Anda di halaman 1dari 10

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Kucing peliharaan atau kucing rumah adalah salah satu predator terhebat di dunia.
Kucing ini dapat membunuh atau memakan beberapa ribu spesies, tetapi karena ukurannya
yang kecil, kucing tidak berbahaya bagi manusia. Satu-satunya bahaya yang dapat timbul
adalah kemungkinan terjadinya infeksi Rabies akibat gigitan kucing. Kucing dianggap
sebagai karnivora yang sempurna dengan gigi dan saluran pencernaan yang khusus. Tidak
seperti karnivora lain, kucing hampir tidak makan apapun yang mengandung tumbuhan.
Setiap kucing memiliki daerahnya sendiri (jantan yang aktif secara seksual memiliki daerah
terbesar, sedang jantan steril memiliki daerah paling kecil) dan selalu terdapat daerah netral.
Melihat perilaku kucing yang ada saat ini, kucing liar yang merupakan nenek moyang kucing
peliharaan diperkiraan berevolusi pada iklim gurun. Kucing memiliki kekerabatan yang dekat
dengan binatang gurun, membuat kucing memiliki ketahanan terbatas terhadap panas dan
dinginnya iklim daerah subtropis. Kucing tidak tahan terhadap kabut, hujan dan salju
meskipun ada beberapa jenis seperti Norwegian Forest Cat dan Maine Coon yang mampu
bertahan dan berusaha mempertahankan suhu tubuh normalnya, yaitu 390C, dalam keadaan
basah. Kebanyakan kucing tidak suka berendam di air, kecuali jenis Turkish Van (Suwed dan
Budiana 2006).

Beberapa penyakit kucing yang penting antara lain Feline Infectious Peritonitis,
Feline Rhinotracheitis, Calicivirus dan Panleukopenia (Distemper) yang mematikan bagi
kucing yang terinfeksi, karena kesulitan mendiagnosa dan masalah pengendalian penyakit
tersebut. Mengingat hal tersebut, maka sangat penting untuk pemilik kucing melakukan
perawatan yang baik dan menyadari ada banyak penyakit kucing yang bersifat fatal, seperti
Feline Infectious Peritonitis (FIP) (Meadows dan Flint 2006).

TUJUAN

Adapun tujuan dari makalah ini ialah untuk mempelajari penyakit Feline infectious peritonitis

MANFAAT

Mampu mendiagnosa Feline infectious peritonitis pada kucing


TINJAUAN PUSTAKA

Kucing merupakan salah satu jenis hewan yang sering dijadikan sebagai hewan
peliharaan atau kesayangan, karena memiliki karakter yang unik dan berbeda dibandingkan
dengan hewan kesayangan lainnya. Kucing adalah sejenis karnivora kecil dari famili felidae
yang telah dijinakkan selama ribuan tahun (Suwed dan Budiana 2006). Klasifikasi kucing
menurut Linnaeus (1758) dalam Ereshefsky (2000) sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Superphylum : Deuterostomia

Phylum : Chordata

Subphylum : Vertebrata

Infraphylum : Gnathostomata

Superclass : Tetrapoda

Class : Mamalia

Ordo : Carnivora

Subordo : Feliformia

Famili : Felidae

Subfamili : Felinae

Genus : Felis

Feline Infectious Peritonitis pada Kucing (Felis) Pengertian dan Kausa FIP Feline
Infectious Peritonitis (FIP) adalah penyakit yang sangat serius pada kucing, karena tidak
mudah didiagnosis, sulit dikendalikan, dan hampir selalu berakibat kematian pada kucing.
Penyakit ini ditemukan di seluruh dunia dan tidak hanya mempengaruhi kucing domestik,
tapi juga kucing yang liar, termasuk cougars, bobcats, lynx, singa, dan Cheetah (Sherding
2004). Penyakit ini disebabkan oleh Feline Coronavirus (FCoV), yaitu termasuk keluarga
coronavirus yang menimbulkan beragam gejala klinik, dari gejala yang tidak tampak sampai
bentuk infeksi progresif yang fatal (Sparkes 2004). Coronavirus adalah virus RNA ber-
envelope yang memiliki genom RNA terbesar, yang menyebabkan virus ini sangat rentan
terhadap mutasi spontan selama replikasi (Sparkes 2004). FCoV terdiri dari dua serotipe
yaitu tipe satu (FCoV-1) dan tipe dua (FCoV-2) yang dibedakan dengan uji netralisasi.
Prevalensi infeksi tipe satu dan dua sangat bervariasi di setiap negara, namun virus tipe satu
umumnya lebih banyak terjadi, walaupun sulit dibiakkan secara in vitro. Sedangkan tipe dua
jarang terjadi, namun mudah dibiakkan secara in vitro. Serotipe FCoV penting dari
perspektif evolusi, tetapi tidak terlalu penting dari perspektif klinis. Dari perspektif klinis,
dikenal biotipe FCoV yang tidak ada kaitannya dengan serotipe. Biotipe FCoV yang dikenal
adalah Feline Infectious Coronavirus dan Feline Enteric Coronavirus (Hartmann 2003).
Pada dasarnya biotipe Feline Enteric Coronavirus (FECV) relatif tidak berbahaya dan
biasa menyerang kucing. FECV yang bermutasi menjadi virus ganas disebut Feline Infectious
Peritonitis virus (FIPV). Bila respon kekebalan tubuh kucing kurang baik, FECV yang
bermutasi jadi FIPV ini dapat menyebabkan penyakit sistemik yang disebut Feline Infectious
Peritonitis (Bell 2006). Virus FCoV bersifat labil dan tidak tahan desinfektan, namun
beberapa studi menunjukkan bahwa FCoV mampu bertahan pada lingkungan selama 2-7
minggu, yang berpotensi sebagai sumber infeksi terutama bila praktek higiene tidak
diterapkan (Sparkes 2004).

Selain terjadi pada kucing, FIPV juga dapat menginfeksi anjing, babi dan beberapa
spesies virus ini dapat pula menyerang manusia. Virus yang menyebabkan FIP pada kucing,
tidak dapat menyerang manusia. Feline Coronavirus termasuk dalam kelompok coronavirus
penyebab Transmisible Gastroenteritis Virus (TGEV) pada babi, Porcine Respiratory
Coronavirus, Canine Coronavirus (CCV), dan Human Coronavirus (HCV-229E). Penularan
antar spesies pernah dilaporkan pada coronavirus ini yang terkait dengan mutasi (Foley
2005).

Kejadian dan Penyebaran FIP Infeksi FCoV terjadi pada kucing di seluruh dunia.
Survei serologis menunjukkan bahwa 25-40% kucing peliharaan memiliki seropositif
terhadap FCoV, sedangkan gambaran ini meningkat mencapai 80-100% pada kucing- kucing
di breeding cateries. Walaupun infeksi FCoV pada populasi kucing tinggi, tetapi infeksi FIP
relatif jarang terjadi secara langsung. Sebagian besar penyakit FIP yang terjadi diduga berasal
dari mutasi FECV yang memang banyak terdapat pada pencernaan kucing dan relatif tidak
berbahaya (Simons 2005). FIP terjadi paling banyak pada anak kucing. Kasus klinis biasanya
terjadi selama periode sapih, namun FIP terjadi antara umur 6 bulan dan 2 tahun. Secara
umum mortalitas FIP relatif rendah sekitar 5% (Sparkes 2004). Virus FIP dapat bertahan
hidup selama 2-3 minggu dengan suhu ruangan pada permukaan kering, termasuk pada
peralatan makan kucing, mainan, kotak kotoran (litter), tempat tidur (bedding), pakaian
kucing (clothing) atau rambut kucing. Dalam waktu 24 jam sejak virus tertelan, virus akan
menyebar dari tonsil ke dalam saluran cerna. Dalam waktu 2 minggu sudah menyebar ke usus
besar, kelenjar getah bening, dan hati. Dari sana ia dapat menyebar ke organ tubuh lainnya
(Evermann et al 1995).

Anak kucing yang dilahirkan pada lingkungan dengan infeksi FCoV nampaknya dapat
dilindungi oleh antibodi maternal. Bila kucing terinfeksi FCoV secara alami pada umur 6-8
minggu titer antibodi maternalnya akan mengalami penurunan dan titer antibodi maternal
akan meningkat kembali pada umur 8-14 minggu. Studi yang menggunakan PCR
menunjukkan bahwa anak kucing akan mengeluarkan (shedding) virus pada feses pada umur
5-11 minggu dan pengeluaran virus ini biasanya mengarah pada serokonversi (Hartmann
2003). Kucing sehat tertular coronavirus melalui kontak langsung dengan kucing yang
terinfeksi atau kotorannya (feses). Kucing yang terinfeksi menyebarkan virus melalui liur
dan feses. Penularan terutama terjadi melalui jalur fekal-oral, selain melalui air liur atau
lendir dan saluran pernafasan. Anak kucing yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala klinis,
namun beberapa anak kucing dapat menunjukan gejala ringan sampai sedang seperti muntah
dan diare selama beberapa hari dan juga mengeluarkan virus dalam fesesnya. Pada beberapa
kucing shedding virus bersifat tidak teratur (intermitant) yang menunjukkan adanya infeksi
berulang. Sedangkan shedding virus pada kucing lainnya bersifat persisten, yang
menunjukkan adanya infeksi persisten di ileum, colon dan rektum. Meskipun demikian
shedding virus dalam feses tidak berhubungan dengan besarnya titer antibodi dalam serum
(Bell et al 2006).

Carier FCoV dalam jangka panjang yang tidak menunjukkan gejala klinis akan
mengeluarkan virus dalam feses selama beberapa bulan, hal ini menunjukkan bahwa kucing
tersebut terinfeksi oleh galur virus dengan virulensi rendah. Studi lain menunjukkan bahwa
infeksi dengan galur virus FIP dapat mengarah pada status carrier jangka panjang (Sparkes
2004). Induk yang carrier dapat menularkan virus keanaknya. FIP biasanya ditemukan pada
anak kucing yang menggunakan litter individual dalam jangka waktu lama. Selain itu
kejadian FIP juga dipengaruhi oleh faktor stres. Beberapa faktor yang menyebabkan stres
adalah perpindahan tempat, tindakan bedah, vaksinasi dan adanya infeksi oleh virus lain
seperti Feline Leukemia dan Feline Imunodeficiency (Sparkes 2004). Infeksi FCoV terjadi
melalui rute fekal-oral. Sekali kucing sudah terinfeksi biasanya akan bersifat persisten dan
mengeluarkan virus dalam fesesnya, sedangkan beberapa kucing mengeluarkan virus hanya
pada waktu tertentu. Virus bereplikasi dalam enterosit matang di usus halus dan besar, yang
menyebabkan diare dan muntah. Gejala terparah ditunjukkan dengan adanya lesio yang parah
di ileum, dengan terjadinya atrofi vili dan fusi vili ( Foley 2005).

Infeksi Galur virus FCoV penyebab enteritis bersifat terbatas khususnya hanya pada
epitelium saluran intestinal. Galur FCoV penyebab FIP mampu menerobos barier usus dan
menimbulkan infeksi sistemik terkait replikasi di dalam makrofag. Penelitian mengunakan
RT-PCR material genom FCoV ditemukan ekstra intestinal pada kucing sehat dengan FCoV
seropositif (Sparkes 2004).

Gejala Klinis FIP Sebagian besar kucing yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala
yang nyata, tetapi sebenarnya virus tetap berkembang di dalam tubuh. Setelah kontak, virus
mulai berkembang di tenggorokan dan usus halus kucing. Kemudian pindah ke paru-paru,
perut dan menyebar di seluruh usus (Sparkes 2004). Sekitar 1–10 hari kemudian virus sudah
dapat ditularkan ke kucing lain. Selama infeksi ini, gejala yang muncul bisa berupa bersin-
bersin, mata berair, lendir hidung yang berlebihan, diare, berat badan berkurang, lemah dan
lesu. Gejala yang muncul bisa juga non spesifik seperti hilang nafsu makan, depresi, rambut
kasar dan demam (Simons et al 2004). Bentuk penyakit yang muncul sangat tergantung pada
reaksi kekebalan tubuh kucing. Kucing dengan imunitas selular relatif kuat, biasanya dapat
menyingkirkan infeksi. Kucing dengan imunitas selular yang relatif sedang, tidak dapat
membunuh semua virus, sehingga gejala penyakit bisa tidak muncul tetapi kucing dapat
menjadi carrier dan dapat menularkan virus selama beberapa tahun, hingga kekebalan
tubuhnya berkurang sedikit demi sedikit. Kucing dengan imunitas seluler relatif rendah
sangat mudah terinfeksi dari kucing lain, sifat carrier menjadi aktif, seiring dengan
berkurangnya kekebalan, penyakit akan semakin berkembang hingga timbul gejala sakit dan
akhirnya menyebabkan kematian (Foley 2005).
Penyakit ini bermanifestasi dalam dua bentuk, yaitu tipe basah dan tipe kering. Tipe
basah menyebabkan sekitar 60-70% dari keseluruhan kasus penyakit ini dan lebih ganas dari
tipe kering. Bila kekebalan tubuh bereaksi cepat biasanya yang muncul adalah tipe kering.
Sebaliknya bila kekebalan tubuh lambat bereaksi, maka tipe yang muncul adalah tipe basah
(Scott 1997).

Pada bentuk basah terlihat gejala klinis seperti berat badan menurun, demam,
kehilangan nafsu makan dan kecapaian atau lemas. Anemia, sehingga membrana mukosa
terlihat pucat, sembelit dan diare juga dapat terjadi akumulasi cairan di rongga perut dan
rongga dada, menyebabkan pembengkakan daerah perut (biasanya tanpa rasa sakit) disertai
kesulitan bernafas. Pada bentuk kering, cairan yang menumpuk relatif sedikit dan gejala yang
muncul tergantung organ yang terinfeksi virus. Sekitar setengah dari kasus bentuk kering,
menunjukkan gejala radang mata atau gangguan syaraf seperti lumpuh, cara berjalan yang
tidak stabil dan kejang-kejang. Gejala lainnya bisa berupa gagal ginjal atau pembengkakan
hati, depresi, anemia, berat badan berkurang drastis, gangguan pankreas dan sering disertai
demam, muntah, diare dan ikterus (warna kekuningan pada kulit dan selaput lendir) (Sparkes
2004).

Diagnosis FIP Menurut Hartmann (2003) diagnosa FIP biasanya didasarkan pada
hasil pemeriksaan hewan-hewan dengan tanda dan gejala klinis, foto sinar-X, pemeriksaan
rutin, dan evaluasi cairan pada rongga dada dan abdominal. Dalam beberapa kasus sangat
sulit untuk mendiagnosa karena gejalanya sangat bervariasi dan mirip dengan penyakit
lainnya. Hal ini menjadikan pemeriksaan mikroskopis dan sampel jaringan (biopsi) sebagai
satu-satunya cara untuk mengetahui diagnosa FIP secara tepat.

Tes yang biasanya digunakan pada kucing dengan tanda-tanda klinis mencurigakan
adalah sebagai berikut :

1. Enzyme Linked Immunoabsorbent Assay (ELISA), Immunoflourescent


Assay (IFA) dan tes netralisasi virus dapat mendeteksi adanya FCoV pada
kucing, tetapi tes ini tidak dapat membedakan macam-macam strain dari
FCoV. Hasil positif hanya menunjukkan bahwa kucing pernah terinfeksi
FCoV tetapi bukan virus penyebab FIP. Kucing yang sehat dengan titer
antibodi tinggi bukan berarti pembawa dan penyebab FIP dibanding
dengan kucing yang titer rendah. Kucing sehat dengan titer tinggi akan
aman dari kemungkinan menderita FIP dikemudian hari.
2. Tes lain yang telah dikembangkan untuk mendeteksi virus ini adalah tes
immunoperoxidase. Tes ini mendeteksi sel yang terinfeksi virus di dalam
jaringan tubuh, dengan cara biopsi dari jaringan yang terinfeksi.
3. Tes antigen lainnya menggunakan Polymerase Chain Reaction (PCR)
untuk mendeteksi material genetik virus pada jaringan atau cairan darah.
Tetapi tes ini hanya bisa mendeteksi FCoV secara umum, bukan virus
penyebab FIP.
4. Sampai saat ini, tidak ada cara untuk mendiagnosa FIP pada kucing sehat,
satu-satunya jalan adalah dengan biopsi atau analisa jaringan pada saat
autopsi.

Secara umum, dokter hewan mungkin akan menggunakan diagnosa dugaan yang
dapat dibuat dengan keyakinan yang tinggi dengan cara mengevaluasi sejarah kucing
tersebut, gejala yang muncul, menganalisa cairan (kalau ada) dan hasil dari laboratorium
termasuk titer antibodi coronavirus yang hasilnya positif. Dalam diagnosis FIP harus
memiliki diagnosa banding dimana suatu kondisi tentang selaput atau yang berkaitan dengan
toraks dan akumulasi cairan yang berkenaan dengan penyakit kronis pada kucing. Infeksi FIP
dengan keterlibatan selaput harus dapat dibedakan dengan ascites karena kongesti kegagalan
jantung atau hypoproteinemia (ginjal dan penyakit hati, glomerulonepritis, malabsorbsi,
parasitisme), neoplasia, toxoplasmosis, tuberculosis, kehamilan dan trauma (Simons et al
2005).

Patofisiologi Sumber cairan pada rongga abdomen dan rongga thoraks dapat
bersumber dari efusi plasma dari pembuluh darah maupun transudat peritoneum yang
mengalami peradangan. Cairan bersifat transudat pada rongga abdomen yang disebut sebagai
hidrops ascites dapat berasal dari plasma yang berefusi dari pembuluh darah terutama akibat
gangguan keseimbangan protein. Menurut Macfarlane (2000), kongesti dan oedema adalah
akibat dari penurunan tekanan osmotik darah dan peningkatan tekanan hidrostatik vena.
Rendahnya protein dalam darah berakibat pada dua hal yaitu rendahnya daya ikat air serta
penurunan osmolaritas darah. Hal ini berkaitan dengan albumin sebagai komponen protein
utama dalam darah yang bertanggung jawab untuk mempertahankan tegangan osmolaritas
aliran darah.

Daya ikat air yang rendah dan rendahnya tekanan osmolaritas aliran darah
menyebabkan air terlepas dan merembes ke luar pembuluh darah, kemudian menurunnya
tegangan osmolaritas menyebabkan endotel mengalami perenggangan sehingga cairan
merembes ke ekstravaskular. Oedema juga terjadi saat ada peningkatan tekanan intravena
(tekanan hydrostatik) terutama akibat gagal jantung dan obstruksi vena pada ujung
ekstermitas. FIP menyebabkan peradangan pada pembuluh darah (vaskulitis) akibat infeksi
coronavirus. FIP tipe basah adalah bentuk awal yang akut pada kucing muda yang sangat
peka terhadap infeksi coronavirus (FCoV). Virus ini menginfeksi pembuluh darah sehingga
mengalami peradangan, degenerasi sampai rusak. Rusaknya pembuluh darah mengakibatkan
terlepasnya cairan ke rongga tubuh, kemudian kerusakan pembuluh darah diatasi oleh
pembentukan jaringan fibrinous oleh trombosit yang dampak negatifnya dapat menyebabkan
thrombus hemoragi yang mengobstruksi pembuluh darah. Adanya obstruksi pada pembuluh
darah kapiler menyebabkan serum darah merembes keluar menuju rongga tubuh seperti
rongga abdomen atau rongga thoraks. Akumulasi cairan pada rongga abdomen akan
menyebakan kerusakan pada permukaan peritoneum sehingga peritoneum mengalami
peritonitis (Simons et al 2005).

Vaskulitis jarang terlihat secara klinis maupun secara patologi anatomi terutama pada
kapiler. Oleh karena itu lesi dan gejala klinis yang terlihat akibat infeksi coronavirus pada
FIP hanyalah saat peritoneum mulai mengalami peradangan sehingga lebih mudah disebut
sebagai peradangan pada peritoneum yang bersifat infeksius pada kucing (FIP) (Hartmann
2003). Peritoneum adalah organ yang sangat sensitif dan penting bila mengalami peradangan.
Peritonitis menyebabkan peritoneum melekat pada organ dan jaringan disekitarnya sehingga
dengan cepat membuat organ lain turut mengalami peradangan. Selain itu pada peritoneum
yang mengalami peradangan akan menghasilkan eksudat serous yang merembes keluar
(effusi) sebagai produk dari lapisan sel-sel serosa pelapis rongga tubuh yang mengalami
peradangan akut sehingga semakin hebat pemicu radang peritoneum maka semakin hebat
pula pula kerusakan yang dialami peritoneum sehingga eksudat yang dihasilkan terakumulasi
pada permukaan peritoneum membentuk eksudat serofibrinos (Carlton dan Mc Gavin 1995).

Kongesti umum yang terjadi di organ kucing ini penyebabnya dapat merupakan
komplikasi dari berbagai pemicu. Vaskulitis akibat infeksi, kompensasi jantung paru pada
kongesti yang berlanjut, kelemahan kontraksi jantung akibat adanya tamponade jantung, serta
akibat kerusakan hati yang umum terjadi pada FIP dimana semua lesi patologi anatomi ini
dapat ditemukan pada pemeriksaan nekropsi.

Histopatologi dan Imunohistopatologi Satu-satunya cara untuk membuat diagnosis


FIP yang pasti adalah dengan pemeriksaan histopatologi sel-sel yang mengalami perubahan
yang telah dikumpulkan saat postmortem maupun antemortem. Pada FIP dimungkinkan
terjadi diagnosa banding, antara lain Lymphocytic Cholangitis atau neoplasia. Pemeriksaan
laparatomi dapat menunjukkan pengaruh jaringan sebagai analisa histologi. Demikian juga
dengan diagnostik banding, dapat dilakukan dengan memperhatikan biopsi pada organ
tertentu, operasi atau melalui kulit dengan ultrasound. Pemeriksaan ultrasound dapat
dilakukan melalui perut, hal ini berguna untuk mendeteksi adanya granuloma dalam hati,
ginjal, limpa, atau pun mesenteric lymphadenomegali (Sparkes 2004).

Pemeriksaan histologi sel-sel yang terkena FIP menunjukkan hasil dengan


karakteristik peradangan granulomatous dan atau pyogranulomatous. Meskipun gejala
patognomonis FIP menunjukkan peradangan secara histologi, namun agen menular lainnya
juga memiliki kemiripan. Oleh karena itu dengan memperhatikan gejala klinis dan anamnase
dapat menjadi bukti yang definitif dalam mendiagnosa. Dalam kasus tertentu untuk
mendeteksi keberadaan FcoV dengan imunohistokimia diperlukan anti bodi terhadap antigen
FcoV (Bell et al 2006). Banyak penelitian menunjukkan keterlibatan dari sistem kekebalan
dalam pengembangan FIP. Antibodi FCoV dalam kucing dapat mengakibatkan peningkatan
bentuk penyakit menjadi FIP, produk dari virus pada infeksi antibodi dependen (ADE)
meskipun hal ini tidak dapat terjadi secara langsung, akan tetapi imunitas pasif dapat
ditransfer melalui FIP serum kekebalan dari kucing. Hal ini menunjukkan bahwa sel
mediated imunitas sangat penting dalam menentukan hasil infeksi. Produksi antibodi penting
dalam patogenesis FIP melalui pengembangan kekebalan kompleks, Kekebalan kompleks
menunjukkan peningkatan perubahan berupa immunomediated vasculitis (reaksi
hypersensitifitas tipe III) terhadap tanda-tanda klinis yang terlihat pada FIP (Sparkes 2004).
drug tanggapan Anjuran

ANTIVIRAL

Ribavirin Bekerja secara invitro Tidak disarankan

Vidarabine Bekerja secara invitro Mungkin kurang efektif

Human Interferon Alpha-sc Pengobatan sc tidak Kurang efektif


High Dose bekerja pada
eksperimental

Human Interferon Alpha- PO Belum dicoba Kontaindikasi


Low Dose
Hanya bertindak
sebagai stimulan imun
jika diberikan secara
oral

Feline Interferon-omega Pada studi plasebo satu mungkin membutuhkan


kasus terkontrol yang
terjadi secara alami studi lebih lanjut mengingat
bukti klinis anekdotal
dan satu studi yang
tidak terkendali

IMUNOSUPRESANT

Prednisolone/dexamethasone Belum ada studi Pilihan perawatan pendukung


Beberapa kucing telah saat ini
– Immunosuppressive doses membaik selama
perawatan dan Jika efusi ada, deksametason IT
bertahan selama atau IP dapat membantu
beberapa bulan, tetapi
tidak menyembuhkan
FIP

Pentoxyfylline Membutuhkan pengujian lanjut


Ditujukan untuk
mengobati vaskulitis
tetapi tidak ada studi
atau laporan kasus
yang dipublikasikan

Ozagrel hydrochloride untuk mengobati Membutuhkan pengontrolan


respon inflamasi.

Ciclosporin A Ditujukan untuk Tidak disarankan karena


imunosupres diarahkan lebih ke
(menurunkan
imunitas seluler dari humoral
dosis kortikosteroid).
Tidak ada studi yang
dipublikasikan

obat Tanggapan Anjuran

Cyclophosphamide Ditujukan untuk imunosupres Bisa dipertimbangkan jika


(menurunkan dikombinasikan dengan
glukokortikoid
dosis kortikosteroid). Tidak ada studi
yang dipublikasikan

Chlorambucil Ditujukan untuk imunosupres Bisa dipertimbangkan jika


(menurunkan dikombinasikan dengan
glukokortikoid
dosis kortikosteroid). Tidak ada studi
yang dipublikasikan

Azathioprine Ditujukan untuk imunosupres Tidak di anjurkan


(menurunkan

dosis kortikosteroid). Tidak ada studi


yang dipublikasikan

Salicylic acid (aspirin) untuk mengobati respon inflamasi Memiliki efek samping,
juga vaskulitis namun bisa digunakan dan
– platelet inhibitory dosage menguntungkan

Anda mungkin juga menyukai