Anda di halaman 1dari 5

Demento : The escape

Part 7
-I AM NOT YOUR DOLL-

“beristirahatlah dengan tenang. .daniella” kataku

Aku menutupi tubuh Daniella yang sudah tertidur di lantai itu dengan selembar kain putih yang
kutemukan di sisi ruangan itu. tak lupa pula aku pun mengambil kunci ruangan tersebut dari
pinggang Daniella.

“ugh. . a. andai saja kamu mengerti lebih awal. .” katakku sambil menggenggam erat kunci itu

“guk! Guk!!!”

Tiba tiba hewie mendengar suara dari arah pintu keluar. Hewie tampak menggeram smbil
memasang kuda kuda siaga di depanku.

“a. . apa hewie? Kamu menemukan sesuatu?” tanyaku

*klek*

Suara itu berasal dari pintu keluar dari ruangan itu. aku pun dengan cepat berdiri sambil sedikit
melangkah mundur menjauhi pintu itu.

“si . .siapa disana?” kataku perlahan


Aku tidak mendapatkan jawaban apa apa. Pintu itu terus berusaha dibukanya dengan ketukan
yang semakin lama terdengar semakin keras.

“he. .hewie. . “ kataku perlahan

Hewie pun dengan sigap berjalan ke sampingku sambil kembali memandangi pintu itu.

*brak!*

Aku terkejut bersamaan dengan pintu itu terhentak dengan kencang. Secara perlahan aku
berdiri dan melangkah mundur dari tubuh Daniella.

“s. .siapa disana??” tanyaku dengan nada yang semakin tinggi

“uaargghh!!!!”

*brak*

Tiba tiba aku mendengar suara jeritan yang sangat keras bersamaan dengan pintu itu terdorong
dan terhempas sampai hampir ke tengah ruangan tersebut. hewie dengan cepat mulai
menggonggong sambil terus melangkah mundur mendekatiku. Jantungku berdegup kencang
sesaat setelah aku melihat siapa di balik pintu itu.

“aarrgghhhhh!!!” teriaknya sambil berlari masuk ke ruangan itu.

“he. .hewie!” jeritku

Ternyata sosok di balik pintu itu adalah debilitas yang tampaknya sangat marah sambil terus
berlari menuju arah kami berdua. Hempasan pintu ruangan itu membuat kain yang kugunakan
untuk menutupi tubuh Daniella terbang, memperlihatkan wajah Daniella yang sudah terlihat
pucat. Langkah debilitas tampak melambat dan akhirnya terhenti tepat di sebelah tubuh
Daniella
“ugh. . uh?” kata debi

Debilitas secara perlahan berlutut sambil meraba wajah Daniella. Tak lama kemudian ia mulai
mengangkat tubuh Daniella tersebut dan meletakkannya di pangkuannya.

“ma. . . . . ma. .” katanya perlahan

Aku melihat rintikkan air mata mulai berjatuhan bersamaan dengan tubuh debilitas mulai
bergetar. Debilitas mengnagkat tubuh Daniella lebih tinggi sambil memeluk wajahnya.

“ma. . ma?” kataku perlahan

Belum sempat aku berkata lebih lanjut, debilitas memalingkan wajahnya ke arahku dan menatap
tajam mataku.

“bo. .boneka. . ka . .kamu apakan. . mama?” katanya

“de. . debilitas. . i. .ini bukan. .” kataku

*Prang*

“kyaah!!!!” jeritku

Tiba tiba debilitas melemparkan potongan kaca dari dekat tubuh Daniella ke arahku, tepat
mengenai perutku. Kaca itu pecah menjadi bagian bagian kecil dan tubuhku pun sedikit
terhempas ke belakang.

“GUK!! Guk!!” jerit hewie sambil mulai menggeram ke arah debilitas.

“u. ugh. . .h. hewie. . ja. Jangan. . uhuk.. .” kataku sambil meraba perutku yang terasa sakit
Debilitas pun perlahan meletakkan tubuh Daniella sambil kembali meraba wajahnya yang sudah
mulai terlihat kaku.

“ugh. . mama. . Daniella?” pikirku sambil masih memegangi perutku.

Aku teringat akan cerita Daniella dimana ia kehilangan rahimnya setelah melahirkan seorang
homunculus yang gagal.

“bo. .ne . ka. . grr. .” kata debilitas sambil menggeram ke arahku.

“guk guk!!”

“hewie. .t. .tubuhmu belum pulih dari luka lukamu. .ja . .jangan kamu lakukan tindakan bodoh. .”
kataku

“aarghh!!!! Ma. .ati kamu. .” teriak debilitas sambil berlari ke arahku.

“hewie!! “ jeritku sambil mulai berlari menuju pinggir sisi aula yang berbentuk lingkaran itu.

Aku berlari mengelilingi pinggiran ruangan itu, dengan harapan aku dapat membelakangi
debilitas dan segera melarikan diri ke pintu keluar ruangan itu. hewie pun menurutiku dan
berlari mengikutiku tanpa mencoba sedikitpun untuk menghadapi debilitas yang tampak sangat
marah itu. debilitas pun perlahan menyusul kami berdua dan memotong jalan kami berdua
tepat di pinggir ruangan itu. debillitas dengan cepat meluncurkan kepalan tangannya ke arahku.

“kyaaa!!” jeritku sambil menjatuhkan tubuhku ke lantai untuk menghindari pukulan debilitas.

*brak*

Tangan debillitas meluncur dengan cepat kea rah tembok ruangan itu hingga temboknya
berlubang. Aku pun merangkak memutari tubuh debilitas sambil mencoba untuk berdiri.
Debilitas tampak kesusahan untuk melepaskan tangannya. Kami berdua pun berhasil memutari
tubuhnya dan kembali berlari ke arah pintu keluar ruangan itu.

“aargghh!!!! Mati kamu. . boneka!!” teriak debilitas sambil menarik tangannya keluar dari
tembok itu dengan cepat.

Tangan debilitas tampak berlumuran darah setelah melubangi tembok ruangan itu, namun
dirinya seperti tidak merasakan apa apa dan terus berlari ke arah kami berdua. Debilitas berlari
dengan sangat cepat, berbeda sekali dengan saat pertama aku dikejar olehnya. Hingga kami
berdua pun berhasil keluar dari ruangan itu dan terus berlari meleati lorong panjang tersebut.