Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN RESMI

PRAKTEKIKUM BIOFARMASETIKA DAN FARMAKOKINETIK TERAPAN

( DIFUSI ASAM NATRIUM SALISILAT KEDALAM AGAR)

Nama : Leony Yola Shalsabila


NIM : 17111024150005

PROGRAM STUDI S1-FARMASI FAKULTAS KESEHATAN DAN


FARMASI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KALIMANTAN TIMUR
2019
I. TUJUAN
 Untuk mengetahui manfaat pada Asam Natrium.
 Untuk mengetahui bagaimana difusi Asam Natrium Salisilat didalam
agar.
 Untuk mengetahui proses difusi zat aktif sediaan secara semikuantitatif.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Difusi didefinisi sebagai suatu proses perpindahan massa molekul suatu
zat yang dibawa oleh gerakan molekular secara acak dan berhubungan
dengan adanya perbedaan konsentrasi aliran molekul suatu batas, misalnya
suatu me mbrane polimer merupakan suatu cara yang mudah untuk
menyelidiki proses difusi. Perjalanan suatu zat melalui suatu batas bisa
terjadi oleh suatu permeasi molekul sederhana atau oleh gerakan melalui
pori atau lubang (saluran).
Difusi molekular atau permeasi melalui media yang tidak bergantung
pada disolusi dari molekul yang menembus dalam keseluruhan membran.
Sedangkan proses difusi perjalanan suatu zat melalui pori suatu membran
yang berisi pelarut, serta dipengaruhi oleh ukuran relatif molekul yang
menembusnya serta diameters dari pori tersebut.
Difusi pasif melalui pori yaitu semua senyawa yang berukuran cukup
kecil dan larut dalam air dapat melewati kanal membran. Sebagian besar
membran berukuran kecil yaitu 4-7 dan hanya dapat dilalui oleh senyawa
dengan bobot molekul kecil yaitu lebih kecil dari 150 untuk senyawa yang
bulat (Syukri, 2002).
Difusi pasif dengan cara melarut pada lemak penyusun membran yaitu
penembusan terjadi karena adanya perbedaan konsentrasi atau elektrokimia
tanpa memerlukan energy, sehingga mencapai keseimbangan pada kedua sisi
membran (Joenoes, 2002).
Transport aktif suatu molekul merupakan cara pelintasan transmembran
yang sangat berbeda dengan difusi pasif. Pada transfor aktif diperlukan
adanya pembawa. Pembawa ini dengan molekul obat dapat membentuk
kompleks pada permukaan lainnya, lalu pembawa kembali menuju asalnya.
(Syukrin, 2002).
Sistem transpof aktif bersifat jenuh, system ini menunjukan adanya suatu
kekhususan untuk setiap molekul. Krim adalah sediaan semi solid untuk
eksternal (kulit). Krim mempunyai dua system yaitu tipe minyak dalam air
(M/A) dan tipe air dalam minyak (A/M). keduanya dibedakan oleh sifat
kimia fisikanya terutama dalam hal penyerapan bahan obat & pelepasannya
dari basis ( Panker dan Rhodes, 2002).

III. ALAT DAN BAHAN

No. Alat Bahan


1 Beaker Glass Pasta Asam / Natrium Salisilat 2%
2 Cawan Petri Salep Asam / Natrium Salisilat 2%
3 Jangka Sorong Agar – Agar serbuk ( Tidak Berwarna )
4 Kertas Saring
5 Ose Aquadest
6 Mikro Pipet

IV. CARA KERJA

V. HASIL PERCOBAAN

N Nama Bahan Waktu Diameter Intensitas warna


o 1 2 3
1 Pasta Natrium 30 menit 1,1 1 0,9 Merah kecoklatan
salisilat 2% (kulkas)
Pasta Natrium 60 menit 1,5 1,1 1 Warna mulai
salisilat 2% (Suhu menyebar
Ruangan) 90 menit 1,7 1,2 1 Menyebar dan
membesar
2 Salep Natrium 30 menit 0,7 0,9 0,6 Putih
salisilat 2% (kulkas)
Salep Natrium 60 menit 0,6 0,6 0,5 Pingiran lubang
salisilat 2% (kulkas) mulai berwarna
keunguan
90 menit 1 1,1 1 Warna menyebar
VI. PEMBAHASAN CARA KERJA
Pada praktikum kali ini mengerjakan suatu uji difusi obat dengan
menggunakan media agar, media agar yang digunakan adalah agar-agar
swallow tidak bewarna yang menjadi medianya. Setelah dibuat media agar
lalu dituang kedalam 2 cawan petri dan didiamkan hingga membeku. Setelah
itu 2 cawan petri yang berisi media agar ditetesi 2ml FeCL3 hingga seluruh
permukaan agar tertutupi.
VII.
Alasan terlebih dahulu ditetesi FeCL3 untuk ketajaman daan ketebalan
warna pada percobaan. Setelah ditetesi diamkan selama 3 menit. Apabila
masih ada FeCL3 dibuang lalu dikeringkan menggunakan kertas saring. Buat
3 lubang pada masing-masing cawan petri menggunakan ose, ose terlebih
dahulu dipanaskan agar terhindar dari kontaminasi bakteri. Setelah sudah
dibolongi, 1 cawan petri berikan sampel salep asam natrium salisilat 2%, dan
1 cawan petri lainnya diolesi pasta natrium salisilat 2%. Setelah selesai beri
penanda pada masing-masing cawan petri, guna untuk membedakan yang
mana salep dan krim agar tidak tertukar. Setelah itu masukan didalam lemari
pendingin selama 30 menit pertama, ukur diameternya. Lalu dilanjutkan
dengan 60 dan 90 menit berikutnya di suhu ruangan. Amati ketajaman warna
dan kedalaman warna pada agar, apakah berbanding lurus dengan jumlah
asam/natrium salisilat yang dilepas dari basisnya.
VIII. PEMBAHASAN HASIL

Absorbsi per kutan suatu obat pada umumnya disebabkan oleh


penetrasi obat melalui stratum korneum yang terdiri dari kurang lebih 40%
protein (pada umumnya keratin) dan 40% air dengan lemak berupa
trigliserida, asam lemak bebas, kolesterol dan fosfat lemak. Stratum komeum
sebagai jaringan keratin akan berlaku sebagai membran buatan yang semi
permeabel, dan molekul obat mempenetrasi dengan cara difusi pasif, jadi
jumlah obat yang pindah menyebrangi lapisan kulit tergantung pada
konsentrasi obat.

Bahan-bahan yang mempunyai sifat larut dalam minyak dan air,


merupakan bahan yang baik untuk difusi melalui stratum korneum seperti
juga melalui epidermis dan lapisan-lapisan kulit. Prinsip absorbsi obat melalui
kulit adalah difusi pasif yaitu proses di mana suatu substansi bergerak dari
daerah suatu sistem ke daerah lain dan terjadi penurunan kadar gradien
diikuti bergeraknya molekul.

Difusi pasif merupakan bagian terbesar dari proses trans-membran bagi


umumnya obat. Tenaga pendorong untuk difusi pasif ini adalah perbedaan
konsentrasi obat pada kedua sisi membran sel.

Penetrasi obat ke dalam kulit dimungkinkan melalui dinding folikel


rambut, kelenjar keringat, kelenjar lemak atau antara sel-sel dari selaput
tanduk (Ansel, 1989). Apabila kulit utuh maka cara utama untuk penetrasi
masuk umumnya melalui lapisan epidermis lebih baik daripada melalui
folikel rambut atau kelenjar keringat.

Pada praktikum kali ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami


proses difusi zat aktif sediaan secara semi kuantitatif. Pada uji difusi terhadap
suatu zat tertentu dimana dibuat suatu mekanisme kerja layaknya difusi
didalam membran sel tubuh manusia. Adapun sediaan yang diuji
menggunakan bahan aktif asam salisilat dalam bentuk sediaan salep dan
pasta. Kemudian diukur diameter yang terabsorbsi pada media agar sebagai
membrane terhadap waktu, dimana obat yang terabsorbsi seolah-olah
menembus membran sel yang ada didalam tubuh.

langkah pertama dalam praktikum ini dilakukan Pembuatan Media


Difusi Agar. Cawan petri yang berisi media didinginkan hingga memadat.
Kemudian ditambahkan 2 ml larutan fecl3 ke dalam cawan petri sampai
menutupi semua permukaan agar. Kemudian didiamkan. Sisa larutan fecl3
dikeringkan dengan kertas saring. Dilakukan uji pada interval 30 menit, 60
menit, dan 90 menit. Pada 30 menit di masukkan ke dalam kulkas dan pada 60
menit dan 90 menit dibiarkan pada suhu kamar (Pelczar dan Chan, 1988).

Nilai diameter hambat masing-masing kelompok uji di rata-ratakan,


kemudian hasilnya dibandingkan dengan nilai rata-rata diameter hambat
kelompok kontrol. (Hendri Wasito,dkk.2008) (g) Analisa Data Untuk
menganalisis data hasil penelitian dianalisa dengan Analisis Varian (Anava)
satu arah untuk mengetahui apakah ada perbedaan atau pengaruh pada tiap
perlakuan dan dilanjutkan dengan T-test dengan taraf kepercayaan 95 %. 9.

Difusi yang terjadi merupakan difusi pasif yaitu suatu proses


perpindahan masa dari tempat yang berkonsentrasi tinggi ke tempat yang
berkonsentrasi rendah tanpa membutuhkan energi. Membran dalam kajian
formulasi dan biofarmasi merupakan suatu fase padat, setengah padat atau
cair dengan ukuran tertentu, tidak larut atau tidak tercampurkan dengan
lingkungan sekitarnya dan dipisahkan satu dengan lainnya, umumnya oleh
fase cair.

Dalam biofarmasi, membran padat digunakan sebagai model


pendekatan membran biologis. Membran padat juga digunakan sebagai
model untuk mempelajari kompleks atau interaksi antara zat aktif dan bahan
tambahan serta proses pelepasan dan pelarutan. Membran difusi tiruan ini
berfungsi sebagai sawar yang memisahkan sediaan dengan cairan
disekitarnya. sesuai dengan interval waktu. Hal tersebut terjadi karena
parasetamol belum semuanya berdifusi ke membran. Dan obat harus
melewati barier absorpsi. Sehingga tidak semuanya konsentrasi parasetamol
yang berdifusi ke membrane (Ansel,1989).

Absorbsi melalui epidermis relatif lebih cepat karena luas permukaan


epidermis 100 sampai 1000 kali lebih besar dari rute lainnya (Lachman dkk,
1994). Stratum korneum, epidermis yang utuh, dan dermis merupakan lapisan
penghalang penetrasi obat ke dalam kulit. Penetrasi ke dalam kulit ini dapat
terjadi dengan cara difusi melalui penetrasi transeluler (menyeberangi sel),
penetrasi interseluler (antar sel), penetrasi transappendageal (melalui folikel
rambut, keringat, kelenjar lemak dan perlengkapan pilo sebaseous) (Ansel,
1989).
Menurut Aiache (1982), faktor utama yang mempengaruhi absorbsi
obat kedalam kulit adalah:

(a). Sifat dari bahan obat itu sendiri, fisika kimia obat.

(b).Sifat dari pembawa, formulasi dan pelarut.

(c). Kondisi kulit meliputi keadaan dan umur kulit, aliran darah, tempat
pengolesan, kelembaban dan suhu kulit.

Penetrasi obat ke dalam kulit dimungkinkan melalui dinding folikel


rambut, kelenjar keringat, kelenjar lemak atau antara sel-sel dari selaput
tanduk (Ansel, 1989).

Apabila kulit utuh maka cara utama untuk penetrasi masuk umumnya
melalui lapisan epidermis lebih baik daripada melalui folikel rambut atau
kelenjar keringat. Difusi adalah suatu proses perpindahan massa molekul
suatu zat yang dibawa oleh gerakan molekuler secara acak dan berhubungan
dengan adanya perbedaan konsentrasi aliran molekul melalui suatu batas,
misalnya membran polimer (Martin dkk, 1993).

Difusi pasif merupakan bagian terbesar dari proses trans-membran bagi


umumnya obat. Tenaga pendorong untuk difusi pasif ini adalah perbedaan
konsentrasi obat pada kedua sisi membran sel. Menurut hukum difusi Fick,
molekul obat berdifusi dari daerah dengan konsentrasi obat tinggi ke daerah
dengan konsentrasi obat rendah. Senyawa dengan bobot molekul lebih rendah
akan berdifusi lebih cepat daripada senyawa dengan bobot molekul tinggi,
paling tidak karena membentuk ikatan dengan konstituen membran (Aiache,
1982).

Proses absorbsi perkutan dapat dilihat dalam skema dibawah ini:

1. Disolusi dari obat dalam pembawa


2. Difusi obat melalui pembawa ke permukaan kulit
3. Rute transepidermal Rute transfolikuler
4. Partisi ke dalam stratum korneum Partisi ke dalam sebum
5. Difusi melintasi matriks protein-lipid

Difusi melintasi lipid didalam pori dari stratum korneum sebasea


Partisi ke dalam epidermis Difusi melintasi massa seluler dari epidermis
Difusi melintasi massa fibrous ke dermis atas Masuk ke kapiler dan difusi
sistemik.

Faktor-faktor yang berpengaruh pada pelepasan obat dari salep

Faktor-faktor yang mempengaruhi pelepasan obat dari salep pada


dasarnya sama dengan faktor-faktor yang mempengaruhi absorbsi pada
saluran cerna dengan laju difusi yang sangat tergantung pada sifat fisika-
kimia obat (Idzon dan Lazarus, 1986).

Pelepasan obat dari sediaan salep secara in vitro dapat digambarkan


dengan kecepatan pelarutan obat yang dikandungnya dalam medium
tertentu, ini disebabkan karena kecepatan pelarutan (mass-transfer)
merupakan langkah yang menentukan dalam proses berikutnya. Pada
umumnya sediaan obat-obat luar yang berbentuk salep mengikuti mekanisme
difusi pasif. Apabila obat dioleskan secara topikal obat berdifusi secara pasif
keluar dari bahan pembawanya. Sehingga difusi berjalan terus-menerus dari
lokasi pemberian ke epidermis dan dermal (Gordon, 2002).

Faktor-faktor yang mempengaruhi pelepasan obat tersebut diantaranya


adalah:

1). Faktor fisika-kimia

2). Kelarutan dari bahan obat (afinitas obat) terhadap bahan pembawa
Obat yang mempunyai aktivitas kuat terhadap basis salep menunjukkan

koefisien aktivitas yang rendah dengan kata lain aktivitas


termodinamik dari obat didalam basis salep keadaannya rendah, akibatnya
pelepasan obat didalam basis salep menjadi lebih lambat demikian pula
sebaliknya (Zopf dan Blang, 1974).

Obat-obat terlarut terikat kuat dengan bahan pembawa seperti yang


terjadi jika obat membentuk kompleks yang dapat larut dengan bahan
pembawanya menghasilkan koefisien aktivitas yang rendah, sehingga laju
pelepasan dari kombinasi obat-pembawa lebih lambat. Kemudian obat-obat
yang terikat longgar oleh pembawanya (pembawa mempunyai afinitas yang
rendah terhadap obat), menunjukkan koefisien aktivitasnya tinggi oleh karena
itu laju pelepasan dari kombinasi obat pembawa lebih cepat (Lachman dkk,
1994).
3). Waktu difusi

Dari persamaan Higuchi (5), terlihat bahwa semakin cepat waktu difusi
akan semakin besar obat yang dilepaskan, sebaliknya obat yang dilepaskan
akan semakin kecil bila waktu difusinya semakin lambat (Zopf dan Blang,
1974).

4). Jenis basis salep

Setiap basis salep mempunyai sifat-sifat yang berbeda dengan jenis


basis salep yang lain misalnya mengenai pH, polaritas, viskositas, dan
sebagainya. Dengan adanya perbedaan harga koefisien partisi suatu obat
dalam suatu basis berbeda dengan koefisien obat tersebut dalam basis yang
lain, sehingga kecepatan pelepasan obat dari basis yang berbeda akan berbeda
pula.

Jenis basis salep yang mempunyai viskositas tinggi akan menyebabkan


koefisien difusi suatu obat dalam basis menjadi rendah, sehingga pelepasan
obat dari basis akan kecil (Lachman dkk, 1994).

5). Faktor biologis

Menurut Lachman dkk (1994), absorbsi obat dari basisnya tidak hanya
tergantung pada komposisi dasar salep tetapi juga tergantung pada beberapa
faktor biologis yaitu:

(a). Kondisi kulit

(b). Daerah kulit yang diobati

(c). Keadaan hidrasi pada stratum corneum

(d). Suhu kulit

(e). Ketebalan fase penebal kulit

(f). Perbedaan spesies dan kelembaban kulit

Pelepasan obat dari basis dengan difusi obat melalui basis menuju ke
permukaan kulit dengan dua cara yaitu lewat transepidermal (melalui
stratum corneum) dan melalui transfolikuler yang penetrasinya melalui
kelenjar rambut, folikel dan keringat (Gordon, 2002).
Metode pelepasan obat dari basis dapat dilakukan dengan: 1). Metode
in-vitro

Metode in-vitro terdiri dari:

(a). Metode pelepasan tanpa batas membran

(b).Metode difusi dengan kontrol membran, yang terdiri dari:

(1).Membran kulit tiruan

(2).Membran kulit alami

(3).Sel difusi

(4).Kondisi sel difusi tiruan secara in-vitro (Barry, 1983).

Uji pelarutan in-vitro mengukur laju dan jumlah pelarutan obat dalam
suatu media dengan adanya satu atau lebih bahan tambahan yang terkandung
dalam produk obat. Sifat medium pelarutan juga akan mempengaruhi uji
pelarutan. Kelarutan maupun jumlah obat dalam bentuk sediaan harus
dipertimbangkan. Dalam melakukan uji in-vitro ini perlu diperhatikan
beberapa faktor, yaitu:

(a). Ukuran dan bentuk wadah yang mempengaruhi laju dan tingkat
pelarutan.

(b).Jumlah pengadukan dan sifat pengadukan.

Kenaikan pengadukan dari media pelarut akan menurunkan tebal


stagnant layer mengakibatkan kelarutan obat lebih cepat (Shargel dan Yu,
2005). Pengadukan terlalu lemah ada resiko cuplikan dalam medium tidak
homogen dan pengadukan terlalu kuat menyebabkan turbulensi (Aiache,
1982).

(c). Suhu.

Dalam medium percobaan suhu harus dikendalikan pada keadaan


yang konstan yaitu dilakukan pada suhu 37 oC sesuai dengan suhu tubuh
manusia. Adanya kenaikan suhu selain dapat meningkatkan gradien
konsentrasi juga akan meningkatkan energi kinetik molekul dan
meningkatkan tetapan difusi sehingga akan menaikkan kecepatan disolusi
(Shargel dan Yu, 2005).

e). Medium pelarutan

Sifat medium pelarutan akan mempengaruhi uji pelarutan obat.


Medium disolusi hendaknya tidak jenuh dengan obat. Medium yang baik
merupakan persoalan tersendiri dalam penelitian. Dalam uji, biasanya
digunakan suatu media yang lebih besar daripada jumlah pelarut yang
diperlukan untuk melarutkan obat secara sempurna (Shargel dan Yu, 2005).

2). Metode in-vivo

a). Penelitian respon fisiologis dan farmakologi pada hewan uji.

b). Sifat fisika kulit

c). Metode histologi

d). Analisis pada cairan badan atau jaringan e). Kehilangan permukaan
(Barry, 1983).

IX. KESIMPULAN
Dari hasil percobaan praktikum difusi asam salisilat 2% didalam agar di
dapatkan perbandingan antara sediaan pasta asam salisilat 2% dan salap asam
salisilat 2% diameter yang paling luas pada sediaan pasta asam salisilat 2%
yaitu pada waktu 90 menit pada lubang ke 1 dengan ukuran 1,9 cm.
Sedangkan sediaan salep asam salisilat 2% diameter yang paling luas pada
waktu 90 menit pada lubang ke 2 dengan ukuran 1,1 cm dengan intensitas
warna yang paling pekat terdapat pada sediaan pasta. Sedangkan pada
sediaan salap berwarna ungu muda.

X. SARAN
Sebaiknya selama praktikum ,praktikum harus menjaga kebersihan
labolatorium. Diharapkan untuk praktikum selanjutnya, lebih mengefektifkan
waktu atau dapat memanage waktu lebih baik . serta alat alat praktikum
untuk dilengkapi untuk menunjang jalannya praktikum.
DAFTAR PUSTAKA

Santi Sinala, S.Si., M.Si, Apt dkk, 2016. Modul Bahan Ajar Farmasi Fisika,
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

Attwood, D. 2008. Physical Pharmacy. London: Pharmaceutical Press.

Ansel , Howard c. 1989. ”Pengantar Sediaan Farmasi”. Edisi keempat .Jakarta: UI


Press.

Gennaro, AR. 1990. Remington”s, Pharmaceutical Sciences. Pennsylvania: Mack

Publishing Company.

Lachman, et al. 1986. The Theory and Practice of Industrial Pharmacy. 3rd Edition.

Martin, A.N. 1993. Physical Pharmacy, Fourt Edition, Lea & Febiger,
Philadelphia, London

Martin, Alfred dkk. 2008. “Dasar-dasar Farmasi Fisik Dalam Ilmu Farmasetik”
Jakarta: UI Presss

Ansel, H.C., 1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, diterjemahkan oleh Farida
Ibrahim, Asmanizar, Iis Aisyah, Edisi keempat, 255-271, 607-608, 700, Jakarta, UI
Press.

Lachman, L., H.A. Lieberman, dan J.L. Karig. 1994. Teori dan Praktek Farmasi
Industri, Edisi ketiga, Terjemahan : S. Suyatmi, Universitas Indonesia Press,
Jakarta.
LAMPIRAN

1. Bahan yang digunakan salep 2% dan pasta


4%

2. Larutan FeCl3

3. Media agar dalam cawan petri yang akan


digunakan .
Proses mengisi media agar dengan sampel
pasta dan salep

5. Pengukuran diameter perubahan warna yang


terjadi

6. Hasil setelah media agar diberi sampel,


kemudian dimasukan kedalam kulkas selama
30 menit.

7. Mengamati perubahan yang terjadi pada


waktu 30 menit setelah dikeluarkan dari
kulkas.
8. Mengamati perubahan yang terjadi pada
waktu 60 menit. (Pada suhu kamar)

9. Mengamati perubahan yang terjadi pada


waktu 90 menit (Pada suhu kamar)