Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Trauma thoraks sering terjadi akibat kecelakaan lalu lintas, benturan karena jatuh, ledakan gas
dan mekanisme trauma tumpul yang lainnya. Pada trauma thoraks sering menyebabkan gangguan
ventilasi perfusi akibat kerusakan dari parenkim paru. Hal ini menyebabkan terjadinya gangguan
oksigenasi jaringan, yang menjadi salah satu faktor penyebab kematian pada trauma thoraks. Kerusakan
paru akan diikuti dengan gangguan perfusi parenkim paru, dan jika oksigenasi tidak diperbaiki hal ini akan
menyebabkan terjadinya hipoksemia sistemik. Selain itu, trauma langsung pada thoraks dapat
menyebabkan terjadinya kontusio pulmonum. Hal ini merupakan komplikasi trauma thoraks yang akan
berkembang menjadi Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) (Bakowitz, et al., 2012; Milisavljevic, et
al., 2012). ARDS pertama kali dideskripsikan oleh Ashbaugh dan kawan-kawan pada tahun 1967. Pada
tahun 1994 American-European Consensus Conference Committee (AECC) merekomendasikan definisi
baru dari ARDS untuk digunakan secara luas. Definisi menurut Berlin pada tahun 2011 meliputi jika
PaO2/FiO2 ≤ 300 menandakan suatu ARDS. Kontusio paru terjadi sekitar 20% pada pasien trauma thoraks,
dimana 50-60% pasien dengan kontusio paru yang berat akan menjadi ARDS. ARDS masih merupakan
salah satu komplikasi trauma thoraks yang sangat serius dengan angka kematian 20-43% (Fanelli, et al.,
2013; Aukema, et al., 2011). Oleh karena adanya komplikasi tersebut maka dibentuk suatu sistem skoring
trauma thoraks untuk memprediksi komplikasi dan mortalitas trauma thoraks. Pada tahun 2000 Pape dan
kawan-kawan menggunakan thoracic trauma severity score (TTSS) untuk memprediksi komplikasi trauma
thoraks salah satunya adalah ARDS dan mortalitas pasien trauma thoraks. Sejak dipublikasikan pertama
kali pada tahun 2000 skor ini belum pernah dilakukan penelitian dan belum pernah dieksplorasi lebih jauh
untuk menguji validitasnya dan hubungan skor ini dengan mortalitas akibat trauma thoraks. TTSS
merupakan pengembangan dari chest trauma score (CTS), dimana salah satu parameter yang dinilai
adalah PaO2 yang diambil dari pemeriksaan laboratorium analisa gas darah (AGD). Sehingga waktu yang
diperlukan untuk mendapatkan nilai pada TTSS menjadi lebih lama dan memerlukan biaya yang lebih
besar (Pape, et al., 2000; Subhani, et al.,2014). Evaluasi yang cepat dan sistematis pada pasien dalam
mengidentifikasi dan penanganan cedera sangat penting untuk penyelamatan jiwa secara langsung dan
penanganan definitif lebih lanjut. Penggolongan trauma thoraks yang jelas dibutuhkan untuk manajemen
ventilasi, perawatan intensif dan pemilihan prosedur pembedahan. Pada sistem skoring trauma thoraks
diperlukan beberapa kriteria anatomi, radiografi yang dapat meningkatkan akurasi diagnosis pada kasus
trauma thoraks. Ini sangat penting karena derajat trauma thoraks memiliki pengaruh yang sangat
bermakna pada kebutuhan resusitasi dan perawatan intensif (Pirente, et al., 2007; Liman, et al., 2003).
Chest Trauma Score (CTS) sangat tepat menilai kerusakan parenkim paru seperti kontusio paru. Kerusakan
paru akibat trauma thoraks akan diikuti gangguan perfusi dan oksigenasi paru yang akan berkembang
menjadi ARDS. Walaupun sampai saat ini hubungan CTS dan ARDS belum pernah dilaporkan, namun
penelitian tentang hubungan CTS terhadap mortalitas pada pasien trauma thoraks pernah dilaporkan
oleh beberapa peneliti. Kejadian mortalitas sebesar 20-43% pada pasien trauma thoraks yang berkaitan
dengan kejadian ARDS sebagai komplikasi, merupakan faktor resiko mortalitas tertinggi. Penilaian awal
dan prediksi komplikasi pada trauma thoraks dapat dilakukan dengan skor ini, sehingga sangat efektif
dalam membantu menentukan rencana penanganan lebih lanjut. Sistem penilaian CTS ini sangat mudah
dikerjakan, murah dan sederhana (Aukema, et al., 2011 ; Chen, et al., 2014). Oleh karena itu dilakukan
penelitian untuk mengetahui validitas CTS dalam memprediksi terjadinya ARDS pada pasien trauma
thoraks di rumah sakit Sanglah Denpasar.

1.2 Rumusan Masalah


Dengan memperhatikan latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan masalah penelitian
sebagai berikut :
1. Apakah sensitifitas TTSS dalam memprediksi terjadinya ARDS pada pasien trauma thoraks sebesar ≥
85%?
2. Apakah spesifisitas TTSS dalam memprediksi terjadinya ARDS pada pasien trauma thoraks sebesar ≥
80%?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan umum
Untuk mengetahui validitas TTSS dalam memprediksi terjadinya ARDS pada pasien trauma thoraks.