Anda di halaman 1dari 6

RINGKASAN FISIKA MATEMATIKA

PERSAMAAN DIFERENSIAL PARSIAL (PDP)


FUNGSI ANALITIK DAN INTEGRAL KONTUR
DAN APLIKASINYA DALAM FISIKA

Dosen pengampu : Dr. Warsono, M.Si

Disusun Oleh:
Arina Umu Kamila (19726251032)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2019
RINGKASAN

A. Persamaan Diferensial Parsial (PDP) Fungsi Analitik


๐‘“(๐‘ง) adalah sebuah fungsi kompleks dengan ๐‘ง = ๐‘ฅ + ๐‘–๐‘ฆ merupakan variabel
kompleks yang dimaksud, dengan variabel x dan bilangan riil, maka fungsi
tersebut dapat dipisahkan atas bagian riil dan imajiner-nya sebagai berikut:
๐‘“(๐‘ง) = ๐‘ข(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) + ๐‘–๐‘ฃ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) (1)
dengan ๐‘ข(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) dan ๐‘ฃ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) merupakan fungsi-fungsi riil dalam bidang
kompleks (๐‘ฅ, ๐‘ฆ) Berbeda dengan fungsi-fungsi riil dengan dua variabel, fungsi
kompleks tidak dapat direpresentasikan dalam bentuk grafik. Bab ini
memfokuskan diri pada pembahasan mengenai diferensiasi dan integrasi yang
terkait dengan fungsi-fungsi kompleks tersebut beserta sifat-sifatnya.
Dibandingkan dengan diferensiasi maupun integrasi terhadap fungsi-fungsi
riil, untuk fungsi-fungsi kompleks jelas memiliki tingkat kerumitan yang lebih
tinggi, oleh karena itu apa yang disajikan dalam pembahasan selanjutnya lebih
ditekankan pada hal-hal mendasar yang relatif sederhana.

Fungsi Kompleks Analitik


Tinjau kembali fungsi kompleks (1). Untuk membuktikan bahwa setiap fungsi
kompleks dapat dituliskan dalam bentuk tersebut kita ambil sebagai contoh
fungsi
๐‘“(๐‘ง) = ๐‘’ ๐‘ง = ๐‘’ ๐‘ฅ+๐‘–๐‘ฆ (2)
yang dapat dituliskan kembali sebagai berikut:
๐‘“(๐‘ง) = ๐‘’ ๐‘ฅ+๐‘–๐‘ฆ
= ๐‘’ ๐‘ฅ + ๐‘’ ๐‘–๐‘ฆ
= ๐‘’ ๐‘ฅ (๐‘๐‘œ๐‘ ๐‘ฆ + ๐‘–๐‘ ๐‘–๐‘›๐‘ฆ) = ๐‘’ ๐‘ฅ ๐‘๐‘œ๐‘ ๐‘ฆ + ๐‘–๐‘’ ๐‘ฅ sin ๐‘ฆ (3)
bahwa dibandingkan dengan persamaan (1) diperoleh:
๐‘ข(๐‘ฅ, ๐‘ฆ)= ๐‘’ ๐‘ฅ ๐‘๐‘œ๐‘ ๐‘ฆ , ๐‘ฃ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = ๐‘’ ๐‘ฅ sin ๐‘ฆ (4)
Teorema I : sebuah fungsi komplek dikatakan analitik jika z memenuhi
turunan
๐‘‘๐‘“ โˆ†๐‘“
๐‘“(๐‘ง) = = lim
๐‘‘๐‘ง โˆ†๐‘งโ†’0 โˆ†๐‘ง

โˆ†๐‘“ ๐‘“(๐‘ง + โˆ†๐‘ง) โˆ’ ๐‘“(๐‘ง)


lim = lim
โˆ†๐‘งโ†’0 โˆ†๐‘ง โˆ†๐‘งโ†’0 ๐‘‘๐‘งโˆ†๐‘ง
โˆ†๐‘“ ๐‘“(๐‘ฅ + โˆ†๐‘ฅ, ๐‘ฆ + โˆ†๐‘ฆ) โˆ’ ๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ)
lim = lim
โˆ†๐‘งโ†’0 โˆ†๐‘ง โˆ†๐‘ฅโ†’0 โˆ†๐‘ฅ + ๐‘–โˆ†๐‘ฆ

Seperti yang diilustrasikan pada Gambar 1, turunan di titik tersebut dapat


didekati dari berbagai macam arah. Misalkan untuk seluruh arah turunan
tersebut analitik, maka hal tersebut juga berlaku untuk turunan yang dimaksud
didekati dari arah sejajar sumbu x dimana ฮ”y=0 .

Jika didekati dari arah sejajar sumbu x dimana ฮ”y=0 .


๐‘“(๐‘ฅ + โˆ†๐‘ฅ, ๐‘ฆ) โˆ’ ๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) ๐œ•๐‘“ ๐œ•๐‘ข ๐œ•๐‘ฃ
lim = = +๐‘–
โˆ†๐‘ฅโ†’0 โˆ†๐‘ฅ ๐œ•๐‘ฅ ๐œ•๐‘ฅ ๐œ•๐‘ฅ
Jika didekati dari arah sejajar sumbu y dimana ฮ”x=0

๐‘“(๐‘ฅ + โˆ†๐‘ฆ) โˆ’ ๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) 1๐œ•๐‘“ ๐œ•๐‘ข ๐œ•๐‘ฃ


lim = =๐‘– +๐‘–
โˆ†๐‘ฅโ†’0 ๐‘–โˆ†๐‘ฆ ๐‘–๐œ•๐‘ฆ ๐œ•๐‘ฆ ๐œ•๐‘ฆ

๐œ•๐‘ข ๐œ•๐‘ฃ ๐œ•๐‘ฃ
=๐‘– +๐‘–
๐œ•๐‘ฅ ๐œ•๐‘ฅ ๐œ•๐‘ฆ

Teorema II
Jika ๐‘“(๐‘ง) = ๐‘ข(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) + ๐‘–๐‘ฃ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) adalah analotik pada suatu daerah, maka
berlaku kondisi chauchi reemann
๐œ•๐‘ข ๐œ•๐‘ฃ
=
๐œ•๐‘ฅ ๐œ•๐‘ฆ
๐œ•๐‘ข ๐œ•๐‘ฃ
=
๐œ•๐‘ฆ ๐œ•๐‘ฅ

Teorema III
Jika ๐‘“(๐‘ง) = ๐‘ข(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) + ๐‘–๐‘ฃ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) analitik pada sebuah daerah maka u dan v
memenuhi Persamaan Laplace sehingga disebut Fungsi Harmonik

๐œ•2 ๐‘ข ๐œ•2 ๐‘ข
+ ๐œ•๐‘ฆ 2 = 0
๐œ•๐‘ฅ 2

๐œ•2๐‘ฃ ๐œ•2 ๐‘ฃ
+ ๐œ•๐‘ฆ 2 = 0
๐œ•๐‘ฅ 2

Integral Kontur Berbeda dengan definisi integral untuk fungsi riil yang batas-
batasnya merupakan bilangan riil, dimana keduanya berada dalam satu garis
bilangan, maka untuk integrasi fungsi kompleks batas-batas tersebut berada
dalam bidang kompleks yang cara menghubungkannya ada tak-berhingga
buah, sebagaimana diilustrasikan pada gambar dibawah
Secara naif dapat diduga bahwa kontur lintasan integrasi yang berbeda secara
umum membuat integral fungsi (f) z yang analitik pada lintasan tersebut
berbeda pula. Untuk membuktikannya tinjau bentuk integral tertutup berikut
โˆฎ๐‘ ๐‘“(๐‘ง)๐‘‘๐‘ง = โˆฎ๐‘ (๐‘ข + ๐‘–๐‘ฃ)(๐‘‘๐‘ฅ + ๐‘–๐‘‘๐‘ฆ)

โˆฎ ๐‘“(๐‘ง)๐‘‘๐‘ง = โˆฎ (๐‘ข๐‘‘๐‘ฅ + ๐‘ฃ๐‘‘๐‘ฆ) + โˆฎ (๐‘ฃ๐‘‘๐‘ฅ + ๐‘ข๐‘‘๐‘ฆ)


๐‘ ๐‘ ๐‘

dimana merupakan kontur sebarang lintasan tertutup dengan . Selanjutnya


dengan menggunakan Teorema Green, tinjau bagian riil ruas kanan baris kedua
persamaan:

๐œ•๐‘„ ๐œ•๐‘ƒ
โˆฌ ( โˆ’ ) = โˆฎ ๐‘ƒ๐‘‘๐‘ฅ + ๐‘„๐‘‘๐‘ฆ
๐œ•๐‘ฅ ๐œ•๐‘ฆ ๐œ•๐ด
๐ด

sehingga
๐œ•๐‘ข ๐œ•๐‘ฃ
โˆฎ๐‘ (๐‘ข๐‘‘๐‘ฅ + ๐‘ฃ๐‘‘๐‘ฆ) = โˆฌ๐ฟ๐‘ข๐‘Ž๐‘  ๐ถ (โˆ’ ๐œ•๐‘ฆ โˆ’ ๐œ•๐‘ฅ) ๐‘‘๐‘ฅ๐‘‘๐‘ฆ 17

Berdasarkan kondisi Cauchy-Riemann (9) dapat dengan mudah dibuktikan


bahwa ruas kana integral (17) berharga nol.:
๐œ•๐‘ข ๐œ•๐‘ฃ ๐œ•๐‘ข ๐œ•๐‘ฃ
โˆ’ ๐œ•๐‘ฆ โˆ’ ๐œ•๐‘ฅ
๐œ•๐‘ฅ ๐œ•๐‘ฆ

Sehingga

๐œ•๐‘ข ๐œ•๐‘ฃ ๐œ•๐‘ข ๐œ•๐‘ฃ
โˆฌ (โˆ’ โˆ’ ) ๐‘‘๐‘ฅ๐‘‘๐‘ฆ = โˆฌ โˆ’ (โˆ’ โˆ’ ) ๐‘‘๐‘ฅ๐‘‘๐‘ฆ
๐œ•๐‘ฆ ๐œ•๐‘ฅ ๐œ•๐‘ฆ ๐œ•๐‘ฅ
๐ฟ๐‘ข๐‘Ž๐‘  ๐ถ ๐ฟ๐‘ข๐‘Ž๐‘  ๐ถ

๐œ•๐‘ข ๐œ•๐‘ฃ
โˆฌ (โˆ’ โˆ’ ) ๐‘‘๐‘ฅ๐‘‘๐‘ฆ = 0
๐œ•๐‘ฆ ๐œ•๐‘ฅ
๐ฟ๐‘ข๐‘Ž๐‘  ๐ถ
โˆฎ๐‘ (๐‘ข๐‘‘๐‘ฅ + ๐‘ฃ๐‘‘๐‘ฆ) = 0

๐œ•๐‘ข ๐œ•๐‘ฃ
๐‘– โˆฎ (๐‘ฃ๐‘‘๐‘ฅ + ๐‘ข๐‘‘๐‘ฆ) = ๐‘– โˆฌ ( โˆ’ ) ๐‘‘๐‘ฅ๐‘‘๐‘ฆ
๐œ•๐‘ฆ ๐œ•๐‘ฅ
๐ถ

๐œ•๐‘ฃ ๐œ•๐‘ฃ
๐‘– โˆฎ (๐‘ฃ๐‘‘๐‘ฅ + ๐‘ข๐‘‘๐‘ฆ) = ๐‘– โˆฌ ( โˆ’ ) ๐‘‘๐‘ฅ๐‘‘๐‘ฆ
๐œ•๐‘ฆ ๐œ•๐‘ฆ
๐ถ

Sehingga dengan demikian berlaku teorema berikut: Teorema IV. Misalkan


adalah lintasan dengan kontur tertutup yang tidak saling berpotongan dan
misalkan C f(z) analitik pada dan didalamnya, maka intgrasi berikut berlaku:

๐‘– โˆฎ (๐‘ฃ๐‘‘๐‘ฅ + ๐‘ข๐‘‘๐‘ฆ)๐‘‘๐‘ฅ๐‘‘๐‘ฆ = 0
๐‘

โˆฎ๐‘ ๐‘“(๐‘ง)๐‘‘๐‘ง = โˆฎ๐‘ (๐‘ข๐‘‘๐‘ฅ โˆ’ ๐‘ฃ๐‘‘๐‘ฆ) + ๐‘– โˆฎ๐‘ (๐‘ข๐‘‘๐‘ฆ + ๐‘ฃ๐‘‘๐‘ฅ)

โˆฎ๐‘ ๐‘“(๐‘ง)๐‘‘๐‘ง = 0+0

โˆฎ๐‘ ๐‘“(๐‘ง)๐‘‘๐‘ง = 0

Anda mungkin juga menyukai