Anda di halaman 1dari 9

UJIAN STASE THT-KL 2019

Nama : Fathia Kesuma Dinanti


NIM: 30101407183
Institusi : UNISSULA

1. Apa dasar alur pemikiran diagnosis Ca Nasofaring pada pasien?


2. Gangguan pendengaran apa saja yang patut dicurigai sebagai Ca Nasofaring?
3. Sebut dan jelaskan 5 sign Ca Nasofaring dan mekanismenya!
4. Bagaimana prognosis pada pasien tersebut berdasarkan TNM dan jelaskan alasannya!
Jelaskan mengenai TNM pasien!
5. Bagaimana terapi berdasarkan TNM pada pasien?
6. Apa yang dimaksud dengan OME?
7. Bagaimana penanganan OME secara umum dan pada pasien tersebut?
8. Apa yang Anda ketahui tentang Sleep Apnea Syndrome?
9. Apa saja indikasi ATE absolut dan relatif? Pada pasien ini termasuk indikasi apa?
10. Bagaimana sikap Anda jika pasien menolak dilakukan ATE? Apa komplikasi yang dapat
terjadi jika pasien menolak ATE?

Jawab:
1. Alur pemikiran dalam mendiagnosa pasien tersebut:
a. Anamnesis  Pasien mengeluh nyeri telinga, terasa penuh, tanpa gangguan
pedengaran, sering nyeri kepala, bagian orbita dan temporal kanan. Pasien mengaku
pernah mengalami mimisan/epistaksis yang tidak dirasa nyeri pada hidungnya dan
tidak pernah mengalami trauma sebelumnya. Hidung terasa tersumbat. Demam
disangkal. Riwayat pasien perokok aktif sehari menghabiskan satu bungkus per hari.

Pada awal pemeriksaan pasien didiagnosa mengalami Otitis Media Efusif berdasarkan
temuan adanya membrane timpani yang intak dan cairan di telinga tengah. Kemudian
pasien mengeluhkan pandangan kabur, nyeri kepala, mata, dan mimisan. Keluhan
tambahan tersebut merupakan gejala dan tambahan Ca Nasofaring.
b. Tanda Tanda Vital
a. Tekanan darah : 120/87 mmHg
b. RR : 24x/menit
c. Nadi : 89x/menit
d. Suhu : 36,7oC
e. Kesadaran : Compos mentis
c. Pemeriksaan Fisik
a. Telinga :
i. Nyeri tekan tragus -/-
ii. Nyeri tarik auricula -/-
iii. Nyeri ketok mastoid -/-
iv. CAE serumen +/+
v. CAE secret -/-
vi. Membran timpani intak +/+
vii. Reflek cahaya -/+
viii. Perforasi -/-
b. Hidung
i. Nyeri tekan sinus -/-
ii. Nyeri ketok sinus -/-
iii. Deviasi septum -
iv. Mukosa hiperemis -/-
v. Hipertrofi konka -/-
vi. Sekret -/-
vii. Corpus alienum -/-
c. Tenggorok
i. Uvula di tengah +
ii. Arcus faring simetris +
iii. Tonsil T1-T1 tenang
d. Endoskopi
i. Hidung : Terdapat benjolan satu buah dinding atas
nasofaring. Permukaan berbenjol benjol, warna sesuai dengan warna
mukosa sekitar.
ii. Tenggorok : Dbn.
Pemeriksaan Penunjang:
 CT Scan SPN.
 Biopsi histopatologi anatomi.
 Pemeriksaan serologi IgA, anti EA,dan IgA anti VCA untuk infkesi virus Epstein Barr.
Sehingga, dari alur pemeriksaan di atas, disimpulkan pasien curiga menderita Ca Nasofaring.

2. Gangguan pendengaran yang patut dicurigai sebagai tanda Ca Nasofaring:

 Gangguan pada telinga merupakan gejala dini yang timbul karena tempat asal tumor dekat
muara tuba eustachii (Fossa Rosenmulleri), gangguan dapat berupa tinnitus, rasa tidak
nyaman di telinga, sampai rasa nyeri di telinga (otalgia).
 Tidak jarang pasien dengan gangguan pendengaran tersebut baru disadari sebagai tanda Ca
Nasofaring.

3. Lima sign Ca Nasofaring:


a. Nose Sign
o Kataralis/sumbatan tuba eutachius
Pasien mengeluh rasa penuh di telinga, rasa dengung kadang-kadang disertai
dengan gangguan pendengaran. Gejala ini merupakan gejala yang sangat dini.
o Radang telinga tengah sampai pecahnya gendang telinga.
Keadaan ini merupakan kelainan lanjut yang terjadi akibat penyumbatan muara
tuba, dimana rongga teliga tengah akan terisi cairan. Cairan yang diproduksi
makin lama makin banyak, sehingga akhirnya terjadi kebocoran gendang telinga
dengan akibat gangguan pendengaran.
b. Ears sign
o Mimisan
 Dinding tumor biasanya rapuh sehingga oleh rangsangan dan sentuhan
dapat terjadi pendarahan hidung atau mimisan. Keluarnya darah ini
biasanya berulang-ulang, jumlahnya sedikit dan seringkali bercampur
dengan ingus, sehingga berwarna merah jambu. Epistaksis ini juga dapat
disebabkan oleh penjalaran tumor ke selaput lendir hidung yang dapat
mencederai dinding pembuluh darah daerah ini.
o Sumbatan hidung
 Sumbatan hidung yang menetap terjadi akibat pertumbuhan tumor ke dalam
rongga hidung dan menutupi koana. Gejala menyerupai pilek kronis,
kadang-kadang disertai dengan gangguan penciuman dan adanya ingus
kental.
o Gejala telinga dan hidung ini bukan merupakan gejala yang khas untuk penyakit
ini, karena juga dijumpai pada infeksi biasa, misalnya pilek kronis, sinusitis dan
lain-lainnya. Mimisan juga sering terjadi pada anak yang sedang menderita radang.
c. Neck sign
o Pembesaran kelenjar limfe leher
Tidak semua benjolan leher menandakan penyakit ini. Yang khas jika timbulnya di
daerah samping leher, 3-5 sentimeter di bawah daun telinga dan tidak nyeri. Benjolan
ini merupakan pembesaran kelenjar limfe, sebagai pertahanan pertama sebelum sel
tumor ke bagian tubuh yang lebih jauh. Benjolan ini tidak dirasakan nyeri, karenanya
sering diabaikan oleh pasien.
Selanjutnya sel-sel kanker dapat berkembang terus, menembus kelenjar dan
mengenai otot di bawahnya. Kelenjarnya menjadi lekat pada otot dan sulit digerakkan.
Keadaan ini merupakan gejala yang lebih lanjut lagi. Pembesaran kelenjar limfe leher
merupakan gejala utama yang mendorong pasien datang ke dokter. Kadang
pembesaran kelenjar di leher ini salah didiagnosis sebagai tuberkulosis kelenjar.

d. Cranial dan Eyes sign


o Tumor dapat meluas ke jaringan sekitar. Perluasan ke atas ke arah rongga tengkorak
dan kebelakang melalui sela-sela otot dapat mengenai saraf otak dan menyebabkan
gejala akibat kelumpuhan syaraf otak. Penjalaran melalui foramen laserum akan
mengenai saraf otak ke III, IV, VI, dan dapat pula ke V, sehingga yang sering
ditemukan ialah penglihatan ganda (diplopia) dan pada pemeriksaan tampak bola
mata juling. Neuralgia trigeminal merupakan gejala yang sering ditemukan oleh
ahli saraf jika belum terdapat keluhan lain yang berarti.
o Proses karsinoma yang lanjut akan mengenai saraf otak ke IX, X, XI, dan XII jika
penjalaran melalui foramane jugulare, yaitu suatu tempat yang relatif jauh dari
nasofaring. Hal ini akan menimbulkan rasa baal (mati rasa) didaerah wajah sampai
akhirnya timbul kelumpuhan lidah, bahu, leher dan gangguan pendengaran serta
gangguan penciuman.
o Keluhan lainnya dapat berupa sakit kepala hebat akibat penekanan tumor ke selaput
otak, rahang tidak dapat dibuka akibat kekakuan otot-otot rahang yang terkena
tumor.
o Biasanya kelumpuhan hanya mengenai salah satu sisi tubuh saja (unilateral) tetapi
pada beberapa kasus pernah ditemukan mengenai ke dua sisi tubuh.
4. Klasifikasi TNM pada pasien dan prognosisnya:

Klasifikasi TNM pada pasien : T1N0M x


Pengelompokkan Stadium

Prognosis :
Prognosis diperburuk oleh beberapa faktor, seperti :
- Stadium yang lebih lanjut.
- Usia lebih dari 40 tahun
- Laki-laki dari pada perempuan
- Ras Cina dari pada ras kulit putih
- Adanya pembesaran kelenjar leher
- Adanya kelumpuhan saraf otak adanya kerusakan tulang tengkorak
- Adanya metastasis jauh

5. Terapi berdasarkan TNM :

 Radioterapi
Pemberian radioterapi dalam bentuk IMRT lebih terpilih dibandingkan dengan 3D-CRT.
 Obat-obatan Simptomatik
 Reaksi akut pada mukosa mulut, berupa nyeri untuk mengunyah dan menelan -> obat kumur
yang mengandung antiseptik dan astringent, (diberikan 3 – 4 sehari).
 Tanda-tanda moniliasis -> antimikotik.
 Nyeri menelan -> anestesi lokal
 Nausea, anoreksia -> terapi simptomatik.
 Kemoterapi
 Terapi Nutrisi Khusus
Otitis Media Efusi  inflamasi pada telinga tengah yang terjadi secara kronik maupun akut
dengan penumpukan cairan pada telinga tengah dan tditandai dengan membrane timpani yang
intak serta reflex cahaya suram. Faktor utama yang berperan disini adalah terganggunya fungsi
tuba eustachius. Otitis media serosa sering timbul setelah otitis media akut. Cairan yang telah
terakumulasidibelakang gendang telinga selama infeksi akut dapat tetap menetap walau infeksi
mulai mengalamipenyembuhan. Selain itu, otitis media serosa dapat pula terjadi tanpa didahului
oleh infeksi, dan dapatterjadi akibat penyakit gastroesophagal reflux atau hambatan tuba
eustachius oleh karena infeksi atauadenoid yang membesar. Otitis media serosa sering sekali
terjadi pada anak-anak dengan usia antara 3bulan sampai 3 tahun.
6. Penanganan OME yaitu:
Pada pasien ini dilakukan parasintesis untuk membebaskan cairan ditelinga tengah guna
mengurangi tekanan akibat oklusi tuba oleh massa

 Terapi medikamentosa dapat berupadecongestan, anti histamin, antibiotik, perasat valsava


(bila tidak ada tanda-tanda infeksi jalannapas atas), dan hiposensitisasi alergi.
 Dekongestan dapat diberikan melalui tetes hidung, atau kombinasi anti histamin
dengandekongestan oral.
 Dasar dari pemberian antibiotik adalah berdasarkan penelitian dari hasil kultur bakteri
cairan otitis media efusi.
 Cairan serosa dan mukoid yang dikumpulkan pada miringotomi untuk diteliti, hasilnya
ditemukan biakan kultur positif pada 40% spesimen.
 Hasil biakan kultur tersebut mengandung organisme yang identik dengan organisme yang
didapat dari timpanosentesis otitis media akut.
 Maka, pemilihan antibiotik pada otitis media serosa dan mukoid serupa dengan otitis media
akut.
 Tatalaksana lain yang masih kontroversial keefektifannya antara lain: penggunaan steroid,
dan mucolytik. Penggunaan kedua golongan ini kontroversial karena hasil studibanding
dengan placebo, tidak menunjukan perbedaan atau hanya sedikit perbaikan.

 Beberapa pilihan untuk tatalaksana bedah antara lain: miringitomi, pemasangan


tubatimpanostomi, adenoidektomi.

 Pemasangan tuba timpanostomi untuk sebagai ventilasi, yang memungkinkan udara masuk
ke dalam telinga tengah, dengan demikian menghilangkan keadaan vakum. Tuba
timpanostomi terdapat dua macam: short term (contoh: grommets), long term (contoh: T-
tubes).

 Tuba jangka pendek dapat bertahan hingga 12 bulan, sedangkan tuba jangka panjang dapat
digunakan hingga bertahun-tahun (3). Tuba ventilasi dibiarkan pada tempatnya sampai
terlepas sendiri dalam jangka waktu 6-12 bulan. Pemasangan tuba ventilasi dapat
memulihkan pendengaran dan membenarkan membran timpani yang mengalami retraksi
berat terutama bila ada tekanan negatif yang menetap.
 Manfaat adenoidektomi pada otitis media serosa kronik masih
diperdebatkan. Tentunya tindakan ini cukup berarti pada individu dengan adenoid yang
besar, dimana tindakan adenoidektomi dapat menghilangkan obstruksi hidung nasofaring,
memperbaiki fungsi tuba eustachius, dan mengeliminasi sumber reservoir bakteri. Namun
sebagian besar anak tidak memenuhi kategori tersebut.

8. Apa yang Anda ketahui tentang Sleep Apnea Syndrome?


Adalah suatu sindrom dengan ditemukannya episode apnea atau hypopnea pada saat tidur.
Apnea dapat disebabkan kelainan sentral, obstruksi jalan nafas atau campuran. Istilah OSAS
(Obstructive Sleep Apnea Syndrome) dipakai pada sindrom obstruksi total atau parsial jalan napas
yang menyebabkan gangguan fisiologis yang bermakna dengan dampak klinis yang bervariasi.
Factor resiko terjadinya OSAS pada anak antara ;ain sebagai akibat dari hipertrofi adenoid dan
tonsil, disproporsi kraniofasial, obesitas. Hipertrofi tonsil merupakan keadaan yang paling sering
menyebabkan OSAS. Walaupun pada sebagian besar anak OSAS membaik setelah dilakukan
ATE, namun sebagian kecil akan menetap setelah dioperasi.

9. Indikasi tonsilektomi:
Indikasi absolute:
o Pembekakan tonsil yang menyebabkan obstruksi saluran napas, disfagia berat,
gangguan tidur dan komplikasi kardio-pulomner
o Abses peri-tonsil yang tidak membaik dengan pengobatan dan drainase
o Tonsillitis yang menyebabkan kejang dengan
o Tonsillitis yang membutuhkan biopsy untuk menentukan patologi anatomi
Indikasi relative:
o Terjadi 1 kali episode atau lebih infeksi tonsil pertahun dengan terapi antibiotik
adekuat
o Halitosis akibat tonsillitis kronis yang tidak membaik dengan pemberian terapi
medis
o Tonsillitis kronis berulang pada karier streptococcus yang tidak membaik dengan
pemberian antibiotik betalaktam
Indikasi tonsilektomi pada pasien ini adalah indikasi absolut (terdapat sleep apneu syndrome).

10. Yang dapat kita lakukan jika pasien menolak melakukan operasi tonsilektomi adalah di
antaranya pertama kita analisa terlebih dahulu hal apa yang membuat pasien enggan atau menolak
dilakukan tindakan. Kemudian kita jelaskan terlebih dahulu resiko dan komplikasi yang dapat
timbul jika tindakan tidak dilakukan. Di samping itu jelaskan pula bagaimana prognosis dan
bagaimana pengaruh tonsilektomi yang akan dilakukan terhadap prognosis tersebut. Apabila
pasien menolak dikarenakan alasan finansial, kita bisa membantu mengarahkan pasien untuk
berkonsultasi pada pihak BPJS, dan jika setelah usaha usaha edukasi tersebut pasien masih tetap
menolak, maka kita minta pasien untuk menandatangani pernyataan penolakan tindakan sebagai
bentuk kemauan pasien sendiri tanpa intervensi dari siapapun.