Anda di halaman 1dari 11

PENERAPAN SIKAP BERPIKIR KRITIS BAGI PERAWAT DALAM

PEMBERIAN ASUHAN KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT

Muhaini Atmayana Purba / 181101131

muhainipurba21@gmail.com

ABSTRAK
Latar Belakang : Sikap berpikir kritis adalah nilai yang harus ditunjukkan keberhasilannya oleh
pemikir kritis. Perawat harus menunjukkan keterampilan kognitif untuk berpikir secara kritis, tetapi
juga penting untuk memastikan bahwa keterampilan ini digunakan secara adil dan bertanggung
jawab. Tujuan : Untuk mengetahui gambaran penerapan sikap berpikir kritis perawat dalam
memberikan asuhan keperawatan dirumah Sakit. Metode : Jurnal ini merupakan suatu
perbandingan atau analisis antara satu jurnal dengan jurnal lainnya dari berbagai sumber seperti
referensi jurnal, buku teks dan e-book. Hasil : Hasil dari perbandingan ini adalah kita jadi tahu
bahwa dalam pemberian asuhan keperawatan berpikir kritis sangat di butuhkan dalam melakukan
suatu tindakan baik dalam masalah kecil maupun besar untuk memenuhi kebutuhan pasien.
Kesimpulan : Dalam melakukan suatu tindakan asuhan keperawatan, perawat dituntut untuk
berpikir kritis karena sangat dibutukan dan lebih berpengaruh dalam melakukan suatu tindakan
untuk keselamatan pasien.

Kata kunci : penerapan berpikir kritis, asuhan keperawatan, rumah sakit.

ABSTRACT
Background : Critical thinking is the value that critical thinkers must demonstrate their success.
Nurses must demonstrate cognitive skills to think critically, but it is also important to ensure that
these skills are used fairly and responsibly. Objective : To find out the description of the application
of nurses' critical thinking attitude in providing nursing care at the hospital. Method : This journal
is a comparison or analysis of one journal with another journal from various sources such as
journal references, textbooks and e-books. Results : The result of this comparison is that we know
that providing critical thinking nursing care is very much needed in taking action on both small and
large problems to meet the needs of patients. Conclusion : In carrying out an act of nursing care,
nurses are required to think critically because it is highly needed and more influential in taking an
action for patient safety compared to nurses who lack critical thinking.

Keywords : application of critical thinking, nursing care, the hospital.


LATAR BELAKANG mencapai simpulan atau perspektif baru
(Potter & Perry, 2005).
Berpikir adalah proses tertentu di otak
Banyak yang telah mendefenisikan
yang menghubungkan suatu situasi dan
berpikir kritis, tapi pada dasarnya berpikir
fakta, ide dengan fakta, ide atau kejadian
krtitis lebih banyak di artikan sebagai
lainnya agar mampu menemukan suatu
suatu proses dari pada suatu tujuan
kesimpulan yang tepat dan sesaui untu
(Facione, 2015). Berpikir kritis dalam
digunakan dalam mencari penyelesaian
keperawatan merupakan suatu komponen
terhadap masalah yang di hadapinya
esensial dari akuntabilitas professional
(Kowiyah, 2012). Berpikir adalah
dan kualitas asuhan keperawatan. Perawat
menggunakan pikiran dan mencakup
diminta untuk bisa berpikir kritis dengan
membuat pendapat, membuat keputusan
menggunakan pengetahuan mengenai
menarik kesimpulan dan merefleksikan.
ilmu keperawatannya secara menyeluruh
Berpikir merupakan suatu proses yang
agar bisa memberikan perawatan yang
aktif dan terkoordinasi. Ketika perawat
efektif. Sikap berpikir kritis adalah nilai
mengarahkan berpikir kearah pemahaman
yang harus ditunjukkan keberhasilannya
dan menemukan jalan keluar dari masalah
oleh pemikir kritis. Perawat harus
kesehatan klien, prosesnya menjadi
menunjukkan keterampilan kognitif untuk
bertujuan dan berorientasi pada tujuan.
berpikir secara kritis, tetapi juga penting
Dalam kaitannya dengan keperawatan,
untuk memastikan bahwa keterampilan
berpikir kritis adalah reflektif, pemikiran
ini digunakan secara adil dan bertanggung
yang masuk akal tentang masalah
jawab (Potter & Perry, 2005). Seorang
keperawatan tanpa ada solusi dan
perawat harus memiliki kemampuan
difokuskan pada keputusan apa yang
untuk menggali setiap perubahan yang
harus di yakini dan dilakukan. Berpikir
terjadi pada kondisi pasien, memberikan
secara kritis menantang individu untuk
pelayanan keperawatan mandiri dan
menelaah asumsi tentang informasi
tanggap terhadap berbagai permintaan
terbaru dan untuk menginterpretasikan
dan bisa menentukan prioritas. Hal ini
serta mengevaluasi uraian dengan tujuan
tentu saja membutuhkan kemampuan
berpikir kritis yang mempunyai
kemampuan untuk menyelesaikan menentukan kualitas pelayanan di rumah
masalah yang terjadi secara baik serta sakit.Sehingga setiap upaya untuk
bisa berkomunikasi dengan lancer dan meningkatkan kualitas pelayanan rumah
jelas (Fero et al, 2009). Berpikir kritis sakit harus juga disertai upaya untuk
dalam keperawatan merupakan meningkatkan kualitas pelayanan
keterampilan berpikir perawat menguji keperawatan (Yani, 2007).
berbagai alasan secara rasional sebelum Perawat akan menemukan
mengambil keputusan dalam asuhan berbagai situasi klinis yang berkaitan
keperawatan. Berpikir kritis dalam asuhan dengan masyarakat atau pasien, anggota
keperawatan memberikan jaminan keluarga dan tenaga kesehatan lainnya,
keamanan dan memenuhi standar sehingga penting untuk berpikir kritis
pelayanan. Berpikir kritis merupakan pada setiap situasi. Perawat harus
suatu pengujian yang rasional terhadap mengembangkan kemampuan berpikir
beberapa ide, kesimpulan, prinsip, kritis dalam menyelesaikan masalah dan
argumen, penjelasan, persoalan, pengelaman baru yang menyangkut
pernyataan, keyakinan dan tindakan, serta pasien dengan cara berpikiran terbuka,
inti dari praktik keperawatan professional kreatif, percaya diri, dan bijaksana.
(Taylor, 2006). Berpikir menjadi bagian Perawat memiliki peranan penting dalam
tak terpisahkan dari asuhan keperawatan penganmbilan keputusan klinis yang tepat
yang dilakukan oleh perawat. dan akurat. Pengambilan keputusan klinis
Perawat merupakan sumber daya merupakan hal yang membedakan antara
manusia terpenting di rumah sakit karena perawat dan staf teknis. Perawat
selain jumlahnya yang dominan dominan professional akan mengambil tindakan
(55-65%) juga merupakan profesi yang yang cepat dan tepat ketika keadaan klien
memberikan pelayanan yang konstan dan memburuk, mendeteksi jika pasien
terus menerus selama 24 jam kepada mengalami komplikasi serta memiliki
pasien setiap hari. Oleh karena itu inisiatif untuk mengatasinya (Potter &
pelayanan keperawatan sebagai bagian Perry dalam Aprisunadi, 2011). Lulusan
integral dari pelayanan kesehatan jelas perawat akan sering dihadapkan pada
mempunyai kontribusi yang sangat pasien dengan berbagai macam situasi
dan di tuntut untuk mampu berpikir kritis Proses keperawatan adalah satu
dan sistematis untuk menganalisa sesuai pendekatan untuk pemecahan masalah
penyakit yang di derita pasien (Indriasari, yang memampukan perawat untuk
2016). (Haryanto, 2014) Mendukung mengatur dan memberikan asuhan
pendapat tersebut dengan menjelaskan keperawatan. Proses keperawatan
rentang perawatan pasien di rumah sakit mengandung elemen berpikir kritis yang
bervariasi mulai dari kasus ringan hingga memungkinkan perawat membuat
kasus yang kompleks, sehingga menuntut penilaian dan melakukan tindakan
perawat untuk berpikir kritis dan berdasarkan nalar (Potter & Perry, 2005).
mempunyai waktu tanggap yang cepat. TUJUAN
Mutu asuhan keperawatan
1. Tujuan Umum
menjadi alat utama menjaga kepercayaan
Mengetahui gambaran berpikir
pelanggan pelayanan. Asuhan
kritis perawat dalam melakukan
keperawatan bermutu dilakukan dengan
asuhan keperawatan di rumah
meningkatkan kemampuan berpikir kritis
sakit.
perawat dalam melakukan proses
2. Tujuan Khusus
keperawatan. Pelayanan keperawatan
a. Untuk mengetahui karakteristik
didasarkan pada pendekatan pengambilan
perawat dalam berpikirk kritis di
keputusan yang dapat ditingkatkan
rumah sakit.
dengan berpikir kritis.
b. Mengetahui proses perawat
Standar praktik keperawatan
dalam berpikir kritis
profesional di Indonesia telah dijabarkan
c. Mengetahui cara
oleh Persatuan Perawat Nasional
mengaplikasikan berpikir kritis
Indonesia (PPNI) pada tahun 2000.
dalam keperawatan.
Standar tersebut mengacu pada proses
keperawatan yang terdiri atas lima tahap, METODE
yaitu pengkajian, diagnosis, perencanaan,
implementasi, dan evaluasi (Nursalam, Jurnal ini merupakan suatu

2008). perbandingan atau analisis antara satu


jurnal dengan jurnal lainnya dari berbagai
sumber seperti referensi jurnal, buku teks dalam melakukan tindakan apa
dan e-book. Adapun topik jurnal yang di selanjutnya yang akan diberikan kepada
bandingkan yaitu berhubungan dengan pasien, tanpa pasien mengeluh terlebih
sikap berpikir kritis dalam pemberian dahulu hal itu dapat meningkatkan rasa
asuhan keperawatan yang lebih berpatok nyaman pada pasien.
pada tugas perawat dalam mengambil
PEMBAHASAN
suatu tindakan.
Hasil dari pembandingan ini
HASIL
menyatakan komponen sikap di anggap
Hasil perbandingan ini terdapat sebagai aspek sentral dari seorang
pada bagaimana seharusnya peran pemikir yang kritis sikap-sikap yang
perawat dalam berpikir kritis terhadap termasuk kepercayaan diri, kemandirian,
pasien. Hasilnya adalah kita jadi tahu integritas, pengambilan resiko,
bahwa dalam pemberian asuhan kreativitas, keadilan, kerendahan hati, dan
keperawatan berpikir kritis sangat di keberanian, (Craven & Hirnle, 2009).
butuhkan dalam melakukan suatu Perawat yang pemikir kritis akan
tindakan baik dalam masalah kecil mempunyai sikap-sikap tersebut beserta
maupun besar untuk memenuhi aplikasi keperawatannya, yaitu :
kebutuhan pasien. Dalam penerapan
1. Berpikir Mandiri
berpikir kritis dalam pola berpikir kritis
Mengingat berbagai ide sebelum
terbagi menjadi 3 pemikiran yaitu
membuat kesimpulan sendiri dengan
pemikiran kritis dasar, pemikiran kritis
mencari literature keperawatan,
kompleks, dan pemikiran kritis
terutama ketika ada pandangan yang
komitmen. Contohnya dengan
berbeda pada subjek yang sama.
memperhatikan kebutuhan pasien dengan
Berbicara dan berdiskusi dengan
seksama, meningkatkan kepekaan
perawat lain dan berbagi ide tentang
terhadap keluhan pasien seperti kelihan
intervensi keperawatan yang akan
nyeri dan menanyakan bagaimana
dilakukan (Potter & Perry, 2009).
perasaan yang sedang di alami pasien
sehingga perawat dapat berpikir kritis
2. Ketekunan pendekatan yang berbeda jika
Keinginan untuk mencari intervensi tidak bekerja untuk pasien
wawasan dan kebenaran lebih jauh (Craven & Hirnle, 2009).
meskipun sulit. Banyak waktu dan Implementasi keperawatan pasien
energy akan dibutuhkan untuk yang nyeri mungkin membutuhkan
mendapatkan dan posisi yang berbeda atau teknik
mempertimbangkan informasi baru distraksi, perawat dapat melakukan
dan membentuk wawasan baru pendekatan yang melibatkan keluarga
(Craven & Hirnle, 2009). Jika pasien untuk diterapkan di rumah
mendapatkan informasi yang tidak (Potter & Perry, 2009).
lengkap atau hilang tentang pasien 5. Kepercayaan
perawat harus mengklarifikasi atau Merasa yakin dalam kemampuan
langsung menanyakan pada pasien seseorang untuk mencapai tujuan
secara langsung. Mencoba berbagai belajar bagaimana untuk
pendekatan dan mencari sumber memperkenalkan diri kepada pasien,
informasi sampai mendapatkan solusi berbicara dengan keyakinan ketika
yang tepat (Potter & Perry, 2009). mulai melakukan tindakan dengan
3. Curiosity sesuai prosedur (Craven & Hirnle,
Menjadi termotivasi untuk 2009). Seorang pasien berpikir
mencapai dan bertanya “mengapa”. bahwa seorang perawat dapat
Sebuah tanda klinis atau gejala sering melakukan tindakan keperawatan,
menunjukkan berbagai masalah selalu dipersiapkan dengan baik
(Craven & Hirnle, 2009). sebelum melakukan aktivitas
Mengeksplorasi dan belajar lebih keperawatan dan mendorong pasien
banyak tentang pasien sehingga untuk mengajukan pertanyaan (Potter
membuat penilaian klinis yang tepat & Perry, 2009).
(Potter & Perry, 2009). 6. Keadilan
4. Kreativitas Keinginan untuk menelaah sudut
Menciptakan ide-ide baru dan pandang orang lain dengan standar
pendekatan alternative atau intelektual yang sama, dan tidak
dipengaruhi oleh kepentingan atau penilaian dan tindakan (Craven &
keuntungan diri sendiri atau orang Hirnle, 2009). Menjadi jujur dan
lain. Mendengarkan kedua belah bersedia untuk mematuhi prinsip-
pihak dalam diskusi apapun (Craven prinsip dalam menghadapi kesulitan,
& Hirnle, 2009). Jika seorang pasien tidak ada kompromi untuk standar
atau anggota keluarga mengeluh keperawatan atau kejujuran dalam
tentang seorang pekerja. Maka memberikan asuhan keperawatan
kemudian mencari penyelesaian yang (Potter & Perry, 2009).
adil dan terbuka dengan keinginan Berpikir kritis mempunyai enam
untuk memenuhi kebutuhan pasien sub-skill yang terdiri dari :
(Potter & Perry, 2009). 1. Interpretasi
7. Kerendahan hati Merupakan proses memahami
Pemikir kritis mengerti kapan dan menyatakan makna atau
harus membutuhkan informasi lebih signifikansi variasi yang luas
lanjut untuk membuat keputusan dari pengalaman, situasi, data,
(Craven & Hirnle, 2009). Meminta peristiwa, penilaian, persetujuan,
orientasi kepada perawat yang lebih keyakinan, aturan, prosedur dan
mengetahui. Meminta daftar perawat kriteria (Facione, 2015). Menjadi
secara teratur untuk mengetahui tertib dalam pengumpulan data.
tindakan yang akan dilakukan dengan Mencari pola untuk
pendekatan keperawatan (Potter & mengkategorikan data (diagnosis
Perry, 2009). keperawatan), (Potter & Perry,
8. Integritas 2013).
Keinginan untuk menerapkan 2. Analisis
standar bukti intelektual yang baku Analisi adalah proses
dan sama terhadap pengetahuan yang mengidentifikasi hubungan
dimiliki oleh orang lain. Hal ini antara pernyataan, pertanyaan,
membutuhkan kejujuran untuk konsep, deskripsi, atau bentuk-
menelaah dan mengakui kesalahan bentuk representasi lainnya
dan ketidakkonsistenan pikiran, untuk mengungkapkan
keyakinan, penilaian, 5. Evaluasi
pengalaman, alasan, informasi Evaluasi merupakan suatu
dan opini (Facione, 2015). proses pengkajian kredibilitas
3. Penjelasan pernyataan atau representasi
Penjelasan merupakan proses yang menilai atau
mengidentifikasi dan menggambarkan persepsi,
memperoleh unsur yang pengalaman situasi, penilaian,
dibutuhkan untuk menarik keyakinan atau opini seseorang
kesimpulan, untuk membentuk serta mengkaji kekuatan logis
suatu dugaan atau hipotesis, dari hubungan actual antara dua
mempertimbangkan informasi atau lebih pernyataan (Facione,
yang relevan dan 2015).
mengembangkan konsekuensi 6. Regulasi Diri
yang sesuai dengan data, Pengontrolan diri adalah
pernyataan, prinsip, bukti, kesadaran untuk memantau
penilaian, keyakinan, opini, aktifitas tersebut, dan hasil-hasil
konsep, deskripsi, pertanyaan, yang dikembangkan, terutama
dan bentuk-bentuk represanti melalui penggunaan
lainnya (Facione, 2015). keterampilan dalam
4. Kesimpulan menganalisis, mengevaluasi
Kesimpulan diartikan sebagai penilaian inferensial seseorang
suatu kemampuan untuk dengan suatu pandangan melalui
mempersentasikan hasil pengajuan pertanyaan,
penilaian seseorang dengan cara konfirmasi, validasi, atau
meyakinkan dan koheren. pembetulan terhadap hasil
Gunakan pengetahuan dan penilaian seseorang (Facione,
pengalaman untuk memilih 2015).
strategi yang akan digunakan
dalam perawatan pasien (Potter
& Perry, 2013).
PENUTUP di rumah sakit dalam menangani
pasien. Juga diharapkan
1. KESIMPULAN mengembangkan program jurnal
Dalam melakukan suatu tindakan reading dan menjadikan budaya baca
asuhan keperawatan, perawat di riset-riset keperawatan baik nasional
tuntut untuk berpikir kritis karena maupun internasional sebagai
sangat dibutukan dan lebih penambahan ilmu pengetahuan dan
berpengaruh dalam melakukan suatu kebutuhan bagi perawat serta selalu
tindakan untuk keselamatan pasien di mengasah dan melatih kemampuan
bandingkan dengan perawat yang berfikir kritis melalui pelaksanaan
kurang berpikir kritis. Ada pengaruh ronde keperawatan. Hendaknya
berfikir kritis terhadap kemampuan rumah Sakit :menggali metode untuk
perawat dalam melakukan asuhan meningkatkan kemampuan berpikir
keperawatan dan perawat yang kritis para perawat. Selain itu,
berfikir kritis berpeluang mampu penting bagi rumah sakit khususnya
melakukan asuhan keperawatan divisi keperawatan untuk menyusun
keperawatandengan baik jika rencana dan menyediakan fasilitas
dibandingkan dengan perawat yang pembelajaran dan pelatihan yang
kurang berfikir kritis. Ada pengaruh mendukung untuk meningkatkan
lama kerja terhadap kemampuan kemampuan berpikir kritis.
perawat dalam melakukan asuhan
keperawatan dan lama kerja REFERENSI
merupakan faktor dominan dari
Aprisunadi. (2011). Hubungan Antara
counfounding terhadap kemampuan
Berpikir Kritis Perawat dengan
perawat dalam melakukan asuhan
Kualitas Asuhan Keperawatan di
keperawatan.
Unit Perawatan Ortopedi Rumah
2. SARAN Sakit Umum Pusat Fatmawati
Sebaiknya perawat lebih Jakarta. Universitas Indonesia.
meningkatkan berpikir kritis
dilakukan dalam diskusi kasus baik
Craven, R. F., & Hirnle, C. J., (2009). Haryanto, A (2014). Hubungan Berpikir
Fundamentals of nursing : human Kritis dan Waktu Tanggap Perawat
health and function (6th ed.). dengan Kualitas Asuhan
Philadelphia : wolters kluer Keperawatan di Instalasi Gawat
health/lippincot Williams & wilkins. Darurat Rumah Sakit islam
Surabaya. Universitas sebelas maret
Fathi,A., & Simamora, R. H. (2019, march).
Surakarta.
Investigating nurses’ coping strategies
in their workplace as an indicator of Indriasari , F. N. (2016). Hubungan
quality of nurses’ life in Indonesia : a Antara Penerapan Model
preliminary study. In IOP Conference Pembelajaran Problem Based
Series : Earth and Environmental Learning dengan Motivasi Belajar
Science (Vol. 248, No. 1, p. 012031). Mahasiswa Program Study Ilmu
IOP Publishing. Keperawatan. Jurnal Keperawatan
Notokusumo, IV(1), 40-46.
Facione P. A. (2015). Critical Thinking :
What It Is and Why It Counts. Insight Kowiyah. (2012). Kemampuan Berpikir
Assessment, 7(ISBN 13: 978-1- Kritis. Jurnal Pendidikan Dasar,
891557-07-1), 1-28. 3(5), 175-179.
https://doi.org/ISBN : 13 :978-1-
Nursalam, & Efendi, F. (2008).
891557-07-1.
Pendidikan Dalam Keperawatan.
Fero, L. J., Witsberger, C. M., Wesmiller, S. Jakarta : Salemba Medika
W., Zullo, T. G., Hoffman, L. A.,
Potter, P. A., & Perry, A. G. (2005) Buku
(2009). Critical thinking Ability of
Ajar Fundamental Keperawatan:
New Graduate and Experienced
Konsep, Proses dan Praktek (edisi
Nurses. Journal of Advanced Nursing,
4). Jakarta : Penerbit Buku
65(1), 139-148.
Kedokteran EGC
https://doi.org/10.1111/j.1365-
2648.2008.04834.x.
Perry, A. G., & Potter, P. A. (2009). Potter
and perry’s fundamentals of nursing
Australian version. (J. Crips & C.
Taylor, Eds.) (3rd ed). Australian :
mosby Elsevier Australia.

Potter, P. A., & Perry, A. G., (2010).


Fundamental of nursing. Buku 1, edisi
7. Jakarta : Salemba Medika

Potter, P. A., & Perry, A. G., (2013).


Fundamentals of nursing. (8th ed).
Elsevier.

Rubenfeld, M.G., Scheffer, B.K. (2007).


Berpikir kritis dalam keperawatan.
Jakarta : EGC
Sudono, DS, Bambang, dkk. (2017).
Gambaran Kemampuan Berpikir Kritis
Perawat Primer Dalam Pelaksanaaan
Asuhan Keperawatan di Rumah Sakit
Islam Surakarta. Jurnal Ilmu
Keperawatan Indoensia Vol. 10, No. 1.
Taylor, B. J. (2006). Reflective Practice: A
Guide For Nurses and Midwives.
Meidenhead: Open University Press.
Yani, A. 2007. Geografi. Jakarta:
Grafindo.112.