Anda di halaman 1dari 17

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN

TRAUMA KEPALA

Telah disetuji pada :


Hari :
Tanggal :

DISUSUN OLEH

THALIA HANA SEPTIARA MULYANA

201820461011091

PEMBIMBING AKADEMIK PEMBIMBING LAHAN


I. KONSEP DASAR TEORI
A. Definisi
Trauma kepala adalah suatu trauma yang mengenai daerah kulit kepala, tulang
tengkorak atau otak yang terjadi akibat injury baik secara langsung maupun tidak
langsung pada kepala. Suatu gangguan traumatic dari fungsi otak yang disertai atau
tanpa disertai pendarahan interstitial dalam subtansi otak, tanpa diikuti terputusnya
kontinuitas jaringan otak (Nasir, 2012).
B. Etiologi
Cedera kepala pada dasarnya dikenal dua macam mekanisme trauma yang
mengenai kepala yakni benturan dan goncangan. Etiologi cedera kepala yaitu:
Trauma tumpul, kecepatan tinggi : tabrakan motor dan mobil, kecepatan rendah :
terjatuh atau dipukul; trauma tembus, luka tembus peluru dari cedera tembus lainnya,
jatuh dari ketinggian, cedera akibat kekerasan, cedera otak primer, adanya kelainan
patologi otak yang timbul segera akibat langsung dari trauma. Dapat terjadi memar
otak dan laserasi; cedera otak sekunder. Kelainan patologi otak disebabkan kelainan
biokimia metabolisme, fisiologi yang timbul setelah trauma (Nasir, 2012).
C. Klasifikasi
Klasifikasi trauma kepala berdasarkan Nilai Skala Glasgow (GCS) yaitu (Nasir, 2012):
a. Ringan, GCS 13 – 15. Dapat terjadi kehilangan kesadaran atau amnesia tetapi
kurang dari 30 menit. Tidak ada kontusio tengkorak, tidak ada fraktur cerebral,
hematoma.
b. Sedang. GCS 9 – 12. Kehilangan kesadaran dan atau amnesia lebih dari 30 menit
tetapi kurang dari 24 jam. Dapat mengalami fraktur tengkorak.
c. Berat, GCS 3 – 8. Kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia lebih dari 24
jam. Juga meliputi kontusio serebral, laserasi, atau hematoma intracranial.
D. Patofisiologi
Dipandang dari sudut waktu dan berat ringannya cedera otak yang terjadi, proses
cedera otak dibagi (Japardi, 2012) :
1. Proses primer
Ini adalah kerusakan otak tahap pertama yang diakibatkan oleh benturan/proses
mekanik yang membentur kepala. Derajat kerusakan tergantung pada kuatnya
benturan dan arahnya, kondisi kepala yang bergerak/diam, percepatan dan
perlambatan gerak kepala. Proses primer mengakibatkan fraktur tengkorak,
perdarahan segera dalam rongga tengkorak/otak, robekan dan regangan serabut
saraf dan kematian langsung neuron pada daerah yang terkena
2. Proses sekunder
Merupakan tahap lanjutan dari kerusakan otak primer dan timbul karena
kerusakan primer membuka jalan untuk kerusakan berantai karena berubahnya
struktur anatomi maupun fungsional dari otak misalnya meluasnya perdarahan,
edema otak, kerusakan neuron berlanjut, iskemia fokal/global otak, kejang,
hipertermi. Insult sekunder pada otak berakhir dengan kerusakan otak iskemik
yang dapat melalui beberapa proses:
a. Kerusakan otak berlanjut (progressive injury)
Terjadi kerusakan berlanjut yang progresif terlihat pada daerah otak yang
rusak dan sekitarnya serta terdiri dari 3 proses:
 Proses kerusakan biokimia yang menghancurkan sel-sel dan
sistokeletonnya. Kerusakan ini dapat berakibat:
- Edema sintotoksik karena kerusakan pompa natrium terutama
pada dendrit dan sel glia
- Kerusakan membran dan sitoskeleton karena kerusakan pada
pompa kalsium mengenai semua jenis sel
- Inhibisi dari sintesis protein intraseluler
 Kerusakan pada mikrosirkulasi seperti vasoparisis, disfungsi
membran kapiler disusul dengan edema vasogenik. Pada
mikrosirkulasi regional ini tampak pula sludging dari sel-sel darah
merah dan trombosit. Pada keadaan ini sawar darah otak menjadi
rusak.
 Perluasan dari daerah hematoma dan perdarahan petekial otak yang
kemudian membengkak akibat proses kompresi lokal dari hematoma
dan multipetekial. Ini menyebabkan kompresi dan bendungan pada
pembuluh di sekitarnya yang pada akhirnya menyebabkan peninggian
tekanan intracranial
Telah diketahui bahwa trauma otak primer menyebabkan depolarisasi
neuronal yang luas yang disertai dengan meningkatnya kalsium intraseluler
(Hays,5) dan meningkatnya kadar neurotransmitter eksitatorik. Peningkatan
dan kebocoran neurotransmitter eksitatorik akan merangsang terjadinya
delayed neuronal death. Selain itu kerusakan dalam hemostasis ionik
mengakibatkan meningkatnya kadar kalsium (ca) intraseluler serta ion
natrium. Influks ca ke dalam sel disertai rusaknya sitoskeleton karena enzim
fosfolipase dan merangsang terlepasnya radikal bebas yang memperburuk
dan merusak integritas membran sel yang masih hidup.
b. Insult otak sekunder berlanjut (delayed secondary barin injury)
Penyebab dari proses inibisa intrakranial atau sistemik:
 Intrakranial
Karena peninggian tekanan intrakranial (TIK) yang meningkat secara
berangsur-angsur dimana suatu saat mencapai titik toleransi maksimal
dari otak sehingga perfusi otak tidak cukup lagi untuk
mempertahankan integritas neuron disusul oleh hipoksia/hipoksemia
otak dengan kematian akibat herniasi, kenaikan TIK ini dapat juga
akibat hematom berlanjut misalnya pada hematoma epidural. Sebab
TIK lainnya adalah kejang yang dapat menyebabkan asidosis dan
vasospasme/vasoparalisis karena oksigen tidak mencukupi
 Sistemik
Perubahan sistemik akansangat mempengaruhi TIK. Hipotensi dapat
menyebabkan penurunan tekanan perfusi otak berlanjut dengan
iskemia global. Penyebab gangguan sistemik ini disebut oleh Dearden
(1995) sebagai nine deadly Hs yaitu hipotensi , hipokapnia,
hiperglikemia, hiperkapnia, hiperpireksia, hipoksemia, hipoglikemia,
hiponatremia dan hipoproteinemia.
Trauma yang mengenai kepala, dapat diredam oleh rambut dan kulit
kepala. Selanjutnya bagian yang terberat dari benturan diteruskan ke
tengkorak, yang cukup mempunyai elastisitas hingga dapat mendatar, bila
kepala terbentur pada objek yang tumpul atau datar. Bila pendataran
tengkorak melebihi toleransi elastisitas, tulang akan patah/retak. Hal ini dapat
menyebabkan fraktur linear yang sederhana, meluas dari pusat pukulan
sampai ke basis. Benturan yang lebih hebat dapat menyebabkan fraktur
stellata dan bila lebih hebat lagi dapat menyebabkan depresi fraktur.
Tipe-tipe dari fraktur tidak hanya tergantung dari kecepatan pukulannya,
tetapi yang lebih penting ditentukan oleh besar permukaan objek yang
mengenai tengkorak. Objek yang runcing dapat menyebabkan perforasi pada
tengkorak sedangkan objek yang lebih besar dgnkecepatan yang sama
menyebabkn depresi fraktur.
Jarang fraktur terjadi pada lawan dari tempat benturan. Tengkorak
bergerak lebih cepat dari otak bila terkena benturan. Meskipun otak
mengalami contusio pada tempat bawah benturan, tetapi kerusakan lebih
berat terjadi pada permukaan tengkorak yang kasar, pada tonjolan-tonjolan
tulang, crista galli, pada sayap sphenoid mayor dan ospetrosus, seperti sering
terlihat pada contusio pada fossa anterior (frontal basal) dan fossa media
(temporal basal). Pada benturan didaerah frontal, otak bergerak dari anterior
ke posterior, sedangkan benturan pada daerah ocipital menyebabkan otak
bergerak sepanjang sumbu axis, sedangkan lateral impact menyebabkan otak
bergerak dari satu sisi ke sisi lain.
Menurut Gurjian, ciri khas biomekanik dari coup contra coup dan
contusion adalah sebagai berikut:
1. Coup contusio disebabkan oleh efek langsung dari tulang yang
membentur
2. Contra coup contusio disebabkan oleh gerakan otak terhadap permukaan
tulang yang tidak rata
3. Bila kepala relatif diam, benturan langsung menyebabkan coup lesi tanpa
contra coup efek
4. Bila kepala bebas bergerak, benturan pada kepala menyebabkan lesi
contra coup tanpa lesi coup.
E. Manifestasi Klinis
Hilangnya kesadaran kurang dari 30 menit atau lebih, kebungungan, iritabel,
pucat, mual dan muntah, pusing kepala, terdapat hematoma, kecemasan, sukar untuk
dibangunkan, bila fraktur, adanya cairan serebrospinal yang keluar dari hidung
(rhinorrohea) dan telinga (otorrhea) bila fraktur tulang temporal (Nasir, 2012).
F. Pemeriksaan Penunjang
1. CT Scan. CT-Scan (dengan atau tanpa kontras): mengidentifikasi luasnya lesi,
perdarahan, determinan ventrikuler, dan perubahan jaringan otak. Catatan :
Untuk mengetahui adanya infark / iskemia jangan dilekukan pada 24 - 72 jam
setelah injuri.
2. Adanya nyeri kepala, mual, muntah, kejang, penurunan kesadaran,
mengidentifikasi adanya hemoragi, pergeseran jaringan otak.
3. Angiografi Serebral Menunjukkan kelainan sirkulasi cerebral seperti pergeseran
cairan otak akibat oedema, perdarahan, trauma.
4. EEG (Electro Encephalografi) Memperlihatkan keberadaan/perkembangan
gelombang patologis.
5. MRI (Magnetic Resonance Imaging), Mengidentifikasi perfusi jaringan otak, misalnya
daerah infark, hemoragik.
6. Rontgen, Mendeteksi perubahan struktur tulang (fraktur), perubahan struktur
garis (perdarahan/edema), fragmen tulang.
7. Test Orientasi dan Amnesia Galveston (TOAG). Untuk menentukan apakah
penderita trauma kepala sudah pulih daya ingatnya.
(Nasir, 2012)
G. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan penderita cedera kepala ditentukan atas dasar beratnya cedera
dan dilakukan menurut urutan prioritas. Yang ideal dilaksanakan oleh suatu tim yang
terdiri dari paramedis terlatih, dokter ahli saraf, bedah asraf, radiologi, anestesi dan
rehabilitasi medic. Pasien dengan cedera kepala harus ditangani dan dipantau terus
sejak tempat kecelakaan, selama perjalanan dari tempat kejadian sampai rumah sakit,
diruang gawat darurat, kamar radiologi, sampai ke ruang operasi, ruang perawatan
atau ICU, sebab sewaktu-waktu bisa memburuk akibat aspirasi, hipotensi, kejang dan
sebagainya. Macam dan urutan prioritas tindakan cedera kepala ditentukan atas
dalamnya penurunan kesadaran pada saat diperiksa (Japardi, 2012) :
1. Pasien dalam keadaan sadar (GCS=15)
Pasien yang sadar pada saat diperiksa bisa dibagi dalam 2 jenis:
a. Simple head injury (SHI)
Pasien mengalami cedera kepala tanpa diikuti gangguan kesadaran, dari
anamnesa maupun gejala serebral lain. Pasien ini hanya dilakukan perawatan
luka. Pemeriksaan radiologik hanya atas indikasi. Keluarga dilibatkan untuk
mengobservasi kesadaran.
b. Kesadaran terganggu sesaat
Pasien mengalami penurunan kesadaran sesaat setelah cedera kepala dan pada
saat diperiksa sudah sadar kembali. Pemeriksaan radiologik dibuat dan
penatalaksanaan selanjutnya seperti SHI.
2. Pasien dengan kesadaran menurun
a. Cedera kepala ringan / minor head injury (GCS=13-15)
Kesadaran disoriented atau not obey command, tanpa disertai defisit fokal
serebral. Setelah pemeriksaan fisik dilakukan perawatanluka, dibuat foto
kepala. CT Scan kepala, jika curiga adanya hematom intrakranial, misalnya
ada riwayat lucid interval, pada follow up kesadaran semakinmenurun atau
timbul lateralisasi. Observasi kesadaran, pupil, gejala fokal serebral disamping
tanda-tanda vital.
b. Cedera kepala sedang (GCS=9-12)
Pasien dalamkategori ini bisa mengalami gangguan kardiopulmoner, oleh
karena itu urutan tindakannya sebagai berikut:
1) Periksa dan atasi gangguan jalan nafas, pernafasan dan sirkulasi
2) Periksa singkat atas kesadaran, pupil, tanda fokal serebral dan cedera
organ lain. Fiksasi leher dan patah tulang ekstrimitas
3) Foto kepala dan bila perlu bagiann tubuh lain
4) CT Scan kepala bila curiga adanya hematom intracranial
5) Observasi fungsi vital, kesadaran, pupil, defisit fokal serebral
c. Cedera kepala berat (CGS=3-8)
Penderita ini biasanya disertai oleh cedera yang multiple, oleh karena itu
disamping kelainan serebral juga disertai kelainan sistemik. Urutan tindakan
menurut prioritas adalah sebagai berikut:
a) Resusitasi jantung paru (airway, breathing, circulation=ABC)
Pasien dengan cedera kepala berat ini sering terjadi hipoksia, hipotensi
dan hiperkapnia akibat gangguan kardiopulmoner. Oleh karena itu
tindakan pertama adalah:
 Jalan nafas (Air way)
Jalan nafas dibebaskan dari lidah yang turun ke belakang dengan
posisi kepala ekstensi,kalau perlu dipasang pipa orofaring atau
pipa endotrakheal, bersihkan sisa muntahan, darah, lendir atau
gigi palsu. Isi lambung dikosongkan melalui pipa nasograstrik
untuk menghindarkan aspirasi muntahan
 Pernafasan (Breathing)
Gangguan pernafasan dapat disebabkan oleh kelainan sentral atau
perifer. Kelainan sentral adalah depresi pernafasan pada lesi
medulla oblongata, pernafasan cheyne stokes, ataksik dan central
neurogenik hyperventilation. Penyebab perifer adalah aspirasi,
trauma dada, edema paru, DIC, emboli paru, infeksi. Akibat dari
gangguan pernafasan dapat terjadi hipoksia dan hiperkapnia.
Tindakan dengan pemberian oksigen kemudian cari danatasi
faktor penyebab dan kalau perlu memakai ventilator.
 Sirkulasi (Circulation)
Hipotensi menimbulkan iskemik yang dapat mengakibatkan
kerusakan sekunder. Jarang hipotensi disebabkan oleh kelainan
intrakranial, kebanyakan oleh faktor ekstrakranial yakni berupa
hipovolemi akibat perdarahan luar atau ruptur alat dalam, trauma
dada disertai tamponade jantung atau peumotoraks dan syok
septik. Tindakannya adalah menghentikan sumber perdarahan,
perbaikan fungsi jantung danmengganti darah yang hilang dengan
plasma, hydroxyethyl starch atau darah
b) Pemeriksaan fisik
Setelah ABC, dilakukan pemeriksaan fisik singkat meliputi kesadaran,
pupil, defisit fokal serebral dan cedera ekstra kranial. Hasil pemeriksaan
fisik pertama ini dicatat sebagai data dasar dan ditindaklanjuti, setiap
perburukan dari salah satu komponen diatas bis adiartikan sebagai adanya
kerusakan sekunder dan harus segera dicari dan menanggulangi
penyebabnya.
c) Pemeriksaan radiologi
Dibuat foto kepala dan leher, sedangkan foto anggota gerak, dada dan
abdomen dibuat atas indikasi. CT scan kepala dilakukan bila ada fraktur
tulang tengkorak atau bila secara klinis diduga ada hematom intrakranial
d) Tekanan tinggi intrakranial (TTIK)
Peninggian TIK terjadi akibat edema serebri, vasodilatasi, hematom
intrakranial atau hidrosefalus. Untuk mengukur turun naiknya TIK
sebaiknya dipasang monitor TIK. TIK yang normal adalah berkisar 0-15
mmHg, diatas 20 mmHg sudah harus diturunkan dengan urutan sebagai
berikut:
1. Hiperventilasi
Setelah resusitas ABC, dilakukan hiperventilasi dengan ventilasi yang
terkontrol, dengan sasaran tekanan CO2 (pCO2) 27-30 mmHg
dimana terjadi vasokontriksi yang diikuti berkurangnya aliran darah
serebral. Hiperventilasi dengan pCO2 sekitar 30 mmHg
dipertahankan selama 48-72 jam, lalu dicoba dilepas dgnmengurangi
hiperventilasi, bila TIK naik lagi hiperventilasi diteruskan lagi selama
24-48 jam. Bila TIK tidak menurun dengan hiperventilasi periksa gas
darah dan lakukan CT scan ulang untuk menyingkirkan hematom
2. Drainase
Tindakan ini dilakukan bil ahiperventilasi tidak berhasil. Untuk jangka
pendek dilakukan drainase ventrikular, sedangkan untuk jangka
panjang dipasang ventrikulo peritoneal shunt, misalnya bila terjadi
hidrosefalus
3. Terapi diuretic
 Diuretik osmotik (manitol 20%)
Cairan ini menurunkan TIK dengan menarik air dari jaringan otak
normal melalui sawar otak yang masih utuh kedalam ruang
intravaskuler. Bila tidak terjadi diuresis pemberiannya harus
dihentikan. Cara pemberiannya :
Bolus 0,5-1 gram/kgBB dalam 20 menit dilanjutkan 0,25-0,5
gram/kgBB, setiap 6 jam selama 24-48 jam. Monitor osmolalitas
tidak melebihi 310 mOSm
 Loop diuretik (Furosemid)
Furosemid dapat menurunkan TIK melalui efek menghambat
pembentukan cairan cerebrospinal dan menarik cairan interstitial
pada edema sebri. Pemberiannya bersamaan manitol mempunyai
efek sinergik dan memperpanjang efek osmotic serum oleh
manitol. Dosis 40 mg/hari/iv
4. Terapi barbiturat (Fenobarbital)
Terapi ini diberikan pada kasus-ksus yang tidak responsif terhadap
semua jenis terapi yang tersebut diatas. Cara pemberiannya:
Bolus 10 mg/kgBB/iv selama 0,5 jam dilanjutkan 2-3 mg/kgBB/jam
selama 3 jam, lalu pertahankan pada kadar serum 3-4 mg%, dengan
dosis sekitar 1 mg/KgBB/jam. Setelah TIK terkontrol, 20 mmHg
selama 24-48 jam, dosis diturunkan bertahap selama 3 hari.
5. Streroid
Berguna untuk mengurangi edema serebri pada tumor otak. Akan
tetapi menfaatnya pada cedera kepala tidak terbukti, oleh karena itu
sekarang tidak digunakan lagi pada kasus cedera kepala
6. Posisi Tidur
Penderita cedera kepala berat dimana TIK tinggi posisi tidurnya
ditinggikan bagian kepala sekitar 20-30, dengan kepala dan dada pada
satu bidang, jangan posisi fleksi atau leterofleksi, supaya pembuluh
vena daerah leher tidak terjepit sehingga drainase vena otak menjadi
lancar.
e) Keseimbangan cairan elektrolit
Pada saat awal pemasukan cairan dikurangi untuk mencegah
bertambahnya edema serebri dengan jumlah cairan 1500-2000 ml/hari
diberikan perenteral, sebaiknya dengan cairan koloid seperti hydroxyethyl
starch, pada awalnya dapat dipakai cairan kristaloid seperti NaCl 0,9%
atau ringer laktat, jangan diberikan cairan yang mengandung glukosa oleh
karena terjadi keadaan hiperglikemia menambah edema serebri.
Keseimbangan cairan tercapai bila tekanan darah stabil normal, yang akan
takikardia kembali normal dan volume urin normal >30 ml/jam. Setelah
3-4 hari dapat dimulai makanan peroral melalui pipa nasogastrik. Pada
keadaan tertentu dimana terjadi gangguan keseimbangan cairan eletrolit,
pemasukan cairan harus disesuaikan, misalnya pada pemberian obat
diuretik, diabetes insipidus, syndrome of inappropriate anti diuretic
hormon (SIADH). Dalam keadaan ini perlu dipantau kadar eletrolit, gula
darah, ureum, kreatinin dan osmolalitas darah.
f) Nutrisi
Pada cedera kepala berat terjadi hipermetabolisme sebanyak 2-2,5 kali
normal dan akan mengakibatkan katabolisme protein. Proses ini terjadi
antara lain oleh karena meningkatnya kadar epinefrin dan norepinefrin
dalam darah danakan bertambah bila ada demam. Setekah 3-4 hari
dengan cairan perenterai pemberian cairan nutrisi peroral melalui pipa
nasograstrik bisa dimulai, sebanyak 2000-3000 kalori/hari
g) Epilepsi/kejang
Epilepsi yang terjadi dalam minggu pertama setelah trauma disebut early
epilepsi dan yang terjadi setelah minggu pertama disebut late epilepsy.
Early epilelpsi lebih sering timbul pada anak-anak dari pada orang
dewasa, kecuali jika ada fraktur impresi, hematom atau pasien dengan
amnesia post traumatik yang panjang. Pengobatan:
 Kejang pertama: Fenitoin 200 mg, dilanjutkan 3-4 x 100 mg/hari
 Status epilepsi: diazepam 10 mg/iv dapat diulang dalam 15 menit.
Bila cendrung berulang 50-100 mg/ 500 ml NaCl 0,9% dengan
tetesan <40 mg/jam. Setiap 6 jam dibuat larutan baru oleh karena
tidak stabil. Bila setelah 400 mg tidak berhasil, ganti obat lain
misalnya Fenitoin. Cara pemberian Fenitoin, bolus 18
mg/KgB/iv pelan-pelan paling cepat 50 mg/menit. Dilanjutkan
dengan 200-500 mg/hari/iv atau oral Profilaksis: diberikan pada
pasien cedera kepala berat dengan resiko kejang tinggi, seperti
pada fraktur impresi, hematom intrakranial dan penderita dengan
amnesia post traumatik panjang
h) Komplikasi sistematik
 Infeksi: profilaksis antibiotik diberikan bila ada resiko tinggi
infeksi seperti: pada fraktur tulang terbuka, luka luar dan fraktur
basis kranii
 Demam: kenaikan suhu tubuh meningkatkan metabolisme otak
dan menambah kerusakan sekunder, sehingga memperburuk
prognosa. Oleh karena itu setiap kenaikan suhu harus diatasi
dengan menghilangkan penyebabnya, disamping tindakan
menurunkan suhu dengan kompres
 Gastrointestinal: pada penderita sering ditemukan gastritis erosi
dan lesi gastroduodenal lain, 10-14% diantaranya akan berdarah.
Keadaan ini dapat dicegah dengan pemberian antasida atau
bersamaan dengan H2 reseptor bloker.
 Kelainan hematologi: kelainan bisa berupa anemia,
trombosiopenia, hipo hiperagregasi trombosit, hiperkoagilasi,
DIC. Kelainan tersebut walaupun ada yang bersifat sementara
perlu cepat ditanggulangi agar tidak memperparah kondisi pasien.
i) Neuroproteksi
Adanya waktu tenggang antara terjadinya trauma dengan timbulnya
kerusakan jaringan saraf, memberi waktu bagi kita untuk memberikan
neuroprotektan. Manfaat obat-obat tersebut masih diteliti pada penderita
cedera kepala berat antara lain, antagonis kalsium, antagonis glutama dan
sitikolin
H. Pencegahan
Pencegahan cedera kepala dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut (Nasir,
2012):
1. Menggunakan alat pengaman saat melakukan olahraga-olahraga, seperti
sepakbola, bersepeda, menyelam, tinju, dan sebagainya.
2. Selalu menggunakan alat pengaman, seperti sabuk pengaman atau helm, saat
berkendara. Hindari minuman beralkohol sebelumnya untuk menghindari
kecelakaan.
3. Memasang pegangan besi di kamar mandi dan samping tangga untuk mengurangi
risiko terpeleset.
4. Memastikan lantai selalu kering dan tidak licin.
5. Memasang penerangan yang baik di seluruh rumah.
6. Memeriksa kondisi mata secara rutin.
7. Berolahraga secara teratur untuk mereggangkan otot.
Anak-anak juga rentan mengalami cedera kepala saat bermain. Berikut adalah
langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah kecelakaan terjadi (Nasir,
2012):
1. Memasang pintu di depan tangga dan dikunci saat tidak ada pengawas.
2. Memasang tralis jendela, khususnya jika Anda tinggal di apartemen atau rumah
tingkat.
3. Meletakkan keset kering di depan pintu kamar mandi untuk menghindari
terpeleset.
I. Komplikasi
Komplikasi yang terjadi pada pasien cedera kepala antara lain : cedera otak
sekunder akibat hipoksia dan hipotensi, edema serebral, peningkatan tekanan
intrakranial, herniasi jaringan otak, infeksi, hidrosefalus (Nasir, 2012).
J. Pathway

II. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


A. Pengkajian
Pengkajian Kegawatdaruratan :
a. Primary Survey
1) Airway dan Cervical control
Hal pertama yang dinilai adalah kelancaran airway. Meliputi pemeriksaan
adanya obstruksi jalan nafas yang dapat disebabkan benda asing, fraktur
tulang wajah, fraktur mandibula atau maksila, fraktur larinks atau trachea.
Dalam hal ini dapat dilakukan “chin lift” atau “jaw thrust”. Selama
memeriksa dan memperbaiki jalan nafas, harus diperhatikan bahwa tidak
boleh dilakukan ekstensi, fleksi atau rotasi dari leher.
2) Breathing dan Ventilation
Jalan nafas yang baik tidak menjamin ventilasi yang baik. Pertukaran gas
yang terjadi pada saat bernafas mutlak untuk pertukaran oksigen dan
mengeluarkan karbon dioksida dari tubuh. Ventilasi yang baik
meliputi:fungsi yang baik dari paru, dinding dada dan diafragma.
3) Circulation dan Hemorrhage control
a) Volume darah dan Curah jantung
Kaji perdarahan klien. Suatu keadaan hipotensi harus dianggap
disebabkan oleh hipovelemia. 3 observasi yang dalam hitungan detik
dapat memberikan informasi mengenai keadaan hemodinamik yaitu
kesadaran, warna kulit dan nadi.
b) Kontrol Perdarahan
4) Disability
Penilaian neurologis secara cepat yaitu tingkat kesadaran, ukuran
dan reaksi pupil.
5) Exposure dan Environment control
Dilakukan pemeriksaan fisik head toe toe untuk memeriksa jejas.
b. Secondary Survey
1) Kepala, Kelainan atau luka kulit kepala dan bola mata, telinga bagian luar
dan membrana timpani, cedera jaringan lunak periorbital
2) Leher, Adanya luka tembus leher, vena leher yang mengembang
3) Neurologis, Penilaian fungsi otak dengan Glasgow Coma Score (GCS)
4) Dada, Pemeriksaan klavikula dan semua tulang iga, suara nafas dan
jantung, pemantauan EKG
5) Abdomen, Kaji adanya luka tembus abdomen, pasang NGT dengan
trauma tumpul abdomen
6) Pelvis dan ekstremitas, Kaji adanya fraktur, denyut nadi perifer pada
daerah trauma, memar dan cedera yang lain
7) Aktivitas/istirahat, Merasa lelah, lemah, kaku, hilang keseimbangan,
perubahan kesadaran, letargi, hemiparese, puandreplegia, ataksia, cara
berjalan tidak tegang.
8) Sirkulasi, Perubahan tekanan darah (hipertensi) bradikardi, takikardi.
9) Integritas Ego, Perubahan tingkah laku dan kepribadian. Cemas, mudah
tersinggung, angitasi, bingung, depresi dan impulsif.
10) Makanan/cairan, Mual, muntah dan mengalami perubahan selera,
muntah, gangguan menelan.
11) Eliminasi, Inkontinensia, kandung kemih atau usus atau mengalami
gangguan fungsi.
12) Neurosensori, Kehilangan kesadaran sementara, amnesia, vertigo,
sinkope, kehilangan pendengaran, gangguan pengecapan dan penciuman,
perubahan penglihatan seperti ketajaman. Perubahan kesadaran bisa
sampai koma, perubahan status mental, konsentrasi, pengaruh emosi
atau tingkah laku dan memoris.
13) Nyeri/kenyamanan, Sakit kepala. Wajah menyeringai, respon menarik
pada rangsangan nyeri yang hebat, gelisah, tidak bisa istirahat, merintih.
14) Pernafasan, Perubahan pola pernafasan (apnoe yang diselingi oleh
hiperventilasi nafas berbunyi)
15) Keamanan, Trauma baru/trauma karena kecelakaan. Fraktur/dislokasi,
gangguan penglihatan, gangguan rentang gerak, tonus otot hilang,
kekuatan secara umum mengalami paralisis, demam, gangguan dalam
regulasi suhu tubuh.
16) Interaksi sosial, Apasia motorik atau sensorik, bicara tanpa arti, bicara
berulang-ulang, disartria.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik.
2. Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan serebral dengan faktor resiko trauma
kepala.
3. Ansietas berhubungan dengan status kesehatan.
4. Deficit perawatan diri berhubungan dengan ansietas, nyeri dan immobilisasi.
5. Resiko kekurangan volume cairan dengan faktor resiko kehilangan volume cairan
aktif.
6. Resiko ketidakefektifan jalan nafas dengan faktor resiko disfungsi neuromuscular.
7. Resiko jatuh dengan faktor resiko gangguan kesadaran.
8. Resiko kerusakan integritas kulit dengan faktor resiko trauma kepala dan
immobilisasi.
9. Resiko infeksi dengan faktor resiko gangguan integritas kulit.
C. Intervensi Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik.
NOC : Kontrol nyeri
a. Intensitas nyeri 4
b. Skala nyeri 4
c. Frekuensi nyeri 4
d. Tanda-tanda vital 4
e. Ekspresi wajah meringis 4
Keterangan outcomes:
1 = Deviasi berat dari kisaran normal
2 = Deviasi cukup berat dari kisaran normal
3 = Deviasi sedang dari kisaran normal
4 = Deviasi ringan dari kisaran normal
5 = Tidak ada deviasi dari kisaran normal

NIC : Manajemen nyeri


1. Lakukan pengkajian ulang nyeri.
2. Observasi reaksi non verbal pasien.
3. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi.
4. Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri.
5. Tingkatkan istirahat.
6. Ajarkan teknik non farmakologi.
7. Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri.
8. Evaluasi keefektifan control nyeri.
2. Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan serebral dengan faktor resiko trauma
kepala.
NOC : Circulation status dan Tissue Prefusion : cerebral
a. Tekanan darah sistol 4
b. Tekanan darah diastole 4
c. Ortostatikhipertensi 4
d. Peningkatan tekanan intracranial 4
e. Komunikasi dengan jelas 4
f. Menunjukkan perhatian, konsentrasi dan orientasi 4
g. Memproses informasi 4
h. Tingkat kesadaran 4
i. Gerakan yang tidak disadari 4
Keterangan outcomes:
1 = Deviasi berat dari kisaran normal
2 = Deviasi cukup berat dari kisaran normal
3 = Deviasi sedang dari kisaran normal
4 = Deviasi ringan dari kisaran normal
5 = Tidak ada deviasi dari kisaran normal
NIC : Peripheral Sensation Management (Manajemen sensasi perifer)
1. Monitor adanya daerah tertentu yang hanya peka terhadap
panas/dingin/tajam/tumpul
2. Monitor adanya paretese
3. Instruksikan keluarga untuk mengobservasi kulit jika ada lsi atau laserasi
4. Gunakan sarun tangan untuk proteksi
5. Batasi gerakan pada kepala, leher dan punggung
6. Monitor kemampuan BAB
7. Kolaborasi pemberian analgetik
8. Monitor adanya tromboplebitis
9. Diskusikan menganai penyebab perubahan sensasi
3. Ansietas berhubungan dengan status kesehatan.
NOC : Anxiety control dan Coping
j. Identifikasi cemas 4
k. Kontrol Cemas 4
l. Tanda-tanda vital 4
m. Postur tubuh 4
n. Ekspresi wajah 4
o. Bahasa tubuh 4
p. Tingkat aktivitas 4
Keterangan outcomes:
1 = Deviasi berat dari kisaran normal
2 = Deviasi cukup berat dari kisaran normal
3 = Deviasi sedang dari kisaran normal
4 = Deviasi ringan dari kisaran normal
5 = Tidak ada deviasi dari kisaran normal

NIC : Anxiety Reduction (penurunan kecemasan)


1. Gunakan pendekatan yang menenangkan
2. Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien
3. Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur
4. Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut
5. Berikan informasi faktual mengenai diagnosis, tindakan prognosis
6. Dorong keluarga untuk menemani anak
7. Lakukan back / neck rub
8. Dengarkan dengan penuh perhatian
9. Identifikasi tingkat kecemasan
10. Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan
11. Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, persepsi
12. Instruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi
13. Kolaborasi pemberian obat untuk mengurangi kecemasan
4. Deficit perawatan diri berhubungan dengan ansietas, nyeri dan immobilisasi.
NOC : Self care : Activity of Daily Living (ADLs)
a. Mandi 4
b. Berpakaian 4
c. Berhias 4
d. Toileting 4
e. Makan 4
Keterangan outcomes:
1 = Deviasi berat dari kisaran normal
2 = Deviasi cukup berat dari kisaran normal
3 = Deviasi sedang dari kisaran normal
4 = Deviasi ringan dari kisaran normal
5 = Tidak ada deviasi dari kisaran normal

NIC : Self Care assistane : ADLs

1. Monitor kemempuan klien untuk perawatan diri yang mandiri.


2. Monitor kebutuhan klien untuk alat-alat bantu untuk kebersihan diri,
berpakaian, berhias, toileting dan makan.
3. Sediakan bantuan sampai klien mampu secara utuh untuk melakukan self-
care.
4. Dorong klien untuk melakukan aktivitas sehari-hari yang normal sesuai
kemampuan yang dimiliki.
5. Dorong untuk melakukan secara mandiri, tapi beri bantuan ketika klien tidak
mampu melakukannya.
6. Ajarkan klien/ keluarga untuk mendorong kemandirian, untuk memberikan
bantuan hanya jika pasien tidak mampu untuk melakukannya.
7. Berikan aktivitas rutin sehari- hari sesuai kemampuan.
8. Pertimbangkan usia klien jika mendorong pelaksanaan aktivitas sehari-hari.
5. Resiko infeksi dengan faktor resiko gangguan integritas kulit.
NOC : Deteksi Resiko dan Kontrol Resiko
a. Mengenali tanda dan gejala yang mengidentifikasi resiko 4
b. Memonitor perubahan status kesehatan 4
c. Mengidentifikasi faktor resiko 4
d. Mengenali faktor resiko 4
Keterangan outcomes:
1 = Deviasi berat dari kisaran normal
2 = Deviasi cukup berat dari kisaran normal
3 = Deviasi sedang dari kisaran normal
4 = Deviasi ringan dari kisaran normal
5 = Tidak ada deviasi dari kisaran normal

NIC : Kontrol Infeksi, Perlindungan Infeksi

1. Ganti peralatan perawatan per pasien sesuai protocol.


2. Anjurkan pasien mengenai teknik mencuci tangan dengan benar.
3. Pasikan penanganan aseptic dari semua saluran IV.
4. Monitor kerentanan terhadap infeksi.
5. Berikan perawatan kulit yang tepat periksa kulit dan selaput lendir untuk
adanya kemerahan, kehangatan ekstrim atau drainage.
6. Ajarkan pasien dan keluarga bagaimana cara menghindari infeksi.
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, G. M., Butcher, H. K., Dochterman, J. M., & Wagner, C. M. (2016). Nursing Interventions
Classification (NIC), edisi ke-6. Singapore: Elsevier.

Herdman, H. T., & Kamitsuru, S. (2015). Nanda International Inc. diagnosis keperawatan: definisi dan
klasifikasi 2015-2017. Jakarta: EGC.

Japardi, I. (2012). Penatalaksanaan Cedera Kepala Akut. e-journal USU.

Moorhead, S., Johnson, M., Maas, M. L., & Swanson, E. (2016). Nursing Outcomes Classification (NOC),
5th edition. Singapore: Elsevier.

Nasir, M. (2012). Asuhan Keperawatan Pada Ny. A dengan Cedera Kepala Sedang di Instalasi Gawat
Darurat RSUD Sragen. e-journal UMS.