. Mulai dari Sekolah Dasar inilah proses pencerdasan anak bangsa secara

formal dimulai. Secara konstitusional, seperti tertera dalam Pembukaan Undang-Undang

Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, secara tegas dinyatakan bahwa salah satu

tujuan membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah untuk mencerdaskan

kehidupan bangsa.

Modul ini merupakan bagian dari mata kuliah Perspektif Pendidikan Sekolah Dasar,

yang secara khusus membahas Landasan Pendidikan Sekolah Dasar, yang meliputi landasan

filosofis, psikologis-pedagogis, sosiologis-antropologis, historis, ideologis dan yuridis

pendidikan sekolah dasar. Dalam mempelajari modul ini anda akan diajak untuk menjelajahi

berbagai sisi dari pemikiran pakar-pakar terkait tentang sistem pendidikan nasional. Secara

proporsional penjelajahan terhadap pemikiran tersebut akan mencakup pembahasan tentang :

Apa yang menjadi landasan pendidikan Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI)?.


KEGIATA BELAJAR 1
LANDASAN FILOSOFIS, PSIKOLOGIS-PEDAGOGIS DAN SOSIOLOGIS-
ANTROPOLOGIS PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR

A. Landasan Filosofis dan Psikologis-pedagogis Pendidikan Sekolah Dasar

Pandangan Filosofis adalah cara melihat pendidikan dasar dari hakikat pendidikan

dalam kehidupan manusia. Pertanyaan yang mendasari landasan filosofis yaitu untuk apa

Sekolah Dasar dikembangkan.

Cara pandang psikologis-pedagogis adalah cara melihat pendidikan dasar dari fungsi

proses pendidikan dalam pengembangan potensi individu sesuai dengan karakteristik

psikologis peserta didik. Pertanyaan yang mendasari landasan psikologis-pedagogis ialah

bagaimana pendidikan dasar dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didiknya ?.

Cara pandang sosiologis-antropologis adalah cara melihat pendidikan dasar dari fungsi

sosialisai atau pendewasaan peseta didik dalam konteks kehidupan bermasyarakat dan proses

enkulturasi atau pewarisan nilai dari generasi tua kepada peseta didik yang sedang

mendewasa dalam konteks pembudayaan. Pertanyaan pokok dalam kedua proses tersebut

adalah bagaimana pendidikan dasar meletakkan dasar dan mengembangkan secara

konstektual sikap sosial dan nilai-nilai kebudayaan untuk kepentingan pesrta didik dalam

kehidupan bermasyarakat dan kebudayaan ?. Bentuk pendidikan sekolah dasar disediakan

untuk menampung anak usia sekolaj 6 (enam) sampai 13 (tiga belas) tahun.

1. Landasan Filosofis dan Psikologis-pedagogis

Landasan ini mewakili cara pandang pakar dalam bidang filsafat, psikologis,

pedagogik/ ilmu pendidikan untuk usia 6-13 tahun. Sekolah Dasar/ Madrasah

Ibtidaiyah (SD/MI) merupakan salah satu bentuk pendidikan pada pendidikan dasar

dalam jalur pendidikan formal di Indonesia pada saat ini.

Ada beberapa pendapat tentang keniscayaan pendidikan untuk usia itu.


 Pelembagaan proses pendidikan untuk usia dalam sistem pendidikan

persekolahan diyakini sangat strategis, artinya sangat tepat dilakukan untuk

mempengaruhi, mengondisikan dan kedewasaannya secara sistematik dan

sistemik.

 Proses pendewasaan yang sistematik dan sistemik itu diyakini lebih efektif

dan bermakna, artinya lebih memberikan hasil yang baik dan

menguntungkan, dari pada proses pendewasaan yang dilepas secara alami.

 Berbagai teori psikologis khususnya teori belajar yang menjadi landasan

konseptual teori pembelajaran, seperti teori behaviorisme, kognitifisme,

humanis dan sosial.

Filsafat pendidikan seperti perenialisme (pewarisan kebudayaan), esensialisme

(transformasi nilai esensial), progresifisme (pengembangan potensi individu) , dan

rekonstruksionalisme sosial sangat mendukung proses pendewasaan anak melalui

pendidikan persekolahan.

Terkait pada berbagai pandangan pakar tersebut diatas, marilah kita bahas

secara singkat teori Kognitifisme, Historis-Kultural, dan Humanistik. Ketiga teori

ini sangat relevan untuk menggali landasan filosofis dan psikologis-pedagogis

pendidikan SD/MI

- Teori Kognitifisme (Perkembangan kognitif – Jean Piaget)

Piaget menegaskan bahwa pengetahuan bukanlah duplikat dari objek, dan

bukan pula sebagai tampilan kesadaran dari bentuk yang ada dengan

sendirinya dalam diri individu. Pengetahuan sesungguhnya merupakan

konstruksi pikiran yang terbentuk, karena secara biologis adanya interaksi

antara organisme dengan lingkungan dan secara kognitif adanya interaksi

antara pikiran dengan objek.


Secara teoritik perkembangan kognitif ,mencakup 3 proses mental yaitu

assimilation atau asimilasi adalah integrasi data baru dengan struktur

kognitif yang sudah ada dalam pikiran. Accommodation atau akomodasi

menunjuk pada proses penyesuaian struktur kognitif dengan situasi baru.

Sedangkan equilibration ekuilibrasi adalah proses penyesuaian yang

sinambung antara asimilasi dan akomodasi.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Piaget meneorikan adanya empat

tahap perkembangan kognitif yaitu :

 Tahap sensori motorik

 Tahap praoperasional

 Tahap operasi konkret

 Tahap operasi formal

- Teori Historis-Kultural (Lev S. Vygotsky)

Teori ini memusatkan perhatian pada penggunaan symbol sebagai alat,

dengan dasar pemikiran bahwa manusia menemukan alat yang telah

mengantarkan kemajuan bagi umat manusia. System symbol yang

dikembangkan adalah bahasa lisan dan tulisan, system matematika, notasi

musik dan lainya. Teori ini mendasari pada konsep bahwa aktivitas mental

adalah sesuatu hal yang unik hanya pada manusia. Hal ini merupakan

produk dari belajar sosial. Aktivitas mental yang tinggi memungkinkan

pembentukan dan perkembangan proses mental manusia yang lebih

tinggi.

Teori Vygotsky mengidentifikasi adanya tiga konsep pokok yang terkait

erat dengan pembelajaran yaitu

- Hukum genetik perkembangan


Pertumbuhan dan perkembangan kognitif seseorang

berlangsung dalam dua tataran yaitu lingkungan sosial dan

suasana psikologis

- zona perkembangan proksimal

ruang antara perkembangan aktual (kemampuan memecahkan

masalah secara mandiri) dan perkembangan potensial

(menyelesaikakan pekerjaan dibawah bimbingan orang lain)

- mediasi

simbol-simbol seperti bahasa, lambang dan semiotika yang ada

dalam lingkungan digunakan untuk mengungkapkan

kemampuannya.

- Teori Humanistik

Pendidikan humanistik adalah pendidikan manusia secara utuh dan

menyeluruh. Pendekatan humanistik memiliki karakteristik sebagai

berikut :

- Menjadikan peserta didik sendiri sebagai isi, yakni mereka

sendiri belajar tentang perasaannya dan prilakunya.

- Mengenal bahwa imajinasi peserta didik seperti dicerminkan

dalam seni, impian, cerita dan fantasi sebagai hal yang penting

dalam kehidupan.

- Memberikan perhatian khusus terhadap ekspresi non-verbal

seperti isyarat dan nada suara karena diyakini hal itu sebagai

ungkapan perasaan dan sikap yang dikomunikasikan.

- Menggunakan permainan, improvisasi dan bermain peran

sebagai wahana simulasi prilaku yang dapat dikaji dan diubah.


Kurikulum bermuatan humanistic memusatkan pada isu-isu tentang

manusia, seperti kebutuhan berteman, prilaku agresif dan lain-lain yang

dirancang untuk membantu peserta didik agar dapat mengelola persoalan

didalam kehidupannya, juga termasuk proses kurikulum yang

memanusiakan. Ada tujuh aspek tujuan pendidikan humanistic yakni :

- Perkembangan personal, ex kematangan berbicara

- Prilaku kreatif yang mencakup pengembangan kemurnian,

kreativitas imajinasi, interpretasi baru, makna baru dan

sejenisnya, seperti bermain untuk membuat berbagai bentuk

dari tanah liat.

- Kesadaran antar pribadi ex setiap orang pasti membutuhkan

orang lain untuk berteman.

- Orientasi terhadap mata pelajaran atau disiplin ilmu.

- Materi, seperti pengetahuan sosial, matematika, dll.

- Metode pembelajaran afektif ex bermain peran sosial.

- Guru dan tenaga kependidikan lainnya.

B. Landasan Sosiologis-Antropologis Pendidikan Sekolah Dasar

Dilihat secara sosilogis dan antropologis masyarakat dan bangsa Indonesia sangatlah

heterogen dalam segala aspeknya. Masyarakat dan bangsa Indonesia memiliki fenomena

yang bersifat pluralistic. Keaadaan itu yang merupakan suatu condition sine quanom atau

kenyataan yang merupakan keniscayaan yang secara nyata akan mempengaruhi praktis atau

kehidupan nyata pendidikan nasional kita, oleh karena itu, system pendidikan nasional

Indonesia menganut prinsif diversifikasi dalam pengembangan kurikulumnya.

Secara sosiologis Indonesia merupakan masyarakat agraris dan maritime yang secara

terus menerus mengalami transformasi menjadi masyarakat modern dengan cara


memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan kealitas

kehidupannya. Bila semua prinsip pendidikan nasional dapat diwujudkan dengan baik, maka

keberagaman yang dimiliki oleh masyarakat dan bangsa Indonesia akan terakomodasi dalam

sistem pendidikan nasional. Dengan demikian pendidikan sekolah dasar akan mampu

memfungsikan dirinya sebagai lembaga pendidikan formal yang member landasan

pengembangan diri sebagai individu purta putrid Indonesia dan member landasan yang kuat

untuk melanjutkan pada pendidikan SMP dan sejenisnya.

Secara antropologis, Indonesia merupakan masyarakat multietnis dan multiras.

Kesemua hal itu merupakan kenyataan yang perlu terakomodasi dalam pelaksanaan system

pendidikan nasional. Terkait erat dengan keberagaman masyarakat dan bangsa Indonesia

system pendidikan nasional menerapkan prinsip pendidikan yang demokratis, berkeadilan

dan tidak diskriminatif, pendidikan terbuka dan multimakna, pendidikan sebagai proses

pembudayaan dan pemberdayaan sepanjang hayat dan pendidikan dengan memberdayakan

semua komponen masyarakat.

Kesemua prinsip pendidikan tersebut merupakan wahana programatik yang

memungkinkan system pendidikan nasional mampu mengakomodasikan keberagaman sosial

dan budaya masyarakat dan bangsa Indonesia.


MODUL 2
KARAKTERISTIK PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR

PENDAHULUAN

Dalam modul 1 telah dikaji landasan pendidikan SD yang merupakan fondasi dari

berbagai pemikiran dan praktek dalam mengembangkan pendidikan SD. Secara garis besar,

modul ini akan memandu anda untuk mengkaji fungsi dan tujuan pendidikan SD, cirri khas

pendidikan SD, tatanan organisasi pendidikan SD, serta berbagai bentuk penyelenggaraan

pendidikan SD.

Sebagai seorang guru SD,hendaknya kita tidak ketinggalan dalam perkembangan

zaman. Oleh karena itu, wawasan guru tentang karakteristik pendidikan SD harus selalu

berkembang, sehingga mampu berperan sebagai guru SD pada era globalisasi ini. Penguasaan

terhadap bahan kajian karakteristik pendidikan SD akan memungkinkan kita memiliki

wawasan yang lebih komprehensif tentang pendidikan SD, yang selanjutnya akan membuat

kita merasa lebih yakin akan segala tindakan yang akan dilakukan sebagai guru SD.

KEGIATAN BELAJAR I
FUNGSI, TUJUAN DAN CIRI-CIRI PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR

A. Fungsi dan Tujuan Pendidikan Sekolah Dasar

Fungsi dan tujuan pendidikan SD bersumber dari fungsi dan tujuan pendidikan nasional

yang tercamtum dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2003 Tentang Sistem

Pendidikan Nasional, ditetapkan bahwa : “ Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan

kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka

mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar

menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis,

serta bertanggung jawab”.

Sesuai dengan tujuan pendidikan nasional seperti dikutip di atas, tujuan pendidikan

dasar adalah memberikan bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk mengembangkan

kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara dan aggota umat manusia

serta mempersiapkan siswa untuk mengikuti pendidikan menengah. Khusus untuk SD, tujuan

pendidikan adalah memberikan bekal kemampuan dasar baca-tulis-hitung, pengetahuan dan

ketrampilan dasar yang bermanfaat bagi siswa sesuai dengan tingkat perkembangnya, serta

mempersiapkan mereka untuk mengikuti pendidikan di SMP.

Jika disimak secara cermat, tujuan pendidikan SD dapat dipilah menjadi 3 kelompok

sebagai berikut :

1. Menanamkan kemampuan baca-tulis-berhitung

Kemampuan dasar baca-tulis-berhitung dianggap merupakan persyaratan bagi

setiap orang untuk mampu hidup secara wajar dalam masyarakat yang selalu

berkembang.

2. Menanamkan pengetahuan dan keterampilan dasar.

Keterampilan dasar ini sering disebut life skills. Life Skills dapat dimaknai sebagai

keterampilan yang diperlukan oleh setiap orang agar mampu menjalani hidup

secara wajar dan sukses. Paling tidak keterampilan hidup dapat dipilah menjadi :

keterampilan akademik (baca-tulis-hitung), keterampilan sosial mencakup

keterampilan untuk berinteraksi dengan orang lain, keterampilam personal terkait

dengan kemampuan memahami diri sendiri seperti merasa yakin dengan

kemampuan diri, memiliki rasa percaya diri ataupun mampu mengendalikan diri

dan keterampilan vokasional yaitu keterampilan yang memungkinkan seseorang

mencari nafkah, misalnya keterampilan menjahit, mengetik, bertani, dan lain-lain.


3. Mempersiapkan siswa untuk mengikuti pendidikan SMP

Penyiapan siswa untuk mengikuti pendidikan SMP terutama dilakukan di kelas

tinggi SD, khususnya kelas VI.

B. Karakteristik Pendidikan Sekolah Dasar

Dalam uraian ini, kita hanya akan membahas secara sepintas komponen-komponen

tersebut untuk melihat perbedaannya dengan satuan pendidikan lainnya. Secara lengkap

pembahasan dikelompokkan menjadi dua bagian besar, yaitu karakteristik umum dan

karakteristik khusus pendidikan SD.

1. Karakteristik Umum Pendidikan SD

Ada emapat sasaran utama dalam pendidikan SD, yaitu sebagai berikut :

a. Kemelekwacanaan (literacy) merujuk kepada pemahaman siswa tentang

berbagai fenomena/ gagasan di lingkungannya dalam rangka menyelesaikan

perilaku dengan kehidupan.

b. Kemampuan berkomunikasi yaitu mampu mengomunikasikan sesuatu, baik

buah pikiran sendiri maupun informasi yang didapat dari berbagai sumber,

kepada orang lain dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

c. Kemampuan memecahkan masalah (problem solving), yang mencakup

merasakan adanya masalah, mengidentifikasi masalah, mencari informasi

untuk memecahkan masalah, mengeksplorasi alternative pemecahan masalah,

dan memilih alternative yang paling layak.

d. Kemampuan bernalar (reasoning) diarahkan untuk mengembangkan

kemampuan siswa berfikir logis sehingga kemampuan bernalarnya

berkembang. Siswa yang terlatih daya nalarnya, tidak akan cepat percaya pada

sesuatu yang tidak masuk akal.


2. Karakteristik Khusus Pendidikan SD

Meliputi pembahasan komponen-komponen pendidikan SD secara khusus, yang

meliputi pembahasan tentang siswa, guru, kurikulum, pembelajaran, gedung dan

fasilitas.

a. Siswa SD

Siswa SD adalah anak-anak yang berusia 6-12 tahun. Dari segi kemampuan

kognitif, siswa SD berada pada tahap pra-operasional, operasional konkret dan

awal operasi abstrak. Siswa SD khususnya siswa kelas awal, masih

berpandangan holistic. Mereka melihat dunia ini sebagai satu keseluruhan

yang terpadu, serta belum mampu melihat sesuatu sebagai bagian yang

terpisah-pisah.

b. Guru SD

Tugas guru SD berbeda dari tugas guru SMP dan SMA. Guru SD adalah guru

kelas yang wajib mengajarkan lima mata pelajaran di SD, yaitu Bahasa

Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial,

dan Pendidikan Kewarganegaraan. Sehubungan dengan tugasnya sebagai guru

kelas, guru SD bertanggung jawab penuh pada kelas yang dipegangnya, mulai

dari kehadiran siswa sampai pemberian rapor. Selain itu guru SD juga

mengerjakan administrasi kelas, bahkan kadang-kadang juga ditugaskan untuk

mengerjakan administrasi sekolah.

c. Kurikulum

Kurikulum SD mempunyai tujuan yang khas yaitu mengembangkan

kemampuan dasar anak SD. Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib

memuat :

 Pendidikan agama
 Pendidikan kewarganegaraan

 Bahasa

 Matematika

 Ilmu pengetahuan alam

 Ilmu pengetahuan sosial

 Seni dan budaya

 Pendidikan jasmani dan olahraga

 Keterampilan/ kejuruan

 Muatan lokal

Satuan waktu yang digunakan berubah-ubah sesuai dengan perubahan

kurikulum. Kurikulum SD 1994 menggunakan system catur wulan, kemudian

berubah menjadi sistem semester sampai sekarang. Durasi per jam pelajaran

adalah 35 menit baik untuk kelas rendah maupun kelas tinggi.

d. Pembelajaran

Pembelajaran di SD, lebih-lebih untuk kelas awal haruslah mengakomodasi

pandangan holistic anak serta perkembangan kognitif anak yang masih dalam

tahap akhir praoperasional dan operasi konkret. Pembelajaran terpadu atau

tematik, kegiatan konkret, kegiatan manipulative berupa pemberian

kesempatan untuk mengutak-atik benda-benda tertentu, serta pengalaman

langsung merupakan cirri utama pembelajaran di SD.

e. Gedung dan Peralatan Pembelajaran

Secara umum dapat dikatakan bahwa gedung SD terdiri dari 3-6 ruang kelas,

ruang guru dan ruang kepala sekolah. Ruang khusus untuk administrasi atau

perpustakaan tidak ada, bahkan kadang-kadang ruang gurupun tidak tersedia.

Gedung dan fasilitas SD pada umumnya lebih terbatas.


KEGIATAN BELAJAR 2
TATANAN ORGANISASI DAN BENTUK-BENTUK PENYELENGGARAAN
PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR

A. Tatanan Organisasi Sekolah Dasar

Sejak diberlakukannya Undang-Undang Otonomi Daerah, pendidikan SD menjadi

tanggung jawab bersama antara pemerintah pusat dan daerah. Dalam UU No. 20/2003

tentang Sistem Pendidikan Nasional, kewenangan terhadap pendidikan SD dipertegas dalam

Pasal 50 Ayat 1 – 5 yaitu sebagai berikut :

1. Pengelolaan sistem pendidikan nasional merupakan tanggung jawab Menteri.

2. Pemerintah menentukan kebijakan nasional dan standar nasional pendidikan untuk

menjamin mutu pendidikan nasional.

3. Pemerintah Daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan

untuk semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan

bertaraf internasional.

4. Pemerintah Daerah Propinsi melakukan koordinasi penyelenggaraan pendidikan,

pengembangan tenaga pendidikan dan penyediaan fasilitas penyelenggaraan

pendidikan lintas daerah Kabupaten/Kota untuk tingkat pendidikan dasar dan

menengah.

5. Pemerintah Kabupaten/Kota mengelola pendidikan dasar dan pendidikan

menengah, serta satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal.

Disamping pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah, masyarakat juga

mempunyai peran dalam pendidikan. Peran masyarakat secara umum, pendidikan berbasis

masyarakat, serta dewan pendidikan dan komite sekolah. Dewan dan komite sekolah

merupakan lembaga mandiri yang berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan

yang meliputi perencanaan, pengawasan dan evaluasi program pendidikan.


Secara lebih teknis, pengelolaan pendidikan SD terdapat dalam Rancangan Peraturan

Pemerintah (RPP) tentang pendidikan dasan dan menengah. Butir-butir penting yang dapat

digali dari RPP tersebut adalah sebagai berikut :

1. Pengelolaan

Berdasarkan pasal 24 yaitu :

a. Pengelolaan SD, MI atau bentuk lain yang sederajat dilaksanakan berdasarkan

standar pelayanan minimal dengan prinsip kemandirian dan manajemen

berbasis sekolah/ madrasah.

b. Pengelolaan SD, MI atau bentuk lain yang sederajat mencakup perencanaan,

pelaksanaan, pengawasan, pelaporan dan pertanggung jawaban.

c. Perencana tersebut disusun oleh sekolah dengan memperhatikan pertimbangan

dan arahan dari komite sekolah.

d. Pertanggungjawaban dilakukan oleh kepala sekolah kepada masyarakat

melalui komite sekolah.

e. Untuk kepertluan pertanggungjawaban dibidang keuangan komite sekolah

dapat menunjuk akuntan public atas beban pembiayaan sekolah.

Berdasarkan pasal 25 pengelolaan SD/MI dapat digabungkan dengan SMP, MTs

dalam satu atau dua satuan pendidikan

2. Sarana dan Prasarana

Berdasarkan pasal 26, yaitu :

a. Penyediaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan SD/MI

menjadi tanggungjawab satuan pendidikan yang bersangkutan dan dapat

memperoleh bantuan dari pemerintah pusat maupun daerah.

b. SD/MI harus memiliki sarana dan prasarana pendidikan yang diperlukan

dalam proses pembelajaran sesuai dengan kebutuhan, pertumbuhan fisik, dan


perkembangan kecerdasan intelektual dan emosional, perkembangan

kemampuan interaksi sosial dan kejiwaan peserta didik.

c. Sarana pendidikan meliputi sekurang-kurangnya alat tulis kelas, alat peraga,

dan bahan ajar.

d. Prasarana pendidikan meliputi sekurang-kurangnya ruang kelas, ruang

pendidik, ruang bermain, halaman bermain/ olahraga, perpustakaan, kantin dan

kamar kecil.

e. Sarana dan prasarana pendidikan harus memenuhi persyaratan standart

nasional pendidikan.

f. Prasarana pendidikan diimplementasikan oleh pemerintah daerah dan sekolah

secara bertahap.

B. Bentuk-bentuk Penyelenggaraan Pendidikan SD

Dapat dipilah menjadi pendidikan formal dan nonformal. Adapun bentuk-bentuk

penyelenggaraan pendidikan yang bersifat formal adalah :

1. Sekolah Dasar

2. Madrasah Ibtidaiyah

3. SD Unggulan atau Sekolah Nasional Plus

4. Sekolah Dasar Luar Biasa

5. SD Inklusi

Sementara itu, pendidikan SD yang bersifat nonformal tersiri dari paket A dan Sekolah

Rumah (home schooling).

1. Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah

Sekolah dasar merupakan jenjang pertama pendidikan dasar yang

menyelenggarakan pendidikan umum bagi anak-anak usia 6 – 12 tahun, sementara

MI adalah madrasah yang menyelenggarakan pendidikan umum setingkat SD.


2. SD Unggulan atau Sekolah Nasional Plus

Sekolah ini menyelenggarakan pendidikan umum dengan keunggulan yang

merupakan kelebihannya dari SD biasa. Kelebihan tersebut ialah sebagai berikut :

a. Penggunaan bahasa asing dalam komunikasi sehari-hari.

b. Jumlah jam pelajaran lebih banyak.

c. Tersedia pendidikan khusus ujian dan sertifikat bagi siswa yang memenuhi

standar kompetensi pada lembaga pendidikan global.

d. Fasilitas yang lengkap dan lebih baik dari sekolah nasional.

e. Jumlah siswa dalam satu kelas relative kecil, sekolah ini juga dapat

menggunakan Kurikulum Internasional.

3. Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB)

Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat

kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional,

mental, sosial dan memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. SDLB

menyediakan layanan pendidikan bagi anak-anak yang mempunyai kesulitan dalam

melihat (tunanetra), mendengar (tunarungu), fisik (tunadaksa), kelemahan mental

(tunagrahita), dan yang mempunyai kesulitan emosional sosial (tuna laras).

Sehubungan dengan itu, guru-guru yang mengajar di SDLB adalah guru-guru

Pendidikan Luar Biasa dari berbagai kelainan, disamping guru-guru SD biasa.

4. Sekolah Dasar Inklusi

Jika di SLBD berkumpul anak-anak dari berbagai kelainan, maka di SD Inklusi

berbaur anak biasa (normal) dengan anak luar biasa. Konsep inklusi sebenarnya

berawal dari Gerakan Pendidikan untuk Semua yang dicanangkan ole UNESCO.

Dengan demikian, di SD Inklusi akan terjadi perbauran antara anak-anak biasa


dengan anak-anak yang memerlukan pendidikan khusus karena mempunyai

kelainan fisik atau mental.

Sebagai konsekuensi adanya anak-anak luar biasa di SD biasa, maka SD biasa

harus dilengkapi dengan Guru Pembimbing Khusus (GPK), yaitu guru yang

mempunyai kompetensi membimbing anak-anak luar biasa, GPK dapat berupa

guru tetap atau guru kunjung.

5. Program Paket A

Program paket A merupakan program pendidikan nonformal setara SD/MI yang

diperuntukkan bagi para peserta didik yang berusia 15-44 tahun.Bersamaan dengan

program paket B setara SMP/MTs, program ini ditunjukan untuk menuntaskan

wajib belajar 9 tahun bagi warga Negara yang karena berbagai alasan tidak

mungkin mengikuti pendidikan formal. Sebagai pendidikan kesetaraan , program

paket A dapat diselenggarakan oleh berbagai lembaga, organisasi dan komunitas

belajar, diantaranya Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Sanggar

Kegiatan Belajar (SKB), pondok pesantren.

Program kesetaraan paket A, B, dan C dibina oleh Direktorat Jendral Pendidikan

Luar Sekolah dan Pemuda, Direktorat Pendidikan Masyarakat.

6. Sekolah Rumah (home schooling)

Ada beberapa alasan yang dikemukakan untuk memilih sekolah rumah,

diantaranya sebagai berikut :

a. Sekolah rumah memberikan suasana belajar yang lebih memotivasi dari pada

sekolah formal, sehingga dianggap dapat memberikan pendidikan yang lebih

baik, terutama pendidikan karakter.

b. Banyaknya kekerasan yang terjadi di sekolah formal, membuat orang tua

selalu khawatir tentang keselamatan anaknya.


c. Orang tua tidak setuju dengan kurikulum yang digunakan di sekolah yang

dianggap terlampau berat.

d. Alasan yang berkaitan dengan agama.

e. Susahnya transportasi ke sekolah, sehingga orang tua khawatir tentang

keselamatan anaknya di jalan.

f. Ada anak yang memang memerlukan bantuan khusus yang tidak dapat

dilayani oleh sekolah.

Sekolah rumah dapat di klasifikasikan menjadi tiga yaitu :

a. Sekolah rumah tunggal yaitu sekolah rumah yang diselenggarakan oleh orang

tua satu keluarga.

b. Sekolah rumah majemuk adalah sekolah rumah yang diselenggarakan oleh

orang tua dari dua atau lebih keluarga lain yang menerapkan sekolah rumah.

c. Komunitas sekolah rumah adalah gabungan dari beberapa sekolah rumah

majemuk.

Anda mungkin juga menyukai