Anda di halaman 1dari 2

Pada perusahaan seperti apa PERT lebih tepat untuk diimplementasikan dibandingkan CPM?

PERT (Program Evaluation and Review Technique) adalah teknik perencanaan yang
dikembangkan oleh Booz, Allen, dan Hamilton pada tahun 1958. Dalam teknik ini ada tiga hal
penting yang mendasarinya, yaitu Perencanaan, Pengorganisasian, dan Pengendalian. NWP
(Network Planning) adalah hasil dari pengembangan PERT. Kelebihan dari NWP adalah memasukkan
unsur keterangan kapan suatu kegiatan dimulai dan berakhir.
Perbedaan pokok antara CPM dan PERT ialah bahwa CPM memasukkan konsep biaya dalam
proses perencanaan dan pengendalian sedangkan dalam PERT besarnya biaya berubah-ubah
(uncertainty) sesuai dengan lamanya waktu dari semua aktivitas yang terdapat dalam suatu proyek.
Biasanya metode PERT digunakan untuk proyek penelitian atau pengembangan produk baru dengan
tingkat ketidakpastian yang tinggi.
Perbedaan utama metode jalur kritis (CPM) dengan PERT adalah bahwa lebih menekankan
pada faktor biaya dalam perencanaan. Sedangkan PERT lebih menekankan pada faktor waktu.
Apabila waktu pengerjaan bisa ditaksir dengan cukup akurat, apabila biaya bisa diperkirakan
sebelumnya dengan cukup tepat, maka CPM lebih baik daripada PERT. Sebaliknya apabila ada
ketidakpuasan yang cukup besar dalam menaksir waktu, maka PERT lebih baik dipergunakan
daripada CPM.
PERT dikembangkan agar tercipta ruang/potensi untuk pengurangan waktu dan biaya yang
diperlukan untuk penyelesaian proyek tersebut. Metode PERT digunakan untuk proyek-proyek yang
terjadi secara berulang dan berkelanjutan.

LANGKAH-LANGKAH DALAM MELAKUKAN PERENCANAAN DENGAN PERT


Dalam melakukan perencanaan dengan PERT dibutuhkan beberapa langkah, yaitu:
1. Mengidentifikasi aktivitas (activity) dan titik tempuhnya (milestone).
Sebuah aktivitas adalah pekerjaan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah proyek.
Titik tempuh (milestone) adalah penanda kejadian pada awal dan akhir satu atau lebih
aktivitas. Untuk mengidentifikasi aktivitas dan titik tempuh dapat menggunakan suatu tabel
agar lebih mudah dalam memahami dan menambahkan informasi lain seperti urutan dan
durasi.
2. Menetapkan urutan pengerjaan dari aktivitas-aktivitas yang telah direncanakan.
Langkah ini bisa dilakukan bersamaan dengan identifikasi aktivitas. Dalam menentukan
urutan pengerjaan bisa diperlukan analisa yang lebih dalam untuk setiap pekerjaan.
3. Membuat suatu diagram jaringan (network diagram).
Setelah mendapatkan urutan pengerjaan suatu pekerjaan maka suatu diagram dapat dibuat.
Diagram akan menunjukan pekerjaan-pekerjaan yang harus dilakukan berurutan(serial) atau
secara bersamaan (pararell). Pada diagram PERT biasanya suatu pekerjaan dilambangkan
dengan simbol lingkaran dan titik tempuh dilambangkan dengan simbol panah.
4. Memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk setiap aktivitas.
Dalam menentukan waktu dapat menggunakan satuan unit waktu yang sesuai misal jam,
hari, minggu, bulan, dan tahun.
5. Menetapkan suatu jalur kritis (critical path).
Suatu jalur kritis bisa didapatkan dengan menambah waktu suatu aktivitas pada tiap urutan
pekerjaan dan menetapkan jalur terpanjang pada tiap proyek. Biasanya sebuah jalur kritis
terdiri dari pekerjaan-pekerjaan yang tidak bisa ditunda waktu pengerjaannya. Dalam setiap
urutan pekerjaan terdapat suatu penanda waktu yang dapat membantu dalam menetapkan
jalur kritis, yaitu :
ES – Early Start
EF – Early Finish
LS – Latest Start
LF – Latest Finish
Dengan menggunakan empat komponen penanda waktu tersebut bisa didapatkan suatu
jalur kritis sesuai dengan diagram.
6. Melakukan pembaharuan diagram PERT sesuai dengan kemajuan proyek.
Sesuai dengan berjalannya proyek dalam waktu nyata. Waktu perencanaan sesuai dengan
diagram PERT dapat diperbaiki sesuai dengan waktu nyata. Sebuah diagram PERT mungkin
bisa digunakan untuk merefleksikan situasi baru yang belum pernah diketahui sebelumnya.

KARAKTERISTIK PERT
Dari langkah-langkah penjelasan metode PERT maka bisa dilihat suatu karakteristik dasar PERT, yaitu
sebuah jalur kritis. Dengan diketahuinya jalur kritis ini maka suatu proyek dalam jangka waktu
penyelesaian yang lama dapat diminimalisasi.

Ciri-ciri jalur kritis adalah:


1. Jalur yang biasanya memakan waktu terpanjang dalam suatu proses.
2. Jalur yang tidak memiliki tenggang waktu antara selesainya suatu tahap kegiatan dengan
mulainya suatu tahap kegiatan berikutnya.
3. Tidak adanya tenggang waktu tersebut yang merupakan sifat kritis dari jalur kritis.

KARAKTERISTIK PROYEK
1. Kegiatannya dibatasi oleh waktu; sifatnya sementara, diketahui kapan mulai dan
berakhirnya.
2. Dibatasi oleh biaya.
3. Dibatasi oleh kualitas.
4. Biasanya tidak berulang-ulang.

MANFAAT PERT
1. Mengetahui ketergantungan dan keterhubungan tiap pekerjaan dalam suatu proyek.
2. Dapat mengetahui implikasi dan waktu jika terjadi keterlambatan suatu pekerjaan.
3. Dapat mengetahui kemungkinan untuk mencari jalur alternatif lain yang lebih baik untuk
kelancaran proyek.
4. Dapat mengetahui kemungkinan percepatan dari salah satu atau beberapa jalur kegiatan.
5. Dapat mengetahui batas waktu penyelesaian proyek.

Anda mungkin juga menyukai