Anda di halaman 1dari 103

KULIAH KERJA NYATA (KKN) ASET-BASED COMMUNITY-DRIVEN

DEVELOPMENT (ABCD)
ONLINE MARKETING DALAM MENGEMBANGKAN POTENSI
PEREKONOMIAN ASSET DESA JIWAN (ABON LELE, KERUPUK
KULIT LELE, PETERNAKAN LELE DAN KUE SEMPRONG)
DESA JIWAN KECAMATAN JIWAN KABUPATEN MADIUN

Oleh : Kelompok 03
1. Muhammad Dzul Hilmi Aziz (J71215129)
2. Moch. Rizal Muslimin (I73215036)
3. Arinal Haque (C02215008)
4. Abd Wahab Ats Tsaqofi (C91215035)
5. Mar‟ie Muhammad (C93215064)
6. Asroful Anam (C93215097)
7. M. Hasbi Ashshidqi (1601432255)
8. Mastaiah (1601251858)
9. Zijah Lestari (A71215092)
10. Luluk Nur Sayidatin Nisak (B02215011)
11. Indira Asa Putri (G74215147)
12. Mar‟atus Sholihah (I02215003)
13. Ardiya Cahyani SPS (C02215007)
14. Norain Binti Mohd Norizan (C42215196)
15. Fairuz Nafisah (H05215005)
16. Hana Farah Hibatullah (H75215017)
17. Ayani (D75215084)
18. Ummiya Mardlatillah (D08215015)

Dosen Pembimbing Lapangan:


Moh. Fathoni Hakim, M.Si
NIP. 198401052011011008

LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2019
PENGESAHAN PEMBIMBING

Bahwa Laporan Kuliah Kerja Nyata Transformatif dengan pendekatan


Asset Based Community-driven Development (ABCD) ini,
Judul Laporan :ONLINE MARKETING DALAM
MENGEMBANGKAN POTENSI PEREKONOMIAN
ASSET DESA JIWAN (ABON LELE, KERUPUK
KULIT LELE, PETERNAKAN LELE DAN KUE
SEMPRONG
Kelompok : 03
Lokasi KKN :Desa Jiwan, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun
Provinsi Jawa Timur
Telah memenuhi syarat untuk diterima sebagai kelengkapan pelaksanaan
KKN Transformatif ABCD UIN Sunan Ampel Surabaya Tahun 2019.

Surabaya, 20 Februari 2019


Dosen Pembimbing Lapangan

Moh. Fathoni Hakim, M.Si


NIP:198401052011011008

ii
PENGESAHAN LAPORAN KEPALA DESA

Bahwa Laporan Kuliah Kerja Nyata Transformatif dengan pendekatan


Asset Based Community-driven Development (ABCD) ini,
Judul Laporan :ONLINE MARKETING DALAM
MENGEMBANGKAN POTENSI PEREKONOMIAN
ASSET DESA JIWAN (ABON LELE, KERUPUK
KULIT LELE, PETERNAKAN LELE DAN KUE
SEMPRONG
Kelompok : 03
Lokasi KKN :Desa Jiwan, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun,
Provinsi Jawa Timur
Telah memenuhi syarat untuk diterima sebagai kelengkapan pelaksanaan
KKN Transformatif ABCD UIN Sunan Ampel Surabaya Tahun 2019.

Madiun, 20 Februari 2019


Kepala Desa Jiwan

Bapak Widayanto

iii
PENGESAHAN LAPORAN KULIAH KERJA NYATA

Bahwa Laporan Kuliah Kerja Nyata Transformatif dengan pendekatan


Asset Based Community-driven Development (ABCD) ini,
Judul Laporan : ONLINE MARKETING DALAM
MENGEMBANGKAN POTENSI PEREKONOMIAN
ASSET DESA JIWAN (ABON LELE, KERUPUK
KULIT LELE, PETERNAKAN LELE DAN KUE
SEMPRONG
Kelompok : 03
Lokasi KKN : Desa Jiwan, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun,
Provinsi Jawa Timur
Telah memenuhi syarat untuk diterima sebagai kelengkapan pelaksanaan
KKN ABCD UIN Sunan Ampel Surabaya Tahun 2019.

Surabaya, 20Februari 2019

Ketua LP2M UIN Sunan Ampel


Surabaya

Prof. Dr. H Sahid HM, M.Ag, MH.


NIP.196803091996031002

iv
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat
kesehatan dan kesempatan bagi kami, sehingga bisa mengikuti proses Kuliah
Kerja Nyata (KKN) dengan penuh semangat. Tak lupa pula, ungkapan rasa syukur
kepada Allah SWT seiring dengan selesainya Laporan Kuliah Kerja Nyata (KKN)
kelompok 03 dengan menggunakan pendekatan Asset Based Community-driven
Development (ABCD) di Desa Jiwan, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun.
Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada baginda Rosul Muhammad
SAW. juga kepada para keluarga, sahabat-sahabat, tabi‟in-tabi‟in, dan para „alim
ulama, yang telah membebaskan umat manusia dari zaman kebodohan menuju ke
zaman yang penuh dengan ilmu pengetahuan yakni datangnya agama Islam.
Laporan Kuliah Kerja Nyata (KKN) ini diajukan untuk memenuhi salah satu
tugas KKN yang bertujuan untuk melaksanakan pengabdian kepada masyarakat
dan mengharapkan pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan yang sebelumnya
belum pernah kami dapatkan di bangku kuliah, dan akhirnya bisa
mengaplikasikannya di tengah masyarakat.
Kami ucapkan terima kasih juga kepada semua pihak yang membantu dalam
proses KKN demi mendapat kelancaran baik di saat terjun ke lapangan maupun di
saat penulisan laporan Kuliah Kerja Nyata ini, kami ucapkan terima kasih dan
penghargaan yang setinggi-tingginya tersebut kepada yang terhormat:
1. Bapak Prof. Masdar Hilmy, S.Ag., MA, Ph.D., selaku Rektor Universitas
Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya.
2. Bapak Prof. Dr. H Sahid HM, M.Ag, MH, selaku Ketua LP2M UIN Sunan
Ampel Surabaya.
3. Bapak Moh. Fathoni Hakim, M.Si, selaku Dosen Pembimbing
Lapanganyang telah membimbing, mengarahkan dan memotivasi kami.
4. Bapak Widayanto selaku Kepala Desa Jiwan beserta jajarannya yang telah
memberikan sambutan terhangat dan memberikan dukungan baik moril
maupun materil.
5. Seluruh Kepala Dusun di Desa Jiwan, Dusun Jiwan 1, Dusun Jiwan 2,
Dusun Bagag, Dusun Mancaan. Terutama kepada Bapak Suyoso yang telah

v
menyambut, memberikan fasilitas, serta membantu melaksanakan kegiatan
kami, selama 30 hari di Desa Jiwan.
6. Kepada keluarga besar Ibu Sridan Ibu Yuli yang memberikan fasilitas
tempat tinggal yang nyaman, sehingga kami merasa seperti tinggal di
rumah sendiri.
7. Seluruh warga Desa Jiwan yang telah memberikan waktunya dan
keramahannya dalam menyambut kami.
8. Seluruh sahabat-sahabat KKN kelompok 03 dan semua sahabat-sahabat
yang telah membantu pelaksanaan KKN ini.
Semoga dengan segala bantuan, baik berupa arahan, masukan, sambutan,
partisipasi, fasilitas, dan lain sebagainya telah dicatat sebagai amal shaleh dan
diterima di Sisi Allah SWT. Dengan ungkapan yang tertaut dalam hati, kami
berharap semoga laporan ini bermanfaat bagi para pembaca, masyarakat Desa
Jiwan, dan kami kelompok KKN 03 khususnya.
Bila terdapat kesalahan dalam segi penulisan maupun isi dari penyusunan
laporan kami, itu semua murni karena kesalahan kami. Oleh karena itu, kami
sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari sahabat-sahabat
sekalian, utamanya kepada Dosen Pembimbing Lapangan kami, demi kemajuan
dan kebaikan pelaksanaan proses pembelajaran ini.
Wa Allah al-Muwafiq Ila Aqwami at-Thariq
Madiun, 20Februari 2019
Tim Penyusun

vi
DAFTAR ISI
PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG DESA JIWAN...................................................1
1.2 SEJARAH DESA JIWAN.....................................................................3
1.3 PROFIL DESA JIWAN.........................................................................5

BAB II METODE ABCD


2.1 PENGERTIAN DAN SISTEM ABCD................................................25
2.2 PRINSIP ABCD...................................................................................25

2.3 METODE DAN ALAT MENEMUKALISASI MOBILISASI


ASSET........................................................................................................33

BAB III PELAKSANAAN KKN TRANSFORMATIF ABCD


3.1 RANCANGAN DAN PEMETAAN ASET.........................................44
3.2 TAHAPAN DAN PEMETAAN ASET...............................................53
3.3 PEMETAAN DAN MOBILISASI ASET...........................................57

BAB IV MATERI KHUSUS


4.1 POSDAYA MAJELIS HAKIM BANI TAMTSIR..............................65
4.2 LINGKUNGAN HIDUP DAN KEBENCANAAN.............................75
4.3 GENDER MAINSTREAMING...........................................................79

BAB V PENUTUP
5.1 KESIMPULAN....................................................................................85
5.2 SARAN................................................................................................86

vii
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Susunan Pengantian Kepala Desa Jiwan sejak Berdirinya hingga
Sekarang
Tabel 1.2 Tata guna Lahan di Desa Jiwan
Tabel 1.3 Perkembangan Produk Desa Jiwan Tahun 2018
Tabel 1.4 Jumlah Penduduk Desa Jiwan berdasarkan Pendidikan Tahun 2018
Tabel 1.5 Jenis Mata Pencarian Penduduk Desa Jiwan Tahun 2018
Tabel 1.6 Jumlah Penduduk Desa Jiwan Tingkat Kepercayaan
Tabel 1.7 Persebaran Fasilitas Umum Desa Jiwan Tahun 2018
Tabel 2.1 Aset Personal/ Individu Desa Jiwan
Tabel 2.2 Aset Sosial
Tabel 2.3 Aset Institusi
Tabel 2.4 Aset Alam
Tabel 2.5 Aset Fisik
Tabel 2.6 Aset Spiritual
Tabel 2.7 Aset Kultural
Tabel 2.8 Penulusuran Wilayah
Tabel 2.9 Aset Individu
Tabel 3.1 Tahapan KKN ACBD
Tabel 3.2 Aset Personal Setiap Dusun
Tabel 4.1 Pemetaan Jama‟ah Majelis Taklim Bani Tamtsir
Tabel 4.2 Indikator Posdaya Berbasis Majelis Taklim
Tabel 4.3 Instrumen Analisa Gender Mainstreaming (A)
Tabel 4.4 Instrumen Analisa Gender Mainstreaming (B)
Tabel 4.5 Instrumen Analisa Gender Mainstreaming (C)
Tabel 4.6 Analisis Gender-Akses Pendidikan
Tabel 4.7 Analisis Gender- Akses Kesehatan
Tabel 4.8 Analisis Gender- Akses Pengetahuan Umum

viii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Denah Kabupaten Madiun
Gambar 1.2 Denah Kecamatan Jiwan
Gambar 1.3 Denah Desa Jiwan
Gambar 1.4 Struktur Lembaga Desa Jiwan Tahun 2019
Gambar 1.5 Struktur Badan Permusyawaratan Desa Jiwan Tahun 2019
Gambar 2.1 Siklus dan Tahapan Pengelolaan Perubahan Berdasarkan 4-D
Gambar 3.1 Pengajaran Al-Quran di TPQ Bani Tamtsir
Gambar 3.2 Kegiatan di TK Negeri Pembina Jiwan
Gambar 3.3 (a) SD Negeri Jiwan 01 (b) Kegiatan Mengajar BTQ
Gambar 3.4 (a) SD Negeri Jiwan 02 (b) Kegiatan Mengajar Hadrah
Gambar 3.5 Kegiatan Pelajaran Tambahan di Basecamp
Gambar 3.6 Lahan Persawahan

ix
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berdasarkan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan
Tinggi menyatakan bahwa Perguruan Tinggi memiliki tanggung jawab sosial
untuk dapat berperan dalam pembangunan nasional dan peradaban manusia
menuju lebih baik kedepan. Selain Pendidikan dan penelitian, pengabdian
kepada masyarakat merupakan salah satu bentuk Tridharma Perguruan Tinggi.
Dalam UU ini pengabdian pada masyarakat di artikan sebagai kegiatan civitas
akademika kegiatan pengabdian masyarakat memanfaatkan ilmu pengetahuan
dan teknologi. Hal tersebut bertujuan untuk memajukan kesejahteraan
masyarakat dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Salah satu kegiatan
pengabdian masyarakat adalah Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Kuliah Kerja Nyata (KKN) dikatakan sebagai cara dan strategi yang
digunakan di perguruan tinggi untuk melaksanakan tridhama pengabdian. KKN
juga merupakan bagian integral dari kurikulum di UIN Sunan Ampel Surabaya.
Selain itu, KKN merupakan media terjadinya experiental learning atau
pembelajaran berbasis pengalaman, karena mengedepankan interaksi langsung
dengan masyarakat.
Kegiatan KKN ini dilakukan di Desa Jiwan, Kecamatan Jiwan,
Kabupaten Madiun. Kegiatan KKN dilakukan dengan menggunakan
pendekatan ABCD (Aset-Based Community-DrivenDevelopment). Melalui
pendekatan ABCD, Kelompok KKN merupakan fasilitator dalam memberikan
ide dan mengembangkan Asset yang dimiliki oleh masyarakat Jiwan dengan
menyatukan warga untuk mencapai tujuan bersama.
Desa Jiwan, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun mempunyai 4 (empat)
dusun. Desa Jiwa mempunyai 44 wilayah RT dan terletak diperbatasan Kota
Madiun. Desa jiwan terdiri dari 4 dusun yang mana letak dusunnya dipisah oleh
Jalan Raya Solo-Surabaya.

1
Sebelah Jalan Raya Solo-Surabaya adalah wilayah Dusun 1 dan sebagain
Dusun 4. Sementara itu, sebelah selatan Jalan Raya adalah wilayah Dusun 2, 3
dan sebagian Dusun 4. Masyarakat Desa Jiwan memanfaatkan wilayahnya
untuk berbagai kebutuhan. Mayoritas wilayah yang ada di Desa Jiwan dijadikan
sebagai pemukiman penduduk. Selain itu masyarakat Desa Jiwan juga
memanfaatkan wilayahnya untuk daerah persawahan, peternakan ikan, toko-
toko, pabrik dan fasilitas umum lainnya.
Kondisi perekonomian di Desa Jiwan ini cukup baik dilihat dari
beragamnya profesi serta tingkat pendapatan masyarakat. Dari hasil penyusuran
KKN 03 UIN Sunan Ampel Surabaya ditemukan bahwasanya Desa Jiwan
memiliki beberapa aset yang dapat dikembangkan lebih lanjut yaitu peternakan
ikan lele, home industry yang bergerak dalam pembuatan abon ikan lele,
kerupuk kulit ikan lele, dan kue semprong. Kami melihat potensi besar untuk
lebih berkembang lagi, terutama dalam sektor pemasaran karnadengan
memfokuskan pada permintaan pasar dari luar akan meningkatkan
produktivitas dan perputaran modal atau keuangan. Peternakan ikan lele di
Desa Jiwan tersebar pada hampir di semua dusun, dengan sasaran pemasaran
yang hanya di jual di pasar sekitar madiun saja. Permasalahan yang seringkali
muncul terkait budidaya lele adalah harga pakan yang mahal, sedang Abon lele
dan keripik kulit lele juga menitik beratkan pada ketersediaan alat, dan
pemasaran yang lebih luas. Semprong memiliki kendala di pemasaran
meskipun online namun tidak sepenuhnya berjalan lancar.
Hal tersebut mendorong kelompok KKN 03 UIN Sunan Ampel untuk
membantu mencarikan penyelesaian terbaik yang bisa dilakukan. Penyelesaian
yang dipilih adalah dengan memberikan pelatihan marketing online dan offline,
harapan dari program ini adalah, agar asset yang ada di Desa Jiwan bisa
berkembang dan mencapai penjualan yang pesat seperti penjualan antar kota,
bahkan provinsi, dan bersaing dalam skala nasional dan juga bisa lebih
meningkatkan dan menjadikan peternakan lele sebagai ciri khas dan ikon dari
Desa Jiwan.

2
1.2 Sejarah Desa Jiwan
Kabupaten Madiun merupakan salah satu kabupaten yang berada di Jawa
Timur. Kota ini terletak 160 km sebelah barat Surabaya atau 111 km sebelah
timur Surakarta, Jawa Tengah. Bupati pertama kali di Kabupaten Madiun yaitu
bernama Eyang Dirjo, yang merupakan wargaasal dari Jawa Tengah, dan diikuti
oleh para pengurus yang terdiri dari para mantan Laskar Pangeran Diponegoro.
Diantaranya 2 bersaudara kakak beradik, yang tertua bernama Eyang Tisno
Widjojo. Pada masa itu, pusat pemerintahan kabupaten masih berada di sebelah
selatan Sungai Catur Madiun (Desa Kaibon).
Kemudian Bupati mengadakan sayembara berhadiah dengan tugas/babad
desa di sebelah barat sungai Bengawan Madiun. Sayembara dilakukan dengan
cara melempar “tampah” (bahasa Jawa) sejauh mungkin ke arah Utara condong
ke Barat. Eyang Tisna Widjaya kemudian diperintah untuk mencari tampah
tersebut dengan cara babad alas. Jika tampah tersebut sudah ditemukan, maka
Eyang Tisna Widjaya dipersilahkan bertempat di situ. Selanjutnya Eyang Tisna
Widjaya pamit berangkat babad alas untuk mencari tempat jatuhnya tampah
tersebut. Setelah beberapa saat menyeberangi sungai Bengawan, Beliau beserta
rombongan memutuskan untuk berhenti.
Usaha pertama ini, tidak membuahkan hasil sehingga Eyang Tisna
Widjaya bicara lantang pada para pengikutnya “Besok rejane zaman papan
kene iki tak jenengne Mancaan”. Usai mengatakan hal tersebut, Eyang Tisna
Widjaya melanjutkan pencarian kedua menuju arah Barat. Di tempat tersebut,
Eyang Tisna Widjaya menemukan sumber air yang cukup besar. Saat itulah,
Beliau kembali berbicara lantang lagi pada para pengikutnya dengan bahasa
Jawa “Besok rejane zaman papan kene iki tak jenengne Sumbermoro”.
Pencarian kedua tersebut belum menghasilkan apa-apa. Kemudian pencarian
dilanjutkan pada hari berikutnya.
Eyang Tisna Widjaya memiliki dua orang istri. Istri pertama bernama
Eyang Suci dan istri kedua bernama Eyang Murni. Pada suatu hari, saat

3
berjalan di sekitar daerah Sumbermoro Eyang Suci jatuh hingga kakinya
berdarah.
Karena hal tersebut, saat itu pula Eyang Tisna Widjaya bicara pada para
pengikutnya tentang Gares. Kata gares berasal dari bahasa Jawa yang artinya
garis. Gares kaki Eyang Suci yang sakit karena jatuh terkena padas tersebut
sekarang menjadi dusun Nggares yang masuk menjadi wilayah Desa Grobogan
Kecamatan Jiwan.
Dari Nggares menuju ke timur, terdapat medan berat yang mengandung
banyak lumpur dan padas. Mengetahui hal tersebut, Eyang Tisna Widjaya
berpesan pada kedua istrinya, dan para pengikutnya untuk alon-alon (bahasa
Jawa artinya pelan-pelan). Dari kata Alon ini wilayah tersebut sekarang
menjadi dusun Ndalon yang termasuk wilayah Desa Grobogan. Karena pada
saat itu waktu itu sudah masuk waktu siang, maka Eyang Tisna Widjaya
mempersilahkan pada para istri dan pengikutnya untuk beristirahat.
Sementara anggota rombongan beristirahat, Eyang Tisna Widjaya yang
masih penasaran hatinya karena belum juga menemukan “tampah” yang dicari
diam-diam melanjutkan kegiatan babad alas sendirian. Alhasil, Eyang Tisna
Widjaya bisa menemukan tampah-nya. Dengan suka cita, Beliau
menyampaikan kepada istri dan para pengikutnya “besok rejane zaman papan
iki tak jenengne Jiwan”. Kata Jiwan berasal dari kata Ijen (bahasa Jawa) yang
berarti tanpa rewang. Sedangkan kata lain dalam bahasa jawa yang seartian
dengan itu adalah siji. Kemudian kata siji ini hanya di ambil belakangnya saja
yaitu Ji-nya saja. Dan dari kata Siang atau bahasa Jawanya “Awan” hanya
diambil belakangnya saja yaitu kata Wan-nya. Dari situlah muncul kata Jiwan
yang sekarang menjadi nama Desa Jiwan yang juga menjadi nama ibu kota
Kecamatan Jiwan.
Berikut ini adalah tabel susunan pergantian Kepala Desa Jiwan sejak
berdirinya hingga sekarang yang dapat dilihat pada Tabel 1.1.

4
Tabel 1.1 Susunan Pergantian Kepala Desa Jiwan Sejak Berdirinya Hingga
Sekarang
No Tahun Kepala Desa Jiwan
1 - Bapak Dullah
2 - Bapak Rejo
3 1897-1901 Bapak Joyo Munadi
4 1901-1930 Bapak Reso Dikromo
5 1930-1944 Bapak Sukemi
6 1944-1958 Bapak Mangan Tenoyo
7 1958-1963 Bapak Somo Raja (Karateker)
8 1963-1990 Bapak Dawud
9 1990-1998 Bapak Thoha Rosuli
10 1998-2008 Bapak Suwito
11 2008-Sekarang Bapak Widayanto
Sumber: Kantor Desa Jiwan, 2019

1.3 Profil Desa Jiwan


1.3.1 Letak Geografis dan Administratif
Desa Jiwan termasuk dari wilayah geografis Kecamatan Jiwan,
Kabupaten Madiun yang merupakan titik pusat Ibu Kota Kecamatan Jiwan,
dimana terdapat Kantor Kecamatan Jiwan, Puskesmas Induk, Kantor Dinas
Kesehatan, Kantor Badan Penanggulangan dan Bencana, dan Koramil.
Kecamatan Jiwan ini terdiri dari 14 desa, salah satunya adalah Desa Jiwan yang
terletak kurang lebih 0,2 km dari Kecamatan Jiwan. Luas wilayah seluruh Desa
Jiwan yaitu ± 243.813 ha yang terbagi menjadi 4 (empat) Dusun antara lain:
Dusun. Jiwan 1 (utara), Dusun Jiwan 2 (selatan), Dusun. Bagag di Dusun 3, dan
Dusun. Mancaan di Dusun 4.
Berikut merupakan Gambar denah Kabupaten Madiun, Denah Kecamatan
Jiwan dan Denah Desa Jiwan yang ditunjukkan pada Gambar 1.1, Gambar 1.2,
dan Gambar 1.3.

5
Gambar 1.1Denah Kabupaten Madiun

Gambar 1.2 Denah Kecamatan Jiwan

6
Gambar 1.3 Denah Desa Jiwan

Secara administratif batas Desa Jiwan yaitu sebagai berikut:


a. Sebelah Utara : Desa Grobogan, Kecamatan Sawahan
b. Sebelah Timur : Kelurahan Nambangan Lor, Kota Madiun
c. Sebelah Selatan : Desa Metesih, Kecamatan Geger
d. Sebelah Barat : Desa Sukolilo, Kecamatan Maospati

Untuk Orbitasi Desa Jiwan secara umum adalah:


a. Jarak tempuh ke Ibu Kota Propinsi : 350 km
b. Jarak tempuh ke Ibu Kota Kabupaten : 3,50 km
c. Jarak tempuh ke Ibu Kota Kecamatan : 0,30 km

7
1.3.2 Klimatologi
Pada umumnya Desa Jiwan beriklim tropis basah dengan dua musim
yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Pada musim kemarau di bulan
April sampai dengan Oktober suhu udara rata-rata sekitar 35oC, sedangkan pada
musim hujan di bulan Oktober sampai dengan April suhu udara rata-rata sekitar
28oC, untuk suhu rata-rata harian sekitar 31oC. Adapun curah hujan rata-rata di
Desa Jiwan yaitu sekitar 125 mm/Tahun.

1.3.3 Topografi dan Tata Guna Lahan


Secara Topografi Desa Jiwan merupakan daerah dataran rendah dengan
luas 251,18 Ha, dan letak ketinggian elevasi sekitar 64 m di atas permukaan
laut. Secara umum tata guna lahan di Desa Jiwa yakni digunakan untuk tempat
pemukiman penduduk, persawahan, dan untuk fasilitas umum. Adapun
perincian penggunaan tata guna lahan dapat dilihat pada Tabel 1.2.

Tabel 1.2 Tata Guna Lahan di Desa Jiwan pada Tahun 2018
No Penggunaan Lahan Luas (Ha)
1 Tanah Sawah
Sawah irigasi teknis 69
Sawah irigasi 1/2 teknis 23
Sawah tadah hujan 15
Sawah Pasang Surut 0
Total Luas 107
2 Tanah Kering
Tegal/Ladang 50,42
Pemukiman 89,81
Pekarangan 12,32
Total Luas 152,55
3 Fasilitas Umum
Kas desa/kelurahan 17
Lapangan Olahraga 1,5
Perkantoran Pemerintah 3,1
Tempat Pemakaman Desa/umum 1,3
Bangunan Pendidikan 2,5

8
No Penggunaan Lahan Luas (Ha)
Pertokoan 1,8
Jalan 5,4
Usaha Perikanan 0,69
Sutet/Aliran Listrik Tegangan Tinggi 0,16
Total Luas 33,45
Total Penggunaan Lahan 293
Sumber: Kantor Desa Jiwan, 2019

Desa Jiwan dibagi menjadi empat wilayah yang mana letak dusunnya
dipisah oleh Jalan Raya Solo-Surabaya. Sebelah Jalan Raya Solo-Surabaya
adalah wilayah Dusun 1 dan sebagain Dusun 4. Sementara itu, sebelah selatan
Jalan Raya adalah wilayah Dusun 2, 3 dan sebagian Dusun 4.

1.3.4 Kondisi Demografi


1. Jumlah Kepadatan Penduduk
Indikator untuk melihat sejauh mana pertumbuhan dan perkembangan
suatu wilayah dapat dilihat dari peningkatan jumlah dan kepadatan penduduk
setiap tahunnya. Di Desa Jiwan terdapat 44 RT dan 10 RW dengan perincian
sebagai berikut:
a. Dusun 1 (Jiwan Utara) terdiri dari RT 1-13 dan RT 44 di Perum City
Garden.
b. Dusun 2 (Jiwan Selatan) terdiri dari RT 14-20, RT 41 yang berada di Perum
Seemon Garden, dan RT 43 berada di Kintan Sari Asri.
c. Dusun 3 (Ds. Bagag) terdiri dari RT 21- 29 dan RT 42 yang berada di
Perumahan Green Hill.
d. Dusun 4 (Ds. Mancaan) terdiri dariRT 30-40.
Jumlah penduduk Desa Jiwan pada tahun 2018 yaitu sekitar 6.458 jiwa.
Sedangkan berdasarkan pada jumlah KK sebanyak 2273 KK dengan kepadatan
penduduk sekitar 2.204,10 per KM.
Berikut merupakan tabel perkembangan jumlah penduduk Desa Jiwan
yang ditunjukkan pada Tabel 1.3

9
Tabel 1.3Perkembangan Penduduk Desa Jiwanpada Tahun 2018
No Keterangan Jumlah Penduduk
Laki-laki Perempuan
Jumlah Penduduk
Tahun 2018 3095 jiwa 3363 jiwa
1
Tahun 2017 3343 jiwa 3383 jiwa
% perkembangan -7,42 -0,59
Jumlah Keluarga
2 Tahun 2018 2273 KK 0 KK
Tahun 2017 1903 KK 527 KK
% perkembangan 19,44 -100
Sumber:Data tingkat PerkembanganDesa Jiwan, 2019

2. Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan


Pendidikan adalah hak segala bangsa. Masyarakat Desa Jiwan mayoritas
sudah menuntaskan Pendidikan pada tingkat SLTA. Untuk tingkat Pendidikan
selanjutnya di masyarakat desa masih jarang. Sarana Pendidikan di Desa Jiwa
nada 2 (dua) jenis yaitu:
a. Pendidikan Formal
Terdapat 5 pendidikan formal yaitu Taman Kanak-kanak (TK) Negeri
Pembina Jiwan, SDN Jiwan 01 dan 02, SMP Negeri Jiwan 01.
b. Pendidikan Non Formal
Adapun Pendidikan nor formal di Desa Jiwan yakni TPA Ar-Rahman
yang berada di Dusun 3, TPA As-Syarofah di Dusun 4, dan TPQ Bani
Tamtsir yang berada di Dusun 1.

Ditinjau dari tingkat Pendidikan di Desa Jiwan, diketahui bahwa


mayoritas penduduk Desa Jiwan memiliki Pendidikan terakhir yaitu lulusan
SMA sebanyak 500 jiwa dengan prosentase sebesar 17,2% dan lulusan SMP
sebanyak 300 jiwa dengan prosentase sebesar 10,3%. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada Tabel 1.4.

10
Tabel 1.4 Jumlah Penduduk Desa Jiwan Berdasarkan Tingkat Pendidikan
pada Tahun 2018
Jumlah Prosentase
No Tingkat Pendidikan
(jiwa) (%)
1 Usia 3-6 tahun yang masih belum TK 0 0
Usia 3-6 tahun yang sedang TK/ Play
2 200 6,9
Group
3 Tamat SD/ sederajat 200 6,9
4 Sedang SD/Sederajat 350 12,1
5 Tamat SMP/ sederajat 300 10,3
6 Sedang SMP/ Sederajat 300 10,3
7 Tamat SMA/ sederajat 500 17,2
8 Sedang SLTA/ Sederajat 320 11
9 Tamat D-3/ sederajat 200 6,9
10 Sedang D-3 200 6,9
11 Tamat S-1/ sederajat 200 6,9
12 Sedang S-1 78 2,7
13 Tamat S-2/ sederajat 50 1,7
Jumlah 2898 100
Sumber:Data tingkat Perkembangan Desa Jiwan, 2019

3. Jumlah Penduduk berdasarkan Mata Pencaharian


Ditinjau dari mata pencaharian penduduk Desa Jiwan dapat diketahui
bahwa mayoritas penduduknya bekerja sebagai karyawan perusahaan swasta
yakni sebanyak 1445 jiwa dengan prosentase sebesar 22,38%, dan sebagai
petani dengan prosentase sekitar 14,39% atau 929 jiwa. Lebih jelasnya
mengenai jenis mata pencaharian penduduk dapat dilihat pada Tabel 1.5.

Tabel 1.5 Jenis Mata Pencaharian Penduduk Desa Jiwan pada Tahun
2018
Jumlah Prosentase
No Mata Pencaharian
(jiwa) (%)
1 Petani 929 14,39
2 Buruh Tani 203 3,14

11
Jumlah Prosentase
No Mata Pencaharian
(jiwa) (%)
3 Pegawai Negeri Sipil (PNS) 387 5,99
4 Pengrajin 250 3,87
5 Pedagang Barang Kelontong 140 2,17
6 Montir 34 0,53
7 TNI 35 0,54
8 POLRI 145 2,25
9 Tukang Batu 70 1,08
10 Dukun Tradisional 23 0,36
11 Karyawan Perusahaan Swasta 1445 22,38
12 Wiraswasta 356 5,51
Tidak mempunyai pekerjaan
13 162 2,51
tetap
14 Belum bekerja 638 9,88
15 Ibu Rumah Tangga 1200 18,58
16 Perangkat Desa 8 0,12
17 Buruh Harian Lepas 68 1,05
18 Karyawan Honorer 75 1,16
19 Tukang Cukur 50 0,77
20 Tukang Las 25 0,39
21 Apoteker 165 2,55
22 Bidan Swasta 50 0,77
Jumlah 6458 100
Sumber:Data tingkat Perkembangan Desa Jiwan, 2019, 2019

4. Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Kepercayaan


Agama menjadi faktor penting dalam kehidupan warga Desa Jiwan.
Masyarakat Desa Jiwan yang berjumlah 6.458 jiwa dengan rincian 3.095 laki-
laki dan 3.363 perempuan mayoritas memeluk agama Islam. Tidak sulit untuk
menemukan masjid atau musholla di desa ini. Setiap dusun terdapat mushollah
yang difungsikan sebagai pusat kegiatan keagamaan.

Ditinjau dari tingkat kepercayaan yang ada di Desa Jiwan diketahui


bahwa mayoritas penduduk Desa Jiwan memeluk agama Islam dengan

12
prosentase sebanyak 97,55% dan jumlah penduduk sebanyak 6.300 jiwa.
Berikut merupakan tabel jumlah penduduk Desa Jiwan berdasarkan tingkat
kepercayaan yang dapat dilihat pada Tabel 1.6.

Tabel 1.6 Jumlah Penduduk Desa Jiwan Berdasarkan Tingkat


Kepercayaan
Prosentase
No Agama Jumlah
(%)
1 Islam 6300 97,55
2 Kristen 158 2,45
3 Katholik 0 0,00
4 Hindu 0 0,00
5 Budha 0 0,00
Jumlah 6458 100
Sumber: Kantor Desa Jiwan, 2019

5. Fasilitas Umum Desa


Fasilitas umum memegang peranan yang sangat penting sebagai salah
satu roda penggerak pertumbuhan dan pembangunan. Sarana dan prasarana
fisik merupakan bagian yang sangat penting dalam sistem pelayanan
masyarakat. Berbagai fasilitas fisik yang ada guna mendukung atau menunjang
berbagai kegiatan pemerintah, perekonimian, industri dan kegiatan sosial
masyarakat.
Ditinjau dari persebaran sarana dan prasarana yang ada di Desa Jiwan
terdapat fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, tempat ibadah dan prasarana
energi/penerangan. Berikut merupakan tabel persebaran fasilitas umum yang
ada di Desa Jiwan yang ditunjukkan pada Tabel 1.7

13
Tabel 1.7 Persebaran Fasilitas Umum di Desa Jiwan pada Tahun
2018
Jumlah
No Fasilitas Umum
(Unit)
Fasilitas Pendidikan
Play Ground 1
Taman Kanak-kanak (TK) 1
1
Sekolah Dasar 2
SLTP 1

Fasilitas Kesehatan
Puskesmas Pembantu 2
2
Posyandu 4
Apotik 1
Tempat Ibadah
Masjid 4
Musholla 17
3
Gereja 1
Vihara 0
Pura 0
4 Listrik (PLN) 1275
5 Pemakaman Desa 2
6 Koramil 1
BPDB (Badan Penanggulangan dan
7 1
Bencana)
8 Dinas Kesehatan 1
9 Bank 4
10 Jasa Pengiriman Barang 3
Sumber: Kantor Desa Jiwan, 2019

1.3.5 Kondisi Ekonomi


Kondisi perekonomian di Desa Jiwan dapat dilihat dari beberapamata
pencaharian masyarakat yang berdasarkan pada pendapatan perkapita menurut
sektor usaha yang ada.

14
1. Sektor Pertanian
Komoditi sektor pertanian di Desa Jiwan yaitu berupa padi yang merupakan
usaha produktif masyarakat Desa. Dari hasil pertanian ini dapat menjadi
kontribusi terhadap perekonomian masyarakat.
Dapat diketahui dari jumlah keluarga yang mempunyai lahan pertanian
sebanyak 42 keluarga, dengan jumlah total anggota sebanyak 168 orang.
Sedangkan untuk orang-orang yang bekerja sebagai buruh tani sebanyak 5
keluarga dengan jumlah total yang bekerja sebanyak 20 orang. Sehingga
diperoleh pendapatan perkapita dari sektor pertanian untuk setiap rumah tangga
sebesar Rp. 20.000.000,00 (Kantor Desa Jiwan, 2019).

2. Sektor Peternakan
Pada sektor peternakan terdapat beberapa jenis populasi ternak seperti
sapi, ayam, kambing dan lain-lain. Dengan adanya sektor peternakan yang
dimiliki oleh masyarakat di Desa Jiwan ini bisamemenuhi kebutuhan primer
dan sekunderuntuk sehari-sehari. Dapat diketahui bahwa jumlah keluarga yang
mempunyai usaha dalam bidang peternakan yaitu sebanyak 2 keluarga dengan
jumlah total anggota sebanyak 8 orang. Sedangkan orang-orang yang bekerja
sebagai buruh sebanyak 1 keluarga dengan jumlah total anggota sebanyak 5
orang. Sehingga dapat diketahui pendapatan perkapita dari sektor ini untuk
setiap rumah tangga sebesar Rp. 25.000.000,00 (Kantor Desa Jiwan, 2019).

3. Sektor Perikanan
Pada sektor perikanan ini terdapat beberapa populasi ikan yang
dibudidayakan seperti ikan lele, nila dan gurami. Dengan adanya budidaya ikan
ini dapat membantu perekonomian bagi masyarakat jiwan untuk memenuhi
kebutuhan sehari-harinya. Dapat diketahui bahwa jumlah penduduk Desa Jiwan
yang berprofesi sebagai budidaya ikan sebanyak 5 keluarga dengan jumlah total
anggota sebanyak 20 orang. Sedangkan jumlah orang-orang yang bekerja
sebagai buruh sebanyak 2 keluarga dengan jumlah anggota sebanyak 8 orang.

15
Sehingga dapat diketahui pendapatan perkapita pada sektor ini untuk
setiap rumah tangga sebesar Rp. 10.000.000,00 (Kantor Desa Jiwan, 2019).

4. Sektor Industri (Industri kecil/ Home Industry)


Sektor industri yang dituju dalam laporan ini adalah sektor Industri
Rumah Tangga dengan berbagai jenis kegiatan yang dikelola oleh Ibu Rumah
Tangga (IRT) dan/atau Kelompok Usaha. Usaha ini telah berkembang di tengah
masyarakat, dan mampu menjadikan daya tarik tersendiri dan menjadi salah
satu asset Desa Jiwan. Jenis-jenis industri kecil atau rumahan yang terdapat
pada Desa Jiwan adalah sebagai berikut:
a. Pembuatan abon lele;
b. Pembuatan kerupuk kulit lele;
c. Pembuatan krupuk Bandung;
d. Pembuatan kue semprong.
Berdasarkan data dari Kantor Desa Jiwan (2019), diketahui bahwa jumlah
rumah tangga yang mempunyai usaha tersebut terdapat 10 keluarga dengan
jumlah total anggota sebanyak 40 orang. Sedangkan jumlah orang-orang yang
bekerja sebagai buruh sebanyak 5 keluarga dengn jumlah total anggota
sebanyak 20 orang. Dengan begitu dapat diketahui jumlah pendapatan perkapita
dari sektor ini untuk setiap rumah tangga sebesar Rp. 10.000.000,00.

5. Sektor Jasa dan Perdagangan


Ditinjau dari sektor jasa dan perdagangan, dapat diketahui bahwa
masyarakat Desa Jiwan yang mempunyai suatu usaha tidaklah banyak, yakni
sekitar 5 keluarga dengan jumlah total 20 orang. Sedangkan jumlah orang-
orang yang bekerja sebagai buruh sebanyak 3 keluarga dengan jumlah total
sebanyak 15 orang. Sehingga dapat diketahui pendapatan perkapita dari sektor
ini untuk setiap rumah tangga sebesar Rp. 150.000.000,00 (Kantor Desa jiwan,
2019).

16
Beberapa warga Desa Jiwan yang mempunyai usaha perdagangan baik
skala kecil maupun menengah, dengan semakin berkembangnya sektor
perdagangan dapat memudahkan warga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Adapun usaha yang dilakukan warga di bidang perdagangan yaitu warung
makan, toko kelontong, toko sembako, dan juga toko bangunan. Sedangkan
warga yang bekerja di bidang sektor jasa di pemerintahan yakni sebagai
pegawai negeri sipil, bidan, polisi, TNI dan dosen.

1.3.6 Adat dan Kebudayaan


Budaya merupakan bagian dari adanya kehidupan bermasyarakat, budaya
akan selalu beriringan dengan perkembangan pemikiran manusia. Dengan
adanya budaya bisa menjadi suatu ciri khas suatu daerah yang tidak dpat
dipertukarkan dengan budaya lain dan menjadi pembeda antar daerah. Selain
itu, budaya memiliki makna atau mengandung nilai-nilai spiritual dari para
leluhur terdahulu, karena setiap budaya memiliki filosofi dengan tujuan yang
dianut oleh masyarakat setempat. Adapun budaya Desa Jiwan adalah sebagai
berikut:
1. Bersih Desa (Sedekah Bumi)
Bersih desa merupakan suatu warisan nilai-nilai luhur budaya lama
bahwa manusia dan alam menjadi satu. Ritual ini merupakan rangkaian
proses sebagai perwujudan syukur atas hasil panen yang melimpah warga
desa, selain itu juga bertujuan agar desa aman, bersih, masyarakat tentram
dan tidak ada pagebluk (wabah). Upacara tersebut dilaksanakan setiap
tanggal 17 Agustus di 3 titik yaitu Sumber Moro (Mbah Kudep), Punden
(Pemakaman Desa) babat desa, Punden Bangsawan. Dalam acara tersebut
berisi tiga kegiatan pokok yaitu sukuran (dedek), tumpengan, dan
penampilan kesenian gembyong. Seni kebudayaan gembyong merupakan
suatu kesenian yang berisi tarian jawa klasik dibawakan dalam pertunjukan
penyambutan tamu. Dalam tarian ini diiringi oleh beberapa sinden yang
diambil dari Desa lain.

17
2. Upacara Adat Perkawinan
Upacara adat perkawianan yang ada di Desa Jiwan dibagi menjadi dua
bagian:
a. Lamaran : dimulai dengan lamaran, lamaran adalah suatu tradisi
yang dilakukan dengan mengajak saudara dari pihak perempuan ke pihak
laki-laki yang bertujuan mencari hari baik untuk diselenggarakannya hari
pernikahan.
b. Mantenan : yaitu suatu tradisi bertemunya kedua mempelai
pengantin dalam suatu pernikahan yang sakral dengan menggunakan
adat jawa. Dalam acara ini makanan yang disajikan dalam bentuk
prasmanan. Ketika acara ini selesai dilanjutkan dengan ngunduh mantu.
c. Ngunduh Mantu : yaitu upacara lanjutan dari upacar besar yang telah
dilaksanakan. Sifatnya tidak wajib, tetapi upacara ini tetap dijalankan
terlebih apabila pasangan pengantin berasal dari dua kota atau tempat
tinggal berbeda sehingga tidak semua kerabat dan undangan pihak pria
bisa hadir pada resepsi utama. Tujuan dari ngunduh mantu adalah untuk
mengumumkan kepada lingkungan sekitar bahwa ada anggota baru
dalam sebuah keluarga yaitu si pengantin wanita yang diambil sebagai
mantu. Ngunduh mantu dilaksanakan pada hari kelima setelah kedua
mempelai tinggal di kediaman memepelai wanita.

3. Musyawarah Adat
Musyawarah desa dilakukan secara rutin tiap bulan pada tanggal 4.
Dalam pertemuan tersebut diikuti oleh setiap ketua RT, Lembaga BPD
(Badan Permusyawatan Desa), LKMD (Lembaga Ketahanan Masyarakat
Desa), pemuda, dan tokoh masyarakat yang membahas tentang keluhan serta
solusi masalah yang berkembang dan informasi terbaru dari perangkat desa
terutama kepala desa.

18
4. UpacaraAdat Kematian
Upacara adat kematian diDesa Jiwan dilakukan setiap ada orang
meninggal di desa tersebut. Terdapat beberapa tradisi yang masih diterapkan
dan dilestarikan sampai saat ini, dianatarnya yaitu:
a. Telon-telon : yaitu tradisi memperingati tiga hari setelah kematian
seseorang.
b. Piton-piton : yaitu tradisi memperingati tujuh hari setelah kematian
seseorang.
c. Patang puluh dinone: yaitu tradisi memperingati empat puluh hari setelah
kematian seseorang.
d. Satus dinone : yaitu tradisi memperingati seratus hari setelah
kematian seseorang.
e. Pendak pisan : yaitu tradisi memperingati satu tahun setelah kematian
seseorang.
f. Pendak pindo : yaitu tradisi memperingati dua tahun setelah kematian
seseorang.
g. Pendak sewu : yaitu tradisi yang dilakukan untuk memperingati
seribu hari setelah kematian seseorang.

5. Upacara Adat Kelahiran


Ada beberapa adat yang biasa dilakukan masyarakat di Desa Jiwan
baik pada masa kehamilan maupun sesudah melahirkan. Tradisi tersebut
diantaranya adalah:
a. Tingkepan : yaitu suatu tradisi syukuran tujuh bulan masa
kehamilan seorang ibu.
b. Procotan : yaitu suatu tradisi yang dilakukan pada saat kehamilan
seorang ibu menginjak Sembilan bulan dengan tujuan agar ibu diberi
kemudahan ketika melahirkan dan mendapatkan keselamatan baik ibu
maupun anaknya ketika prosesi kelahiran.

19
c. Sepasaran : yaitu suatu tradisi yang dilakukan dengan menjaga
bayi yang baru lahir sampai bayi tersebut berusia tujuh hari. Caranya
yaitu orang yang menjaga bayi tersebut tidak dianjurkan untuk tidur
sehari penuh mulai dari pagi hingga malam bisa dilakukan secara bergilir
bersama sanak saudara.
d. Selapan : yaitu suatu tradisi memperingati tiga puluh lima hari
setelah kelahiran bayi.
e. Aqiqoh : yaitu suatu tradisi dengan menyembelih 2 ekor
kambing untuk laki-laki dan 1 ekor kambing untuk anak perempuan
sebagai wujud rasa syukur atas kelahiran anak. Biasanya daging yang
diberikan dianjurkan dimasak terlebih dahulu.
f. Ulang tahun : yaitu tradisi yang diperingati setiap satu tahun setelah
kelahiran anak tersebut.

6. Upacara Adat dalam Pembangunan Rumah


Upacara adat pembangunan rumah yaitu suatu tradisi yang dimulai
dari “duduk pondasi” dengan mengadakan selametan yang mengundang
beberapa tetangga. Sebelum acar itu dilaksanakan sipemilik rumah akan
mencari hari yang bagus dengan berkonsultasi kepada tetua. Setelah rumah
jadi, dilakukan syukuran untuk memasuki rumah dimana kegiatan ini
dilakukan tergantung pada orang yang memiliki rumah.

7. Suro, Mulud, Ramadhan


Suro, Mulud dan Ramadhan merupakan beberapa bulan yang terdapat
pada bulan hijriah. Dalam bulan Suro masyarakan Jiwan mengadakan
khataman khafid yang ada di masjid-masjid desa. Pada bulan Mulud
masyarakat mengadalan pengajian di masjid-masjid besar, dan pada bulan
Ramadhan masyarakat melakukan ibadah terawaih bersama dan kultum di
musholla atau masjid-masjid yang ada di desa tersebut, dibeberapa masjid
menyiapkan takjil saat berbuka.

20
Sedangkan untuk bagi-bagi makan ke sanak saudara tergantung
perhitungan jawa, dari hasil penjumlahan antara suami dan istri, contoh si A
+ B = 21 maka, ketika malam 21 ramadhan mereka bagi-bagi makan ke
sanak saudara, baik kakak maupun adik dari suami istri tersebut.

1.3.7 Struktur Pemerintahan Desa


Di Desa Jiwan ini terdapat tiga Lembaga pemerintahan yang meliputi,
kepala desa dan dibantu oleh perangkat desa sekaligus para kasun dari setiap
dusun. Dalam Lembaga pemerintahan ini terdiri dari 11 anggota. Selain itu, di
Desa Jiwan juga memiliki sebuah badan yang menaungi musyawarah desa,
musyawarah ini biasanya dilakukan oleh masyarakat dan perangkat desa untuk
membahas kegiatan-kegiatan tertentu, dengan tujuan untuk mendapatkan kata
mufakat atau kesepakatan dalam setiap musyawarah, badan ini dinamakan
Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Anggota yang berada dalam Badan
Permusyawaratan Desa ini terdiri dari 9 anggota. Selain perangkat desa dan
BPD, ada pula Lembaga Pemberdayaan dan Kesejahteraan Masyarakat Desa
(LPKMD) yang beranggotakan sebanyak 13 orang dan bertugas sebagai wadah
untuk pengoptimalan sekaligus pemberdayaan masyarakat yang ada di Desa
Jiwan sendiri. Adapun struktur lembaga pemerintahan desa, struktur badan
permusyawaratan desa dan struktur Lembaga pemberdayaan dan kesejahteraan
masyarakat desaditunjukkan pada Gambar 1.4, Gambar 1,5 dan Gambar 1.6.

21
Kepala Desa
BPD Widayanto LPKMD

Sek. Desa
Mujianta, Am
Pelaksanaan
Teknis Lapangan

Karyawan Kesejahteraan Koor Umum Koor


Rakyat - KtutNovia Pemerintahan
Perangkat
Ahmad Wahyudi Purwanto Nyoto
Widya Dwi K Suprayitno
Zubairi

Kepala Dusun 1 Kepala Dusun 2 Kepala Dusun 3 Kepala Dusun 4


Suyoso Suparman Sari Rastiti Endah Purwaningrum

Gambar 1.4Struktur Lembaga Desa Jiwan Pada Tahun 2019

Ketua
H. Thohari Rosuli

Wakil Ketua
Drs. Sumarlan

Sekretaris
Sadi

Anggota Anggota Anggota Anggota


Heru Witjaksono Veri Pujiamiko Drs. H. Widya Adi Agus Supana
K.

Anggota Anggota Anggota Anggota


Sunardi Bandjar Rodiyah Sumartono

Gambar 1.5 Struktur Badan Permusyawaratan Desa Jiwan Pada Tahun 2019

22
Ketua
Bambang Suprajitno, S.Pd

Sekretaris Bendahara
Heri Purnomo Sarman Suyatno, S.Pd

Seksi Keamanan Seksi Kesehatan Seksi Pendidikan


Seksi Agama
dan Ketertiban Kependudukan & KB dan Kebudayaan
H.M Suyuti, S.Ag
H. Langkir Mintuk Lasmi, BA Suwito

Seksi Perekonomian Seksi Pembangunan Seksi Pemberdayaan Seksi Lingkungan


dan Koperasi Fisik Prasarana Perempuan Hidup
Sudjito Budi Prayitno Duhri Alin Qoriah, S.Pd H. Sugito

Seksi Kesejahteraan Seksi Pemuda dan


Sosial Olah Raga
Dwi Edy Panca Putra Budi Pri Suharso
Gambar 1.6 Struktur Lembaga Pemberdayaan Kemasarakatan Desa Jiwan Pada
Tahun 2019

1.3.8 Kesehatan Masyarakat Desa


1. Perkembangan Pasangan Usia Subur dan KB
Perkembangan pasangan usia subur di Desa Jiwa yaitu terdapat 650 jiwa
remaja putri yang berusia 12-17 tahun. Kemudian terdapat 550 jiwa perempuan
yang berusia subur 15-49 tahun. Masyarakat yang mengikuti KB (keluarga
berencana) dengan menggunakan alat kontrasepsi suntik sebanyak 425 jiwa,
sedangkan jumlah PUS yang tidak menggunakan metode KB sebanyak 775
jiwa.

2. Wabah Penyakit
Di Desa Jiwan pernah terjadi kejadian orang yang terjangkit demam
berdarah dalam 1 tahun ini.

23
3. Cakupan Pemenuhan Kebutuhan Air Bersih
Kebutuhan air bersih yang digunakan di Desa Jiwan yaitu mayoritas
menggunakan sumur pompa sebanyak 800 keluarga. Selain itu, ada juga yang
menggunakan air dari sumur gali yaitu sebanyak 649 keluarga dan penggunaan
air PAM sebanyak 657 keluarga.

4. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat


Salah satu penerapan perilaku hidup bersih dan sehat yaitu dengan
memiliki WC yang sehat di setiap rumah. Jumlah penduduk yang memiliki WC
sehat sebanyak 1.275 keluarga, di Desa Jiwan juga menyediakan WC umum
namun dikarenakan hampir setiap rumah memiliki WC, sehingga jumlah WC
umum yang disediakan hanya sedikit yakni 1 unit. Selain itu, masyarakat Desa
Jiwan juga membiasakan makan sehari 3 kali dan ada juga makan sehari lebih
dari 3 kali.

24
BAB II
METODE ABCD (Asset-Based Community-driven Development)

2.1 Pengertian dan Sistem ABCD (Asset-Based Community-driven


Development)
Asset Based Community-driven Development (ABCD) merupakan suatu
konsep pengembangan masyarakat yang didasarkan pada aset lokal. ABCD
dianggap sebagai pendekatan yang tepat untuk menyelesaikan persoalan aset
desa yang masih belum atau kurang dikembangkan oleh masyarakat desa. Hal
ini dikarenakan ABCD juga merupakan sebuah pendekatan dalam
pengembangan masyarakat yang berada dalam aliran desa mengupayakan
terwujudnya sebuah tatanan kehidupan sosial dan masyarakat menjadi pelaku
dan penentu upaya pembangunan dilingkungan yang sering disebut dengan
Community-drven Develompent (CDD) upaya ini dilakukan dengan
memanfaatkan potensi dan aset masyarakat yang ada didesa tersebut. Sehingga
dengan pendekatan ABCD ini, diharapkan agar masyarakat terlibat dan
berinisiatif dalam segala upaya perbaikan desa.

2.2 Prinsip-prinsip ABCD (Asset-Based Community-driven Development)


Sebagai sebuah bentuk pendekatan dalam pengembangan dan
pemberdayaan masyarakat, asset based community-driven development (ABCD)
mempunyai dasar para digmatik dan sekaligus prinsip-prinsip yang yang
mendasarinya. Paradigma dan prinsip-prinsip itu menjadi acuan pokok dan
sekaligus menjadi karakteristik dan distingsi pendekatan ini dari pendekatan-
pendekatan lain dalam pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Point
yang perlu digaris bawahi dalam paradigma dan prinsip yang dimiliki oleh
pendekatan ABCD adalah bahwa semuanya mengarah kepada konteks
pemahaman dan internalisasi aset, potensi, kekuatan, dan pendayagunaannya
secara mandiri dan maksimal.

25
Adapun paradigma dan prinsip-prinsip pengembangan masyarakat
berbasis aset (ABCD) yang dijelaskan pada bab ini adalah sebagai berikut:
1. Setengah Terisi Lebih Berarti (Half Full And Half Empty)
Salah satu modal utama dalam program pengabdian masyarakat
berbasis aset adalah merubah cara pandang komunitas terhadap dirinya.
Tidak hanya terpaku pada kekurangan dan masalah yang dimiliki. Tetapi
memberikan perhatian kepada apa yang dipunyai dan apa yang dapat
dilakukan. Materi ini akan mengajarkan bagaimana pentingnya aset dalam
pengembangan komunitas.

2. Semua Punya Potensi (No Body Has Nothing)


Dalam konteks ABCD, prinsip ini dikenal dengan istilah “Nobody
hasnothing”. Setiap manusia terlahir dengan kelebihan masing-masing.
Tidakada yang tidak memiliki potensi, walau hanya sekedar kemampuan
untuk tersenyum dan memasak air. Semua berpotensi dan semua bisa
berkontribusi. Dengan demikian, tidak ada alasan bagi setiap anggota
komunitas untuk tidak berkontribusi nyata terhadap perubahan lebih baik.
Bahkan, keterbatasan fisikpun tidak menjadi alasan untuk tidak
berkontribusi. Ada banyak kisah dan inspirasi orang-orang sukses yang
justru berhasil membalikkan keterbatasan dirinya menjadi sebuah berkah,
sebuah kekuatan.

3. Partisipasi (Participation)
Partisipasi adalah suatu keterlibatan mental dan emosi seseorang
kepada pencapaian tujuan dan ikut bertanggung jawab di dalamnya.
Berdasarkan para ahli menyatakan bahwa partisipasi berarti peran serta
seseorang atau kelompok masyarakat dalam proses pembangunan baik
dalam bentuk pernyataan maupun dalam bentuk kegiatan dengan memberi
masukan pikiran, tenaga, waktu, keahlian, modal dan atau materi, serta ikut
memanfaatkan dan menikmati hasil -hasil pembangunan.

26
Bentuk partisipasi dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa
ketentuan yang melingkupinya. Berdasarkan posisi pelaku dalam partisipasi,
partisipasi dibedakan menjadi dua yaitu:
a. Partisipasi vertical
Adalah suatu bentuk kondisi tertentu dalam masyarakat yang
terlibat di dalamnya atau mengambil bagian dalam suatu program pihak
lain, dalam hubungan sebuah masyarakat berada sebagai posisi bawahan.
b. Partisipasi horizontal
Adalah dimana masyarakatnya tidak mustahil untuk mempunyai
prakarsa dimana setiap anggota / kelompok masyarakat berpartisipasi
secara horizontal antara satu dengan yang lainnya, baik dalam melakukan
usaha bersama, maupun dalam rangka melakukan kegiatan dengan pihak
lain.
Berdasarkan bentuk keterlibatan dalam aktifitas, partisipasi
dibedakan menjadi 2 (dua) macam, yaitu:
a. Partisipasi Langsung.
Partisipasi yang terjadi apabila individu menampilkan kegiatan
tertentu dalam proses partisipasi. Partisipasi ini terjadi apabila setiap
orang dapat mengajukan pandangan, membahas pokok permasalahan,
mengajukan keberatan terhadap keinginan orang lain atau terhadap
ucapannya.
b. Partisipasi tidak langsung.
Partisipasi yang terjadi apabila individu mendelegasikan hak
partisipasinya.
Berdasarkan macam pelaksanaan dalam partisipasi, patisipasi dibagi
menjadi empat jenis, yaitu;
a. Partisipasi dalam pengambilan keputusan.
Partisipasi ini berkaitan dengan penentuan alternatif yang akan
dilakukan oleh masyarakat mengenai gagasan atau ide yang menyangkut
kepentingan bersama. Wujud partisipasi dalam pengambilan keputusan

27
ini antara lain seperti ikut menyumbangkan gagasan atau pemikiran,
kehadiran dalam rapat, diskusi dan tanggapan atau penolakan terhadap
program yang ditawarkan.
b. Partisipasi dalam pelaksanaan
Partisipasi ini meliputi menggerakkan sumber daya dana, kegiatan
administrasi, koordinasi dan penjabaran program. Partisipasi dalam
pelaksanaan merupakan kelanjutan dalam rencana yang telah digagas
sebelumnya baik yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan
maupun tujuan.
c. Partisipasi dalam pengambilan manfaat.
Partisipasi dalam pengambilan manfaat tidak lepas dari hasil
pelaksanaan yang telah dicapai baik yang berkaitan dengan kualitas
maupun kuantitas. Dari segi kualitas dapat dilihat dari output, sedangkan
dari segi kuantitas dapat dilihat dari presentase keberhasilan program.
d. Partisipasi dalam evaluasi.
Partisipasi dalam evaluasi ini berkaitan dengan pelaksanaan pogram
yang sudah direncanakan sebelumnya. Partisipasi dalam evaluasi ini
bertujuan untuk mengetahui ketercapaian program yang sudah
direncanakan sebelumnya.

Sedangkan level partisipasi dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa


tingkatan mulai dari level yang terendah sampai level yang tertinggi dalam
partisipasi sebagaimana berikut ini:

a. Partisipasi Pasif.
Masyarakat diajak berpartisipasi dengan diberitahu apa yang sudah
dan sedang terjadi. Mereka mendapatkan manfaat. Mereka berpartisipasi
sepanjang ada manfaat yang tersedia.
b. Partisipasi Sebagai Kontributor.

28
Masyarakat berpartisipasi dengan memberikan informasi, sumber
daya atau membantu pekerjaan dalam proyek. Dalam merencanakan
proyek, peran masyarakat, kalaupun ada sangat sedikit.
c. Partisipasi sebagai Konsultan.
Masyarakat diberikan konsultasi mengenai masalah dan peluang
dalam suatu daerah, dan desain sebuah proyek. Professional
pembangunanlah yang membuat keputusan mengenai desain.
d. Partisipasi sebagai implementasi.
Masyarakat berpartisipasi dengan membentuk kelompok untuk
melaksanakan suatu kegiatan dalam proyek atau program. Mereka tidak
terlibat dalam proses pengambilan keputusan.
e. Partisipasi dalam pengambilan keputusan.
Masyarakat berpartisipasi secara aktif dalam analisis dan
perencanaan bersama dengan professional pembangunan. Mereka terlibat
dalam pengambilan keputusan.
f. Mobilisasi-diri.
Masyarakat berpartisipasi dengan mengambil inisiatif secara
mandiri dari institusi dari luar. Mereka bisa melibatkan dampingan dari
professional pembangunan, tetapi mereka tetap memegang control dalam
proses.

4. Kemitraan (Partnership)
Partnership merupakan salah satu prinsip utama dalam pendekatan
pengembangan masyarakat berbasis aset (Asset Based
CommunityDevelopment). Partnership merupakan modal utama yang sangat
dibutuhkan dalam memaksimalkan posisi dan peran masyarakat dalam
pembangunan yang dilakukan. Hal itu dimaksudkan sebagai bentuk
pembangunan dimana yang menjadi motor dan penggerak utamanya adalah
masyarakat itu sendiri (community driven development). Karena
pembangunan yang dilakukan dalam berbagai varinnya seharusnya

29
masyarakat yang menjadi penggerak dan pelaku utamanya. Sehingga
diharapkan akan terjadi proses pembangunan yang maksimal, berdampak
pada pemberdayaan yang secara masif dan terstruktur.
Hal itu terjadi karena dalam diri masyarakat telah terbentuk rasa
memiliki (sense ofbelonging) terhadap pembangunan yang terjadi di
sekitarnya. Berdasarkan urgensi diatas, maka fokus dan konsern terhadap
partnership harus menjadi salah satu prioritas utama dalam proses-proses
pemberdayaan masyarakat yang dilakukan.
Partnership memiliki beberapa prinsip yang mesti dan harus
terimplementasikan secara kongkrit didalamnya, yaitu;
a. Prinsip Saling Percaya (Mutual Trust)
b. Prinsip Saling Kesefahaman (Mutual Understanding)
c. Prinsip Saling Menghormati (Mutual Respect)
d. Prinsip Kesetaraan (Equity)
e. Prinsip Keterbukaan (Open)
f. Prinsip Bertanggung Jawab Bersama (Mutual Responsibility)
g. Prinsip Saling Menguntungkan (Mutual Benefit)

5. Penyimpangan Positif (Positive Deviance)


Secara terminologi positive deviance (PD) adalah sebuah pendekatan
terhadap perubahan perilaku individu dan sosial yang didasarkan
padarealitas bahwa dalam setiap masyarakat - meskipun bisa jadi tidak
banyak terdapat orang-orang yang mempraktekkan strategi atau perilaku
sukses yang tidak umum, yang memungkinkan mereka untuk mencari solusi
yang lebih baik atas masalah yang dihadapi daripada rekan-rekan mereka.
Praktek tersebut bisa jadi, seringkali atau bahkan sama sekali keluar dari
praktek yang pada umum dilakukan oleh masyarakat.
Prosespositive deviance(PD) memungkinkan sebuah komunitas atau
organisasi untuk mengidentifikasi dan memperkuat praktek-praktek tersebut,
mengukur hasil, dan berbagi strategi sukses mereka dengan lain. Pendekatan

30
PD digunakan untuk membawa pada perilaku dan perubahan sosial
berkelanjutan dengan mengidentifikasi solusi yang sudah ada dalam sistem
di masyarakat.
PD menunjukkan bahwa terdapat perilaku dan strategi khusus atau
biasa yang memungkinkan orang atau kelompok untuk mengatasi
masalahnya tanpa menggunakan atau memerlukan sumberdaya khusus.
Positive Deviance merupakan pendekatan pembangunan atau
pemberdayaan masyarakat berbasis kekuatan-aset yang diterapkan
padamasalah yang membutuhkan perilaku dan perubahan sosial. Positive
deviance secara implementatif didasarkan pada prinsip-prinsip berikut:
a. Masyarakat pada dasarnya sudah memiliki solusi. Mereka adalah ahli
terbaik dalam memecahkan tantangan mereka sendiri.
b. Komunitas mengatur dirinya sendiri dan memiliki sumber daya manusia
dan aset sosial untuk memecahkan tantangan mereka.
c. Kecerdasan kolektif. Kecerdasan dan pengetahuan tidak terkonsentrasi ke
beberapa anggota masyarakat atau ahli eksternal saja, tetapi
didistribusikan ke seluruh anggota masyarakat.
d. Keberlanjutan sebagai landasan pendekatan. Pendekatan PD
memungkinkan masyarakat atau organisasi untuk mencari dan
menemukan solusi yang berkelanjutan bagi masalah yang dihadapi.
e. Positive deviance didasarkan pada prinsip bahwa lebih mudah untuk
mengubah perilaku dengan berlatih atau berbuat dengan sesuatu yang
baru tersebut, daripada hanya dengan sekedar mengetahui/memahami
tentang hal baru itu.

6. Berasal Dari Dalam Masyarakat (Endogenous)


Istilah pembangunan endogen pada prinsipnya mengacu pada tujuan
pokok yaitu memperkuat komunitas lokal untuk mengambil alih kendali
dalam proses pembangunan mereka sendiri. Tujuan memperkuat komunitas
lokal tersebut dapat dilakukan dengan beberapa strategi berikut:

31
a. Merevitalisasi pengetahuan turun-temurun yang ada di komunitas dan
pengetahuan lokal yang dimiliki.
b. Memilih sumber daya eksternal yang paling sesuai dengan kondisilokal.
c. Mencapai peningkatkan keanekaragaman hayati dan keragaman budaya,
mengurangi kerusakan lingkungan, dan interaksi di tingkat lokal dan
regional yang berkesinambungan.
Endogenous dalam konteks pembangunan memiliki beberapa konsep
inti yang menjadi prinsip dalam pendekatan pengembangan dan
pemberdayaan komunitas masyarakat berbasis aset-kekuatan. Beberapa
konsep inti tersebut adalah sebagai berikut:
a. Memiliki kendali lokal atas proses pembangunan.
b. Mempertimbangkan nilai budaya secara sungguh-sungguh.
c. Mengapresiasi cara pandang dunia.
d. Menemukan keseimbangan antara sumber daya lokal dan eksternal.

Pembangunan Endogen mengubah aset-aset tersebut menjadi aset


penting yang bisa dimobilisasi untuk pembangunan sosial dan ekonomi
kerakyatan. Meteode inimenekankan dan menjadikan aset-aset tersebut
sebagai salah satu pilar pembangunan. Sehingga dalam kerangka
pembangunan endogen, aset-aset tersebut kemudian menjadi bagian dari
prinsip pokok dalam pendekatan ABCD yang tidak boleh dinegasikan
sedikitpun.

7. Mengarah Pada Sumber Energi (Heliotropic)


Energi dalam pengembangan komunitas bisa beragam. Diantaranya
adalah mimpi besar yang dimiliki oleh komunitas, proses pengembangan yang
apresiatif, atau bisa juga keberpihakan anggota komunitas yang penuh totalitas
dalam pelaksanaan program. Sumber energi ini layaknya keberadaan matahari
bagi tumbuhan. Terkadang bersinar dengan terang, mendung, atau bahkan tidak

32
bersinar sama sekali. Sehingga energi dalam komunitas ini harus tetap terjaga
dan dikembangkan.
Komunitas juga seharusnya mengenali peluang-peluang sumber energi
lain yang mampu memberikan penyegaran kekuatan baru dalam proses
pengembangan. Sehingga tugas komunitas tidak hanya menjalankan program
saja, melainkan secara bersamaan memastikan sumber energy dalam kelompok
mereka tetap terjaga dan berkembang.

2.3 Metode dan Alat Menemukalisasi dan Mobilisasi Asset


Metode dan alat menemukenali dan memobilisasi aset untuk
mpemberdayaan masyarakat, bagian ini akan menjelaskan atau teknik apa saja
yang akan digunakan untuk menemukenali aset, kekuatan, dan potensi yang ada
di masyarakat. Dalam bagian ini metode menemukenali aset yang
ditampilkannya adalah:

2.3.1 Penemuan Apresiatif Desa Jiwan


Appreciative Inquiry (AI) adalah cara yang positif untuk melakukan
perubahan organisasi berdasarkan asumsi yang sederhana yaitu bahwa setiap
organisasi memiliki sesuatu yang dapat bekerja dengan baik, sesuatu yang
menjadikan organisasi hidup, efektif dan berhasil, serta menghubungkan
organisasi tersebut dengan komunitas dan stakeholdernya dengan cara yang
sehat. Berikut merupakan gambar proses AL yang ditunjukkan pada Gambar
2.1

33
Discovery
“Whatis the best of what
is?”

Destiny Affirmative Topic Dream


“How to empower learn Choice “What might be?”
and adjust/improvise?” Envisioning results

Design
“What should be the
idea?”

Gambar 2.1 Siklus dan Tahapan Pengelolaan perubahan Berdasarkan 4-D

1. Discovery(Menemukan)
Tahap Discovery adalah proses pencarian yang mendalam tentang hal-hal
positif, hal-hal terbaik yang pernah dicapai, dan pengalaman-pengalaman
keberhasilan di masa lalu. Proses ini dilakukan dengan wawancara appresiatif.
Langkah awal yang dilakukan yaitu dengan menemukan aset-aset yang
ada di Desa Jiwan yakni melakukan penelusuran wilayah-wilayah di Desa
Jiwan yang terdiri dari empat dusun. Penelusuran wilayah ini dilakukan dengan
pembagian kelompok, setiap kelompok mendapatkan tugas untuk mencari aset-
aset apa saja yang terdapat pada setiap dusun-dusun di Desa Jiwan.
Setelah seminggu melakukan penelusuran wilayah-wilayah Desa Jiwan di
dapatkan bahwa di desa ini banyak terdapat peternak ikan, peternak lele, olahan
dari lele, kue kering dan kue semprong. Desa Jiwan yang memiliki 4 (empat)
dusun dimana pada dusun 1, 2, dan 3 banyak terdapat peternak ikan lele dan di
dusun 4 (empat) banyak pembuat kue semprong sebagai mata pencaraian
masyarakat Desa Jiwan. Di Desa Jiwan banyak terdapat Home Industry seperti
olahan abon lele, ramba lele, kue kering dan kue semprong.

34
2. Dream
Setelah melakukan penelusuran dan wawancara dengan masyarakat desa,
kepala dusun dan tokoh-tokoh yang ada di masyarakat maka di dapatkan
mimpi-mimpi dari masyarakat Desa Jiwan. Di lihat dari banyaknya peternak
Lele, olahan lele dan kue semprong yang telah berkembang, masyarakat Desa
Jiwan mengharapkan agar produk-produk tersebut tidak hanya terkenal di
lingkungan atau daerah sekitar Desa Jiwan namun dapat merambah ke berbagai
wilayah di luar Madiun dan sekitarnya.

3. Design
Design artinya merencanakan mimpi-mimpi masyarakat dengan
melakukan langkah-langkah yang nantinya masyarakat akan bisa mengetahui
gambaran mimpi mereka, sehingga masyarakat dapat mewujudkan mimpi-
mimpi tersebut. Proses dimana seluruh komunitas (kelompok) terlibat dalam
proses belajar tentang kekutan atau aset yang dimiliki agar bisa memulai
memanfaatkannya dalam kegiatan yang konstruktif (membangun), insklusif,
dan kolaboratif (kerja sama) untuk mencapai aspirasi dan tujuan yang sudah
diterapkan sendiri.
Artinya, proses ini adalah proses dimana masyarakat Desa Jiwan yang
memiliki peternakan lele dan memiliki home industry baik produk olahan ikan
lele (abon ikan lele dan rambak lele) dan kue semprong yang tergabung dalam
asosiasi dan mulai mengenali aset yang mereka punya dan berupaya
memanfaatkan aset tersebut secara optimal untuk mencapai impian mereka.
Dengan demikian, masyarakat dapat menyadari kekuatan yang mereka
miliki dari desa tersebut dan proses design ini dilakukan setelah masyarakat
mengetahui dream, kemudian mereka merencanakan program kegiatan dari
mimpi mereka. Berikut adalah proses design yang dilakukan oleh KKN
Kelompok 03:
a. Pertama, adalah koordinasi dengan beberapa peternak lele, industri abon,
kue semprong, ibu PKK dan perangkat desa (untuk saling bekerja sama).

35
b. Kedua, adalah koordinasi dengan kepala desa mengenai pelatihan marketing
online (hasil musdes).
Tempat : Balai desa
Waktu : 08.30
c. Ketiga adalah koordinasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan
(Disperindag).
d. Keempat adalah koordinasi dengan pihak narasumber pelatihan marketing
online (BUKALAPAK).
e. Kelima adalah pemberitahuan kepada masyarakat Desa Jiwan yang
mengikuti pelatihan marketing online(undangan).
f. Keenam adalah tentang dimulainya pelatihan marketing online.
g. Ketujuh adalah door-to-door untuk pengarahan individu.
h. Kedelapan adalah Refleksi proker.

4. Destiny
Destiny dapat diartikan sebagai target, target masyarakat disini sudah
menemukan kekuatan, memimpikan apa yang mereka inginkan, mereka akan
merencanakan, menentukan dan melakukan apa yang seharusnya dilakukan
sehingga mereka akan dapat mewujudkan apa yang diingkan selama ini.
Serangkaian tindakan inspiratif yang mendukung proses belajar terus menerus
dan inovasi tentang “apa yang terjadi”. Hal ini merupakan fase akhir yang
secara khusus fokus pada cara-cara personal dan organisasi untuk melangkah
maju.
Dalam proses pemberdayaan dengan metode ABCD, proses ini
merupakan proses dimana masyarakat mulai melakukan kegiatan pencapaian
impian mereka. Mereka secara bersama-sama akan melakukan pelatihan untuk
mencapainya hingga mereka benar-benar berhasil. Dalam hal ini, kelompok
asosiasi mulai menerapkan pengetahuan mengenai marketing online yang
berupa pelatihan dalam menawarkan hasil aset atau produk yang terdapat di
Desa Jiwan.

36
Target yang diingikan oleh warga desa Jiwan adalah ingin bisa
memperluas produk penjualan, serta dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari,
sehingga dapat menuju desa yang mandiri dalam Ekonomi. Dan memahami
marketing dan marketing online secara mendalam sehingga dapat membantu
masyarakat Desa Jiwan dalam memasarkan produknya secara online baik lewat
youtube, blog, Instagram, facebook, twitter, dan media-media online lainnya.

2.3.2 Pemetaan Komunitas Desa Jiwan


Community map adalah Pendekatan untuk memperluas akses ke
pengetahuan lokal. Community map merupakan visualisasi pengetahuan dan
persepsi berbasis masyarakat untuk mendorong pertukaran informasi dan
menyetarakan kesempatan bagi semua anggota masyarakat, sehingga dapat
berpartisipasi dalam proses yang mempengaruhi lingkungan dan
kehidupan mereka. Fungsi community map adalah sebagai berikut:
a. Memperbaiki dan meningkatkan keterlibatan publik dalam pemetaan
b. Memberikan masyarakat dan anggotanya kesempatan untuk mengevaluasi
proposal desain, perencanaan dan memvisualisasikan dampak sebuah
keputusan tersebut terhadap masa depan komunitas
c. Proses pengumpulan dan meningkatkan data geospasial
d. Meningkatkan pengetahuan komunitas tentang wilayah komunitas

Berikut merupakan daftar lengkap aset yang dapat dipetakan:


1. Aset Personal (Individu)
Terdapat beberapa aset-aset individu/personal di daerah Desa Jiwan
ini. Aset tersebut merupakan peranan masyarakat Desa Jiwan dalam
mengembangkan dan membantu memberdayakan aset berdasar potensi yang
dimiliki kawasan Desa tersebut. Berikut adalah pemaparan dari aset- aset
individu / personal yang terdapat di kawasan Desa Jiwan:

37
Tabel 2.1 Aset Personal/ Individu yang ada di Desa Jiwan
No Dusun 1 Dusun 2 Dusun 3 Dusun 4
1 Kepala Desa - - -
2 Kepala Dusun Kepala Dusun Kepala Dusun Kepala Dusun
3 Perangkat Desa Perangkat Desa Perangkat Desa Perangkat Desa
4 Peternak Lele Peternak Lele Peternak Lele
5 Petani Petani Petani Petani
Home Industry Home Industry
(Pembuat (pembuat kue
6 - -
Kerupuk dan semprong)
Abon Lele)
Pedagang Pedagang (Toko/ Pedagang (Toko/ Pedagang (Toko/
7
(Toko/ warung) warung) warung) warung)
8 Toko Pemuda - - -
Tokoh
9 Masyarakat - - -
Agama

2. Aset Sosial (Asosiasi)


Untuk menjaga keeratan dan keguyuban maasyarakat Desa Jiwan, maka
masyarakat mengadakan berbagai macam aktivitas yang sifatnya sosial
oriented. Adapun beberapa bentuk asset sosial yang terpaparkan sebagaimana
pada table dibawah ini:

Tabel 2.2 Aset Sosial yang ada di Desa Jiwan


No. Dusun 1 Dusun2 Dusun 3 Dusun 4
1 Karang taruna Karang Taruna Karang taruna Karang taruna
2 PKK PKK PKK PKK
3 Posyandu Posyandu Posyandu Posyandu
4 Posbindu Posbindu Posbindu Posbindu
5 Karang sepuh Karang sepuh Karang sepuh Karang sepuh
6 Muslimat

3. Aset Institusi
Aset yang dimiliki masyarakat Desa Jiwan hampir keseluruhan berada
di Dusun 3, mulai dari pemerintahan (balai desa), pendidikan hingga
kesehatan untuk masyarakat Desa Jiwan. Ditinjau dari fasilitas Pendidikan,

38
terdapat beberapa institusi formal yang didirikan di kawasan Desa Jiwan
diantaranya SD Jiwan, TK (Taman Kanak – Kanak), Pondok, Balai Desa dan
lain-lain. Sementara itu, untuk pendidikan non-formal yang ada di Desa
Jiwan diantaranya TPA/TPQ dan Madrasah Diniyah. Berikut adalah
pemaparan aset institusi yang ada di kawasan Desa Jiwan:

Tabel 2.3 Aset Institusi yang ada di Desa Jiwan


No Dusun 1 Dusun 2 Dusun 3 Dusun 4
Kantor Lembaga Taman Kanak- Lembaga
1
Kecamatan Pendidikan Agama Kanak Pendidkan Agama
2 Pondok TPA TPA TPA
Lembaga
3 TPQ Dewasa
Pendidikan Agama
4 SMP 01 Jiwan SDN 01 Jiwan
5 TPA SDN 02 Jiwan
6 Puskesmas Balai Desa
7 Koramil
8 Puskesmas
Kantor Badan
Nasional
9
Penanggulangan
dan Kebencanaan

4. Aset Alam
Aset alam yang terdapat di kawasan Desa Jiwan cukup beragam.
Beberapa Aset mudah sekali diketemukan dikarenakan jarak antar
pemukiman, jalan dan sawah yang relatif dekat. Berikut adalah pemaparan
dari aset di tiap – tiap dusun di Desa Jiwan:

Tabel 2.4 Aset Alam yang ada di Desa Jiwan


No Dusun 1 Dusun 2 Dusun 3 Dusun 4
1 Sawah Sawah Sawah Sawah
Jenis Tanah Jenis Tanah Jenis Tanah Jenis Tanah
1. Tanah Hitam 1. Tanah Hitam 1. Tanah Hitam 1. Tanah Hitam
2
2. Tanah 2. Tanah 2. Tanah 2. Tanah
Lempungan Lempungan Lempungan Lempungan

39
No Dusun 1 Dusun 2 Dusun 3 Dusun 4
Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian
1. Padi 1. Padi 1. Padi 1. Padi
2. Kacang hijau 2. Palawijja 2. Kacang hijau 2. Kacang hijau
3 dan kacang 3. Kedelai dan kacang dan kacang
tanah 4. Kacang hijau tanah tanah
dan kacang
tanah
Perkebuanan Perkebuanan Perkebuanan Perkebuanan
1. Pisang 1. Pisang 1. Pisang 1. Pisang
4
2. Mangga
3. Jambu
Peternakan Peternakan Peternakan Peternakan
1. Ikan Lele, 1. Ayam 1. Ikan Lele dan 1. Ikan Gurami
gurami dan 2. Kambing gurami 2. Ayam
5
Nila 3. Ikan Lele 2. Ayam
2. Sapi
3. Ayam

5. Aset Fisik
Aset Fisik merupakan fasilitas fisik yang dimiliki oleh Desa Jiwan.
Fasilitas fisik yang dimiliki Desa Jiwan diantaranya:

Tabel 2.5 Aset Fisik yang ada di Desa Jiwan


No Dusun 1 Dusun 2 Dusun 3 Dusun 4
1 Masjid Masjid Musholla Musholla
Dinas
2 Musholla Musholla Balai Desa
Kesehatan
Kantor
3 Gereja Puskesmas Kolam Renang
Kecamatan
Badan
Gedung Wing
4 SMP 1 Jiwan Penanggulangan Masjid
Surya
dan Bencana
Gedung PT Keluarga
5
Djarum Berencana
Gedung PT
6 SD Jiwan 1
ABC
Kantor BPS(
7 Badan Pusat SD Jiwan 2
Statistik)
8 Kantor Dinas Jasa Pengiriman

40
No Dusun 1 Dusun 2 Dusun 3 Dusun 4
Kesehatan Barang
PO Gedung
9 Masjid
Mas

6. Aset Spiritual dan Kultural


Berbagai macam aset spiritual/kultural masih dilestarikan di Desa
Jiwan. Masyarakat Desa Jiwan tetap menjunjung tinggi tradisi yang
seharusnya dilestarikan terutama dari tradisi Jawa. Berikut Tabel Aset
Spiritual:

Tabel 2.6 Aset Spiritual yang ada di Desa Jiwan


No Dusun 1 Dusun 2 Dusun 3 Dusun 4
1 Tahlilan Istiqosah Istiqosah Istiqosah
2 Istiqosah Yasinan Yasinan Yasinan
3 Yasinan
Tabel 2.7 Aset Kultural yang ada di Desa Jiwan
No Dusun 1 Dusun 2 Dusun 3 Dusun 4
Seni Kebudayaan - Orkes Malayu Reog
1
Gambyong
2 Seni Krawitan Seni karawitan
3 Sedekah Bumi Pencak dor

2.3.3 Penelusuran Wilayah (Transect)


Penelusuran Wilayah (Transect) Untuk menemu kenali aset fisik dan
alam secara terperinci, transect atau penelusuran wilayah adalah salah satu
teknik yang efektif. Transect adalah garis imajiner sepanjang suatu area tertentu
untuk menangkap keragaman sebanyak mungkin. Dengan berjalan sepanjang
garis itu dan mendokumentasikan hasil pengamatan, penilaian terhadap
berbagai aset dan peluang dapat dilakukan di Desa Jiwan Misalnya, dengan
berjalan di dataran rendah, persawahan dan di sisi lain, maka akan mungkin
untuk melihat berbagai macam vegetasi alami, penggunaan lahan, jenis tanah,
tanaman, kepemilikan lahan, dan lain sebagainya.

41
Penelusuran wilayah Desa Jiwan dilakukan berbarengan dengan
pemetaan komunitas (community mapping). Berikut Tabel Penelusuran
Wilayah Desa Jiwan:
Tabel 2.8 Penelusuran Wilayah Desa Jiwan (Transect)
Zona Dataran Rendah Persawahan
Penggunaan lahan Rumah, pondok, masjid Sebagai lahan pangan
Peternakan hewan.
Pohon dan tanaman Pisang, mangga, jambu, Penanamanpadi, kedelai,
ketela pohon, pohon jati, palawija, kacang tanah,
mengkudu, pepaya, kacang hijau
kemangi, dan jeruk bali.
Jenis Hewan Sapi, kambing, ayam, angsa, Kol, kutuk
bebek, gurami, lele dan nila
Jenis tanah Tanah hitam dan tanah
lempungan

2.3.4 Pemetaan Aset Individu Desa Jiwan


Setelah melakukan penelusuran wilayah Desa Jiwan dan mencari
informasi-informasi aset individu maka didapatkan bahwa aset individu Desa
Jiwan mayoritas peternak lele. Berikut Tabel Aset Individu Desa Jiwan:

Tabel 2.9 Asset Individu yang ada di Desa Jiwan


No Dusun 1 Dusun 2 Dusun 3 Dusun 4
Pembuat kue
1 Pembuat kerupuk Peternak lele Peternak lele
semprong
Pembuat abon
2 Peternak gurami Pembuat kue kering
lele
3 Peternak lele

2.3.5 Skala Prioritas Desa Jiwan


Dalam skala prioritas yang telah didapat dari penelusuran wilayah-
wilayah yang ada di Desa Jiwan terdapat potensi, kekuatan dan peluang yang
dimiliki oleh masyarakat sekitar. Dari penelusuran wilayah yang sudah
dilakukan melalui penemuan informasi yang ada, pemetaan aset, penelusuran

42
wilayah, pemetaan kelompok, atau institusi maka di dapatkan mimpi-mimpi
atau harapan-harapan dari masyarakat Desa Jiwan.
Dalam proses ini yaitu untuk membantu masyarakat Desa Jiwan dalam
mewujudkan mimpi-mimpi mereka, di sini kami dari Mahasiswa KKN 03 yang
bertugas sebagai fasilitator di masyarakat dengan menggunakan pendekatan
ABCD (Asset-Based Community-driven Development) memilih skala prioritas
dari mimpi-mimpi masyarakat Desa Jiwan. Setelah melakukan penelusuran
wilayah-wilayah desa dan pemetaan aset maka di dapatkan beberapa aset yang
sudah disebutkan di atas, maka kami memprioritaskan untuk membantu
mengembangkan aset personal/individu seperti peternak ikan lele dan Home
industry (Abon Lele, Kue Semprong, Ramba Lele, Kue Kering, dan Kerupuk).

Langkah yang kami lakukan untuk mengembangkan skala prioritas dari


peternak lele dan home industry (Abon Lele, Kue Semprong, Ramba Lele, Kue
Kering, dan Kerupuk) adalah membantu dalam memberikan pelatihan cara
pemasaran produk-produk tersebut secara online (Marketing Online). Hal ini
diharapkan setelah di lakukan pelatihan marketing online masyarakat Desa
Jiwan dapat dengan sendirinya mengembangkan dan memperluas pejualan
produk-produk yang ada di Desa Jiwan hingga dapat merambah berbagai
wilayah di luar kota Madiun.

43
BAB III
PELAKSANAAN KKN TRANSFORMATIF ABCD
(Asset Based Community-Driven Development)

3.1 Rancangan Pemetaan Aset dan Pengembangannya


Dari beberapa aset yang berpotensi yang ada di Desa Jiwan dan telah
didata oleh mahasiswa KKN, diantaranya aset alam (lahan persawahan,
pertanian, perkebunan dan peternakan), aset fisik (Gedung sekolah, puskesmas,
kantor balai desa, masjid, dan musholla, pujasera), aset spiritual, aset sosial, dan
aset personal (home industry, peternakan, pedagang, dll). Dari semua aset yang
berpotensi tersebut, yang menjadi fokus pengembangan aset mahasiswa KKN
03 ialah aset personal berupa home industry dan peternakan yang dimiliki oleh
warga masyarakat Desa Jiwan.
Desa Jiwan mayoritas warganya bekerja sebagai karyawan di perusahaan
swasta, selain itu di beberapa dusun ada juga yang bekerja di bidang pertanian
dan beberapa warga bekerja sebagai peternak lele, pengusaha kue semprong,
pengusaha abon dan kripik lele. Berdasarkan hasil survei dan diskusi dengan
beberapa warga melihat banyaknya masyarakat yang memiliki usaha pribadi
seperti peternakan lele, kue semprong, abon dan kripik lele, baik usaha tersebut
adalah pekerjaan utama atau pekerjaan sampingan, maka dari itu kami menjadi
pendamping dan fasilitator masyarakat untuk mengembangkan usahanya agar
bisa dipasarkan secara luas dan dikenal oleh kota lain sebagai Aset Jiwan.
1. Inkulturasi
Inkulturasi adalah tahap untuk menyatu dan masuk kedalam kehidupan
masyarakat untuk membangun kerjasama dan mengenali lebih dalam
bagaimana masyarakat itu bersosial dengan cara mencoba hidup Bersama
mereka yang sebagai objek penelitian. Berikut merupakan tabel tahapan KKN
ABCD yang dapat dilihat pada Tabel 3.1

44
Tabel 3.1 Tahapan KKN ABCD
1 2 3 4 5
Inkulturasi Discovery Design Define Refleksi
Panduan  Appreciative  Skala  Lembar  Lembar
interview Inquiry prioritas Monitoring monitoring
 Community program  Design  Laporan
Map  Diagram program individu
 Transect venn kerja  Laporan
 Individual  Diagram kelompok
Skill Alur
 Inventory
 Analisa
 Sirkulasi
masyarakat

Selain untuk memahami bagaimana yang dilakukan masyarakat, tahapan


ini dimaksudkan untuk memberi kepercayaan mengenai program yang telah
direncanakan. Tahap ini sangat penting untuk peneliti karena dengan
inkulturasi, masyarakat akan mengetahui maksud keberadaan mahasiswa KKN
sebagai orang yang menjembatani dan memfasilitasi menjalankan program
yang direncanakan bersama masyarakat.
Pada tahapan ini peneliti melakukan inkulturasi serentak ke Desa Jiwan
dengan pembagian anggota KKN menjadi 4 kelompok untuk masuk kedalam
setiap 4 Dusun yang ada di Desa Jiwan.
Dengan cara menghadiri setiap acara rutinan setiap minggu atau pun
acara bulanan masyarakat desa yang ada di setiap Dusun I, Dusun II, Dusun III,
atau pun Dusun IV. Hal ini merupakan langkah pertama peneliti melakukan
inkulturasi, seperti mengikuti acara posyandu dan posbindu yang diadakan di
hari rabu dan kamis pada minggu keempat di Dusun IV, arisan warga,
membantu menjadi tenaga pengajar di TPQ Dusun I dimana banyak ibu-ibu
yang belajar mengaji. Kegiatan tersebut selain dilakukan untuk mengikuti
kegiatan keagamaan dan menjalankan sunnah juga untuk menjaga kepercayaan
yang ada pada masyarakat terhadap mahasiswa KKN yang ada di Desa Jiwan.

45
Tahap inkulturasi menjadi tahap yang crucial dalam memulai proses
pengabdian kami sebagai fasilitator dalam menjalani program pengembangan
masyarakat Desa Jiwan. Tujuan diadakannya inkulturasi ini adalah untuk
menjalin hubungan antara penduduk Desa Jiwan, dengan kami selaku
kelompok KKN 03 agar dapat saling bekerja sama dalam mengembangkan aset
yang dimiliki oleh masyarakat setempat. Dengan begitu, kami sebagai
kelompok KKN 03 memiliki kegiatan inkulturasi sebagai berikut:
a. Serah Terima di Kantor Kecamatan
Pada tanggal 14 Januari 2019 pukul 11.30 WIB, perwakilan kelompok
KKN 03 melaksanakan acara serah terima mahasiswa di Kantor Kecamatan
Jiwan. Dalam acara tersebut, kelompok KKN Desa Jiwan diberikan nasehat
dan aturan-aturan yang harus diperhatikan. Aturan tersebut adalah, selama
berlangsungnya program KKN kelompok KKN 03 diharapkan untuk
mentaati tata tertib serta aturan yang dimiliki oleh Desa Jiwan, dan menjaga
nama baik almamater.
Selanjutnya penyambutan oleh Kepala desa dilaksanakan pada tangal
15 Januari 2019 pukul 08.30 WIB kelompok KKN mengikuti acara
penyambutan oleh Bapak Widayanto selaku Kepala Desa, beserta Perangkat
Desa yang saat itu sedang berada di Balai Desa.
b. Menjalin silaturahmi dengan masyarakat
c. Membantu pelayanan masyarakat di Balai Desa
d. Sholat jama‟ah
e. Kajian sore
f. Membantu mendampingi Guru dalam kegiatan belajar-mengajar di TK
Negeri Pembina Jiwan.
g. Membantu mengisi kelas BTQ dan mengajari hadrah kepada Siswa-siswi di
SDN 01 Jiwan
h. Mengajari hadrah dan tari saman untuk siswa-siswi di SDN 02 Jiwan
i. Mendampingi guru dalam proses belajar mengajar untuk mempersiapkan
murid-murid kelas 6 dalam menghadapi UN di SDN 02 Jiwan.

46
j. Memberikan pelajaran tambahan kepada anak-anak di basecamp KKN 03
k. Mendampingi ustadzah dalam mengajar Al-Qur‟an kepada Ibu-ibu Dusun 1
(satu).
l. Mendampingi ustadzah dalam mengajar al-Qur‟an kepada anak-anak di
Dusun 3 (tiga) dan Dusun 4 (empat).
m. Membantu kegiatan posyandu dan posbindu

A. Program Pengembangan KKN Transformatif ABCD


Di dalam pelaksanaan KKN Transfromatif yang kami lakukan selama
satu bulan di Desa Jiwan, terdapat beberapa program pengembangan yang
dilakukan. Hal itu ditujukan sebagai pengembangan aset dan potensi yang kami
temukan pada desa tersebut, maupun sebagai pengabdian mahasiswa kepada
masyarakat desa. Selain itu dengan adanya program pengembangan KKN
Transformatif, kami berharap dapat membantu permasalahan yang terjadi di
masyarakat Desa Jiwan terutama dalam masalah perekonomian desa.
Aktivitas mahasiswa selama KKN yang dilakukan mulai tanggal 14
Januari hingga 13 Februari 2019 adalah bentuk pengembangan desa dan
pengabdian mahasiswa kepada masyarakat di Desa Jiwan. Sebagian besar
aktivitas mahasiswa berkaitan dengan bidang sosial, keagamaan, kesehatan, dan
Pendidikan. Hal itu dimulai dengan penggalian mahasiswa akan potensi Desa
Jiwan yang akan dikembangkan atau terpendam baik secara informatif maupun
realistik. Berikut adalah macam atau program pengembangan desa yang kami
lakukan selama di Desa Jiwan:
1) Program Utama
Berdasarkan hasil pemetaan desa yang kami lakukan sebelumnya,
kami menemukan beberapa aset dan potensi besar yang belum
dikembangkan secara maksimal oleh masyarakat Desa Jiwan. Selain sawah,
potensi terbesar yang ada di Desa Jiwan adalah aset personal yang dimiliki
oleh warga Desa Jiwan seperti home industry (abon dan rambak lele) dan
peternakan lele. Permasalahan yang muncul dari aset personal adalah

47
pemasaran produk hasil industri warga hanya berada dalam kapasitas pasar
lokal. Dengan begitu kami mahasiswa KKN 03 bermaksud untuk membantu
dan memfasilitasi para pelaku usaha agar dapat mengembangkan pemasaran
usahanya keluar Desa Jiwan bahkan hingga ke luar Kota.

2) Program Sampingan
Selain menyusun program utama, mahasiswa KKN di Desa Jiwan juga
menyusun dan membuat beberapa program yang berkaitan dengan
Pendidikan dan kegamaan diantaranya:
a Bidang Keagamaan
 Mengajar TPA/TPQ/TK/SD
Salah satu program kami dalam bidang keagamaan yaitu
membantu masyarakat desa dalam membaca dan menulis Al-Qur‟an.
Terdapat dua Dusun yang mendirikan sarana Pendidikan Al-Qur‟an
bagi santri dan santriwati Desa Jiwan. Berikut adalah deskripsi
kegiatan pengajaran TPQ/TPA/TK/SD:
Waktu Pelaksanaan:
1) Senin – Sabtu (pukul 16.00 – 17.30 wib) → Dusun 1
2) Kamis – Minggu (pukul 16.00 – 17.30 wib) → Dusun 3
3) Kamis – Sabtu (pukul 15.30 – 17.30 wib) → Dusun 4
Deskripsi Kegiatan:
Kegiatan TPA/TPQ yang dilaksanakan berupa membantu SDM
pengajar ngaji yang terletak di musholla di setiap Dusun. Pada Dusun
1 berada di Musholla Bani Tamtsir, di Dusun 3 berada di Musholla Ar-
Rohim dan di Dusun 4 berada di Musholla As-Syrofah. Adapun
agenda dan metode pengajaran Al-Qur‟an yang diajarkan mengikuti
jadwal dan sistem yang berlaku pada lembaga.

48
Gambar 3.1 Pengajaran Al-Qur‟an di TPQ Bani Tamtsir

b Bidang Pendidikan:
 Mengajar di TK (Taman Kanak-kanak)
Waktu Pelaksanaan:
 Senin – Sabtu (pukul 07.00 – 11.00 wib)
Deskripsi Kegiatan:
Pada lembaga PAUD, kami membantu para guru PAUD untuk
mengajarkan lagu, sikap yang baik dan beberapa materi pendidikan
lainnya seperti tata cara berdoa, senam dan permainan. Tidak jauh
beda dengan TK yang kami ajar. Materi yang kami ajarkan di PAUD
juga kami terapkan pada sekolah SD, namun dengan cara yang
berbeda. Dengan kata lain semakin tinggi tingkatan pendidikannya,
semakin tinggi ilmu yang disampaikan baik dari ilmu kearifan maupun
tentang agama.

Gambar 3.2 Kegiatan di TK Negeri Pembina Jiwan

49
 Mengajar di SD (Sekolah Dasar)
Waktu Pelaksanaan:
 Senin – Kamis (pukul 11.30 - 13.30 wib)
 Jum‟at- Sabtu (pukul 10.00 - 11.00 wib)
Deskripsi Kegiatan:
Kegiatan pembelajaran di SDN 01 Jiwan berupa pengajaran
BTQ (Baca Tulis Al-Qur‟an) dan Hadroh terhadap siswa. Adapun
sistem pengajaran BTQ yang dilakukan adalah, mengajarkan cara
membaca Al-Qur‟an secara tartil dan mengajarkan kaidah-kaidah
(tajwid). Selain itu, kami juga mengajarkan cara menulis Al-Qur.an
dengan baik dan benar. Pembelajaran tersebut diaplikasikan secara
langsung dalam setiap pertemuan, atau surat yang sedang dibaca.
Sedangkan pembelajaran hadrah, dilakukan dengan mengajarkan basic
hadroh kepada para siswa.

(a)

(b)
Gambar 3.3 (a) SD Negeri Jiwan 1; (b) Kegiatan Mengajar BTQ

50
Adapun kegiatan pembelajaran di SDN 02 Jiwan berupa
pengajaran ekstrakulikuler Tari, Hadroh, dan tambahan pelajaran
matematika. Tari yang diajarkan adalah Tari Saman. Adapun sistem
pembelajaran matematika yang diterapkan adalah membahas buku
detik-detik sebagai persiapan UN SD kelas 6.

(a)

(b)
Gambar 3.4(a) SD Negeri Jiwan 2; (b) Kegiatan Mengajar Hadrah

 Tambahan Pelajaran
Waktu Pelaksanaan:
 Senin – Rabu (pukul 14.00-15.00)
Deskripsi Kegiatan:
Pada tingkat informal kami juga membuat kegiatan atau program
bimbingan belajar pada siang hari, yang dilaksanakan di basecamp
kelompok KKN 03. Dikarenakan Pendidikan yang semakin

51
berkembang, kami bersama anak-anak Desa Jiwan belajar bersama.
Pelajaran umum yang kami ajarkan diharapkan dapat membantu anak-
anak Desa Jiwan agar lebih memahami, dan mengaplikasikan hasil
belajarnya kelak (pasca KKN).

Gambar 3.5 Kegiatan Pelajaran Tambahan di Basecamp

c. Pelayanan Umum
 Balai Desa
Waktu Pelaksanaan:
 Senin – Jum‟at (pukul 07.00 – 14.30)
Deskripsi Kegiatan:
Kegiatan di Balai Desa yang dilaksanakan berupa membantu
pelayanan umum seperti, membuat surat pindah, surat pengantar KTP,
surat kehilangan, Surat keterangan kepemilikan usaha dll.

2. Fasilitasi
Kegiatan mahasiswa KKN bukan hanya berupa inkulturasi dan
berpartisipasi dalam kegiatan forum seperti pengajian rutin, mengikuti rapat
yang diadakan oleh pihak apparat desa, membantu proses surat menyurat di
balai desa, juga sebagai tenaga kependidikan di TK, SD, TPA/TPQ. Banyak
hal lain yang dilakukan mahasiswa KKN untuk menjembatani membantu
komunikasi masyarakat dengan perangkat desanya, seperti pendataan aset
warga dan juga pemetaan wilayah serta pengembangan aset yang ada dalam
masyarakat Desa Jiwan.

52
3.2 Tahapan dan Pemetaan Aset
1. Discovery
Discovery secara Bahasa adalah menemukan, sedangkan secara istilah
adalah menemukan sesuatu yang selama ini tersimpan dan tidak disadari oleh
masyarakat. Discovery berkaitan dengan penggalian aset yang dimiliki
masyarakat. Discovery juga berkaitan dengan informasi yang penting terkait
dengan keadaan desa, potensi desa dan kehidupan masyarakat.
Berdasarkan observasi langsung pada masyarakat kami menemukan
banyak aset, enam aset diantaranya :
1 Aset Alam
2 Aset Fisik
3 Aset Sosial
4 Aset Institusi
5 Aset Spiritual
6 Aset Personal

Dari ke enam aset diatas, salah satu aset yang kami pilih untuk menjadi
fokus kami dalam menyusun program kerja nantinya adalah aset personal. Aset
personal yang ada di Desa Jiwan adalah home industry (abon lele, rambak lele,
kue semprong) dan peternak lele. Adapun permasalahan dari setiap aset
personal yang kami temukan adalah untuk peternak lele mengeluhkan masalah
pakan ternak yang mahal dan juga kegiatan pemasarannya belum maksimal.
Peternak lele yang berada di Dusun I hingga Dusun III masih menguasai
pemasaran di area pasar lokal yang seharusnya jika peternak lebih dari 1 dusun
pemasaran bisa menguasai pasar di luar desa penghasil, begitu juga dengan
home industry berupa abon lele yang berada di Dusun I dan home industry kue
semprong yang berada di Dusun IV yang menjadi masalah utama adalah
memasarkan hasil produksi yang dibuat oleh pelaku usaha di kalangan non
lokal dan juga kurangnya alat untuk proses produksi abon lele dan juga rambak
lele.

53
Dari permasalahan-permasalahan yang muncul dari 3 aset personal
tersebut, maka kami KKN kelompok 03 memutuskan untuk membantu
mengembangkan pemasaran dengan cara online maupun offline aset personal
tersebut. Besar harapan kami dengan membantu mengembangkan
pemasarannya produk tersebut, produk baik abon lele, rambak lele, kue
semprong, dan peternak lele dapat dikenal oleh orang di luar Desa Jiwan sendiri
bahkan hingga luar kabupaten Madiun.

2. Dream
Dream adalah mimpi, yakni sebuah angan-angan yang diinginkan oleh
setiap warga masyarakat dan menggambarkan apa yang diinginkan oleh
mereka. Oleh sebab itu warga masyarakat akan dengan mudah untuk mengingat
apa yang diinginkan untuk pencapaian dihidupnya. Dalam tahap ini peneliti
mewawancarai beberapa warga Desa Jiwan tentang apa mimpi yang mereka
inginkan demi kehidupan yang sejahtera dan kesejahteraan desa mereka,
diantaranya keinginan mereka ialah :
a. Harapan Ibu Fitria yang bertempat tinggal di Dusun III (Dusun Bagag)
adalah harapan memiliki air yang lebih jernih lagi dikarenakan daerah Dusun
Bagag beberapa wilayahnya memiliki air dengan kadar kapur yang tinggi.
Untuk keperluan memasak dan minum daerah yang memiliki air dengan
kadar kapur yang tinggi membeli air isi ulang.
b. Pak Nardi yang merupakan pemilik peternakan lele memiliki harapan agar
mendapat bantuan untuk pakan lele yang harganya relatif mahal. Karena
sering kali biaya pembelian pakan dan pembudidayaan lele jauh diatas harga
penjualan hasil panen.
c. Mas Vicky yang merupakan karang taruna memiliki harapan untuk pujasera
milik desa agar dapat lebih maju dan juga ramai terlepas ada event ataupun
tidak.
d. Pak Edy selaku Pak RT di RT 7 menginginkan masyarakat bisa semangat
dalam gotong royong seperti bersama-sama kerja bakti dan menjaga

54
kebersihan lingkungan desa. Masyarakat punya kesadaran besar dalam
menjadi bagian penduduk Desa Jiwan. Saat berupa sosialisasi dalam suatu
hal, baik berupa perintah atau pengetahuan diharapkan warga bisa tanggap
dan melaksanakannya. Dan juga diharapkannya ada pengajian bapak bapak
di Dusun I karena sejauh ini hanya ibu-ibu yang mengaji.
e. Bu yuni seorang guru TPQ menginginkan para orang tua punya semangat
untuk mengajikan anaknya ke TPQ terdekat sejak dini. Agar generasi
penerus di Desa Jiwan dapat mengenal AL-Qur‟an dan Agama lebih dalam
lagi.

3. Design
Tahap ketiga adalah tahap design, pada tahap ini masyarakat sudah mulai
merumuskan strategi untuk mencapai mimpi mereka. Melalui tahap ini
masyarakat sedikit demi sedikit mengeksekusi impian menjadi kenyataan. Hal-
hal positif yang telah ada sejak dulu dalam tahap Design ini ditransformasi
menjadi kekuatan. Untuk itu dalam mewujudkan perubahan yang diharapkan
(dream) perlu melakukan beberapa hal berikut:
a. Tahapan pertama yang kami lakukan adalah koordinasi dengan beberapa
peternak lele, home industry (abon dan rambak lele, dan kue semprong), Ibu-
ibu PKK dan perangkat desa untuk saling bekerja sama memecahkan
kendala kendala yang mereka hadapi dalam menjalankan bisnisnya. Dan
membantu memfasilitasi agar masalah yang dihadapi pelaku usaha teresebut
dapat terpecahkan demi memajukan Aset Desa Jiwan.
b. Ditentukannya bentuk pemecahan masalah sesuai hasil musyawarah desa,
dalam hal ini adalah marketing online. Dikarenakan para pelaku usaha
mengeluhkan pemasaran yang kurang optimal dan hanya berada dalam skala
pasar lokal. Dengan demikian mahasiswa KKN 03 membantu
mengkoordinasikan dengan Kepala Desa mengenai pelatihan marketing
online yang kan diberikan kepada para pelaku usaha agar dapat
mengembangkan pemasaran usaha mereka.

55
c. Mahasiswa KKN 03 menentukan pihak-pihak yang akan memberikan
pelatihan marketing online. Dalam hal ini kami menentukan 2 narasumber
yaitu dari pihak Bukalapak dan DISPERINDAG. Alasan dipilihnya dua
narasumber tersebut adalah karena goal dari hasil musyawarah desa adalah
membantu memasarkan online dengan begitu mengundang pembicara dari
Bukalapak adalah keputusan yang tepat menurut kami karena Bukalapak
sendiri adalah wadah untuk memasarkan online dan juga visi dari Bukalapak
sendiri memajukan UKM yang ada di desa. Harapan dan tujuan mengundang
Disperindag untuk memberi pelatihan adalah agar hasil industri yang ada di
Desa Jiwan dapat diketahui langsung oleh pihak Disperindag dan juga agar
dibantu untuk memasarkan apabila ada bazar atau pameran yang diadakan
oleh pihak Disperindag untuk memajukan UKM yang ada didesa di Madiun.
d. Setelah ditentukannya pemateri yang akan mengisi dalam pelatihan. Kami
menentukan hari diadakannya pelatihan tersebut. Pelatihan tersebut diadakan
dalam 2 hari, yaitu hari sabtu 8 Februari 2019 dan hari senin 10 Februari
2019. Pelatihan pada hari sabtu diisi oleh pemateri dari Bukalapak
sedangkan pada hari senin diisi oleh pemateri dari Disperindag.
e. Setelah diadakannya pelatihan tersebut. Selanjutnya kami bersama
Bukalapak melakukan pengarahan door to door yang dilakukan secara
individu agar proses pemfasilitasan pengembangan pemasaran online
berjalan sesuai yang kami harapkan. Dan juga kami memberikan sample
produk home industry yang di produksi oleh masyarakat Desa Jiwan kepada
pihak Disperindag untuk mendapat masukan apa yang harus dikembangkan
dari produk yang dihasilkan tersebut.

4. Destiny
Setelah mengetahui seluruh aset dan potensi yang ada di desa dan
mengetahui harapan dari penduduk desa, maka langkah selanjutnya adalah
destiny. Destiny adalah kepastian bahwa masyarakat benar-benar akan

56
melaksanakan rencana mereka berdasarkan potensi yang mereka miliki untuk
mewujudkan impian dan harapan mereka.
Desa Jiwan memiliki banyak aset yang bisa dikembangkan untuk
kemajuan desa, diantaranya adalah aset fisik, aset alam, aset personal, aset
institusi, aset sosial, dan aset spiritual, namun yang menjadi perhatian lebih
oleh peneliti adalah aset personal dimana tidak sedikit dari warga Desa Jiwan
memiliki banyak usaha baik usaha tersebut sebagai mata pencaharian utama
ataupun sebagai mata pencaharian sampingan. Beberapa dari usaha yang ada
adalah peternakan lele yang dimana usaha ini adalah usaha sampingan, namun
untuk kue semprong, abon lele dan kripik lele merupakan mata pencaharian
utama dari Ibu Upik dan Ibu Tati.
Dan berdasarkan hasil musyawarah desa kami mahasiswa KKN 03
bersama warga akan melakukan pelatihan marketing online dan juga akan
mendampingi proses pemasaran online yang akan dilakukan oleh pemilik usaha
agar pemasaran mereka meningkat. Dan juga agar usaha yang mulanya hanya
mata pencaharian sampingan dapat menjadi mata pencaharian utama jika proses
pemasarannya dapat menguasai pasar lokal dan non lokal.

3.3 Pemetaan dan Mobilisasi Aset


Menemukan dan mengenali aset adalah salah satu bagian dari proses
metode ABCD, karena dalam metode pemberdayaan ini menemukan dan
mengenali aset adalah sebuah tahapan awal untuk membuat sebuah proyek atau
program untuk masyarakat.
Desa Jiwan merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Jiwan,
Madiun. Secara geografis, Desa Jiwan memiliki potensi yang dapat dijadikan
berbagai macam aset baik maupun non fisik. Berikut adalah aset-aset yang
dimiliki oleh Desa Jiwan ialah :
a) Pemetaan Aset
1 Aset Alam

57
Aset alam atau yang dikenal dengan sumber daya alam yang ada di
Desa Jiwan sangat berlimpah, diantaranya :
a. Lahan persawahan
Sawah merupakan aset terluas yang dimiliki oleh warga Desa
Jiwan. Hal ini dikarenakan dari total luas Desa Jiwan yaitu 251,18 Ha,
107 Ha adalah lahan persawahan. Oleh karena itu mayoritas warga
Desa Jiwan berprofesi sebagai petani atau buruh tani. Dalam waktu
setahun, warga mampu memanen padi selama dua kali. Dari hasil
panen tersebut dibagi menjadi dua yakni untuk dikonsumsi atau
memenuhi kebutuhan sehari-hari dan yang kedua untuk dijual.
Kendala yang sering dihadapi oleh para petani adalah pupuk (mes)
yang sulit diperoleh sehingga menyebabkan harganya relative mahal.

Gambar 3.6 Lahan Persawahan


b. Sumber Air
Kebutuhan air bersih yang digunakan di Desa Jiwan yaitu
mayoritas menggunakan sumur pompa sebanyak 800 keluarga. Selain
itu, ada juga yang menggunakan air dari sumur gali yaitu sebanyak 649
keluarga dan penggunaan air PAM sebanyak 657 keluarga.
c. Berbagai macam pohon
Setiap ada lahan kosong disebelah, dibelakang atau dihalaman
rumah dimanfaatkan warga untuk ditanami pepohonan. Di Desa Jiwan,
warga banyak menanam pohon pisang, pohon jeruk, pohon mangga,
pohon papaya. Pohon pisang dapat dimanfaatkan mulai dari daun,
buah, bunga, sampai batangnya. Pohon manga dimanfaatkan buahnya,

58
pohon papaya dimanfaatkan buah dan daunnya, pohon jeruk
dimanfaatkan buah dan daunnya.

4 Aset Fisik
Desa Jiwan memiliki banyak aset, salah satunya yaitu aset fisik. Aset fisik
merupakan aset yang berupa bangunan fisik yang dijadikan sarana Pendidikan,
social, kesehatan atau sarana yang meningkatkan mutu Sumber Daya Manusia.
Berikut ini merupakan laporan detail yang ada di Desa Jiwan, Jiwan, Madiun.
a. Prasarana kesehatan
Merupakan aset fisik yang difungsikan dalam bidang kesehatan untuk
melayani masyarakat. Berikut adalah lampiran aset kesehatan.
- Posyandu 4 unit
- Puskesmas pembantu 2
- Bidan swasta 50 orang
b. Prasarana Pendidikan
Aset fisik yang menjadi sarana Pendidikan di Desa Jiwan ada 12 unit.
Diantaranya terdiri dari 5 unit Pendidikan formal dan 6 unit Pendidikan non
formal. Pendidikan formalnya diantaranya adalah paud 1 unit, TK/RA 1 unit,
SD/MI 2 unit, TPQ 6 unit.
c. Prasarana umum
Aset fisik yang berupa prasarana umum merupakan aset fisik yang
digunakan oleh masyarakat secara umum atau merupakan fasilitas umum.
Berikut merupakan rincian dari aset fisik yang bersifat prasarana umum :
- Sarana peribadatan : 22 unit. Terdiri dari 17 musholla yang tersebar di 4
Dusun, 4 Masjid yang tersebar di 4 Dusun, dan 1 gereja yang berada di
Dusun II.
- Lapangan olahraga : 1 unit yang hanya berada di Dusun III. Lapangan ini
sering digunakan untuk latihan sepak bola, acara memeriahkan
kemerdekaan, pemilu dll.

59
- Kantor balai desa : 1 unit yang berada di Dusun III. Digunakan untuk
menjalankan pemerintahan Desa Jiwan
- Makam umum : 2 unit. 1unit berada di Dusun I, 1 unit berada di Dusun
IV.
- Pujasera : 2 unit. 1 unit pujasera milik Desa yang berada didekat lapangan
Desa Jiwan. 1 unit pujasera milik Dusun yang berada di Dusun III (Dusun
Bagag).

5 Aset sosial
Desa Jiwan memiliki 4 aset sosial diantaranya:
a) Kelompok Jam‟iyah Desa
Kelompok jam‟iyah desa merupakan kelompok yang terdiri dari ibu-
ibu dan bapak-bapak dengan kegiatan rutinan yang berupa yasinan,
istighosah, dan arisan. Kelompok ini ada di setiap dusun di Desa Jiwan.
Setiap RT (Rukun Tetangga) di Dusun masing-masing mengadakan kegiatan
ini secara rutin tiap minggunya dengan waktu yang berbeda-beda. Beberapa
dari kelompok tersebut mengadakan kegiatan arisan setelah yasinan atau
istighotsah selesai, juga ada beberapa kelompok yang membedakan waktu
arisan dengan waktu yasinan.

b) Kelompok Senam
Kelompok senam ini terdiri dari ibu-ibu. Kelompok ini ada di setiap
dusun. Kegiatan ini dilakukan seminggu sekali setiap minggu pagi di
lapangan Desa Jiwan.

c) Kelompok Karate
Kelompok karate ini merupakan salah satu kelompok yang fokus pada
seni bela diri. Kelompok ini terdiri dari anak-anak hingga dewasa.

60
d) Kelompok Ternak
Kelompok ternak ini berada di Dusun Jiwan I (Dusun I) yang
merupakan binaan dinas peternakan dan perikanan. Kelompok ini berfungsi
sebagai wadah perkumpulan warga yang ingin mempunyai hewan ternak
dengan diberikan kemudahan dalam peminjaman modal. Sehingga,
diharapkan dengan adanya kelompok ternak ini, warga mampu mempunyai
hewan ternak tanpa harus kesulitan dalam mencari modal.

e) Kelompok Tani
Kelompok tani ini merupakan kelompok yang terdiri dari beberapa
petani yang mempunyai tujuan dan motif yang sama. Salah satu tujuannya
adalah sebagi wadah komunikasi untuk petani.

6 Aset institusi
a. Posyandu dan Posbindu
Posyandu adalah salah satu dari beberapa bentuk institusi dibidang
kesehatan yang berada di Desa Jiwan Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun.
Terdapat empat Posyandu dan Posbindu yang sampai sekarang masih
berjalan aktif yang mana dapat dijumpai dibeberapa Dusun yang ada di Desa
Jiwan, diantaranya satu Posyandu berada di Dusun I, satu posyandu berada
di Dusun II, satu Posyandu berada di Dusun Bagag, satu posyandu berada di
Dusun Mancaan.

b. TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur‟an)


TPQ disini berperan penting dalam pembentukan karakter generasi
bangsa dalam rangka mengembangkan spiritual desa, sehingga adanya TPQ
sangatlah berpengaruh terhadap pendalaman pengetahuan keagamaan
terutama dalam hal pengembangan Al-Qur‟an. Umat Islam tentulah
mengetahui betapa pentingnya Al-Qur‟an sebagai petunjuk hidup sehingga

61
tidak salah jika di Desa Jiwan yang mayoritas beragama Islam ini memiliki 7
TPQ yang sedang berkembang.

c. Puskesmas
Hanya ada satu puskesmas yang merupakan puskesmas pusat di Desa
Jiwan.

7 Aset spiritual
Agama merupakan salah satu kebutuhan manusia untuk mencapai
ketenangan dalam berhubungan dengan Tuhannya. Bagi umat muslim agama
dijadikan sebagai jalan atau pedoman hidup untuk mencari keridhoan Allah
SWT, maka ditanamkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Untuk
itu keagamaan sangat di prioritaskan karena manusia sangat butuh akan
keagamaan. Dalam hal ini untuk mengetahui dan mengaplikasikan hidup
beragama maka manusia diharuskan agar memahami tentang keagamaan.
Secara umum dengan melihat jumlah warga yang berada di Desa Jiwan
Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun 90% pemeluk agamanya adalah Agama
Islam. Maka dapat dinyatakan bahwa kondisi sosial keagamaan inilah yang
termasuk dalam wilayah religious, disamping itu juga dilingkungan
masyarakatnya sudah banyak jumlah organisasi sosial keagamaan yang sudah
membudidaya sejak dahulu kala, baik berupa jam‟iyah rutin mingguan maupun
bulanan yang diikuti oleh bapak-bapak dan ibu-ibu. Dengan kegiatan tersebut
masyarakat terbantu dalam mengembangkan dan meningkatkan pemahaman
terhadap keagamaan.
Sebagian besar masyarakat Desa Jiwan tergolong masyarakat yang aktif
dalam kegiatan islami seperti pengajian. Pengajian merupakan kegiatan islami
yang sangat membantu dalam pengamalan keagamaan dimasyarakat. Di Jiwan
ini banyak sekali kegiatan keagamaan atau yang disebut pengajian, yaitu
yasinan, istighosah, khataman, tadarus. Begitu kentalnya nilai keagamaan di

62
Desa Jiwan ini dapat dilihat dari adanya yasinan di setiap RT dengan waktu
yang berbeda yang sudah ditetapkan.
Kegiatan spiritual di Desa Jiwan :
a. Sholat berjamaah. Masjid wilayah Desa Jiwan telah cenderung aktif dan
makmur jama‟ah sholatnya, akan tetapi masih perlu kontribusi keilmuan
tentang ibadah dan perlu motivasi untuk beristiqomah dalam beribadah.
Disamping itu anggota KKN juga menghidupkan kegiatan jama‟ah shokat
lima waktu di masji Bani Tamtsir, selain itu melaksanakan adzan setiap
menjelang waktu sholat di beberapa masjid dan musholla.
b. Istighosah. Kegiatan ini dilakukan setiap malam jum‟at dilaksanakan di
berbagai musholla yanga da di Desa Jiwan.
c. Yasinan dan tahlilan. Yasinan adalah membaca surat yasin, baik sendirian
atau bersama-sama. Di Desa Jiwan terdapat perkumpulan masyarakat
berbasis kegiatan keagamaan dan kegiatan religious yakni perkumpulan
yasinan. Kegiatan ini terbagi menjadi 2 kelompok, yakni kelompok yasinan
ibu-ibu dan yasinan bapak-bapak tetapi dengan waktu yang berbeda setiap
RT. Kegiatan yasinan dilakukan secara bergilir dari rumah yang satu
kerumah yang lainnya sesuai dengan kesepakatan. Motif yang mendasarinya
adalah keyakinan bahwa pahala bacaan dikirimkan kepada orang yang sudah
meninggal, untum mengiringi proses kematian seseorang.
d. Khataman, kegiatan ini dilaksanakan di masjid Bani Tamtsir.
e. TPQ. Untuk anak-anak rutinitas mengaji di TPQ ataupun majlis taklim juga
dilaksanakan didusun masing-masing baik di masjid maupun di musholla.

8 Aset personal
Berikut merupakan tabel aset personal yang ada di setiap Dusun dapat dilihat
pada tabel dibawah ini

63
Tabel 3.2 Aset Personal Setiap Dusun
Dusun I Dusun II Dusun III Dusun IV
- Pembuat - Peternak - Peternak - Pembuat
abon lele lele gurame krupuk
dan kripik - Pembuat kue
lele semprong
- Peternakan - Pembuat kue
lele

64
BAB IV
MATERI KHUSUS

4.1 Posdaya Majelis Taklim Bani Tamtsir


Posdaya merupakan gagasan baru guna menyambut anjuran pemerintah
untuk membangunsumberdaya manusia melalui partisipasi keluarga secara
aktif. Proses pemberdayaan itu diprioritaskan pada peningkatan kemampuan
keluarga untuk bekerja keras mengentaskan kebodohan, kemalasan dan
kemiskinan dalam arti yang luas. Sasaran kegiatan yang dituju adalah
terselenggarakannya upaya bersama agar setiap keluarga mempunyai
kemampuan melaksanakan delapan fungsi keluarga.
Posdaya adalah forum silaturahmi, advokasi, komunikasi, informasi,
edukasi dan sekaligus bisa dikembangkan menjadi wadah koordinasi kegiatan
penguatan fungsi-fungsi kekeluargaan secara terpadu. Penguatan fungsi-fungsi
utama tersebut diharapkan memungkinkan setiap keluarga semakin mampu
membangun dirinya menjadi keluarga sejahtera, keluarga yang mandiri dan
keluarga yang sanggup menghadapi tantangan masa depan dengan lebih baik
(Suyono danHaryanto, 2009).
Pengembangan Posdaya ditujukan untuk mencapai hal-hal sebagai
berikut:
(a) Dihidupkannya dukungan sosial budaya atau social capital seperti hidup
gotong royong dalam masyarakat untuk menolong keluarga lain, membantu
pemberdayaan secara terpadu atau bersama-sama memecahkan masalah
kehidupan yang komplek, melalui wadah atau forum yang memberi
kesempatan para keluarga untuk saling asah, asih, dan asuh, dalam
memenuhi kebutuhan membangun keluarga bahagia dan sejahtera;
(b) Terpeliharanya infrastruktur sosial kemasyarakatan yang terkecil dan solid,
yaitu keluarga, yang dapat menjadi perekat atau kohesi sosial,sehingga
tercipta suatu kehidupan yang rukun, damai dan memiliki dinamika yang
tinggi;

65
(c) Terbentuknya lembaga sosial dengan keanggotaan dan partisipasi keluarga
didesa atau kelurahan yang dinamis dan menjadi wadah atau wahana
partisipasi sosial, di mana para keluarga dapat memberi dan menerima
pembaharuan yang dapat membantu proses pembangunan kehidupan
keluarga dengan mulus dan sejuk (Muljono dkk, 2009).
Berdasarkan hasil penelitiannya, Muljono (2011) menyatakan bahwa
Posdaya dikembangkan untuk merespon program pemerintah dalam
membangun sumber daya manusia melalui partisipasi aktif dalam keluarga.
Proses pemberdayaan yang memprioritaskan peningkatan kemampuan keluarga
untuk bekerja keras menghilangkan kebodohan, kemalasan dan kemiskinan
dalam arti yang luas. Untuk pengembangan Posdaya, Muljono (2010)
menyatakan bahwa perlu penegasan kembali tujuan Posdaya, penyegaran
anggota dan kader Posdaya, mengintensifkan kegiatan sosialisasi Posdaya
kepada semua pihak, seperti masyarakat, tokoh masyarakat, desa, pejabat
kabupaten dan pemerintah daerah serta membangun jaringan usaha produktif
dalam upaya pemberdayaan masyarakat.
Pada pembahasan posdaya di laporan ini yakni menjelaskan mengenai
majelis ta‟lim yang mana majelis ini dapat berfungsi sebagai tempat belajar,
tempat silaturrahmi, sekaligus tempat mewujudkan minat dan kesejahteraan
umat. Di Desa Jiwan, memiliki begitu banyak majelis taklim. Majelis taklim
tersebut tersebar di semua Dusun. Bahkan dalam satu Dusun, dapat memiliki
lebih dari tiga majelis taklim. Pada tahun ini, kelompok 03KKN Desa Jiwan,
memfokuskan peningkatan posdaya di dusun satu. Lebih tepatnya majelis
taklim Bani Tamtsir yang bertempat di musholla Bani Tamtsir, RT.07 RW. 02
desa Jiwan.
Hal pertama yang dilakukan oleh kelompok 03 KKN Desa Jiwan untuk
memperoleh informasi mengenai majelis taklim yang ada adalah dengan
melakukan wawancara terhadap beberapa warga. Setelah langkah tersebut
dilakukan, kemudian dilakukan pemilahan kiranya majelis manakah yang perlu
mendapat perhatian lebih, agar dapat lebih ditingkatkan fungsinya.

66
Pada akhirnya, kelompok 03 KKN Desa Jiwan memilih majelis taklim
Bani Tamtsir, karena selain dianggap masih memerlukan perhatian dan
dampingan, majelis taklim tersebut juga yang paling dekat dengan tempat
tinggal, sehingga lebih mudah untuk dijangkau setiap waktu.
Majelis taklim Bani Tamtsir merupakan suatu TPQ (Taman Pendidikan
Al-Qur‟an) dewasa. Majelis taklim ini bertempat di Musholla Bani Tamtsir
yang beralamatkan di RT. 07 RW.02 Dusun satu, Desa Jiwan. Majelis taklim
ini, pada mulanya merupakan posdaya rintisan kelompok KKN UINSA Desa
Jiwan pada periode pertama. Pada masa itu, angkatan pertama KKN Desa
Jiwan, berusaha memberikan pelayanan pendidikan Al-Qur‟an pada warga
sekitar, khususnya ibu-ibu. Kegiatan belajar membaca Al-Qur‟an di musholla
Bani Tamtsir dilakukan setiap hari senin sampai kamis, sejak pukul 16.00 WIB
sampai selesai. Kegiatan lainnya adalah khataman Al-Qur‟an yang rutin
dilakukan setiap minggu wage, mulai selepas shalat subuh hingga selesai. Pada
mulanya, tenaga pengajar di TPQ dewasa musholla Bani Tamsir ini adalah
mahasiswa KKN desa Jiwan angkatan pertama. Namun selepas mahasiswa
KKN kembali ke Surabaya, tanggung jawab mengajar Al-Qur‟an tersebut di
ambi alih oleh Ibu Siti Nurcholifah, selaku istri dari bapak sekretaris Desa
Jiwan.
Saat ini, jumlah peserta TPQ Dewasa di musholla Bani Tamtsir sebanyak
sepuluh orang. Jumlah tersebut berkurang dari jumlah peserta awal TPQ
dewasa musholla Bani Tamtsir, yang begitu banyak. Jumlah tenaga pengajar
juga berkurang, yakni hanya menyisakan satu orang saja. Padahal sebelumnya,
ada tiga orang guru yang mengajar di musholla tersebut.
Majelis taklim Bani Tamtsir, atau TPQ Dewasa musholla Bani Tamtsir
tidak memiliki struktur kepengurusan dikarenakan lembaga tersebut belum
terdaftar. Selain itu, TPQ tersebut juga hanya memiliki satu orang guru, dan
sepuluh orang ibu-ibu selaku santri. TPQ tersebut juga masih bersifat
kemasyarakatan, yang selalu terbuka untuk siapa saja yang ingin belajar,
dikelola bersama oleh semua anggota, dan tidak memiliki tuntutan pertanggung

67
jawaban pada lembaga atau metode pembelajaran membaca Al-Qur‟an tertentu
sehingga tidak mengharuskan adanya struktur kepengurusan.

1. Pemetaan Jamaah
Berdasarkan pengamatan dan pengambilan data yang telah dilakukan,
maka diperolehlah pemetaan jamaah majelis taklim Bani Tamtsir di RT.07
RW.02 Desa Jiwan, Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun sebagai berikut:

Tabel 4.1 Pemetaan Jama‟ah Majelis Ta‟lim Bani Tamtsir


Kriteria Kesejahteraan
No Nama RT/RW Pra Sejahter Sejahter Sejahtera Sejahtera
. Sejahtera aI a II III III Plus
1. Ibu Mursiti 07/02 
Ibu Siti
2. 06/02 
Mariyawati
Ibu Eni
3. 07/02 
Suhartiningsih
4. Ibu Hariyantini 07/02 
5. Ibu Eko D.S 06/02 
6. Ibu Sri Murtini 07/02 
7. Ibu Indrayati 06/02 
Ibu Dewi
8. 21/10 
Rufi‟ah
Ibu Sri
9. 08/02 
Wahyuni

2. Program Kerja Majelis Taklim Bani Tamtsir


Program kerja Majelis Taklim Bani Tamtsir, merupakan jadwal
kegiatan yang diadakan di musholla Bani Tamtsir beserta dengan rincian
kegiatannya. Adapun program kerja Majelis Taklim Bani Tamtsir adalah
sebagai berikut:

a. TPQ Dewasa
Yaitu kegiatan belajar membaca Al-Qur‟an yang rutin dilakukan di
musholla Bani Tamtsir setiap hari senin sampai kamis, sejak pukul 16.00

68
WIB sampai selesai. Adapun rincian atau jadwal kegiatan
pembelajarannya adalah sebagai berikut:
1) Senin
a) Pembukaan atau doa sebelum belajar
b) Mudarrosah hafalan surah al-ikhlas sampai surah an-Nashr
c) Mengaji Al-Qur‟an individual
d) Membaca asmaul husna
e) Doa sesudah belajar
2) Selasa
a) Pembukaan atau doa sebelum belajar
b) Mudarrosah hafalan surah al-ikhlas sampai al- Kafirun-al-Fiil
c) Mengaji Al-Qur‟an individual
d) Membaca asmaul husna
e) Doa sesudah belajar
3) Rabu
a) Pembukaan atau doa sebelum belajar
b) Mudarrosah hafalan surah al-Humazah sampai surah al-„Aadiyat
c) Mengaji Al-Qur‟an individual
d) Membaca asmaul husna
e) Doa sesudah belajar
4) Kamis
a) Pembukaan atau doa sebelum belajar
b) Mudarrosah hafalan surah al-Zalzalah sampai surah al-Qadr
c) Mengaji Al-Qur‟an individual
d) Tajwid
e) Membaca asmaul husna
f) Doa sesudah belajar
Pada mulanya, pembelajaran hanya dilaksanakan sampai hari
kamis. Sebagai salah satu usaha peningkatan atau pemberdayaan, maka
kelompok 03KKN Desa Jiwan, menawarkan jam tambahan pada hari

69
jum‟at dan sabtu sejak pukul 16.00 WIB sampai selesai. Dengan rincian
hari jum‟at adalah rutinan membaca surah al-kahfi, dan materi bebas di
hari sabtu. Tawaran tersebut diterima dengan baik oleh jamaah. Bahkan
kebanyakan dari jamaah sangat antusias, dan mengajukan permintaan
terkait materi untuk hari jum‟at dan sabtu. Hingga akhirnya, diputuskan
jadwal sebagai berikut:
5) Jum‟at
a) Pembukaan atau doa sebelum belajar
b) Membaca Surah al-Kahfi
c) Fiqih Nisa‟
d) Membaca asmaul husna
e) Doa sesudah belajar
6) Sabtu
a) Pembukaan atau doa sebelum belajar
b) Pengajian tafsir al-Qur‟an
c) Tanya jawab seputar permasalahan jamaah atau permasalahan
keagamaan
d) Membaca asmaul husna
e) Doa sesudah belajar

b. Khataman Al-Qur‟an Minggu Wage


Khataman Al-Qur‟an minggu wage merupakan suatu kegiatan rutin
yang dilaksanakan di majelis taklim Bani Tamtsir. Kegiatan ini,
dilakukan setiap minggu wage. Adapun waktu pelaksanaannya dimulai
usai shalat subuh, hingga selesai. Pembacaan Al-Qur‟an dilakukan
dengan membaca serentak, juz yang telah dibagi dan ada satu orang yang
membaca menggunakan pengeras suara.
Setelah semua juz selesai dibaca, kemudian ditutup dengan doa
khatmil Qur‟an oleh ketua takmir musholla Bani Tamtsir.

70
3. Program Unggulan Majelis Taklim Bani Tamtsir
Program unggulan yang ada di majelis taklim Bani Tamtsir adalah
TPQ Dewasa. Kegiatan ini adalah kegiatan yang paling rutin dilaksanakan,
dalam keadaan apapun. Kegiatan ini juga menunjukkan hasil secara
langsung, berupa perkembangan kemampuan membaca dan hafalan dari
santri TPQ Dewasa. Wujud dari perkembangan kemampuan membaca Al-
Qur‟an dari santri TPQ Dewasa Bani Tamtsir, juga dapat dibuktikan dalam
berbagai kegiatan keagamaan yang menyertakan baca Al-Qur‟an di
dalamnya, misal khatam Al-Qur‟an Minggu wage, yasinan, tahlilan, dan
lain-lain.

4. Rekomendasi
Majelis Taklim Bani Tamtsir ini, merupakan suatu aset pendidikan
keagamaan, sekaligus posdaya yang sangat berpotensi untuk berkembang
lebih jauh. Oleh karenanya, sangat penting sekali untuk terus melakukan
evaluasi, dan pengembangan agar dapat mencapai perkembangan yang
maksimal.
Berdasarkan hasil observasi, dan wawancara mengenai harapan bagi
Majelis Taklim Bani Tamtsir, maka kami selaku kelompok 03 KKN Desa
Jiwan memberikan beberapa pilihan yang dapat dilakukan demi
perkembangan Majelis Taklim Bani Tamtsir yang lebih maksimal. Adapun
beberapa hal yang dapat dilakukan demi tercapainya perkembangan tersebut
antara lain, menyiapkan kader guru di Majelis Taklim Bani Tamtsir. Hali ini
dikarenakan, saat ini, hanya ada satu orang guru yang mengajar di TPQ
Dewasa Bani Tamtsir, yaitu Ibu Siti Nurcholifa

Langkah ke dua yang dapat dilakukan adalah, dengan mengadakan


imtihan atau khataman sekaligus syukuran yang disaksikan oleh keluarga,
maupun warga sekitar bagi mereka yang telah berhasil menuntaskan materi
belajar membaca Al-Qur‟an. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan agar

71
saantri TPQ Dewasa lebih termotivasi untuk segera menguasai dan
menuntaskan materi pembelajaran yang ada. Selain itu, melalui kegiatan
khataman dan syukuran, diharapkan dapat memotivasi warga lain agar mau
belajar membaca Al-Qur‟an, sekaligus kegiatan tersebut sebagai bentuk
tanggung jawab lembaga pada masyarakat. Yaitu menggugurkan kewajiban
mencetak generasi yang mampu membaca Al-Qur‟an yang baik dan benar,
sesuai kaidah tajwid dan tartil.
Adapun langkah lain yang dapat dilakukan juga, adalah dengan
menggunakan metode tertentu dalam belajar membaca Al-Qur‟an. Dimana
metode tersebut merupakan suatu metode yang telah umum untuk
digunakan, dan memiliki struktur organisasi serta beberapa aturan dan
kebijakan tertentu. Tujuannya adalah, agar suatu lembaga dapat terstruktur
dengan baik sehingga mempermudah proses belajar, serta adanya pembinaan
dan pelatihan secara terus menerus untuk menjaga kualitas bacaan Al-Qur‟an
dari santri maupun ustadzah yang menggunakan metode tersebut.

5. Tingkat Kesejahteraan Warga Desa Jiwan


Masyarakat pedesaan dari segi kulturasi memiliki aset yang sangat
besar dan jarang dimiliki oleh masyarakat perkotaan, yaitu guyub, gotong
royong, dan rasa kebersamaan yang lekat antara satu dengan yang lain.
Aset ini tentunya tidak boleh dibiarkan begitu saja sementara
tantangan globalisasi yang cenderung mengedepankan individualistic,
materialistic, egosentrisme semakin tersebar luas di berbagai kalangan tua
dan muda, di perkotaan bahkan di pedesaan. Akibatnya kesenjangan social
masyarakat akan terus meningkat.
Untuk itu perlu adanya pengelolaan aset tersebut sehingga dapat
dikembangkan untuk kesejahteraan warga. Salah satunya melalui institusi.
Institusi dalam pengembangan masyarakat memiliki peran penting. Didalam
masyarakat pedesaan Institusi yang paling berkembang ialah majlis ta‟lim.

72
Di Desa Jiwan Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun adalah salah satu
contoh masyarakat yang memiliki aset institusi, salah satunya majeli ta‟liim.
Melalui MT masyarakat berkumpul, berdiskusi, belajar dan bersilaturahmi
serta tradisi-tradisi yang menjadikan mereka semakin lekat.
Berangkat dari hal tersebut, KKN kelompok 03 melakukan kegiatan
menyebar angket untuk memahami tingkat kesejahteraan masyarakat desa
Jiwan berbasis Majelis Ta‟lim agar bisa diketahui potensi apakah yang
benar-benar bisa dikembangkan.
Alhasil dari penyebaran angket kepada warga Desa Jiwan secara
random sampling menemukan gambaran tingkat kesejahteraan warga dalam
bentuk tabel berikut ini:

Tabel 4.2 Indikator Posdaya Berbasis Majelis Taklim

No Indikator Ya Tidak Kesimpulan


1 Melaksanakan ibadah 10
2 Makan dua kali atau lebih sehari 10 Keluarga Pra
3 Memiliki pakaian berbeda untuk aktivitas 10 Sejahtera (0
keluarga)
4 Bagian terluas lantai rumah bukan dari tanah 9 1 0%
5 Bila anak sakit dibawa ke sarana kesehatan 10
6 Ibadah teratur 9 1
7 Daging/ ikan/ telur 1 x seminggu 9 1
8 Satu stel pakaian baru per tahun 9 1
9 Luas lantai > 8 m2 / jiwa 9 1 Keluarga
10 Sehat 3 bulan terakhir 9 1 Sejahtera I (2
keluarga)
11 Punya penghasilan tetap 5 5 13,4%
12 Usia 10-60 tahun bisa baca tulis huruf Latin 10
13 Usia 6-15 tahun bersekolah 10 0
14 Anak > 2 ber-KB 8 2
15 Meningkatkan pengetahuan agama 10 Keluarga
16 Memiliki tabungan keluarga 7 3 Sejahtera II

73
No Indikator Ya Tidak Kesimpulan
17 Makan bersama sambil berkomunikasi 9 1 (3 keluarga)
30%
18 Mengikuti kegiatan masyarakat 10
Memperoleh berita dari surat kabar, radio, TV,
19 10
majalah

Aktif memberikan sumbangan materil secara Keluarga


20 8 2
teratur Sejahtera III
(4 keluarga)
Aktif sebagai pengurus Orgnisasi 45 %
21 1 9
kemasyarakatan
Keluarga
Sejahtera
- Ada cheklist tidak dari 21 indikator di atas IIIPlus (1
keluarga)
10%

Dari hasil pengelompokan diatas, maka majelis ta‟lim di desa Jiwan


menggambarkan tingkat kesejahteraan pada kategori keluarga sejahtera III,
melihat bahwa indicator-indikator (aktif memberikan sumbangan materil
seacra teratur dan aktif sebagai pengurus organisasi kemasyarakatan) berada
di posisi keluarga sejahtera III dengan prosentase 45%, sedangkan posisi
keluarga pra sejahtera sebanyak 0% dengan indicator (melaksanakan ibadah-
makan dua kali atau lebih sehari-memiliki pakaian berebeda untuk aktivitas-
bagian terluas lantai rumah bukan dari tanah-bila anak sakit dibawa e sarana
kesehatan) artinya bahwa indicator-indikator keluarga pra sejahtera telah
dilalui semua keluarga disini.

Kemudian pada posisi keluarga sejahtera I sebanyak 13,4% dengan


indicator (ibadah teratur- daging/ikan/telur 1xseminggu-satu stel pakaian
baru per athun- luas lantai > 8 m2/jiwa – sehat 3 bulan terakhir- punya
penghasilan tetap- usia 10-60 tahun bisa baca tulis huruf latin- usia 6-15
tahun bersekolah -anak >2 ber KB), prosentase keluarga sejahtera II
sebanyak 30% dengan indicator-indikator (meningktkan pengetahuan

74
agama- memiliki tabungan keluarga- makan Bersama sambal
berkomunikasi-mengikuti kegiatan kemasyarakatan- memperoleh berita dari
surat kabar, TV, radio, majalah), dan terakhir keluarga sejahtera III plus
sebanyak 10% dengan indicator angket tersebut berada di posisi terlaksana
dalam keluarga tersebut.

4.2 Lingkungan Hidup dan Kebencanaan (LHK)


Keberadaan lingkungan suatu daerah dengan daerah lain tentu berbeda.
Hal tersebut turut mempengaruhi perkembangan, dan potensi terjadinya
bencana alam di daerah tersebut. Adapun profil lingkungan hidup dan
kebencanaan mempunyai tujuan untuk membantu masyarakat dalam mengenali
kondisi lingkungan hidup dan upaya penanggulangan bencana. Dalam profil
lingkungan hidup dan kebencanaan ini mempunyai beberapa point penting
diantaranya: identitas wilayah dampingan, kondisi pengelolaan lingkungan
hidup, kebencanaan.
1. Identitas Desa
Identitas wilayah dampingan Desa Jiwan, masih termasuk dalam
kecamatan Jiwan. Adapun Kecamatan Jiwan sendiri terletak di wilayah paling
barat Kabupaten Madiun yang berbatasan langsung dengan Kota Madiun serta
Kabupaten Magetan. Kecamatan Jiwan merupakan salah satu dari 15
Kecamatan di wilayah Kabupaten madiun dengan batas-batas sebagai berikut,
sebelah utara berbatasan dengan Desa Grobogan Kecamatan Sawahan, sebelah
timur dengan Desa Nambangan Lor kecamatan Mangunharjo (Kota Madiun) di
sebelah selatan berbatasan dengan Desa Metesih kecamatan Geger, dan sebelah
barat dengan Desa Sukolilo Kecamatan Maospati (Kabupaten Magetan) terletak
pada ketinggian antara 55 sampai dengan 95 meter di atas permukaan laut.
Keseluruhan wilayah Desa di Kecamatan bertopografi datar.

Sebagian besar pengelolaan lingkungan Desa di Kecamatan Jiwan berada


di luar kawasan hutan. Luas wilayah Desa Jiwan sendiri mencapai 178,77 ha,

75
dengan luas lahan pertanian yang semakin mengecil hingga mencapai 25 ha.
Sawah di Desa Jiwan, merupakan persawahan dengan sistem irigasi yang baik.
Hal tersebut sangat membantu masyarakat, karena mereka tidak perlu
mengalami kesulitan untuk mengairi sawah mereka, baik itu persawahan padi
maupun palawija. Hasil dari persawahan masyarakat desa Jiwan tidak untuk
dijual, melainkan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari oleh
petani.

2. Pengelolaan Sampah Dan Limbah.


Lingkungan di Desa Jiwan cukup bersih. Hal tersebut dikarenakan
masyarakat Desa Jiwan sadar akan kebersihan lingkungan sekitar. Tidak ada
sampah berceceran di setiap RT. Masyarakat biasanya mengumpulkan dan
membuang sampah di belakang rumah mereka. Selain itu, masyarakat juga
biasa mendaur ulang kembali sampah yang masih bisa digunakan. Akan tetapi,
dalam menyikapi sampah yang tidak bisa didaur ulang, masyarakat cenderung
memilih langkah tercepat dan termudah, yaitu dengan membakarnya.
Pembakaran sampah ini, menghasilkan asap yangvmenyebabkan polusi udara,
dan menjadikan sesak napas.
Adapun tempat untuk pembuangan akhir dari sampah warga Desa Jiwan
adalah di Tempat Pembuangan Sampah besar yang berada di dekat area ring
road. Biasanya sampah-sampah dari warga, atau masyarakat perumahan akan
dikumpulkan dan dikoordinir sebelum diambil oleh petugas kebersihan
menggunakan gerobak sampah. Selanjutnya sampah baru diantarkan ke tempat
pembuangan akhir.

Untuk limbah domestik dibagi menjadi 2 yaitu limbah kakus (black


water) dan limbah non kakus (grey water). Di Desa Jiwa sendiri pembuangan
limbah non kakus langsung dialirkan ke saluran drainase depan rumah,
sedangkan limbah kakus dibuang ke saptictank.

76
3. Pengelolaan Sumber Daya Air
Desa Jiwan memiliki satu sungai, bernama sungai Semawur. Sungai
semawur sendiri merupakan sungai yang berada di Magetan, memiliki panjang
sekitar 47.10 Km dan melintasi Desa Jiwan. Sungai semawur ini berfungsi
sebagai pengairan di Desa Jiwan. Kondisi air sungai Semawur sendiri, sudah
tidak baik untuk digunakan dalam memenuhi kebutuhan memasak dan
mencuci. Masyarakat memiliki harapan, agar sungai sungai yang ada di Desa
Jiwan tersebut dapat lebih terawat, dan bersih kembali.
Masyarakat Desa Jiwan biasa memanfaatkan air sumur dan air PDAM
untuk keperluan sehari-hari. Jumlah sumur di Desa Jiwan sendiri mencapai
1300 sumur, yang terdiri dari 657 unit sumur pompa dan sumur gali sebanyak
649 unit. Adapun prosentase masyarakat pengguna PDAM adalah sebanyak
70%. Prosentase tersebut menunjukkan bahwa, ada warga dari Desa Jiwan yang
menggunakan air PDAM sekaligus air sumur, dalam kehidupan sehari-hari.
Namun di salah satu Dusun, terdapat air bersih mengandung kapur yang
sangat tinggi. Hal ini menyebabkan air tersebut tidak bisa dimanfaatkan lagi.
Untu memenuhi kebutuhan sehari-hari warga tersebut harus membeli air galon.
Untuk mengatasi atau meminimalisir permasalahan tersebut, alangkah baiknya
dilakukan proses pengolahan secara sederhana terlebih dahulu untuk
menurunkan kesadahan yang terkandung pada air tersebut.

4. Penggunaan energi
Penggunaan energi tidak mampu dilepaskan dari kegiatan kehidupan
manusia. Sehingga agar kehidupan manusia dapat berjalan dengan baik,
manusia pasti membutuhkan energi. Wujud dari energi yang digunakanpun
beraneka ragam. Manusia, khususnya masyarakat Desa Jiwan terbiasa
menggunakan energi listrik PLN sebagai sumber listrik utama, baik di rumah,
kantor, toko, dan beberapa fasilitas pelayanan masyarakat lainnya.
Adapun dalam hal memasak, masyarakat Desa Jiwan biasa memanfaatkan
energi dari kayu bakar atau gas elpigi untuk mengolah makanan. Memasak

77
makanan menggunakan kayu bakar di Desa Jiwan memang sudah mulai
ditinggalkan, namun masih ada beberapa warga yang memilih dan memiliki
kayu bakar untuk memasak.
Untuk memenuhi kebutuhan bepergian ke suatu tempat, masyarakat Desa
Jiwan memiliki pilihan, apakah hendak memakai transportasi umum atau
pribadi. Transportasi umum yang ada, dan bisa kita temukan di Desa Jiwan di
antaranya adalah angkutan umum atau lyn, bus, maupun becak. Sementara
untuk kendaraan pribadi misalnya ada sepeda, sepeda motor, maupun mobil.
Oleh karenanya, masyarakat Desa Jiwan tidak akan mengalami kesulitan yang
berarti jika ingin bepergian ke suatu tempat.

5. Budaya terkait lingkungan


Warga desa Jiwan merupakan warga yang perduli dengan lingkungan
sekitarnya. Terbukti dengan adanya saluran irigasi yang baik, warga terbiasa
membersihkan sampah yang ada di sekitar, dan tidak berusaha mencemari
lingkungan. Warga di Desa Jiwan juga memiliki budaya gotong royong, dan
kerja bakti untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan lingkungan. Selain itu,
ada juga suatu budaya bernama bersih desa yang dilakukan setiap satu tahun
sekali tepatnya pada tanggal 17 Agustus. Budaya tersebut diikuti oleh semua
warga desa. Budaya bersih desa tersebut merupakan suatu bentuk rasa syukur
pada Tuhan karena telah diberi nikmat yang sudah seharusnya disyukuri,
sekaligus doa bersama memohon perlindungan dari segala bahaya, bencana,
dan cobaan yang mungkin terjadi selama setahun mendatang. Acara tersebut
dipimpin oleh tokoh masyarakat didampingi perangkat desa, diisi dengan
kegiatan membersihkan lingkungan sekitar desa, lalu ditutup dengan doa.

6. Kebencanaan
Adapun permasalahan kebencanaan yang kemungkinan besar terjadi di
Desa Jiwan adalah masalah terkait banjir. Di musim penghujan, puluhan Desa
di Madiun rawan akan bencana banjir. Kasie Pencegahan dan Kesiapsiagaan,

78
BPBD Kabupaten Madiun, Erfan, mengatakan, puluhan Desa di Madiun rawan
banjir. Hal tersebut dikarenakan beberapa desa dilalui sejumlah aliran sungai
kecil yang mengalir ke daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Madiun, yang
merupakan anakan dari Bengawan Solo. Menurut penuturan, Beliau sungai
kecil yang mengalir dari lereng Gunung Wilis ke Bengawan Madiun adalah
Kali Piring, Jerohan, Sono, dan Uluh. Aliran sungai tersebut melintasi 41 desa
di 11 wilayah Kecamatan, di antaranya, adalah Kecamatan Kare, Wungu,
Madiun, Balerejo, Sawahan, Jiwan, dan Kebonsari.
Secara Topografi Desa Jiwan merupakan daerah dataran rendah dengan
luas 251,18 Ha, dan letak ketinggian elevasi sekitar 64 m di atas permukaan
laut. Adapun curah hujan rata-rata di Desa Jiwan yaitu sekitar 125 mm/Tahun.
Dengan curah hujan sebanyak itu, dan kebetulan terjadi sedikit gangguan pada
saluran air maka beberapa waktu yang lalu sempat terjadi luapan air di dusun 1.
Namun luapan air tersebut, tidak menyebabkan banjir besar yang menyebabkan
kerugian besar.

4.3 Gender Mainstreaming (GM)


Adanya penelitian mengenai gender dikarenakan adanya perbedaan latar
belakang dan pandangan masyarakat mengenai posisi suami atau laki-laki,
dengan posisi istri atau perempuan yang sesungguhnya. Pandangan masyarakat
saat ini mengenai aktivitas istri atau perempuan sudah mulai ada peningkatan,
akan tetapi masih membatasi keterlibatan istri dalam aktivitas yang biasanya
dilakukan suami atau laki-laki, dan seorang suami atau laki-laki tidak dituntut
untuk terjun dalam aktivitas domestik dalam rumah tangga. Beberapa orang
masih menganggap jika laki-laki, atau suami terjun dalam aktivitas domestik
adalah hal yang tidak pantas dan akan menimbulkan tanya, bagaimana bisa hal
tersebut terjadi.
Gender sendiri adalah karakteristik, aktivitas, dan peran laki-laki dan
perempuan yang dibentuk oleh masyarakat sehingga dapat berbeda antara satu
budaya dengan budaya lainnya dan dari satu waktu ke waktu lainnya. Berbeda

79
dengan jenis kelamin yang memiliki artian berupa perbedaan laki-laki dan
perempuan berdasarkan struktur biologis dan fungsi reproduksinya. Tujuan
dari penelitian gender adalah untuk mendeskripsikan bentuk partisipasi istri
atau perempuan dan suami atau laki-laki terkait aktivitas domestik dalam rumah
tangga. Untuk itulah, dalam penelitian mengenai gender yang dilakukan di
Desa Jiwan memiliki keterkaitan dengan aktivitas dalam rumah tangga.
Terdapat beberapa hal yang dijadikan tolak ukur dalam penelitian mengenai
gender. Tolak ukur tersebut misalnya mengenai pendidikan, umur, jumlah
penduduk, jenis kelamin, dan lain sebagainya.

Tabel 4.3 Instrumen Analisa Gender Mainstreaming (A)


Bersamaan/
No. Akses Kesehatan P L
bergantian
A. Aktivitas Domestik
1. Membersihkan rumah (menyapu, mengelap

perabotan rumah)
2. Mencuci / menyetrika baju 
3. Merawat kendaraan 
4. Merawat binatang ternak 
5. Mencuci prabot rumah (alat makan dan alat

masak)
6. Memasak 
7. Merawat anak 

Analisis:
Sebagian besar atau mayoritas memiliki peran yang produktif dalam
kehidupan rumah tangga. Sebenarnya antara suami dan istri di dusun ini
memiliki tingkat kerjasama yang baik. Hal ini terbukti dari masih adanya
kegiatan domestik rumah tangga, seperti merawat binatang ternak dilakukan
secara bergantian atau bersamaan. Hal tersebut dikarenakan salah satu di antara
keduanya, memiliki kesibukan atau kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan,
sehingga membutuhkan adanya kerjasama antara kedua belah pihak. Adapun
kegiatan merawat anak, biasa dilakukan secara bersamaan atau bergantian

80
karena apabila suami atau ayah sedang bekerja, maka ibu yang akan mengambil
alih tanggung jawab untuk merawat anak.
Kegiatan domestik lain yang biasa dilakukan oleh perempuan adalah
menyetrika, memasak, mencuci perabotan masak, dan membersihkan rumah.
Bagi sebagian warga desa Jiwan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari
kodrat dan kewajiban seorang perempuan. Perempuan atau istri dinilai lebih
telaten dan rajin ketika berurusan dengan kegiatan rumah tangga. Biasanya para
istri atau perempuan melakukan kegiatan tersebut ketika pagi sampai siang hari,
disamping mengerjakan kegiatan lain.

Tabel 4.4 Instrumen Analisa Gender Mainstreaming (B)


Bersamaan/
No. Aktivitas P L
bergantian
B Aktivitas sosial
1. Mendatangi pengajian 
2. Menonton hiburan umum (orkes, film dll) 
Ikut kegiatan sosial (PKK, arisan, rapat
3. 
RT/RW, dll)
4. Mengambil keputusan penting keluarga 
5. Ikut bermusyawarah dalam urusan keluarga 
Membantu tetangga yang punya hajatan atau
6. 
kena musibah

Analisis:
Kegiatan sosial di Desa Jiwan masih berjalan baik dan lancar. Selain
melaksanakan kegiatan domestik, warga juga melakukan kegiatan sosial.
Berdasarkan data di atas, beberapa kegiatan yang dilakukan seperti pengajian
dihadiri secara bergantian atau bersamaan. Pengajian yang dilakukan secara
bergantian semisal dari jenis pengajian yang dikhususkan untuk ibu-ibu atau
bapak-bapak saja. Begitupun dengan kegiatan lainnya yang juga dilakukan
secara bergantian atau bersama tanpa mementingkan status atau kedudukan
dalam keluarga.

81
Tabel 4.5 Instrumen Analisa Gender Mainstreaming (C)
Bersamaan/
No. Aktivitas P L
bergantian
C Profil kebutuhan (ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan ketersediaan)
1. Pencari nafkah utama 
2. Pencari nafkah tambahan/ pendukung 
3. Pemegang uang tabungan
4. Berwenang mengelola aset keluarga 
5. Menjadi kepala keluarga 

Analisis:
Berdasarkan data profil kebutuhan dan masyarakat Jiwan, sebagaimana
tertera di atas maka kami mengambil kesimpulan sebagai berikut. Adapun
mayoritas pencari nafkah utama di Desa Jiwan adalah laki-laki atau suami. Hal
tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Desa Jiwan masih menjunjung tinggi
ajaran agama Islam dan kodrat suami sebagai pencari nafkah utama dalam
keluarga. Namun hal tersebut tidak menutup adanya istri yang berperan sebagai
pencari nafkah utama. Jumlah istri sebagai pencari nafkah utama tidaklah
sebanyak jumlah laki-laki sebagai pencari nafkah utama. Para istri mencari
nafkah utama, saat ada keadaan yang mendesak misalnya suami telah
meninggal dunia atau suami sedang sakit.
Adapun pencari nafkah pendukung, biasanya masih dilakukan oleh istri
dengan jalan membuka berjualan, namun ada juga yang bekerja sebagai buruh
tani.
Dalam hal pengelolaan tabungan dan pengelolaan aset di Desa Jiwan
masih banyak yang dikelola oleh suami. Sedangkan para istri lebih banyak
bertugas mengendalikan urusan anak dan keperluan keluarga. Para suami di
Desa Jiwan biasa memberikan jatah uang bulanan, untuk mengurusi keperluan
makan dan keperluan keluarga. Sebagian besar posisi kepala keluarga dipegang
oleh laki-laki atau pihak suami.

82
Tabel 4.6Analisis Gender- Akses Pendidikan
No. Akses Pendidikan P L Keduanya
1. Sekolah SD 
2. Sekolah SMP 
3. Sekolah SMA 
4. Kuliah di Perguruan Tinggi 

Analisis:
Profil pendidikan warga Desa Jiwan, dapat dikatakan sudah baik. Hal
tersebut dapat dilihat dari, kenyataan di lapangan bahwa banyak dari kaum
mudanya, sudah banyak yang menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi (PT).
Akan tetapi, jumlah warga yang menempuh pendidikan hingga jenjang
Perguruan Tinggi, lebih sedikit dari jumlah warga yang tamat sampai jenjang
SMA/ sederajat. Hal tersebut dikarenakan banyak diantara warganya yang lebih
memilih langsung bekerja usai menyelesaikan pendidikan tingkat SMA/
sederajat.

Tabel 4.7Analisis Gender- Akses Kesehatan


Bersamaan/
No. Akses Kesehatan P L
bergantian
1. Yang merawat anggota keluarga yang

sakit
2. Yang mempunyai prioritas

pemeliharaan kesehatan
3. Yang mempunyai asuransi kesehatan

(BPJS, jaskesmas dll.)
4. Yang pernah sakit reproduksi 

Analisis:
Data di atas menunjukkan bahwa istri lebih mengetahui pentingnya
kesehatan, sekaligus sebagai orang yang melakukan perawatan kesehatan bagi
anggota keluarga lainnya yang tengah sakit. Sebagian besar pihak laki-laki atau
suami lebih acuh pada kesehatan diri sendiri, berbeda dengan pihak perempuan

83
atau istri yang lebih mawas akan kesehatan. Untuk jaminan kesehatan, biasanya
berupa BPJS, atau JASKESMAS biasanya langsung dilakukan secara kolektif.

Tabel 4.8 Analisis Gender- Pengetahuan Umum


Pengetahuan Umum Tentang Produk Bersamaan/
No. P L
Hukuman Bergantian
1. Memperoleh informasi tetang undangundnag 
perlindungan anak dan perempuan
2. Pengetahuan tentang UU KDRT 

Analisis:
Dari data di atas sebagian besar warga di Desa Jiwan sudah memiliki
pengetahuan tentang UUD perlindungan anak dan KDRT. Kemajuan dalam
pengetahuan norma-norma yang ada juga sudah banyak diaplikasikan dalam
kehidupan berumah tangga ataupun bertetangga. Hal ini dapat dilihat dari
sedikitnya kasus pertengkaran besar yang terjadi, baik dalam kehidupan
berumah tangga, maupun bertetangga.

84
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Kelompok KKN 03 telah melakukan pengabdian masyarakat selama satu
bulan di Desa Jiwan. Selama itu kelompok 03 telah melakukan inkulturasi,
discovery, pendampingan hingga destiny bersama dengan warga Desa Jiwan
untuk mengembangkan aset yang potensial. Berikut beberapa poin kerja selama
KKN di Desa Jiwan :
1. KKN 03 UIN Sunan Ampel Surabaya bertempat didesa Jiwan, Kecamatan
Jiwan Kabupaten Madiun merupakan KKN yang terfokus pada pencarian
aset desa dan kemudian dikembangkan menjadi aset yang berguna bagi
warga setempat. Desan Jiwan merupakan desa semi kota yang memiliki
banyak aset yang potensial dan dapat di kembangkan secara optimal.
Kelompok kkn sebelumnya nemilih untuk memperbaiki jalan dan
pengembangan TPQ untuk ibu ibu. Oleh karena itu kelompok 03 tahun 2019
berupaya untuk menggali aset yang ada dan dapat bermanfaat serta
dikembangkan oleh warga masyarakat desa Jiwan.
2. Mapping aset di seluruh dusun di desa Jiwan dan melakukan FGD (focus
group discussions) dalam musyawarah atau FGD dengan masyarakat
setempat kami menawarkan atau mendrive agar adanya mata rantai antara
satu aset dengan aset yang lain, yakni dari peternak lele, abon dan keripik
lele, serta kue semprong. Dengan diskusi panjang akhirnya baik dari
masyarakat maupun perangkat desa dan kelompok KKN 03 tentunya
menyepakati untuk mengembangkan pemasaran ketiga set tersebut baik
secara online maupun offline.
3. Pelaksanaan program
A. Menggandeng BukaLapak
Kerjasama ini kami lakukan dengan pihak penggerak bukalapak
wilayah Madiun untuk mewadahi para pegiat umkm di desa Jiwan,dan

85
berkomitmen untuk menuntun secara perlahan serta adanya controlling
setiap bulan dari pihak bukalapak
B. Menawarkan produk ke Disperindag Kab Madiun
Kami membawa produk olahan lele dan kue semprong agar lebih di
ekspose lagi oleh pihak disperindag Madiun dan memberitahukan bahwa
aset peternak lele di Jiwan sangat banyak dan patut di ekspose di
dampingi untuk lebih produktif dan mampu menjual ke wilayah luar Kota
Madiun.

5.2 Saran
Oleh karena keterbatasan waktu perihal keterlibatan kelompok KKN 03
dalam berpartisipasi atau mendampingi warga Desa Jiwan, maka ada beberapa
saran yang sekiranya nanti dapat dikembangkan yakni :
1. Berkaitan dengan apa yg sudah dimulai oleh kelompok 03 ini kami
mengharapkan adanya perhatian khusus bagi pemerintah setempat mengenai
perkembangan ukm di Desa Jiwan agar terwujudnya kemandirian ekonomi
di desa tersebut. Kami percaya dengan adanya banyak pelatihan secara terus
menerus serta pemdampingan yang berkelanjutan baik dari pihak bukalapak
maupun disperindag akan mampu mewujudkan keinginan masyaarakat
mengenai ekspansi atau perluasan pasar sehingga dapat menjadi branding
tersendiri untuk Desa Jiwan dan menjadi trendsetter bagi Kota Madiun.
2. Agar nantinya jika ada kelompok kkn baru yang menempati desa jiwan
kembali, maka baiknya diarahkan ke salah satu aset yang memang sudah
lebih unggul setelah masa kkn kami berakhir agar di teliti lebih lanjut
manakala ada kekurangan atau menindak lanjut 2 di antaranya yang belum
terwujud agar menyamaratakan kesuksesannya dengan program program
baru atau metode baru sehingga program kelompok 03 UIN Sunan Ampel
2019 ini dapat berkelanjutan.

86
DAFTAR PUSTAKA

Muljono, P. "The Model of Family Empowerment Program for Community


Development In West Java, Indonesia." Journal of Agricultural Extension and
Rural Development 3 (11) (2011): 193-201.
Muljono, P. "The Posdaya Model For Community Empowerment." Journal of
Community, Culture and Politics 23 (1) (2011): 9-16.
Salahuddin, Nadhir. dkk. Panduan KKN ABCD UIN Sunan Ampel Surabaya.
Surabaya: LP2M UIN Sunan Ampel Surabaya, 2015.
Suyono, H. dan Haryanto, R. Buku Pedoman Pembentukan dan Pengembangan Pos
Pemberdayaan Keluarga (Posdaya). Jakarta: Yayasan Dana Sejahtera
Mandiri, 2009.

Sumber Wawancara:
Fitria, Wawancara, Madiun 27 Januari 2019
Pak Nardi, Wawancara, Madiun 27 Januari 2019
Mas Vicky, Wawancara, Madiun 28 Januari 2019
Pak Edy, Wawancara, MAdiun 28 Januari 2019
Bu Yuni, Wawancara, Madiun 2 Februari 2019
Bapak Parni, Wawancara, Madiun 2 Februari 2019
Ibu Titik Apriliati, Wawancara, Madiun 2 Februari 2019

87
LAMPIRAN

88
Dokumentasi Kegiatan

Pengajian TPQ Ibu-Ibu Bani Tamtsir Pembukaan Di Balai Desa


Jiwan

Rumah Abon Madiun

Pengaraham Dari Polsek Jiwan Jalan Sehat

89
TK Belajar Bersama Kelas 6 SD 2 Jiwan

Kue Semprong

POSBINDU DUSUN 4
POSYANDU DUSUN 4

90
MUSYAWARAH DESA

KERJA BAKTI

91
PROGRAM PELATIHAN
BERSAMA BUKALAPAK

PRESENTASI ASET DESA JIWAN DI


DINAS KOPRASI DAN PENGUSAHA
MIKRO

92
PENUTUPAN

93